Note: Di ffn ini Tsunade adalah ibu dari Sakura, Jiraya adalah ayah Sakura, Ino adalah Adik Sakura, Naruto adalah adik Sakura, Kakashi pengawal Sakura, Madara kakek dari Itachi, Hasirama kakek dari Sakura. Dan mungkin masih banyak character baru untuk pembantu di chapter yang akan datang. Terimakasih yang sudah membaca dan meriview ffn ini. Terimakasih kepada Lin Xiao Li, Tectona Grandis dan KanonAiko yang sudah meriview prolog ffn ini. Semoga para pembaca menyukainya.

HONOR FOR FAMILY

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Yuuki Kiraina

Pair: Itachi dan Sakura

Warning: AU, OOC, Typo

Capter 1: Calon Suami

Tiga tahun sebelumnya.

Aku sedang bergelung di sofa panjang di perpustakaan kami, sedang membaca, ketika suara ketukan pintu terdengar. Kepala Hinata beristirahat di pangkuanku dan dia bahkan sama sekali tak bergeser ketika pintu kayu terbuka dan ibu kami melangkah masuk, rambut pirang diikat dua disamping dengan erat. Ibu terlihat pucat, wajahnya diwarnai kegelisahan.

"Apakah sesuatu telah terejadi?" tanyaku.

Dia tersenyum, tapi itu hanyalah senyum palsu. "Ayahmu ingin berbicara denganmu di kantornya"

Aku dengan hati- hati bergeser dari bawah kepala Hinata dan meletakkan kepalanya di bangku. Dia mengangkat kakinya ke atas tubuhnya. Dia terlihat kecil untuk ukuran anak berumur sebelas tahun, tapi aku pun sebenarnya tidak terlalu tinggi juga cuma empat koma lima kaki. Tak ada satupun wanita di keluarga kami yang tinggi. Ibu menghindari tatapanku saat aku berjalan kearahnya.

"Apakah aku dalam masalah?" aku tak tahu apa yang kesalahanku. Aku dan Hinata biasanya adalah yang selalu menurut, Ino adalah satu – satunya yang selalu melanggar aturan dan mendapatkan hukuman.

"Cepatlah. Jangan buat ayahmu menunggu" ibuku berkata dengan singkat.

Perutku mengejang ketika aku sampai di pintu depan kantor ayahku. Setelah beberapa saat menenangkan rasa gugupku, aku mengetuk pintu.

"Masuk"

Aku masuk, memaksa wajahku agar terlindung dengan hati- hati. Ayahku duduk dibelakang meja mahoni di kursi kulit yang sangat besar, di samping lemari mahoni yang dipenuhi dengan buku- buku yang tak pernah di baca oleh ayahku, tapi dia menyembunyikan jalan rahasia menuju ruang bawah tanah dan menuju koridor.

Dia menatap dari balik tumpukan kertas, rambut putihnya di gerai kebelakang. "Duduk"

Aku duduk di salah satu kursi di depan mejanya dan menautkan tanganku di pangkuanku, burusaha untuk tidak menggigit bibir bawahku. Ayahku membenci itu. Aku menunggu dia untuk mulai berbicara. Dia menampakan ekspresi yang aneh ketika dia mengamatiku. "Hebi sedang mencoba untuk mengklaim wilayah kita. Mereka menjadi sangat kuat dari hari ke hari. Kita lebih beruntung daripada Sunagakure yang juga harus berurusan dengan orang-orang Hebi tapi kita tak bisa mengabaikan ancaman dari Hebi lebih lama lagi".

Rasa khawatir memenuhi diriku. Ayah tak pernah membicarakan tentang bisnis kepada kami. Para gadis tak perlu tau akan segala detail mengenai bisnis mafia. Aku telah mengetahui itu dan lebih baik untuk tidak mengintrupsinya.

"Kita harus mengesampingkan perseteruan kita dengan Akatsuki untuk berdamai dan menggabungkan kekuatan jika kita ingin menyerang balik Hebi". Berdamai dengan Akatsuki. Mereka telah saling membunuh selama berdekade dan hanya baru baru ini memutuskan untuk saling mengabaikan satu sama lain demi keinginan untuk saling membunuh antar anggota kejahatan, seperti Hebi. "Tak ada yang lebih kuat dibandingkan darah. Minimal Akatsuki mengerti aturan itu".

Aku cemberut.

