Menghabiskan waktu bersama Draco dirumahnya didunia muggle ternyata bukanlah ide yang buruk. Sesungguhnya―itu justru merupakan ide terbaik saat ini karena saat bersama pemuda itu, mimpi buruknya hilang. Dan Hermione merasa jauh lebih baik ketimbang saat ia masih tinggal di The Burrow.

Mereka banyak melakukan hal-hal berbau muggle bersama seperti menonton film, berjalan-jalan ke beberapa tempat dengan taksi―yang sudah jelas belum pernah dinaiki Draco sebelumnya―, dan bermain beberapa permainan muggle. Hermione tahu Draco sebenarnya cukup menikmatinya walaupun pria itu selalu mengeluarkan kritikannya pada setiap hal-hal berbau muggle yang mereka lakukan atau temui. Hermione paham jika pria itu memiliki ego yang lebih tinggi dari pada tubuhnya sendiri.

"Jadi muggle takut pada hantu? Cih, payah sekali." Hermione hanya memutar bola matanya malas mendengar komentar Draco seusai mereka menonton sebuah film horor. Ia sudah terlalu malas menanggapi komentar pedas Draco tentang hal-hal berbau muggle. Jika ia menanggapi hanya akan terjadi pertengkaran tak berujung nantinya.

"Kau mau kemana?" tanya Draco begitu Hermione bangkit dari sofa yang sedang mereka duduki.

"Tidur lebih baik dari pada mendengar komentar tak bermutumu itu, Malfoy."

Draco menyeringai, "Kau yakin bisa tidur tanpa aku?"

Hermione memilih tetap beranjak kekamarnya tanpa menjawab. Ia tahu Draco hanya mencoba menggodanya seperti biasa.

Draco mendengus melihat Hermione yang mengacuhkannya. Dengan malas ia ikut bangkit dari sofa―lalu berjalan menyusul Hermione kekamarnya dilantai atas.

Semenjak hari pertama mereka tidur bersama―mereka memutuskan untuk selalu tidur bersama setidaknya selama mereka dikediaman Hermione. Karena entah bagaimana, mimpi itu hilang saat mereka tidur bersama. Seakan kehadiran satu sama lain merupakan mantra paling ampuh untuk menangkal mimpi buruk mereka.

Beberapa orang mungkin akan berpikir macam-macam jika Hermione menceritakan hal itu. Ditambah dengan fakta Draco selalu bertelanjang dada saat tidur―Hermione tak bisa menyalahkan jika mereka berpikiran macam-macam. Tapi Hermione berani bersumpah, mereka tak pernah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar berpelukan dan berciuman. Atau dengan kata lain, sex.

Mungkin sex bukanlah hal yang tabu lagi dinegaranya. Apalagi umurnya dan Draco sama-sama sudah bisa dikatagorikan dewasa. Secara hukum, mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau. Namun―Hermione sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan melakukannya sebelum dirinya menikah. Ia hanya akan memberikan hal itu pada suaminya, kelak. Terdengar kuno memang tapi Hermione tak peduli. Virginitas adalah kehormatannya sebagai wanita. Dan Hermione tak ingin kehilangan hal itu sebelum saatnya.

"Granger?" panggil Draco yang sudah menyembulkan kepalanya dipintu kamarnya. Lalu, pemuda itu masuk kedalam kamarnya―hanya menggunakan celana piyamanya. Dan Hermione sudah cukup terbiasa dengan kebiasaan kekasihnya itu.

Draco duduk disampingnya diranjang. Pria itu menampilkan ekspresi seriusnya―ekspresi yang jarang sekali ditunjukkannya. Membuat Hermione bertanya-tanya apa yang membuat pria itu menampilkan ekspresi tersebut.

"Ada apa?"

"Orang tuamu." Jawab Draco. Wajahnya terlihat murung, membuat Hermione merasa khawatir karena menurutnya wajah murung pria itu berhubungan dengan kabar tentang orang tuanya.

"Mom bilang kemarin dia sudah menemukan alamatnya. Tapi ketika orang suruhan mom mengeceknya, ternyata orang tuamu sudah pindah. Dia masih berusaha mencari alamat baru orang tuamu." Hermione bernapas lega. Setidaknya itu lebih baik dari pada mendengar sesuatu yang buruk terjadi pada orang tuanya. Ia tak bisa membayangkan jika orang tuanya meninggal sebelum mereka bertemu lagi.

