Dikirim, ke Dunia Lain?

Genre : Fantasy, Adventur

Rating : T/M

Pair : ? (ada saran?)

Warning! : strong naruto!, white hair!, terinspirasi dari game Assassin Creed dan beberapa Anime!, beberapa karakter diambil dari RT dan RW lain!, alur... entahlah!

Chapter 2

Cklek!

Suara dari sebuah pintu rumah yang dibuka dan masuklah Menma bersama Naruto yang mengekor di belakang. Rumah yang mereka masuki adalah rumah sederhana milik Kurousagi yang dibangun dari kayu dan batu bata, rumah berlantai kayu tersebut memiliki 3 kamar yang di antaranya adalah kamar milik Kurousagi, kamar tempat Menma tidur, dan terakhir kamar kosong yang digunakan sebagai gudang. Di dalam Naruto disuguhi perabotan-perabotan rumah sederhana pengisi rumah tersebut yang terbuat dari kayu seperti meja, kursi, dan almari.

Naruto mengedarkan pandang ke sekitar seperti tengah mencari sesuatu "tidak ada bolam lampu di rumah ini" gumam Naruto yang masih dapat didengar oleh Menma.

"tidak ada lampu tapi dunia ini menggunakan itu sebagai penerangan" ujar Menma sembari menunjuk lentera berisi batu kristal bening yang terdapat di beberapa sudut ruangan "batu kristal itu digunakan sebagai pengganti lampu" sambung Menma menjelaskan.

"bagaimana cara memakainya?" tanya Naruto yang melihat lentera tersebut seperti sebuah toples untuk meletakan batu kristal tersebut yang tentunya membuat Naruto merasa bingung.

"kita tinggal menyentilnya saja. Batu itu juga perlu diisi ulang agar bisa terus digunakan seperti senter cas-casan tetapi menggunakan sihir"

"kau bisa mengisi ulangnya?"

"aku tidak punya sihir jadi tidak bisa melakukannya, ibu yang biasa mengisi ulangnya karena ia bisa menggunakan sihir. Di dunia ini sihir adalah segalanya bahkan pekerjaan sehari-hari juga ada yang dikerjakan dengan sihir" jelas Menma. Naruto manggut-manggut memahami penjelasan kakaknya "ikuti aku" sambungnya yang dituruti Naruto.

Naruto mengikuti Menma hingga sampai di depan pintu sebuah kamar, kemudian Menma membukanya dan masuk ke dalam diikuti Naruto. Hanya ada ruangan berdebu yang hanya diisi beberapa barang yang sengaja disimpan di tempat tersebut yang merupakan sebuah gudang.

Menma mendekati sebuah kasur bekas di pojok ruangan kemudian menggesernya dan terlihatlah sebuah penutup terbuat dari beberapa papan yang digunakan untuk menutupi suatu lubang persegi yang cocok dengan penutup tersebut. Menmapun mengangkat penutup tersebut kemudian menyandarkannya di tembok dan masuk ke dalam lubang yang terdapat sebuah tangga ke bawah untuk menuruni lubang tersebut. Naruto diam menunggu gilirannya untuk turun ke bawah.

"turunlah" titah Menma yangsudah berada di bawah. Narutopun ikut menuruni tangga tersebut dan turun ke bawah menyusul kakaknya. Begitu sampai di bawah Naruto berdecak kagum dalam hati disuguhi meja dan 3 buah rak berukuran besar dipenuhi dengan berbagai macam senjata api bersetandar militer yang tertata rapi.

"selamat datang di gudang kecilku" sambut Menma yang berdiri di seberang meja yang penuh dengan senjata api di depan Naruto. Ruangan bawah tanah itu benar-benar dipenuhi dengan berbagai senjata api bahkan terdapat juga beberapa senjata tajam lainnya.

Naruto berjalan mendekati rak besar di sisi kanan rungan yang dimana terdapat beberapa sniper riffle berbeda yang tersandar di rak tersebut yang di antaranya Cheytac M200, AWM, MSR, M24, DSR-1, VSS, dan lainnya. Naruto memandangi dan mengapresiasi sniper-sniper tersebut "sial, dunia fantasi yang sangat mengaggumkan" ujar Naruto yang membuat Menma terkekeh kecil "bagaimana bisa saenjata-senjata seperti ini..."

"ada di dunia ini?" potong Menma yang diangguki Naruto "sepertinya dulu pernah ada beberapa orang yang dikirim ke dunia ini seperti kita dan membawa senjata-senjata ini bersama mereka. Blacksmith handal berkeahlian tinggi seperti bangsa Dwarf membuat dan memasarkan senjata-senjata ini, itulah sejarahnya yang kutahu"

"bangsa yang bernama Dwarf ini sepertinya ras yanga sangat hebat hingga dapat membuat senjata api berkualitas ini yang sama seperti di dunia asal kita" ujar Naruto yang memperhatikan detail dari senjata-senjata api di depannya.

"tapi tidak semua orang bisa menggunakan senjata-senjata api ini" ucap Menma yang membuat Naruto langsung memperhatikannya.

"tidak bisa menggunakannya? Mereka kurang pengalaman atau memang terlalu bodoh untuk menarik pelatuk" celetuk Naruto.

Menma menggidikan bahunya "entahlah, itu semacam kutukan atau apalah itu. Saat orang-orang mencoba menembakannya yang terjadi senjata-senjata itu seakan rusak atau meledak di tangan yah.. jadi senjata api kurang diminati. Bagi yang bisa menggunakan senjata-senjata api akan menjadi seorang prajurit dengan bayaran yang sangat tinggi"

"woww... itu menarik sekali" kagum Naruto.

"itu bukan apa-apa. Senjata api bahkan bisa menembus pelindung sihir sekalipun"

"kalau begitu sayang sekali semua orang tidak bisa menggunakannya"

"semua orang masih bisa menggunakan senjata api, tapi hanya Flintlock saja yang bisa mereka gunakan" ucap Menma.

"Flintlock?" Naruto merasa aneh dengan penjelasan Menma barusan yang menyebutkan nama sebuah senjata api dari abad pertengahan di dunia asal mereka "Sepertinya orang-orang yang dikirim dari dunia kita berasal, datang dari masa yang berbeda-beda" sambungnya menarik kesimpulan.

"itu memang benar" tukas Menma mantab "sekarang bagaimana menurutmu?" sambungnya.

"menurutku..." ucap Naruto mengantung yang kemudian mengangkat shotgun Ranger yang tergeletak di atas meja dan menekan tuas kecil di belakang atas laras ganda shoygun tersebut, menyebabkan laras dari shotgun Ranger terbuka menampilkan 2 lubang laras ysng kosong melompong "... ini menakjubkan" sambungnya sebelum kembali menutup laras Ranger yang terbuka.

Menma tersenyum mendengar pendapat dari adiknya "mau mencobanya?" ujar Menma yang mendapat perhatian dari Naruto "pilihlah mana yang kau suka" sambung Menma dengan tangan terbuka.

"baiklah jika itu maumu" canda Naruto yang dibalas Menma dengan kekehan.

Ngung...!

.

Ruangan Hokage

.

Di dalam ruangan Hokage bekerja, nampak sorang pria berjubah putih kebesaran Hokage yang memiliki ciri-ciri surai kuning terang dan bermata biru seindah lautan duduk menghadap meja kerjanya sembari membaca beberapa lembar kertas laporan di tangannya. Pria itu tidak sendirian, ia ditemani Hiruzen yang sedang duduk tenang di sofa di sudut ruangan sembari menghisap pipanya dan Kurousagi yang berdiri 2 meter di depan meja kerja Hokage.

"terimakasih Kurousagi, laporanmu sangat membantu" ujar pria bersurai kuning itu setelah membaca laporan dari Kurousagi. Pria bersurai kuning itu adalah orang yang menjabat sebagai Hokage keempat dan namanya adalah Namikaze Minato. Gelar kage bukanlah hal yang main-main, orang tersebut harus betul-betul memiliki rasa tanggung jawab yang besar dan kemampuan bertempur yang memumpuni sebagai seorang pemimpin.

"sama-sama yondaime-sama. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai seorang prajurit bayaran" balas Kurousagi sopan.

"tidak-tidak..." Minato menggeleng "kau sudah cukup lama tinggal di desa Konoha jadi kau adalah salah penduduk desa ini" sambungnya dengan nada bersahabat.

"terimakasih banyak yondaime-sama, saya sangat senang bisa menjadi bagian dari desa Konoha" ucap Kurousagi dengan senyuman yang dibalas Minato dengan senyuman juga "yondaime-sama kalau boleh, saya ingin mengurus surat untuk hak asuh anak agnkat kedua saya" tambah Kurousagi.

"hee... kau punya anak angkat lagi?" tanya Minato yang diangguki Korousagi "dulu kau mengangkat Menma-kun dan sekarang kau mengangkat seorang anak lagi. Memang seperti apa anak yang kau angkat itu?" sambung Minato kembali meluncurkan pertanyaan.

"dia orang yang sering diceritakan Menma dulu, dan anaknya sangat mirip seperti Menma" jawab Kurousagi.

Minato menggut-manggut mendengar jawaban Kurousagi "kalau tidak salah namanya Naruto itu ya..."

"aku sudah bertemu dengannya. Ia memang sangat mirip dengan Menma dari segi fisik bagaikan anak kembar" ucap Hiruzen yang sedari tadi diam menyimak. Dua Hokage ini memang memiliki sifat yang santai terbukti dari mereka yang malah memulai obrolan, mengesampingkan laporan dari hasil Kurousagi mengintai markas Night Raid beberapa hari yang lalu.

"jadi sekarang Night Raid merekrut anggota baru?" ucap Minato dengan nada yang mulai serius, bahkan Hiruzen juga memperhatikan dengan serius.

"benar yondaime-sama. Orang yang mereka rekrut adalah seorang pemuda yang bernama Tatsumi, pemuda sekitar 14 atau 15 tahunan yang berasal dari desa kecil di perbatasan negara Besi" jelas Kurousagi dengan nada serius.

"lalu seperti apa kemampuannya?" Minato kembali bertanya.

"saya belum melihatnya karena saya terlebih dahulu tertangkap saat mengintai, menurut saya anggota baru itu petarung yang menggunakan pedang dilihat dari pedang yang sering dibawanya"

"tertangkap? Bagaimana bisa kau lolos dari mereka?" kini giliran Hiruzen yang bertanya.

"saya kurang begitu mengerti. Kejadian itu terjadi begitu cepatnya di dalam asap yang mengganggu pandangan dan tiba-tiba saja saya sudah berada di tengah hutan bersama Menma dan Naruto" jelas Kurousagi yang membuat Minato dan Hiruzen mrenung sejenak.