"Lahir dari darah. Bersumpah dalam darah. Itu adalah motto mereka".

Aku mengangguk tapi rasa kekhawatiran ku semakin bertambah.

"Aku bertemu Madara Uchiha kemarin". Ayahku bertemu dengan pemimpin Akatsuki, pimpinan Mafia Akatsuki? Pertemuan antara Akatsuki dan Konohagakure tak pernah diadakan selama berdekade dan terakhir kalinya tidak berakhir dengan baik. Dan ayahku bukanlah Boss. Dia hanyalah penasehat, penasehat seorang Hasirama Senju seorang pemimpin dari organisasi kejahatan di Konohagakure.

"Kami sepakat bahwa untuk perdamaian salah satu opsinya adalah dengan menjadi keluarga". Mata ayah dengan sayu menatapku dan tiba – tiba aku tak ingin mendengar hal lain lagi yang ingin dia katakan. "Hasirama dan aku setuju untuk menikahkan kau dengan anggota terkuat Akatsuki, calon pemimpin masa depan dari Akatsuki"

Aku merasa seakan aku telah jatuh. "Kenapa aku?"

"Madara dan Hasirama telah berbicara di telpon beberapa kali selama beberapa minggu terakhir, dan Madara ingin gadis yang paling cantik untuk cucunya. Tentu saja, kita tak bisa menyerahkan putri dari salah satu prajurit kami. Hasirama memiliki banyak cucu perempuan, jadi dia berkata bahwa kau adalah gadis tercantik yang masih available". Ino tak kalah cantik, tapi dia lebih muda. Kemungkinan itulah yang menyelamatkan dia.

"Ada banyak gadis cantik" aku tersedak. Aku tak bisa bernapas. Ayah menatapku seakan aku adalah hadiah yang paling berharga.

"Tak ada gadis Konoha yang memiliki warna rambut seperti dirimu. Hasirama menggambarkan rambut mu sebagai bunga kebanggaan Jepang". Ayah tertawa terbahak-bahak. "Kau adalah pintu kami menuju Akatsuki.

"Tapi ayah, aku baru lima belas tahun. Aku tak bisa menikah".

Ayah membuat gerakan meremehkan. "Jika aku sudah setuju, maka kau bisa menikah. Peduli apa kita dengan hukum?"

Aku mencengkram sandaran kursi dengan sangat erat, hingga buku-buku jariku berubah memutih, tapi aku tak merasakan sakit. Mati rasa sudah merasuki tubuhku.

"Tapi aku telah memberitahu Madara bahwa pesta pernikahan harus menunggu sampai kau berumur delapan belas tahun. Ibumu bersikeras bahwa saat itu kau sudah cukup umur dan telah menyelesaikan sekolah. Hasirama membiarkan dia memohon kepadanya".

Jadi si Boss telah memberitahu ayahku bahwa pesta pernikahan harus menunggu. Ayahku sendiri malah akan melemparkanku ke pelukan suami masa depanku sekarang. Suamiku. Aliran rasa sakit menghantamku. Aku hanya tau dua hal tentang Itachi Uchiha dia akan menjadi kepala Mafia Akatsuki saat Madara pensiun atau mati, dan dia mendapat julukan "Sharingan" karena sorot matanya yang tajam dan menusuk. Aku tak tau umurnya. Sepupuku Shijune harus menikah dengan pria yang tiga puluh tahun lebih tua darinya. Itachi tak mungkin setua itu, jika kakeknya bahkan belum pensiun. Minimal, itulah yang bisa aku harapkan. Apakah dia kejam?

Dia menghancurkan tenggorokan seorang pria. Dia akan jadi bos dari Akatsuki mafia.

"Ayah " aku berbisik. "Kumohon jangan memaksaku untuk menikah dengan pria itu".

Ekspresi ayahku mengeras. "Kau akan menikahi Itachi Uchiha. Aku telah berjabat tangan, menyetujui dengan Madara. Kau akan jadi istri yang baik untuk Itachi, dan ketika kau bertemu dia di perayaan pertunangan, kau harus bertingakah sepeti gadis yang penurut".

"Pesta pertunangan?" aku bergumam. Suaraku terasa jauh, seakan kabut meutupi telingaku.

"Tentu saja. Itu adalah cara yang baik untuk menguatkan ikatan antara keluarga kita dan itu akan memberi Itachi kesempatan untu melihat apa yang dia dapat dari kesepakatan ini. Kami tak ingin mengecewakan dia".

