Erangan frustasi Chanyeol membuat Sehun yang hendak melumat bibir Luhan menghentikan gerakannya. Ekspresi wajah yang memang dasarnya sudah datar itu malah semakin dingin karena kemauannya urung didapat.
"Bisakah kau diam? Atau malah lebih baik kalau keluar." Protes Sehun dengan intonasi dingin menusuk. Lalu Chanyeol peduli dengan itu? Oh, tentu tidak. Dia bahkan tidak akan repot-repot menanggapi komplain Sehun karena yang sedang dia lakukan sekarang adalah menempelkan kening sialannya itu di pintu kamar mandi dan menanti Baekhyun keluar dari sana.
Kalian ingat insiden udang? Itu adalah akar permasalahannya.
"Baekhyun-ah..." ujarnya lemah.
"Baek..." tangan yang tadinya mengetuk pintu kamar mandi berubah menjadi gebrakan. "Byun Baekhyun!"
Brak!
"Demi Tuhan, Park Chanyeol! Aku sedang berusaha mengeluarkan feses-ku disini! Berhenti mengganggu kegiatanku atau aku akan melemparkannya padamu!!!"
"Umm... O-okay."
Bunyi gebrakan dari dalam mungkin adalah dari benda yang Baekhyun lemparkan ke pintu. Jadi karena tidak ingin ancaman Baekhyun benar-benar terjadi, lelaki tampan tapi sedikit bodoh itu mundur beberapa langkah. Jarak aman, pikirnya. Saat ada suara decakan dan erangan tertahan, Chanyeol refleks menoleh kebelakang dan tanpa bisa dicegah, umpatan keluar dari bibirnya yang di design untuk membuat beberapa makhluk dengan mental submissive itu melemah. Mari kita lihat apa yang terjadi dibalik punggung Chanyeol; Luhan yang setengah merebah dengan wajah memerah lengkap dengan Sehun yang melumati bibirnya seperti seorang kanibal dan lutut menekan selangkangan Luhan sementara tangannya mengelus pinggang pria yang lebih mungil karena pakaian yang dikenakannya telah tersingkap.
"Astaga, apa ini tempat prostitusi?!" teriak Chanyeol sebelum menarik kerah lelaki bermarga Oh agar menjauh dari Luhan yang sekarang tengah megap-megap mencari udara.
"What the hell, dude?!"
Jangan dikira disini hanya Chanyeol saja yang emosi. Sehun pun, karena kegiatan nikmatnya diinterupsi dengan cekikan kerah di leher.
"Stop raping him when I'm here, you moron!" Chanyeol melepaskan kerah baju Sehun yang tadi dicengkramnya dan membiarkan anak lelaki yang lebih muda beberapa bulan darinya itu bersungut-sungut kesal. "Kontrol hormon mu, Oh Sehun."
Sehun mendelik tidak suka, "Makanya segera cari kekasih jadi kau tau susahnya menahan hormon-mu saat dia berada didekatmu!" bajingan ini seenaknya bicara, dia pikir mudah untuk menahan hormon sialanmu sementara hanya dengan bernafas saja Luhan mungkin bisa membuat penisnya mengeras.
Chanyeol urung menjawab celaan Sehun karena pintu kamar mandi dibelakangnya terbuka. Dia segera menoleh dan men-scan apapun yang ada pada Baekhyun–terutama tangannya. Khawatir kalau-kalau anak itu sungguhan membawa fesesnya keluar.
Bagus. Tidak ada benda aneh terdeteksi. Park Chanyeol aman.
Beralih kembali pada Sehun dan Luhan, kedua anak itu sudah bersiap akan keluar kamar. Jadi dengan raut penasaran seperti anak anjing yang mengintip kedalam kaleng makanannya, Baekhyun bertanya, "Kalian mau kemana?"
"Kami akan jalan-jalan sebentar sebelum jam makan malam." Luhan meraih jaket tebalnya, cuaca memang cukup dingin karena hujan yang mengguyur sejak pagi tadi. Sekarang pun masih gerimis, jadi untuk menghindari tubuhnya terkena hawa sejuk berlebihan, Luhan memakai jaketnya. "Oh Sehun, menyingkirlah sebentar." Lelaki cantik itu menatap gemas kekasihnya yang sedari tadi memeluknya dari belakang sementara dirinya sibuk dengan beberapa barang di koper. Kalau Chanyeol boleh jujur, mereka terlihat cukup bodoh dari arah dia berdiri sekarang. Terutama si Oh Sehun itu.