"Aku akan bilang pada mom untuk mengganti orang suruhannya itu. Kerjanya lamban, harusnya sekarang dia sudah membawa orang tuamu kesini." geram Draco. Rahang pemuda itu mengeras, membuat tangan Hermione terangkat untuk mengelus bahunya agar pemuda itu lebih tenang.

"Tidak perlu, Malfoy. Mungkin memang orang tuaku sulit ditemukan. Ini bukan salah orang suruhan ibumu atau dirimu. Aku sudah sangat berterima kasih atas bantuanmu yang satu ini." kata Hermione sambilnya tersenyum tulus.

Draco menoleh lalu menggeleng pelan, "Sudah jadi tugasku untuk membawa kembali orang tuamu, Granger. Aku tahu kau sering menangis karena merindukan orang tuamu. Jangan coba-coba mengelak, Granger. Aku melihat semuanya."

"Oh, jadi kau melihatnya ya." Hermione mengalihkan wajahnya kearah lain―menghindari tatapan serius bercampur khawatir milik Draco. Sedikit banyak ia merasa malu karena sudah memperlihatkan sisi lemahnya dihadapan Draco.

Draco menangkup pipi Hermione untuk menatap kearahnya, lalu menatap tepat ke mata gadis yang dicintainya itu, "Aku akan menghilangkan semua alasanmu menangis, Granger. Aku tak akan membiarkanmu menangis lagi."

Hermione tahu Draco serius dengan kata-katanya. Ia bisa melihat dengan jelas kesungguhan dimata pemuda itu. Namun Hermione tetap tidak bisa menahan tawanya karena―melihat Draco yang berubah menjadi pria romantis itu sesuatu hal yang sangat menghibur untuknya.

"Kau sedang berusaha menjadi romantis?" Draco mendengus mendengar pertanyaan yang disusul dengan tawa gadis itu. Ia melepas tangannya yang berada dipipi Hermione―lalu memalingkan wajahnya yang memerah karena kesal.

Kini giliran Hermione yang menangkup rahang pria itu untuk menatapnya―lalu menempelkan bibir mereka. Hanya ciuman ringan dengan segenap perasaan yang ia punya untuk pria pirang itu, "Terima kasih, Malfoy. Aku mencintaimu."

Draco menyeringai, "Itu tidak dihitung ciuman selamat tidur, Granger."

Hermione memutar bola matanya malas mendengar penuturan Draco. Dengan cepat ia menarik tengkuk pemuda itu―lalu menempelkan bibir mereka sekilas.

"Selamat malam, Malfoy." lalu, gadis itu menidurkan dirinya diranjangnya tanpa menunggu balasan Draco.

Draco hanya tersenyum tipis melihat kelakuan gadisnya itu. Rasanya begitu menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama Hermione dan melakukan banyak hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Bersama Hermione membuatnya merasa bebannya hilang begitu saja. Semua tekanan yang diberikan orang-orang padanya―terasa menghilang entah kemana.

Draco akhirnya memilih untuk menidurkan dirinya disamping Hermione―lalu, membawa gadis itu kedalam pelukannya.

Hermione mengerjapkan matanya begitu merasa cahaya matahari yang menerobos dari jendela kamar menyilaukan matanya. Ia mengusap-usap matanya untuk beberapa saat, lalu menoleh kearah pria yang memeluknya sepanjang malam tadi.

"Pagi, Granger. Ngomong-ngomong lenganku pegal sekali rasanya seperti ada seseorang yang tidur disana sepanjang malam." Hermione memutar bola matanya malas mendengar Draco yang sudah memulai memancingnya untuk berdebat. Padahal pemuda itu sendiri yang semalam menarik dirinya dalam pelukannya.

"Kau yang menarikku kedalam pelukanmu sendiri, Malfoy."

"Tapi kau menikmatinya kan?" Draco menyeringai melihat Hermione memutar bola matanya malas. Hermione memilih mengabaikan godaan pria itu.

"Tidak biasanya kau bangun lebih awal dariku. Ada apa? Mimpi buruk lagi?"

Seringai Draco menghilang. Ekspresinya berubah menjadi serius membuat Hermione merasa jika dugaannya benar. Ia menatap khawatir pada pemuda itu.

