me : kau benar-benar akan ke Irak?
Yang mulia Oh : ya, seminggu setelah pestamu itu
me : jadi, artinya kau datang?
Yang mulia Oh : tentu saja. aku tidak pernah mengingkari perkataanku sendiri
me : baguslah
me : (message save as draft) aku ingin kau datang
Sudah beberapa hari ini, Jongin tidak berhenti uring-uringan tanpa alasan yang jelas.
Besok adalah hari terpenting dalam sejarah kariernya. Di sana, ia bisa menemukan rekan editor dari majalah-majalah eksklusif yang belum pernah temui dan mungkin bisa pesta itu bisa menjadi satu batu loncatan menuju jenjang karier yang lebih tinggi. Siapa yang tahu bukan? Namun, entah mengapa Jongin sama sekali tidak bersemangat. Sempat terlintas di dalam pikirannya untuk berpura-pura sakit, sehingga ia tidak perlu menghadiri pesta itu.
"Are you okay?" tanya Ravi cemas.
Mereka sedang berkeliling di pasar loak yang letaknya tidak jauh dari penthouse Jongin. Ravi membawanya ke sana untuk memperlihatkan bahwa sesungguhnya sastra-sastra yang kata Jongin kuno dan ketinggalan zaman itu jauh lebihbaik daripada sastra modern. Dan setelah keluar-masuk toko yang menjual berbagai macam buku, Jongin akhirnya mengakui kalau mungkin Ravi ada benarnya juga. "Kau tidak mungkin merasa down karena Hamlet memang lebih bagus dari novel-novel fiksi favoritmu, kan?" goda Ravi sambil menyikut lengan Jongin.
Jongin mengibaskan tangannya lalu tersenyum. "Terserah. Yang penting Harry Potter selalu menjadi nomor 1 untukku,"
Ravi melemparkan tatapan men-judge yang kemudian mendapat respon jari tengah dari Jongin. Namun, meski begitu tangan mereka masih saling mengait erat. Ravi mengangkat kepalanya menatap langit siang yang mendung. Awan gelap menutup birunya langit serta rintik hujan pun mulai jatuh turun menyentuh puncak kepala mereka. Tanpa banyak bicara, Ravi menarik Jongin ke pinggiran toko yang sudah tutup. Jongin hanya mengikutinya dan membeku, bukan karena udara dingin yang menembus tubuhnya. Bukan, bukan karena itu.
"Well, sepertinya kencan kita harus berakhir di sini," gurau Ravi. Jongin hanya menatapnya lekat-lekat membuat Ravi pun terpaku padanya. Alis pria itu bertaut serta wajahnya berubah semakin cemas. "Apa kau kedinginan?"
Alih-alih, menjawab pertanyaan Ravi. Tiba-tiba saja, Jongin menekan tengkuk leher Ravi wajah mereka bertemu. Sesaat, mata mereka beradu sebelum akhirnya Ravi menutup jarak di antara mereka. Bibir mereka bergerak lambat serta hati-hati. Deru nafas Jongin memanas ketika Ravi melingkarkan tangan pada pinggangnya. Ravi merasa ada sesuatu yang meledak-ledak di dalamnya setiap Jongin melumat balik bibirnya. Sedangkan, bagi Jongin sendiri.. ia hanya merasa kosong. Dingin.
Ciuman pria itu berubah menjadi lebih kasar serta bergairah. Ravi perlahan membuka matanya sebab ia tahu ada sesuatu yang salah dari Jongin. Ia mendorong Jongin dengan lembut tidak bermaksud untuk menolaknya, tapi juga tidak membiarkan pria itu memaksakan diri lebih jauh padanya. Mata mereka kembali bertemu dan Ravi tidak buta. Ia dapat melihat apa yang selama ini Jongin sembunyikan darinya.
"It's okay," bisik Ravi lalu mendekap tubuh Jongin erat.
Jongin hanya bisa bersandar pada dadanya dengan mata terpejam. Ia tidak mampu membohongi pria sebaik Ravi. Pria itu pantas mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, sekalipun itu akan menyakitinya. Selain itu, ia juga tidak bisa membohongi dirinya lebih lama lagi. Ravi memang bukanlah orang yang diinginkannya. Ada orang lain yang membuat dirinya merasa kacau akhir-akhir ini.
Ravi mencium puncak kepalanya dan membisu. Apapun hubungan yang mereka miliki sekarang ini memanglah satu hubungan yang baru. Meskipun begitu, itu tidak membuatnya menahan diri untuk berharap lebih pada Jongin. Mungkin, ia memang menyukai pria itu sekarang. Namun, satu hal yang dirinya yakani ia tidak takut untuk jatuh cinta padanya. Dan setelah penolakan tersirat ini, ia juga tidak takut untuk terluka karenanya.
"Maaf," bisik Jongin dan Ravi memaafkannya.
Karena pria itu tahu kalau ia tidak bisa memaksakan hati yang memang tidak ditakdirkan untuk menjadi miliknya.
.
.
Sehun kembali jatuh menghantam lantai ring.
Kedua tangannya menyentuh permukaan lantai menopang berat tubuhnya. Setetes darah jatuh menodai lantai. Sehun tetap menyeringai, sekalipun wajahnya sudah babak belur dan kemungkinan tulang hidungnya patah. "Bangun," perintah Kris.
Dengan sisa tenaganya, Sehun mencoba untuk bangun dan gagal. Ia kembali terjatuh dengan kepala menghantam lantai. Pria itu nyaris berpikir untuk menyerah. Ia tidak bisa menguasai Krav maga dalam waktu sesingkat ini. Ia juga tidak bisa menjadi tentara yang ayahnya inginkan karena pada dasarnya ia bukanlah seorang tentara. Satu-satunya alasan yang membuatnya masih bertahan di bawah segala macam siksaan ini adalah Vernon. Ia bersumpah demi nyawanya ia tidak akan membiarkan adiknya merasakan apa yang dirinya rasakan. Bocah itu masih memiliki masa depan yang panjang serta cerah. Tidak seperti dirinya. Perjalanannya sudah berakhir di sini.
"Al, Sehun, you can do better than this," Kris terdengar kecewa. Seperti semua orang yang telah ia kecewakan sebelumnya.
