Pairing : Jumin X Mc
Disclaimer : Cheritz
Genre : Angst, Suspense, Romance, Drama
Rate : M for Lime
Pesta tetap terlaksana dengan baik tanpa adanya Mc, walaupun Jumin terkadang terlihat melamun tapi dapat di sadarkan oleh teman-temannya yang lain. Bukan hanya Jumin saja yang khawatir dan juga marah, tetapi Yoosung, Zen, Jaehee, Seven bahkan V juga merasakan hal yang sama, mereka menyesal sudah meminta Jumin untuk memulangkan Mc. Mereka sempat berdebat di chatroom tapi semuanya berakhir ketika Jumin berkata berdebat tidak akan menghasilkan apapun dan mereka harus fokus pada pesta.
Setelah pesta berakhir mereka memutuskan untuk berkumpul di ruangan rapat perusahaan Jumin dan membahas misi penyelamatan Mc. Dengan sigapnya Seven menyiapkan laptopnya dan berkata
"aku akan memperlihatkan apa yang terjadi di apartemen Rika setelah Mc pulang"
Dari layar besar terlihat mc yang sedang berjalan menuju pintu apartemen, kakinya terhenti seketika ketika melihat mahluk yang ada di hadapannya bukanlah orang yang dia kenal, mereka terlihat berhadapan dan bercakap-cakap tak lama kemudian Mc pun berlari menuju kamarnya, sedangkan pria yang masuk tanpa ijin itu berjalan dengan santai sambil mengeluarkan sebuah pistol. Laki-laki berambut putih itu mencoba membuka pintu kamar Mc dengan menendangnya berkali-kali sambil entah mengatakan apa, tak lama kemudian pintu tersebut terbuka da dengan cepat dia berlari menuju Mc yang entah sedang apa karena kamar tersebut tidak terdapat cctv. Setengah jam kemudian terlihat laki-laki berambut putih ke merah-merahan itu jalan keluar kamar Mc sambil membopong Mc yang tidak sadarkan diri di pundaknya. Dengan santai dia melihat kearah cctv yang ada di ruangan itu dan layarpun berubah menjadi gelap.
Semua orang yang telah menonton terdiam dan menundukkan kepalanya, begitu pula Jumin, dari raut mukanya terlihat marah dan juga kebingungan.
"pada saat itu terjadi. . . . Mc masih berbicara padaku lewat telepon, dia mengatakan ada seseorang yang masuk kedalam apartemen, dari suaranya aku bisa mendengar isakannya mencoba untuk tidak menangis dan juga ketakutannya. . . lalu dia juga berkata apapun yang terjadi padanya pesta yang sudah di rencanakan harus tetap di laksanakan. . . .dan juga dia sangat menyayangi ku dan juga anggota RFA yang lain, dia berharap tidak terjadi apapun kepada kalian. . . setelah itu yang aku dengar suara debuman pintu dan. . . . . suara kesakitannya. . ."
Semuanya menajamkan telinga dan semakin merasa bersalah ketika Jumin mengatakan semua itu.
"lalu tak lama kemudian. . . kita bisa melihat sendiri di chatroom. . . seseorang yang mengaku kalau dirinya Unknown itu dapat masuk kedalam chatroom kita, dia berkata jika ingin Mc selamat kita harus membatalkan pesta hari ini. . .tapi kita melanggarnya. . . . kita tetap melaksanakan pesta seperti yang Mc inginkan. . . ja. .jadi. . ."
Jaehee tidak sanggup meneruskan perkataanya, dan terisak memikirkan nasib temannya yang entah seperti apa.
"ini bukan waktunya kita untuk bersedih, apapun yang terjadi kepada Mc. . . . kita harus menemukannya!"
Lanjut Jumin meneruskan perkataan dan mencoba tegar, mendengar perkataan Jumin semua yang berada dalam ruangan tersebut mulai tersulut api semangat.
"dan aku akan menemukannya. . ."
Tambah Seven membiarkan senyum semua orang mulai berkembang.
.
.
.
Sementara itu
PRAK
"argh!"
"semua ini salah mu!"