"kuakui Menma memiliki kemampuan yang cukup mengesankan untuk seseorang tanpa sihir tapi bagaimana dengan yang satunya?" ucap Minato yang mendapat gelengan kepala dari Kurousagi tanda perempuan itu juga tidak mengerti.

"mungkin ia juga memilik kemampuan yang sama seperti Menma" ujar Hiruzen sebelum menghisap pipa tembakau miliknya dan menghembuskan asap dari mulutnya sebelum kembali berucap "aku sempat mencium sedikit bau darah dari senjata milik pemuda yang bernama Naruto itu" sambungnya.

Terjadi keheningan di ruangan tersebut setelah mendengar pendapat Hiruzen mengenai Naruto sebelum...

Ngung...!

Terdengar suara sirine yang berdengung cukup keras hingga dapat didengar oleh seluruh desa di luar sana. Mereka bertigapun mengalihkan perhatian ke luar jendela dengan rasa waspada.

Minato bangkit berdiri dari kursinya dan menghadap ke jendela yang menampilkan desa Konoha dengan mata yang menyipit tajam "kita diserang" gumam Minato yang masih dapat didengar oleh Hiruzen dan Kurousagi.

Brak!

Satu-satunya pintu di ruangan itu dibuka dengan kasarnya dan masuklah seorang gadis 16 tahunan bersurai kuning bergaya twintail, bermata biru seperti langit tanpa awan, dan memiliki tubuh indah yang betah untuk dilihat tanpa berkedip. Dia adalah Namikaze Naruko, putri dari Namikaze Minato.

Naruko masuk tergesa-gesa mendekati ayahnya. Kurousagi yang melihat kedatangan Naruko menyingkir untuk memberi jalan gadis twintail itu lewat "tou-chan, tentara Kekaisaran datang menuju desa dari arah utara" ucap Naruko kepada Minatao yang masih menghadap jendela.

"berapa banyak?" tanya Minato tanpa menoleh kearah putrinya.

"sekitar 1000 prajurit" jelas Naruko yang membuat Kurousagi tersentak kaget mendengar nominal yang disebutkan Naruko "juga beberapa Minotour dan penunggang naga" tambah Naruko yang semakin menambah rasa keterkejutan Kurousagi, sedangkan Hiruzen menghisap pipanya dengan damai.

Setelah menghembuskan asap dari mulutnya, Hiruzen bangkit berdiri "sekarang apa yang akan kita lakukan Minato?" tanyanya.

Minato berbalik menghadap mereka dan terlihatlah ekspresi tegas yang ia tunjukan "kerahkan pasukan yang ada. Apapun yang terjadi kita harus melindungi desa dan para penduduk yang tinggal di sini!" ucap Minato tegas mengambil keputusan yang membuat Hiruzen terkekeh.

.

Kembali bersama Menma dan Naruto

.

Menma tersenyum mendengar pendapat dari adiknya "mau mencobanya?" ujar Menma yang mendapat perhatian dari Naruto "pilihlah mana yang kau suka" sambung Menma dengan tangan terbuka.

"baiklah jika itu maumu" canda Naruto yang dibalas Menma dengan kekehan.

Ngung...!

Baru saja Naruto ingin memilih senjata yang cocok, Terdengar suara sirine yang berdengung cukup keras hingga dapat didengar oleh seluruh desa di luar sana, mau tidak mau Naruto membatalkan niatnya "kita diserang. Ayo kita segera keluar" ucap Menma yang kemudian bergegas keluar meninggalkan Naruto.

Melihat kakaknya meninggalkannya, Naruto mengambil M4A1 berpelengkap bayonet yang tersandar di rak sebelah kanan ruangan dan tidak lupa mengambil beberapa magazin untuk berjaga "aku pinjam ini nii-san" gumam Naruto memasangkan magazin pada M4A1 sebelum mengokangnya dan beranjak keluar dari ruang bawah tanah tersebut.

Di luar terlihat suasana desa Konoha yang ricuh dan panik karena sirine peringatan akan datangnya serangan di luar desa. Naruto yang tidak tau ke mana Menma pergi, mengambil inisiatif untuk pergi seorang diri ke arah yang berlawanan dengan para penduduk yang berlari ke pusat desa, sedangkan Naruto berlari ke arah gerbang utara desa Konoha dimana para penduduk berlari dengan tergesa-gesa dari arah tersebut.

"seberapa besar kekuatan prajurit Kekaisaran hingga para penduduk ketakutan" gumam Naruto memakai kerudung jubahnya dan menerobos kerumunan penduduk yang berlarian menyelamatkan diri.

.

Di gerbang utara desa Konoha, pukul 14.57

.

Sekitar 400 prajurit berompi hijau yang menjadi ciri khas Konoha serta petarung-petarung muda lainnya, berbaris di depan gerbang dengan senjata masing-masing di genggaman mereka. Hanya sebanyak itu prajurit yang bisa dikerah Konoha karena sebagian tengah dalam masa pemuliha paska pertempuran Suna dimana Konoha membantu Suna untuk memukul mundur pasukan Kekaisaran yang berjumlah 5000 saat itu.

700 meter di depan mereka, berbaris 1000 prajurit Kekaisaran bersenjata lengkap yang bergerak ke arah mereka, di antaranya terdapat 10 ekor Minotour berbadan besar setinggi 3 meter yang bersenjatakan kapak besar, dan 3 penunggang naga yang terbang di langit bersama naga tunggangan masing-masing. Dari segi jumlah dan kekuatan sudah dipastikan prajurit Konoha akan dikalahkan yang kemudian pasukan Kekaisaran akan menerobos desa dan menghancurkan segalanya.

Huft... huft... huft...

Beberapa prajurit di antaranya menarik nafas untuk menenangkan diri, bersiap maju menyerang 1000 pasukan Kekaisaran di depan mata mereka. Di antara pasukan Konoha terlihat Kurousagi yang bersiap dengan tombak keemasan miliknya yang bernama Indra, dan Menma yang berdiri di sampingnya "Menma dimana Naruto?" tanya Kurousagi kepada Menma di sampingnya.

"waduhh... aku meninggalkannya di rumah" jawab Menma sembari menepuk dahinya sendiri.

"bagaimana bisa kau meniggalkannya di saat genting seperti ini?!" ucap Kurousagi jengkel dengan nada yang ditekan agar tidak didengar orang-orang di sekitar mereka "kuharap Naruto mengungsi ke tempat yang aman" gumam Kurousagi mendo'kan Naruto.

"maaf ibu" gumam Menma yang dapat didengar oleh Kurousagi "kau akan terkejut melihat aksi Naruto jika ia di sini" sambung Menma yang kemudian memakai topeng putih miliknya. Kurousagi terdiam mendengar ucapan Menma, ia merasa penasaran dengan kemampuan Naruto mendengar ucapan Menma yang seakan mengandalkan Naruto.

Di atas tembok utara desa Konoha terlihat Minato, Hiruzen, Naruko, dan puluhan pemanah yang bersiap di sepanjang tembok utara. Melihat derap langkah Prajurit Kekaisaran yang semakin mendekat, Minato merentangkan tangannya ke depan sebelum membuka suaranya "MAJU!" seru Minato mensiyaratkan pasukan Konoha untuk maju menyerang.

""HUOOOOO!""

Drap! Drap! Drap! Drap!

Pasukan Konoha berseru dan maju serentak menyerang. Seorang pria yang menunggang kuda dan memakai junah hitam berlambang Kekaisaran yang merupakan pemimpin dari 1000 pasukan Kekaisaran, mengangkat pedangnya ke atas yang kemudian ia acungkan ke depan dimana pasukan Konoha serentak berlari ke arah mereka untuk memulai penyerangan. Melihat tanda dari pemimpin mereka, 1000 pasukan Kekaisaran menyerukan seruan peperangan dan berlari ke arah yang berlawanan dengan pasukan Konoha.

400 m

300 m

200 m

100 m

50 m

Trank...!

Jarak kedua kubu semakin terpangkas dan akhirnya pertempuranpun terjadi antara 1000 pasukan Kekaisaran melawan 400 pasukan Konoha, jumlah yang tidak seimkbang. Tapi hal tersebut perlu dipikirkan kembali karena kehadiran Menma di kubu Konoha, pemuda yang memiliki kecepatan di atas manusia normal itu bergerak dengan gesitnya menghindari lawan di medan pertempuran dan menebas musuh dengan cepatnya menggunakan 2 sabit berantai miliknya, terhitung sekitar 20 orang pasukan Kekaisaran mati di tangan Menma dalam hitungan 7 detik. Prajurit-prajurit Kekaisaran di sekitar Menma merinding melihat rekan-rekan mereka yang mati karena kebrutalan Menma.

Menma menyeringai di balik topengnya melihat ekspresi takut dari para prajurit Kekaisaran di sekitarnya. Pemuda itu mengacungkan sabitnya kepada prajurit Kekaisaran di sekitarnya bermaksud untuk menantang mereka.

Seorang prajurit yang tersulut emosinya berlari kearah Menma yang berdiri diam di tempat "Heyaaaaaaaaaa!" seru sang prajurit mengangkat pedanganya ke atas bersiap menyerang Menma dengan ayunan vertikal.

Zrash!

Entah sejak kapan Menma telah berdiri di belakang prajurit yang menyerangnya dengan salah satu sabit milikinya yang meneteskan darah segar ke permukaan tanah, sedangkan sang prajurit mulai yang awalnya berlari telah berdiri diam membelakang Menma sebelum menjatuhkan pedangnya ke tanah dan disusul tubuhnya yang perlahan tumbang dengan bagian atas dan bawah yang terpisah.

"ce-cepat se-sekali..." gumam salah satu prajurit Kekaisaran dengan tubuh yang tidak berhenti bergetar melihat kemampuan Menma yang begitu cepatnya menghabisi seorang prajurit dalam satu kedipan mata.

Tidak berselang lama, insting Menma merasakan sesuatu yang datang dari arah belakang. Dengan reflek yang bagus Menma berguling ke depan menghindari sesuatu yang terayun dengan cepatnya dari arah belakang, setelah berhasil menghindari serangan tersebut kemudian Menma kembali berdiri tegak.

Di depan Menma sekarang ini berdiri seekor Minotour setinggi 3 meter yang baru saja menyerang Menma dengan kapak besarnya. Menma mengambil posisi siaga melihat Minotour tersebut mulai berlari kearahnya dengan tatapan ganas yang dimiliki monster banteng tersebut, berniat menebas Menma dengan kapak besarnya.

"Groarrrrrrrr!"

Syutt!

