Terima kasih sebelumnya untuk Kimekiza dan David (Anon) untuk reviewnya. Saya benar-benar termotivasi untuk menulis fic ini, dan chapter tiga sudah selesai sampai sekarang. Saya menghargai dan menyukai berbagai macam review. Mau itu berupa masukan dan saran, kritik, ataupun gurauan (lol, beneran). Bahkan saya senang walau itu cuma 'bagus!' atau 'update!'. Karena bahan bakar fic ini adalah para pembaca.
Kimekize: Byakuya itu adalah reasonable person. Jadi menurut saya ga ada kemungkinan dia golput ato menolak :) (alias nyari momen yang tepat biar dia kelihatan cool)
David: Mengenai roman saya terima apapun jenisnya. Jadi sampaikan saja lewat review, dan saya akan mencoba memasukkannya ke dalam cerita. Tapi plot utamanya persis seperti yang saya tulis apda A/N ch 1. Kita lihat mungkin bisa masukin KomaRetsu momen lebih banyak lagi :D Enjoy then
Purge of Soul
2
Bleach©Tite Kubo
fic by Crow
Tetsuzaemon Iba berlutut dihadapan kapten divisinya, meletakkan satu lengan di atas satu dengkulnya. Ia mengangguk mengerti, dan segera ber-shunpo dari hadapan sang kapten serigala. Komamura berbalik, membalas tatapan mata Shunsui Kyoraku. "Aku baru saja memerintahkan Tetsuzaemon membersihkan kamar untuk Hinamori-kun. Bisa kubantu, Kyouraku?"
Komamura menyadari kehadiran temannya tanpa Nanao Ise di belakangnya. Hm, ini baru tidak biasa namanya. "Kau sudah menemui Hinamori-kun?"
Komamura menggeleng simpel. Itu cukup menjelaskan kepada kapten divisi delapan. "Kau tahu, Komamura, kupikir aku mengerti mengapa Hitsugaya-kun berlaku seperti tadi."
Kedua mata emas milik Sajin menatap lurus mata raven Kyouraku. Hanya dengan mendengar nada bicaranya yang berbeda dari biasanya, dan juga melihat rautnya yang sedikit tidak pasti, Komamura tahu ada sesuatu yang ingin disampaikan temannya yang satu ini. "Bagaimana kalau kita berjalan bersama. Ketika tengah menikmati jalan santai, aku kerap kali mengharapkan teman ngobrol. Kyouraku?"
"Tampaknya, kau tahu sekali ada yang ingin kubicarakan?"
Mendengar tawa kecil Kyouraku, Komamura 'pun ikut tertawa. "Siapapun yang melihatmu seperti ini pasti tahu kalau ada yang menyita pikiranmu."
Tidak ada yang khusus. Selama kurang lebih lima menit, mereka berjalan bersama tanpa ada pembicaraan sama sekali. Sesekali perhatian mereka berdua teralihkan oleh sekelompok burung yang nampaknya akan segera pulang ke sarang mereka, atau mengangguk balik terhadap sapaan beberapa shinigami yang berpapasan sepanjang jalan.
" 'Hitsugaya-kun memikirkan sesuatu.' " buka Komamura, kurang lebih mengutip perkataan Kyouraku tadi. "Kupikir kau ingin membicarakannya mulai dari sana."
" . . . Ya," kapten yang dicap playboy kelas kakap tersebut menyeret kata-katanya. Ia terkesan mau tak mau berbicara saat ini. "Aku hanya mengerti perasaannya."
"Apa ini ada hubungannya dengan Hinamori-kun?" tanya Komamura, tanpa ada keraguan. Mendengar itu, Kyouraku menggaruk rambut belakang kepalanya.
Dia mengangguk dan berhenti. "Aku tidak akan pergi sampai barak divisi lima, Komamura. Aku hanya ingin bilang kalau aku—dan juga Sui Feng-chan memiliki rasa bersalah terhadap gadis kecil itu." Komamura memiringkan kepala serigalanya, tanda bahwa Kyouraku harus menjelaskannya secara lebih detail lagi. Yang kenyataannya tidak akan mudah. "Saat peperangan melawan Aizen, kami terkena hipnotisnya. Dan . . . kau tahu kelanjutan dari sana. Kita tak menyadarinya sama sekali. Sampai . . ."
