Fanfiction
Cast : Jongin!GS, Sehun
Genre : Romance, Drama
Warning : Sexual Content
Summary : Jongin mendapat teman baru dari pinggir kota yang begitu polos dan tampan. Kombinasi yang membuat Jongin mengeluarkan taringnya. Dalam satu minggu, Jongin yakin jika pria tampan itu akan menekuk lutut untuknya. Sekai/SeJong/HunKai. Gs. Rated M.
Part Two
Jantung Sehun berdegup seperti gendang yang bertalu-talu saat festival tahun baru. Disampingnya ada Jongin yang duduk resah, gadis itu sesekali memainkan jemarinya dan memandang gugup kearahnya.
Sehun tahu ia harus segera memecah kesunyian yang terasa canggung ini tapi lidahnya kelu. Demi Tuhan, Jongin tampak sangat cantik petang ini. Gaun sederhana berwarna putih dan cardigan abu-abu tua. Rambutnya yang kecoklatan dibiarkan terurai hingga ke bahu. Wajah Jongin tampak sangat memukai meski tanpa polesan make-up sedikitpun. Dan itu semua membuat Sehun tidak bisa mengeluarkan isi kepalanya.
Setelah kejadian siang tadi, Sehun memang merasa dunia yang selama ini ia jalani mendadak berantakan. Ciuman pertamanya diambil oleh seorang gadis mirip Dewi Yunani yang baru ia kenal kemarin.
Dimata Sehun, Jongin sangat cantik. Belum lagi sikap Jongin yang baginya begitu menggemaskan hanya karena hal-hal kecil seperti pohon semangka. Bisa dibilang Sehun tertarik pada Jongin, lagi pula pria mana yang bisa menolak pesona Kim Jongin? Tapi untuk mengatakan jika Sehun jatuh hati pada gadis itu mungkin terlalu dini. Hey, mereka baru bertemu kemarin siang.
Jongin memang penuh kejutan. Keinginannya untuk belajar berkuda dan memanen hasil kebun Nenek Kim sudah membuat Sehun terkejut namun sikap berani Jongin tadi sianglah yang membuat Sehun kehabisan kata-kata.
Jongin menciumnya. Tidak, tidak. Jongin tidak hanya sekedar menciumnya, mereka making out dibawah pohon dengan tubuh basah dan dipenuhi keringat usai berkebun. Apakah Jongin menyukainya? Itu pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk didalam kepala Sehun.
"A-aku..." Suara Jongin terdengar lirih ditelinga Sehun. "Aku minta maaf sudah melakukan hal itu tadi siang."
Sehun diam.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan namun tidak tahu harus dari mana memulainya.
"Apa kau menyukaiku?" Dengan bodohnya, pertanyaan itu yang pertama kali keluar dari bibir Sehun.
"Ap-apa?"
"Kau menciumku, apa kau menyukaiku?"
"Apa?" Jongin tampak sangat bingung dengan pertanyaan Sehun.
"Kau tahu, dua orang yang saling menyukai itu biasa berciuman. Jadi apa kau menyukaiku?" Sehun bertanya sekali lagi.
"Tu-tunggu dulu. Jadi berciuman hanya untuk dua orang yang saling menyukai?" Jongin mengernyitkan dahinya dengan ekspresi bingung.
"Menurutmu bukan begitu?"
"Well, aku kadang berciuman dengan orang-orang yang menurutku menarik tanpa memiliki ikatan perasaan apa-apa." Jongin berkata menjelaskan dan Sehun serasa seperti baru saja diberi tahu jika Santa itu tidak ada.
"K-kau...apa?" Daftar pertanyaan dikepala Sehun semakin bertambah. Apakah Jongin seorang perempuan...murahan? Sehun menatap gadis disebelahnya nyaris tidak berkedip. Tidak mungkin, tidak mungkin. Wajah Jongin terlalu lugu untuk menjadi seorang wanita murahan. Sehun sendiri juga tahu jika keluarga Kim bukanlah keluarga kekurangan uang.
Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menatap wajah cantik Jongin yang tidak tampak memahami kegusaran Sehun akan pernyataan gadis itu barusan. Sehun menghela nafas panjang. Memang ia akui jika dirinya bukan pria modern yang menganut gaya hidup orang-orang seumurannya.