Dengan gerakan lambat, Menma melihat proyektil peluru melintas cepat di atas kepalanya dan mengarah ke mulut Minotour yang terbuka saat meraung, sebelum melesat masuk ke dalam mulut Minotour yang msih terbuka dan menembus tengkorak belakang monster tersebut.

"Grarrrrrrrrrr!"

Minotour tersebut jatuh berlutut dan meronta memegangi mulutnya yang mengeluarkan banyak darah sebelum akhirnya berhenti meronta dan menghembuskan nafas terakhir. Melihat Minotour di depannya mati, Menma mengalihkan perhatian ke arah belakang dimana asal proyektil tersebut melesat, dan terlihatlah seorang pemuda berjubah dan berkerudung Assassin putih yang sangat dikenalnya "terimakasih saudaraku" ujar Menma senang melihat keberaddan Naruto yang dibalas pemuda keturunan BrotherHood itu dengan anggukan kecil.

Dengan mudahnya kehilangan seekor Minotour memberikan pengaruh tersendiri bagi pasukan Kekaisaran yang menyebabkan semangat juang prajurit mulai menurun. Alhasil 3 naga yang hanya beterbangan di langit langsung menukik tajam ke bawah dan memberikan serangan terhadap pasukan Konoha dengan cara menerkam bagaikan predator langit, tak sedikit mayat dalam kondisi tercabik-cabik karena ulah kuku tajam Naga.

Sret!

Sret!

Wushh!

Menma dan Naruto melompat ke belakang menghindari seekor Naga yang hampir saja menyambar kepala mereka, kurang sedikit saja Kurousagi akan berkabung atas kematian kedua anak angkatnya itu. Gagal melancarkan serangan, sang penunggang naga memacu naganya terbang ke atas yang kemudian berbalk dan menukik cepat kearah Naruto dan Menma yang bersiap mengantisipasi serangan susulan.

"Roarrrrrrr!"

Melihat naga tersebut menukik cepat kearah mereka, Menma memposisikan kedua sabit berantainya ke samping dan kemudian memutar tubuhnya sebelum melempar sabit berantainya kearah prajurit Kekaisaran yang menunggang naga tersebut.

Cring!

Jrashh!

Kedua sabit berantai Menma tepat menancap dalam di dada penunggang tersebut dan tanpa pikir panjang Menma menarik rantai sabitnya, menyebabkan si penunggang naga jatuh terjungkal ke belakang dan berguling-guling di atas permukaan tanah, meninggalkan naga tunggangannya yang jatuh berguling di atas kerasnya tanah karena kehilangan kontrol dari penunggangnya.

"Naruto!" seru Menma kepada Naruto yang sudah kembali berdiri tegak setelah menghindari Naga yang jatuh berguling kearahnya. Mengerti maksud Menma, anggukan kecil Naruto berikan sebelum berlari mendekati Naga yang terjatuh itu berada.

"Groarrrrrrrrrrrr!" naga itu meraung dan kemudian memutar tubuhnya 360 derajat menyabet orang-orang di sekitarnya yang naga itu anggap sebagai ancaman, menyebabkan orang-orang yang terkena sabetan ekornya terpental ke berbagai arah.

Naruto yang berhasil menunduk menghindari sabetan ekor dari Naga tersebut, kembali berdiri tegak dan berlari mendekati naga tersebut yang tidak menyadari keberadaanya. Dengan satu tolakan kuat Naruto melompat dan mendarat tepat di atas sedle yang terikat di punggung naga tersebut.

Sret!

Dengan cepat Naruto menyambar tali yang terikat dengan rahang bawah si Naga dan kemudian menariknya ke atas menggunakan tangan kirinya yang bebas (seperti menunggang seekor kuda). Si Nagapun meronta-ronta seperti banteng mengamuk saat Naruto menarik tali yang terikat pada rahang bawahnya "terbanglah kadal!" bentak Naruto yang semakin kuat menarik tali di tangan kirinya, akhirnya naga tersebut mengepakan sayapnya dan terbang ke udara membawa Naruto yang menunggang di punggungnya dengan posisi berjongkok. Menma terkekeh melihat saudaranya berhasil menerbangkan seoekora naga tanpa latihan "kuserahkan padamu Naruto" gumam Menma sebelum melesat dan menyerang prajurit-prajurit Kekaisaran.

"woo! Kendalikan dirimu kadal!" ujar Naruto saat naga yang ditungganginya meliuk-liuk. Ini pengalaman baru bagi Naruto, pertamakalinya Naruto terbang mengendarai naga, bahkan di dunia asalnya ia belum pernah naik pesawat jadi ini pengalaman pertama dirinya terbang di langit.

Wushh!

Naga yang ditunggangi Naruto sempat oleng karena 2 ekor Naga mterbang melewatinya dengan cepatnya hingga menimbulkan sedikit tekanan angin yang menerpa dirinya. Melihat itu Naruto memacu naganya agar menambah kecepatan terbangnya guna mengejar 2 ekor Naga yang masing-masing ditunggangi prajurit Kekaisaran.

Melihat Naruto terbang ke arah mereka, kedua penunggang Naga tersebut memacu naga-naga mereka untuk terbang sedikit ke atas. Naruto yang tidak tau niat dari 2 penunggang naga di depannya hanya diam dan mengikuti mereka, tiba-tiba saja kedua naga di depan Naruto berbaklik dan menukik cepat kearah Naruto dengan pedang milik mereka masing-masing yang siap digunakan untuk menebas Naruto.

Tanpa disangka, Naruto menarik tali pengikatnya ke samping menyebabkan naga yang dinaikinya memiringkan badannya, alhasil Naruto berhasil menghindari serangan kedua penunggang naga tersebut, dan masih dalam posisi miring Naruto membidik kepala peunggang di sampingnya dengan M4A1 sebelum menarik pelatuk senjata tersebut.

Dar! Dar! Dar! Dar! Dar!

Beberapa tembakan Naruto lancarkan kepada penunggang naga tersebut yang tidak hanya mengenai kepala si penunggang tetapi juga melubangi kepala dan badan naga yang di tungganginya. Alhasil kedua makhluk itu jatuh bebas ke bawah dalam kondisi mati karena luka yang disebabkan proyektil-proyektil peluru dari M4A1.

Penunggang naga yang tersisa melebarkan mata melihat temannya mati di tangan pemuda misterius yang menerbangkan naga curian. Penunggang tersebut tidak terima teman-temannya dibunuh, dan tanpa pikir panjang penunggang itu memacu naganya kearah Naruto yang terbang di tempat bersama naga curiannya "HAAAAAAAAAAAA!"

Dar!

Dar!

.

.

.

Sedangkan di daratan, setengah pasukan Kekaisaran telah dipukul mundur oleh pasukan Konoha yang hanya berjumlah 400 orang yang kini telah berkurang dari julah sebelumnya. Di sisi lain, Kurousagi menghajar beberapa prajurit Kekaisaran dengan permainan tombaknya, bahkan Kurousagi telah menggunakan mode bertarungnya yang dapat dilihat dari perubahan warna rambutnya yang telah berubah menjadi pink.

"hah... hah... hah..." nafas Kurousagi tersengal-sengal karena kelelahan setelah menumbangkan prajurit Kekaisaran yang tak sempat dirinya hitung jumlahnya.

Wush!

Brak!

Kurousagi tersentak kaget karena tiba-tiba seekor Naga beserta penunggangnya jatuh dengan kerasnya tak jauh di depannya "penunggang Naga?!" gumam Kurousagi tak percaya melihat apa yang ada di hadapannya, karena rasa penasaran iapun mendongak ke atas dimana terlihat siluet pitih yang berjongkok di atas naga yang terbang di langit, seketika Kurousagi melebarkan matanya mengenali sosok tersebut "Naruto..."

Setelah puas menyaksikan detik-detik lawannya jatuh ke bawah, Naruto menarik pelan tali di tangan kirinya untuk memacu sang Naga tunggangannya terbang dengan perlahan. Dirinya memandang sekitar mencari sesuatu, Naruto berniat mencari seseorang yang menjadi pemimpin dari pasukan Kekaisaran dan langsung membunuhnya begitu ditemukan.

Beberapa saat berselang, pandangan Naruto tertuju pada garis belakang pasukan Kekaisaran, dimana terlihat seorang pria berjubah hitam suatu lambang dan menunggang seekor kuda. Dilihat dari jubah berlambang yang pria itu kenakan yang tidak dimiliki oelh prajurit lainnya dan posisinya yang berada di garis belakang membuat Naruto berpikir jika orang itulah pemimpinnya.

Merasa yakin dengan pikirannya, Naruto mengibaskan talinya dan memacu Naga curiannya terbang menuju orang tersebut berada. Si pemimpin pasukan Kekaisaran yang melihat Naruto terbang kearahnya mulai merasa panik "pemanah!" panggil pemimpin tersebut.

Berbarislah sekitar 20 orang pemanah yang berdiri di depan pemimpin tersebut dengan panah mereka masing-masing yang bersiap melesatkan anak panah "bidik!" ucap pemimpin itu melihat naga yang ditunggangi Naruto semakin mendekat, pria itu menunggu jarak Naruto memasuki area tembakan anak panah "tembak!" perintah si pemimpin kepada para pemanah di depannya yang dilaksanakan oleh mereka dan langsung melesatkan puluhan anak panah ke arah Naruto.

Melihat puluhan anak panah melesat kearahnya, Naruto menarik tali pengikat naga curiannya ke atas membuat sang naga tunggangan sedikit menegakan badannya.

Jleb!

Jleb!

Jleb!

"Groooooooo!"

Naga tunggangan Naruto meronta kesakitan karena puluhan anak panah menembus dadanya yang kemudian Naga tersebut mulai lemas dan jatuh ke bawah. Si pemimpin pasukan Kekaisaran tersenyum penuh kemanangan melihat naga di depannya mati, tapi senyum itu segera luntur di saat melihat Naruto yang melompat ke depan menggunakan naganya sebagai tumpuan yang kemudian membidikan M4A1 keara si pemimpin.

Para pemanah tidak memiliki kesempatan untuk kembali melesatkan anak panah kembali karena waktu yang sempit ini.

"huft..." di waktu yang seakan berjalan lambat ini, Naruto yang masih dalam keadaan melompat ke depan memfokuskan bidikannya tepat kearah kepala si pemimpin pasukan Kekaisaran, dan kemudian ia menarik pelatuk M4A1.

Jdar!

Syuut!

Kepala sang pemimpin pasukan Kekaisaran terhentak ke belakang karena sebuah peluru melesat cepat menembus dahinya dan tembus tengkorak belakangnya. Para prajurit yang melihat pemimpin mereka mati, melebarkan mata mereka tak percaya, yang bahkan pertempuran langsung berhenti sesaat karenanya.

Brak!