"Ceritakan padaku, Draco."

Draco mendekatkan bibirnya ke telinga Hermione lalu bergumam, "Mimpi burukku tentang perutku yang kelaparan, Granger. Jadi sekarang sebaiknya kau buatkan aku sarapan." lalu, pria itu menyeringai jahil setelahnya.

Hermione langsung mendorong pria itu menjauh dan memukul bahunya pelan. Ia sudah menanggapi semuanya dengan serius namun ternyata pemuda itu hanya menggodanya saja. Menyebalkan sekali.

"Kau benar-benar tahu caranya merusak mood orang, Malfoy." Draco tertawa melihat wajah Hermione yang memerah karena kesal. Rasanya gadis itu berkali-kali lipat lebih menggemaskan saat kesal.

Hermione kembali membelakangi pemuda itu lalu menutup telinganya dengan bantal karena kesal mendengar tawa menyebalkan pemuda itu. Lalu dengan ketus berkata, "Buat sarapan sendiri saja sana!"

Tawa Draco mengeras mendengar ucapan ketus gadis itu. Hanya dengan menjahili gadis itu saja, Draco bisa tertawa selepas ini.

"Tamu itu harus dilayani dengan baik, Granger."

"Kau tamu tak diundang. Pergi saja sana!"

Draco berusaha menghentikan tawanya―lal berusaha menarik Hermione untuk menatapnya. Namun Hermione dengan sekuat tenaga menahan diri agar tetap pada posisinya. Membuat Draco memilih untuk bangkit dan memerangkap tubuh Hermione dibawah tubuhnya―setelah sebelumnya menarik paksa bantal yang Hermione gunakan untuk menutupi telinganya.

"Tapi serius, Granger. Aku kelaparan."

"Aku tak peduli!" ketus Hermione sambil menatap pemuda itu sengit.

Draco memutar bola matanya malas, "Jangan kekanak-kanakan, Granger. Buatkan aku sarapan sekarang."

"Aku bukan babumu, Malfoy."

"Memang bukan. Kau calon istriku." Sahut Draco santai. Namun sialnya, Hermion tidak bisa menanggapinya sesantai pria itu. Wajahnya memerah karena tersipu. Dan Draco melihatnya.

"Kau memerah, Granger." dan pemuda itu kembali mengeluarkan tawa menyebalkannya.

"Enyahlah, Malfoy!"

"Kau yakin berharap calon suamimu ini enyah, Granger?" Hermione berusaha mendorong Draco yang berada diatasnya―namun Draco yang lebih kuat berhasil mempertahankan posisinya. Bahkan pemuda itu kini kembali menarik Hermione dalam pelukannya sambil tertawa lepas.

Mereka terlalu larut dalam dunia mereka hinggga tak menyadari seseorang yang baru saja ber-apparate ke ruangan itu dan menatap mereka dengan tatapan marahnya. Tangannya mengepal dan wajahnya memerah hingga terlihat senada dengan rambutnya.

"Hermione." panggilnya. Membuat keduanya menghentikan kegiatan mereka lalu menoleh kesumber suara. Hermione menatap kaget pria yang merupakan sahabatnya itu.

"Ron? A―pa yang kau lakukan disini?" Hermione langsung mendorong Draco menjauh dari atas tubuhnya. Ia tahu Ron sedang marah dengan melihat ekspresi dan gestur tubuhnya. Mereka sudah mengenal cukup lama sehingga bukan hal yang sulit lagi untuk mengetahuinya.

"Tadinya aku ingin menjenguk sahabatku. Tetapi sepertinya ia sedang sibuk bermain diatas ranjang bersama kekasihnya." kata Ron dan dengan sengaja menekankan kata-kata terakhirnya. Hermione langsung bangkit dari ranjangnya begitu sadar jika pemuda itu sudah salah paham. Sementara Draco hanya memandang datar pria Weasley itu.

"Ron, kau salah paham. Aku dan Draco tidak―err―" Hermione berusaha untuk mencari istilah yang tepat untuk menjelaskan. Ia menoleh kepada Draco untuk meminta pemuda itu membantu menjelaskan. Namun Draco hanya mengangkat bahunya acuh karena ia sama sekali tidak peduli dengan pendapat Weasley yang satu itu.

"Err―Ron, kau tidak benar-benar berpikir aku serendah itu kan?"