Sehun lebih suka menghabiskan waktunya untuk bermain di peternakan atau ladang keluarganya. Bahkan diumur sekian, Sehun belum pernah pergi ke bar atau klub. Jangankan ke tempat seperti itu, ke mall saja Sehun baru dua kali seumur hidupnya.
Meskipun begitu, bukan berarti jika Sehun sama sekali tidak mengerti bagaimana liarnya kehidupan para pemuda-pemudi diluar sana. Sehun sering berselancar didunia maya dan melihat bagaimana para gadis-gadis di Seoul memakai pakaian yang menurutnya belum selesai dibuat. Lalu mereka sering menghabiskan malam dengan di klub, bar atau ke hotel untuk bercinta dengan kekasih mereka.
Hanya saja...Sehun pikir Jongin bukan gadis seperti itu. Wajah Jongin terlalu manis dan menggemaskan untuk menjalani gaya hidup pemuda-pemudi 'jaman now'. Sehun pikir Jongin adalah gadis manis yang manja.
"Jadi...kau tidak menyukaiku?" Sehun bertanya, memecahkan keheningan yang berlangsung selama beberapa menit.
"Sehun, aku benar-benar minta maaf sudah me-melakukan hal itu tadi siang." Jongin meremas ujung dress-nya sambil berkata gugup pada Sehun yang sedang merasa canggung. "Aku tahu kau adalah pemuda baik, tidak seharusnya aku tiba-tiba melakukan hal itu padamu."
"Jongin, jawab pertanyaanku, apa kau menyukaiku?" Sehun bertanya lagi.
"Kenapa kau bertanya itu terus? Sudah kubilang aku sering berciuman dengan orang lain walaupun aku tidak memiliki perasaan apapun." Jongin berkata dengan suara sedikit dinaikkan. "Kau menanyakan itu terus, apa kau yang menyukaiku?"
Dada Sehun mendadak terasa sesak mendengar pertanyaan Jongin. Dia menyukai gadis ini? Uh...uh...uh...apakah dia menyukai gadis ini? Dimata Sehun, Jongin memang cantik dan menggemaskan. Sehun ingin terus melihat tawa diwajah manis itu dan Sehun menyukai bagaimana Jongin menciumnya tadi siang. Apakah itu berarti Sehun menyukai Jongin?
Sehun sungguh tidak tahu karena ia tidak pernah menyukai seorang gadis sebelumnya.
Sehun memandang wajah manis Jongin yang terlihat sedikit kesal. Beruntung malam ini Nenek Kim dan pamannya pergi ke desa sebelah karena ada acara pernikahan jadi pertengkaran mereka tidak bisa didengar oleh siapapun.
"Kau menyukaiku kan?" Jongin tersenyum kecil dengan wajah penuh kemenangan.
Sehun belum sempat mengeluarkan sepatah kata ketika kejadian tadi siang terulang kembali. Kim Jongin, gadis yang baru saja ia kenal kemarin mendorong tubuhnya agar bersandar disofa tua rumah Nenek Kim kemudian naik kepangkuannya.
"Sudah aku duga, kau juga menyukaiku." Sehun terbelalak melihat wajah Jongin yang begitu dekat dengan wajahnya. Jadi Jongin menyukainya?
—
"Hmmpphh..."
"Mpphhmm...ummhh...hmmpphhh..."
"Ngghh...mmphh..."
Bunyi basah ciuman terdengar jelas dari ruang keluarga rumah besar Nenek Kim malam itu. Disana, Jongin yang duduk diatas pangkuan Sehun mencium ganas pemuda dibawahnya.
Jongin meremas rambut Sehun hingga rambut hitam itu berantakan. Kaos yang dikenakan Sehun sudah kusut dan bisa dibilang Sehun tampak sedikit kewalahan dengan ciuman menuntut Jongin.
Sepanjang siang tadi Jongin berkali-kali mengutuk kelakuannya yang sudah terlalu percaya diri jika Sehun tertarik padanya. Jongin bolak-balik merutuki dirinya yang begitu berani mencium Sehun dan lupa jika Sehun bukanlah seperti dirinya atau teman-temannya di Seoul.