"Kapan?" aku membersihkan tenggorokanku tetapi gumpalan masih saja bercokol. "Kapan pesta pertunangannya?"

"Agustus. Kami belum menentukan tanggalnya".

Itu dua bulan lagi. Aku mengangguk dengan linglung. Aku suka membaca novel romantis dan kapapun pasangan didalamnya menikah, aku membayangkan akan seperti itu pernikahanku nantinya. Aku selalu membayangkan bahwa itu akan dipenuhi kegembiraan dan cinta. Impian kosong untuk seorang gadis bodoh.

"Jadi aku tetap diijinkan untuk tetap bersekolah?" tapi apa gunanya juga kelulusan? Aku tak akan pernah kuliah, tak akan pernah berkerja. Semua yang harus kulakukan hanyalah menghangatkan ranjang suamiku. Tenggorokan amat sesak dan airmata menggenang di pelupuk mataku, tapi aku tak akan mengijinkannya jatuh. Ayah membenci itu ketika kami kehilangan kendali.

"Ya. Aku memberitahu Madara bahwa kau bersekolah di sekolah khusus wanita, yang mana itu membuat dia senang", tentu saja, dia senang. Tak akan ada kesempatan aku akan berdekatan dengan cowok.

"Apakah sudah semua?"

"Untuk saat ini"

Aku berjalan keluar dari kantor seperti kesurupan. Aku berumur lima belas tahun dua bulan yang lalu. Ulang tahun terasa seakan langkah yang besar menuju masa depanku, dan aku telah begitu gembira. Bodohnya aku. Hidupku telah berakhir bahkan sebelum dimulai. Segalannya telah ditentukan untukku.

-000-

Aku tak bisa berhenti menangis, Ino membelai rambutku saat aku merebahkan kepalaku di pangkuannya. Dia berusia tiga belas tahun, hanya delapan belas bulan lebih muda dariku, tapi hari ini delapan belas bulan itu berarti perbedaan antara kebebasan dan kehidupan dalam penjara tanpa cinta. Aku berusaha sangat keras untuk tidak mengecamnya karena itu. Itu bukanlah kesalah dia.

"Kau bisa mencoba untuk berbicara dengan ayah lagi. Mungkin dia akan berubah pikiran", Ino berbicara dengan suara yang lembut.

"Dia tidak akan"

"Mungkin Mama bisa meyakinkan dia "

Sekan ayahku mau saja membiarkan wanita mengambil keputusan untuk dia. "Tak ada yang bisa dikatakan atau dilakukan yang akan membuat perubahan" aku berkata dengan menyedihkan. Aku belum melihat ibuku sejak dia mengirimku untuk ke kantor ayahku. Kemungkinan dia tak bisa menghadapiku,

"Tapi Sakura-"

Aku mengangkat kepalaku dan memnghapus airmata dari wajahku. Ino menatapku dengan mata birunya yang memelas, mata warna biru laut yang berkabut sama dengan emerland milikku. Tapi jikalau rambutku berwaran merah muda pucat warna rambut ino adalah pirang pucat. Ayah terkadang memanggil dia penyihir, dan itu bukanlah pujian. "Dia telah berjabat tangan dengan ayah Itachi"

"Mereka Bertemu?"

Itulah yang aku pertanyakan. Kapan dia menemukan waktu untuk bertemu dengan ketua Akatsuki tapi tidak memberitahuku akan rencana dia untuk menjual ku seperti pelacur terbaik? Aku menggeleng dengan frustasi dan malahan mencoba untuk mencabiknya keluar dari tubuhku.

"Itulah yang ayah katakan padaku".

"Seharusnya ada yang bisa kita lakukan".

"Tak ada"

"Tapi kau belum pernah bertemu dengan pria ini. Kau bahkan tak tau tampangnya! Dia bisa saja jelek, gendut, dan tua".

Jelek , gendut, dan tua. Kuharap itu hanyalah yang perlu ku khawatirkan tentang Itachi. "Ayo kita Seaching dia. Kemungkinan ada beberapa foto dia di internet".

Ino melompat bangkit dan mengambil laptopku dari meja, kemudian dia duduk di sampingku, kami saling menempel bersisian.

