Vocaloid © Yamaha
Dearest © Marchenhaft
Green Straight © raibuP
Len/Gumi, slight Kaito/Miku
DEAREST
II: Roti dan Apel
.
.
Len menggeliat di tempat tidurnya yang nyaman. Empuk, hangat, membuat ketagihan. Di musim semi seperti ini memang waktu yang paling tepat untuk bermalas-malasan di tempat tidur, bangun sesiang mungkin, dan melanjutkan waktu tidur di atas dahan pohon dimana kau bisa bermandikan cahaya matahari yang lembut.
Ah—baru saja ia kembali ke alam mimpinya yang indah, tapi selimut kesayangannya sudah ditarik hingga angin dari jendelanya yang terbuka menusuk tulangnya. "Argh, Gumi!" teriak Len kesal, beranjak duduk, dan mengacak-acak rambut pirangnya yang panjangnya sampai lehernya. "Bisakah kau tidak menganggu tidurku sekali saja?"
Gumi menghela nafas, melipat selimut, dan menaruhnya di dalam lemari dekat tempat tidur. "Tuan Len, ini sudah jam 10 pagi. Bukan jam normal untuk masih tertidur," sahut Gumi, masih menggunakan suaranya yang lembut. Namun, selama setengah tahun Gumi menjadi Keeper Len, di balik suara dan wajah yang lembut itu, tersimpan kengerian luar biasa yang bahkan dapat membuat Len tunduk.
"Tapi, Gumi, kemarin aku tidur malam karena mengerjakan esai yang kau tugaskan!"
"Lalu, apakah sudah selesai, Tuan?"
"B-Belum."
"Kalau begitu, tidak usah beralasan."
Mungkin, di seluruh kerajaan itu, hanya Gumi yang bisa menyeret Sang Pangeran Pecicilan itu ke dalam sebuah ruangan berisi ribuan buku, membuatnya duduk selama berjam-jam sambil mengajarinya berbagai hal. Memang, Len sedikit down ketika menyadari ia sedang diajar sejarah, matematika, ilmu alam dan sosial, atau geografi oleh seorang gadis yang satu tahun lebih muda darinya—namun ya sudahlah.
Yang Len sukai dari pengajaran Gumi adalah adanya pelajaran musik dan juga Gumi memberikannya waktu untuk berlatih pedang setiap harinya. Suara Gumi yang sedang bernyanyi menjadi favoritnya, setelah kakak kembarnya, Rin, yang juga memiliki suara yang indah, pergi membaktikan dirinya sebagai pendeta.
"Hari ini pelajarannya apa, Gumi?" tanya Len, mengganti kemeja putihnya dengan kemeja berwarna biru tua.
"Ilmu sosial," jawabnya sambil menyiapkan sepasang boots coklat tua yang terbuat dari kulit kesayangan Len. "Tapi, praktek langsung."
"Eh?" nafas Len tertahan ketika ia baru saja selesai mengkancingkan kemejanya. "Praktik langsung? Kita akan ke kota?"
Gumi mengangguk. "Iya, karena itu, cepat bersiap-siap. Kebetulan hari ini ada pertunjukkan musik di alun-alun kota," sahutnya, memberikan senyuman kepada wajah Len yang gembira.
"Yes!" teriak Len girang. "Kau Keeper terbaik, Gumi!"
"Saya tersanjung mendengarnya, Tuan."
"Ck, sudah kukatakan berkali-kali, hentikkan formalitasmu," gerutu Len kesal sambil menggulung lengan kemejanya. "Mendengarnya membuat bulu kudukku merinding."
Gumi hanya tertawa kecil. Ia tidak terlalu memikirkan kata-kata Len; bahkan ia tidak memiliki keinginan untuk menghentikkan cara berbicara yang sudah ia latih itu. Karena, jika suatu hari ia melepaskan diri dari belenggu formalitas itu…akan terjadi bencana.