Namun begitu ia mendengar jika neneknya meminta Sehun untuk menjaganya malam ini, Jongin langsung menyusun rencana untuk mengembalikan harga dirinya yang terluka tadi. Well, setelah Jongin pikir-pikir, mungkin Sehun tidak menolaknya tapi hanya terkejut. Jongin saja sangat yakin jika tadi siang adalah ciuman pertama Sehun.
Awalnya Jongin sedikit gugup untuk menghadapi Sehun lagi tapi melihat Sehun yang begitu tampan dan juga salah tingkah membuat Jongin yakin jika Sehun tertarik padanya.
Sehun memang membuat Jongin tidak waras. Belum pernah Jongin menerjang seorang pria seperti ini. Yah, setidaknya tidak dalam keadaan sadar seperti ini. Dulu Jongin pernah melakukan hal gila seperti ini. Itu pun karena ia dibawah pengaruh alkohol. Namun kini Jongin mencumbu seorang pemuda lugu dengan keadaan sadar seratus persen.
"Jongin.." Sehun mendorong tubuh Jongin sejenak dan menatap wajah memerah gadis itu karena gairah.
"Hm?"
"Apa kau sering melakukan ini?" Sehun menatap mata Jongin dalam-dalam. Oh astaga, mata cokelat Sehun sangatlah indah dan Jongin sejenak nyaris lupa bagaimana cara berbicara.
"Melakukan apa?"
"Making out dengan pria yang bukan kekasihmu."
"Pernah, tidak sering." Jongin berusaha mencium bibir Sehun lagi namun lengan kekar Sehun menahannya.
"Apa kau punya kekasih?" Sehun bertanya lagi dan Jongin nyaris tertawa mendengar pertanyaan Sehun. Sungguh, Sehun adalah pemuda yang sangat lugu. Di Seoul, banyak pasangan kekasih yang saling berselingkuh hanya untuk kesenangan sesaat sedangkan Sehun berpikir ciuman hanya boleh dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai.
"Aku tidak punya kekasih." Jongin berkata sambil melepas cardigan abu-abunya, membuat mata Sehun membesar. Tubuh seksi Jongin yang dibalut dress dengan tali spageti terlihat begitu memikat dimata semua pria, tak terkecuali Sehun. Jongin bersumpah jika jakun Sehun bergerak naik turun saat dadanya berguncang sedikit ketika melemparkan cardigannya sembarangan ke atas karpet.
"Ap-apa yang kau lakukan?"
"Menurutmu?" Jongin hanya terkekeh sebelum kembali menerjang bibir tipis Sehun. Setan dikepala Jongin menang. Persetan dengan harga diri. Jongin membutuhkan Sehun dan dia membutuhkannya sekarang.
Jongin memang bukan lah seorang perawan. Keperawanannya sudah ia berikan pada mantannya yang brengsek satu tahun lalu. Meskipun begitu Jongin bukanlah gadis yang mau ditiduri sembarang lelaki. Bahkan sejak ia putus dari kekasihnya setahun yang lalu Jongin hanya pernah tidur dengan satu pria lain. Itu pun karena keduanya mabuk.
Jujur saja, Jongin rindu bercinta. Sering kali Jongin berpikir untuk membeli sebuah mainan untuk menyalurkan hasratnya namun keinginan itu tidak pernah tercapai. Pertahanan diri Jongin runtuh ketika bertemu Sehun dan malam ini ia akan memuaskan hasratnya yang sudah berbulan-bulan ia pendam.
"God, kau sangat panas.." Jongin bergumam kecil diantara kecupan-kecupannya pada leher kokoh Sehun. Tangan lentik Jongin bergerilya kedalam kaos Sehun, merabai perut Sehun yang berotot.
"Hmmh..." Sehun melenguh kecil. Bagi Sehun ini adalah pengalaman pertamanya dan Jongin sama sekali tidak mengharapkan Sehun akan memimpin permainan. Bahkan Jongin hampir sepenuhnya yakin jika Sehun nyaris tidak tahu apa-apa tentang seks.