Sehun benar-benar merangkak di atas ring tinju. Matanya mulai berkunang-kunang, hingga ia tidak tahu apa orang yang berdiri di ambang pintu benar adalah ayahnya atau hanya sekedar khayalannya. Namun, saat pria itu berputar memunggunginya dan berjalan jauh, meninggalkannya di dalam kekacauan ini. Ia tahu kalau pria itu benar adalah ayahnya. Ia nyata dan mungkin itulah yang membuatnya terasa lebih menyakitkan.
Latihan kali ini berakhir dengan Sehun yang digotong oleh bodyguard kerajaan ke rumah sakit terdekat yang memiliki koneksi pribadi dengan keluarga kerajaan. Sehingga, rahasia mengenai pangeran mereka yang tampak benar-benar tidak siap berperang tidak bocor ke publik dan menjadi satu topik berbahaya yang hanya akan menjatuhkan keluarga kerajaan. Sehun dapat melihat Vernon, Sebastian serta ibunya berdiri di samping kiri dan kanannya dengan samar. Ia juga dapat merasakan kelembutan tangan ibunya yang tidak berhenti mengusap wajahnya dan ia mendengar bisikian "ibu bangga padamu" dalam bahasa Sokovia dari wanita itu.
Ia tersenyum di dalam tidurnya sebagai balasan.
Namun, di dalam hatinya ia berkata;
"No, mom, I'm just a fucking mess,"
.
.
Sayangnya, tidak ada orang yang bisa dipercaya di dunia ini.
Berita tentang Pangeran Oh Sehun dari Sokovia yang dirawat di rumah sakit Estee Lousie menjadi berita utama di dunia yang kemudian disusul dengan berbagai macam pertanyaan menyangkut leadership serta skill Sehun sebagai pemimpin di Irak nanti. Sehun menonton berita itu di kamar rumah sakit dengan keadaan, yang untungnya, sudah jauh lebihbaik. Vernon duduk di sampingnya dan mendengus keras.
"Mereka tidak tahu kalau kau cukup jago memulai perkelahian di bar," kali ini, giliran Sehun yang mendengus karenanya. Vernon mengernyitkan dahinya lalu berargumen, "hei, setidaknya kau bisa berkelahi dan "memulai sesuatu" adalah tindakan yang dilakukan para pemimpin, bukan?"
"Hansol," Sehun nyaris tertawa karena alasan adiknya itu sangat konyol untuk seorang jenius yang akan masuk universitas Cambridge. "i am fucking okay. Kau tidak perlu menghiburku karena jujur saja aku tidak peduli dengan apa yang publik katakan mengenai diriku. Itu hak mereka untuk berpendapat dan ini hakku untuk diam karena waktuku lebih berharga daripada untuk meladeni setiap omong kosong mereka."
Fuck, Sehun terdengar seperti.. Sebastian sekarang. Dan, oke, itu adalah satu hal yang bagus. Namun, Vernon yakin kalau perkataan super bijak itu hanyalah topeng yang Sehun pakai untuk menutupi segala macam tekanan di dalam dirinya. Meskipun, mereka jarang bertemu dan Sehun bukanlah kakak yang bisa ia jadikan panutan. Ia mengenal Oh Sehun lebihbaik dari publik atau bahkan ayah mereka. Ia tahu kalau di balik segala macam tingkah arogan serta menyebalkannya. Sehun adalah seseorang yang memiliki kepercayaan diri rendah atau kind of insecure person, hingga kadang pria itu bisa menyiksa dirinya sendiri dengan drugs serta alkohol.
Sehun pernah sekali OD (overdose) dan masuk rehab selama dua tahun lebih. Ketika, Vernon bertanya apa yang ada di dalam pikiran pria itu sampai-sampai ia menggantungkan nyawanya pada heroin. Sehun hanya mengangkat bahunya dengan mata kosong. Lalu menjawab, "I just.. hate myself so much." yang kemudian membuat pria itu masuk rehab lagi karena ia tidak bisa berhenti menghabiskan botol alkohol di dalam kamarnya.
He's fucked up, but he's my brother.
"Sungguh?"
Raut wajah Sehun berubah melembut. Seutas senyum kecil tertarik di bibirnya. "Sungguh. Berhenti mencemaskanku,"
Tidak bisa. "Ya, ya, lain kali aku tidak akan membelamu lagi, bro. Tolong ingatkan aku akan itu,"
"Whatever," Sehun memutar mata, tapi senyumnya semakin mengembang. "bitch."
Bibir Vernon berkedut hebat sampai akhirnya ia menyerah dan tertawa. "Fucking jerk,"
Sehun memberikan jari tengah padanya, kemudian mengecek ponselnya yang penuh oleh notifikasi entah itu dari media sosial atau pesan singkat. Dari berbagai macam notifikasi yang diterimanya, ada notifikasi dari lima pesan yang menarik perhatian Sehun. Ia teringat akan janjinya yang terpaksa ia ingkari.
Jongin : Aku mendengar soal insidenmu. I hope you are okay
Jongin : tapi, hey, aku mengingkari janjimu!
Jongin : padahal kau sendiri yang bilang!
Jongin : [image]
Sehun membuka gambar yang Jongin kirimkan padanya. Ternyata, itu screenshot percakapan terakhir mereka.
Jongin : aku menuntut Starbucks sebagai permohonan maaf!
Setelah, membaca pesan Jongin yang penuh dengan tanda seru. Sehun mulai merasa berutang permohonan maaf padanya karena ia tidak bisa datang. Ia tidak menyimpulkan Jongin menunggunya semalaman dan berakhir kecewa karena ia tidak datang. Tidak, untuk apa Jongin menunggu seorang bajingan yang bahkan pria itu tidak begitu kenal?
(tanpa dirinya ketahui, Jongin menunggunya, mencarinya dan merasa dibohongi oleh janji manis Sehun)
me : Dua hari lagi. Kita bertemu di Starbucks, pusat kota Seoul. Jam 12
Sehun melirik ke arah Vernon yang kini melemparkan tatapan aneh padanya. "Kenapa kau tersenyum lebar seperti itu? Apa seorang gadis mainanmu baru saja mengirimkan foto nude?" tebak Vernon. Kali ini, matanya berubah menjadi berbinar. "aku ingin lihat!"