Tangan Mc yang terangkat keatas membuat dirinya tergantung di tengah-tengah ruangan yang terlihat seperti penjara bawah tanah dan hanya diterangi oleh cahaya dari jendela jerugi dibelakangnya. yang bisa dia lakukan hanya mengerang kesakitan badannya di pecuti oleh laki-laki yang sudah membawanya ketempat itu. Gaun pemberian Jumin masih terpakai olehnya, walaupun banyak sekali sobekan akibat kerasnya pukulan yang ia terima masih setia menutupi beberapa bagian dari tubuh mungilnya itu.
PRAK
"ARGH! He. . Hentikan"
PRAK
"seharusnya pesta itu tidak terlaksana!"
PRAK
"ARGH"
"apa yang sudah kau katakan pada anak kaya raya itu hah?!"
Bentak laki-laki yang itu sambil mencekik leher Mc yang sudah dipenuhi dengan memar-memar, sedangkan Mc membalasnya dengan senyuman lirih
"k. .k. .kau. .k. .ka. . kalah"
Jawab yang Mc berikan malah membuat cekikan yang ada di lehernya semakin menguat.
"dasar perempuan jalang!"
Mc yang dicekik hanya pasrah terdiam mencoba untuk bernafas walaupun sulit sekali. Merasa kesal melihat Mc tangan yang menyekiknya itu terlepas lalu membuka rantai yang selama ini memasung Mc. Tubuhnya yang sudah tidak bertenaga terkapar di lantai yang dingin, dia hanya terbatuk batuk karena cekikan tadi, tubuhnya terasa sakit dan tidak punya tenaga untuk menggerakkannya, ingin rasanya berlari dari tempat itu tapi keadaan berkata lain.
"Hahahahah! Lihatlah dirimu! Kasihan sekali~ mana orang yang selama ini akan melindungi mu?! Kau tidak ada artinya didunia ini, sama seperti ku! Sebaiknya kau ikut bersamaku, dan hidup seperti ku, dan kau tidak akan merasakan kesakitan sepeti ini lagi. . .Hahahahaha"
Ucapnya keras mencoba untuk mengancam Mc yang masih diam tengkurap di lantai, tangannya perlahan di gerakkan dan yang dia lakukan menjulurkan jari tengahnya kepada laki-laki itu walaupun hanya sebentar.
"a. . apa? Hahahahaha! Dasar jaalaaaang!"
Kakinya yang sudah terpasang sepatu boots itu pergi menghampiri dan mendaratkannya di kepala Mc, dengan santai dia menekan kakinya juga memutarnya dangan cepat, membuat pipi Mc yang menempel di lantai bergesekan.
"arrgh! Hentikan!"
Erang Mc di balas dengan jambakkan yang menarik tubuhnya keatas, laki-laki itu mensejajarkan badannya.
"aku yang berkuasa disini, sedangkan kau. . . hmm. . .bagaimana kalau kita bermain di tempat lain? Aku yakin kau sudah pernah melakukannya dengan anak kaya raya itu kan"
Bisiknya tepat ditelinga Mc dengan lembut sambil menggigit cuping telinga Mc. Mendengar kalimat tersebut mata kuning madu Mc membesar, mengingat malam di mana dia melakukan hal yang seharusnya dia lakukan bersama suaminya kelak malah ia lakukan bersama Jumin, pria yang sudah menawan hatinya. Merasa sesuatu yang lebih buruk akan terjadi pada dirinya dia mencoba melawan dan tak mampu menahan air matanya mengingat akan sosok yang ia sayangi itu. Dengan sekuat tenaga dia lepaskan rambut yang dari tadi menarik dirinya itu lalu dia memukul kepala laki-laki itu dengan sepatu hak tingginya.
"ARGH! APA YANG KAU LAKUKAN! AAARGH!"
Merasa kepalanya yang di hantam oleh benda tajam laki-laki itu merintih kesakitan sambil mencoba menggapai Mc yang berlari menjauh darinya, tapi karena pergerakan Mc yang cepat dia tidak sanggup menangkapnya.