Jongin menyudahi ciuman mereka dan gadis itu sangat puas melihat wajah merah dan juga ekspresi Sehun yang penuh campur aduk antara malu, bingung namun juga bergairah.
"You gonna love it." Jongin terkekeh kecil dan mencubit hidung Sehun dengan gemas. Ternyata ada juga pria tampan yang tidak brengsek didunia ini, pria yang begitu lugu dan tidak berusaha mengambil keuntungan darinya.
Jongin melepas dress-nya dengan mudah dan tawa kecil kembali keluar dari bibir penuhnya karena ekspresi Sehun yang menurutnya sangat lucu. Ya, dibalik dress itu Jongin tidak mengenakan apapun kecuali celana dalam hitam.
"J-jongin..." Mata Sehun terpana melihat apa yang Jongin suguhkan. Dua bongkah gundukan kenyal yang terlihat begitu menggiurkan. Payudara Jongin adalah salah satu bagian dari tubuhnya yang paling ia banggakan. Bulat, kenyal, kencang dan ukurannya besar.
"Ini milikmu." Jongin berbisik nakal ditelinga Sehun kemudian ia merasakan tubuh dibawahnya itu menegang. Sehun menatap payudaranya lekat-lekat, seolah-olah benda itu adalah lukisan Van Gogh yang harganya jutaan dollar.
Jongin menarik pergelangan tangan Sehun dan ia letakkan tangan kekar itu disalah satu payudaranya. Wajah Sehun semakin memerah ketika telapak tangannya bersentuhan dengan kulit lembut payudara Jongin.
"Kau boleh memainkannya sesukamu." Jongin membelai rambut Sehun lembut kemudian meraih pergelangan tangan Sehun satunya dan meletakkannya dipayudaranya.
Sehun memberi Jongin tatapan ragu namun Jongin hanya tersenyum manis, memberikan semangat bagi Sehun untuk melakukan apapun pada dadanya. Perlahan, sangat perlahan, jemari Sehun mulai bergerak digundukan ranum tersebut.
Meraba dan membelai hingga akhirnya meremas kecil payudara Jongin.
"Hmmhmm..." Jongin melenguh kecil. Ya Tuhan, sudah lama sekali tidak ada yang menyentuh payudaranya seperti ini. Sehun sedikit terlonjak dengan lenguhan Jongin namun ia tidak berhenti, tangannya terus meremasi kedua payudara Jongin.
Sehun tampaknya sudah tidak canggung lagi dengan permainan panas ini. Kini bukan tangannya saja yang bermain di dada Jongin, bibir tipisnya mulai mencuri-curi ciuman disana.
Jongin?
Gadis itu bahkan berharap Sehun akan melakukan yang lebih kasar dari sekedar meremas dan menciumi dadanya tapi untuk saat ini semua cukup. Rangsangan seperti ini saja sudah membuat Jongin merasa tidak nyaman dibawah sana. Ia bisa memastikan jika celana dalam hitamnya sudah basah.
"Nghh...Sehunhh..." Jongin meremas rambut Sehun untuk melampiaskan gairahnya. Lidah amatir Sehun terasa sangat nikmat saat menjilati kedua puting mudanya bergantian.
Jongin yang duduk dipangkuan Sehun mulai merasakan sesuatu mengeras diantara belahan pantatnya. Oh, Jongin suka ini. Katakanlah jika Jongin adalah gadis mesum yang suka menonton film porno tapi siapa yang bisa menolak pria gagah berhati polos seperti Sehun?
Tubuh Jongin bergerak pelan. Maju, mundur lalu berputar dengan gerakan perlahan. Semua itu ia lakukan untuk menggoda gundukan keras yang ia duduki. Tidak lupa Jongin semakin membusungkan dadanya agar Sehun bisa terus melecehkan gundukan seksi miliknya itu.
"Hmmhh..." Sehun menggeram pelan. Jongin merinding mendengar geraman itu, gairahnya semakin membuncah. Menginginkan lebih dari sekedar gesekan-gesekan menggoda seperti ini.
