Pepper Up Love © Fujimoto Yumi, 2016

Park Jimin X Min Yoongi

BTS and other characters © God, themselves

Hogwarts and Magical stuffs © J.K Rowling

Rated M. / Romance, Fantasy, Friendship, Fluffy.

Magical!AU. A/B/O Dynamics. YAOI. OOC. Mature Content. Mating Scene. Mpreg!

Hufflepuff!Jimin. Gryffindor!Yoongi. Bottom!Yoongi.

A/N : DLDR, kay. I gain no profit by publishing this story. Namjoon, Seokjin and Yoongi is in the same age, they are in seventh year. So do Jimin, Taehyung and Hoseok who are in sixth year. Jungkook is in fourth year.

Summary : Karena tatapan Jimin adalah api yang membakarnya. Begitu pun dengan wangi Yoongi yang membius Jimin dalam setiap tidurnya. Dan rasa yang membakar mereka seperti dua kutub magnet yang saling tarik-menarik, membuat keduanya terus terikat tanpa bisa berpaling lagi.

Untuk; Jimsnoona's birthday.


.

.

.

Jimin sudah mendengarkan percakapan itu dan membuatnya memasang senyum senang. Namun alisnya bertaut mendengar kalimat terakhir Namjoon pada Yoongi. Dan untuk menuntaskan rasa penasarannya, ia pun memilih untuk menghampiri Yoongi lalu membawa namja manis itu pergi.

"Aku pinjam Yoongi, okay."

"Ap—"

"Jangan membuatnya lecet, Jim."

"Awas kalau kau menyakitinya."

"Taetae mana?"

Oke. Jimin hanya mengabaikan itu dan lebih memilih membawa Yoongi menjauh. Ia pun tak merespon berontakan Yoongi yang memintanya melepas genggamannya. Pemuda tampan itu membawa Yoongi ke lantai 7, di mana ruang kebutuhan berada.

Jimin membawa masuk Yoongi ke sana setelah sebelumnya membuat permintaan agar ruangan itu menjadi ruangan yang enak untuk dipakai bersantai dan mengobrol. Sekalipun sofa itu seharusnya mereka pakai duduk, Jimin lebih senang untuk memojokkan Yoongi dengan menindihnya di sana. Lalu mendekatkan wajahnya, berbisik di depan bibir tipis yang benar-benar tertutup rapat itu.

"Jadi… kau menginginkanku. Benar begitu, kan, Yoongi?"

"Mirror, please. Aku tahu kau yang lebih menginginkanku, Jimin."

"I do. Dan aku akui wangimu itu membuatku gila. Kau ada di puncak kastil dan aku di lantai bawah, tapi wangimu menguar terus di sekitarku. Itu membuatku, gila."

Yoongi hanya tersenyum miring membalas itu. Namun langsung terdiam lagi saat Jimin bertanya.

"Masalah apa yang Namjoon bicarakan? Dan… boleh kutahu kenapa saat itu kau mendorongku?"

"Jim—"

"Ya?"

"Tidak bisakah kita bicara dengan posisi yang lebih santai?"

"Tidak."

"Sialan."

"Okay." Jimin bangkit dan membuat mereka berdua duduk santai di sofa itu juga. Jimin agak memutar tubuhnya supaya ia benar-benar menatap Yoongi yang justru diam. "Well, go ahead. Tell me everything you want to tell me."

Awalnya Yoongi diam, namun akhirnya buka suara lagi. "Kau tahu… jika aku Omega, bukan?"

"I do."

"Omega adalah bagian anggota dari dinamika itu sendiri yang memiliki kesempatan untuk dibuahi, dengan kata lain, bisa mengandung?"

Jimin mengangguk, namun sedikit khawatir melihat bagaimana Yoongi justru berbicara sambil menunduk. Maka ia dengan pelan bertanya. "Kau… ingin mengatakan kalau kau tidak bisa hamil?"

Dan Yoongi balas terkekeh kecil, namun terdengar miris. "Bagaimana jika aku bilang kebalikannya? Malah lebih mudah dari yang selama ini ada."

"Maksudmu?"

"Dalam prosesnya, tentu… seorang Alfa—harusmelepasknotnyauntukbisamembuahi—si Omega, bukan?" Jimin terkekeh melihat wajah malu-malu Yoongi saat mengucapkan itu dengan cepat. Namun pemuda bersurai langit malam itu mengangguk.

"Lalu, sayang?"

Yoongi melirik sinis Jimin mendengar panggilan itu. "Sayang kepalamu. Aku, berbeda dengan Omega lainnya, Jim. Tanpa kau melakukan itu… aku akan dengan mudah… untuk hamil."

"…"

Jimin sedang memproses setiap perkataan Yoongi. Yoongi yang melihat itu jadi khawatir. Selama ini, ia menolak setiap Alfa yang berusaha mendekati atau mengklaimnya, karena sejujurnya mereka juga tidak menarik perhatian Yoongi, tetapi Jimin berbeda. Makanya… jika kini Jimin yang menolaknya, entah apa yang akan Yoongi lakukan.

"OH?!"

"Aw—ummph!" rintihan sakit akibat dahi yang saling berbenturan berubah menjadi desahan tertahan ketika Jimin malah melumat penuh napsu bibir Yoongi. Pemuda caramel itu sampai berpegangan pada kemeja sekolah yang belum Jimin buka agar ia tidak tiba-tiba pingsan akibat efek ciuman itu.

Beberapa detik setelahnya, Jimin melepas ciumannya dan menatap Yoongi penuh kelembutan. "Oh, kenapa kau tidak bilang padaku sejak awal?"

"Tsk. Kita baru saling mengenal, Demi Apapun, kita baru saling mengenal melalui pertandingan Quidditch itu."

"Yeah, dan aku merasa bodoh baru mengenalmu sekarang ini. Aku jarang melihatmu, kau pasti sembunyi terus di asramamu, kan?"

"Aku bukan kau yang suka berkeliaran."

"Biasanya itu diucapkan ke seorang Gryffindor loh, sayang."

"Makan tuh, sayang. Kita sudah selesai, kan? Aku lapar, sudah waktunya makan mal—"

"Hei, kau tidak bermaksud pergi dari sini, bukan?"

Jimin menahan tangannya dan membawa Yoongi ke pangkuannya. Tangan Jimin sudah berlabuh lebih dulu di kedua bokong Yoongi dan meremasnya, membuat namja manis itu sontak melingkarkan kedua tangannya di bahu Jimin—lalu mendesah pelan.

"Aku tidak keberatan menghamilimu sekarang, Yoongi."

"Bloody hell, Jimin. Aku yang keberatan. Lepas—uhmmm~" Jimin menjilat bagian leher Yoongi yang terlihat, dan entah sejak kapan kancing-kancing kemeja Yoongi sudah terbuka. Memperlihatkan kulit putih mulus yang siap dinodai.

Tetapi Jimin lebih tertarik pada leher Yoongi. Ia benar-benar tertarik untuk menanamkan klaimnya di sana.