Naruto berhasil mendarat walapun harus beberapa kali berguling dan akhirnya berhasil menyeimbangkan dirinya dalam posisi berlutut. Kemudian Naruto menegakan dirinya dan memandang para prajurit di sekitarnya yang terdiam memperhatikan dirinya dengan ekspresi yang di antaranya takut, tidak percaya, mematung, merinding, syok, semua ekspresi itu mereka tujukan kepada Naruto yang telah membunuh pemimpin mereka.

Di dalam permainan catur, jika terjadi skakmat pada raja maka permainan dinyatakan berakhir, sama halnya yang terjadi sekarang ini. Naruto tersenyum tipis melihat reaksi orang-orang di sekitarnya "Boo~!" ujarnya pelan.

"HUAAAA!"

"PEMIMPIN TELAH DIKALAHKAN!"

"LARI!"

"HAAAAAAA!"

Pasukan Kekaisaran yang tersisa lari terbirit-birit meninggalkan medan pertempuran bersama 5 Minotour yang tersisa. Pasukan Konoha yang tersisa tidak ada niatan pada diri mereka untuk mengejar pasukan Kekaisaran yang kacau, karena yang terpenting pertempuran telah dimenangkan oleh Konoha.

"KITA MENANG!"

""HEYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!""

Pasukan Konoha serempak menyerukan kemenangan mereka. Tawa bahagia tidak lupa mereka tunjukan atas kemenangan mereka, walapun ada yang berduka atas pasukan Konoha yang telah gugur dalam pertempuran ini.

Di atas gerbang utara desa Konoha...

"sandaime-sama, siapa pemuda itu?" tanya Minato yang telah melihat detik-detik kematian pemimpin pasukan musuh di tangan pemudaberjubah Assassin putih yang tidak dikenalnya.

"Hmm... jubah itu jika tidak salah, dia adalah anak angkat kedua Kurousagi" jawab Hiruzen yang membuat Minato tersentak. Pertama Menma yang mampu menekan kekurangan jumlah dalam pasukan Konoha dengan kemampuannya yang cukup mengerikan, dan sekarang Naruto yang baru saja menembus garis belakang musuh seorang diri dan membunuh sang pemimpin.

"pemuda itu mengubah alur peperangan dengan tangannya sendiri" gumam Naruko yang masih dapat didengar orang-orang di sekitarnya.

Hiruzen terkekeh melihat reaksi Minato dan Naruko, ia sudah merasakan ada sesuatu pada diri Menma dan sudah melihat hasilnya, sekarang giliran Naruto yang telah menunjukan kemampuannya yang bahkan dapat menggunakan senjata api sama seperti Menma 'Kurousagi, kau mengadopsi anak-anak yang hebat' batin Hiruzen melihat Naruto dan Menma sedang melakukan tinju tos bersama ditemani Kurousagi di dekat mereka.

.

.

.

.

Dikirim, ke Dunia Lain?

.

.

.

.

Tap!

Tap!

Tap!

Sekarang ini Naruto dan Menma melangkahkan kaki di dalam gedung Hokage, mengikuti langkah ibu angkat mereka yang berada di depan. Sempat beberapa orang melihat kagum kepada Menma dan Naruto saat berpaspasan dengan mereka, Naruto acuh saja dengan hal tersebut, sedangkan Menma sesekali bersiul-siul untuk mengusir kebosanan. Penampilan Naruto masih seperti biasanya dengan jubah Assassin putih dan kerudung jubah yang senantiasa ia kenakan, dan Menma ia tidak mengenakan topengnya.

Langkah kedua saudara itu berhenti di tempat melihat Kurousagi menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu berdaun 2 dengan cat berwarna merah "ayo masuk" ajak Kurousagi menyentuh kenop pintu kemudian memutarnya dan masuk ke dalam ruangan. Menma dan Naruto hanya diam dan mnuruti apa kata ibu angkat mereka.

Di dalam ruangan yang merupakan ruangan pertemuan yang cukup luas, tampak Minato yang duduk di belakang meja kebesarannya dengan kedua tangan menopang dagu, dan di sampingnya, duduk Hiruzen yang memandang para petarung muda di depannya sembari menghisap pipa miliknya.

Di depan kedua Kage tersebut, duduk beberapa petarung muda yang ikut andil dalam pertempuran di gerbang utara desa 4 hari yang lalu (ukuran ruangannya cukup besar hingga dapat menampung 40 orang). Mereka semua duduk rapi di sisi kanan dan kiri, sedangkan bagian tengah sengaja dibiarkan kosong sebagai jalan untuk lewat.

Semua pandangan tertuju pada 3 orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan, yup! Meraka adalah Kurousagi, Menma, dan Naruto. Pandangan para petarung muda tak lepas dari sosok Menma dan Naruto.

Mereka sudah tau seperti apa kemampuan Menma dari kesuksesan misi-misi berat yang diberikan kepada pemuda ninja tersebut. Tatapan penuh tanya mereka tujukan kepada Naruto yang melewati mereka dalam diam, mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya pemuda berjubah putih itu yang tiba-tiba muncul membantu mereka di pertempuran dan dapat mengubah alur pertempuran dengan tangannya sendiri. Sama seperti Menma, mereka tidak merasakan sedikitpun aura mana dalam diri Naruto.

Kurousagi menghentikan langkahnya 1 meter di depan meja kerja Minato "saya sudah membawa mereka Hokage -sama" ucapnya sopan.

"terimakasih Kurousagi" tukas Minato. Kurousagi membungkuk hormat sebelum beranjak ke samping kiri meja kerja milik Minato.

Menma dan Naruto tidak tau mengapa mereka dipanggil ke sini. Sebelumnya mereka sedang asyik memancing di sungai untuk menyalurkan hobi mereka, sedang ayiknya memancing, tiba-tiba Kurousagi datang dan langsung menyeret mereka dengan paksa, meninggalkan joran milik mereka yang telah menemani selama 4 hari ini.

Selama 4 hari paska pertempuran, kedua saudara itu hanya menghabiskan waktu untuk memancing dan pulang ke rumah saat waktu makan malam, tidak peduli dengan apapun yang ada di desa. Tentu saja Kurousagi geram dibuatnya.

"aku ucapkan terimasih kepada kalian yang telah membantu kami dalam pertempuran tempo hari" ucap Minato tenang.

Naruto mengangguk kecil menanggapi ucapan Minato, sedangkan Menma "Ooo~ begitu rupanya... tidak masalah selama ada bayarannya" ujar Menma santai yang mendapat delikan tajam dari sang ibu, tapi sayangnya delikan itu tidak berpengaruh sama sekali pada pemuda ninja tersebut.

Minato tersenyum simpul "tentu ada bayaran yang sesuai untuk kalian" ucapnya membuat senyum Menma mengembang memenuhi setengah wajahnya. Pria yng menjabat sebagai Hokage ke-4 itu sudah tau seperti apa sifat Menma, jadi ia hanya memakluminya.

Kurousagi berniat menegur salah satu anak angkatnya itu tapi dicegah oleh Minato yang mengangkat tangannya yang berhasil menghentikan niat Kurousagi.

"lihat saudaraku, kita akan mendapat uang untuk membeli joran yang baru" ujar Menma seraya merangkul leher Naruto.

"Hm. Terserahmu nii-san" jawab Naruto pasrah. Dalam peraturan BrotherHood, mereka tidak memungut imbalan atas apa yang mereka perbuat, karena mereka melakukan apapun untuk kebebasan. Itu yang para keturunan BrotherHood pegang teguh.

Beberapa petarung muda menatap tidak suka atas kelakuan Menma dan Naruto. Seperti seorang pemuda berambut raven yang maju ke barisan depan "Hei kau! Sungguh memalukan hidupmu hingga mengemis kepada Hokage-sama atas usha kecilmu" ujra pemuda tersebut sarkas.

Mendengar itu, Menma menghadap sang pemuda berambut raven dan mendekatinya. Pemuda raven harus sedikit mendongak menatap Menma yang berdiri di depannya, Menma memiliki tinggi badan yang sama dengan Naruto yaitu 180 cm. sedangkan pemuda raven itu memiliki tinggi badan sekitar 171 cm di usianya yang ke 16 tahun.

Menma menatap lurus iris hitam pemuda raven di depannya yang juga balik menatapnya datar "Satsuki... Sasuka... Sisuka... ohh! Sasaka!" ujar Menma menyebutkan semua nama pemuda raven di depannya yang ia ingat.

Semua yang ada di ruangan menahan tawa mereka melihat Menma yang terlihat berusaha keras mengingat-ingat nama dari pemuda raven tersebut.

Si pemuda raven menggeram marah dan memberikan tatapan tajam kepada Menma "namaku Sasuke, Uchiha Sasuke!" tegas pemuda itu dengan nada yang ditekan di setiap katanya.

Menma sedikit tersentak dan mengambil satu langkah mundur dengan ekspresi takut yang dibuat-buat.

"hentikan tatapan anehmu itu pemuda tak dikenal. Menma-nii masih normal dan masih menyukai wanita cantik berdada besar, bukan seorang pria pecandu tusbol sepertimu" celetuk Naruto ikut nimbrung. Tawa yang tak dapat dibendungpun pecah di ruangan itu.

Sedangkan Menma mengguk-angguk menyetujui ucapan adiknya "kau memang memahami seleraku Naruto" gumamnya di sela mengangguk.

Ekspresi pemuda bernama Sasuke itu mengeras karena harga dirinya yang serasa diinjak-injak oleh kakak beradik di depannya "berengsek! Kalian menghinaku yang seorang bangsawan terhormat! Kalian akan mendapat balasannya!" geram Sasuke.

Kurousagi tampak khawatir melihat Sasuke geram akibat ulah kedua anak angkatnya, karena Sasuke itu adik dari Uchiha Itachi dan orang yang bernama Itachi itu... yah kalian akan mengetahuinya nanti.

"kehormatan?" beo Menma dengan nada mengejek dan memiringkan kepalanya, membuat Sasuke menggeram marah dan dengan cepat menarik kusanagi yang tersarung di pinggangnya, berniat menebaskannya kepada Menma.

Sring!

Dalam satu kedipan mata, bilah runcing Hidden Blade telah menyentuh kerongkongan pemuda bersurai raven tersebut yang memaksanya menghentikan niat untuk menarik kusanaginya. Semua pasang mata melebar melihat pelakunya, siapa lagi kalau bukan Naruto yang saat ini menyentuhkan ujung runcing Hidden Blade ke leher putih Sasuke.

Naruto tersenyum tipis melihat Sasuke membatalkan niatnya "orang tanpa kehormatan dapat hidup dengan makanan, tetapi orang tanpa makanan tidak dapat bertahan hidup dengan kehormatan" ujar Naruto menarik kembali Hidden Blade miliknya.