"Sehunhh..ahh..b-berhenti sebentar.." Jongin dengan susah payah mendorong kepala Sehun menjauhi dadanya. Sehun mengerutkan dahinya dengan sedikit kesal, tidak suka harus lepas dari mainan barunya.
"Aku juga ingin bermain." Jongin berkata dengan nada pura-pura merajuk. Tidak lupa bibir penuhnya ia kerucutkan, membuat ia seperti anak lima tahun yang kesal.
"B-bermain?" Sehun mengerjapkan matanya, bingung.
"Aku mau bermain ini." Tangan Jongin bergerak nakal meraba perut berotot Sehun yang masih dibungkus kaos kemudian perlahan turun menuju tonjolan milik pemuda tersebut. "Bolehkan?"
—
"Aahhh...sshh...ya Tuhan Jonginhh...ahh..." Sehun tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada dirinya. Dibawah sana, seorang gadis cantik duduk diantara kakinya dan bermain dengan kejantannnya!
Sehun bukannya sama sekali tidak mengerti tentang seks. Dia juga pria normal yang penasaran dengan hal-hal semacam itu jadi sesekali ia menonton video panas dan berakhir menyentuh penisnya sendiri.
Tapi diberi hand job? Blow job? Oleh gadis secantik Jongin? Oh ayolah, Sehun pasti sedang bermimpi saat ini. Mungkin ini akibat tadi siang Jongin mengenakan ketika mereka sedang memanen kebun Nenek Kim—kaos ketat dan juga celana super pendek—belum lagi tadi siang Jongin menciumnya. Mungkin ini buah tidur karena kejadian tadi siang...
"Hhmmh...ahhh...nghh..." Sehun tidak tahu bagaimana menyalurkan kenikmatan yang ia rasakan. Tangannya ingin sekali menarik rambut panjang Jongin dan meremasnya kencang tapi ia takut jika hal itu akan menyakiti gadis tersebut.
"Kau suka?" Jongin mengeluarkan penis Sehun dari mulutnya dan memandang Sehun dengan tatapan sayu yang menggoda.
"La-lagi." Sehun berkata dengan sedikit gagap karena terlalu terpesona dengan kecantikan Jongin yang terkesan lugu namun nakal. Jongin memang indah, sangat indah malah. Dan sepertinya malam ini mereka akan bercinta. Jika Jongin mengajaknya bercinta, berarti gadis itu menyukainya kan?
Ah, itu dipikir nanti saja.
Sehun kembali menatap penisnya yang dilahap rakus oleh Jongin. Kepala penisnya dikulum, dihisap dan dijilat oleh bibir Jongin yang bengkak. Tangan lentiknya bermain dengan bola kembarnya dan juga mengocok batang penis Sehun yang tidak mampu masuk kedalam mulut mungil Jongin.
"Hnghh..ahh..." Pinggul Sehun tersentak sedikit ketika ujung lidah Jongin menggoda lubang urine-nya.
"Uhuk!" Jongin tersedak dan Sehun segera mendorong kepala Jongin menjauh dari penisnya.
"Maaf, aku..aku..."
"Tidak apa, kau boleh membuatku tersedak ratusan kali." Jongin tersenyum nakal dan meraih penis Sehun kedalam genggamannya. Mengocok benda itu sejenak sebelum mengulumnya kembali.
Apa Jongin seorang ma..maso...mayonnaise? Masonnaise? Sehun pernah membaca di internet tentang orang yang suka dikasari atau mengasari ketika berhubungan intim. Apakah Jongin termasuk dari golongan mayonnaise ini?
"Ahh..hhh...mmhh...Jo...Jonginhh..." Sehun merasa perutnya mulai begejolak. Tentu dia tahu jika pelepasannya akan segera tiba dan sepertinya Jongin juga mengetahui hal tersebut.
Kuluman Jongin pada penisnya semakin cepat. Kepalanya bergerak naik turun, pipinya ia tiruskan agar penis didalam mulutnya semakin terasa bagai diperas. Tangan Sehun tanpa sadar meraih rambut Jongin dan pinggangnya bergerak kasar melecehkan bibir bengkak Jongin.