Sehun menghela nafas. Terkadang, Vernon bisa menjadi seperti dirinya dan itu bukan sesuatu yang baik. Sehun berharap kalau Vernon bisa lebih dekat dengan Sebastian dan meneladani figur kakak mereka itu, seperti Sehun dulu. Namun, sayangnya Sebastian selalu sibuk sejak pria itu menginjaki usia legal. Ayah mereka mulai mempersiapkan Sebastian untuk menjadi penerus tahtanya. Sehingga, Vernon tumbuh bersama dengan dirinya. Seorang bajingan yang mengajarkan adiknya merokok ketika Vernon berumur 14 tahun.
Untungnya, Vernon adalah seorang pecundang yang kemudian berakhir menasehatinya akan bahaya merokok bagi kesehatan serta lingkungan selama dua jam lebih.
Sehun kembali memberikan jari tengahnya lalu menambahkan, "Nanti malam, temani aku ke Korea Selatan."
Vernon nyaris meloncat dari kursinya karena Sehun baru saja pulih dan bajingan ini sudah berani keluar dari rumah sakit lalu pergi ke Korea. Yang benar saja! Sehun menatapnya dengan wajah datar seolah ia tahu apa yang Vernon pikirkan. Mungkin, pria itu memang sedang menunggu penolakan darinya. "Kalau kau tidak mau ikut, aku bisa pergi sendiri," kata Sehun dengan entengnya. Lihat, bajingan ini benar-benar cari mati.
Vernon tahu kalau ia bertanya mengenai tujuan Sehun ke Korea. Pria itu tidak akan menjawabnya, kecuali ia setuju menemani bajingan itu. Vernon menghela nafas panjang. Ia tidak mungkin membiarkan kakaknya yang baru saja pulih pergi sendirian. Ia tahu kalau Sehun membutuhkan bantuannya sekarang dan sebagai seorang adik ia akan selalu berdiri di belakang Sehun untuk mendukung segala keputusannya, sekalipun kadang ide gila Sehun dapat membahayakan dirinya.
"Aku ikut," jawab Vernon setengah menggeram. Ia benar-benar hopeless sekarang.
Sehun menarik senyum di sudut bibirnya lalu melemaskan otot-otot tubuhnya yang sempat menegang. Kantuk mulai menyerang dirinya membuat ia memerosotkan bahunya pada ranjang rumah sakit yang terasa seperti rumah sekarang. "Thanks, bro," bisiknya sebelum ia memejamkan mata.
.
.
"Nay, I think I have crush on Oh Sehun,"
Malam ini, Nayeon menginap di tempatnya karena ia terlalu mabuk untuk pulang ke apartemennya. Mereka berakhir menonton CSI dengan kepala Nayeon bersandar pada bahunya lalu perlahan memeluknya erat. Jongin tidak keberatan karena, umm, mereka pernah berkencan beberapa tahun yang lalu. Hubungan mereka hanya bertahan selama sebulan karena Jongin lebih menyukai penis daripada vagina dan Nayeon selalu menginginkan sahabat gay.
"Good for you?"
Jongin menggeram depresi. "Kau tidak mengerti, Nay. Dia itu pangeran dan terakhir kali aku cek di Google, tidak ada pangeran gay,"
"FYI, Sokovia adalah salah satu negara monarki yang melegalkan pernikahan sesama jenis," Nayeon tidak sengaja memindahkan channel TV menjadi acara kartun. "tapi, aku pernah membaca artikel tentang ayah Sehun. Ada rumor yang beredar kalau pria itu pernah memukuli anaknya. Tapi, tentu saja, karena ia seorang raja rumor itu tidak pernah dibuktikan kebenarannya,"
Jongin menonton acara kartun itu dengan mata kosong. Mungkin saja, rumor itu bukanlah suatu rumor konyol yang dapat ditertawakan. Melainkan, satu fakta yang berusaha dikubur oleh keluarga kerajaan untuk melindungi reputasi mereka. Tingkah laku Sehun yang selama ini selalu menjadi sorotan seolah menjerit meminta perhatian pada kedua orangtuanya yang selama ini tidak pernah didapatkannya. Jongin memang bukan seorang psikolog. Namun, tanpa perlu menjadi seorang psikolog ia tahu kalau apa yang Sehun tunjukkan di publik bukanlah karakter pria itu sebenarnya.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku bersumpah kalau aku akan membakar koleksi film Marvel-mu kalau kau memilih untuk menghindar dan menjauh darinya," ancam Nayeon terdengar serius dan tidak main-main.
Jongin nyaris melempar tubuh gadis itu ke lantai karena tidak ada satu pun orang yang hidup (atau bahkan mati) yang boleh menyentuh koleksinya. "Besok aku akan bertemu dengannya di Starbucks," kata Jongin.
Nayeon melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke arah Jongin. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Mata gadis itu membulat lalu seutas senyum tertarik di bibirnya lebar. "OMG, kau akan kencan dengan seorang pangeran besok?!"
Jongin menggeram. "Tidak, bukan kencan,"
Nayeon mengibaskan tangan. Janjian bertemu di Starbucks terdengar seperti kencan baginya. "Benarkah? Aku yakin hanya kau yang berpikir begitu,"
Jongin sadar bahwa ada sebagian dari dirinya yang berharap setelah mendengar perkataan konyol Nayeon. Namun, setiap ia memikirkan status sosial Sehun sebagai Pangeran Sokovia. Jongin merasa kalau semua itu hanyalah khayalannya. Ia tidak hidup di dalam dongeng Disney yang dapat menjanjikannya suatu happy ending. Ia hidup di dunia nyata yang selalu menawarkan janji palsu.
"Kau tahu, dua minggu lagi Sehun akan dikirim ke Irak. Jadi, sebelum kau menyesal nantinya. Pergunakan sisa waktunya itu dengan bijaksana. Singkirkan ego ataupun rasa cemasmu," Nayeon mengelus pipinya dengan lembut. Mengingatkan, Jongin akan ibunya yang entah ada dimana sekarang. "buat dirimu bahagia, Jongin. Kau pantas untuk merasakan itu,"
Sempat terpikir olehnya untuk mencium Nayeon kala itu. Sebelum, akhirnya ia sadar kalau ide konyol itu hanya akan menghancurkan suasana dan membuat situasi menjadi awkward. Jadi, Jongin memutuskan untuk menarik Nayeon ke dalam pelukannya tanpa bicara atau menjanjikan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Nayeon kembali bersandar padanya lalu mulai membuat komentar menggelikan tentang kartun anjing serta kucing yang memiliki satu badan. Gadis itu membuatnya terbahak keras semalaman. ("Serius, Jongin, apa tidak pernah terpikir olehmu? Aku selalu memikirkan bagaimana caranya mereka poop. Maksudku, mereka hanya punya satu badan yang menyatu. Jadi, bagaimana caranya?!)