Dengan terengah engah Mc berlari mencari jalan keluar dari tempat tersebut, membutuhkan waktu yang lama sampai dia menemukan pintu keluar, dia mencoba mebuka pintu besar yang ada di hadapannya tapi terkunci, lalu dia mencari jendela dan memecahkan kacanya, lalu mencoba keluar melewati jendela tersebut. Merasa dirinya bisa keluar dari tempat tersebut dan dengan kekuatan yang mulai habis dia terus berlari walaupun terkadang terjatuh tapi dia terus berlari. Gaun hijau yang Jumin berikan sudah tidak terlihat utuh penuh sobekan memperlihatkan sedikit tubuhnya yang memar dan juga berdarah akibat luka yang sudah diberikan padanya. Dia berharap bisa kembali kepada Jumin, walaupun dengan keadaan seperti itu.
DOR
Dengan senyuman kemenangan laki-laki yang sudah Mc pukul dengan sepatunya menembakkan pelurunya ke arah Mc yang sedang terdiam menerima tembakan dari arah belakangnya, peluru itu tepat mengenai punggungnya yang terbuka, seketika badanya ambruk ke tanah. Melihat kesempatan itu dia mendekati Mc lalu menarik peluru yang seperti suntikan kecil itu dari punggung mc dan menarik kembali rambut indah Mc.
"hei~ kau mau kemana? Kau tau kan, malam ini kau harus bagaimana? Hahaha tenang saja, aku tidak akan membunuh mu, peluru tadi akan hanya membuat mu lumpuh untuk sementara tapi kesadaran mu tetap sadar kok~ kau tidak akan mati, malah kau akan merasakan kenikmatan dunia yang akan aku berikan~ hahahahaha"
Tawanya keras membuat Mc menangis dalam hati tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan dirinya.
.
.
.
"Seven. . ."
"hmm?"
"apa. . . Mc masih hidup?"
Terjadi percakapan antara Jumin dan Seven di dalam mobil yang sedang Seven kendarai, mereka memutuskan untuk pergi ketempat yang mereka curigai. Walaupun mereka pergi berdua ditambah 5 orang bodyguard yang mengikuti mereka dari belakang tetap yakin kalau mereka dapat menemukan Mc.
"tenanglah Jumin, aku yakin dia masih hidup"
Jawab Seven serius, sedangkan Jumin hanya terdiam melihat ke depan dimana cuman ada jalan untuk 1 mobil dan pohon pohon yang mengitari mereka. Sampai akhirnya mereka melihat suatu gedung besar yang seharusnya tidak ada di atas puncak pegunungan seperti ini.
"apa ini tempatnya?"
Tanya Jumin sambil keluar dari mobil, rasanya dia ingin berlari memasuki gedung itu dan mencari Mcnya.
"iya aku yakin disini, aku pernah bertemu dengannya di sini bersama Yoosung"
Jawab Seven sambil menggendong tasnya dan berjalan mendahului Jumin sambil memperhatikan sekitar. Jumin pun memerintahkan ke 3 bodyguardnya ikut bersamanya dan sisanya menunggu di mobil lalu masuk melalui pintu lain tidak seperti yang Jumin bayangkan.
.
.
.
"hmm. . . .lihat lah, kulit mu yang mulus ini di hiasi memar membuatnya tampak lebih indah"
Mc hanya diam terkapar masih dalam pengaruh bius yang di berikan oleh laki-laki berambut putih yang selama ini di beri julukan Unknown oleh RFA, sekarang dia sedang mengelus tengkuk Mc dan berusaha melepas sisa pakaian yang menempel di tubuh Mc.
"haah, kenapa kau kurus sekali? Apa kau kekurangan makanan? apa anak kaya raya itu tidak bisa memberikan mu makanan yang sehat? Yah walaupun bagian dada mu tidak begitu kecil. . . aah! Aku tau, apa kau melakukan operasi? Kau tau kan, wanita itu tidak pernah puas akan penampilannya, mereka ingin begini lah begitulah, apa kau termasuk? Baik kita cek!"
Tuturnya panjang sambil memperhatikan bagian atas tubuh Mc yang sudah tidak tertutupi oleh apapun, merasa mahluk yang ada di bawahnya tidak berdaya Unknown pun langsung menggerayangi tubuh Mc dengan kasarnya tidak memperdulikan luka luka yang dia tambah dengan cakaran dan juga kecupan. Tubuhnya bergerak sesuai dengan instingnya, mulai dari bagian atas tubuh Mc dan juga bagian bawah badan Mc yang masih tertutup dengan pakaian dalamnya. Walaupun tubuhnya di puaskan oleh orang yang tidak ia harapkan Mc tetap terdiam dan hanya bisa menangis dalam hatinya, badannya tetap terdiam padahal ingin sekali dia menyingkirkan tangan yang sedang mengelus bagian bawah tubuhnya itu.