"Ohh...nghh..shhh..ahhh!" Sehun menekan kepala Jongin agar menelan habis penisnya sementara ia menyemprotkan cairan kental kedalam rongga mulut gadis tersebut.
Ini adalah orgasme ternikmat yang pernah Sehun rasakan. Berpuluh-puluh kali nikmat dibanding sesi-sesi solonya dikamar mandi. Apalagi melihat mata sayu Jongin yang sepertinya sungguh menikmati dibuat tersedak oleh cairang kental miliknya.
Perlahan, Jongin mengeluarkan penis Sehun dari mulutnya. Sisa-sisa sperma yang tidak mampu tertelan oleh gadis tersebut meleleh keluar dan jatuh ke atas dadanya, membuat ia tampak semakin seksi.
"Hmm, enak." Jongin berkata manja sambil mencolek sperma Sehun yang berantakan didada, leher juga wajahnya kemudian memasukkan jarinya kedalam mulut.
Sehun yang baru saja mendapatkan pelepasannya merasa penisnya sudah kembali mengeras. Hebat memang Kim Jongin, bisa membuat Sehun tegang bahkan tanpa menyentuhnya.
Sebenarnya Sehun sudah cukup malu karena ia ejakulasi begitu cepat hanya karena kuluman Jongin dan kini penisnya lagi-lagi sudah menegang hanya dalam hitungan detik setelah ejakulsi. Tapi ini kan pengalaman pertamanya. Jadi ini bisa dimaklumi bukan?
"Apa kau mau membantuku disini?" Jongin berkata dengan mata yang ia kerjapkan manja, tangannya menunjuk celana dalam hitamnya. "Disini gatal sekali."
Sehun meneguk air liurnya dengan kasar. Apakah Jongin ingin ia melakukan oral untuk gadis tersebut? Oh tidak, Sehun takut jika ia akan kelepasan jika melihat bagian terinti Jongin...
Pemuda itu berusaha mengalihkan pandangannya dari Jongin yang dengan seksinya melepas celana dalam hitam yang terpasang indah ditubuh molek itu tapi usahanya sia-sia. Lagi pula kapan lagi ia bisa melihat tubuh telanjang secara langsung? Bahkan tidak hanya melihat tapi bisa juga menyentuhnya.
"Jongin..." Sehun sejujurnya sedikit khawatir dengan kegiatan mereka. Well, Nenek Kim bisa saja mendadak pulang lalu menemukan cucunya serta keponakan tetangganya sedang telanjang diruang tamu rumahnya. Bisa-bisa Nenek Kim serangan jantung dan mati mendadak.
"Hm?" Jongin membuang celana dalamnya begitu saja diatas karpet.
"Pintu...uhm, kunci...em, Nenek Kim..." Sehun sepertinya kehilangan kemampuan berbicaranya ketika Jongin berdiri dengan tubuh telanjang sepenuhnya. Jadi begitu bentuk vagina wanita? Sehun mengamati vagina Jongin yang berbulu tipis dan terlihat gemuk dan tembam.
"Hmm, aku rasa kita memang harus mencari tempat yang lebih privat." Jongin berkata sambil duduk menyamping diatas pangkuan Sehun. "Gendong aku ke kamar dan disana kau bebas melakukan apapun pada bagian manapun."
Sehun lagi-lagi meneguk air liurnya dengan kasar. Apapun? Pada bagian manapun? Ya Tuhan, ini anugrah atau ujian? Sehun perlahan bangkit dari sofa sambil menggendong Jongin dengan mudahnya, membawa gadis itu menuju kamar.
Begitu sampai kamar, Jongin langsung menjatuhkan diri dari gendongan Sehun dan meloncat riang ke atas tempat tidur. Sehun memandangi dada Jongin yang berguncang menggoda dalam setiap gerakan. Shit, Sehun belum puas memainkan dada sintal itu tadi.
"Sehunnie, kemarilah." Jongin berkata setelah ia menyandarkan dirinya pada head bed dan membuka kakinya lebar-lebar. "Bantu aku."
Sehun menurut saja.
"B-bantu apa?" Tanya Sehun begitu ia duduk diatas kasur dengan mata memandang vagina merah muda Jongin yang tampak...berlendir?