Rasa hungover yang mulai menyerangnya terasa begitu ringan untuk ia abaikan. Terima kasih pada Nayeon dan rasa ingin tahu gadis itu yang sangat besar.
("Hei, berhenti tertawa! Kalau kau tidak mau menjawabku, aku akan cari di Google!")
.
.
Sehun terbiasa dengan perbedaan waktu empat jam lebih awal di Seoul. Sedangkan, Vernon yang baru dua kali ini berkunjung ke Korea setelah bertahun-tahun lamanya perlu menyesuaikan diri dan memilih untuk tidur seharian di hotel mereka. (Ya, ayah mereka bekerjasama dengan pengusaha lokal dan mendirikan hotel bersama.)
Vernon bertanya siapa orang yang akan ditemuinya di Starbucks. Sehun menjawab kalau ia akan bertemu dengan seorang teman lama yang tentu saja adalah sebuah kebohongan. Jongin bukanlah teman lamanya. Damn, bahkan ia tidak tahu apakah dirinya dan Jongin berteman atau tidak. Seperti dugaannya, Vernon menatapnya dengan curiga tapi tidak ingin mendesaknya untuk berkata jujur. Berbeda sekali dengan Sebastian serta ibunya yang selalu membuat Sehun mengakui segala macam rahasia yang dirinya sembunyikan dari mereka.
Sehun menyewa sepeda motor klasik di salah satu toko yang Kyungsoo rekomendasikan padanya. Hari ini ia tidak ingin menarik perhatian siapapun dengan motor atau mobil mewahnya. Ia menjadi warga biasa yang tidak perlu memikirkan kedamaian negaranya atau perang yang harus ia menangkan nantinya. Sehun naik ke atas motornya dan mulai memanaskan mesin. Ia memakai kaos v-neck berwarna hitam serta celana jeans biasa. Kali ini, ia tidak memakai kalungnya. Sehun memakai kacamata Raybean hitamnya sebelum ia mengendarai motor keluar dari basement hotel.
Jalanan Kota Seoul jauh lebih lebar dan padat daripada di Sokovia. Jujur saja, ia tidak pernah menyukai suasana kota metropolitan yang menurutnya terlalu menyesakkan. Ia lebih suka suasana kota-kota di pelosok Eropa yang populasi penduduknya tidak begitu banyak dan kebanyakan penduduknya menggunakan sepeda sebagai transportasi utama. Well, pada dasarnya segala macam image party boy in town yang dirinya miliki hanyalah akting.
Sesungguhnya, Sehun adalah seorang nerd yang menyukai Star Wars serta komik Marvel.
Namun, itu bukan berarti kalau ia tidak merokok, kecanduan minuman keras atau menghisap ganja. Ia melakukan ketiga hal itu dengan sangat mudah tanpa pertimbangan. Terkadang, ia menyesalinya dan juga membutuhkannya disaat yang bersamaan.
Inti dari semua ini, Sehun hanya berusaha menemukan suatu pelarian. Dari masalahnya, hidupnya, dan terutama ayahnya.
Tidak sampai setengah jam, ia memarkirkan motornya di depan Starbucks. Ia melihat Jongin yang duduk persis di samping etalase kafe. Ia mengamati wajah Jongin yang bersinar di bawah teriknya mentari. Senyum di bibir pria itu membuat Sehun merasa tenang. Ia tidak tahu mengapa dan ia juga tidak ingin mencari tahu. Sehun melangkah masuk ke dalam Starbucks. Ia segera memesan Signature Chocolate favoritnya. Jongin masih belum menyadari kehadirannya, bahkan sampai Sehun duduk di hadapannya. Pria itu sibuk dengan ponselnya. Sehun menebak kalau itu adalah urusan pekerjaan.
Ia mendengar kalau Kim Jongin adalah pria yang cukup populer di kota. Dengan kekayaan ayahnya serta reputasinya di dunia jurnalistik. Sehun yakin kalau Jongin akan dihormati oleh keluarganya jika suatu hari nanti ia membawa pria itu ke Soko- wait, what?! Apa yang baru saja ia pikirkan? Seriously, what the fuck is wrong with my stupid brain? Sehun mulai mengutuki dirinya sendiri dan tanpa sengaja tertegun menatap lurus ke arah Jongin.
Ketika, Jongin mengangkat kepalanya dari ponsel dan matanya bertumbukan dengan Sehun. Kedua pria itu sama-sama terkejut dan tidak bisa menggerakkan mulut mereka untuk bicara. Mereka saling berpandangan selama dua menit sebelum akhirnya Sehun sadar kalau situasi ini benar-benar memalukan. Ia tidak pernah seburuk di depan patner ken- wait, what?! sejak kapan ini menjadi kencan?! Sehun kembali mengutuki otaknya yang malang.
"Hei, kau sudah menunggu lama?" Sehun memilih untuk basa-basi sebagai pembuka obrolan. Gerak tubuhnya benar-benar canggung sampai Jongin perlu mengeraskan rahangnya agar tidak tertawa. He's kind of cute like this, pikir Jongin.
"Tidak juga. Mungkin, sekitar tiga jam," jawab Jongin mencoba untuk bercanda.
Sejenak, Sehun berpikir kalau Jongin memang menunggunya selama tiga jam. Namun, setelah ia melihat bibir Jongin yang berkedut serta sorot matanya yang sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Ia sadar kalau pria itu berbohong. "Seharusnya, aku tidak datang saja," balas Sehun dengan wajah serius.
Wajah Jongin berubah menjadi panik. Pria itu membuka mulutnya lalu menutupnya lagi karena takut kalau kata-katanya hanya akan memperparah situasi. Ia tidak menyangka kalau Sehun ternyata memanglah seorang bajingan. Matanya bergerak gusar serta ia mulai memainkan jarinya sendiri. Sehun tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Pangeran Sokovia itu tertawa keras sampai beberapa orang di sekitar mereka menoleh.