"Apa aku boleh ikut?"
Oh tidak. Batin Chanyeol.
Dia meraih tangan Baekhyun lalu menyembunyikan yang lebih pendek dibelakang tubuhnya. "Kau bersamaku."
Sehun merotasikan matanya dengan sedikit berlebihan. "Aku juga tidak berniat mengurus anak kecil di acara kencan kami."
"Oh Sehun." Luhan mengingatkan. Dan dengan semua kepatuhannya pada yang lebih mungil, Sehun membungkuk dalam. "Maafkan aku."
Pfft.
"Kau boleh ikut, Baek. Dengan syarat pakailah pakaian yang lebih tebal, diluar cukup dingin."
Chanyeol mengelus tangan Baekhyun yang berada di genggamannya dan si mungil itu cukup mengerti kalau Chanyeol tetap tidak mengizinkannya untuk pergi keluar. "Kalian pergilah, dia bersamaku."
"Baguslah." ujar Sehun cuek.
"Sehun-ssi."
O-oh... Itu Luhan. Lengkap dengan tatapan tajam menggemaskan yang dia pikir menyeramkan. Tapi percayalah, efeknya benar-benar buruk. Seperti dia menolak setiap kali Sehun ingin menyentuh bibirnya. Atau bahkan menolak elusan di pipi gembil itu. Oh, Tuhan–tidak. Itu mengerikan.
Jadi sekali lagi, dengan seluruh kepatuhannya, Sehun membungkuk dalam. "Maafkan aku."
Pfft.
Setelah kedua orang itu pergi, Baekhyun menarik tangannya dari Chanyeol. Dia melangkah ke kopernya lalu mencari pakaian yang lebih tebal dari sana. Kedinginan.
"Park, bisa kau berbalik sebentar?"
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya lalu bersandar di pintu kamar mandi tanpa mengindahkan permintaan Baekhyun. Bajingan ini ingin mati rupanya batin Baekhyun saat melihat ekspresi menyebalkan Chanyeol. Mungkin nanti malam dia akan menggunduli alis lelaki itu. Lalu sesegera mungkin memesan tiket pesawat ke Swiss–kabur. Lalu dia akan jadi gelandangan karena dia tidak punya cukup uang untuk masalah tempat tinggal–Oke, cukup.
"Salin saja disini."
"Setidaknya jangan menatapku seolah aku ini tontonan, kau keparat!"
"Hei, hei, perhatikan bahasamu, okay?"
Baiklah, si mungil mulai terlihat jauh lebih ganas. Chanyeol mengalah, dia membalikkan badannya kearah pintu kamar mandi, "Beri tau aku kalau kau sudah selesai."
Dengan cepat Baekhyun mengganti kaus lengan pendeknya dengan sweatshirt yang lebih hangat. Dia tidak langsung meminta Chanyeol berbalik saat telah selesai. Anak itu malah melempar kepala Chanyeol dengan tisu gulung terlebih dulu baru bilang, "Aku sudah selesai."
Membuat yang lebih tinggi memejamkan mata mencoba menahan emosinya terhadap makhluk kecil, pendek, bantat menyebalkan yang berada beberapa meter di belakangnya itu.
Setelah self-control nya berhasil walau masih tersisa beberapa kekesalan barulah Chanyeol berbalik. Dan–Oh, Tuhan... dia harus menahan dirinya lagi karena mendapati Baekhyun berdiri di dekat ranjang dengan rambut yang sedikit berantakan–mungkin belum dia rapikan setelah salin tadi dan tangan yang hanya terlihat ujung-ujung jarinya saja karena lengan sweatshirt yang panjang itu menelan tangannya.
"Kenapa kau ini sangat...menjengkelkan?" batin Chanyeol.
Si tinggi itu berdeham untuk menghilangkan semua hal sialan yang ada diotaknya sekarang ini. Sementara Baekhyun menatapnya heran bercampur tidak peduli dengan tangan menggapai-gapai nakas untuk mengambil ponselnya. Game game game.
