Chapter 2
"Selamat datang tuan dan nyonya Akasuna," ucap salah salah satu kepala pelayan seraya membungkuk hormat, "Silahkan masuk."
Sakura memandang diam saat melihat puluhan pelayan membungkuk dengan barisan yang rapi. Tsunade tersenyum. Ia mengangguk saat kepala pelayan tersebut memberi isyarat untuk mengikutinya. Dengan malas Sakura berjalan mengekori Tsunade dan Akashi di depan bersama salah seorang pelayan yang membimbingnya.
Saat tiba di ruang tengah, seorang pria paruh baya bersurai perak berjalan menghampiri mereka. Pria itu mengangkat sebelah tangan dan pelayan itu 'pun membungkuk lalu pergi. Pria itu melirik sekilas kearah Sakura yang tengah memasang wajah bosan.
"Apa kabar Tsunade?" tanya pria itu, tersenyum tipis.
"Ah Tobirama ji-sama." seru Tsunade senang dan memeluk Tobirama singkat, "Aku baik-baik saja. Oh, ya perkenalkan ini suamiku, Akashi dan putriku, Sakura."
Akashi membungkuk sopan, "Konnichiwa ji-sama."
"Konnichiwa." jawab Tobirama tersenyum tipis, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Sakura.
Sakura menoleh, "Konnichiwa." ucap Sakura, tersenyum paksa. Tatapan tajam Tobirama membuat Sakura gugup. Sakura merasa seperti penjahat yang ketahuan oleh polisi, dan manik ruby itu seolah menelanjanginya.
Tobirama mengangguk singkat, "Kalian sudah ditunggu nii-sama di kamar. Sebaiknya jangan membuatnya lama menunggu," Tobirama berbalik, kemudian melangkah menuju tangga spiral diikuti Tsunade dan Akashi.
Merasa diabaikan, Sakura mendengus pelan. Sepertinya mansion ini tidak cocok untuk kelangsungan masa mudanya. Diam-diam Sakura menyeringai samar.
.
.
Setelah menaiki tangga dan menyusuri lorong, akhirnya mereka tiba dipintu yang dijaga ketat oleh dua bodyguard berbadan besar, berdiri tegap di sisi kanan dan kiri pintu. Saat Tobirama mengangkat sebelah tangan–lagi– bodyguard itu 'pun membungkuk horrmat dan bergeser, seolah memberi jalan pada Tobirama. Tanpa perlu mengetuk, Tobirama memutar knop pintu dan mendorongnya pelan.
Pintu 'pun terbuka, memperlihatkan ruangan luas yang bergaya victorian dengan dinding berwarna coklat cream. Mereka segera masuk dengan Tobirama yang memimpin di depan.
Sakura bisa melihat seorang pria paruh baya yang terbaring lemah dikasur kingsize berselambu. Surai hitam panjang yang tergerai di atas bantal. Dan Sakura yakin, itu pasti kakek jutawannya–oke, lupakan.
Tsunade mempercepat langkahnya menuju Hashirama. "Tou-sama!" seru Tsunade, duduk di samping ranjang dan menatap lembut Hashirama.
Dengan perlahan mata itu 'pun terbuka, menampilkan iris onyx yang sayu. Hashirama duduk bersandar dibantu Tsunade.
Hashirama menatap satu persatu orang yang berada di kamarnya, dan pandangannya tertuju pada Sakura yang sedang bediri dengan tangan terlipat didepan dada dan tubuh mungilnya merapat di dinding samping ranjangnya.
"Sakuraa..gulaliku, kau sudah besar rupanya! uhuk uhuk!" ucap Hashirama terbatuk.
Mendengar namanya terpanggil, Sakura menoleh. "Ha'i ojii-sama."
"Hati-hati tou-sama, kau belum pulih," tukas Tsunade lembut. Tangannya bergerak mengenggam sebelah tangan Hashirama.
Hashirama menggeleng dan tersenyum. "Kau memang tidak berubah Tsunade," Ia mengalihkan pandangan menatap Akashi, "Ah kau pasti Akashi."
"Ogenki desu ka tou-sama." ucap Akashi tersenyum setelah membungkuk sopan.
Hashirama mengangguk. "Okage desu, sekarang jauh lebih baik," Ia kembali menatap Sakura "Apalagi disini ada cucuku."
