Hinata berdiri dengan gugup ia berkali-kali menggenggam tas sekolahnya demi meredakan panik yang melanda dirinya. Ia melirik ponselnya yang menampakan waktu saat ini.

"Oh tidak, sepuluh menit lagi gerbang akan di tutup." Hinata berkeringat dingin. Ini salahnya, tidur terlalu malam dan belum menyiapkan keperluan untuk adiknya malam tadi. Jadi, dia terpaksa mengorbankan waktu sekolahnya seperti ini.

Kereta akan sampai lima menit lagi namun dari stasiun menuju Iwatobi high perlu waktu lima belas menit jika berjalan kaki apa yang harus dilakukannya sekarang? Jika dia terlambat pasti berpengaruh besar pada nilainya, bukan rahasia umum jika sekolah Iwatobi suka mencabut beasiswa seenaknya jika guru tidak menyukai murid ataupun jika sang murid membuat kesalahan kecil. Saat suara kereta menandakan kereta sudah berhenti dengan secepat kilat Hinata berlari dengan tenaga tercepat yang ia miliki untuk sampai ke Iwatobi.

Sakura yang berguguran di sepanjang jalan tak membuat Hinata berhenti berlari untuk sekedar memuja indahnya bunga khas musim semi itu, yang ia pikirkan adalah bagaimana bisa sampai sekolah tepat waktu saat ini sampai dia tak sadar ikat rambutnya terlepas dan membuat surai indigo yang ia warisi dari sang ibu berkibar-kibar tertiup angin. Dan suara sebuah klakson yang nyaring hampir membuat Hinata berteriak kaget bercampur marah, ia menolehkan kepalanya dan menemukan sebuah mobil sport berwarna hitam ada disana, ia menyeritkan dahinya saat mobil itu tiba-tiba berhenti melaju padahal tadi mengklaksoni dirinya seolah mobil itu sangat terburu-buru.

"Hei, nona teladan? Kesiangan hari ini?" sebuah kepala dengan surai blonde yang acak-acakan dan guratan di masing-masing pipi itu muncul dari kaca mobil itu dan tersenyum miring terhadap Hinata.

Hinata mendecih, minggu ini adalah minggu yang terkutuk untuknya dimulai dari kemarin si Namikaze membuatnya menangis, lalu keterlambatannya pagi ini, dan hari ini disaat ia terburu-buru menuju sekolah kenapa ia harus bertemu dengan si troublemaker itu? Ia memilih mengabaikannya dan kembali berlari kecil seolah Namikaze Naruto tak ada.

"Percuma saja, mau kau berlari secepat apapun tidak akan sampai tepat waktu. Lebih baik kau menumpang padaku, seterlambat apapun kau akan tetap diizinkan masuk." Lagi Naruto kembali berbicara sambil menyeringai melihat pergerakan itu terhenti.

"Dia benar, sekarang tinggal lima menit sebelum gerbang ditutup dan lagi jika aku bersamanya pasti aku dipermudah untuk masuk. Jelas, sekolah itu milik keluarganya." Hinata menimbang keputusan yang akan diambil untuk dirinya.

Dengan harga diri yang ia kesampingkan, dia mencoba memasang poker face dan menghampiri mobil hitam metalik yang ada di belakangnya, "Kau yakin memberiku tumpangan?" hinata memandang datar pemuda yang sudah menyeringai layaknya iblis di hadapannya.

"Mungkin jika kau memohon aku akan segera membukakan pintu ini." Naruto memasang wajah berfikir dengan jari telunjuk yan menempel di dagu.

Hinata menggeram gemas, kesabarannya diuji sekarang ia mencoba menarik nafas dan tersenyum datar.

"Ini demi diriku." Batinnya.

"Um, Namikaze-sama boleh aku menumpangi mobilmu hari ini? Ku mohon." Hinata mati-matian menahan amarahnya ia lebih memilih jalan terbaik yaitu menuruti kemauan Naruto.

"Oh tentu saja, nona rendahan. Sebagai seorang dermawan tentu aku mau membantumu dengan menghabiskan bensin ku demi membantu dirimu." Naruto kembali terkekeh, dia terseyum miring dan menekan tombol otomatis yang membuat pintu mobilnya terbuka.

"Kenapa aku harus duduk di depan? Disamping mu?" Hinata yang sudah duduk di samping Naruto meletakan tasnya di atas paha dan menatap lurus ke depan.

"Oh, jadi kau ingin duduk di belakang dan aku menyupiri dirimu? Ah, aku tau kau ingin seperti gadis kaya lainnya kan? Yang disupiri, dan kau bisa tenang di belakang?" Naruto menoleh pada Hinata yang masih menghadap depan menatapi jalan yang sepi.