Setelah mengatur tempat duduknya senyaman mungkin, Baekhyun mulai menarikan jemari lentiknya di layar ponsel. Mengabaikan sosok tinggi yang masih betah berdiri diseberang kasur dengan tampang bodoh setengah kesal.
"Oh, kau menantangku ya." kepalan tangan Chanyeol adalah untuk rasa tidak sukanya diabaikan Baekhyun. Jadi dengan langkah selebar yang dia bisa, dia menuju Baekhyun.
"Yak! Apa-apaan kau ini?!" Baekhyun berteriak saat Chanyeol merebut ponselnya secara paksa dan melempar benda persegi panjang itu entah kemana. "Kau mau mati ya?" mata sipit dengan manik indah milik Baekhyun melebar, berharap itu dapat menakuti pria yang berada diatasnya ini.
Tu–tunggu!
Diatas?
"P...Park Chanyeol?"
"Apa?"
"Ada yang salah dengan posisimu disini."
Chanyeol melirik kebawah. Melirik tubuhnya yang hampir menindih Baekhyun dengan dengan jarak beberapa senti sebagai pembatas. Baiklah, ini masih cukup aman.
"Umm... mungkin iya. Tapi tidak apa-apa, aku suka ini." Chanyeol tersenyum menjengkelkan dan itu mengundang mulut Baekhyun untuk melayangkan hujatan terhadapnya. "What the fuck?!"
Dengan semua tenaga yang dia punya dan kelengahan Chanyeol, akhirnya pria yang lebih mungil itu mampu menjungkelkan si tinggi kebawah. Erangan kesakitan jelas terdengar, tapi Baekhyun dengan jelas pula tidak akan peduli.
"Aku baik." -Chanyeol
Masa bodo!
Baekhyun bersungut-sungut menatap ponselnya yang berada dibalik tubuh Chanyeol. Tergeletak mengenaskan dilantai seperti korban pemerkosaan–Oke, lupakan.
"Look, i know you still mad at me," Chanyeol berlutut di samping ranjang sedangkan tangannya menahan kaki Baekhyun yang sepertinya ingin menendang wajahnya, "Tapi kau akan mati kalau aku tidak menahanmu memakan udang itu!!!"
"AAAAAKKKHHHHH!!!"
Chanyeol gemas, jadi dia menggigit jempol kaki Baekhyun yang berada didekat bibirnya.
Tidak masalah kan?
~oOo~
12.04
"Hey, aku minta maaf..."
Tidak ada sahutan. Ya jelas saja, kalian pikir manusia mana yang mau bersenang hati menerima saat jempol kakinya digigit dengan tidak santai oleh makhluk bodoh yang juga menahan kakinya agar tidak menedang balik jadi mereka impas? Tidak ada!
Jadi dengan kemurahan hatinya Baekhyun membiarkan punggungnya untuk berhadapan dengan si makhluk bodoh. Baekhyun pikir kenapa dia tidak dilahirkan dengan kemampuan melihat masa depan? Akan sangat bagus kalau dia memiliki itu jadi setidaknya dia bisa mencelupkan jempol kakinya ke kotoran hewan terlebih dahulu sebelum Chanyeol memasukkannya kedalam mulut.
Akhirnya, malam di kamar yang dihuni oleh 6 orang itu diisi dengan suara bisikan Chanyeol yang meminta maaf. Memelas.
"Baek, aku sudah meminta maaf dengan cara yang normal. Kumohon maafkan aku."
Baekhyun diam, matanya setengah memberat dan suara Chanyeol yang merengek dibalik punggungnya ini menahan dirinya untuk terlelap. Dia berbicara sangat dekat dengan tengkuk belakangnya! Demi Tuhan, itu geli!
"Baekhyun, ini dingin. Berbagilah selimut dengan–" yang lebih kecil itu memutar tubuhnya kearah Chanyeol dengan kasar. Tidak tahan menahan geli di tengkuknya.
"Kumaafkan."
Chanyeol tersenyum lebar saat mendengar itu dan juga menatap Baekhyun yang membentangkan selimutnya lebih lebar lagi untuk berbagi dengannya–sebelumnya seluruh selimut disabotase oleh si pendek itu–.