Semua terdiam mendengar penuturan Naruto, sedangkan Minato dan Hiruzen tersenyum simpul mendengarnya. Baru pertama kali mereka menjumpai orang yang menarik seperti ini.

Bukh!

"Hahahaha! Kau menjadi orang yang bijak sekarang, saudaraku!" ujar Menma diiringi tawa renyah dan menepuk keras punggung Naruto. Naruto sempat terhuyung ke depan dibuatnya.

Mulai terdengar suara bisikan dari para petarung muda menyaksikan ulah kakak beradik itu.

"tenanglah kalian semua" ujar Minato netral meredakan suasana yang sempat menegang. Semua orangpun kembali menghadap Minato.

"Sasuke-san kuharap kau bisa sedikit menghormati mereka begitupun dengan kalian semua. Karena tanpa bantuan mereka berdua, kita sudah menjadi tahanan Kekaisaran saat ini" tambah Minato yang membuat Sasuke mendecih tidak suka akan apa yang ia dapatkan hari ini.

"sekarang kalian semua duduklah"

Para petarung mudapun duduk di kursi masing-masing yang tersedia di ruangan itu. Sedangkan Menma dan Naruto memilih duduk di kursi yang terletak di paling belakang barisan dan kebetulan terdapat 2 kursi kosong di sana.

"ada yang perlu kalian ketahui" ujar Minato menggantung, menyebabkan semua orang yang di dalam ruangan tampak sangat penasaran, kecuali Naruto dan Menma yang tampak tidak peduli.

"menurut laporan dari mata-mata yang kukirim, Kekaisaran sedang membangun kerjasama dengan para bangsawan pemimpin daerah dan pembisnis besar. Yang kemungkinan besar mereka beraliansi dan membangun kekuatan militer dalam sekala besar-besaran"

Semua pasang mata di ruangan tersebut melebar sempurna. Itu berita yang sangat buruk bla informasi tersebut benar adanya, Kekaisaran akan melakukan invasi sekala besar ke seluruh daratan Elemental Nation.

"bahkan ada rumor yang beredar jika Kekaisaran beraliansi dengan bangsa elf" tambah Hiruzen.

"Hehh! Yang benar saja?!"

"bagaimana kita menanganinya!?"

"kita tidak akan bisa melewati ini!"

"pertama monster kemudian warbeast, dan sekarang elf!?"

"hanya keberuntungan yang bisa menyelamatkan kita kali ini!"

Terjadi kegaduhan karena rumor yang disampaikan oleh Hiruzen, tidak peduli apakah itu benar ataupun hanya kebohongan belaka yang digunakan untuk menekan mental pasukan Elemental Nation yang memperjuangkan kemerdekaan.

Kegaduhanpun semakin menjadi-jadi, sedangkan Menma dan Naruto hanya memandang hal itu dengan tatapan datar.

'mereka mengeluh sebelum melakukan usaha' batin kedua kakak beradik itu.

"tenanglah kalian semua!" ucap Minato dengan penuh penekanan yang berhasil meredam kegaduhan tersebut "kita perlu memikirkan solusinya" sambungnya. Semua termenung mendengarnya.

Ting!

Di barisan paling belakang terlihat tangan yang terangkat ke atas membuat semua pasang mata tertuju kepada sang pelaku.

"Menma-san, ada yang ingin kau usulkan?" tanya Minato melihat Menma mengangkat tangan kannya.

Pemuda itu menurunkan tangannya sebelum kemudian mengutarakan pendapatnya "ano... apakah kita memiliki data tentang orang-orang yang beraliansi dengan Kekaisaran?"

"tentu ada beberapa, memang ada apa?" tanya balik Minato, begitupun semua yang ada di sana yang juga penasaran dengan pertanyaan Menma. Kecuali Naruto yang hanya diam mendengarkan.

Menma menunjukan senyum simpul, orang-orang mulai merasa heran melihat senyum simpul yang pemuda itu tunjukan "Hm... kita bisa membunuh orang-orang tersebut di tempat" jawabnya santai tanpa beban.

""HEHHHH!?""

"omong kosong?!"

"ide yang sangat gila!"

"bodoh! Menggali kuburan sendiri"

"pendapat orang asing yang aneh"

Berbagai pendapat negatif terdengar jelas dari orang-orang yang hadir di sana hingga suasan kembali gaduh.

Kurousagi merasa khawatir melihat salah satu putra angkatnya menerima berbagai pendapat negatif tersebut yang pemuda itu tanggapi dengan senyum tipis.

Brak!

Minato yang merasa geram dengan kegaduhan di depannyapun menggebrak meja dengan cukup keras sehingga suasana kembali tenang dan semua perhatian tertuju padanya.

"kalian lupa siapa yang telah membantu kita meraih kemenangan di pertempuran beberapa hari yang lalu" ucap Minato tegas dengan tatapan yang tertuju kepada orang-orang yang telah meluncurkan pendapat negatif dari mulutnya.

"baiklah Menma-san sepertinya pendapatmu boleh dicoba, tapi bagaimana dengan konsekuensi tertangkapnya orang yang melaksanakan tugas tersebut yang akan dipaksa membeberkan semua informasi? Diperlukan beberapa Shadow berketerampilan tinggi untuk melakukannya"

(A/N : Shadow adalah sindikat pembunuh bayaran)

"masalah itu aku dan adiku yang akan melakukannya" jawab Menma dengan senyum yang senantiasa mengembang di wajahnya.

"kalian cukup menangani pertempuran yang terjadi dan memberikan suport pada daerah-daerah Elemental Nation yang mengalami serangan dari Kekaisaran, sedangkan kami yang bekerja di balik layar" tambah Naruto datar yang sedari tadi terdiam.

Semua terdiam meresapi gagasan dari kedua kakak beradik itu. Mereka memikirkan peluang dari strategi kedua kakak beradik tersebut.

Jika setrategi itu berhasil maka aliansi yang dibangun Kekaisaran akan runtuh dan dengan mudah mereka dipukul mundur oleh aliansi Elemental Nation.

"aku terima pendapa-"

"aku tidak setuju!"

Ucapan Minato terpotong oleh ucapan Kurousagi yang terdengar lebih tegas dari Hokage muda tersebut. Semua pasang matapun tertuju kepada perempuan warbeast tersebut.

"kalian hanya berdua saja di wilayah musuh, bagaimana jika kalian dikepung musuh dan terbunuh diluar sana?!" tanya Kurousagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Naruto dan Menma terdiam di tempat mendengar ucapan ibu mereka yang terlihat sangat khawatir, tidak ada ekspresi apapun yang ditunjukan kedua kakak beradik itu.

Semua terdiam menyaksikan kejadian yang tersaji di depan mereka.

Kedua kakak beradik itu saling pandang sebelum kembali menatap kearah ibu angkat mereka.

""ibu jangan khawatirkan kami. Ibu cukup duduk manis dan lihat saja hasil kerja kami nanti!"" ucap mereka kompak bersamaan dengan mantab jiwa dan raga.

Semua cengo mendengar jawaban ora cetha dari Menma dan Naruto. Jawaban aneh macam apa itu? Pikir mereka.

"tapi tetap sa-"

"kalian akan membentuk kelompok yang anggotanya bisa kalian pilih sendiri" ucap Minato memotong ucapan Kurousagi yang membuat perempuan warbeast itu mendelik tajam kearah sang Hokage muda.

"apa maksudnya itu Hokage-sama?!" sembur Kurousagi dengan wajah memerah, bukan karena malu melainkan marah dengan keputusan sepihak Minato.

"Hm... itu boleh juga" celetuk Hiruzen yang sedari tadi hanya diam menyaksikan.

"sandaime-sama!?"

Srek!

Srek!

Semua perhatian kembali tertuju kepada Menma dan Naruto yang bangkit dari duduk mereka "terimakasih Hokage-sama. Kami akan memikirkannya" ujar Menma yang kemudian menepuk pundak Naruto.

"dan kami akan segera berangkat setelah menerima datanya" tambah Naruto netral.

Boft!

Semua yang ada di sana tersentak melihat kedua kakak beradik itu meledak menjadi kepulan asap tebal dan menghilang tanpa jejak dari sana.

Sempat muncul pertanyaan di dalam benak orang-orang yang melihatnya, bagamana cara Menma dan Naruto melakukan itu sedangkan mereka berdua tidak memiliki mana dalam tubuh mereka.

Sebenarnya Naruto tidak melakukan apa-apa, yang melakukannya adalah Menma yang membawanya pergi dari tempat tersebut dengan teknik Shunshin. Dan itu hanya Kurousagi yang mengetahui teknik milik Menma tersebut.

Wush!

"MEREKA BERDUA!" Kurousagi menggeram marah dengan surai birunya yang berubah menjadi pink dan melambai-lambai dengan ganasnya. Membuat orang-orang tersentak melihat mode marah Kurousagi yang mengerikan.

"te-tenang Kurousagi" ujar Minato panik berusaha meredakan emosi Kurousagi.

"haduhh... dimana Itachi saat seperti ini" gumam Hiruzen menopang dahinya yang terasa pening.

.

2 hari kemudian, Kediaman Kurousagi, siang pukul 14:00

.

Di ruang tengah rumah sederhana milik Kurousagi. Terlihat Menma yang tiduran di kursi panjang di ruangan tersebut dengan mata terpejam. Ia merasa sangat bosan.

Di depannya, duduk Naruto yang sibuk mengelap Assassin Axe miliknya dengan selembar kain lap. Saat ini pemuda itu tidak mengenakan kerudung jubah Assassinnya sehingga wajahnya terlihat jelas.

"hahh... kenapa ibu lama sekali membawakan datanya?" desah Menma malas.

"sabar nii-san, baru kemarin lusa kita memintanya" balas Naruto yang masih berkutat dengan senjatanya.

"adiku, jika terlalu lama seperti ini bisa-bisa Kekaisaran berhasil membangun pasukan dalam jumlah tak terbayangkan"

"hahaha itu baru kemungkinan" timpal Naruto diawali tawa renyah.

Kembali terjadi keheningan di antara mereka, Menma yang diam tiduran di kursi dan Naruto yang tak ada henti-hentinya berkecimpung dengan Assassin Axe miliknya.

"oi Naruto!"

Grep!

Merasa namanya dipanggil, Naruto mengalihkan perhatiannya kepada Menma yang melempar sebuah kantung coklat kearahnya yang berhasil ia tangkap dengan tangan kanannya yang bebas. Naruto memperhatikan sejenak kantung pemberian kakaknya tersebut yang memiliki corak dari sulaman berwarna keemasan.

"apa ini?" tanya Naruto penasaran dengan kantung tersebut.