Maka ketika akhirnya satu persatu fabric mulai tanggal, dan keduanya kembali bergerak bersama tanpa sehelai benangkan pun di atas sofa ruangan itu, Yoongi menerima saja. Kali itu, Yoongi pun banyak merespon pada setiap sentuhan yang Jimin lakukan. Namun pemuda bersurai caramel itu akan benar-benar memperingatkan Jimin soal mengeluarkan-cairannya-di-luar. Dan sebelum Jimin benar-benar melepas miliknya dari manhole Yoongi, pemuda itu menanamkan giginya di leher Yoongi, menciptakan tanda kepemilikan resmi yang takkan bisa hilang selamanya.

Yoongi mendesah menerima klaim itu, ia kemudian mengambil wajah Jimin lalu mempertemukan kedua bibir mereka dalam ciuman yang panjang dan panas, dengan Jimin yang klimaks di luar manhole mate tercintanya.

"You are mine, now. I'll kill everybody who wants to lay their finger on you. I absolutely will slay them to piece."

"I'd love to see that. Because… I'm all yours… now."

"I love you…"

"I think I am too…"

.

.

.

Tepat seminggu setelah klaim itu, Yoongi menunjukkan tanda-tanda akan memasuki masa heatnya. Baunya menguar ke mana-mana dan membuat setiap Alfa berusaha untuk mendekatinya. Untungnya, Seokjin dan Namjoon (yang tidak terpengaruh) berhasil menjauhkan mereka sampai akhirnya Jimin muncul dan mengamankan matenya.

"Kau yakin kau baik-baik saja? Mulailah mengunjungi Hospital Wings dan menetap di sana, baby," kata Jimin khawatir sembari mengusap pipi Yoongi yang memerah. Sebenarnya efek itu juga Jimin rasakan. Ia ingin sekali memojokkan Yoongi sekarang dan menggagahinya non-stop.

"Aku baik-baik saja. Aku akan meminta obatnya ke Madam Greene besok."

"Oh, baby, untuk apa kau masih meminta obat di saat kau punya aku untuk membantumu, hm?" Jimin menjawil hidung kekasihnya yang dibalas Yoongi dengan tampikan pada tangannya.

"Pervert. Sana pergi."

Yoongi sudah siap berbalik namun Jimin menahannya lalu memeluk Yoongi untuk kemudian menyembunyikan wajahnya di leher pemuda manis itu. "Temani aku sampai makan malam tiba. Aku frustasi sekali hari ini karena baru melihatmu sekarang."

Yoongi melepas pelukan Jimin yang justru pemuda berambut hitam itu balas dengan kecupan. "Okay, baby Yoongi?"

"Berisik. Kau menjijikkan."

"Hanya untukmu."

"Menjauh sana, Jim."

"Menjauh ke hatimu, hm?"

"Terserah."

Dan Jimin hanya tertawa kemudian mengikuti Yoongi ke arah Danau Hitam di samping kastil. Lalu duduk di depan pohon rindang, menarik Yoongi ke pangkuannya setelahnya dilanjutkan dengan banyak kecupan dan lumatan yang mengiringi waktu mereka menghabiskan senja di sana.

"Buka bajumu ya, baby?"

"Kupastikan kau muntah siput non-stop kalau berani membuka bajuku."

"Jahatnyaaa~"

.

.

.

Keesokannya saat akan sarapan, Jimin terus memutar kepalanya menghadap pintu Aula Besar, mengharapkan kehadiran kekasihnya sekaligus khawatir padanya. Namun saat tahu Seokjin dan Jungkook belum hadir, dia sedikitnya lega bahwa Yoongi tidaklah sendirian.

Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Namun dengan wajahnya yang sangat merah itu, membuat Jimin makin khawatir. Jimin pun bangkit berniat menghampirinya, mengabaikan Jungkook yang entah sejak kapan menghampiri Taehyung di sampingnya dan memulai ritual morning kiss mereka, dan benar-benar berjalan cepat saat Yoongi tiba-tiba ambruk di depan pintu sana.

"Yoongi?!"

.

.

.

Yoongi menggeliat di atas ranjang Hospital Wings kemudian membuka matanya perlahan. Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat ke sekeliling dan sadar ia ada di mana. Suara seseorang di sampingnya, membuat Yoongi segera menoleh untuk menatap sosok itu.

"Sudah sadar, Mr. Min?"

"Madam Greene?"

"Teman-temanmu di luar, dan… well, Mr. Park juga ingin sekali menemuimu dan memaksa. Sebelum itu boleh aku bertanya, apa benar Mr. Park adalah mate-mu?"

Yoongi mengangguk pelan membuat Madam Greene menghela napas lega. "Aku takut dia hanya memanfaatkan keadaan ini untuk menuntaskan hasratnya karena mencium bau Omega sepertimu."

"Tidak. Dia… memang mate-ku."

"Baiklah. Aku akan membiarkannya masuk dan well, akan meninggalkan ruangan ini sampai kau melewati masa heatmu ini."

"Kupikir heatku datang tiga hari lagi."

"Harusnya. Tetapi sepertinya ini akibat respon dari proses klaim itu?"

"Mm-hmm. Bisa Madam memanggilkan Jimin sekarang?"

Mendengar itu, Madam Greene hanya tersenyum maklum. "Tentu Mr. Min. Tetapi tolong ingat soal keistimewaanmu itu, okay? NEWT menunggumu sebentar lagi. Dan, oh, akan kuizinkan kalian ke pihak sekolah."

"Dimengerti, dan terima kasih, Madam."

Pun setelahnya Madam Greene keluar dari ruangan itu, digantikan dengan Jimin yang menghampirinya dengan gaya sok cool yang sialnya justru membuat Yoongi makin panas. Apalagi ada seringai seksi yang bersandang di sudut bibir pemuda berambut hitam itu.

"Jadi, Madam Greene bilang kau tidak sabar—"

Sret!—Yoongi langsung menarik dasi Jimin untuk membuat wajah mereka mendekat. Lalu menjilat bibir pasangannya disertai dengan kedipan seksi nan menggodanya yang membuat Jimin hampir gila.

"Just shut up, and help me fix this shit, Ji-min-ie."

Jimin menyeringai dan dengan senang hati naik ke atas ranjang yang Yoongi tempati kemudian mencumbunya panas. "With ma pleasure, baby."

Mereka dengan buru-buru saling berusaha melepaskan semua fabric yang melekat pada tubuh mereka. Sekalipun Yoongi pasrah saja berbaring di bawah kukungan Jimin, yakinkan dia bahwa ia sudah benar-benar siap membuka kakinya untuk menyambut Jimin, menggagahinya sampai ia merasa—efek panas sialan dan ingin disentuh ini benar-benar hilang tak berbekas.

"Hnngghhh…" Yoongi mendesah saat lidah Jimin dengan terampil menyusuri lehernya untuk memberikan jilatan, atau bagaimana benda tak bertulang itu menyapa tanda klaim yang Jimin ciptakan sendiri membuatnya merinding bukan main. Yoongi makin terlena ketika ia membuka mata, Jimin menatapnya dengan sorot penuh kelembutan yang membuatnya bisa saja klimaks karenanya.

"AH! Ahh hahh…" Yoongi sudah tidak berpikir lagi. Semua yang Jimin lakukan padanya membutakan penglihatannya dan mengacaukan pikirannya. Ia membawa tangannya melingkari leher Jimin lalu menarik lelaki itu mendekat, menyatukan dahi mereka dan membiar jari-jemari mate-nya bergerilya bebas di atas kulit putih yang sudah bernoda itu.