"Kita seri sekarang," ujar Sehun kemudian sambil menarik seringai.
Jongin terdiam sejenak. Sebelum, akhirnya ia memproses apa yang baru saja terjadi. "Oh my god, Sehun! Itu sama sekali tidak lucu, oke?" Sehun menyumpal telinganya dengan jari berpura-pura tidak mendengar Jongin. "lagipula, aku tahu kalau kau hanya aku bercanda! Aku tidak semudah itu termakan aktingmu,"
Jongin melipat kedua tangannya di depan dada. Bibir pria itu mengerucut maju seperti bocah yang sedang merajuk pada ibunya. Sehun mencoba sangat keras untuk tidak tersenyum atau mencium bibir pria itu.
Fuck. Terakhir kali ia cek, dirinya bukan gay. Ia tidak pernah tertarik dengan pria manapun sebelumnya. Namun, ada sesuatu di dalam diri Jongin yang menariknya lebih dalam dan semakin dalam.
"Oke, oke, aku minta maaf,"
"Kau bahkan tidak membelikanku Starbucks. Aku membayar Frappe ku sendiri,"
"Oke, oke, aku juga minta maaf untuk itu,"
Sehun mulai menggunakan puppy eyes yang bisa dibilang adalah jurus ampuhnya. Sebastian dan Vernon setiap mereka memohon sesuatu pada ibu mereka. Biasanya, wajah tertindas ini selalu berhasil dan tidak jarang juga membuatnya berakhir dihukum oleh ayah. Jongin menyipitkan matanya lalu menggeleng. "Tatapan itu tidak berguna padaku. Kakakku selalu menggunakannya dan aku berakhir menendangnya. Tapi, karena aku sedang berbaik hati sekarang. Jadi, aku memaafkanmu," Sehun memutar mata yang kemudian mendapat respon tendangan kaki dari Jongin. "asal kau ikut denganku ke suatu tempat."
"Kemana?" tanya Sehun dengan cepat. Jika, dilihat dari seringai yang tertarik di bibir Jongin. Sehun mendapat firasat kalau Jongin akan menyiksanya setelah ini.
Mungkin, pria itu akan membunuhnya. Siapa yang tahu bukan? Bisa saja Jongin adalah seorang pembunuh berantai yang meng-
Jongin meninju pelan bahu Sehun membuat pria itu tersadar dari asumsi gilanya. "Asal kau tahu saja, aku bukan pembunuh berantai," gumam Jongin sambil memutar mata.
Oke, bukan pembunuh berantai. Tapi, apa mungkin Jongin adalah seorang mind-reader?
Kali ini, Jongin memukul kepalanya cukup keras. Sehun mengaduh kesakitannya, tapi tidak berniat untuk membalasnya. "Aku juga bukan seorang mind-reader. Kau hanya memiliki ekspresi wajah yang mudah ditebak saja. Idiot," kata Jongin lalu tersenyum kecil.
"Well, kau bukan orang pertama yang menyebutku idiot," balas Sehun.
Jongin menganggukkan kepala tidak terkejut oleh perkataan Sehun itu. Ia yakin ibu Sehun atau Ratu Sokovia lah orang yang paling sering menyebutnya begitu. Jongin bangkit berdiri yang kemudian disusul oleh Sehun. Mereka berjalan keluar dari Starbucks dan Jongin tercenung di tempat begitu melihat Sehun menaiki motor antik yang terparkir persis di depan Starbucks. Sehun menoleh padanya seraya berkata, "Cepat naik!"
Fuck. Kenapa Sehun terlihat sangat seksi di atas motornya? Pria itu tampak bad-ass dengan kacamata hitam serta motor antiknya. Model Abercrombie saja, yang cukup sering ia lihat mondar-mandir studio majalahnya, tidak memberikan efek sedahsyat ini pada Jongin. Tanpa dirinya sadari, pipinya memerah hebat saat ia duduk di belakang Sehun. Damn, benar kata Nayeon, ia selalu berubah menjadi seperti remaja perempuan setiap ia berdekatan dengan orang yang disukainya.
"Kalau boleh memeluk pinggangku kalau kau mau," gurau Sehun. Namun, dalam hatinya pria itu berharap kalau Jongin akan benar-benar memeluknya. Dengan erat.
Jongin menundukkan kepala hingga keningnya bertumbukan dengan punggung Sehun. Ia benar-benar akan membalas pria itu saat mereka sampai di sana. "Shut up, Yang Mulia Oh Sehun!"
Sehun memutar mata lalu memanaskan mesin motornya. "Okay, princess,"
.
.
Sehun mulai merasakan firasat buruk ketika Jongin mengarahkannya ke pinggiran koto yang cukup jauh dari pusat Seoul. Mereka berhenti di depan rumah bergaya tradisional Jepang. Jongin menyebutkan namanya lewat intercom di samping pagar, kemudian selang beberapa menit seorang wanita muda seusia mereka membukakan pintu pagar rumah.
"Jangan tertipu oleh semua ini," bisik Jongin padanya. Ia masih tidak mengerti apa maksud dari peringatan Jongin. Mungkin, saat mereka masuk ke dalam rumah. Ia akan menemukan jawaban yang diinginkannya.
Jongin sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah ("that bitch," bisik Sehun pada dirinya sendiri). Wanita itu menutup pintu pagar lalu berjalan menghampirinya. Sehun memarkirkan motornya di dalam garasi yang cukup luas. "Mari saya antar, Yang Mulia," tawar wanita itu dengan sopan. Wanita itu membungkuk hormat padanya dan tidak berani membuat kontak mata dengannya.
"Ya, tentu saja," Sehun membalas tawarannya dengan canggung. Sampai detik ini, sesungguhnya Sehun tidak pernah terbiasa diperlakukan sebagai pangeran. Jika, keluarga kerajaan lainnya menyukai rasa hormat serta tunduk dari warga biasa seperti ini. Sehun malah merasa perlakuan mereka ini adalah suatu wujud rasa takut mereka pada keluarga kerajaan. Dan perasaan ditakuti oleh seseorang itu bukan satu perasaan yang dapat memuaskan egonya. Fuck, ia bukan tipe bajingan seperti itu.