"Aku akan mimpi indah tanpa ada dirimu yang berlarian mengejarku dengan pisau yang biasa digunakan untuk memotong tulang babi." sesosok makhluk bodoh berkata dengan tangan yang sudah merengkuh Baekhyun dalam pelukannya. "Begini lebih hangat."
Baekhyun membatu. Apa-apaan dia ini?! Seenaknya membuat jantungnya bekerja lebih cepat. Dada mereka menempel! Bagaimana kalau dia mendengarnya?
"Park, ini terlalu panas." Baekhyun berusaha mendorong dada yang sialannya lebih bidang dari miliknya itu. "Chanyeol!" Tidak bisa, Chanyeol malah menahan punggungnya–dan juga kakinya yang ingin menendang kejantanan lelaki itu.
"Diamlah, Baek."
Kalau digambarkan sekarang, ranjang yang paling dekat dengan jendela adalah ranjang yang paling berisik dan banyak decitan. Sementara penghuni ranjang pertama yang berada didekat pintu sudah lebih dulu menyumpal telinga mereka dengan headset, ranjang kedua adalah yang paling terkena imbas tidak menyenangkannya.
"Sehun..." rengekan kecil Luhan yang sudah sangat mengantuk membuat kesabaran Sehun untuk kedua penghuni ranjang sebelahnya ini habis. Jadi dengan asal dia mengambil ponselnya yang berada di nakas lalu melempar benda persegi panjang itu tepat di kepala Park fucking Chanyeol.
Prakk
Dan itu jatuh ke lantai.
"Aakkhh!"
Dan itu Chanyeol yang kesakitan.
Luhan baru saja akan menoleh kebelakang untuk melihat apa yang terjadi, suara apa itu, dan kenapa Chanyeol berteriak kesakitan, dan dia urung jadi karena kekasihnya sudah lebih dulu menahan kepalanya dan membenamkannya di dadanya yang bidang dengan segala rasa protektif yang dia punya, "Sshh... no, no. Let's sleep, dear." Sehun menepuk punggungnya, berusaha membuat diri mereka nyaman agar segera terlelap. Dengan keheningan yang ada, tepukan dan ciuman dari Sehun yang tidak berhenti, Luhan pun jatuh tertidur.
Sementara Chanyeol tidak memiliki kesempatan untuk membalas Oh Sehun karena khawatir lelaki itu malah mencari sesuatu yang lain untuk kembali melempar kepalanya. Seperti benda tajam, mungkin?
Dan juga Chanyeol rasa ini bukan jam yang tepat untuk berkelahi hanya karena dirinya yang tidak berhenti mengganggu Baekhyun. Ambil sisi positif dari kepalanya yang berdenyut sakit ini, setidaknya si mungil berhenti berontak dan sekarang malah terlihat seakan ia merasa bersalah–tunggu!
"Hey, hey..." Chanyeol panik. Bibir merah muda itu bergetar saat meminta maaf. Baekhyun menangis.
"Hey, tidak apa-apa..." Ya Tuhan... Chanyeol mungkin berteriak terlalu keras didepan Baekhyun ditambah lagi mungkin si mungil itu pikir kalau dia yang berisik dan malah Chanyeol yang terkena imbasnya.
Dan Baekhyun yang menangis itu benar-benar adalah suatu hal yang Chanyeol tidak suka. Menurutnya itu menyebalkan.
"Aku tidak apa-apa. Aku benar tidak apa-apa."
Tangisan Baekhyun mereda, dan Chanyeol tidak bisa lebih bersyukur lagi dari itu. Dengan lembut dia menyingkirkan air mata sialan itu dari pipi tembam Baekhyun. Matanya basah dan hidungnya memerah. Tuhan... kenapa si cengeng ini sangat meng..gem..ggg...gelikan?!
Chanyeol meremas pelan pinggul Baekhyun dan mengusakkan hidungnya di rambut beraroma manis itu, "Aku sungguh baik-baik saja. Itu tadi tidak sakit sama sekali."