"Sayangnya aku memang berpikir seperti itu. Aku tidak menyangka sahabatku yang pernah berkata akan menjaga virginitasnya sampai menikah ternyata menjilat ludahnya sendiri. Ku pikir kau bahkan lebih rendah dari pada si Parkinson."

Dan Draco langsung bangkit dan melayangkan tinjunya kewajah pria berambut merah itu, "Jaga mulumu, Weasel!"

Hermione melotot. Ia berusaha menahan Draco yang hendak melayangkan pukulan lainnya, "Berhenti, Malfoy!"

Ron bangkit sambil memegangi bekas tinjuan Draco―lalu tersenyum sinis, "Maaf sudah mengganggu kegiatan kalian sebelumnya." lalu, pemuda itu berapparate kembali kerumahnya.

Hermione memandang sedih kepergian sahabatnya itu―lalu berbalik menatap Draco yang menatap penuh kebencian kearah tempat dimana Ron menghilang tadi.

"Kenapa kau memukulnya? Dia hanya salah paham. Kita bisa menjelaskan baik-baik padanya tadi." Hermione menatap kecewa pada pemuda itu. Jika saja pemuda itu tak melayangkan tinjunya―Ron tak akan pergi dengan kesalahpahaman seperti itu.

"Dia menghinamu, Granger."

"Apa bedanya denganmu? Kau juga dulu begitu!"

Rahang Draco mengeras mendengar balasan gadis itu, "Kau membelanya?"

Hermione menutup mulutnya sendiri saat ia sadar ia mengucapkan sesuatu yang salah. Ia tak seharusnya bicara seperti itu pada Draco. Namun pikirannya terlalu kacau bahkan hanya untuk sekedar meralat kata-katanya.

"Baik, Granger." Kata pemuda itu dengan senyum sinisnya sebelum pergi meninggalkan Hermione sendirian diruangan itu.

Hermione langsung menjatuhkan dirinya dilantai lalu menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana. Kepalanya tiba-tiba pusing karena kejadian tiba-tiba ini. Ini masih pagi dan masalah yang menimpanya sudah sebanyak ini.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Setelah mandi dan membersihkan dirinya―Hermione berusaha menemui Draco dikamarnya. Namun pemuda itu tidak ada disana. Lalu ia berusaha mencari pemuda itu disekeliling rumahnya namun hasilnya tetap nihil. Pria itu tak berada dimanapun yang berarti pria itu pergi keluar rumahnya. Dan Hermione sama sekali tak tahu kemana pria itu pergi.

Hermione memilih untuk menunggu pemuda itu sambil membaca sebuah buku diruang tengah rumahnya. Namun Draco tak kunjung kembali walaupun hari sudah larut.

Rasa khawatir dan bersalah hinggap dihatinya. Ia merasa benar-benar bodoh karena berkata seperti itu pada Draco. Ia tak seharusnya mengungkit masa lalu. Ia tak seharusnya mengungkit kesalahan pria itu dulu.

Hermione menutup bukunya dan berjalan kembali kekamarnya dilantai atas. Ia memutuskan untuk mencoba mencari pemuda itu di Malfoy Manor jika pemuda itu belum kembali besok paginya.

Hermione tidak bisa untuk tidak merasa khawatir kali ini. Draco tidak ada dimanapun termasuk Malfoy Manor. Ia juga sudah menanyakan beberapa teman Slytherin Draco dengan surat namun mereka bilang tidak tahu dimana keberadaan Draco. Hermione tidak terlalu percaya sebenarnya karena ia tahu berbohong bukanlah hal yang tabu lagi bagi para Slytherin.

Dan hari ini, Harry mengiriminya surat dan menyuruhnya datang ke The Burrow untuk makan siang sekaligus untuk menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Ron. Hermione sudah menceritakan semuanya pada Harry―dan ia sangat bersyukur karena Harry tidak ikut salah paham seperti Ron. Justru sebaliknya, pria itu ingin membantunya untuk memperjelas kesalahpahaman itu.

Hermione memegang kenop pintu rumah keluarga Weasley dengan ragu. Sedikit banyak, ia masih takut jika ini berakhir buruk dan membuat hubungannya dengan Ron semakin parah. Namun ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika hari ini semuanya akan baik-baik saja.