Wanita itu menuntunnya masuk ke dalam rumah melewati lorong serta ruangan kosong. Sehun mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah yang dindingnya dihias oleh beberapa figura foto yang mengabadikan keluarga Kim. Sesaat, ia tertegun menatap satu bingkai yang menampilkan foto masa kecil Jongin dan.. Joonmyon?
"Sejak kecil, Tuan Muda Joonmyun dan Jongin dibawa oleh ayah mereka untuk berlatih di sini. Joonmyun tidak begitu tertarik, begitupun dengan Jongin. Namun, lama-lama Tuan Jongin menjadi sangat tertarik dengan Krav Maga," jelas wanita itu yang kini berdiri tidak jauh darinya, ikut memandangi figura foto di dinding.
Sehun menganggukkan kepala. Ayah Jongin adalah seorang kapten pada saat Korea masih berperang melawan Jepang. Setelah perang berakhir, pria itu membangun perusahaan persenjataan dengan harapan ia dapat membantu melindungi Korea tanpa harus menggunakan tenaganya. Bagaimanapun juga, pria itu sudah tua dan renta. Ia tidak mungkin berperang lagi dan meninggalkan istri serta kedua anaknya.
"Ayo, saya antar ke halaman belakang, Yang Mulia. Tuan Jongin pasti sudah memulai latihan Krav Maga-nya," wanita itu berjalan kembali di hadapannya. Sehun melirik ke arah foto yang membingkai senyum Jongin kecil itu untuk terakhir kalinya. Tanpa ia sadari, ia juga ikut tersenyum.
Namun, senyum itu segera mengendur begitu ia menyadari kalau Krav Maga adalah seni bela diri yang dipakai oleh tentara Israel.
.
.
Sehun menonton Jongin bertarung melawan seorang pria paruh baya dengan tubuh dua kali lebih besar dari Sehun ataupun Jongin.
Mata Jongin ditutup oleh kain hitam, menunggu serangan dari pria itu dengan waspada. Ketika, pria itu menggerakkan kakinya untuk menyerang kaki Jongin. Jongin melompat, memutar tubuhnya lalu menendang perut pria itu dengan kaki kirinya. Setiap gerakan pria itu sangat cepat, bahkan mungkin lebih cepat daripada ninja. Mungkin, inilah mengapa Krav Maga adalah salah satu seni beladiri yang digunakan untuk membentuk tentara perang yang sempurna.
Setiap serangan yang diberikan oleh pria itu padanya dapat Jongin hindari dengan mudah. Hingga, saat latihan berakhir dan Jongin membuka penutup matanya. Sehun hanya bisa bertepuk tangan di pinggir pekarangan rumah. Jongin berjalan menghampirinya dan sebelum pria itu membuka mulut. Sehun langsung berkata, "Tidak, aku tidak akan bisa menguasai Krav Maga dalam waktu satu hari."
"Aku tahu, oke? Selain itu, kau juga baru saja keluar dari rumah sakit jadi mungkin lain kali aku akan mengajarimu," jelas Jongin membuat Sehun merasa jauh lebih lega. "aku mengajakmu ke sini untuk latihan menembak,"
Jongin menyeringai padanya. Mungkin, ia berpikir kalau Sehun juga payah dalam urusan menembak target. Sehun menahan seringai di bibirnya sambil memasang wajah panik yang tentu saja hanyalah akting.
Ia memang sangat payah dalam hal bela diri. Namun, bukan berarti kalau ia tidak bisa menembak seperti tentara lainnya. Sejak kecil, ayahnya selalu memberikan pilihan olahraga yang ingin ditekuni kepada ketiga anaknya. Sebastian memilih untuk menguasai bela diri. Vernon memilih untuk memanah. Sementara, dirinya adalah menembak. Fuck, itu bahkan bukan olahraga. Namun, untuk pertama kalinya, ayahnya terlihat bangga saat ia menyebutkan pilihannya itu.
Sehun dilatih oleh penembak terbaik di Sokovia. Sama seperti Jongin yang menggunakan instingnya dalam Krav Maga, Sehun juga melakukan tipe latihan yang sama. Ia sering kali meminta gurunya untuk menutup matanya saat ia akan menembak. Setelah, dua tahun menajamkan serta memercayai instingnya. Sehun dapat menembak targetnya meski dalam gelap. Ia bahkan tidak memerlukan matanya lagi untuk menembak seseorang atau menghindar dari peluru lawan. Insting serta rasa percaya kepada kemampuannya sendiri adalah dua hal yang diandalkannya setiap ia memegang erat pistol maupun senapan.
Jongin membawanya ke dalam satu tempat yang menyerupai rumah kaca. Bedanya, kaca bukanlah bagian utama yang melapisi tempat itu. Di dalam ruangan, Sehun melihat ada berbagai jenis pistol, senapan berlaras panjang maupun pendek. Ia berbalik menghadap Jongin yang tengah menyerahkan sebuah pistol berukuran biasa padanya. "Ada lima peluru di dalam pistol ini yang artinya aku memberikanmu lima kesempatan untuk menembak," jelas Jongin.
Setelah itu, ia berjalan ke seberang ruangan dan menekan salah satu dari empat tombol di tembok. Suara mesin yang berjalan terdengar dari depan Sehun. Ada empat papan berbentuk manusia di depannya. Keempat papan itu bergerak dari lambat menjadi cepat. Sehun tahu kalau Jongin sedang mengetes kemampuannya. Dengan seringai, Sehun mensejajarkan arah pandangnya dengan pistol yang ditujukan pada target pertamanya. Ia menarik nafas lalu melepaskannya saat ia menekan pelatuk pistol. Peluru pertamanya menembus kening manusia papan itu dan juga menembus papan kedua serta ketiga.
Sehun menoleh ke arah Jongin yang kini menatapnya dengan kagum bercampur tidak percaya. Sehun mengangkat bahunya berusaha keras untuk menahan senyum arogan tertarik di bibirnya. "Seperti perhitunganku. Atau mungkin, aku sedang beruntung saja," ujanya lalu menembakkan peluru keduanya mengenai papan keempat. Damn, ia bahkan tidak menoleh ke depan sama sekali. "dan mungkin aku memang pria yang sangat beruntung,"
"You son of a bitch!" tukas Jongin lalu terkekeh geli. Jujur saja, ia benar-benar terkejut dengan kemampuan menembak Sehun yang bahkan jauh lebih profesional dari dirinya.
