Warna yang terlihat sekarang, Kira-kira warna apakah itu?

Sementara menggigit bibir ini, Ada warna dari sebuah usaha
Di dalam hatiku, aku bergumam berkali-kali
Apakah warna dari kata-kata?
Suatu saat, silahkan kau lihat sendiri


"dia bukan orang yang rumit"

Guanlin menganggukkan kepalanya sebagai bentuk persetujuan atas argumen Woojin. Namun tatapan pemuda Taiwan itu tak lepas dari secangkir moccachino yang menemani sore harinya dan Woojin di cafe yang tak jauh dari sekolah.

"kau juga tahu bagaimana dia hidup seperti manusia yang tidak punya dosa bukan?"

Lagi. Guanlin mengangguk.

Sementara Woojin yang juga tak menatap lawan bicaranya, menerawang kosong segelas kopi hitam yang tersaji di hadapannya. Agaknya tak bernafsu untuk menyesap barang sedikit ketika topik pembicaraan nya adalah Park Jihoon.

"apa menurutmu dia membohongi kita?" Guanlin bertanya. Nadanya nampak tak bersemangat. Sarat akan keputus asaan yang begitu ketara.

Woojin menggendikan bahu.

"entah"

Hening sesaat.

Hanya diisi oleh suara percakapan samar dari pengunjung cafe yang lain. Minus Woojin dan Guanlin. Hingga si anak bungsu keluarga Park berujar;

"dia itu terlalu bodoh untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya pada orang lain"

Woojin menghela nafas.

"bahkan pada keluarganya sekalipun.


"kalau begitu-

-apa ini Jihoon yang sebenarnya?"

Manik hitam Guanlin tak lepas dari Jihoon barang sedetik pun.

Mengamati bagaimana naturalnya si pemuda manis, yang kini surainya lebih panjang, tubuhnya lebih kurus, dan kulitnya lebih pucat dari yang terakhir kali Guanlin ingat, dengan telaten mengayomi dua bocah lain yang Guanlin simpulkan sebagai anak panti asuhan. Yang satu bernama Jisung, dan satu lagi bernama Seungmin.

Itu tidak penting.

Jihoon tidak banyak berekspresi.

Senyuman tipis.

Itu saja.

Sungguh.

Astaga.

Berbicara pun hanya sepatah dua patah kata.

Itu pun ketika tadi dia berjabat tangan dengan Guanlin dan menyebutkan nama. Setelahnya bibir itu bungkam. Sesekali menyuarakan tawa lirih menanggapi ocehan anak anak yang tak mau lepas dari dirinya.

Rasanya-

Jihoon yang ini terlalu monokrom.

'serius ini Jihoon?'

Bahkan ketika keenamnya kembali ke panti asuhan pun. Mereka sungguh seperti orang asing. Jihoon benar benar mengunci mulut.

Tanpa sadar Guanlin sudah larut dalam pikirannya sedari tadi. Sembari mengamati Jihoon tanpa mengedipkan mata.

Bruk!

Sampai kepalanya dipukul oleh sesuatu.

"hei!" Guanlin menyentak siapapun itu yang berani memukul kepala simetrisnya dengan benda keras.

Dan Guanlin mendapati Bae Jinyoung berdiri di belakangnya yang terduduk di ruang rekreasi panti asuhan dengan alkitab tua super tebal dalam pelukan.

Jinyoung menyipitkan mata.

"...belang"

Kening Guanlin mengernyit

"hah?"

"Pria hidung belang!" Jinyoung memekik keras. Sebelum meninggalkan Guanlin yang kebingungan terpaku di tempat.

Pemuda jangkung itu menatap Jinyoung yang berlalu dengan sorot mata menghakimi, hingga Daniel datang dan memberikan dokumen yang dia butuhkan untuk observasi dengan senyum mengejek.

Guanlin balas menatap bengis.

"pacarmu gila"

"kau yang gila dasar tiang listrik"

"bilang saja kau iri karena lebih tinggi"

"setidaknya tubuhku lebih atletis"

Guanlin memutar kedua bola matanya malas.