-.-.-.-
"Sepertinya anda sangat diidolakan oleh warga, Tuan Len," Gumi mencoba menahan tawanya dengan tangan kanannnya. Setelah berkeliling kota dan berinteraksi dengan para warga, mereka mengambil beristirahat sebentar di sebuah bukit kecil yang sepi di pinggir kota, yang secara tidak resmi menjadi tempat kesayangan mereka berdua.
"Gumi, aku tahu kau sedang mengejekku," balas Len ketus.
"Mengejek? Saya? Oh tidak, Tuan—pffft."
"Tertawalah selagi kau masih bisa tertawa, Gumi! Aku tahu dari awal kita menginjakkan kaki di kota, para warga bukan menyapaku, tapi justru mengejekku 'Pangeran Pecicilan'!" geram Len, yang justru memancing tawa Gumi untuk keluar. Gadis itu tertawa lepas, seperti melupakan formalitas yang membatasi mereka berdua.
"P-Pangeran Pecicilan mereka bilang—ahahahaha—bagus, itu bagus sekali," sahut Gumi di sela tawanya. Len yang mulai kesal merangkul Gumi tiba-tiba, dan mencubit pipi Keeper-nya dengan tangannya yang bebas. "Afffh—Twuan Wleeeen!"
Len tertawa. "Kau sudah tahu nama ejekkan itu dari entah-kapan-tau, Gumi! Berhentilah menghinaku!"
"Aku tidak menghina anda, tapi—nama itu…hahahaha!"
"Gumi!"
Kehilangan keseimbangan, mereka berdua jatuh tertidur di atas rerumputan hijau yang terasa geli di kulit mereka. Kesunyian seketika menyelimuti mereka berdua setelah sadar akan posisi mereka yang terlalu dekat, tangan Len yang mendekap tubuh mungil Gumi, dan nafas yang saling beradu.
Kalau saja lengan Gumi tidak menjauhkan tubuh mereka, Len pasti akan terkalahkan oleh perasaannya yang menggebu-gebu. Gumi beranjak berdiri, mencoba bertingkah normal, dan melontarkan senyuman. "Ayo kembali ke alun-alun, Tuan. Sepertinya pertunjukkan musiknya akan dimulai." Gumi menuruni bukit dengan lincah, lalu diikuti Len yang masih memikirkan kejadian tadi.
Selama perjalanan mereka kembali ke alun-alun, kecanggungan menyelimuti. Entah apa yang harus dibahas dan entah apa yang harus dipermasalahi. Mereka tidak tahu dan bahkan enggan untuk mengetahuinya. Mereka berharap kedatangan seorang pencair suasana—
"Yo, Len, Gumi-chan!" panggil Kaito dari depan mereka bersama Miku disisinya. "Kalian juga mau nonton pertunjukkan?"
"Ya, kalian juga?" sahut Len, lega Kaito dan Miku datang tepat pada waktunya. Pasangan ksatria-sekretaris ini memang menjadi bintang di kerajaan, selain karena kombinasi mereka yang tampan dan cantik, mereka juga terkenal menarik perhatian karena kekonyolan yang tercipta dari kombinasi sifat mereka; Kaito yang sedikit konyol dan teledor dan Miku yang apik dan tegas. Oh, pertarungan pedang versus buku kamus super tebal sudah menjadi tontonan biasa di istana.
Suara drum dan bel dalam sebuah irama yang ceria menandakan pertunjukkan segera dimulai, dan perhatian mereka berempat tertuju pada sekelompok pemain musik yang terdiri atas pemain biola, viola, cello, terompet, dan drum kecil. Para warga ikut menari mengikuti irama yang ceria, dan dengan isyarat senyuman, mereka berempat ikut serta dalam tarian penuh tawa itu.
"Aah, Gumi-chan, Gumi-chan, ayo bernyanyi, hiasi musik kami!" ajak pemain biola begitu ia melihat Gumi di tengah para penonton. Para warga lain ikut menyoraki, menyemangati Gumi untuk menyanyikan sebuah lagu untuk mereka semua.