Hal kecil yang Chanyeol lakukan terang saja membuat Baekhyun merasa sangat nyaman. Tanpa sempat merespon ucapan Chanyeol juga meminta maaf dan mengumpati lelaki itu karena kembali membuat sesuatu dalam dirinya tidak berdetak dengan normal seperti biasa, Baekhyun pun tertidur. Matanya terlalu berat untuk tetap terjaga.
Chanyeol sendiri hanya menghela nafas lega saat dirasanya si cengeng ini sudah pulas. Dia menarik selimut, merapatkannya lebih kepada tubuh Baekhyun karena dia tau teman kecilnya ini selalu tidak kuat dengan suhu yang terlalu rendah. Belum lagi mereka berada didekat jendela yang bisa Chanyeol prediksi kalau lewat dari jam 3 pagi nanti, udara pastilah semakin mendingin.
Pernah sekali saat masih di tingkat Junior High School Chanyeol meninggalkan Baekhyun sendirian diluar restoran saat musim dingin di bulan Januari. Dia hanya meninggalkan anak itu sekitar 30 menit untuk membeli makanan dan kebetulan restoran itu tengah ramai. Chanyeol jelas bisa mengingat bagaimana pucatnya wajah Baekhyun dengan bibir yang biasanya merah itu membiru. Padahal saat itu Baekhyun memakai mantel yang cukup tebal.
Bukan sekali dua kali, anak itu juga pernah jatuh sakit karena terlalu lama berenang. Pernah hampir terkena hipotermia karena tersesat saat mencari kayu bakar ketika perkemahan musim dingin. Dan Chanyeol hampir frustasi karena mengingat itu semua.
Rasanya ingin dia geser tubuh pendek itu agar dia bisa tidur didekat jendela. Jadi si pendek menyebalkan tidak perlu kedinginan. Tapi Chanyeol berani jamin kalau saat Baekhyun bangun pagi nanti dan malah mendapati dirinyalah yang berada di dekat jendela, Chanyeol pasti akan menerima setidaknya 3 sampai 4 pukulan yang akan membangunkannya seketika.
Itu tidak sehat untuk mengawali pagi.
Jadi yasudahlah, Chanyeol memilih untuk menyusul yang lainnya–tidur. Karena ada banyak hal yang harus dilakukan besok. Kurang tidur bisa merusak mood nya seharian penuh
~oOo~
"Hey, hey! Apa yang kau lakukan?!" seorang lelaki dengan tubuh lebih pendek menghampirinya, dan Baekhyun tau kalau ia adalah Woozi, si anak dari kelas sebelah. Tampangnya terlihat polos dan lugu, bertanya memang apa yang sedang dia lakukan? Dia hanya mengunyah daun yang Chanyeol bilang itu akan membuat nafasnya wangi–
"Iyeek!"
Baekhyun memuntahkan daun yang dikunyahnya. Lidahnya terasa kelu akibat dari rasa aneh yang daun itu timbulkan.
"Kau baik?" Woozi menepuk bahu Baekhyun yang masih merunduk, berusaha membuang seluruh serpihan daun yang tertinggal di mulutnya.
"Ini–" sebotol air yang Woozi sodorkan kepadanya langsung Baekhyun ambil. Setelah selesai dengan urusan membersihkan sisa rasa aneh dari mulutnya, Baekhyun berterimakasih. Sangat berterimakasih. Juga matanya tidak berhenti menatap sekitar, mencari keberadaan Chanyeol dan tulang keringnya yang sangat ingin Baekhyun patahkan. Sangat-sangat ingin Baekhyun patahkan.
"Itu dia si bajingan." Geraman Baekhyun yang terlihat seperti anjing Welsh Corgi yang diambil mangkuk makanannya mengundang tatapan heran Woozi. Tapi dia tidak begitu ambil pusing karena masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.
"Baiklah... terserah." Woozi mengambil arah berlawanan dari Baekhyun yang sekarang tengah menghampiri sesosok makhluk kelebihan kalsium yang bernyawa dan bergerak kearah samping villa bersama seorang wanita yang Baekhyun ketahui adalah mantan kakak kelasnya.
Kecepatan kaki pendeknya Baekhyun tambah saat tubuh Chanyeol sudah tidak terlihat lagi–menghilang dibalik gedung.