Komamura perlahan mengangguk, dan teringat sepenuhnya akan kejadian yang dimaksud. Walau sedikit buram, karena sebagaimana semuanya tahu saat itu Komamura sendiri tengah tak berdaya dengan luka koyak pada dada dan juga tangannya yang terpotong.
"Sui Feng-chan orang yang agak keras—khususnya kepada dirinya sendiri. Jadi di sini, aku hanya ingin menyampaikan bahwa, kami berdua juga merasa bersalah terhadap Hinamori-kun."
"Itu bukan kesalahan kalian. Aizen menghipnotis total kita semua." mengingat nama orang itu saja membuat Komamura ingin mengamuk. Bahkan ia sampai mencampur aduk isi hati beberapa orang seperti ini—termasuk Komamura sendiri.
" . . . Aku khawatir tidak semudah itu, Komamura." Kyouraku membuang tatapannya. Sosok santai dan mengalirnya yang biasa seperti tersembunyikan dibalik perasaan bersalah yang kental. "Walau aku sudah membunuh beribu-ribu hollow, tapi perasaan saat menyerang rekan sesama shinigami terasa begitu lain."
Kyouraku menyentuh gagang pedangnya, membimbing arah pandang Komamura ke sana. "Katen Kyoukotsu menangis—merasa berdosa telah melakukan hal itu." Kyouraku berusaha tersenyum, namun sang kapten serigala tahu kalau temannya memaksakan diri hanya untuk melakukan itu. "Aku hampir tidak pernah melihat'nya' menangis. Selama kuhidup yang kulihat hanyalah kearoganannya, tapi malam itu . . . ia menangis. Ia menangis karena sudah menusuk gadis yang tak berdosa tepat dihadapan matanya sendiri."
" . . . Aku tak tahu. Aku tak tahu harus berkata apa." raut Komamura sedikit menyendu. Tenken tidak pernah memperlihatkan sisi lemahnya. Tapi zanpakutou Kyouraku adalah perempuan—walau ia bilang zanpakutou-nya angkuh, tapi perempuan adalah makhluk berperasaan. Entah kenapa, walau Komamura tidak pernah berhubungan sedikitpun dengan wanita, ia rasa ia mengerti itu.
"Menurut pengakuannya padaku, Sui Feng-chan juga harus membujuk Suzumebachi yang tidak ubah bedanya dengan zanpakutou-ku."
Mereka kembali terdiam untuk beberapa detik. Beberapa shinigami memperhatikan mereka berdua, tapi tak punya cukup nyali untuk menguping. Yang mereka bisa adalah berjalan sejauh sepuluh meter ketika melintas di dekat mereka, dan berlalu dengan cepat. Raut kedua kapten tersebut nampak begitu serius oleh mereka—'mungkin saja sedang membicarakan taktik perang?', tanya seorang shinigami pada rekannya yang lain. Tapi tidak begitu yang sebenarnya. Raut mereka berdua nampak tak tentu arah, dan tak tahu harus melakukan apa-apa.
Walau Hinamori 'hanyalah' letnan, tapi membunuh (bahkan menyerang sekalipun) sesama shinigami bisa dihukum keras oleh peraturan dan hukum Seireitei. Dan itu membekas cukup kuat terhadap ketiga kapten ini: Kyouraku, Sui Feng, dan terutama Hitsugaya.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Komamura, memecah keheningan.
" . . . Tidak ada. Seperti kata Yama-jii tadi, Hinamori-kun saat ini terlalu rapuh. Kita tidak bisa mengambil resiko untuk mengingatkannya pada kejadian itu lagi."
"Aku mengerti." Komamura mengangguk. "Kita tunggu sampai dia benar-benar siap, kalau begitu."
Shunsui Kyouraku menghela napas panjang. "Maaf, Komamura. Kau harus mengemban tanggung jawab besar ini karena kami."
"Aku tidak pernah memikirkannya sampai sana. Aku hanya mengikuti kata hatiku." jawab Komamura dengan pasti. Kyouraku memberikannya senyuman santainya, merasa lepas namun anehnya merasa bangga terhadap rekannya yang satu ini.
Perhatian Komamura teralihkan kepada zanpakutou-nya. Ia lantas memegangnya. "Sepertinya Tenken ingin berbicara pada Katen Kyoukotsu,"
Komamura dan Kyouraku memegang sarung pedang masing-masing, lalu menyentuhkan gagang mereka.
