I'm losing myself
I can't even remember my name without you
I pretend to be fine
But I'm endlessly in pain
I'm trapped
Trapped
Pairing : KyuWook
Rate : T
Disclaimer : Saya hanya meminjam nama tokoh. Hanya cerita ini yang dapat saya akui sebagai milik saya.
Genre : Drama / Romance
Warning : AU, OOC, Shounen-ai, Typo (s), bahasa menyimpang dari EYD, dan lain lain
"Jadi, masalah kontrak—"
"Anda benar-benar anak muda yang mengangumkan, Tuan Cho. Pastinya banyak yeoja mengantri untuk menjadi istrimu."
"…ah. Saya tidak sehebat itu, Tuan Song."
"Hmm, anda adalah calon suami yang paling tepat untuk putri saya. Dia cantik, lho? Victoria namanya—ah, putriku. Begitu lembut, baik, ramah—benar-benar sempurna. Yeoja sempurna sepertinya sangat cocok dengan namja seperti anda. Bagaimana kalau kalian mencoba bertemu dalam sebuah kencan? Bisa saya atur dengan mudah."
"Ah, mianhae Tuan Song, tapi saat ini saya masih mau fokus dengan pekerjaan. Tentunya anda tidak ingin putri anda menikah dengan seseorang yang lebih mementingkan pekerjaan?"
Tuan Song tetap bersikeras memaksa Kyuhyun agar setuju bertemu dengan putrinya. Sesungguhnya, sabar bukanlah karakteristik yang dimiliki Cho Kyuhyun. Di bawah meja, tangannya sudah mengepal kesal dan sesekali matanya menyipit—hanya beberapa detik, tak seorangpun sadar kecuali Ryeowook. Namun demi kontrak, Kyuhyun tetap bersabar. Ia terus menolak penawaran Tuan Song sesopan mungkin, bahkan mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka. Beruntunglah dia karena Tuan Song mau merespon topik apapun selain masalah pekerjaan.
Makan malam mereka telah usai. Kyuhyun menjabat tangan rekan bisnisnya dengan senyum sopan. Dalam hatinya, ia bersorak dan menggerutu di saat bersamaan. Menggerutu karena namja tua berusia lima puluhan di hadapannya itu keras kepala dan tidak segera menandatangani kontrak kerja sama mereka, namun bersorak gembira karena orang yang bersangkutan menerima ajakan makan malamnya di lain waktu. Pemimpin muda Cho company itu berharap makan malam mereka ke depannya adalah yang terakhir—ia lelah berurusan dengan orang tua yang terus-terusan berusaha menjodohkannya dengan anak gadisnya. Ayolah, Cho Kyuhyun hanya butuh tanda tangannya di surat kontrak untuk mempertahankan dan menguatkan posisi perusahaannya. Jika memaksa orang tua itu tanda tangan termasuk dalam perlakuan legal, percayalah Kyuhyun akan segera melakukannya.
"Terima kasih atas waktu anda malam ini, Tuan Song."
"Mhhm, saya yang harus berterima kasih atas undangannya, Tuan Cho. Tolong pikir ulang penawaran saya."
Kyuhyun hanya tersenyum sopan dan melihat Tuan Song didampingi sekretarisnya pergi. Ia memijat pelipisnya, lalu didampingi asisten dan sekretarisnya keluar dari restoran mewah tempat makan malam mereka. Ketiganya melangkah menuju parkiran, tepatnya menuju mobil Kyuhyun. Supir pribadi Kyuhyun telah menunggu mereka di luar mobil.
"Tuan Cho—"
"Panggil aku Kyuhyun, hyung. Makan malam ini yang terakhir di jadwal hari ini bukan?"
Donghae mengangguk dan melanjutkan, "Kyuhyun ah, terima kasih atas kerja kerasmu hari ini. Aku rasa kita berpisah di sini?"
"Hmm, bagaimana hyung pulang?"
"Aku sudah menghubungi temanku dan dia sedang dalam perjalanan."