"kantung itu merupakan item sihir yang dapat menyimpan berbagai benda seperti kantung ajaib milik doraemon" jelas Menma yang masih dalam posisi tidurnya dan mata yang masih terpejam.

"dan aku sudah memasukan beberapa senjata dan peralatan untukmu di dalamnya hoammh..." sambung Menma yang kemudian menguap lebar.

Naruto menatap kagum kantung pemberian Menma di tangannya 'wohh seperti kantung ajaib Doraemon~!' batin Naruto kagum dengan mata berbinar.

"terimaksih Nii-san" ucap Naruto yang kemudian memasukan kantung yang terasa kosong itu ke dalam tas kecil di pinggang belakangnya dan kembali mengelap Assassin Axe miliknya.

Menma mengangguk menimpali ucapan Naruto, kemudian ia kembali berucap "Naruto, kau yakin ingin pergi sendirian?" tanya Menma yang masih dalam posisi tiduran.

Kemarin setelah menerima data orang-orang yang bersangkutan dengan Kekaisaran, kedua kakak beradik itu sempat membahas team yang akan mereka bentuk dengan Kurousagi.

Dengan teliti Menma memilih orang-orang yang tertulis di sebuah daftar beserta kemampuan mereka dan bio data. Menma memilih orang-orang dengan kemampuan yang menurutnya akan berguna di lapangan nanti.

Namun tidak dengan Naruto yang hanya diam saja memperhatikan kegiatan kakak dan ibunya. Saat ditanya kenapa dirinya tidak membentuk kelompok, ia memnjawab 'aku akan bekerja sendiri'.

Tentu saja dengan keras Kurousagi tidak menyetujuinya, tapi Naruto tidak peduli dan tetap teguh dengan pendiriannya.

Cklek!

Tap!

Tap!

Tap!

Kakak beradik itu tetap sibuk dengan kegiatan masing-masing walaupun seseorang telah masuk ke dalam rumah dan melangkah mendekati mereka berdua.

"ini daftar orang-orang yang berhubungan dengan Kekaisaran" ucap seorang permpuan meletakan 2 buah buku di meja yang ternyata adalah Kurousagi. Kemudian perempuan itu mendudukan pantatnya di kursi yang menghadap sisi lebar meja.

Tidak ada respon apapun dari kedua pemuda tersebut, membuat Kurousagi sang ibu merasa jengah.

"Menma jangan bermalas-malasan saja!" tegur Kurousagi dengan nada keibuan.

"baik bu~" balas Menma yang mengubah posisinya menghadap sandaran kursi.

Kurousagi hanya bisa menghela nafas melihat tingkah anak angkat pertamanya itu, kemudian ia menoleh kearah Naruto yang entah sejak kapan telah membaca salah satu buku yang dibawanya tadi.

Setelah cukup membaca buku yang berisi daftar tersebut, Naruto bangkit dari duduknya sambil membawa buku yang berisi daftar target-targetnya.

"ibu, Menma-nii, aku berangkat sekarang" pamit Naruto netral.

"Eh?! Sekarang? Itu terlalu cepat Naruto" ucap Kurousagi.

"hati-hati saudaraku... aku juga akan berangkat besok..." salam Menma sembari melambaikan tangan tanpa mengubah posisi tidurannya.

"Hm." Naruto mengangguk kecil mendengar salam dari kakaknya, kemudian ia memandang ibunya yang tampak khawatir "ibu do'a-kan aku ibu" ucapnya disertai senyuman tipis yang dapat dilihat oleh Kurousagi.

Melihat senyuman salah satu anak angkatnya itu, Kurousagi mendesah pelan "hati-hati di jalan Naruto" ucap Kurousagi dengan senyuman manis.

Naruto mengangguk kecil sebelum melenggang pergi meninggalkan kakak dan ibunya.

Kurousagi memandang punggung Naruto yang semakin menjauh dengan tatapan sendu.

"tidak usah khawatir ibu, Naruto tidak akan mengalami masalah di luar sana, justru musuhnyalah yang akan mengalami masalah karenanya" gumam Menma seakan melihat ekspresi ibunya saat ini, padahal dirinya masih setia dalam posisinya.

Duak!

"Waduhhh!"

Menma mengaduh kesakitan dan mengelus kepalanya yang terasa sakit luar biasa akibat sebuah buku tebal yang melayang dan mendarat dengan keras di kepalanya.

"KAU INI YA!"

Sembur Kurousagi dengan wajah garang dan berkacak pinggang yang membuat Menma bergidik ngeri.

"tapi itu benar ibu"

"Eh!?" Kurousagi tersentak mendengar ucapan asal dari Menma barusan 'apa maksud Menma?' pikir Kuropusagi, ingin rasanya perempuan itu menuntut penjelasan dari Menma. Tapi ia urungkan melihat pemuda itu tampak enggan memberikan penjelasan lebih lanjut.

.

.

.

Pagi hari, sekitar pukul 14:05

Sudah 3 hari lamanya Naruto melakukan perjalanan menuju tempat dimana target pertamanya berada. Pemuda itu melakukan perjalanan dengan berbekal senjata-senjata miliknya, pakaian yang ia kenakan, dan sebuah kantung sihir pemberian Menma yang ternyata berisi berbagai perlengkapan yang dibutuhkannya.

Seperti beberapa senjata api, bahan peledak, selimut, bahan makanan yang cukup banyak, dan buku berisi daftar orang-orang yang menjadi targetnya. Naruto juga membawa peta dan kompas sebagai penunjuk arah di perjalananya, jadi ia tidak akan takut tersesat di perjalanan menuju tempat targetnya berada.

Ia juga dibekali uang oleh Kurousagi dengan nominal sekitar 10 koin emas. Naruto ingin tertawa saat mengingatnya karena mata uang di dunia ini seperti dalam game-game RPG yang pernah ia mainkan di dunia asalnya dulu.

Mata uang di dunia ini adalah koin emas yang setiap kepingnya bernilai 100 keping koin perak, 1 koin perak setara dengan 100 koin tembaga, dan yang terakhir adalah koin platinum yang setiap kepingnya bernilai 100 kaoin emas.

Sekarang ini Naruto tengah berjalan santai menyusuri jalan setapak di tengah hutan yang lebat lebat. Hanya ada pepohonan besar dan tinggi di sekitarnya, juga beberapa semak-semak belukar yang tumbuh subur di bawah pepohonan yang rindang.

Drap!

Drap!

Drap!

Beberapa meter di depan Naruto, terlihat sekelompok orang dengan perlengkapan lengkap yang berjalan dengan arah yang berlawanan dengannya. Jka dilihat lebih teliti sekelompok orang di depannya itu memiliki telinga yang panjang.

'elf' gumam Naruto yang tidak peduli dan tetap melangkah maju dengan santai kearah yang berlawanan dengan sekelompok elf tersebut.

Tapi ada yang mengganjal di mata Naruto, dimana dirinya melihat seorang gadis pirang lurus sekitar 16 tahunan yang bersama sekelompok elf tersebut. Kondisi gadis itu sungguh memprihatinkan dengan hanya memakai kaos lusuh sebatas pahanya.

Juga kedua tangan terikat tali yang digeret oleh seorang elf laki-laki. Namun Naruto tidak peduli dan tetap melangkah maju dalam diam, hingga jaraknya dengan sekelompok elf di depan semakin dekat.

"hei bagaimana jika kita menyewakan tubuh gadis ini sebelum diserahkan untuk diesekusi? Kan lumayan uangnya" celetuk salah satu elf yang disambut tatapan antusias dari beberapa elf pria lainnya.

"boleh juga"

"itu bukan ide yang buruk selama hasilnya dibagi rata"

"betul, bagaimanapun juga kita semua bersusah payah menculik gadis ini"

Itulah tadi percakapan beberapa elf bergender laki-laki yang dipandang dingin oleh beberapa elf perempuan yang berada dalam kolompok tersebut.

Naruto hanya acuh mendengar percakapan beberapa elf tersebut dan lewat begitu saja dalam diam. Tidak peduli dengan iris indah berwarna ungu milik gadis itu yang tertuju padanya dengan tatapan mengharapkan pertolongan.

"tapi sebelum itu, bagaimana jika kita bersenang-senang dulu dengan uang dari orang yang telah melewati kita seenaknya itu"

Kalimat itu terdengar di indra pendengaran Naruto begitu dirinya telah berada 2 meter di belakang sekelompok elf tersebut tapi ia tak peduli dan tetap melangkahkan kakinya.

"hei kau! Bisa berikan uangmu pada kami dengan baik-baik!"

Bahkan terdengar suara seseorang laki-laki dari belakangnya, namun Naruto tak memperdulikannya bahkan menoleh untuk melihatnyapun tidak.

Grep!

Kini malah sebuah tangan mencengkram pundak kanan Naruto dan memaksa pemuda itu untuk menghentikan langkahnya.

Naruto melirik kebelakang dimana dirinya melihat seorang elf bergender laki-laki bersurai pirang yang tersenyum remeh padanya, dan sekelompok elf yang ia lewati barusan telah berhenti di tempat serta memandang kearahnya.

'menjengkelkan' batin Naruto dalam diam memandang ekspresi pemuda elf itu yang disertai dengan senyuman meremehkan di wajahnya.

"sungguh berani manusia sepertimu yang bahkan tidak bisa kurasakan mananya melewati kami begitu saja tanpa permisi"

Naruto mulai jengah dengan tingkah elf yang satu ini "lalu?" tanya Naruto yang sedari tadi diam.

"hoo... bisa bicara kau-"

Duakh!

Blessh!

Dengan tiba-tiba Naruto menyikut wajah elf itu dengan siku kanannya dan bersamaan menghunuskan Hidden Blade miliknya yang sukses menikam dahi pemuda elf tersebut.

Tidak ada perlawanan dari pemuda elf itu yang masih berdiri karena di dalam kepalanya yang terrtancap Hidden Blade dan kepalanya yang masih ditopang Naruto agar tidak ambruk dengan cara dicengkram.

Sekelompok elf itu terkejut dengan ekspresi masing-masing melihat salah satu teman mereka yang mati dengan mudahnya di tangan seorang pemuda berjubah Assassin.

Bruk!

Naruto melepaskan cengkramannya dan menarik Hidden Blade dari dahi pemuda elf yang baru saja dibunuhnya itu yang menyebabkan elf itu jatuh tak bernyawa di depan kaki Naruto.

Pemuda keturunan BrotherHood itu memandang sejenak mayat pemuda elf yang tergeletak di depan kakinya yang masih menunjukan ekspresi menahan sakit akibat menerima hantaman siku beberapa saat yang lalu.