Sehun menaikkan satu jari dan menaruh pada bibirnya. Ia meminta Jongin diam karena ini adalah momen terakhirnya. Ia menembakkan peluru ketiganya ke arah papan terakhir itu dan seperti biasanya ia tidak pernah meleset. "Aku masih punya dua peluru lagi,"
Jongin membungkam mulut pria yang mulai arogan itu dengan miliknya. Bibir mereka bergerak saling melumat satu sama lain. Satu tangan Jongin berada pada leher Sehun, menekannya, untuk memperdalam ciuman mereka. Sehun sadar kalau Jongin bukanlah orang pertama yang pernah diciumnya. Ini jelas bukan ciuman pertamanya. Namun, Kim Jongin membuatnya seperti remaja laki-laki berusia 14 tahun yang ingin menelusuri dimana batasnya serta tidak ingin berhenti melakukan ini. Dia bisa melakukan ini sampai besok kalau Jongin mengizinkannya atau mereka tidak kehabisan nafas.
Ketika, Jongin melepaskan ciuman mereka. Sehun dapat melihat suatu ketakutan tersorot jelas dari mata pria itu. Jongin kemudian mengalihkan wajahnya tidak ingin Sehun melihat apa yang selama ini disembunyikannya. Namun, sayangnya ia terlambat. Sehun menangkup kedua pipinya membuat mata mereka kembali bertemu. "Everything is gonna be okay," Sehun mengusap setetes air mata yang jatuh dari mata Jongin. "we are gonna be okay,"
Meskipun, sulit untuk dirinya percayai. Jongin mencoba untuk tetap percaya.
Ia akan memegang teguh kepercayaannya kalau Sehun akan kembali. Mereka bisa melewati perang itu dengan mudah. Tidak akan ada yang terluka. Sehun akan kembali padanya.
"I think I.. like you," bisik Jongin cukup keras untuk didengar Sehun. Fuck, Nayeon akan sangat bangga pada dirinya setelah ini.
Sehun tersenyum lebar lalu mengecup keningnya dengan lembut. "Aku juga,"
.
.
Sehun duduk di seberang pria paruh baya yang mengingatkan dirinya pada aktor yang bermain di film James Bond. Sementara itu, Jongin dan wanita yang tadi menyambut mereka sedang menyiapkan makan malam.
Merasa dirinya tidak bisa tertegun menatap pria itu terus-menerus, Sehun mengambil inisiatif untuk mengulurkan tangannya pada pria itu. "Oh Sehun," ucapnya.
Pria itu terdiam sejenak, melirik ke arahnya dengan satu tatapan yang sulit dirinya jelaskan, lalu akhirnya ia menjabat tangan Sehun. "Aku tahu, Yang Mulia. Senang bertemu denganmu. Panggil saja aku Liam,"
"Atau Sergeant Liam Bond," celetuk Jongin dengan menirukan aksen british James Bond.
Wanita yang berdiri di belakang Jongin mengulum senyum, menahan tawa yang berada di ujung bibirnya. Setelah itu, ia menaruh beberapa jenis makanan dari nampannya dan kembali ke dapur. "Jangan dengarkan bocah itu. Pangkatku memang sersan, tapi nama belakangku bukan Bond," tukas Liam seraya melemparkan delikan tajam pada muridnya.
Jongin mendekatkan dirinya pada Sehun, lantas pura-pura berbisik di samping telinganya. "Kau lihat wajahnya, kan? Dia pasti adalah kembaran James Bond,"
Sehun tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi. Ia menghadap ke arah Jongin lalu mencubit hidung pria itu. "Berhenti mem-bully Liam sebelum ia mengadukanmu pada MI6,"
"Terima kasih, Yang- hei, kau sama saja dengannya!" teriak Liam frustasi begitu ia menyadari kalau Sehun tidak sepenuhnya berpihak padanya.
Sehun dan Jongin terbahak keras. Mereka tidak boleh melewatkan kesempatan ini begitu saja. Kapan lagi mereka bisa menindas seorang tentara berpangkat sersan yang kebetulan memiliki wajah serupa dengan James Bond? Sehun percaya kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Mengingat, mungkin ini juga pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Liam.
Makan malam mereka lewati dengan memperolok wajah Liam, Sehun yang tidak berhenti meremas paha Jongin dan Jongin yang memerah karena tangan Sehun semakin dekat dengan penisnya. Wanita cantik yang bernama Jiyeon itu ikut makan malam bersama mereka dan duduk di samping Liam. Jiyeon tidak banyak bicara, tapi wanita itu selalu menjadi orang pertama yang menutup mulut, meredam tawanya setiap Liam menjadi target bully malam ini.
"Jadi, kau akan dikirim ke Irak dua minggu lagi," kata Liam. Akhirnya, ia bisa mengeluarkan pertanyaan yang selama ini berada di pikirannya begitu ia melihat Sehun. "apa kau sudah menyusun strategi untuk misi penyelamatan itu? Irak adalah medan perang yang mematikan,"
Sehun tahu kalau Liam tidak bermaksud untuk balas dendam dengan pertanyaan yang cukup membebaninya. Ia tahu kalau pria itu hanya penasaran seperti publik yang tidak berhenti mempertanyakan kemampuannya dalam menyelesaikan misi penyelamatan ini. Sehun sadar kalau bukan hanya nama keluarga kerajaan saja yang dipertaruhkannya, melainkan juga nyawa para tentara yang mengikutinya serta tahanan yang mengharapkan keselamatan darinya.
Tiba-tiba saja, Sehun merasa ia sedang menghadapi jalan buntu. Ia tidak memiliki pilihan lain untuk melarikan diri, selain pergi ke Irak dan membawa pulang anggota tim serta warganya yang menjadi tahanan itu dalam keadaan selamat, yang tentu saja terdengar sangat mudah. Namun, pada kenyataannya.. tentu tidak semudah itu.
Jongin menggenggam tangannya, meremasnya beberapa kali seolah ia tahu apa yang dirinya cemaskan sekarang. Sehun menarik nafas panjang lalu menjawab pertanyaan Liam dengan kepala terangkat, "Ya, aku memang dipilih untuk menjadi kapten dalam misi ini. Sebelum, dikirim ke Irak bersama dengan tentaranya lain. Aku akan mendapat pelatihan di US Army selama seminggu. Jadi, mungkin besok aku akan kembali ke Sokovia."