Di dunia yang takkan pernah dikunjungi manusia biasa—kecuali sang pemilik pedang sendiri, sepasang perempuan berdiri membelakangi sosok model Buddha berkulit merah. Salah satu dari perempuan itu lebih tinggi dan ia nampak merunduk ke tanah. Ia mengenakan pakaian perempuan elit jaman feudal Jepang, dan aksesoris rambut tengkorak pada kepala. Dan satu lagi adalah perempuan kecil berpakaian ninja yang menyentuhkan tangannya ke lengan perempuan yang satu lagi.
"Kalian masih menyesalinya?"
"Tenken?" Katen, si wanita dewasa berbalik. Dengan segera ia melap air matanya.
"Waktu terus berjalan, tapi kau tetap tidak bisa melupakannya?" lanjut tanya Tenken. Katen dan Kyoukotsu tahu kalau sosok Buddha di depan mereka ini adalah merupakan salah satu dari beberapa zanpakutou terbijak yang pernah ada, termasuk Ryujin Jakka. Tapi perasaan Katen sebagai seorang wanita tidak bisa didustai oleh dirinya sendiri. Perasaan bersalah ini terus menghantuinya.
"Aku menyerang shinigami." balas Katen dengan cepat, nampak emosi. "Lebih dari itu semua, seorang gadis kecil. Kalian para pria tidak akan pernah mengerti ini. Bagaimana sakitnya perasaan berdosa kami."
"Kalian menyusahkan tuan kalian." Tenken menggeleng. "Aku mendengarnya saat ia berbicara dengan Sajin; dan ia tidak ubah bedanya seperti kalian berdua. Ditambah lagi melihat kalian yang sesedih ini. Kalian tidak menaydarinya?"
"Shunsui-san?" ujar Kyoukotsu.
"Aku tidak sempat menasehati Suzumebachi, tapi percayalah pada Sajin. Ia akan melakukan sesuatu."
Tenken segera menghilang dari dunia Katen Kyoukotsu, meninggalkan mereka berdua yang hanya sanggup terdiam.
"Apa kita bisa mempercayainya, Katen-san?"
Wanita dewasa tersebut menggeleng lemah. "Laki-laki memang selalu egois . . . Mereka tidak akan pernah tahu sakitnya menyerang sesama rekan di medan perang." ia menoleh ke arah si kecil Kyoukotsu. "Shunsui tidak bisa melakukan apapun saat ini. Berharap saja majikan Tenken dapat melakukan sesuatu."
Komamura dan Kyouraku menarik pedang mereka masing-masing menuju ikatan pada pinggang mereka. "Walau aku tidak begitu akrab dengan Hinamori-kun, tapi dia tetap merupakan rekan kita yang berharga sebagai sesama shinigami. Hanya karena itulah, aku mengerti betapa sakitnya peraaan Hitsugaya-kun saat ini."
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, Kyouraku. Tapi, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas Aizen." jawab sang kapten divisi tujuh. "Dia sudah dibiarkan memporak-porandakan kita semua, tapi tidak pada Hinamori-kun. Tidak pada seseorang yang menaruh hormat yang tinggi kepada mantan kapten divisinya. Aku akan melihat, sejauh mana kubisa."
"Sudah pernahkah kukatakan padamu kalau kau orang yang luar biasa, Komamura?"
Komamura memberikan dengusan napasnya sambil tersenyum tipis. Dia tidak biasa dan tidak begitu mengharapkan pujian. Tapi, memang seperti itulah Kyouraku. Komamura membalikkan tubuhnya, mulai kembali melanjutkan jalannya menuju markas divisi lima.
Di belakangnya, Kyouraku berpikir dan merasa mengerti betapa sakitnyakah perasaan Komamura karena kehilangan sahabat karibnya, Tousen. Bahkan dia harus merasakan kepahitan itu secara langsung. Perasaan yang dimain-mainkan, dan juga persahabatan yang diadudomba. Jika ada seseorang yang menaruh dendam tak terbalaskan terhadap Aizen, itu adalah Komamura. Kyouraku hanya tidak tahu, sejauh mana Komamura ingin 'membalas' Aizen, dan bagaimana bisa dia menahan napsu buasnya yang tak terbendungkan itu . . .