Sakura tersenyum kikuk. Ia merasa adanya firasat buruk.
"Ne Sakura-chan, apa kau sudah tahu kalau kau akan dijodohkan." Well sepertinya firasatmu benar Sakura.
Tsunade menyikut perut Sakura. "Ah! Ya, Aku sudah diberitahu soal itu ojii-sama." sahut Sakura meringis kesakitan. Manik emerald-nya melotot kearah Tsunade.
"Jadi bagaimana pendapatmu?"
Sakura terdiam. Memikirkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Disisi lain Hashirama harap-harap cemas, Tsunade mengigit bibir dan mengenggam telapak tangan Akashi kuat. Sementara Tobirama berdiam diri menatap Sakura.
Sakura menghela nafas. "Kalau aku menolaknya? Bagaimana?"
"Uhuk uhuk uhuk!"
"Tou-sama, tenanglah!" seru Tsunade yang sedang menepuk pelan punggung Hashirama.
"Tidak Tsunade, mungkin umurku sudah tidak lama lagi! Oh jantungku uhuk uhuk!" ucap Hashirama seraya memegang erat dadanya.
Tsunade panik. "Akashi, cepat lakukan sesuatu!" teriak Tsunade menatap Akashi tajam, kemudian menoleh kembali, "Tou-sama, jangan bicara seperti itu hiks!"
"Tsunade, mungkin ini permintaan terakhirku–"
"Tidak–"
"–Aku ingin Sakura menikah dengan calon yang sudah aku jodohkan denganya! Uhuk uhuk!"
Sakura memutar bola matanya bosan melihat adegan dorama dihadapannya. Sepertinya kakeknya bisa manjadi aktor terbaik se-Asia. Lagipula ia juga sudah tahu akan terjadi seperti ini.
Tsunade menangis terisak, mengenggam tangan Hashirama. Mendengar ucapan terakhir Hashirama, Tsunade berbalik menatap tajam Sakura yang masih dengan wajah aba-aba, Tsunade menyeret Sakura menjauh dari Hashirama yang tengah meracau tak jelas. Dan Sakura terpaksa mengikuti Tsunade.
"Kau dengar apa yang kakek bicarakan kan?" tunjuk mengacung diwajah Sakura, "cepat kau bicara pada kakekmu bahwa kau menerima perjodohan itu Saki!" geram Tsunade tersulut melihat wajah Sakura tidak ada perubahan –bosan.
"Tidak!" tegas Sakura menantang.
"Hmm? Apa kau pikir ibu tidak punya senjata?" Tsunade menyeringai.
Sakura mendesah. "Memang apa lagi?"
"Bagaimana jika tidak ada uang saku–"
"Tak masalah!"
"Selama tiga bulan–"
"Tid–Apa?" Sakura melotot mendengar ucapan Tsunade, "Mom itu tida–!"
"Dan kau akan dikurung, tidak boleh keluar sama sekali." ujar Tsunade menekankan beberapa kata. Dan seringai Tsunade semakin melebar melihat Sakura menjadi gelisah.
Disisi lain, Hashirama tersenyum penuh arti mendengar pembicaraan –perdebatan– Tsunade dan Sakura walau diselingi suara terbatuk.
"UHUK UHUK!"
Sengaja suara batuk dikeraskan agar Sakura cepat memutuskan. Tobirama hanya bisa mendesah mellihat kelakuan kakaknya –Hashirama. Dan Akashi tersenyum kecil seraya berpura-pura membantu.
Sakura mendecih merasa terpojokan. Apalagi mendengar suara batuk kakeknya lebih keras dari yang sebelumnya. Apabila ia menerimanya tanpa tahu bagaimana rupa 'calonnya' itu. Bisa saja kan 'calonnya' itu berwajah jelek, bertubuh pendek dan gemuk, atau yang paling parah sudah tua! Ukh! memikirkannya saja sudah membuatnya sakit kepala. Oh lebih baik cabut nyawanya sekarang!
"Tak ada ATM, mobil, handphone–"
Sakura tersentak, kemudian mendeathglare Tsunade. "Kenapa tak sekalian kau bunuh aku saja, Mom!"
"Well, jadi apa keputusanmu?"