Bibir Jimin menjangkau semua yang bisa ia jangkau. Dari memberikan butterfly kiss di dagu ke leher Yoongi, lalu turun ke bahunya dan menyesapnya di sana, kemudian berlanjut ke arah nipple Yoongi yang menegang merah. Pemuda itu pun kemudian mengemutnya membuat Yoongi tersentak dan melempar kepalanya ke belakang, semakin melesak ke dalam bantal yang ia pakai.

Kedua kaki Yoongi pun melingkar alami di pinggang Jimin. Dia siap, jika tiba-tiba Jimin ingin memasukinya, karena ia merasa ia sudah benar-benar basah di bawah sana.

"Ughh… Jimhh…"

"Ya, Yoongi baby?"

"Just put it in…"

"Not yet, baby."

"Jiminnhhhh~" Yoongi benar-benar merajuk dengan agak mendorong Jimin supaya bisa menatapnya. Ia memasang tampang ngambek agar Jimin menurutnya. "Pwetty pwease?"

"No." Jimin menjawabnya sembari asik memainkan tangannya pada kejantanan dan twinballs Yoongi.

"Jimhhh~"

"Hmm?" Jimin lalu dengan seenaknya menjalankan bibir dan lidahnya lagi di bawah telinga Yoongi, lalu mengemut kupingnya untuk kemudian mencubiti nipple Yoongi yang sudah keras. Walau sejujurnya ia ingin sekali memasuki kekasihnya itu, namun menggoda Yoongi sepertinya seru.

"Jimin, please~? Just put it in. Kau tahu kalau aku sudah SANGAT siap untuk kaumasuki."

"I know."

"And I know that you are… fucking want to put it in either."

"Fuck. How could you know?"

"Of course I know…" Yoongi membawa wajah itu mendekati lagi, untuk ia gesekkan hidung mereka kemudian mengecup bibir tebal Jimin dengan menggoda. "Because I'm yours and… you are mine."

"Good answer, baby."

Dan Jimin hanya menurutinya. Ia melebarkan kedua kaki Yoongi kemudian tanpa aba-aba memasukkan miliknya membuat namja manis itu mendesah kencang memenuhi ruangan kedap suara tersebut. Pihak sekolah memang sengaja menyiapkan ruangan itu.

Pun namja berambut hitam itu terus menghujamkan miliknya ke dalam Yoongi yang meresponnya tak kalah bergairah. Ranjang yang mereka tempati sampai bergetar karena tak mampu menahan gerakan erotis yang mereka ciptakan. Bibir masing-masing mendesahkan kenikmatan dan nama pasangan.

Yoongi benar-benar dibuat lupa akibat efek kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya itu. Maka ketika Jimin membalik posisi mereka, Yoongi dengan senang hati bergerak di atas tubuh Jimin, membantu mate-nya itu mencari titik kenikmatannya sendiri. Tangannya bertumpu di atas dada bidang Jimin, kepalanya mendongak dan mulutnya terbuka lebar menyuarakan desahan akibat kejantanan Jimin yang lagi dan lagi berhasil menyentuh prostatnya.

Kemudian Yoongi sendirilah yang mencari wajah Jimin dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman penuh napsu yang mengiringi percintaan penuh gairah itu.

Dan mungkin Yoongi harus benar-benar siap… untuk digagahi Jimin sampai masa heatnya sendiri selesai. Pun biasanya seorang Omega akan menyelesaikan masa heatnya paling lama adalah 7 hari, di mana berarti, selama hampir seminggu itu Yoongi harus merasakan kenikmatan disertai teriakan was-was agar Jimin tidak keluar di dalam tubuhnya. Yang justru Jimin balas agar Yoongi meminta Madam Greene memberinya pil khusus kontrasepsi supaya ia tidak hamil dan Yoongi balas dengan pukulan pada belakang kepalanya.

.

.

.

NEWT atau Nastily Exhausting Wizarding Test sudah berakhir dan Yoongi benar-benar merasa lega karena pada akhirnya dia lulus. Dan untungnya selama bulan-bulan akhir di Hogwarts, masalah-masalah yang ada pun sudah terselesaikan. Seperti masalah si Leo misalnya? Yoongi tidak peduli akan hal itu lagi karena Jimin ada untuk melindunginya. Saat upacara kelulusan pun, pemuda caramel itu benar-benar hampir menangis. Ia sudah bukan menjadi murid lagi di sekolah Hogwarts tersebut. Dan artinya sebentar lagi ia akan kembali ke rumah bibinya yang nyaman itu.

Namun sepertinya hal itu membuat Jimin sedikit tidak suka.

"Aku akan sangat merindukanmu, baby Yoongi."

"Jim, sana ih. Berhenti mengusel padaku."

"Siapa yang akan membantuku melewati masa heatku kalau kau tidak ada?"

"Obat—ah! Ya! Jangan gigit!" Yoongi memukul pelan belakang kepala Jimin saat namja itu menggigit lehernya.

"Oh, ayolah baby. Aku sedang merajuk dan yang kau lakukan sedari tadi hanya menolakku."

"Jangan kekanakkan kenapa sih, Jim. Seperti tidak bisa bertemu saja."

"Oh, aku benci harus menunggu natal dan tahun baru. Bagaimana dengan masa heatmu yang berikutnya?"

"Aku akan baik-baik saja."

"Kau tidak membutuhkanku?"

"Tidak."

"Yoongi, kau jahat sekali."

Mendengar semua rengekan Jimin, Yoongi akhirnya menghela napas lelah dan menangkup wajah mate-nya. Ia kemudian menggesekkan hidung mereka dan mengecup singkat bibir Jimin. "Dengarkan aku. Aku yakin Kepala Sekolah akan mengizinkanmu untuk menghabiskan masa heatmu di rumah, begitu juga mungkin dia akan mempertimbangkan untuk kau pulang ketika aku membutuhkanmu."

"Hmm, mungkin. Bagaimana jika tidak?"

"Just endure it, Jimin. Dewasa sedikit, oke?"

"Yoon—"

"Ayolah. Apalah artinya empat bulan menunggu sampai bertemu dan kita… well, bisa membayarnya dengan seluruh hari libur saat natal dan tahun baru?"

Dan itu membuat Jimin menyeringai. "Deal, baby."

"Oh, dasar pervert."

"Untukmu."

"Pergi sana."

Namun Jimin tetap di tempatnya. Berdiri di depan Yoongi lalu memainkan poni helai caramel berlanjut mengelus pipi pucat pemuda itu. "Btw, mom bilang dia akan ikut menjemputmu di Stasiun King Cross dan ingin mampir ke rumah bibimu."

"Jim, ibumu—"

"Sssttt," Jimin menaruh satu jarinya di depan bibir Yoongi. "Dia sudah tahu semuanya dan dia setuju. Dia selalu menghargai semua yang kuputuskan. Jadi… kau tidak perlu khawatir, hm?"

"Aku half—"

"Dia tidak peduli soal status darah, baby. Dia hanya peduli bahwa kita saling mencintai. Itu saja."