Hinamori membereskan beberapa tumpuk buku yang berantakan bukan main di atas meja kerjanya, dan juga meja kerja mantan kaptennya. Rautnya nampak begitu sendu, namun anehnya kelihatan tak berekspresi. Mata onyx-nya menerawang tiap-tiap sudut ruangan, dan melanjutkan kegiatannya dengan menyapu dari sudut ke sudut lainnya.
Setelah semuanya bersih, ia segera beranjak ke kamarnya untuk mandi kilat dan setelahnya Hinamori duduk di tepian kasur, menikmati waktu sendirinya.
Dia memang tidak ingin mengingatnya, tapi ia selalu terkenang akan sebagaimana lembutnyakah sosok Aizen yang dulu. Setelah selesai bekerja, mereka akan duduk di atas kursi santai ruang kerja membicarakan hal-hal trivial yang hampir tidak penting. Hinamori biasanya membuatkan teh untuk mereka berdua, dan obrolan mereka berlanjut hingga sore pukul lima sebelum akhirnya mereka menuju ruang istirahat masing-masing.
Tapi sosok itu palsu.
Hinamori menajamkan matanya ke arah lantai ruangan. Semua itu palsu. Sampai sekarang ia merasa tidak percaya dengan semua pengkhianatan yang dilakukan Aizen, tapi itulah kenyataannya. Saat orang-orang berkata kenyataan itu menyakitkan, inilah kenyataan, tepat dihadapan Hinamori sendiri.
Setiap kali mengingatnya, ia selalu ingin menangis. Tapi tak ada tempat lain yang tepat untuk menangis selain di kamar mandi. Pancuran yang terjun tak pernah habis selalu bisa menyembunyikan isak tangisnya. Bisa memalsukan suara erangan perihnya.
Tapi dia berusaha melupakan orang itu. Dia tidak lebih dari pengkhianat Soul Society. Titik. Hanya sampai situ.
Dari hari ke hari, Hinamori berusaha mengurangi kesedihannya. Di bawah pancuran, ia tidak lagi menangis. Saat bekerja, ia berusaha ceria dan kembali seperti sedia kala. Dia menyukai ini, jujur saja. Tapi, ada yang kurang . . .
Ada satu sosok menghilang yang menciptakan lubang di hatinya . . . Orang yang menjadi panutannya, idolanya—menjadi orang yang menerima perasaan cinta dan kesetiaannya.
Tapi semua hancur. Semuanya tidak akan pernah bisa seperti dulu lagi.
Di saat-saat seperti inilah, ia ingin kembali ke Rukongai. Kembali bercocok tanam semangka bersama dengan neneknya di rumah, menjalani kehidupan biasa. Bersama Shiro-chan—walau hampir mustahil bagi kapten tersebut untuk melakukan hal demikian. Lagipula . . . lagipula Shiro-chan tidak ingin menemuinya lagi. Hinamori serasa tak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Dia ingin berlindung tapi tak memiliki atap yang bisa menahan derasnya hujan. Ia ingin melangkah ke depan, namun ia tak memiliki pijakan lagi . . .
Ia ingin memiliki sesuatu lagi demi hidupnya. Ia ingin mengabdi kepada seseorang lagi, dan bisa membuktikan kepada orang tersebut bahwa ia adalah sangat berarti bagi diri Momo Hinamori.
"Bagaimana kabarmu, Hinamori-fukutaichou?"
Momo memutar arah pandangnya menuju pintu kamarnya. Tubuh besar dan tinggi serigala menghalangi penuh daun pintunya. Bahkan tinggi kepalanya nampak begitu pas dengan langit-langit kamar. Kedua mata Hinamori terbelakak melihat sosok yang sudah sangat tidak asing di matanya. "Ko-Komamura-taichou?"
"Seperti yang Unohana-taichou sampaikan, sepertinya kau sudah jadi jauh lebih segar sekarang."
Momo tidak bisa melakukan apapun kecuali mengangguk dan memberikan senyum tipis kepada sang kapten. "Ya. Berkat Unohana-san dan teman-teman divisi empat."
Komamura hanya mengangguk tanpa ekspresi yang terlalu 'wah'. "Bagaimana perasaanmu?"
Kali ini giliran Hinamori yang mengangguk terhadap pertanyaan sang kapten. "Saya pikir saya sudah bisa melakukan pekerjaan seperti biasa. Terima kasih atas perhatianmu, Komamura-taichou." Momo tersenyum ragu, menatap kapten divisi tujuh dihadapannya. "Anu, s-sangat tidak biasa kami menerima kunjungan anda. A-ada apa, kiranya?"