Hermione langsung disambut dengan baik oleh Molly, Ginny dan George. Ia tak melihat kehadiran Arthur Weasley disana. Sepertinya pria paruh baya itu sedang berada dikementrian saat ini.

"Kau baru 1 bulan pindah, tapi rasanya sudah seperti satu tahun, Mione."

"Kau berlebihan, Molly." Pelukan hangat dari Molly Weasley sedikit membuatnya merasa lebih tenang. Sama seperti pelukan ibunya ketika ia kalut. Rasanya menyenangkan.

"Mereka sudah menunggu dikamar." bisik Ginny. Hermione paham dengan jelas siapa mereka yang dimaksud gadis itu.

Hermione berjalan mengikuti Ginny yang menuntunnya kekamar dua sahabatnya itu. Kegugupan kembali melandanya dan Ginny yang menyadarinya memberikan senyum menenangkannya pada Hermione.

"Mione, kau hanya akan menemui Harry dan Ron. Bukan menemui Pelahap Maut ataupun Voldemort." gurau Ginny berusaha untuk membuat Hermione tersenyum kecil.

"Terima kasih, Gin." kata Hermione ketika mereka sudah sampai didepan pintu kamar yang dituju. Hermione masuk ke sana seorang diri sementara Ginny kembali ke dapur untuk membantu ibunya membuat makan siang.

"Hermione, aku minta maaf." kata Ron begitu Hermione memasuki ruangan. Hermione sedikit terkejut melihat Ron yang langsung meminta maaf padanya. Matanya melirik Harry yang hanya tersenyum dan mengangguk.

"Tak apa, Ronald. Err―aku juga minta maaf karena tidak bisa membawa Draco untuk minta maaf karena pukulan itu."

Ron menggeleng, "Aku pantas mendapatkannya, Mione. Kata-kataku kelewatan. Aku tak seharusnya begitu padamu. Harusnya aku mendengar penjelasanmu dulu."

"Tapi―"

"Saatnya makan siang." Harry memotong ucapan Hermione dan merangkul keduanya untuk berjalan ke ruang makan. Ia tak ingin mendengar dua sahabatnya menyalahkan diri lebih lama lagi, jadilah ia memutuskan untuk menengahinya.

Kunjungannya ke The Burrow kali ini berjalan sangat baik. Hermione bersyukur hubungannya dan Ron baik-baik saja. Ia juga sedikit merasa lebih baik dengan bercengkrama bersama para Weasley dan Harry. Walaupun ia merasa sedikit sedih melihat George yang berubah menjadi lebih pendiam sejak kematian saudara kembarnya, Fred.

Namun belum semua beban pikirannya hilang. Ia masih memikirkan Draco.

Dimana pemuda itu?

Apa pemuda itu baik-baik saja?

Apa pemuda itu masih marah padanya?

Apa pemuda itu tak merindukannya sama sekali?

Ini sudah hampir seminggu sejak pemuda itu menghilang. Hermione berusaha percaya jika pria itu akan kembali karena barang-barang pemuda itu masih ada dirumahnya, tapi pemuda itu tak kunjung kembali. Dan ia tidak bisa tidak merindukan pemuda itu saat ini.

Mimpi buruknya kembali datang belakangan ini. Walaupun tidak separah dulu, tapi cukup untuk mengganggu waktu tidurnya. Dan setelah terbangun dari mimpi buruknya―ia akan teringat Draco.

Tsk, Tak bisakah pemuda itu setidaknya mengirimkan ia surat?

Kening Hermione mengkerut ketika memasuki rumahnya dan mendengar suara televisi yang dinyalakan. Seingatnya, ia sudah mematikan televisi sebelum pergi. Apa ada seseorang yang datang? Apa Draco kembali?

Hermione berjalan cepat ke arah ruang tengah rumahnya―dan langkahnya langung terhenti begitu melihat sosok yang kini berada di sofa ruang tengahnya.

Dugaannya benar. Itu Draco. Sedang menonton tv dan menatapnya dengan wajah tanpa rasa bersalah. Membuat perasaan Hermione campur aduk melihatnya.

Ia merasa kesal, rindu, marah, senang. Namun yang paling mendominasi adalah kesal. Ia kesal kali melihat pemuda itu menatapnya dengan wajah tanpa dosa.