"Tsk. Kau mulai lagi membualnya. Sudah sana pergi. Aku mau membereskan barang-barangku."

"Baiklah. Aku kembali dulu ke asrama. Sampai besok sarapan pagi, baby. Love you."

"Hmm~" Yoongi menggumam malas karena Jimin sudah lebih dulu menempatkan lumatan lapar pada bibirnya. Dan setelah terlepas, sekalipun alisnya bertaut kesal. Yoongi tetap membalas kata cinta dari Jiminnya. "Loveyoutoo."

.

.

.

Waktu berlalu begitu cepat, sudah dua bulan berlalu Yoongi lulus dari Hogwarts, dan sekarang pemuda itu tengah mencuci semua perabotan yang telah terpakai sehabis makan malam bersama keluarga bibinya, Aunty Jeon –ibu Jungkook yang merupakan adik dari ibu Yoongi. Orang tua Jimin sudah datang dan sekarang sedang berbincang di ruang tamu bersama paman dan bibinya.

"Yoongi sayang, kemarilah."

Mendengar panggilan bibinya, Yoongi membilas tangannya (Yoongi kadang lupa dia itu penyihir, dan memilih melakukan sesuatu dengan tangan daripada tongkat) dan membiarkan peri rumah meneruskan sisa pekerjaannya. Ia berlalu ke ruang tamu kemudian ikut bergabung di sana. Ibu Jimin tersenyum ke arahnya dan menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.

"Sini, sayang, duduklah di samping mom."

Yoongi hanya menuruti, karena setelah ia lulus dari Hogwarts dan bingung harus mengapply pekerjaan apa, ia akhirnya hanya berada di rumah dan sesekali di rumah Jimin untuk lebih mengenal keluarga mate-nya itu. Pun selama waktu itu berlalu, Mrs. Park selalu memintanya memanggil sosok itu mom, mommy, mama ataupun mother dan Yoongi tak punya pilihan lain selain menurutinya.

Natal hampir tiba dan ia tidak sabar untuk bertemu Jimin. Sekalipun mereka sering bertukar surat, tetap saja… rasanya Yoongi ingin bergelung dalam pelukan Jimin tanpa beranjak sedikitpun.

"Kau mau hadiah natal apa dari mom dan dad, Yoongi-ya?"

Yoongi sontak tersadar dan menatap ke arah ibu Jimin. "Ah, tidak. Tidak perlu, mom. Yoongi tidak butuh apa-apa, serius."

"Ayolah. Anggap saja sebagai hadiah atas proses klaim kalian."

"Errr… apa itu sesuatu yang harus diberikan hadiah?"

"Tentu."

"Tapi… Yoongi serius saat bilang tidak ingin apa-apa. Jadi… mom dan dad tidak perlu memberikan apa-apa?"

"Hah, kau ini..." Mrs. Park mengacak rambut Yoongi dan mengalah. "Oke, baik, mom tidak usah memberi hadiah untukmu, begitu kan maumu?"

Dan Yoongi hanya tersenyum saja. Kemudian kelimanya kembali larut menikmati hari Minggu yang perlahan bergulir menuju hari berikutnya.

.

.

.

Saat Libur Natal dan Tahun Baru datang, dan ketika Jimin memilih untuk tinggal bersama Yoongi di rumah keluarga Jeon, pasangan itu benar-benar menghabiskan jatah libur di dalam kamar. Dan tak seorang pun di rumah keluarga Jeon yang protes karena mereka mengerti saja. Mereka sudah tidak berhak mencampuri urusan Yoongi karena Yoongi sudah dewasa, dan dia juga sudah memutuskan untuk diklaim oleh seorang Alfa, jadi yang bisa mereka lakukan hanyalah percaya dan mendukungnya.

Tetapi kemudian saat hari libur akan berakhir, pasangan dimabuk cinta itu mau keluar dari kamar dan bertemu mereka. Mr. Jeon hanya menggelengkan kepala melihat betapa berantakannya Yoongi, berbeda dengan Jimin yang luar biasa segar seolah habis meminum setetes Felix Felicis yang membuatnya akan terus untung setelahnya.

"Kalian ada rencana mau keluar?" tanya Mrs. Jeon pada dua pemuda itu. Jungkook sudah lebih dulu diculik Taehyung ke rumah namja brunette tersebut. Jadi hanya ada mereka berempat di kediaman keluarga Jeon.

Yoongi mengangguk mengiyakan. "Mau ke Hogsmeade, Aunty. Membeli coklat."

"Bukannya masih banyak coklat di kulkas?"

"Hmm, kurang…"

"Dasar. Sejak kapan kau jadi penggila coklat, hm?"

"Salahkan Jimin saja, Aunty. Dia itu menyebalkan sekali."

Dan Jimin hanya tertawa lalu mengecup sayang kepala kekasihnya. "Ayo, nanti makin dingin kalau tidak cepat."

"Hmmm~"

xxxXXXxxx

Senja bergulir digantikan sang malam. Jimin dan Yoongi kembali dari kencan mereka saat makan malam dan langsung bergabung dengan yang lainnya di meja makan. Semuanya makan dalam sunyi dan Jungkook adalah orang yang pertama kali menyelesaikan makannya dan kemudian lari ke dalam kamarnya untuk langsung tidur, yang Yoongi sendiri tidak yakin itu benar.

Karena jujur saja Yoongi dan keluarga Jeon sendiri sedang mengantisipasi kapankah masa heat pertama Jungkook akan datang? Anak itu sudah berusia limabelas, dan biasanya masa heat terjadi saat usia remaja. Namun mereka juga berharap, semoga masa heat pertama Jungkook terjadi ketika Jungkook sudah benar-benar legal di mata masyarakat dan dunia sihir.

Tak lama setelah kepergian Jungkook, Jimin maupun Yoongi selesai dengan makan malam mereka dan pamit. Sesampainya mereka di kamar Yoongi, pemuda manis itu langsung merebahkan tubuhnya yang disusul tindihan oleh Jimin.

Kepala Jimin ada di ceruk lehernya, bibirnya bermain di perpotongan leher Yoongi, menghirup baunya. Ia kemudian berbisik pelan dengan menggoda. "Besok aku kembali ke Hogwarts… tidak mau memberiku hadiah?"

"Kau sudah menghabiskan seluruh tenaga hari liburku dan masih meminta hadiah?"

"Ayolah, baby. Masa heat kemarin benar-benar menyiksaku."

"Kau pikir aku tidak?"

"Aku sudah membayangkan betapa tersiksanya kau."

"Sialan."

"Jadi?"

Yoongi tidak menjawabnya dan justru meraih tongkat sihirnya untuk kemudian merapal mantra peredam dan pengunci pintu. Lalu ia merentangkan tangannya sambil memejamkan mata, setelahnya ia berucap tanpa melihat sosok di atasnya. "Suit yourself, Mister."

Malam itu, Yoongi maupun Jimin seakan lupa soal batasan percintaan mereka. Malam itu adalah kali pertama dalam percintaan mereka di mana Yoongi tak memperingati Jimin soal di mana dia harus mengeluarkan klimaksnya.

.

.

.