Kau dilepas tugaskan sebagai shinigami mulai dari hari ini.
Mungkin itulah yang seharusnya pesuruh dari Genryusai-dono sampaikan saat ini. Tapi, Komamura berpikir lain dengan memberikan solusi pada rapat tadi. "Momo Hinamori-fukutaichou, aku disini membawa kabar kepadamu." Hinamori menelan gumpalan di tenggorokan, belum bisa melepas tatapan janggalnya terhadap si kapten serigala. "Bahwa mulai dari hari ini kau dipindahtugaskan ke divisiku dan menjabat sebagai posisi ketiga atas seijin seluruh kapten, termasuk Genryusai-Shigekuni Yamamoto-soutaichou-dono."
Momo ternganga. Suara Komamura terdengar beberapa kali lebih menyeramkan di telinganya jika berbicara dengan nada formal kaku seperti itu. Komamura lalu merundukkan sedikit kepalanya, menatap wajah kebingungan Hinamori dengan sepasang bola mata emas lembutnya. "Itu hanya demi formalitas. Aku yakin kau memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalamu kepadaku, tapi aku mau kau segera mengemas barang-barangmu. Karena kuyakin Tetsuzaemon sudah selesai merapihkan ruangan pribadimu di barakku sekarang."
"Ap-ap," Momo, terbata-bata, berusaha berbicara. "Apa maksudmu, Komamura-taichou? Kenapa saya tidak mendapat pemberitahuan apapun?"
"Aku yakin kau tidak akan menolak perintah petinggimu, bukan begitu Hinamori-kun?"
"T-tentu saja. Saya akan segera bersiap, taichou."
Komamura mengangguk mengerti, duduk di lantai kamar Momo. Ia menyilangkan kedua lengannya, dan mulai menatap seisi ruangan ini. Komamura tidak mengerti apa bedanya ruangan pribadi pria dengan ruangan pribadi perempuan, tapi nampaknya 'barang-barang' ini tidak akan pernah dijumpainya di kamarnya sendiri.
Momo mengepak barangnya dan sesekali melirik ke arah sang kapten. Dari tadi sepertinya Komamura-taichou terus memperhatikan kamarku, bisiknya. Tapi bahkan mendobrak kamar perempuan 'kan tidak sopan. Sepertinya kapten Komamura tidak begitu mengerti dengan perempuan, ya?
"Anu, taichou," menyadari hanya menggunakan kimono lepas setelah beristirahat siang dan mandi, ia menegur si kapten. "Saya akan segera berganti pakaian menggunakan seragam,"
"Ya, silahkan,"
"Maksud saya, saya akan berganti pakaian."
"Baiklah."
" . . . M-maaf, tapi mungkin anda mau menunggu diluar sebentar saja. H-hanya membutuhkan waktu tiga menit."
"Oh. Oh, baiklah . . . aku mengerti." tidak mengerti. Komamura dengan heran berdiri, dan berjalan keluar dari ruangan. Oh, ya. Seingatnya, perempuan sangat menyukai privasi.
Dan, ya. Hinamori positif percaya kalau Komamura bukanlah yang terbaik jika berurusan dengan perempuan.
Hinamori berjalan berdampingan bersama Komamura menuju barak divisi tujuh. Jaraknya tidak sejauh dari barak lima ke markas pusat divisi satu. Dari barak lama Hinamori ke markas barunya hanya dibutuhkan waktu kurang lebih delapan menit dan melintasi dua blok yang memisahkannya. Sepanjang jalan, belasan shinigami menyapa sang kapten serigala raksasa. Komamura-taichou hanya menjawabnya dengan dengusan 'Hn' khasnya atau merunduk sedikit membalas sapaan mereka.
Hinamori kini kembali mengikat rambutnya kebalik kepala dengan gaya cepol khasnya, berjalan kikuk di sebelah sosok yang hampir setinggi dua kali tubuh mungilnya.
Bentuk dari markas divisi tujuh hampir berbeda besar dengan barak divisi lima. Walau berperan sebagai 'polisi' Soul Society dan mengurus tindak kriminal dari balik meja dengan hukum tertulis ribuan tahun, bentuk bangunan seluas hampir lima hektar ini menyerupai kuil tradisional Jepang. Bayangkan saja yang menyerupai hotel bertingkat tradisional Jepang, Hinamori pikir mungkin seperti itu.