Kyuhyun mengangguk dan masuk ke dalam mobilnya, disusul Ryeowook. Supir Kyuhyun dan Donghae saling mengangguk, sebelum sang supir masuk ke dalam mobil dan menjalankan mesin. Mobil tersebut berputar dan meninggalkan Donghae sendiri di tempat parkir restoran, menanti jemputannya.
"Apakah kita akan langsung pulang, atau anda mau mampir, tuan?"
"Hmm…langsung pulang."
"Kangin ssi, tolong turunkan aku di café biasa."
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya dan menatap Ryeowook heran. Yang ditatap hanya balas menatap, tak menjawab tatapan penuh pertanyaan Kyuhyun. Kyuhyun mendecakkan lidahnya dan memutar kepalanya ke arah jendela. Hari sudah malam, dan ia terlalu lelah untuk berdebat dengan Ryeowook agar memberitahu alasannya tidak langsung pulang. Perjalanan mereka dipenuhi suasana hening. Sesuatu yang biasa, karena mereka tak ada alasan untuk mengobrol. Mereka tidak butuh seseorang mengetahui hubungan mereka, sekalipun dia sebatas supir. Saat mobil berhenti di depan café, Ryeowook membuka mulutnya, "Aku ada janji dengan Sungmin hyung."
"Sungmin hyung? Hmm, aku terlalu lelah untuk menemuinya. Jam berapa kamu pulang?"
"Wae?"
"Pabboya, tentu akan aku jemput."
"Ah, tidak perlu. Kangin hyung, gomawo. Sampai nanti, Kyuhyun ah."
Ryeowook keluar dari mobil Kyuhyun tanpa memandang ke belakang. Kangin segera menjalankan mobil menuju apartemen Kyuhyun. Kyuhyun terus memandang sosok Ryeowook hingga ia tak bisa melihatnya lagi.
Saat Ryeowook membuka pintu café, semua perhatian tertuju ke arahnya—terutama perhatian dari namja. Meski dia namja, saat ia mengubah dirinya menjadi Ryeona, sulit untuk menolak pesona yang ia radiasikan. Perlu benteng iman yang kuat untuk tidak tertarik pada yeoja semenawan Ryeona. Dia bisa mencuri hatimu tanpa ada kontak langsung. Mesksi bukan hal baru, Ryeowook tetap saja merasa risih. Ia merasa ditelanjangi oleh tatapan liar para namja. Ia segera menghela napas lega saat melihat temannya duduk di sudut yang tidak menarik perhatian. Tanpa pikir panjang, ia berjalan cepat ke tempat temannya.
"Hei, menunggu lama?"
"Mhhm, mianhae nona, kursi itu sudah ada yang menempati. Kalau mau, pangkuanku ini kosong."
Ryeowook menyipitkan matanya kesal atas godaan temannya. Ia memukul pelan lengan namja itu, yang direspon dengan tawa renyah. Tak lama, seorang pelayan mendatangi mereka dan mencatat pesanan Ryeowook, karena temannya sudah memesan sesuatu. Sambil menunggu pesanan Ryeowook, keduanya berbincang-bincang.
"Aku kaget saat menerima pesanmu tadi. Dan yang lebih mengagetkan, kamu muncul sebagai Ryeona. Apakah riasan dan wig itu tidak membuatmu risih?"
"Ah, diamlah, hyung. Memangnya 'Ryeona' ini ide siapa, hmm?"
Sungmin menggeleng dan sedikit meminum air dinginnya. "Kamu tahu, saat ini kamu sedang menjadi Ryeona. Panggil aku oppa."
Ryeowook mendengus. "Oppa."
"Anak baik. Jadi, bagaimana keadaan hatimu?"
"Hahaha, pertanyaan bagus." ucap Ryeowook sarkastik. Seorang pelayan datang mengantar pesanan Ryeowook dan meletakkan makanannya di meja. Ryeowok meneguk sedikit cokelat panasnya. "Masih sama, kurasa. Aku belum benar-benar berpindah. Enam tahun masih belum cukup."
"Bagaimana dengan Kyuhyun ah? Sudah tiga bulan kamu tinggal dengannya—dan aku yakin kalian pasti sudah terlibat secara fisik. Aku rasa dia bukan pilihan buruk."