Beberapa minggu kemudian, kondisi tubuh Yoongi memburuk. Ia sering pusing dan mual, parahnya, Yoongi juga kadang pingsan membuat keluarga Jeon dilanda panik. Saat pada akhirnya Mr. Jeon meminta temannya yang merupakan Healer di kementrian untuk datang dan memeriksakan kondisi Yoongi.

Namun bukan raut khawatir yang Healer Wood pasang, tetapi senyuman di wajahlah yang nampak. Mr. Jeon dibuat bingung dan langsung bertanya. "Ada apa, Niel? Apa Yoongi baik-baik saja?"

"Oh, tentu, tentu, Jungmo. Dia amat sangat baik."

"Lalu?"

"Keponakanmu sedang hamil. Makanya dia jadi agak lemah begitu."

"Ohh, hanya karena hamil toh. Makanya—HE'S WHAT?" istrinya, Mrs. Jeon sontak berteriak saat mendengar penjelasan sahabat suaminya. Wanita itu menatap tak percaya yang hanya dibalas anggukan.

"Dia sedang hamil, Lissa. Kau tidak perlu khawatir. Kondisinya sehat, wajar jika Yoongi sering pingsan. Dia laki-laki dan walaupun itu biasa di dunia sihir, tetap saja pada hakikatnya dia adalah laki-laki. Itu saja."

"Lalu—kami harus apa?"

"Tidak ada. Kecuali memastikan dia tidak melakukan pekerjaan berat dan stress. Itu saja."

"Oh, Tuhan. This is very a shocking news. Apa Yoongi lupa soal… ini?"

"Kita cukup percaya padanya, Lis. Yoongi dan Jimin mungkin memang sudah merencanakan ini."

"Nah, karena sekalipun Yoongi itu half-blood, pada dasarnya dia adalah penyihir. Kehamilan yang terjadi pada penyihir dan muggle tentulah berbeda. Penyihir tidak mengandung hingga 9 bulan lamanya. Kupastikan, Yoongi mungkin akan melahirkan dibulan ke delapan atau sebelum itu."

"Ya, kami tahu. Tapi kau yakin bayinya sehat?"

"Tentu, Lissa. Bayinya sangat sehat. Dan mungkin kalian ingin memberitahu ayah bayi ini?"

"Itu urusan Yoongi, kami mungkin akan memberitahu kakek-neneknya. Dan… apa percintaan di saat heat masih diperbolehkan?"

"Ah, ya kalian harus. Oh, ya. Masih boleh, hanya saja sampai usia kandungan menginjak bulan keempat. Setelahnya tolong katakan pada mereka untuk tidak melakukan kegiatan intim apapun. Yoongi hanya mengalami heat 3 bulan sekali, bukan?"

"Ya. Tetapi masa heat Jimin berbeda dengannya."

"Jimin akan mengerti. Aku akan membantu dengan memberikannya obat atau ramuan. Ah, sepertinya sudah saatnya aku kembali ke St. Mungo."

"Tentu. Terima kasih sudah datang, Niel."

"Anytime, Jungmo. Aku siap membantu Yoongi kapan saja."

Kemudian nyala api hijau di perapian keluarga Jeon mengantar sang Healer kembali ke tempatnya bekerja.

.

.

.

Setelah hampir seharian Yoongi berpikir akankah ia harus memberitahu Jimin tentang kehamilan sesaat paman dan bibinya menyampaikan kabar baik itu, Yoongi akhirnya memutuskan untuk mengirim post burung hantu kepada kekasihnya dan memintanya bertemu di Three Broomstick, Hogsmeade. Dan di sinilah Yoongi sekarang, sesaat ia menginjakkan kaki keluar dari perapian, Yoongi langsung tenggelam dalam ciuman maut Jimin, dan namja itu tidak protes. Mereka lalu duduk berdempetan karena sejujurnya Yoongi memang sudah sangat merindukan Jimin dan ingin sekali membawanya pulang ke rumah, lalu bergelung bersama di bawah selimut seharian.

Tetapi tidak mungkin. Dia hanya perlu menunggu sampai bulan Mei atau Juni dan Jimin akan kembali padanya.

"Baby? Apa yang ingin kau bicarakan, hm?"

"Jimin…"

"Ya, Yoongi?"

"Aku… ingin menyampaikan sesuatu."

"Ya? Apa kau ingin bilang kalau kau memutuskan untuk bekerja di kementrian sekarang?"

Yoongi menggeleng. "Ini lebih dari itu."

"Kau bekerja di coffee shop muggle?"

"Ya! Makanya biarkan aku menyelesaikan kalimatku!" Yoongi memukul kepala Jimin yang hanya dibalas dengan kecupan di bibir.

"Oke, oke. Kau ingin bilang apa, hm?"

"Aku hamil, Jim."

"Oh, tentu, baby. Tentu saja kau bisa hamil. Jadi apa kau sudah siap kuham—tunggu apa?"

Yoongi memutar bola matanya bosan. "Kau mendengarku."

"Tidak. Aku… tidak yakin."

"Ish. Aku bilang aku hamil, Jimin. Sudah dengar?"

"Kok bis—aw! Sakit, baby Yoongi~ kenapa malah mencubitku, hm?"

"Pertanyaanmu menyakitiku."

"Oh, maaf. Bukan begitu maksudku. Jadi—kapan? Tunggu, aku tidak ingat pernah mengeluarkannya di dalam—"

"Malam sebelum kau kembali ke Hogwarts."

"Oh. OH! Oh Tuhan terima kasih! Baby ini sungguhan?" Jimin entah kenapa benar-benar merasa senang. Ia memegang erat namun lembut kedua bahu Yoongi.

Menatap dalam pada manik masing-masing, Yoongi membalas bosan pertanyaan mate-nya itu. "Kau pikir aku suka bercanda. Tentu saja sungguhan."

Mendengarnya, Jimin langsung memeluk erat Yoongi seraya mengucapkan semua kata cinta yang dia punya. Yoongi hanya tersenyum mendengar itu dan balas memeluk kekasihnya. Dan pemuda caramel itu makin tersenyum saat Jimin berbisik penuh janji padanya. "Akan kunikahi kau setelah kuterima hasil NEWTku nanti."

Pun Yoongi memilih mengecup bibir Jimin dan balas berbisik pada setiap kebahagiaan yang kini menguar bebas dari mereka berdua. Menghantarkan lantunan nada cinta yang kerap kali ia tampik, namun pada akhirnya ia akui juga. Bahwa ia senang dan menginginkan Jimin untuk terus bersamanya. "Kutunggu. Selalu."

.

.

.

Di usia kandungan yang keempat, setelah tersiksa menjalani heatnya bulan lalu, Yoongi dibuat terdiam sambil memandangi perapian. Ia merindukan Jimin dan ingin sosok itu mengusap-usap perutnya atau menciuminya. Tetapi bagaimana jika Jimin saja tidak ada di dekatnya?

Maka ia mengambil perkamen dan menuliskan sesuatu, menyuruh burung hantunya mengantarkan kertas itu kepada Jimin, lalu beberapa jam setelahnya Yoongi kembali ke ruang keluarga untuk meminta uncle-nya menyambungkan floo ke ruang rekreasi Hufflepuff, di mana sang paman lah yang lebih dulu menyapa Jimin di sana.