Kata-kata terakhir itu Sehun tujukan untuk Jongin. Liam menatap keduanya dengan tatapan iba, begitupun dengan Jiyeon. Sehun tidak berani menoleh ke arah Jongin dan melihat kekecewaan terpantul jelas dari matanya. Kali ini, dirinyalah yang meremas tangan Jongin. Seolah ia berkata pada pria itu kalau mereka bisa melewati semua ini. Mereka pasti bisa.
.
.
Jongin mengajak Sehun ke kamarnya setelah makan malam selesai.
Pria itu masih menggenggam tangannya dan menariknya masuk ke dalam ruangan yang cukup luas untuk ukuran kamar. Jongin menyalakan lampu kamar lalu menutup pintu. "Aku selalu bersembunyi di sini setiap aku merasa kalau ayahku ingin mengubah diriku menjadi orang lain, menjadi seorang tentara yang hanya menuruti setiap misinya dan mengabaikan perasaannya," Jongin melepaskan genggamannya. Ia melangkahkan kakinya dan berhenti tidak jauh dari Sehun.
"Itu terdengar seperti pembunuh daripada tentara," tukas Sehun. Matanya terpaku pada Jongin yang kini membuka kaosnya.
Jongin melemparkan kaosnya ke atas ranjang queensize. Ia kemudian membuka retsleting celananya, masih membelakangi Sehun yang semakin sulit menahan libidonya. "Sayangnya, dia tidak berpikir begitu. Mungkin, karena Joonmyun memutuskan untuk meneruskan perusahaan dan pilihan terakhirnya jatuh padaku. Ia-" Jongin menurunkan celana jeansnya. Kalimatnya terputus sampai di situ. Sekarang, barulah ia berbalik menghadap Sehun yang hanya bisa terdiam mengamatinya. "Let's take a bath togather,"
Sehun tidak bisa menolaknya. Jongin is fucking beautiful and there is no way he can reject him. "Aku akan menunggu di kamar mandi," kata Jongin sebelum pria itu meninggalkannya.
Sehun membeku di tempatnya. Matanya bergerak dengan gusar berusaha mencari jalan terbaik untuk menghadapi situasi ini. Sempat terpikir olehnya untuk melarikan diri karena ia tidak ingin melukai Jongin sebelum mereka jatuh semakin jauh ke dalam entah hubungan apa yang mereka miliki sekarang. Sehun atau Jongin sendiri pun sadar kalau tidak ada masa depan bagi mereka. Sokovia tidak mungkin memiliki pangeran gay dan mungkin saja Sehun tidak akan pulang dengan selamat setelah perang itu berakhir. Tidak ada yang tahu, bukan? Masa depan adalah suatu misteri yang sampai detik ini tidak dapat mereka prediksi.
Sehun membuka kaos serta celananya. Ia sengaja tidak melepaskan boxernya seperti Jongin. Pintu kamar mandi dibiarkan terbuka, sehingga Sehun dapat melihat dengan mudah apa yang Jongin lakukan di dalam sana. Pria itu sedang berendam di dalam bath-tub dengan posisi membelakangi Sehun. Jika, dilihat dari tempatnya berdiri Jongin tampak seperti sedang memeluk kedua kakinya. Sehun melangkah masuk lalu bertanya, "Do you mind?"
Kini, ia berdiri menghadap Jongin dan tahu betul akan maksud dari permohonan izinnya. Jongin memejamkan matanya. Sehun segera menurunkan boxernya lalu masuk ke dalam bath-tub, duduk berseberangan dengan Jongin. "Buka matamu," titah Sehun. Suaranya terdengar lembut, sehingga Jongin tidak keberatan jika harus melakukan apa yang diperintahkannya setiap hari.
Mereka saling bertatapan sekarang. Sehun mencoba menerawang kisah hidup Jongin lewat matanya. Ketika, Jongin tersenyum lemah mencoba untuk tetap tegar di hadapannya. Sehun sadar kalau sesunguhnya mereka tidak berbeda jauh. "Aku ingin menyentuhmu melewati batas ini," tapi, aku tidak bisa. Aku tidak ingin meninggalkan kenangan manis dan kemudian esok harinya pergi meninggalkanmu sendirian di sini.
Kalimat itu tentu saja tidak terucap di bibirnya. Namun, Jongin tahu dan mungkin itulah yang membuatnya begitu depresi sekarang. Ia ingin menyerahkan seluruh yang ia punya pada Sehun. Namun, dilain sisi ia sadar kalau Sehun tidak akan pernah menjadi miliknya dan ia tidak ingin terluka hanya karena perasaannya terhadap seorang pangeran.
"Setelah semua ini berakhir," Jongin menarik nafas panjang. He can do it. Ia pasti bisa. "kau boleh menyentuhku dimanapun kau mau. Tapi, satu permohonanku. Tolong jangan ucapkan selamat tinggal karena kau tidak akan meningalkanku. Kita pasti akan bertemu lagi,"
Sehun tidak bisa menahan berbagai macam gejolak serta perasaan yang menggebu-gebu di dalam dirinya. Ia memegang pinggiran bath-tub, mendekatkan dirinya pada Jongin lalu mengecup keningnya. Jongin hanya memejamkam matanya berharap apa yang mereka miliki sekarang bukanlah suatu ilusi selintas saja, melainkan kenyataan yang pernah dialaminya dan dirasakannya. "Setelah semua ini, bibirmu hanya milikku seorang," bisik Sehun.
Dan Jongin membuat janji pada dirinya sendiri kalau bukan hanya bibirnya saja yang akan menjadi milik Sehun seorang.
Melainkan, seluruh dirinya.
Yours.
.
.
rin's note : awalnya aku mau bikin smutt di chapter ini tapi karena bulan puasa jadi nggak jadi.
anyways, scene bathtub itu bener-bener frustasi menurutku.. secara fisik mereka udah siap untuk begituan dan dekettt banget, mereka kayak selangkah lagi gitu.. tapi pikiran sama hati mereka saling menahan karena klo mereka yadongan malam itu dijamin semuanya bakal jadi makin sulit dan sakit buat mereka nantinya
but, tenang aja mereka nggak akan terpisah lama kok HEHEHEHE
anywyas, ini awal kambekku setelah ini aku apdet savage