Ryeowook memotong cheesecake miliknya sedikit. Ia masukan potongan kecil itu ke dalam mulutnya, melumatnya dengan gigi-giginya. Satu tangannya ia gunakan untuk menahan dagunya, dan yang lainnya kini memegang garpu untuk bermain-main dengan cheesecake. Sungmin menghela napasnya dan mencuri sedikit cheesecake setengah hancur Ryeowook.
"Aku…tidak bisa. Ini sulit buatku. Aku, aku belum mampu untuk membuka hatiku lagi. Aku bahkan tidak yakin saat ini hatiku terbuka atau tertutup. Aku tidak mengerti hatiku sendiri. Aku harus mengaku, Kyuhyun ah memang baik dan mungkin—aku tidak mengerti—dia memang tulus padaku, benar-benar menyayangiku. Tapi, aku…"
"Kamu tahu Ryeowook ah, tidak baik terus terperangkap dan tidak mau bergerak. Itu mempersulit semua pihak—kamu tidak akan bisa keluar, dan kamu menyeret orang yang mencoba menolongmu. Kalau kamu tidak mau bergerak, Kyuhyun ah juga tidak akan bisa bergerak. Dia menganggapmu begitu berharga, dia tidak mungkin berani memaksamu bergerak. Kamu membuat kalian terperangkap."
"Aku…aku tidak memintanya mengikutiku. Kalau dia mau bergerak, itu haknya. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirnya. Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang bisa menyayangiku seperti ini. Jika ini dia, aku mengerti. Aku akui diriku yang dulu bisa membuat orang lain bahagia. Namun aku yang sekarang tidak lebih dari manusia yang berubah menjadi boneka karena setengah jiwanya hilang. Aku bahkan bukan boneka yang menarik, aku hanyalah boneka yang sudah rusak."
"Apakah Kyuhyun perlu membuat daftar alasannya mencintaimu agar kamu mau mencoba bergerak?"
"Perlu."
Sungmin menghela napas menyerah dengan kekeras kepalaan teman kecilnya. Dia tidak menyangka sebuah patah hati membuat temannya jadi begini. Dan sifat keras kepalanya tidak membantunya bergerak untuk menyelesaikan masalahnya. Sungmin menghabiskan air dinginnya dan menatap Ryeowook.
"Aku tidak tahu alasannya yang lain, tapi yang pasti dia tahu betapa menyedihkan dan rusaknya seorang Kim Ryeowook, sehingga dia ingin memperbaikimu."
"Agar bisa memainkanku hingga rusak dan memperbaikiku lagi? Lucu sekali."
Sungmin menggeleng menyerah dan memutuskan untuk diam. Dia tahu Ryeowook sudah masuk ke dalam mode penyangkalan. Dia tahu Ryeowook hanya takut untuk disakiti untuk kedua kalinya, dan takut kehilangan. Ryeowok takut kehilangan ingatan yang membuatnya tak bisa bergerak jika ada orang baru menginvasi hatinya. Ia takut kehilangan perasaan yang ia pendam untuk dia. Melihat Sungmin tak menanggapi ucapannya, Ryeowok memutuskan untuk menghabiskan makanannya. Setelah itu keduanya memutuskan untuk mengobrol ringan, hingga waktu café tutup. Mereka berpisah setelah Ryeowook menolak penawaran Sungmin untuk mengantarnya pulang.
Kyuhyun mengecek ponselnya entah untuk yang keberapa kalinya. Meski televisi di hadapannya menyala dengan volum maksimal, konsentrasinya terfokus pada ponsel di pangkuannya. Jam dinding dan jam ponselnya menunjukkan pukul sebelas malam, namun Ryeowook masih belum juga mengontaknya. Rasa lelahnya setelah bekerja seharian digantikan rasa khawatir pada asistennya. Bagaimanapun juga, Kim Ryeowook bukanlah sebatas asisten pribadi bagi Cho Kyuhyun. Dia adalah orang paling berharga baginya, orang yang ia cintai dengan tulus. Dia adalah cinta pertamanya, dan ia berharap akan menjadi cinta terakhir Ryeowook—meski sampai detik ini yang bersangkutan belum menunjukkan tanda-tanda tertarik padanya.