"Kau lihat ini?" Jongin membuka kakinya semakin lebar. "Ini sangat gatal, aku harap kau mau melakukan sesuatu padanya agar tidak terlalu gatal lagi."
Tanpa sadar, Sehun bergerak mendekat pada Jongin yang kini tersenyum lebar. Tangan kekar Sehun membuka kaki Jongin lebih lebar lagi dan menatap takjub bagian kewanitaan milik Jongin.
Jadi begini bentuknya vagina? Ini...jauh lebih menggairahkan dari pada yang pernah aku lihat di video-video. Milik Jongin terlihat sangat ketat dan cantik. Warnanya bahkan merah muda dan bulunya dicukur dengan manis.
Telunjuk Sehun menyentuh garis vagina Jongin dengan rasa penuh penasaran. Tubuh Jongin berjengat sedikit merasakan kontak pada bagian intimnya namun tidak menghentikan apa yang sedang Sehun lakukan.
"Hmmhhmm...Sehunhh...nghhh..." Sehun terhenti sejenak saat Jongin tiba-tiba mendesah sensual. Jadi jika aku memasukkan jariku kesini terasa nikmat? Telunjukku rasanya seperti dipijat dan disini sangat basah...
Sehun semakin bersemangat menelurusi seluk beluk vagina yang baru pertama kali ia lihat dan rasakan. Tidak hanya telunjuknya saja yang mempermainkan vagina Jongin tapi tiga jarinya sudah memenuhi rongga vagina basah Jongin dan menggerakkan tiga jarinya itu dengan perlahan.
"Ohhh..ahhh...Sehunhh...mmhh...lebih cepathh..." Jongin tampak sangat menggiurkan dengan kaki terbuka lebar dan dada membusung serta kepala mendongak mendahan nikmat. Sehun dengan sigap mempercepat kocokan tiga jarinya pada vagina Jongin.
"Angghh...ahhh...mmhh...nikmatnyahhh..." Tangan ramping Jongin meremas seprai tempat tidur. Jongin yang seperti ini terlihat sangatlah cantik dan Sehun merasa serakah karena ingin memiliki keindahan Jongin seorang diri.
Mata cokelat Sehun memandang bagaimana vagina merah Jongin menjepit erat ketiga jarinya. Bagaimana rasa basah dan hangat yang menyelimuti jarinya tersebut dan oh Tuhan, daging kecil yang berada pada vagina Jongin terlihat sangat menggugah. Daging kecil yang berisikan jutaan syaraf yang bisa membuat Jongin menggila jika ia menyentuhnya.
Sehun ingin mengecap vagina Jongin seperti yang ia lihat di video-video dewasa, dimana para pemain pria memuluti vagina pemain wanita. Pasti vagina Jongin rasanya sangat nikmat.
"Angghhh! S-sehunnhh!" Jongin menjerit nyaring.
Benar rupanya, daging kecil itu sangat sensitif. Baru saja Sehun menjilat benda itu sekali reaksi Jongin sudah begitu hebat. Dan rasanya sangat nikmat dan Sehun menginginkannya lagi.
"Sehunhh...ahhh...yahh...hnnghhh...ahhh..." Kepala Sehun diapit erat oleh paha jenjang Jongin ketika lidah pemuda itu memanjakan klitoris Jongin dengan berantakan. Menjilat, mengulum hingga menggigit gemas daging itu membuat dinding vagina Jongin semakin menjepit tiga jari Sehun.
"Hmmhh...Sehunhh...ohh...k-kau hebathh..ahh...yahh..ahhh..." Sehun bertanya-tanya dalam hati, apakah Jongin sudah akan mendapatkan puncaknya? Kenapa jari-jarinya terasa begitu dipijat?
Sehun mendongakkan kepalanya dan menatap wajah cantik Jongin yang sudah tidak karuan. Pipinya merah, bibirnya terbuka dan terus mengeluarkan desahan sensual sementara matanya tertutup rapat seolah menghayati segala permainan yang ia berikan.
"Sehunhh..ahhh...a-akuhh...ohhh...astagahhh...nghhh..."
Sehun mengocok vagina Jongin semakin cepat.