"Jim?"

"Ah, uncle Jeon, mana Yoongi?"

"Di dekatku. Kau sendirian?"

"Hanya sedang bersama Taehyung dan Hoseok."

"Oke, ini Yoongi sudah siap bicara denganmu."

Tak lama Yoongi bersingut mendekat ke perapian, untuk bisa leluasa berbicara dengan mate yang sangat dirindukannya.

"Jimin?"

"Ya, baby?"

"…sedang apa?"

"Bicara denganmu~"

"Serius!"

"Aku juga serius, Yoongi baby~ kau sudah makan?"

"Belum."

"Eh, kenapa belum?"

"Aku ingin makan waffle buatan peri rumah di Hogwarts."

"Ups, lagi ngidam, baby?"

"Tidak. Aku hanya bercanda."

"Serius?"

"Kapan kau pulang?"

Dan suara kekehan langsung menggema. Yoongi bisa mengenali itu suara Taehyung maupun Hoseok. Lalu suara Jimin terdengar lagi. "Akhir bulan ini, hm? Kau merindukanku, ya~?"

"Siapa bilang?"

"Buktinya tumbenan memakai floo? Biasanya kita surat-suratan."

"Ish. Terserah kau saja. Aku mau tidur!"

"Eh, eh, eh?! Yoongi jangan ngambek, dong?"

"Bodo. Bye."

"Baby miss you too!"

Yoongi hanya benar-benar berlalu. Meninggalkan pamannya yang masih mengawasinya. Karena selama hamil Yoongi akan mudah lelah, sangat moody dan benar-benar mengkhawatirkan, dan itu membuat keluarga Jeon mau tak mau terus memperhatikannya. Makanya Jungmo tetap di sana sampai akhirnya Yoongi memutuskan untuk menyudahi acara bicaranya dengan Jimin.

"Sudah, ya, Jim. Sana kau makan malam. Bukannya sudah waktunya?"

"Iya, uncle. Aku titip Yoongi dulu, ya?"

"Iya sudah sana."

"Selamat malam, uncle."

"Malam, Jim."

xxxXXXxxx

Setelah masuk ke kamarnya karena merasa kesal pada Jimin, Yoongi hanya terduduk di atas ranjang. Ia menghela napas lalu membaringkan tubuhnya di atasnya. Selama beberapa menit hanya memandangi langit-langit kamar sambil mengusap-usap perutnya yang membesar, Yoongi dibuat berpikir mengapa ia saat ini benar-benar menginginkan Jimin di sampingnya. Dan suara ketukan pada pintu kamarnya membuat ia mau tak mau membukakannya karena saat ia bertanya siapa, tak ada suara sahutan di sana.

"Siap—"

"Selamat malam, Yoongi baby~"

Yoongi tergugu di tempatnya setelah ia membuka pintu, namun ketika melihat tangan Jimin yang terbuka, ia bersingut semangat hanya untuk meraih dasi milik Jimin dan mempertemukan bibir mereka. Pun selanjutnya, keduanya berciuman di depan pintu kamar Yoongi, dilanjut dengan Jimin yang perlahan menggiring mereka masuk ke dalamnya.

Ciuman yang mereka bagi semakin liar saat Jimin mendudukkan dirinya di atas ranjang, disusul Yoongi yang ada di pangkuannya. Tangan Yoongi meremas penuh gairah kepala hitam Jimin, di mana tangan Jimin sendiri mengelus-elus perut besar yang ada di antara mereka.

Yoongi menggeliat menerima itu, ia merasa ia benar-benar butuh setiap sentuhan Jimin. Karena itu ia makin membawa wajah Jimin dan bibirnya sehingga suara kecupan mereka menggema dalam ruang kamar milik pemuda caramel tersebut.

Saat napas makin menghilang, Jimin perlahan menarik diri karena mengkhawatirkan Yoongi juga. Tetapi sepertinya sosok hamil ini benar-benar merindukan dan menginginkan Jimin. Karena setelahnya tanpa membuka matanya, wajah Yoongi kembali mencari wajah Jimin untuk kembali menautkan bibir mereka.

Namun Jimin menahan itu dan bertanya. "Baby?"

"Just kiss me senseless. I don't fucking care about anything else, so just… kiss me."

Jimin dibuat tersenyum mendengar itu. "Kau mengidam, hm?"

"Jim? Can you just kiss me instead of… ask and interrogate me?"

"Excuse me, sir. I'll do what you ask me to."

Dan ciuman, lumatan juga kecupan-kecupan kecil itu menggema lagi di sana. Diiringi suara napas yang makin berat, dengan Yoongi yang sedikitpun tak mau melepaskan Jimin bahkan ketika akhirnya matanya begitu sulit hanya untuk membuka saja.

Dengan memegangi seragam yang masih Jimin pakai, tak bertanya kenapa Jimin ada di sana, Yoongi perlahan terlelap dengan bisikan, "Jangan ke mana-mana," pada Jimin yang hanya mengecup sayang kepala caramel itu.

Dan berbisik, "Aku akan di sini, menemanimu dan bayi kita tertidur untuk malam ini… dan akan menyusul lagi di malam akhir Mei nanti, sayang."

.

.

.

Waktu bergulir kian cepat. Setelah menerima hasil NEWTnya (yang terbilang sangat sempurna), Jimin benar-benar meminta ayahnya untuk membantu mengurus pengajuan pernikahannya dengan Yoongi ke kementrian sihir. Yoongi sih senang-senang saja. Dan kini, sudah hampir empat bulan Yoongi hidup sebagai istri, pendamping sehidup semati Jimin di mana kandungannya sudah memasuki bulan ke depan. Yang mana hal itu selalu diwanti-wanti oleh keluarganya karena mungkin saja Yoongi akan tiba-tiba melahirkan.

Dan buktinya kini, di tengah malam yang dingin, Yoongi tengah mengumpati Jimin yang tidak mau bangun dari tidurnya ketika Yoongi terus memanggilnya sejak tadi. Ia sampai harus mendorong namja tampan itu sehingga jatuh dari ranjang barulah Jimin membuka mata.

"Yoongi baby, aku ngantuk—"

"Jimin bodoh. Sakit… perutku… ughhh… hhhh. Hngghhhh…"

"Eh? Yoongi, kau—"

"Jim—sakit… bawa aku… ugh… bayinya terus menendang—URGH!" Yoongi sontak menjambak rambut Jimin untuk menyalurkan rasa sakitnya.

Jimin mengabaikan saja rasa sakit karena jambakan Yoongi. Ia justru berusaha menenangkan istri tercintanya. "Yoongi, baby, tahan sebentar. Aku akan ke kamar dad meminta temannya untuk datang."

"Cepat… aku sudah tidak kuat. Jimhh ughhh…"

Jimin secepat kilat berlalu ke kamar orang tuanya dan menggedornya yang langsung Mr. Park buka. "Ada ap—"

"Healer teman dad yang memeriksa Yoongi. Panggil dia, Yoongi mau melahirkan dad."

"Tung—APA? YA! Aish, sebentar."

Mr. Park langsung beranjak ke perapian untuk menjemput temannya. Mrs. Park yang mendengar itu beranjak ke kamar putra sulungnya, menemani mereka dan membantu Yoongi merileks-kan tubuhnya.