DRAP. DRAP. DRAP. Setibanya Hinamori dan Komamura-taichou di gerbang barak divisi tujuh, sang letnan divisi, Tetsuzaemon Iba nampak berlari dari sayap kanan bangunan utama. Komamura melihatnya seperti tak terjadi apa-apa dan memasang wajah seperti: 'ini adalah santapanku sehari-hari', tapi Hinamori melihatnya seperti Iba-san tengah melarikan diri dari kebakaran hebat.
Masih mempertahankan kecepatannya, Iba melompat dan menyimpuhkan kakinya di tengah udara. Ketika mendarat ia tepat berada di tengah-tengah dari tonggak utama bangunan yang berjari-jari kurang lebih 7 meter. Mendarat dengan berlutut ke arah tamunya yang tiba, Iba melebarkan tangannya dan bersujud sedikit ke depan.
"Komamura-taichou, saya, Tetsuzaemon Iba telah melaksanakan perintahmu dengan begitu baik! Saya bangga dengan apa yang telah saya selesaikan dan saya harap anda juga!" beristirahat sebentar untuk menghirup napasnya, ia kembali melanjutkan. "Dan selamat datang juga kepada Momo Hinamori-san di divisi kami. Kami akan membantumu sebisa dan sekuat kami!"
Raut Hinamori nampak kelabakan. Walau ia tahu orang seperti apakah Iba-san ini, tapi perlakuannya ini agak tidak biasa. Ditambah lagi letnan pria tersebut bersujud ke arahnya dan sang kapten serigala. Hinamori hanya bisa melambai-lambaikan tangannya, berharap Iba segera berdiri.
"Kerja bagus Tetsuzaemon." Komamura menoleh ke arah Hinamori, dan menepuk punggungnya. "Mari kuantarkan ke kamarmu, Hinamori-kun."
Sesuai dugaan Hinamori sebelumnya, barak divisi tujuh ini memang menampilkan pemandangan oriental Jepang yang tradisional. Ketika Hinamori menapakkan kakinya ke dalam bangunan utama, dua vas pot bunga raksasa menyambut kedua mata onyx-nya. Shinigami divisi tujuh berlalu lalang di hadapan mereka bertiga, dengan berbagai macam dokumen dan arsip di tangan mereka.
"Selamat siang, Komamura-taichou!" seru mereka semua ketika menyadari kedatangan sang kapten.
Komamura berjalan menuntun Hinamori di belakangnya, sementara Iba mengikuti di belakangnya lagi.
Pada satu daun pintu geser di lantai lima, Komamura berhenti. "Tetsuzaemon, kau boleh pergi. Dari sini biar aku yang melakukan sisanya."
"Baik, taichou." setelah sekali lagi berlutut, Iba segera melangkah mundur.
Komamura menggeser pintu tersebut dan melangkah masuk. "Ini kamarmu, Hinamori-kun. Tidak ada yang bagus, tapi kuharap kau merasa nyaman beristirahat disini."
Kedua mata Hinamori terbelakak lebar memandangi seisi ruangan. Ruangan ini kelihatan begitu mewah walau perabotnya termasuk bawaan standar setiap kamar bagus dan bersih. Secara respon, Hinamori menyanggah. "I-ini bukan kamar untuk posisi ketiga. Ini-ini kamar para letnan. B-bahkan kamarku di divisi lima saja tidak sebesar ini,"
Komamura memperhatikan kamar ini sekali lagi. Setelah ia mendapatkan gambaran yang cukup, ia mencoba membandingkannya dengan kamar Hinamori tadi. Memang benar. Setiap divisi memiliki bentuk bangunan yang berbeda. Tapi, Komamura tidak tahu kalau sampai bentuk dan luas kamarnya juga berbeda. Secara kasar kamar ini memiliki luas tambahan beberapa kaki dari milik Hinamori yang sebelumnya.
"Ini adalah kamar Tetsuzaemon. Benar, kamar letnan." jawab Komamura. "Tapi kamar ini kuberikan kepadamu lantaran Tetsuzaemon tidak pernah menggunakannya. Jadi tidak usah khawatir. Kamar ini kosong sejauh dia menjadi bawahanku."