Membuang wajah ke samping dengan tangan bersidekap. "Baiklah." desah Sakura tak ikhlas.
Dan Tsunade tersenyum puas seraya menepuk pelan pucuk kepala Sakura. "Itu keputusan yang tepat." Kemudian berbalik menghampiri Hashirama.
'Shannaro! Mayday mayday, gencatan senjata! Ayo sekarang waktunya melakukan misi kita.' pekik inner Sakura histeris.
Tiba-tiba sebuah seringai terlukis dibibir kissable milik Sakura. Ia melangkah pelan mendekati Hashirama.
Tap
Tap
Tap
Semua orang menoleh, memandang Sakura dengan binggung.
Tap
Berhenti.
Sakura terdiam menatap Hashirama lekat masih dengan seringainya. Tsunade melihat seringai Sakura merasa akan ada hal buruk. Akashi dan Tobirama terdiam memandang Sakura.
"Aku setuju. Tapi ada syarat–"
"Apapun itu gulaliku." potong Hashirama cepat. Hashirama merasa senang mendengar ucapan cucunya. Akhirnya janjinya dengan Madara–sahabat sekaligus rivalnya dalam bisnis– akan terpenuhi. Mengingat dirinya dan Madara pernah membuat perjodohan sebagai tali persaudaraan. Tapi ia dan Madara sama-sama punya anak perempuan, Tsunade dan Mikoto. Hingga dua cucu Madara terlahir yang sama-sama bergender laki-laki dan cucunya bergender perempuan, yaitu Sakura. Apapun syarat yang diajukan Sakura, ia pasti akan memenuhinya.
"Pertama, aku ingin fasillitas apartemen pribadi, mobil, dan uang cash setiap bulannya." Well, apa salahnya jika tidak memanfaatkan kekayaan kakeknya yang tak akan pernah habis pikir Sakura.
"Apapun untuk cucuku."
Seringai Sakura semakin lebar, saat tak mendengar adanya penolakan dari kakeknya. "Kedua, jangan ada siapapun yang menganggu setiap urusanku," ujar Sakura innocent.
"Saku–"
"Tidak masalah."
Tsunade melotot kearah Hashirama yang memotong ucapannya. Bisa gawat jika Sakura dibiarkan begitu saja.
"Tou-sama" lirih Tsunade dengan nada tercekat. Akashi menepuk pelan bahu Tsunade, lalu menggeleng saat Tsunade menoleh.
Sedangkan Hashirama tersenyum dengan mata menyipit. Tak ada yang berlebihan menurutnya. Ya jika Hashirama tahu apa yang ada dalam kepala pink milik Sakura, maka ia pasti menolaknya. Tapi Hashirama terlalu senang hingga tidak tahu maksud yang tersembunyi.
"Hn, baiklah kurasa itu dulu yang aku sampaikan." ucap Sakura tersenyum puas.
Hashirama mengangguk. "Tapi kakek juga punya permintaan."
Sakura hanya mengangkat sebelah alis binggung.
.
.
.
oo00oo
.
.
.
Pagi hari yang cerah. Para orang dewasa bekerja di kantor, ataupun membuka toko untuk berjualan. Dan anak-anak dan para remaja akan berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.
Ah, seperti yang dilakukan oleh gadis bersurai softpink ini. Berdiri mengamati gedung sekolahnya dalam helaan napas setiap menit terdengar. Dan sebentar lagi bel akan berbunyi.
"It's show time." gumam Sakura menyeringai, melirik sebuah papan nama sekolahnya.
KONOHA HIGH INTERNATIONAL SCHOOL ART
Kaki jenjangnya melangkah melewati koridor. Beberapa pasang mata ada yang memandangnya heran, sinis bahkan jijik. Tak segan-segan ada siswi yang sengaja menabrak bahunya dengan keras. Sakura hanya diam dan tersenyum, tapi berbeda dengan innernya yang sejak tadi mengumpat ke arah siswi itu.
Shannaroo! Awas kau pirang!
.
.
Kakinya terasa sedikit sakit saat menapaki satu persatu anak tangga, itu karena sekolah barunya belum mempunyai lift. Ck ternyata sekolah elit dan terkenal di Konoha yang bahkan tempat dimana semua anak pengusaha kaya bersekolah disini tak jauh beda dengan sekumpulan remaja yang mengutamakan kekayaan dan kepopuleran dalam hal penampilan.