"lagipula benar kata Jinyoung, kau menatap Jihoon seperti pria hidung belang"

Muncul perempatan di dahi Guanlin. Tangan kurusnya sudah terangkat untuk mencengkram kerah baju Daniel yang balas menyeringai, menantang.

"apa katamu!?"

Kemudian kedua mahasiswa berbeda almamater itu menjadi perhatian anak anak panti asuhan karena berkelahi dengan suara berisik. Sampai Yongguk dan Samuel harus turun tangan untuk memisahkan keduanya karena sudah memberikan contoh yang tidak dewasa untuk anak anak panti.

Tidak menyadari atensi lain yang hanya mendengarkan dari balik tembok ruang rekreasi dan tak berniat untuk mendekat.


Halaman belakang rumah Jinyoung penuh dengan bunga. Juga tanaman tanaman lain yang terawat dengan baik. Terlebih semenjak Jinyoung mulai rutin datang berkunjung ke rumah nya ketika mereka sudah akrab.

Sejujurnya Jinyoung memang penasaran. Tetapi karena tak ingin menyinggung perasaan Jihoon atau mengingatkan seseorang yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri begitupun sebaliknya itu akan kenangan buruk yang terjadi di masa lalu.

Jinyoung menatap punggung sempit Jihoon yang tengah merangkai beberapa jenis bunga didalam Vas kaca yang tadi dibelinya di jalan bersama dengan Jisung dan Seungmin. Pemuda dengan surai karamel itu hanya mengeratkan selimut yang membalut tubuhnya untuk menghalau hawa dingin yang mulai menusuk seiring malam yang semakin larut.

Seringkali Jinyoung heran bagaimana Jihoon bisa sangat tahan dengan perubahan suhu di Hiroshima yang terkadang begitu ekstrim.

"kau kedinginan?"

Jinyoung menengadah. Jihoon sedang menatapnya dengan senyum tipis terpatri di wajahnya. Namun mata bening Jihoon menyiratkan kekhawatiran yang harus ditelisik terlebih dahulu agar dapat mengetahuinya.

Jinyoung mengangguk pelan

"sedikit"

"lebih baik masuk kedalam"

Jinyoung menggeleng "Jinyoung masih mau menemani kak Jihoon"

Jihoon tidak menyuarakan perintah apapun agar Jinyoung masuk kedalam rumah. Berdasarkan apa yang sudah terjadi sebelum sebelumnya, dan berhubung Jinyoung adalah orang yang peka, Jinyoung tahu Jihoon tidak akan menyuruhnya sebelum tiga puluh menit berlalu.

Jihoon menganggukkan kepala sebagai tanggapan. Jemari gemuknya kembali memotong daun di setangkai bunga mawar putih yang baru saja dia petik. Mengurangi dedaunan yang ia kira akan banyak menghabiskan air. Kemudian merangkainya bersama dengan bunga bunga lain didalam Vas kaca yang sudah berisi hidrogel.

"ngomong ngomong kak, aku tidak suka mahasiswa taiwan itu"

Pergerakan tangan Jihoon berhenti "iya?"

Jinyoung menggigir bibirnya. Jelas sekali kalau pemuda dengan nama lengkap Bae Jinyoung itu sebenarnya ragu untuk menanyakan ini atau tidak.

Beberapa kali ia membuka mulut kemudian menutupnya kembali, tak jadi berbicara.

Sementara Jihoon yang merasa Jinyoung tak kunjung berucap memusatkan atensi nya pada pemuda yang dua tahun lebih muda dibawahnya.

Jinyoung menghela nafas. Kemudian menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Jihoon.

Jinyoung mengusap usap telapak tangannya yang terasa dingin karena gugup dan udara dingin yang semakin tak bersahabat.

"apa kakak mengenal Guanlin?"

Jihoon memiringkan kepala "hm?"

Mata bulat Jinyoung berlarian kesana kemari, menghindari tatapan Jihoon yang entah kenapa membuatnya merasa bersalah sudah menanyakan ini.