Kyuhyun tertawa pahit mengingat ucapan Ryeowook pagi tadi. Entah sudah berapa kali ia mendengar penolakan Ryeowook. Namun ia tetap keras kepala dan tidak mau menyerah, meski entah sudah berapa goresan terbentuk di hatinya karena penolakan Ryeowook. Meski saat ini ia baru bisa menguasai tubuhnya—yang sejujurnya ia hanya dapatkan setengah, karena terkadang Ryeowook masih suka tidur dengan sembarang namja, Kyuhyun masih terus mencoba. Bukan hanya karena perasaannya, namun juga karena ia sudah berjanji akan menyembuhkan Ryeowook.
Kyuhyun meneguk sedikit cairan dari kaleng birnya.
"Cepatlah pulang…"
Ryeowook berjalan tanpa arah. Sebentar lagi tengah malam, dan ia terlalu malas untuk mengontak Kyuhyun. Masih ia ingat wajah lelah Kyuhyun sebelum mereka berpisah tadi—sejujurnya ia tidak tega mengganggu istirahat bosnya. Meski ia mengaku tidak memiliki perasaan apapun pada Kyuhyun—karena hati Ryeowook penuh dengan dia—ia masih peduli dengan kesehatan Kyuhyun. Merasa lelah berjalan tanpa arah, Ryeowook memilih untuk duduk di bangku suatu taman yang tidak familiar baginya.
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahunya.
"Tidak baik seorang yeoja berkeliaran tengah malam begini."
Ryeowook berbalik dan menatap namja tersebut dengan curiga.
"Boleh aku tahu apa urusanmu denganku?"
"Dimana rumahmu? Biar kuantar pulang."
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Aku hanya tertarik mengajakmu pulang."
"Jawab pertanyaanku. Siapa. Yang. Menyuruhmu."
Namja itu meneguk ludahnya sedikit ketakutan dengan tatapan penuh intimidasi Ryeowook—yang terlihat sexy dan menakutkan di saat bersamaan.
"Bosku—"
"Nugu?"
"Itu—"
Ryeowook kembali memelototi namja itu. Namja malang itu menghela napas menyerah dan membuka mulutnya. Mendengar nama yang dilontarkan namja itu, jantung Ryeowook seakan berhenti berdetak. Tubuhnya terasa dingin, untuk bernapas normalpun ia merasa tak mampu. Namja itu menatap Ryeowook heran, karena sedetik setelah ia memberitahu siapa bosnya, orang di hadapannya langsung membeku. Bukan hanya membeku, bahkan wajahnya menjadi pucat. Seperti baru saja melihat setan.
"…jangan ganggu aku. Sampaikan pesanku padanya."
"Ayolah, jangan begitu. Bisa-bisa aku dipecat—"
"Katakan padanya aku mengusirmu, dan katakan bahwa aku melarangnya memecatmu hanya karena hal ini. Oh, dan jangan lupa katakan padanya untuk menepati janjinya."
Ryeowook segera berdiri dan berlari meninggalkan namja yang kebingungan itu. Seperti namja itu, Ryeowook juga merasa bingung. Pikirannya campur aduk, dan luka mongering yang ada di hatinya tampaknya terbuka lagi. Sakit, sakit sekali. Hanya mendengar namanya saja sudah menyiksanya sedemikian rupa. Apalagi bertemu dengannya—dan Sungmin berharap ia bisa menyelesaikan masalahnya semudah itu? Menyelesaikan masalah rumit ini berarti harus menemui dia, dan ia menyadari bahwa dirinya terlalu lemah. Ia tentunya tidak mampu. Ia terus berlari hingga menabrak punggung seseorang, membuatnya mendarat dengan mulus pada pantatnya.
"Hei, lihat-lihat—oh, apa yang dilakukan yeoja cantik tengah malam begini?"