Oh jika dibandingkan dengan sekolah lamanya di London lebih baik dari ini, walaupun fasilitas di sini lumayan bagus dan lengkap. Tapi paling tidak, di sekolah lamanya ada beberapa murid yang menyapanya atau sekedar tersenyum saat berpapasan disana. Dan tentunya, di sana terdapat lift!. Jika bukan karena permintaan kakeknya, ia tak akan mau bersekolah di sini.
"Kakek ingin kau melanjutkan pendidikanmu di sekolah ternama yang sudah kakek rekomendasikan."
Sakura menghela napas bosan mengingat ucapan kakeknya tadi malam. Di sini tak ada yang menarik pikirnya.
Kringg kringg
Suara bel terdengar hingga penjuru sekolah. Derap langkah kaki Sakura kian menggema di lorong yang sepi. Sepertinya semua murid sudah memasuki kelasnya masing-masing.
Sakura segera berlari dengan cepat agar tidak terlambat sampai ruangan kepala sekolahnya. Toh lorong ini sepi, jadi tidak akan ada yang memarahinya.
Tap tap tap.
Emerald yang tertutupi kacamata tebal itu bisa melihat diujung lorong terdapat sebuah belokan. Bukannya semakin melambat, tapi langkahnya semakin dipercepat. Hingga saat sampai dibelokan itu–
"KYAA..."
BRUKK!
–terjatuh dengan tidak elitnya.
Sakura meringgis kesakitan, dan mengusap kasar pantatnya yang mencium lantai.
Sial.
Siapa yang sengaja menaruh tembok di depannya.
"Apa kau tidak punya mata nona."
Sakura tersentak. Apakah tembok itu bisa bicara? Tentu saja tidak, mana ada tembok berbicara. Sakura menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran konyolnya.
Tunggu! Jika bukan tembok, maka yang ditabraknya itu adalah manusia dan sepertinya dia seorang pemuda, mendengar suaranya yang berat.
"Apa kau tuli?"
Ctak!
Perempatan siku muncul dijidat Sakura. Apa dia bilang? Tuli? What the hell!.
"Apa kau bi–" ucapan Sakura terpotong ketika mendongkak melihat wajah tampan seorang pemuda seusianya dan yang menabraknya, "–lang."
Sakura terkesiap. Dengan perlahan wajahnya memanas. Apakah ada malaikat yang dikirim untuknya –oh itu berlebihan. Tapi mengingat ucapan pemuda brengsek itu padanya –walau ia akui sangat tampan–, maka pemuda itu pantasnya menjadi malaikat pencabut nyawa!.
"Kau harus bertanggung jawab!" Iris onyx itu menatap tajam gadis yang tengah terduduk di bawahnya.
Sakura mengeram menahan amarah. Seharusnya ia yang berbicara seperti itu. Dengan perlahan ia berdiri menghadap pemuda itu.
Sakura membenarkan letak kacamata tebalnya. "Aku tidak menghamilimu." jawabnya acuh.
Pemuda itu mendelik, namun detik berikutnya wajahnya berubah datar. "Apa kau tidak melihat kemeja ku basah, jidat lebar?" ucap pemuda itu dingin.
Ctak!
Sakura berusaha menahan emosinya mati-matian. Pemuda dihadapannya memang tampan, tidak– maksudnya sangat tampan. Tapi pemuda itu juga brengsek! Hell. Kemudian ia tersenyum manis, sangat manis hingga menunjukan rupa aneh pada senyumannya.
Pemuda itu mengangkat sebelah alis. Apa gadis itu gila? Mungkin saja saat menabraknya, kepalanya terbentur lantai. Mendengus geli dengan pemikirannya.
"Maaf tuan pantat–ayam–brengsek, aku tidak sengaja, oke? Sekarang menyingkirlah!"
"Apa kau–"
"Sasuke, rupanya kau di sini. Pelajaran akan segera dimulai."
Sakura berbalik kearah suara teman pemuda brengsek ini. Oh jadi nama pemuda dihadapannya itu Sasuke, hmm tidak cocok untuk sikapnya yang arogan dan sok cool. Tapi tunggu! Ia harus memanfaatkan keadaan ini untuk kabur. Dan detik berikutnya Sakura berlari kencang tak memperdulikan kaki dan pantatnya yang terasa sakit.