Kami menemukan beberapa foto dan artikel tentang Itachi. Dia memiliki mata hitam yang paling dingin yang pernah aku lihat. Aku bisa membayangkan dengan sangat baik bagaimana mata itu menatap dingin ke arah korbannya sebelum dia menyarangkan peluru ke kepala mereka.

"Dia lebih tinggi dari semua orang". Ino berkata dengan kekaguman. Ya Dia, dalam semua foto dia lebih tinggi beberapa inchi dari siapapun yang berdiri disampingnya, dan dia berotot.

"Dia selalu bersama dengan gadis yang baru di tiap foto".

Aku menatap kebawah dengan wajah tanpa emosi ke suami masa depanku. Artikel itu menyebutnya sebagai bujangan paling diincar di Akatsuki, pewaris ratusan juta dollar. 'Pewaris imperium kematian dan darah', harusnya dituliskan seperti itu.

Ino gusar. "Oh Tuhan, para gadis melemparkan diri mereka sendiri ke dia. Kurasa dia tampan".

"Mereka bisa memiliki dia" aku berkata dengan pahit. Di dunia kami penampakan luar yang tampan menyembunyikan monster didalamnya. Gadis sosialita melihat dia sebagai pria yang tampan dan kaya. Mereka berpikir bahwa aura badboy adalah sebuah game. Mereka menjilat kharisma predator karena itu memancarkan kekuatan. Tapi yang tidak mereka ketahui ada darah dan kematian yang mengintai dibalik senyum arogan.

Aku berdiri dengan tiba-tiba. "Aku butuh berbicara dengan Kakashi".

Kakashi sudah berusia hampir empat puluh tahun dan merupakan prajurit loyal ayahku. Dia juga adalah pengawal Ino dan juga aku. Dia tau segalanya akan semua orang. Ibuku menjulikinya paparazzi. Tapi jika ada seseorang yang tau lebih banyak akan Itachi, Kakashi lah orangnya.

-000-

"Dia menjadi anggota Mafia pada usia sebelas tahun", kata Kakashi, sambil mengasah pisaunya di grinda yang dia lakukan tiap hari. Bau tomat dan miso memenuhi dapur , tapi itu tak memberiku rasa nyaman seperti biasanya.

"Sebelas taun?" aku bertanya, tetap menjaga suaraku. Kebanyakan orang tak akan sepenuhnya di inisiasi ke mafia sampai berumur enam belas tahun. "Karena ayahnya?"

Ino melongo. "Dia Monster".

Kakashi mengangkat bahu. "Dia menjadi apa yang memang seharusnya. Menjalankan Akatsuki, kau tak bisa seperti banci". Dia memberi senyum meminta maaf. " seorang pengecut"

"Apa yang telah terjadi ?" aku tak yakin aku ingin tau. Jika Itachi telah membunuh manusia pertamanya saat berumur sebelas tahun, lalu berapa banyak lagi yang talah dia bunuh selama sembilan tahun sejak itu?

Kakashi menggelengkan kepala berambut peraknya, dan luka gores memanjang dari kelopak mata sampai ke pipinya. Dia kurus, dan tak terlihat meyakinkan, tapi ibuku berkata bahwa dia lebih cepat dari beberapa yang lain dalam hal pisau. Aku tak pernah melihat dia bertarung. "Tak tau. Aku tidak akrab dengan Akatsuki".

Aku melihat juru masak kami saat dia mempersiapkan makan malam , mencoba fokus ke sesuatu yang tidak membuat perutku mulas dan ketakutanku yang mencekam. Kakashi mengamati wajahku. "Dia adalah tangkapan yang bagus. Dia adalah pria paling berkuasa di beberapa desa lindungan segera mungkin. Dia akan melindungimu"

"Lalu siapa yang akan melindungiku dari dia ?"

Kakashi tak mengatakan apapun karena jawabanya sudah jelas. "Tak ada seorangpun yang akan melindungiku dari Itachi setelah pesta pernikahan kami. Tidak Kakashi, dan bukan juga ayahku jika dia merasa begitu terikat". Wanita dalam dunia kami adalah milik suaminya. Mereka adalah properti untuk kesepakatan apapun yang dia sukai.

Bersambung…

Note: Yuuki kurang tau nama-nama organisasi gelap seperti Akatsuki di Naruto, jadi Yuuki gantikan dengan nama desa-desa yang ada. Ffn ini berated T apakah sebaiknya harus dinaikan ke rated M untuk berjaga-jaga? Please Answare :)