Disclaimer: Junjo romantica dibuat oleh Shungiku Nakamura, dan Shungiku Nakamura itu bukan boku...hohohoho...
Akhirnya!! setelah berminggu2 bermalas2an bisa juga ngetik nie fic!
Jaa, happy reading and don't forget 2 review!!
"Kencangkan ikatan tangkainya, supaya bunganya tidak berpindah posisi atau lepas, lalu…potong tangkainya sama panjang," Nowaki sibuk mengajari Tsubaki.
Tangan mungil Tsubaki bergerak sesuai dengan yang diperintahkan Nowaki. Ini hari ketiganya bekerja di toko bunga, tapi sampai sekarang dia belum bisa merangkai bunga dengan benar.
"Yosh, sudah selesai!" Tsubaki membuket rangkaian bunga buatannya. "Ini sudah rapi kan, Kusama-senpai?"
"Ya, lebih rapi daripada yang kemarin," Nowaki tersenyum lembut pada gadis lugu itu. Tiba-tiba, manager muncul dari pintu ruang staff dan memanggil Nowaki. "Tolong jaga toko ya, aku mau bicara pada manager."
Tsubaki mengangguk pelan.
"Kusama-kun, aku tak bisa menjaga toko bunga ini untuk sementara waktu, besok pagi aku dan istriku akan berkunjung ke rumah orangtuaku," jelas lelaki berkacamata itu pelan. "Mereka berdua sakit keras dan kami ingin menjaga mereka sampai mereka sembuh, tolong….jaga toko ini baik-baik."(lebay mode on -_-)
"Baiklah, serahkan saja semuanya padaku dan Hanazono-san," kata Nowaki tegas. "Hati-hati di jalan ya, manager."
Saat Nowaki keluar dari ruang staff, Tsubaki sedang merapikan kertas-kertas putih yang ternoda oleh beberapa huruf kanji rumit.
"Hanazono-san, apa itu?" tanya Nowaki dengan tatapan yang penasaran.
"Ini? Aku baru selesai mengisi formulir pendaftaran mahasiswa baru di universitas M, jurusan ekonomi," Tsubaki memasukkan arsip-arsip itu kedalam amplop coklat besar.
Universitas M? Berarti…
Pikiran Nowaki melayang pada uke-nya yang kini sedang sibuk minum-minum di kedai dengan profesor Miyagi.
"Saa, Kusama-senpai, aku pulang dulu ya," Tsubaki menenteng amplop coklat itu sambil bergegas keluar.
"Ah…tunggu, biar aku antar ya," Nowaki melepas celemek dan mengambil jaketnya.
"Eh? Nggak usah…rumahku dekat dari sini kok!" Tsubaki berusaha menyembunyikan mukanya yang mendadak memerah.
"Nggak apa-apa kok, bahaya kalau perempuan pulang ke rumah sendirian malam-malam begini," Nowaki tersenyum sambil menatap wajah lugu Tsubaki. "Sekalian aku pergi ke rumah sakit. Aku harus mengurus anak-anak yang dirawat disana."
Muka Tsubaki makin memerah. Entah itu karena senang, takut, atau mungkin semua rasa itu bercampur dan membuat jantung Tsubaki berdetak amat cepat.
"Iya….Terimakasih, senpai…"
Semilir angin meniup rambut coklat Tsubaki. Gadis manis itu menengadahkan kepalanya ke arah bangunan yang menjadi kampus universitas M. Dia tidak sabar untuk memulai kehidupannya sebagai mahasiswa di sana.
"Tsu-ba-ki-chaaan!!"
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Jantungnya berdetak keras karena kaget, dia segera balas menyapa orang yang memeluknya itu.
"Pagi, Saya-chan," Tsubaki balas menyapa sambil tersenyum. "Kau…mengagetkanku saja…"
"Hei, hei, Tsubaki…." Saya dan Tsubaki jalan berdampingan menuju kelas literatur Jepang. "Siapa cowok tinggi cakep yang mengantarmu pulang kemarin malam?"
Setelah mereka berdua sampai di ambang pintu masuk, tiba-tiba Tsubaki menghentikan langkahnya.
"Eto…Dia itu cuma senpai di tempat kerja sambilanku kok!" jawab Tsubaki tanpa basa-basi. Lagi-lagi wajahnya memerah.
"Aaah, ternyata Tsubaki sudah besar ya….punya pacar cowok cakep pula…" Saya terus menggoda sahabatnya yang lugu itu. Muka Tsubaki semakin memerah seperti kepiting rebus.
"Bukan…Bukan! Kusama senpai mengantarku karena dia juga mau pergi di rumah sakit, kok!" Tsubaki mati-matian menyangkal. Tapi wajahnya yang merah dan kata-katanya yang berusaha menyangkal malah membuat Saya ingin menggodanya terus.