Hermione mengambil paksa remote televisinya dan mematikan televisi yang sedang ditonton Draco―lalu memukuli pria itu dengan bantal-bantal sofa yang bisa ia ambil sebelum pria itu sempat protes. Draco berusaha menangkisnya dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain berusaha untuk memegangi tangan Hermione.

"Granger!" dan Draco langsung memeluk gadis itu begitu berhasil memegangi tangannya. Hermione hanya diam dalam pelukan Draco. Ia masih begitu kesal dengan menghilangnya pemuda itu sekitar seminggu ini.

Draco mendengus kasar saat gadis itu hanya diam didalam pelukannya, "Setidaknya beri sambutan yang layak pada kekasihmu, berang-berang. Ciuman dan pelukan sepertinya tidak buruk."

Hermione mendelik tajam mendengar kata-kata pemuda itu. Lalu, melepaskan diri dari pelukan Draco. Ia menatap tajam pemuda itu―lalu tanpa diduga Hermione langsung memeluknya. Walaupun Hermione kesal setengah mati pada pemuda itu―ia juga sangat merindukannya.

"Malfoy bodoh! Kau kemana saja? Kenapa kau hobi sekali membuatku khawatir?"

"Malfoy itu pintar dan tampan, Granger. Dan well, aku hanya di rumah Blaise. Dan terimakasih sudah mengkhawatirkanku, sayang." Draco tersenyum jahil diakhir kalimatnya. Sebenarnya ia juga sangat merindukan Hermione dan saat-saat seperti ini dengannya. Itu sebabnya ia memutuskan untuk membuang egonya dan kembali ke sini.

"Sudah kuduga Zabini berbohong." kata Hermione sambil melepas pelukannya. Well, ia juga sudah bertanya pada Blaise namun pemuda itu bilang jika ia tidak tahu dimana Draco.

Draco mengangkat bahunya acuh, "Aku yang menyuruhnya begitu." dan Hermione langsung memukul bahu pemuda itu kencang membuat Draco mengaduh sakit.

"Yasudah sana pergi kalau kau memang tidak ingin bertemu denganku!"

"Hei, waktu itu aku masih kesal karena kau membela si Weasel itu. Bukan berarti aku tidak mau bertemu denganmu, Granger."

"Wah, dewasa sekali Malfoy, menyelesaikan masalah dengan bersembunyi dirumah sahabat." kata Hermione sakras.

"Aku tidak bersembunyi, Granger." Draco menatap tajam gadis itu untuk beberapa saat lalu menyeringai, "Setidaknya sekarang aku tahu kau memang cinta mati padaku sampai rela mengirimi seluruh teman Slytherinku surat hanya untuk menanyakan keberadaanku. Kau takut kehilanganku kan?"

Hermione mendengus kasar melihat kedipan Draco diakhir kalimatnya. Lalu, mendorong Draco ke sofa dan berjalan kekamarnya dilantai atas tanpa mempedulikan tawa menyebalkan Draco yang mengeras disetiap hentakan kakinya.

Ia masuk dan menutup pintu kamarnya keras-keras dan menimbulkan tawa yang lebih kencang lagi dari Draco. Ia kesal sekali dengan pemuda itu beserta tawa menyebalkannya. Tapi tak bisa ia pungkiri jika ia juga merasa sangat lega dan bahagia melihat pemuda itu lagi.

Sebuah senyum akhirnya terlukis diwajah cantiknya setelah seminggu ini hanya diisi dengan tatapan kosong.

"Aku minta maaf, Malfoy." gumam Hermione pelan. Kini dirinya dan Draco berada diranjangnya dengan posisi mereka yang seperti biasa―Hermione tidur diatas lengan pria itu.

Hermione memutuskan untuk memasang ward dikamarnya setelah kejadian kemarin. Sebelumnya ia tak memiliki alasan untuk memasang ward karena ia tak berpikir akan ada penyihir yang mau memasuki kamarnya. Namun setelah kejadian kemarin ia sadar sekarang ia benar-benar harus memasang ward untuk menghindari kesalahpahaman lainnya.

"Lupakan saja, Granger."

"Aku minta maaf karena sudah mengungkit masalah lama. Aku tak seharusnya―"

"Aku tidak marah karena itu. Aku marah karena kau lebih membela si Weasel itu dari pada aku, kekasihmu sendiri."