"Urusai, jalankan mobilmu kita sudah terlambat."

"Kau memerintahku Hyuuga? Dan kita? Oh maaf saja, tidak akan pernah ada kita untuk dirimu dan diriku." Dan dengan sekali gerakan Naruto mengemudikan mobilnya dengan liar, ia bahkan tak menginstrupsi Hinata agar menggunakan sabuk pengaman ataupun berpegangan.

"Kau gila Namikaze, tidak waras. Kau ingin membunuhku?" Hinata berteriak menjerit begitu mobil yang dikemudikan Naruto rasanya akan menjadi malaikat kematian untuknya.

Naruto tersenyum lagi ah tidak menyeringai pagi yang indah dengan menyiksa Hinata dengan omongan pedas dan tingkahnya. Ia bahkan masih berfikir cara apa lagi untuk menyiksa gadis bersurai kelam ini? Apa dia harus membuat mobil ini seperti akan kecelakaan? Atau dia bisa melompat dari mobil dan meninggalkan Hinata sendirian? Tidak, itu merugikan dirinya sendiri lebih baik merugikan Hyuuga dari pada dirinya.

"Hentikan baka Naruto, aku masih ingin hidup." Hinata dengan segenap keberanian yang masih melekat melempar tas yang menutupi rok mininya ke arah Naruto dan sayangnya ditangkis oleh Naruto dengan mudah.

"Wow." Naruto bergumam kagum saat melihat paha putih Hinata tersingkap keatas, bersih dan mulus itu mampu membangkitkan fantasi liar seorang Namikaze Naruto dan tanpa sadar menghentikan laju mobilnya karena sudah sampai tujuan dan mungkin fokusnya hilang karena pemandangan yang disuguhkan Hinata.

"Apa yang kau lihat? Dasar mesum!" Hinata menyilangkan kedua tangannya didada setelah menarik roknya lebih kebawah.

"Sungguh indah jalang. Berapa pemuda yang sudah menyentuh itu?" Naruto terkekeh meremehkan sambil melirik paha Hinata secara terang-terangan.

"Jaga mulutmu Namikaze." Hinata menarik tasnya dan segera memakainya menggenggamnya, menatap Naruto dengan menantang. "Buka pintu ini." Tegas Hinata sambil menunjuk pintu disebelah kirinya.

"Mungkin setelah kau mendesah untukku." Naruto menyeringai dan melepas sabuk pengamannya kemudian membuka dua kancing atas kemejanya.

"Apa yang kau katakan? Jangan macam-macam Namikaze." Hinata membuat jarak dari Naruto yang mulai mendekatinya.

Naruto mengabaikan itu semua dan terus mendekati Hinata, yang sudah terpojok pada pintu mobilnya, ia menjilat bibir seolah menemukan hal menggiurkan di hadapannya.

"Diam Namikaze, jangan mendekat." Hinata melirik kiri-kanannya berusaha menemukan alat untuk menghindari Naruto, namun sayang tak ada yang dapat membantu.

Dan semakin dekat hingga Naruto dapat merasakan aroma parfum yang Hinata gunakan. Dan setelahnya ia tertawa terbahak-bahak. "Sudah kelas dua tingkat atas, tapi masih menggunakan parfum dengan aroma seperti ini? Hei, gunakan aroma yang lebih menggoda agar menimbulkan sensasi seksi."

"Diam Namikaze, buka pintu ini. Aku sudah tertinggal jam pertama, aku bisa dianggap alfa, mengertilah." Hinata menunduk entah merasa malu tentang parfumnya atau merasa sedih karena kecerobohannya pagi ini.

"Oh, ayolah sudah berapa kali ku katakan? Menyebalkan melihat mu menangis." Naruto mulai mundur menjauhi Hinata, dan tangannya tergerak menye tuh tombol yang menjadi perintah untuk membukakan pintu.

Seketika pintu tersebut terbuka Hinata langsung melompat dan menarik tasnya dan segera meninggalkan kawasan parkirann, ia bahkan tak melirik Naruto sama sekali. Sedangkan Naruto memandangi punggung gadis itu dan tersenyum senang paginya telah diisi hal menyenangkan, ia berniat segera menyusul gadis itu namun sebuah hal menarik perhatiannya.

"Lembaran pengumuman seleksi ketua osis dan formulir seleksi? Oh bagus sekali Hyuuga kau memulai permainan baru ini, jangan harap kau bisa menang dengan mendahului ku." Naruto meremas kedua kertas itu sehingga berbentuk bulat tak beraturan. Kemudian melempar kertas itu ke sembarang arah.


Ini masih ukk tapi ori sempetin ngetik kilat sekalian up, pendek ya? Next chp lebih panjang, janji wkwk.