"Sabar sayang, dad sedang memanggilkan Healernya."

"Mom… sakit… ugghhh… Aku tidak—kuat…"

"Ssttt, it's okay. Jambak saja terus rambut Jimin atau cakar dia sebagai pengalih rasa sakitnya. Babynya sudah tidak sabar ingin melihat mommy dan daddy. Sabar ya, sayang?"

Tak lama, Mr. Park datang bersama Healer Wood yang mana langsung menyuruh mereka semua menunggu di luar. Dan malam itu, kediaman keluarga Park langsung banjir kekhawatiran yang ditimbulkan setiap anggota keluarga, apalagi setelah keluarga Jeon dan Kim bergabung bersama mereka.

xxxXXXxxx

Suara tangis bayi yang menggema membuat kekhawatiran itu menghilang. Pintu terbuka dan Healer Wood berucap meminta ibu Namjoon yang kebetulan familiar dengan pekerjaan rumah sakit untuk mengurus si bayi sementara dia akan mengurus jahitan pada perut Yoongi.

Sebelum masuk kembali ke dalam, teman baik ayah Jimin berucap padanya. "Selamat, Jimin. Putramu lahir dengan sehat dan tampan seperti ayahnya. Dan well, pucat seperti ibunya."

Dan Jimin hanya bisa tergugu, ia pun tak bisa melakukan apa-apa ketika ibunya, maupun bibi Yoongi memeluknya mengucapkan selamat.

"Kau seorang ayah sekarang."

.

.

.

Jimin memandangi putra mereka yang masih merah. Terlihat sangat kecil namun begitu membuatnya berasa bahagia. Yoongi sudah sadar di sana, berbaring bersama dengan putra mereka sembari melempar senyum termanis walau lemah yang ia punya.

"Hei…"

Jimin tidak bisa menahan dirinya lagi, ia langsung bersingut mendekat dan menanamkan kecupan di seluruh wajah Yoongi. Lalu menyesap sebentar bibir tipis pucat yang senantiasa memberikannya kebahagian walau hanya lewat senyumnya.

Pemuda tampan itu lalu mengelus pipi pasangannya, berucap terima kasih pada Yoongi yang masih menatapnya lembut.

"Terima kasih, baby. Kau memberikanku putra yang sangat tampan dan lucu."

"Dia mirip denganmu."

"Kulitnya kulitmu sekali, baby. Benar-benar pucat."

Yoongi terkekeh membalasnya dan mengambil tangan Jimin, memainkannya di antara jari-jarinya. "Namanya?"

"Ya, baby?"

"Our baby's name? Kau sudah mempersiapkannya, kan?"

Jimin mengangguk dan tersenyum. Kemudian mendekatkan wajahnya untuk mengecup lembut pipi gembil putra pertamanya. "Park Jiyoo. That's his name and I hope that you would love it."

Kala itu yang Yoongi lakukan hanya mengambil wajah Jimin, dilanjutkan dengan menempatkan kecupan dan sedikit lumatan pada bibirnya. Dan berbisik, "Aku suka. Terima kasih, untuk semuanya, Jimin."

.

.

.

Karena cinta kita seperti ramuan Pepper Up yang efeknya membuat tubuh memanas.

Namun aku tak menyesal, untuk mengenalmu dan menjadi milikmu.

Karena pada akhirnya aku tahu kita memanglah ditakdirkan untuk bersama.

.

.

.

The End.


Author's Corner :

YUP! Hana, dul, set~

SAENGIL CHUKKAHAEYO KAK JIMSNOONA~ YEAAYYYY. Happy birthday to you. Wish you all the best. I hope today will be the happiest birthday ever for you, ma beloved sistaaa. Nambah umur semoga ditambahkan rejekinya, dimudahkan juga segala-galanya. Tugas akhirnya jugaaa dipermudah, jodohnya juga dipermudah /eh/ pokoknya sukses selaluuuuuu.

Maaf yooo kalo kepanjangan dan ga sesuai harapan. You know me can't write short. Untung ini dibagi dua, mabok kali kalo oneshot jadinya. But… at least, hope you like iiiiiiiit. ABO mix Mpreg mix HarPot, keblender sendiri gue wkwk. Still, semoga ga mengecewakan.

Once again, HAPPY BIRTHDAY!

Btw, untuk readers yang ga familiar sama istilah-istilah HarPot atau istilah lain, chap kemarin udah saya ubah dan udah saya tambahin di footnote istilah-istilahnya. Nah, berikut ini istilah-istilah lain (yang mungkin ada yang tidak tahu) yang ada di chap dua ini;

a. Alfa, Beta, Omega; suatu dinamika/trope yang udah dikenal banyak orang. Yumi baca disuatu diskusi, dinamika ini entah berasal dari mana tetapi banyak dipergunakan dalam suatu fanfic. Alfa itu digambarkan biasanya seorang dominan, mempesona, kuat, seorang pemimpin dan biasanya bersoulmate dengan omega. Omega itu sendiri adalah anggota (yang katanya) terlemah dari dinamika itu. Jadi omega pastinya dilindungi karena dia special. Kalau beta itu zona tengah, seperti wakil dari alfa.

b. Ruang kebutuhan dalam HarPot itu semacam ruangan serbaguna. Kita bisa minta ruangan itu jadi ruangan apa aja yang kita butuhkan.

c. Hospital Wings itu semacam klinik atau infirmary (yang ada di Hogwarts).

d. NEWT atau Nastily Exhausting Wizarding Testitu semacam ujian akhir untuk siswa/i tahun ke tujuh di Hogwarts/dunia sihir. Namun untuk bisa mengikuti NEWT, siswa/i Hogwarts juga harus melewati OWL (Ordinary Wizarding Level) yang dilaksanain di tahun kelima di sekolah mereka.

e. Felix Felicisitu nama ramuan keberuntungan. Efeknya bikin yang minum ramuan beruntung terus dalam hal apapun, kecuali dalam suatu pertandingan/kompetisi.

f. Three Broomstick; tempat makan/nongkrong. Hogsmeade itu desa sihir deket Hogwarts.

g. Healer semacam dokter. St. Mungo nama rumah sakit di dunia sihir (di HarPot. Anyway, remember this is Harry Potter!AU. I borrowed all magical stuff from JK. Rowling, tho. Kecuali plot sama karakternya._.)

h. Muggle = komunitas non-sihir.

i. Floo; semacam sarana komunikasi dan transportasi(?). Medianya perapian, jadi ada semacam bubuk gitu buat bisa pakai untuk komunikasi dan transportasi.

j. Dalam proses membuahi(?), ada yang namanya knot. Di sini saya ga pakai istilah knot, karena ga yakin bisa ngetiknya. I'm newbie in this tropesorry jadi saya buatnya Yoongi seperti di atas *bow. Knot itu sendiri adalah keadaan dimana saat alpha ingin benar-benar mengklaim omeganya, biasanya sih supaya bisa hamil, yang Yumi tau seperti itu.

k. Masa heat omega dari yang saya baca, biasanya berlangsung selama ± 7 hari.

l. Biasanya alfa ngenalin matenya dari baunya. Saya baca dari suatu diskusi, kalau alfa akan susah nolak wangi/pheromone apalagi kalau itu milik matenya.

m. Orangtua Yoongi meninggal saat Yoongi masih kecil. Ayah Yoongi itu muggle dan ibunya penyihir darah murni /piss.

n. Semua yang ada di fiksi ini murni imajinasi. Maaf kalau ada suatu kemiripan yang tidak disengaja.