Kemudian pandangan Naruto beralih kepada sekelompok elf beberapa meter di depannya yang menunjukan ekspresi geram masing-masing, kecuali seorang gadis pirang di kelompok tersebut yang merupakan tahanan kelompok itu.

Naruto mengambil Assassin Axe yang tersampir di pinggang kanannya dan berjalan ke depan melangkahi mayat elf yang tergeletak di tanah dengan santainya.

Ia terus melangkah santai mendekati sekelompok elf di depannya yang mulai waspada dengan kedatangannya. Naruto benci ini, jika tidak dibiarkan saja maka kelompok yang terdiri dari beberapa elf tersebut bisa menyerangnya dari belakang, jadi pemuda itu berniat untuk menuntaskan mereka sekarang juga agar tidak merepotkan nantinya.

Tidak peduli di antara mereka terdapat beberapa perempuan, yanga penting ia dapat segera melanjutkan perjalannya tanpa gangguan.

"Heaaa!"

Seorang pemuda elf dengan senjata berupa tombak maju menerjang Naruto disusul seorang pemuda elf pengguna pedang di belakangnya.

Greb!

Sreett!

Crakk!

Dengan cekatan Naruto menangkap tombak yang terhunus kearahnya tersebut sebelum akhirnya menarik tombak tersebut hingga pemuda elf yang menyerangnya itu sedikit terhuyung ke depan dan kemudian Naruto dengan cepatnya mengayunkan kapaknya ke tengkuk pemuda elf tersebut.

Bruk!

Pemuda elf tersebut jatuh tersungkur dengan luka menganga di tengkuknya dengan tidak sedikit mengeluarkan darah.

Wung!

Kemudian Naruto memiringkan badannya menghindari tebasan vertikal sebuah pedang dari pemuda elf lainnya yang mengekor di belakang elf pengguna tombak tadi yang kini telah jatuh tak bernyawa.

Buakh!

Klak! Klak!

Tidak menyia-nyiakan waktu Naruto memutar tubuhnya dan memukulkan sisi lebar kapaknya ke pipi kiri pemuda elf yang menyerangnya itu hingga elf itu terhuyung ke kanan, kemudian Naruto bergerak cepat ke belakang pemuda elf itu sebelum memiting kepala elf tersebut dan mematahkan lehernya yang membuat sang elf mati.

Sing!

Masih dalam posisi memiting kepala elf dalam dekapannya, insting Naruto merasakan sesuatu dari arah belakangnya. Kemudian ia berbalik menghadap belakang dengan mayat elf dalam pitingannya itu ia gunakan sebagai tameng daging.

Wosshh!

Ternyata sesuatu yang datang tersebut adalah semburan api bersekala besar yang sangat panas yang dengan cepatnya menyembur kearah Naruto yang berlindung di belakang mayat pemuda elf yang menjadi tamengnya.

Beberapa pohon di sekitar sana tak luput dari semburan api berintesitas besar tersebut.

Beralih ke sekelompok elf, saat ini mereka tengah menyaksikan kobaran api besar yang melahap Naruto di depan mereka dengan senyuman yang terpatri di wajah masing-masing, ternyata semburan api tersebut berasal dari lingkaran sihir berwaran merah yang dibuat oleh 3 gadis elf yang merupakan bagian dari kelompok tersebut.

Dengan mudahnya mereka melancarkan serangan sihir berelemen api kepada Naruto tanpa peduli 3 mayat rekan mereka yang ikut terbakar dengan Naruto.

Wushh!

Kobaran api tersebutpun mulai hilang dan seketika senyum puas di wajah mereka luntur seketika melihat Naruto yang baik-baik saja dengan mayat dalam kondisi hangus yang masih pemuda itu gunakan sebagai tameng untuk berlindung.

Bruk!

Naruto menjatuhkan mayat yang telah hangus tersebut sebelum memandangi kedua tangannya 'aku baik-baik saja? Tapi bagaimana bisa? Batin Naruto kebingungan dengan keadaanya yang baik-baik saja setelah menerima serangan sihir berelemen api.

Sungguh aneh Naruto baik-baik saja seakan serangan api barusan tidak menyentuhnya sedikitpun, padahal dirinya bisa melihat dengan jelas api barusan mengenai dirinya.

"Mustahil!?"

"Kau! Bagaimana bisa kau baik-baik saja setelah menerima serangan kami?!"

"dia bukan manusia biasa!?"

Mendengar beberapa kalimat terlontar membuat Naruto kembali mengalihkan perhatiannya ke depan. Dia juga tidak tau apa sebenarnya yang terjadi?

"kita serang kembali dengan serempak!"

'gawat!' batin Naruto melihat salah seorang elf yang memprovokasi teman-temannya untuk kembali menyerang, sialnya elf lainnya setuju dan mulai menciptakan lingkaran sihir masing-masing dengan warna dan pola yang berbeda-beda sebagai simbol elemen yang akan mereka keluarkan.

Tidak mau terkena serangan sihir kembali, dengan cekatan tangan kiri Naruto merogoh tas kecil di pinggang belakangnya dan mengambil sebuah benda berbentuk silinder, kemudian ia menarik pin pada benda silinder tersebut yang merupakan Flash Bang dan melemparakannya kearah sekelompok elf yang masih sibuk menciptakan lingkaran sihir masing-masing.

Bang!

Nging...!

Elf-elf tersebut tidak menyadari sebuah Flash Bang yang melambung kearah mereka hingga akhirnya benda tersebut meledak menciptakan sinar Flash berdurasi pendek disertai suara dengungan yang menimbulkan rasa pusing di kepala saat mendengar suara dengingan tersebut.

Gadis bersurai pirang di belakang sekelompok elf tersebutpun ikut terkena efek dari ledakan Flash Bang yang menyebabkan kepalanya terasa pusing dan pandangannya yang agak mengabur.

Cratt!

Srisshh!

Jrashh!

Bleshh!

Srashh!

Crashh!

Samar-samar gadis itu mendengar suara tebasan dan semacamnya yang terdengar di sekitarnya. Pandangan dan pendengarannya belum pilih akibat efek dar ledakan Flash Bang beberapa saat yang lalu, menyebabkan dirinya hanya bisa diam di tempat dengan mata terpejam.

Mencoba menebak apa yang terjadi di sekitarnya dari suara-suara yang samar di indra pendengarannya dengan harap-harap cemas.

Sesaat kemudian pendengarannya mulai kembali normal tidak terasa berdengung lagi, mengumpulkan keberanian gadis itupun mencoba membuka kedua matanya, mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan pandangannya yang masih blank.

"ja-jangan b-bunuh aku"

Gadis bersurai pirang itu seketika langsung melebarkan kedua matanya begitu pengelihatannya kembali normal. Di sekitarnya berserakan mayat-mayat elf bergender laki-laki maupun perempuan yang mati mengenaskan dengan luka berupa sayatan di leher, tikaman tepat di kerongkongan, dan kepala yang hampir putus akibat luka sayat yang cukup besar di tengkuk.

Gadis pirang itu menatap horor di sekitarnya yang dipenuhi dengan mayat dan warna merah dari darah yang mewarnai permukaan tanah.

Ia mengalihkan perhatian ke depan dimana terlihat Naruto yang tengah mencekik seorang elf perempuan dengan tangan kanan. Terlihat jelas ekspresi memelas bercampur ketakutan yang ditunjukan gadis elf tersebut.

Blesh!

Tapi Naruto tidak peduli dengan ekspresi yang ditunjukan gadis elf dalam cekikannya itu dan tanpa ragu menikam perut ramping gadis elf itu dengan Hidden Blade, kemudian memutar senjatanya tersebut bagaikan memutar kunci pada pintu rumah.

Bruk!

Naruto menarik Hidden Blade miliknya sebelum melempar tubuh elf tak bernyawa itu sembarangan. Kemudian Naruto menghadap sekaligus memandang gadis pirang yang berdiri gemetar beberapa meter di depannya.

Tap!

Tap!

Gadis pirang yang gemetar ketakutan itu semakin ketakutan dan memejamkan matanya saat melihat Naruto melangkahkan kaki mendekati dirinya.

Sreet!

Gadis pirang itu langsung membuka matanya saat merasakan tali yang mengikat kedua tangannya lepas, ia memandang sejenak kedua tangannya yang telah bebas dari ikatan tali sebelum kemudian gadis itu memberanikan dirinya memandang Naruto yang berdiri di depannya.

Ia mencoba menatap tepat wajah Naruto, sayangnya wajah pemuda keturunan BrotherHood itu tidak begitu jelas karena bayangan dari kerudung yang dikenakan.

"gunakanlah busana dan perlengkapan dari elf-elf itu yang menurutmu cocok, terserah mu akan pergi kemana setelah itu" ujar Naruto netral sebelum berbalik dan melenggang pergi dari hadapan gadis pirang yang diam terpaku itu.

Sadar melihat langkah Naruto yang semakin jauh, gadis pirang itu bergegas memilih busana dan perlengkapan dari salah satu mayat gadis elf, walaupun terdapat sedikit bercak darah namun ia tetap mengenakannya.

.

Malam, pukul 19:24

.

Sekarang ini Naruto berada di puncak suatu bukit. Naruto memandang jauh kedepan dimana terlihat sebuah istana berwarna kemerahan.

Naruto tidak tau pasti bentuk dari istana tersebut karena jaraknya dengan istana tersebut sekitar 1.800 meter, jarak yang cukup jauh. Mengapa Naruto repot-repot pergi ke tempat ini dan memandangi sebuah istana dari jarak 1,8 km jauhnya?

Itu karena istana tersebut adalah tempat tinggal target pertama Naruto dan pemuda itu berniat untuk mengesekusi targetnya dari tempatnya berada sekarang.

Naruto mengambil sesuatu dari tas kecil di pinggang belakangnya, terlihatlah sebuah kantung hitam berukuran sedang yang merupakan item sihir pemberian Menma beberapa waktu yang lalu.

Kemudian ia merogoh isi kantong tersebut "Hm?" gumam Naruto heran saat tangannya menyentuh suatu benda padat berukuran cukup besar di dalam, mustahil pikirnya jika terdapat benda berukuran cukup besar yang tersimpan di dalam kantong tersebut.

"kantung itu merupakan item sihir yang dapat menyimpan berbagai benda seperti kantung ajaib milik doraemon"

"dan aku sudah memasukan beberapa senjata dan peralatan untukmu di dalamnya hoammh..."

Naruto tersenyum tipis saat mengingat ucapan kakaknya saat itu, kini ia tau maksud dari 'seperti kantong ajaib Doraemon' yang dikatakan kakaknya.

Lalu Naruto menarik keluar sebuah koper berukuran cukup besar dari dalam kantung sihir tersebut. Naruto memandang sesaat koper tersebut sebelum meletakannya dengan perlahan dan membukanya.