.
"Tch kuso!" decih Sasuke mengumpat kepergian gadis aneh pembawa sial baginya.
"Siapa gadis itu, Sasuke? Apakah kekasihmu?" tanya pria yang sejak tadi memandang heran dengan tingkah laku kawannya.
Sasuke segera mendeatglare pemuda yang ada di sampingnya. Apa dia bilang? Kekasih? che, gadis seperti itu bukan selera Uchiha sama sekali. Melihat penampilan gadis itu yang terlihat norak, bisa membuatnya iritasi mata, "Tutup mulutmu Neji."
Neji menghendikan bahu acuh. "Well, lebih baik kita ke kelas."
"Hn."
.
Sasuke tengah berjalan berdampingan dengan temannya– Hyuuga Neji menuju kelas. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan, karena memang mereka berdua sangat suka dengan keheningan. Biasanya ada Naruto dengan mulut yang tak pernah berhenti berceloteh itu akan meramaikan suasana seperti ini. Walaupun ocehannya tidak penting. Tapi, Sasuke sudah dua hari ini tak melihat Naruto di sekolahan maupun di rumah. Kemana makhluk kuning itu, batinnya monoton.
"Kau tahu Baka-Dobe dimana?"
Neji mengangkat sebelah alis. "Kupikir kau sudah tahu."
Sasuke hanya menghendikan bahu acuh seolah, 'aku–tidak–tahu'.
Menghela napas, kemudian Neji berkata, "Si bodoh itu sedang menjemput Hinata langsung di New York."
Sasuke menghentikan langkahnya.
Hinata ya?
Senyum miris terpatri diwajah Sasuke.
.
.
Pintu ruangan kelas XIII-A terbuka. Menampilkan sosok pria jangkung dengan sebuah masker menutupi hidung dan bibirnya. Pria bersurai perak yang melawan grafitasi tersebut adalah seorang guru sekaligus wali kelas XII-A bernama Hatake Kakashi.
"Yo anak-anak, ohayou." sapa Kakashi tersenyum dengan mata menyipit.
"Ohayou Sensei." balas seisi kelas serempak.
"Tumben hari ini hanya terlambat 20 menit Sensei." sindir salah satu murid yang mempunyai tato segitiga dipipinya, dan didukung murid lainnya yang mengangguk setuju.
Kakashi tersenyum, tidak menanggapi ocehan muridnya. "Hari ini kita kedatangan murid baru, pindahan dari London, sila–"
"Apa dia tampan sensei?"
"Kuharap dia cantik."
"Semoga dia pria berwajah–KYA.."
"Yeah, seperti Sasu-kun."
Kakashi menggelengkan kepala mendengar ocehan tiada henti tentang murid baru tersebut. "Tenanglah anak-anak, baiklah, silahkan masuk Haruno-san."
Dan seketika ruangan kelas yang tadinya ribut, kini terdiam membisu dengan mulut menganga dan mata yang melotot melihat penampilan seorang siswi yang berdiri di samping Kakashi.
"Hajimemashite watashi wa Haruno Sakura, yoroshiku." ucap Sakura membungkuk.
Semua murid mengangguk malas kemudian menjalani aktifitas masing-masing, dan tidak perduli akan kehadiran Sakura. Sakura mengulum senyum, dan acuh akan tanggapan dirinya.
"Baiklah Haruno-san kau bisa langsung duduk di–" Kakashi mengedarkan pandangan "–di depan Uchiha Sasuke, dan Sasuke angkat tanganmu."
DEG.
Uchiha Sasuke.
Sasuke?
Nama pemuda brengsek yang menabraknya?
Oh tidak!
Kami-sama, cabut nyawaku sekarang!
"Arigatou Sensei." ucap Sakura kikuk seraya membenarkan letak kacamata bulatnya. Dan dibalas anggukan Kakashi.
Sakura melangkah pelan menuju bangkunya. Ia bahkan bisa melihat sebuah seringai yang terpatri diwajah Sasuke. Setelah mendudukan pantatnya, ia bisa merasakan tatapan tajam menusuk punggungnya.
"Baiklah, sekarang buka halaman 115."
.
.
.