"Tuh kan, ya ampun….kamu beruntung ya, dapat cowok yang baik, cakep, tinggi kayak Kusama senpai itu,"
"Iya sih…tapi kami nggak ada hubungan apa-apa! Dia senpaiku dan aku kouhainya!" Tsubaki terus-terusan menyangkal. Kedua gadis itu keasyikan bercanda ria sehingga mereka tak menyadari kalau di belakang mereka terdapat seorang lelaki tinggi besar yang memasang muka penuh amarah.
"Ehm!!"
Satu deheman keras membuat Tsubaki dan Saya menengok ke arah suara itu. Air muka merekapun berubah menjadi ketakutan melihat wajah lelaki itu. Tsubaki mengenali wajah yang kini menatapnya tajam itu. Dialah Hiroki Kamijou.
"Maafkan kami!" dua gadis yang ketakutan itu cepat-cepat membungkukkan badan.
"Lain kali jangan ngobrol di ambang pintu! Menghalangi jalan orang saja!" suara Hiroki yang tinggi membuat mereka semakin menciut. (emang baju?? 0_0)
Saya buru-buru menarik Tsubaki dan mengambil tempat duduk yang agak belakang.
"Tsubaki-chan, aku paling takut sama Kamijou sensei!" Saya menghembuskan nafas lega.
"Kamijou sensei?" Tsubaki mengerutkan alisnya sebelah. "Maksudmu 'Hiro-san'?"
"Nee, kamu sudah memanggilnya dengan nama kecil. Memang kalian pernah bertemu?"
"Iya, dia pelanggan pertamaku di toko bunga. Aku tahu namanya dari Kusama senpai," Tsubaki yang menyadari kalau pelajaran sudah dimulai, langsung membuka buku dan mulai mencatat pelajaran.
"Huum, asal kamu tahu saja yaa, Kamijou sensei itu homo lho!" Saya memasang wajah serius.
"Ha? Yang bener?"
"Iya! Tahu nggak, kata senpaiku, dia pernah beberapa kali pelukan sama profesor Miyagi di ruang guru. Terus katanya, dia tinggal di apartemen sama pasangan homonya! Katanya sih, dia itu dokter….." BLETAK!! Belum selesai Saya bicara, sebuah buku setebal 300 halaman menerjang kepalanya. Saya jatuh tergeletak berlumuran darah. Teman-temannya mulai mengerubunginya.
"Sa…Saya-chan!!" Tsubaki menjerit keras.
"Sayaka-san, kamu nggak apa-apa?" (khawatir)
"Takahashi, mana ada orang yang nggak kenapa-kenapa kalau habis dilempar Kamijou-sensei?" (cuma ikut nimbrung)
"Ayo kita bawa Sayaka-san ke UKS!" (paling niat nolong)
"Sayaka, gimana rasanya dilempar Kamijou-sensei?" (orang stress)
Saya tidak bisa mendengar jelas suara teman-temannya. Kepalanya terasa hampir pecah. Matanya berkunang-kunang.
"Saya, aku bawa ke UKS, ya?" Tsubaki merangkul bahu lemas Saya. Hiroki berjalan mendekati kerumunan mahasiswa itu. Wajah mereka terlihat ketakutan saat bertatapan mata dengannya.
"Ngapain kalian ngumpul-ngumpul disini? Cepat bawa Sayaka ke UKS!" satu komando dari 'si setan Kamijou' berhasil membuat anak-anak itu mengambil langkah seribu sambil menggotong Saya ke UKS.
"Hanazono, kamu dan Sayaka akan kuberi hukuman karena sudah mengobrol pada saat pelajaran," Hiroki menatap tajam pada Tsubaki. "Buat makalah tentang asal usul bahasa Jepang, pola kalimat bahasa Jepang baku dan bahasa Jepang di mata para orang asing. Dikumpulkan hari sabtu!"
Tsubaki cuma bengong. Sekarang hari rabu, berarti dia cuma punya waktu tiga hari untuk membuat 3 buah makalah dengan tema yang berbeda.
Bisakah Tsubaki membuat satu makalah dalam satu hari? Atau dia harus menelan pahitnya siksaan dari Hiroki? To be continued…..
Hoooooh.....
Ini baru pertengahan cerita nih....naskah asli di buku boku sih panjang, cuma ntar boku pendekin deh -_-
Silakan review, nulis apa aja boleh kok! Nulis surat ato coret2an gak jelas juga boleh hahahahahah xD
Thanks for reading, minna!
AN: Btw, Shungiku Nakamura ma Yoshiki Nakamura itu sodara bukan sih? ada yang tau?