Ryeowook mengangkat kepalanya. Ia berhadapan dengan seorang namja berotot dengan wajah mesum. Aroma tubuhnya dapat Ryeowook cium dari tempatnya berada—aroma yang membuatnya mual. Namun tampaknya ia membutuhkan 'hiburan' untuk malam ini. Malam ini rasanya terlalu banyak hal yang terjadi padanya. Mungkin lebih tepatnya hari ini, karena semuanya dimulai dari pagi ini dimana ia sekali lagi harus melontarkan penolakan pada Kyuhyun.
"Maukah kau menghiburku?"
Ryeowook berdiri, lalu melingkarkan tangannya dengan manja pada leher namja tersebut. Ryeowook dapat melihat nafsu dalam mata itu. Ia dapat merasakan lengan besar itu melingkar di pinggang rampingnya. Bibir namja itu menempel pada telinganya, membuatnya melenguh. Sejujurnya, ia merasa jijik. Namun ia harus bisa membuat lawan mainnya terangsang jika ia ingin terhibur. Dan menggoda, membuat lawannya terangsang, adalah keahlian Ryeowook. Ia mendekatkan wajahnya pada telinga namja tersebut dan berbisik, "Aku akan menunjukkan sesuatu yang menakjubkan dan berbeda padamu."
Ia menyeringai saat tangan namja tersebut bermain-main dengan dua gundukan kenyal di bagian belakang tubuhnya dan dapat ia rasakan ereksi yang dialami lawan mainnya.
Kyuhyun membuka matanya saat mendengar pintu apartemennya terbuka. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku karena tertidur di sofa. Ia terus menunggu Ryeowook pulang sampai pukul dua pagi, hingga tubuhnya menyerah dan ia tertidur di depan televisi yang masih menyala dengan volum suara yang sudah ia kecilkan sebelum tertidur. Ia melihat Ryeowook masih dengan penampilan Ryeona, namun dengan tambahan bercak merah di lehernya dan pakaian yang berantakan. Tak melupakan kenyataan bahwa ia berjalan pincang. Kenyataan yang berjalan di hadapannya membuat dadanya sakit, namun dengan lihai ia sembunyikan perasaannya. Ia bergerak mendekati Ryeowook dan membantunya berjalan ke kamar mereka.
"Kamu tidur di sofa? Jangan bilang kamu menungguku."
"Mmhmm. Tampaknya dia cukup kasar."
Kyuhyun memilih untuk tidak membalas ucapan Ryeowook. Matanya tertuju pada bekas merah pada pergelangan tangan Ryeowook dan luka pada sudut bibirnya. Ryeowook hanya mengangkat bahu dan melepas wignya. Lalu ia berbaring di kasur king size milik Kyuhyun. Tak berapa lama, matanya lalu terpejam dan ia berpindah ke dunia mimpi. Kyuhyun menatap wajah tertidur Ryeowook sambil tersenyum lembut. Ia selimuti tubuh kecil Ryeowook, dan ia kecup keningnya.
"Aku tahu aku bisa saja bergerak tanpamu, dan tidak akan merasakan sakit ini."
Kecupan Kyuhyun berpindah ke hidung Ryeowook.
"Aku tahu perasaanku ini bukanlah sesuatu yang kamu minta atau harapkan."
Kecupannya berlanjut pada kedua pipi Ryeowook.
"Tapi aku terlanjur terperangkap, dan aku tidak mau keluar tanpamu."
Jarinya ia tautkan dengan jari Ryeowook. Lalu ia mengecup bibir Ryeowook cukup lama, berharap Ryeowook dapat merasakan dalamnya perhatiannya. Berharap Ryeowook dapat mengerti perasaannya, menerima perasaannya, dan membalas perasaannya.
"Karena kamu adalah segalanya bagiku. Saranghaeyo, Kim Ryeowook."
To be continued
Nggak nyangka ada yang mau baca dan meninggalkan review di fanfiksi ini ;w;
Makasih banyak buat Kim Hyeni | hanazawa kay | Deushiikyungie | sugarplum137 | thiefhanie fha
Semoga chapter 2 ini membuat kalian puas /?
=Jujur aku sedikit kecewa saat membaca ulang, tapi terlanjur buat sampai chapter 7=
Sampai bertemu lagi di chapter 3 \^^/