"Apa yang mereka lakukan?" Kepala Baekhyun menyembul kecil dari balik tembok. Sebenarnya dia tidak berniat menguping, tapi disini dia juga punya urusan dengan Chanyeol jadi anggap saja ia sedang menunggu gilirannya untuk berbicara sementara Chanyeol menyelesaikan urusannya dengan perempuan itu.
Tubuh menjulang Chanyeol jelas menutupi wajah perempuan yang membuat Baekhyun penasaran. Hanya rambut brunette sebahu yang dapat dia lihat dari sisi sini. Juga suara lembut–yahh...tidak begitu lembut juga, yang jelas itu khas wanita–dan tinggi badan yang hanya sedada Chanyeol. Sedikit lebih pendek darinya–dan Baekhyun bangga.
Lupakan.
Oh, terimakasih pada telinganya yang masih cukup tajam jadi Baekhyun tetap bisa mendengar percakapan mereka walaupun dari jarak sejauh ini–sekali lagi, dia tidak sedang menguping, oke? Hanya menunggu giliran.
"Jadi... umm... Apa kau punya kekasih?"
Sejak awal Chanyeol menyeretnya kesini, Sunbin sudah merasa sedikit aneh. Dan sekarang menjadi lebih aneh lagi karena pertanyaan anak itu.
"Tidak. Kenapa?"
"Oh, bagus!"
Kernyitan heran yang makin kentara dari Sunbin membawa tangan Chanyeol untuk mengusap tengkuk belakangnya kikuk. Dia seharusnya mengontrol diri agar terlihat keren!
Setelah Chanyeol cukup sadar kalau dia telah menempatkan keheningan diantara mereka berdua terlalu lama, "Jadi, aku menyukaimu." lontaran kalimat itu ia keluarkan. Lengkap dengan ekspresi yang ia buat seserius mungkin–berusaha terlihat meyakinkan padahal dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang tengah dilakukannya sekarang ini.
Yang Chanyeol katakan baru saja nyatanya malah membuat ekspresi di wajah Sunbin berubah makin aneh. Aneh, dalam artian tidak baik karena kernyitan di keningnya makin dalam juga kerjapan bingung dan matanya yang menyipit sebelah–ini entah apa maksudnya, yang jelas itu tidak baik.
"Apa maksudmu?"
Sudahlah, wajah bodohnya sudah tidak bisa ditutupi lagi. Jadi Chanyeol tidak lagi berusaha untuk terlihat keren.
"Ya kau tau–Aku menyukaimu, dan aku ingin kau jadi kekasihku."
Apa Sunbin bodoh sampai dia tidak bisa mengartikan ucapan dan gerak gerik yang dia tunjukkan?
Kedua orang berbeda gender itu larut dalam percakapan mereka. Tidak menyadari Baekhyun yang juga larut dalam pemikirannya. Apa yang Chanyeol dan Sunbin bicarakan sudah tidak lagi dapat dia tangkap karena sekarang fokusnya ada pada perasaan tidak nyaman yang dirasakannya sekarang. Tanpa sadar jemari lentiknya merambat ke dada kiri tempat dimana seperti ada sesuatu yang membuat moodnya turun drastis. Keinginannya untuk menendang tulang kering Chanyeol pun sudah hilang. Sebaliknya, dia malah berharap tidak bertemu lelaki itu dan dapat mengunci dirinya dikamar sendirian.
Sayangnya, mau dikemanakan 5 orang lainnya kalau kamar itu dia gunakan sendiri untuk menenangkan pikiran bodohnya yang entah kenapa tiba-tiba berkabut.
"Ugh... ada apa denganku?"
Baekhyun kembali ke villa dengan lesu. Berharap sedikit merebahkan diri di ranjang dapat menghilangkan perasaan menyebalkan yang dia rasa.
~oOo~
"Kau lihat Byun Baekhyun?"
"Tidak."
Chanyeol memejamkan matanya erat, mencoba menahan geram karena sudah dua kali jam makan dan dia tidak mendapati Baekhyun menempati salah satu kursi di ruang makan itu. Saat dia bertanya pada ketua kelompok mereka, si Kim itu bilang kalau Baekhyun sudah makan.