"kak, dia menatap kakak seolah kakak itu familiar di mata dia. waktu pertama kali bertemu dengan kakak pun dia kaget..."

Jihoon mengedipkan matanya kemudian memalingkan wajah

"...kak Jihoon kenal sama Guan –"

"kenal"

Manik hitam Jinyoung membulat. Tapi Jinyoung segera meraih bahu Jihoon ketika menyadari pemuda bermarga Park itu menyeka air mata yang mengalir tanpa diperintah.

Jemari mungil Jinyoung bergerak untuk turut menyeka air mata Jihoon yang lambat laun semakin deras. Meski demikian, Jihoon tidak terisak. Hanya air matanya saja yang mengalir.

"aku tidak apa apa Jinyoung" Jihoon berusaha tersenyum dan menjauhkan kedua tangan Jinyoung.

Pemuda manis itu meraih sapu tangan dari dalam tas nya

"aku tidak tahu, tiba tiba air mataku jatuh begitu saja" Jihoon tertawa kecil.

Ah, Jinyoung menyesal.

Detik itu juga Jinyoung berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menanyakan itu pada Jihoon lagi.


"dia tinggal dimana?"

"tanya sendiri"

"Daniel, bantu aku"

"kenapa kau jadi cerewet sih?"

Guanlin mengacak rambutnya frustasi.

Daniel tidak membantu. Pemuda berotot, berbadan besar itu tidak bisa diajak kompromi.

Sementara Guanlin menggigiti kukunya karena pikirannya berkecamuk dan agaknya membuat ia tidak fokus.

Daniel sendiri ikut bingung dengan tingkah aneh Guanlin yang sejak usai makan malam menyeretnya kekamar untuk diintrogasi.

"kau ini kenapa sih?"

Guanlin tidak menyahut. Dia sibuk memperhatikan ponsel kemudian melamun kemudian mengacak acak rambut kemudian menatap ponsel lagi.

Dalam hati Guanlin sedikit bersyukur Daniel itu kinerja otaknya lambat. Sehingga ia tidak begitu ngeh ketika Guanlin bertanya ini itu tentang Jihoon seperti psycopath yang kesetanan dan menginginkan informasi korbannya. Segera.

Tapi Guanlin juga merutuki ke bodohan Daniel disaat dia gusar setengah mampus. Mempertimbangkan sesuatu yang baginya setara dengan hidup dan mati seseorang. Antara ingin menghubungi Woojin untuk memberi kabar kalau ia bertemu kakak kandungnya ketika melakukan penelitian di Hiroshima dan mereka bersikap seperti orang yang tidak pernah mengenal, kemudian harus siap sedia dengan berondongan pertanyaan atau intinya bla bla bla bla bla nya Woojin yang bisa tidak mengenal rem.

Guanlin juga bisa menyimpan informasi ini seorang diri terlebih dahulu.

Sampai waktunya tepat.

Sampai minimal ia berhasil membujuk Jihoon pulang.

Iya, minimal begitu.

Kalau tidak terjadi?

Guanlin menghembuskan nafas dengan kasar.

Sialan.

"hoi"

Diam.

"bangsat" Daniel melempar bantal hingga tepat mengenai kepala Guanlin.

Tapi Guanlin kembali tidak menghiraukan. Pemuda jangkung itu beranjak dari duduknya. Menggeledah tas punggung yang ia bawa dari tokyo dan mengeluarkan sebuah map serta sebuah buku yang sudah nampak usang.

Guanlin mendelik pada Daniel

"pergilah Kang. Maaf sudah menyeretmu kesini"

Bocah satu ini mau nya apa sih, Daniel menggerutu dalam hati.

Pemuda berbahu lebar itu kesal setengah mati. ia berjalan ke belakang Guanlin dan menggeplak kepala bersurai hitam itu keras keras. Dengan sangat tidak manusiawi.