"Hm. Lumayan juga kau nii-san" gumam Naruto saat melihat isi dari koper tersebut, di dalam koper itu terdapat beberapa part sebuah senapan seperti laras, scope, peredam, popor, kokang, frame senapan, dan beberapa magazin yang semuanya tertata rapi di dalam koper.

Dengan terampil Naruto mulai merakit bagian-bagian dari senapan tersebut, tidak peduli dengan seorang gadis bersurai pirang dan beriris ungu yang yang ditolongnya tadi beberapa jam lalu.

Naruto memang menyadari jika gadis itu mengikutinya sedari tadi, tapi ia hanya acuh saja. Selama gadis itu tidak mengganggunya itu tidak masalah baginya.

Hanya membutuhkan waktu 3 menit bagi Naruto untuk merakit semua part hingga menjadi sebuah senapan yang utuh dan siap digunakan.

Dan kini terlihatlah sebuah senapan runduk Cheytac M200, sebuah senapan anti materiel dengan jarak tembak efektif sejauh 2.500 meter.

Naruto tersenyum puas melihat senjata rakitannya sendiri itu yang lengkap dengan scope jarak jauh dan peredam yang sengaja dipasang di ujung laras senapan agar dapat meredam suara letusan peluru yang dihasilkan, sekarang Naruto sudah siap membunuh targetnya dari jarak jauh dan tanpa diketahui oleh musuh, dengan begitu ia akan lebih mudah pergi tanpa halangan menuju target selanjutnya.

"ini sudah saatnya kau keluar dari sana" ujar Naruto berbalik menghadap semak-semak rimbun di belakangnya.

Srek! Srek!

Dari semak-semak tersebut keluarlah seorang gadis cantik bersurai pirang dikucir menyamping ke kiri dan memiliki mata beriris ungu yang indah dan memiliki tubuh yang indah yang dilengkapi dengan ukuran dada milik gadis tersebut yang wow.

Gadis cantik itu memakai busana berupa mengenakan kaos putih polos yang terbuka mengekspos perut datarnya, sebuah syal berwarna merah, memakai sarung tangan tanpa jari di kedua tangannya, mengenakan celana berwarna cream pendek 1 kilan lebih di atas lututnya yang ditutupi kain seperti rok sepanjang betis yang terdapat sobekan di sebelah kanannya, dan sepatu hitam sebagai alas kakinya, juga pedang pendek sekitar 60 cm yang tersarung horizontal di pinggang belakanyanya.

Dengan penampilan seperti itu, gadis pirang itu terlihat lebih cantik dari pada beberapa jam lalu yang terlihat lusuh.

Naruto merasa busana yang dikenakan gadis itu sama seperti gadis lef yang sempat dibunuhnya beberapa jam yang lalu.

'tipe petarung jarak dekat kah' batin Naruto melihat penampilan gadis pirang di hadapannya "mengapa kau mengikutiku sedari tadi?" belum lama Naruto langsung meluncurkan pertanyaan.

Gadis itu sempat tersentak mendengar Naruto yang ternyata mengetahui jika dirinya mengikuti pemuda tersebut, namun dengan segera ia berhasil mengontrol rasa terkejutnya.

"bukankah seharusnya seseorang memperkenalkan diri sebelum bertanya kepada orang yang baru ditemuinya?" balas gadis itu dengan ekspresi dan gerak-gerik sedikit gelisah entah karena apa. Sesekali gadis itu melihat kearah wajah Naruto kemudian beralih kearah lain.

Namun tetap percuma gadis itu ingin melihat wajah Naruto karena kerudung dari jubah Assassin yang ia kenakan sehingga wajah Naruto hanya terlihat sebatas pangkal hidung sampa leher karena tertutup bayangan dari kerudung tersebut.

"Naruto" ucap Naruto menyebutkan namanya dengan nada netral, di dalam hati Naruto bertanya-tanya mengapa gadis di depannya itu bertingkah aneh.

Ekspresi gadis itu berubah senang setelah Naruto mengenalkan namanya "namaku Kawakami May" ucap gadis itu disertai dengan senyuman manis di wajah cantiknya.

(A/N : Kawakami May, karakter dari anime Musaigen no Panthom World)

Tidak ada respon apapun selain diam yang ditunjukan Naruto yang membuat gadis bernama Kawakami May itu menautkan alisnya, tidak mungkin ada orang yang tidak mengenali dirinya. Tapi pemuda di depannya ini pengecualian. Andai saja kau tau jika Naruto itu bukan berasal dari dunia ini.

Namun May akan diam saja bermaksud untuk tidak memberirtahu siapa dia sebenranya. Hanya masalah waktu saja sampai Naruto mengetahui sendiri siapa itu Kawakami May yang sebenarnya.

"langsung saja... mengapa kau mengikutiku?" tanya Naruto netral.

"aku ingin berterimakasih padamu yuang telah menyelamatkanku tadi"

"Hm... kau tidak perlu berterimakasih karena aku hanya kebetulan saja bertemu dengan sekelompok elf tadi, lalu apa alasannya kau mengikutiku sampai sejauh ini?" ucap Naruto yang kembali melontarkan pertanyaan.

"aku ingin memberimu bantuan sebagai balas budi"

"itu tidak perlu nona, kau tidak perlu berbalas budi kepada orang yang menyelamatkanmu secara kebetulan"

"tapi itu harus kulakukan karena itu merupakan aturan keluargaku" ucap May masih ngotot dengan dengan pendiriannya.

"hahh... terserah mu nona" jawab Naruto pasrah, percuma saja berdebat dengan seorang perempuan karena di dunianya dulu terdapat aturan 'perempuan selalu benar'.

Kemudian Naruto kembali berbalik menghadap kearah istana tempat tinggal targetnya dan mengambil posisi berlutut.

May menautkan alisnya melihat apa yang dilakukan pemuda di depannya itu dengan sebuah senjata aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Kemudian ia memberanikan dirinya untuk bertanya "sebenarnya apa yang kau lakukan di sini?" tanya May.

"Mengintai seseorang" jawab singkat Naruto tanpa menoleh dan tetap fokus ke depan. Kemudian Naruto memutar pengatur pada scopenya hingga dirasa pas sebelum mulai membidik melalui scope yang terpasang pada senapan jarak jauh Cheytac M200 tersebut.

"mengintai seseorang..." gumam May mengikuti arah bidikan Naruto dan seketika kedua matanya membulat sempurna 'bukankah itu kediaman milik Lokal!? Kerabat jauh mentri Onest?' batinnya terkejut.

Naruto dapat dengan jelas melihat istana yang berjarak 1,8 km jauhnya di depannya sana dengan scope jarak jauh yang terpasang pada Cheytac M200.

'target ditemukan' batin Naruto melihat dari balik scope seorang pria berbusana layaknya seragam militer berada di sebuah balkon sembari duduk santai meminum secangkir teh.

pria bernama Lokal yang merupakan target Naruto itu tidak sendirian, ia ditemani beberapa wanita cantik dan beberapa pelayan yang melayani mereka.

"huft..." Naruto menarik nafas beberapa kali sebelum menahan nafas dan mulai mebidik tepat kepala. Jari telunjuk Naruto mulai menyentuh pelatuk senapannya.

Jebsshh!

Naruto sedikit terhentak ke belakang saat Cheytac M200 yang ia tembakan memuntahkan sebuah proyektil dengan kecepatan 800 meter per detik dan menghasilkan tekanan angin yang cukup kuat di sekitarnya. Bahkan May harus dibuat terkejut saat melihat Naruto sedikit terhentak.

Syuutt!

Proyektil tersebut terus berputar dan melesat dengan cepatnya menembus angin malam menuju target. Hanya berselang 2 detik kurang proyektil tersebut mengenai sang target.

Jraakk!

Lokal yang tengah asyik mengobrol dengan para wanita cantik, tiba-tiba terhentak ke samping dengan kepala yang pecah dan diikuti isi kepalanya yang memuncrat keluar karena ditembus sebuah proyektil berkecepatan 800 meter per detik yang ditembakan dari jarak 1,8 km dengan akurasi tinggi.

Orang-orang di sekitar mayat mengenaskan Lokal langsung berteriak histeris dan mulai panik melihat pria tersebut yang tiba-tiba mati dengan kondisi kepala pecah tak berbentuk.

Kembali ke Naruto yang melihat targetnya tumbang dari balik scope, senyum tipis ia tunjukan melihat hasilnya tersebut.

Kemudian Naruto menarik tuas kokang senapannya sehingga sebuah selongsong peluru kosong keluar dari sisi kanan frame dan kembali mendorong masuk tuas kokang.

Narutopun mengambil selongsong peluru yang tergeletak di dekatnya tersebut 'senapan anti materiel digunakan untuk menembak target manusia, sangat berlebihan' batin Naruto memandangi selongsong peluru kosong tersebut sebelum memasukannya ke dalam saku celana dan mulai mempreteli kembali Cheytac M200 yang baru saja ia gunakan.

Ia senagaja menyimpan selongsong tersebut untuk menghilangkan barang bukti jika dilakukan penyelidikan karena salah satu sosok berpengaruh bagi kekaisaran yang mati di kediamannya sendiri.

"a-apa yang kau lakukan?" tanya May menatap tak percaya Naruto dan senapan yang digunakan pemuda tersebut.

"membunuh orang yang bernama Lokal" balas Naruto di sela-sela kegiatan membongkar senapannya.

May kembali terdiam setelah mendengar jawaban dari Naruto 'jadi ia seorang pembunuh bayaran, bahkan ia dapat menggunakan senjata api mengerikan itu? Sepertinya ia bukan orang biasa' batin May memperhatikan Naruto yang masih sibuk membongkar senapan dan menata setiap partnya ke dalam sebuah koper.

Sesaat kemudian Naruto telah selesai merapikan bagian-bagian senapan yang dibongkarnya ke dalam koper dan kemudian memasukan kembali koper tersebut ke dalam kantung sihir miliknya.

Setelah selesai, Naruto bangkit berdiri dan melangkah pergi begitu saja.

May yang tersadar dari lamunannyapun langsung bergegas mengikuti Naruto "hei jangan tinggalkan aku!" ucapnya mengekor di belakang Naruto yang diam tak peduli dengan ucapannya.

Dalam diam May mengekor pemuda id depannya yang belum jelas identitasnya itu, jujur ia penasaran dengan rupa Naruto.

Bahkan ia tidak merasa khawatir sedikitpun saat memilih untuk mengikuti Naruto, ia yakin jika pemuda di depannya tersebut tidak memiliki niat jahat sedikitpun kepada dirinya.

Bersambung