"Namanya Ron, Malfoy. Dan―jadi kau cemburu?" Draco langsung memalingkan wajahnya kearah lain mendengar pertanyaan Hermione. Sementara Hermione tertawa kecil begitu menyadari hal itu.

"Malfoy, Ron hanya sahabatku."

"Dan aku kekasihmu. Tapi kau tetap membelanya."

"Aku hanya membela yang benar."

"Jadi menurutmu aku salah?" Draco menatap kesal Hermione. Ia pikir gadis itu meminta maaf karena sadar jika apa yang dilakukannya benar dan Ron yang salah.

"Kau tetap tidak bisa main pukul begitu saja, Malfoy. Aku tak bisa membenarkan hal itu sekalipun kau adalah kekasihku." Draco mendengus lalu kembali mengalihkan wajahnya kearah lain namun Hermione menangkup pipinya dan mengarahkan wajah pemuda itu kearahnya lagi.

"Kau masih kesal karena aku membela Ron?" kata Hermione lembut. Tangannya mengusap penuh sayang pipi pemuda itu.

"Ya. Kau selalu membelanya dari dulu. Kau bahkan mengataiku tidak memiliki kemampuan dalam Quidditch hanya karena aku menghina Weasel."

Hermione memutar bola matanya malas. Sekarang giliran Draco yang mengungkit masa lalu mereka. "Sekali lagi kukatakan padaku jika dia adalah sahabatku. Wajar jika aku membelanya saat ia dihina. Kau juga pasti akan begitu kalau Zabini atau Nott yang dihina."

"Cih, mereka memang sudah hina bahkan sebelum dihina. Untuk apa aku membelanya."

"Malfoy!" tegur Hermione.

Hermione sama sekali tidak mengerti mengapa Blaise Zabini dan Theodore Nott masih mau berteman dengan orang seperti Draco yang kata-katanya tidak bisa disaring. Ia sendiri bahkan tidak mengerti mengapa ia bisa jatuh cinta pada pria seperti Draco.

"Aku heran mengapa mereka mau berteman denganmu." kata Hermione tanpa memandang Draco. Matanya kini fokus pada langit-langit kamarnya sendiri.

"Jangan mulai, Granger."

"Tapi aku lebih heran pada diriku sendiri. Mengapa aku bisa sampai jatuh cinta padamu. Dan aku bahkan tak bisa berpaling pada pria lain sekalipun aku sangat ingin."

Draco tidak bisa tidak tersenyum mendengarnya. Dengan perlahan ia menangkup pipi gadis itu, lalu mempersempit jarak diantara keduanya.

Namun sebelum bibir mereka bersentuhan, suara burung hantu yang melalui jendela kamar itu menginterupsi kegiatan mereka. Draco mendengus sebal, sementara Hermione tertawa kecil melihat wajah kesal pemuda itu karena kegiatannya terganggu.

Hermione bangkit dan berjalan mengambil dua surat yang dibawa burung hantu itu. Keningnya mengernyit melihat logo hogwarts yang berada ditengah amplopnya.

"Dari Hogwarts." katanya pada Draco. Ia berjalan kearah pemuda itu lalu memberikan surat yang bertuliskan nama pemuda itu sendiri. Draco menerimanya tanpa minat.

"Aku bertaruh isinya sama. Kau saja yang bacakan untukku, Granger." ujar Draco. Terlihat sangat tidak perduli dengan isi surat itu.

Hermione tak menjawab dan hanya membuka surat itu dengan raut penasaran lalu membacanya.

Dear Miss Granger,

Dengan gembira kami mengabarkan bahwa sekolah sihir Hogwarts sudah selesai direnovasi dan kegiatan belajar mengajarpun bisa kami laksanakan kembali.

Seluruh siswa/i tahun ke-7 diharapkan untuk mengulang kembali seluruh mata pelajaran yang diambil untuk ujian. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan.

Tahun ajaran baru akan dimulai 1 September. Kami menunggu burung hantu anda paling lambat 2 minggu sebelum tahun ajaran baru.

Hormat saya,

Minerva McGonagall
Kepala Sekolah

Dan keduanya hanya saling berpandangan ketika Hermione selesai membacakan isi suratnya.

TBC

Hai. Terima kasih sebelumnya yang sudah mereview. Ini chapter 2-nya, maaf jika semakin mengecewakan/?

Jangan lupa review lagi ya biar saya semangat melanjutkan chapter selanjutnya.