Len tersenyum tipis, mendorong punggung Gumi pelan. "Maju dan berikan pertunjukkan yang bagus," sahutnya.
Gumi menggembungkan pipinya dan akhirnya berjalan ke para pemain musik. Mereka terlihat sedang berdiskusi lagu apa yang akan dimainkan. "Baik, lagu yang akan kami mainkan dan Gumi-chan nyanyikan adalah lagi favorit Sang Pangeran Pecicilan," sahut pemain biola yang diikuti dengan 'ssst!' oleh Gumi. Len tersenyum. "Green Straight."
'Kono sora ga kieyuku hi ga otozore
Me wo samashita
Sou kinou kizuietekureta no wa
Anata deshita'
"Tidak terasa sudah setengah tahun dia hidup bersamamu, Len," Kaito menyikut lengan Len iseng. Len hanya nyengir spontan. "Bagaimana? Kau sudah tertarik menjadi raja?"
"Tidak."
'Sukuenai kotoba
Hakichirasu koto mo aru
Dakedo mada kono kokoro wa
"Arigatou" nokotteru…'
"Eh? Sampai sekarang?"
Len mengangkat bahunya. "Gumi memang mengajariku dasar-dasar menjadi raja yang baik. Tapi entah, aku tidak tertarik," mata Len terus tertuju pada Gumi yang sedang bernyanyi dan tersenyum riang.
'Kyou kara anata no kaze ni naru
Dareka wo yuruseru youni
Tanoshii jikan wa kitto kono te kara hajimaru kara
Kitto anata no kaze ni naru'
"Tapi…pengukuhanmu untuk menjadi raja itu dalam waktu dekat ini, Len! Kau tahu keadaan Ayahmu saat ini sudah sakit keras—"
"Kaito. Sudah berapa kali kukatakan jangan bawa nama Ayah?"
'I can't hate you anymore
Tabidachi no ketsuito itsumono egao
Kore kara mo arigatou
You're fading, but I never
You're fading, but I never…'
Kaito mulai salah tingkah, Miku pun menarik-narik kemeja Kaito mengisyaratkan kekasihnya untuk diam saja. Len terdiam, menciptakan dunianya sendiri di tengah keramaian yang sedang berdansa ceria. Di dalam otaknya terjadi flashback rentetan Tragedi Sang Raja—perang saudara, perebutan wilayah, kebakaran, korban, dan Raja yang akhirnya jatuh sakit sehingga tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya. Belum lagi ratusan orang yang mengincar kerajaan dan berulang kali menyelinap masuk istana.
"Aku…" gumamnya. "…takut."
'Umaku hanasenai yoru ni wa
Kotoba wa wasurete kamawanai
Dare yori mo waratte waratte ikunda
Dare yori mo saigo ni naite'
"Takut apa, Tuan Len?" tanya Miku, akhirnya angkat bicara.
"Menjadi raja."
"Kenapa?"
"Aku takut memerintah. Takut kalau suatu hari akan mengecewakan semua orang yang percaya padaku."
'Kyou kara anata no kaze ni naru
Dareka wo yuruseru youni
Kanashii koe ga tobikatte hito no seinishitaku temo
Kitto massugu hare ni naru
Kyou kara anata no kaze ni naru
Dareka wo yuruseru youni
Tanoshii jikan wa kitto kono te kara hajimaru kara
Kitto anata no kaze ni naru…'
"Tapi, Len. Kalau bukan kau, siapa lagi yang menjadi raja kami?" tanya Kaito, menatap Len yang sama sekali tidak berkeinginan menatap kembali dirinya. Kedua mata birunya terus tertuju pada Gumi, dan entah mengapa wajahnya terlihat tenang dan bahagia.
"Ayah pasti akan sembuh, Kaito," jawab Len mantap. "Aku menjaminnya."