Tetap saja, dia tidak melihat Baekhyun sejak pagi tadi dan itu bukanlah suatu hal yang baik–baiklah, itu cukup baik. Tapi bukan begini juga cara mainnya!
Chanyeol segera ke kamar lalu menyambar sebuah mantel yang dia ketahui adalah milik Oh Sehun. "Kupinjam." ujarnya tanpa melihat kearah Sehun yang sedang menciumi bahu sang kekasih. Dan keparat itu hanya memberikan acungan jempol tanpa menjauhi bibirnya dari bahu Luhan yang lembut.
Tak lupa Chanyeol juga mengambil mantel Baekhyun–hanya untuk berjaga-jaga, setelahnya dia langsung melesat keluar untuk mencari makhluk pendek menjengkelkan yang seharusnya malam ini menemaninya di tempat tidur dekat jendela.
~oOo~
Baekhyun masih juga tidak mengerti kenapa hatinya merasa sangat tidak nyaman saat berada di dalam Villa. Rasanya sesak. Jadi setelah meminta izin pada ketua kelompok mereka dan berjanji agar sudah berada di kamar sebelum jam 9, Baekhyun pun keluar untuk mencari hal yang sekiranya bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Jadilah dia duduk di halaman belakang Villa. Jaket yang tadi dikenakannya sekarang beralih menjadi alas duduk diatas rerumputan.
Dingin memang, bahkan Baekhyun akan bergetar kalau semilir angin melewati tubuhnya. Tapi setidaknya ini terasa lebih... nyaman. Dibandingkan harus berada di dalam dan mungkin melihat wajah Chanyeol yang entah sejak kapan benar-benar meninggalkan friksi aneh pada hatinya, yang berimbas pula pada moodnya seharian ini.
Well, Chanyeol sering kali memang seperti timun yang dia tidak suka dan kalau berada terlalu dekat akan membuatnya kesal bahkan muntah, tapi kali ini berbeda. Ini jauh lebih tidak menyenangkan dibanding kau harus memakan timun yang sudah tercampur dalam nasi goreng buatan ibu temanmu dan akan sangat tidak sopan kalau kau menolak untuk memakannya–intinya, rasanya sangat tidak menyenangkan!
"Hhhh..."
"Smurf, what are you doing here?"
Shit! Itu Park Chanyeol!
Baekhyun hampir saja beranjak untuk melarikan diri kalau saja tidak ada tangan yang menekan bahunya kebawah, memaksanya untuk kembali duduk lalu memakaikan mantel pada dirinya dengan cepat. Baekhyun bahkan tidak begitu sadar saat lengannya telah lolos dari lengan mantel coklat mudanya.
"Apa kau sakit?"
Telapak tangan besar yang hinggap di keningnya Baekhyun tepis. Dan Chanyeol tidak memberikan respon berarti karena bukan sekali dua kali mereka begitu–Baekhyun selalu seperti itu saat tidak ingin diganggu.
"Aku baik."
"Kalau begitu ayo masuk kedalam."
Si pendek itu tetap pada posisi duduknya yang mana membuat Chanyeol geram. "Byun Baekhyun, come on in."
"I won't!"
Ya Tuhan... Chanyeol sedang tidak dalam mood bagus untuk menghadapi sikap kekanakan Baekhyun. Kepalan tangan lelaki itu mengerat seiring dengan dirinya yang mencoba bersabar membujuk si keras kepala ini. "Disini dingin, kau akan sakit–"
"Lalu apa pedulimu...?"
Chanyeol mengerutkan kening. "Kau akan berlipat kali lebih merepotkan saat sakit."
Baekhyun sudah sering mendengar Chanyeol menyebutnya merepotkan, tapi entah kenapa mendengarnya untuk kali ini membuat matanya memanas. Tundukan kepala si mungil itu sedikit banyak membuat Chanyeol ingin meralat kembali kata-katanya. Namun urung karena Baekhyun telah lebih dulu mengangkat suaranya dengan intonasi dingin yang baru kali ini dia dengar.
"Baiklah, untuk kedepannya... akan kuusahakan agar tidak melibatkanmu dalam hal apapun yang bersangkutan dengan diriku."
~oOo~
TBC
~oOo~
A/n:
Ngeng :)