"Kenapa bisa?" tanya Hinamori, nampak tidak percaya. "K-kamar ini sangat bagus padahal."
Komamura mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Tetsuzaemon hanya merasa tidak nyaman berada di bilik seluas ini. Kamar yang lebih kecil dan lebih kotor; ia suka berada di sana."
Hinamori menggotong barang bawaannya ke atas kasur dan sekali lagi menatapi sekelilingnya. Ia mengeluarkan senyuman tipis. Namun kemudian rautnya mengkerut. Menyadarinya, Komamura langsung memotong kata-kata yang hendak dilontarkan mantan letnan divisi lima. "Seperti kataku tadi: 'tidak usah khawatir.' Barak ini dibawah kuasaku. Aku bebas mengaturnya sesukaku."
"Terima kasih banyak, Komamura-taichou." ujar Hinamori, tersenyum lepas nan panjang. "Aku-aku akan memberikan yang terbaik untukmu. Mohon bantuannya." ia membungkuk dan kembali mengangkat kepala, mendengar Komamura berbicara setelahnya.
"Aku juga menantikan saat bekerja bersamamu." jawab sang kapten, mengangguk. "Hari ini kau kuperintahkan untuk beristirahat penuh. Di pojok sana adalah kamar mandi dan toilet pribadimu. Lalu, siang nanti pergilah ke cafeteria di lantai satu. Periksa saja setiap sudutnya, pasti akan ketemu. Tetsuzaemon tidak pernah terlambat untuk makan siang. Dia akan menemanimu. Begitu juga untuk santap malam, semuanya dilakukan di cafeteria. Besok pagi aku menunggumu di ruang kerjaku di lantai enam. Aku akan meminta Tetsuzaemon mengantarkanmu nanti."
Hinamori menatap kaptennya dengan tatapan pasti. "Akan kuingat. Sekali lagi terima kasih banyak, taichou."
Komamura berbalik, berniat meninggalkan posisi ketiga baru divisinya. Untuk membiarkan si gadis beristirahat, tentunya. Tepat saat Hinamori kembali mengangkat kepalanya setelah membungkuk, Komamura memutar tubuh besarnya kembali. "Satu lagi, Hinamori-kun,"
"Ya, taichou?" Komamura diam untuk beberapa detik, memperhatikan sepasang mata onyx pekat milik si gadis.
"Aku hanya ingin bilang kalau kau aman," Hinamori memiringkan kepalanya, mencoba menerka apa yang hendak disampaikan kaptennya. "Tidak akan ada yang membuatmu gelisah disini. Aku menjaminnya. Karena itu, cobalah untuk bersantai dan jangan bebani pikiranmu dengan hal yang macam-macam. Ini bukan permohonan. Ini perintah dari kaptenmu. Mengerti?"
Hinamori terlongo, sebelum akhirnya tersadar. Ia kemudian memberikan hormat kepada sang kapten serigala. "B-baik. Saya mengerti, Komamura-taichou."
Si kapten berlalu dari kamar, dan kembali menutup pintu geser meninggalkan si gadis mungil sendiri di dalamnya. Bahu Hinamori yang sedari tadi terus menegang akan suasana baru lingkungannya melemas dengan seketika. Ia tersungkur ke atas kasurnya, telentang menghadap langit-langit ruangannya.
Kasurnya sangat empuk. Walau exterior dan interiornya bergaya Jepang, tapi kasurnya berukuran King Size. Dan kasur ini sangat nyaman, batin Hinamori.
Komamura-taichou. Hinamori membayangkan sosok sang kapten sambil menerawang langit-langit kamarnya. Ia kemudian mengubah posisi tidurnya ke arah samping, memandangi dekorasi kamar yang seadanya namun tertata dengan begitu rapih.
Walau penampilannya galak dan tegas, tapi . . . "Dia orang yang baik," Hinamori tersenyum, memejamkan matanya. Dia sendiri masih belum yakin, tapi ya, Komamura begitu ramah dengan caranya sendiri. Hinamori dapat merasakannya.
" . . . Dan bulunya juga kelihatan lembut."
A/N: Aww, darimanapun kalian mencobat melihatnya, siapa yang ga cinta sama bulu-bulu lembut yang dimiliki kapten divisi tujuh kita ini. Critics? Comments? Likes? Hates? Ga usah sungkan, silahkan teken tombol imut2 di bawah ini. See you in the next chapter.