"bocah, kau ini lebih muda tiga tahun dibawahku. Kurang ajar sekali kau. Bagaimana bisa kau satu tingkat denganku sementara sopan santun dengan orang yang lebih tua saja tidak punya. Apa otakmu sudah berkarat karena terlalu sering mengerjakan soal logaritma hah? Berani beraninya kau menipuku dua hari kemarin –"

Daniel tercenung sesaat.

"ah! Aku tahu! Kau uring uringan karena jatuh cinta pada Jihoon kan!?"

Guanlin berjengit

Terkutuklah Daniel dan mulut tanpa rem nya. Beserta otak yang sudah kehilangan fungsi tetapi masih tertanam didalam kepala pemuda berbahu lebar itu.

"tidak. Logika mu itu dapat darimana"

Daniel menyeringai jahil

"masa?"

Guanlin diam saja.

Lagipula tidak ada gunanya berdebat dengan orang bodoh seperti Daniel.

"well, aku Cuma ingin memberitahu kalau usahamu mungkin sia sia"

Kening Guanlin mengernyit, sontak pemuda tampan itu menoleh pada Daniel yang menyilangkan tangan didepan dada. Masih dengan senyum menyebalkan yang membuat matanya hanya tersisa segaris.

"ada orang yang mencintai Jihoon bahkan sampai rela kehilangan jati dirinya sendiri"

Dan Guanlin menarik kata katanya yang menyatakan kalau Daniel adalah mahasiswa paling bodoh yang pernah ia kenal seumur hidupnya.


Surai abu abu Jihoon menari ketika angin malam menerpa. Pemuda manis itu merapatkan hoodie kebesaran yang ia kenakan untuk menerpa dingin. Sesekali menggosokkan telapak tangan agar afeksi kehangatan yang ia dapatkan lebih banyak, setidaknya cukup untuk tidak membuat nya hipotermia karena terlalu lama terkena udara dingin. Jihoon juga harus memastikan jika ia meminimalisir kemungkinan terkena demam, atau dia akan panik setengah mampus dan Jihoon benci. Dia agak mendramatisir. Kurang lebih begitulah Jihoon menganggap dia yang senantiasa berlebihan akan segala sesuatu yang menyangkut Jihoon.

Atau, - mungkin itu karena Jihoon tidak peka?

Setelah pertigaan ini, Jihoon akan menemukan gedung apartemen yang ia tinggali selama empat tahun terakhir. Gedung apartemen megah yang hanya memerlukan sepuluh menit jalan kaki dari halte tempat Jihoon turun dari bus.

Pemuda manis itu melangkah dalam diam. lebih fokus pada upaya untuk menghangatkan diri dibandingkan memusatkan atensi pada seorang pemuda tinggi bertubuh kekar yang berlari tergesa gesa padanya. Disertai teriakan penuh peringatan dari dua orang lain dibelakang si pemuda. Samar samar Jihoon mulai mendengar suara teriakan yang berkata

"Jeon Jungkook! Jangan keluar dari apartemen seperti itu! setidaknya gunakan jaket atau masker! Diluar dingin dasar bocah bodoh!"

Dan teriakan itu mengganggu.

Jihoon menengadahkan kepala dengan malas. Matanya langsung bersibobok dengan mata bulat pemuda yang tadi namanya diteriakkan dengan sebutan bocah bodoh oleh orang yang Jihoon ketahui adalah manajer si bocah bodoh itu tadi. Tapi sepertinya si bocah bodoh itu tidak begitu peduli. Lihat saja matanya yang seolah menghakimi Jihoon.

Ah,...Jeon Jungkook memang menyebalkan seperti biasa.


TBC


Pojokan nyampah Rac-chan:

Ada yang nungguin fanfiksi ini apdet? Engga? Oke deh :'(

Anyway, maaf karena chapter ini agak ngga jelas /sangat malah/. Sangat membingungkan :3. Penulisnya emang rada rada kampret karena menjalani hidup yang penuh dengan kemalasan dan ketidakjelasan /mellow gaes/.

Yang mau menghujat saya monggo berkoar koar di kolom komentar. Ehe.

Ditulis dengan penuh rasa bersalah ngomong ngomong :3

sincerely ; lotusarian