Adakah yang kelewat? Kalau ada yang salah tafsirannya, kindly tell me, 'kay, guys? Kalau ada yang masih asing sama istilahnya, kindly ask me. Saya sebisa mungkin jawab via pm. Semoga ga error.

Well, oke, that's it. Still, thank you for reading until the end. See you again in another fanfic.

Best regards,

Yumi.

(Please enjoy the omake, guys!)


.

.

.

Omake

Jimin memeluk Yoongi dari belakang yang tengah meninabobokan putra mereka malam itu. Hidungnya tenggelam dalam helaian caramel Yoongi kemudian menanamkan ciuman sayang di sana. Kemudian namja berambut hitam itu menaruh dagunya di bahu Yoongi, berusaha mengintip apa dan bagaimana rupa putra mereka yang kini sudah berusia hampir satu tahun itu.

"Dia sudah tidur."

"Hmm, baby Jiyoo sudah tidur. Dininabobokan papa lagi. Lalu kapan daddy yang dininabobokan papa?"

Yoongi hanya mendengus mendengar itu. Lalu dengan pelan Yoongi meletakkan putra mereka di ranjang bayinya. Mengecup sayang dahi buah hatinya, kemudian berbalik untuk mencubit tangan Jimin yang berjalan ke mana-mana.

"Sana tidur. Bukankah besok kau ujian untuk bisa diangkat sebagai anggota auror muda dan bukan lagi menjadi anggota training?"

"Sayang, beri aku sedikit tenaga untuk besok, please?"

"Jim, Jiyoo baru tidur. Kau harapkan apa?"

"Aku berharap papa Yoongi mau mendesah di bawah daddy Jimin sekarang juga."

"Tidak mau."

"Baby, ayolah."

Yoongi lemah dipanggil begitu. Setelah mereka punya bayi, Jimin akan lebih sering memanggilnya sayang, honey, darling, atau love dibanding baby seperti dulu. Karena panggilan itu berpindah kepada bayi kecil mereka.

Yoongi menghela napas, kemudian bergerak maju untuk masuk ke dalam pelukan penuh aura seksual yang Jimin keluarkan. Dia berbisik di depan bibir namja itu sebelum menenggelamkan bibirnya dalam pagutan panas Jimin. "Kau belum mandi, Jimin."

Dan mungkin itu adalah kode Yoongi agar Jimin membawanya ke kamar mandi dan menuntaskan semua urusan mereka di sana. Sebelum akhirnya nanti Yoongi akan tetap meminta dibawa ke atas ranjang setelahnya.

"Thanks for everything, Yoongi. You complete my life."

"Terima kasih juga… karena begitu memaksa untuk memilikiku dulu."

Jimin hanya tertawa untuk kemudian mengklaim bibir istri tercintanya, ibu dari putra semata wayangnya yang kini tertidur lelap dan terbuai dalam mimpi indah.

.

.

.

See you again in another fanfic!


(auror; semacam polisi kalau di dunia manusia.)


Thanks to; Mochi Park. Dessy574. kalau ada yg ga dimengerti, chap kemarin udah saya ubah dengan ditambahin istilah-istilahnya yaa. syub0393. wkwk pengennya juga bener-bener bikin yang ada perang-perang mantra. Tapi mungkin next time XD. Dd. sudah dilanjut ya. Terima kasih sudah mampir dan baca. Saya senang kalau kalimat yang saya pake gampang dipahami. Thanks for review. Jimsnoona. eak gantung. Eh, emang ya? Iya kali/? Biarkan saja yang menting akhirnya mereka ga 'gantung' lagi/? Calon novelis apaan. Ngeledek ah yuuu. Guesteu. saya fokus ke review 'enaena-nya ngena banget' Iya kah? Jadi malu/?. viertwin. yeay! Terima kasih sudah mampir~. GithaAC. yup. Mpregnya udah keliatan yaa. Namicle. nah iya. Makanya saya nyari banget kalau ada yg buat ff MinYoon/TaeKook/NamJin ABO verse di ffn. Tapi sayang jarang:( btw udah dilanjut ya. peluke. Ilee. sudah dilanjut ya. Hantu Just In. ini cuma twoshot kak. Udah tamat tuh wkwk. GA-nya nanti ya, kak. Ditunggu sajaa. parasyub. sudah dilanjut yaa. Udah ga gantung lg tuh MinYoonnya. Herlina. reniependi07. shuu-ie. previous chap udah saya tambahin istilah-istilahnya, dan chap ini juga. Semoga ga bingung lg yaa. glowie93. tadinya mau ngasih hint kalo Hosiki LDR-an sama samwan, tp gajadi deh. Wkwk. Iya, Yoongi mah emg nganu sekali klo dihadepin sama Jimin wkwk. Ini udah dilanjut yaa. Lelakimkaaaaaa. sudah kebaca siapa yg narik Yoongi, yaa. AYP. udah dilanjut yaa. taehyunged. udah dilanjut yaa. haiiiii. akhirnya ff ini dapat menerangi hari seseorang/? Daku terhuraaa/? Park Rinhyun-Uchiha. haghaghag. Sengaja bikin tempat ML mereka di lemari sapu XD. PoppoMing. boro-boro sambil nonton HarPot, ngelirik Draconya/? aja gabisa. Ini cuma twoshot ye. Jd gue ga punya utang again. Lu dulu traktir, dunds/? BinnieHwan. minyoonlovers. udah dilanjut yaa. Cookie Kouki Cookies. iya, jarang banget yg make tema ini kalau bukan ff pairing western:( Iya, VKook emg belum mate-an. Taehyung masih ingin menjaga Jungkookie-nya dengan caranya/? shiroohan. udah diapdet yaa. Istilah-istilahnya jg udah dimasukin semoga ga bingung lg. naranari II. yup! Its already Tuesday wkwk. Ini udah dilanjut ya, kaak. Ayo dong kak coba buat dgn settingan ala harpottt /siapague. Hanami96. Woonie. udah dilanjut yaa. siscaMinstalove. today is Jimsnoona's birthdaaay. Lets wish her a happy birthday~~/? baepsaeya. hola, nyiksa Jimin emg suatu kesenangan, tp mungkin next time wkwk. Terima kasih udah suka baca ff Yumi. Lavlav. Kucing Gendut. dimana saya bisa baca ff bts!harpotlife? Please, kindly tell me where can I read them? Btw ini udah dilanjut yaa. jyr1. sudah saya jelaskan di atas ya tentang ABO~ beserta istilah-istilah harpotnya. ailiss. udah dilanjut yaa. Aqee137. wkwk udah dilanjut yaa. Yoongi kalo cerita emg suka gitu/? Indriswagirl412. EmaknyaJimin. udah dilanjut yaa. Dan juga untuk favers, followers maupun yang sedang baca sekarang. Lav.