PIIIP PIIIP PIIIP PIIIP
Aksi Unknown pun terhenti ketika sistem keamanan gedung memberitahukannya jika sistem tersebut sudah dijebol oleh seseorang.
"a-apa apaan ini!"
Dengan sigap dia beranjak dari kasurnya dan melihat kearah Mc.
"kau. . . apa kau melakukan sesuatu?!"
Diapun pergi menuju mejanya dan mengutak ngatik komputernya, tapi usahanya tidak menghasilkan apapun, matanya tertuju kepada layar cctv yang memperlihatkan Seven dan juga Jumin yang sedang berjalan ke ruangan dimana dia berada sedangkan ke 3 bodyguardnya sedang berusaha melindungi majikannya dari 5 penjaga yang ia sewa untuk melindungi bagunan ini.
"luciel! Si berengsek itu dan juga anak kaya raya itu!"
Ujarnya frustasi lalu merogoh sakunya dan mengambil handphonenya, lalu mengirimkan suatu email kepada seseorang, setelah itu dia pergi ke lemari dan mengambil senjatanya.
BRAK
Jumin pun masuk kedalam kamar itu, matanya tertuju kepada Unknown yang sedang mengarahkan senjatanya kepada Mc. Matanya membesar ketika melihat keadaan Mc, bukan hanya Jumin, Seven pun mematung melihat orang yang selama ini ia cari ada di hadapannya dengan keadaan tubuh yang tidak terlindungi apapun dan penuh dengan memar juga luka yang masih baru begitu menyedihkan.
"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADANYA BERENGSEK!"
Teriak Jumin yang sudah tidak bisa menahan amarahnya. Mcnya yang selalu ia cintai terlihat begitu menderita. Tubuhnya dengan cepat pergi kearah Unknown tapi di tahan oleh Seven.
"Lihat dia Jumin, jika kau pergi sekarang dia bisa membunuh Mc dengan sekali tebas"
Ujarnya membuat Jumin mengurungkan niatnya, dia harus tetap bersabar walaupun rasanya ia ingin membunuh mahluk yang sedang mendekap dan mengarahkan pisaunya di leher Mc.
"ahahahahaha kalian tidak bisa melakukan apapun, nyawa mahluk ini sekarang ada di tangan ku!"
Tuturnya sambil menggoreskan pisaunya di leher Mc sampai mengeluarkan darah segar. Jumin semakin marah melihatnya. Mc yang menyadari keadaannya mencoba menggerakkan badannya sedikit demi sedikit dimulai dari jarinya yang mulai bisa di gerakkan.
"apa yang kau ingin kan sebenarnya?"
Tanya Seven heran akan kelakuan orang yang ada didepannya itu.
"hah? Aku? Aku hanya ingin pesta kemarin gagal! Dan ternyata kalian tetap melakukannya, ya sudah aku akan mengambil mahluk ini bersamaku! Ahahahaha"
Tuturnya sambil menyeret Mc yang masih berusaha menggerakkan tangannya
". . . . . berikan dia padaku, dan aku akan memberikan apapun yang kau ingin kan"
Rajuk Jumin mencoba menahan amarahnya, sedangkan Unknown yang mendengar penuturan Jumin mulai tertarik dengan percakapannya.
"hmm. . . penawaran yang bagus haha. . . . kalau begitu, aku akan menukar mahluk cantik ini dengan mahluk yang berada di samping mu"
"apa?!"
Jawab Jumin menanggapi keinginan tersebut, matanya menatap Seven yang diam mematung melihat Mc.
"hah? Apa kau gila? Mana mungkin aku bi-"
"baiiklah, aku bersedia kau menukar Mc dengan ku"
Next chapter hari Senin tanggal 24
sepertinya bakalan tamat di chapter 3 (semoga aja)
Thanks for the review
Bye~ 3