"Tapi, Len!"
"Kalian sedang membicarakan apa?" sahut Gumi tiba-tiba di samping Len, membuat pangeran itu terkejut. "Serius sekali."
"Ah—Gumi-chan," sahut Miku membentuk senyuman. "Mau membeli makanan? Sepertinya Tuan Len sudah lapar."
Gumi merengut kecil, meminta jawaban atas pertanyaannya tadi. Namun, Miku sudah menarik lengan Gumi dan kedua gadis itu menghampiri sebuah stand makanan. "Pak, saya pesan satu apple pie dan dua bagelan rasa cinnamon," pesan Miku kepada pria tua yang menjaga stand makanan itu. "Kalau kamu, Gumi-chan? Pesankan untuk Tuan Len juga."
"Seperti biasa ya, Gumi-chan?" tanya pria itu tersenyum lembut. Gumi menganggukkan kepalanya. "Ah, untuk Tuan Len satu blueberry pie dan roti daging, Pak," tambah Gumi. Pria itu memberikan dua kantung coklat berisikan pesanan mereka, setelah mereka membayar, Miku dan Gumi kembali menghampiri Kaito dan Len yang sedang duduk di pinggir alun-alun.
"Ini, Kaito. Dua bagelan kesukaanmu," sahut Miku seraya duduk di sisi Kaito, diikuti dengan Gumi yang duduk di dekat Len.
"Kau membeli seperti yang biasa, Gumi?" tanya Len, membuka kantung coklat yang diambilnya dari tangan Gumi.
"Iya," jawabnya singkat.
Kaito dan Miku menatap heran makanan yang dipesan Gumi, merengut hingga membuat Len dan Gumi mengerut juga. "Yang benar saja, roti dan apel saja?" Kaito angkat bicara sambil memakan bagelan favoritnya.
Miku menatap heran Gumi. "Kalau aku pergi ke kota, aku memang selalu memesan makanan ini saja," jelas Gumi dan memotong rotinya kecil lalu memakannya.
"Tapi—kenapa hanya roti dan apel?"
Merasa dirinya ditatap oleh Kaito heran, Len yang sedang menikmati roti dagingnya mengangkat bahunya. "Jangan tanya aku, Gumi tidak pernah memberitahukanku," sahut Len sambil mengunyah.
Gumi, yang tidak tahan ditatap dengan tatapan heran itu akhirnya angkat bicara. "Ini makananku sejak kecil. Ehm—kalian tahu bukan, kalau bertahun-tahun yang lalu ada banyak keluarga yang jatuh miskin hingga hanya bisa makan seperti ini?" mata Gumi mulai menerawang ke masa lalu. "Dulu, karena aku terlahir dalam keadaan keluarga yang seperti itu—aku terbiasa makan seperti ini. Ah, tidak usah khawatir, sekarang keadaan keluargaku sudah membaik."
Kesunyian melanda mereka berempat. Len yang awalnya melahap rotinya lapar berhenti mengunyah dan jatuh dalam dunia berpikirnya. Dulu Gumi harus harus berjuang hanya untuk makan saja, pikirnya. Bahkan di bawah kuasa Ayah yang baik hati, masih saja ada yang menderita…
Kaito, yang tidak menyukai kesunyian yang terjadi, mulai memancing tawa mereka bertiga. Ia menceritakan berbagai cerita aib milik Len yang akhirnya membuat Miku dan Gumi tertawa. Len, yang sedang menjaga imejnya di tengah kerumunan warga, terpaksa hrus menahan amarahnya.
Namun, seketika Gumi menunjukkan wajah sedih, kesepian, bersalah, seakan-akan kedua mata hijaunya dapat melihat bencana dan kesengsaraan yang akan menimpa Tuannya tidak lama lagi.
To be continued.
Green Straight-nya Gumi bagus banget loh. Apalagi yang di cover sama wotamin :3
Review, please!