Kini Sakura tengah berada di taman belakang sekolahnya. Setelah bel berbunyi, ia langsung berlari dan bersembunyi dari terkaman maut pemuda brengsek itu. Ia sedang duduk bersandar di bawah pohon maple besar dengan sekotak bento ditangannya. Menikmati sebuah onigiri buatan ibunya–Tsunade dalam keheningan. Tapi itu tidak berlangsung lama saat–
"FOREHEAD!"
–Teriakan dari sahabat blondenya yang memanggil namanya.
Oh tidak. Selamat tinggal ketenangan.
Yamanaka Ino, berlari menghampiri Sakura dengan senyum sumringah. Awalnya Ino memang sudah tahu jika akan ada murid baru di sekolahnya. Tapi saat mendengar ucapan para siswa-siswi bahwa murid itu berambut pink, ia sempat berpikir itu Sakura, tapi tidak mungkin. Dan saat salah satu siswa menyebut nama Sakura, ia segera berlari mencari Sakura dan bertanya pada murid yang melintas.
Akhirnya ia menemukannya tengah bersantai dengan wajah innocent menatapnya.
"Ada ap–"
"Forehead! Kau jahat sekali tidak memberiku kabar kalau kau sudah pulang. Apa kau sudah tidak lagi menganggapku sebagai temanmu? Dan hei ada apa dengan penampilanmu? Ini seperti bukan dirimu, atau selera fashionmu sudah menurun? Kalau begitu ayo setelah pulang sekolah aku temani kau belanja kebutuhanmu dan blablabla–" cerocos Ino tiada henti.
Sakura hanya bisa memutar kedua bola mata bosan, mendengar ocehan sahabatnya yang tidak pernah berubah. Tapi itu yang membuat Sakura merasa punya saudara perempuan yang perhatian akan dirinya.
"Ino-pig, cukup. Oke?" Mendengar ucapan Sakura, Ino langsung memeluk Sakura.
"K-kau hiks."
"Ssst tenanglah, aku hanya ingin memberimu kejutan, dan aku merindukanmu Pig." ucap Sakura membalas pelukan Ino yang terisak bahagia.
"Aku juga merindukanmu Forehead!" Ino melepaskan pelukannya seraya menghapus air matanya "Baiklah, sekarang ceritakan padaku."
Sakura mengernyit. "Apa maksudmu Pig?"
Ino memutar mata bosan. "Lihatlah penampilanmu baka, apa kepalamu terbentur sesuatu?"
"Ceritanya panjang Pig." desah Sakura menunduk menatap kotak bento-nya yang belum habis.
Ino menatap Sakura intens. "Aku punya waktu luang sepulang sekolah."
Sakura mendongkak malas. "Baiklah, dimana?" Ia hafal betul sikap Ino padanya. Walaupun ia dan Ino tidak bertemu selama tujuh tahun, namun tetap saja ia tidak akan pernah bisa lari dari wawancaranya dengan Ino.
"Kau ingat cafe yang dulu saat kita bertiga masih kecil dan menghabiskan waktu bersama memakan es krim?" tanya Ino.
Sakura berfikir, "Ah, aku ingat. Baiklah, di sana sepulang sekolah oke?"
Ino mengangguk antusias. "Setuju."
Kringg kringg.
Sakura menutup kotak bekalnya dan berdiri. "Sudah bel, ayo kita masuk kelas."
Ino yang sedang menyeruput sekotak jus tesedak melihat Sakura sudah berjalan mejauh. "Uhuk! Forehead, chotto matte yo."
Ino membuang asal kotak jus yang habis setengahnya, dan berlari menghampiri Sakura.
"Ittai." ringis Sakura mengusap kepalanya yang dijitak Ino. "Hei awas kau Pig!"
Ino berbalik dan berjalan mundur. "Coba saja Fore–head, wekk." ledek Ino menjulurkan lidah.
Sakura yang tidak terima berlari mengejar Ino. "Jangan lari kau baka-pig!"
Dan terjadilah aksi kejar-mengejar antara Ino dan Sakura. Tidak memperdulikan segala umpatan setiap murid yang ditabraknya. Sakura terus berlari mengejar Ino yang jauh di depannya, hingga dibelokan ia–
BRUK!
–menabrak lagi(?)
"Kau!"
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
01/07/2015