"Mmhhmmm! Sehunhhhhh!"
Ibu jari Sehun menggosok klitoris Jongin dengan cepat.
"AAAHHHH! SEHUUUNNHHHH!"
Sehun terperangah. Jongin mencapai puncaknya dengan begitu indah. Dadanya membusung dengan indahnya dan tangan rampingnya mencengkram seprai dengan kuat sementara kakinya yang mengejang menjepit tangan Sehun.
Cairan cinta Jongin yang melumuri ketiga jari Sehun dijilatnya dengan ragu-ragu namun juga penasaran. Enak, begitu pikiran Sehun. Pemuda itu yakin jika semua yang ada ditubuh Jongin pasti terasa nikmat juga.
Penis Sehun yang sudah sedari tadi mengeras terasa semakin menyakitkan karena pemandangan barusan. Bagaimana jika nanti ketika ia memberikan Jongin orgasme dengan penisnya? Oh, Sehun rasanya sudah tidak sabar. Tapi...apakah mereka akan benar-benar bercinta?
Sehun menatap Jongin yang terengah-engah. Dibenaknya, ia memikirkan apakah Jongin sudah sering melakukan hal ini dengan pria-pria Seoul? Berapa banyak pria yang sudah merasakan tubuh molek ini?
Pikiran itu membuat dada Sehun terasa disesaki oleh sesuatu yang tidak ia mengerti. Tapi satu hal yang ia tahu, Jongin menyukainya meskipun ia tidak tahu seberapa besar rasa suka itu.
"Kau berbakat." Jongin berkata dengan senyum diwajahnya. Rambutnya yang berantakan membuat Sehun semakin terpana oleh kecantikan alami Jongin.
"Huh?"
"Lidahmu tidak hanya ahli mencium tapi juga ahli memanjakan vaginaku." Jongin berkata nakal sambil duduk dan mendorong Sehun agar berbaring diatas tempat tidur. "Kau harus sering-sering memberiku service kedepannya."
Ke-kedepannya?
Sehun memandang gugup Jongin yang seperti kucing betina karena sikap binalnya. Kalau boleh Sehun berkata jujur, ia suka dengan gadis berani seperti Jongin. Berani memimpin permainan dan tidak malu mengungkapkan apa yang ia inginkan.
"Kau mau kan?" Jongin duduk diatas perutnya dan Sehun bisa merasakan hangat juga basahnya vagina Jongin.
"I-iya." Sehun menjawab patuh.
"Good boy." Jongin terkekeh dan Sehun sedikit malu dengan sikapnya yang terlalu menurut padahal ia adalah pria. Yah, tidak apa deh. Yang penting, penisnya mampu membuktikan jika ia lelaki sejati. Sehun akan buktikan jika penisnya mampu membuat Jongin gila dan terus meminta service dari benda kebanggaannya tersebut.
"Jongin..." Sehun menatap Jongin yang sibuk merabai dada dan perutnya yang kekar dan terbentuk sempurna meskipun Sehun tidak pernah pergi ke gym.
"Hm?" Jongin tersenyum dan mendekatkan wajah mereka, mengecup bibir tipis Sehun.
"Aku ingin..." Sehun sedikit malu mengungkapkannya tapi ia sangat menginginkan hal tersebut.
"Katakan saja." Jongin mengendusi leher kokoh Sehun dan bicara dengan suara rendah yang menggoda. "Aku akan memuaskan semua fantasimu."
Tangan Sehun bergerak perlahan menuju paha Jongin dan merabanya lembut. Payudara Jongin yang menyentuh dadanya terasa empuk dan kenyal. Belum lagi vagina Jongin yang menempel ketat pada bagian bawah perutnya. Sehun harus mewujudkan keinginannya yang sejak dulu ia pendam.
"Ma-mau kah kau mengendarai penisku?" Sehun berkata lirih dengan suaranya yang serak. Berharap Jongin tidak tersinggung atau keberatan dengan permintaannya.
"Dengan senang hati!" Jongin menjawab dengan riang, membuat darah Sehun semakin menggelegak. Seberapa binal Jongin itu?
To Be Continue/End?
Halo hehehe.
Ada yang nungguin?
