"Kalo gitu.. Aku minta hadiah dan bawa ke studio besok."

"Apa? Jadi kamu mau hadiah, ya?" Naruto manggut-manggut tenang mendengarnya.

"Tapi.. Kalo kamu datang kesana ngga boleh pake dalaman." Seringainya kian melebar melihat Naruto tersentak kaget dan wajahnya yang merona hebat. ...Bawahnya tentu saja rok." Sai menambahkan tak lama kemudian.

"A-ap-aapaaaa~?"

##^miya:pr##

MY LITTLE DEVIL

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: M (warning inside)

Warning: AU, OOC (banget), Typo(s), Genderbender, Lime, Lemon

Pairing: SaiXFemNaruto

Karena Author hanya bermaksud mengepas-ngepaskan karakter chara dengan karakter yang ada dalam cerita, Mohon reader menerima sajaaa. Arigatou^^

(keliatan banget maksanya, XD)

Cerita ini terinspirasi dari manga karya Haruko Kurumatani. Hontou gomenasai, Author sangat pikun sehingga lalai menulis hal sepenting ini pada chap pertama.

HAPPY READING

.

.

.

Hanami Studio. Itulah tujuan gadis bersurai pirang dan iris mata berwarna biru saphire saat ini. Setelah meyakinkan penampilannya yang kira-kira sudah menghabiskan waktu satu jam lamanya, barulah ia memutuskan keluar rumah. Naruto mengenakan terusan di atas lutut tanpa lengan berwarna merah dipadu dengan jaket putih sebatas perut bergaris hitam disepanjang lengan, serta sepatu boot ber-high heels rendah menghiasi kaki jenjangnya. Rambutnya tergerai indah tertata apik di balik punggungnya. Benar-benar manis.

"Dia akan semesum apa ya!"

Kedua tangan Naruto mengepal erat. Yang sebelah kanan ia letakkan di dadanya, merasakan degupan jantungnya yang berdebar kencang merasa was-was dan malu. Sedangkan yang sebelah kiri ia eratkan di bawahan terusannya, menjaga kalau-kalau ada angin nakal menyibakkan rok bagian bawahnya.

'Aku ingin cepat-cepat memberikan hadiahnya dan pulang. Ini sungguh-sungguh memalukan.'

"Meski begitu...~"

Tatapan Naruto kian histeris menyaksikan suasana di depan studio tujuannya.

"Jangan-jangan mereka semua ini penggemarnya Sai?"

Nampak gadis-gadis dari berbagai kalangan memenuhi area depan studio tempat pemotretan Sai hari ini. Tak bisa diragukan lagi kalau mereka adalah fansgirl Sai. Naruto berjalan mengendap-ngendap mencoba membaur di kerumunan penggemar Sai. Saat ini ia sangat ingin menghilangkan hawa keberadaannya saja. Bisa gawat kalau mereka mengerti maksud kedatangannya kemari. Baru tiga langkah ia menggerakkan kakinya, langkahnya sudah terhenti oleh teriakan gadis berambut merah yang sepertinya leader fansgirl Sai.

"Hei, kau yang disana, tunggu sebentar! ...Mau kemana kau?"

Gerakan Naruto seolah membeku mendengar sura menoleh dengan hati-hati ke arah suara tersebut. Kemudian gadis berambut merah melangkah lebih dekat ke arah Naru.

"Fans dilarang masuk ke dalam. Tolong patuhi peraturan, ya?"

Gadis merah itu menampilkan tampang judes ala ketua sambil melipat tangan di atas perutnya.

"Saya ini kenalannya~"

"Jangan bohong!"

Naruto hanya mampu meninggalkan tawa tiga jarinya. Maksudnya~... untuk mencairkan suasana, tapi sepertinya kondisi disana tidak memungkinkan untuk diajak berdamai, malah bisa dibilang sangat mengerikan. Aura hitam dan kelam tengah memojokkan Naruto.

'A-apa-apaan orang-orang ini~ Aku takuut...'

'Srek'

Pemuda bermata onyx yang tidak lebih tinggi dari Naruto, tengah melingkarkan kedua lengannya di perut gadis itu erat, seakan hanya dia yang boleh menyentuhnya. Dengan gerakan mesra ia menyampirkan rambut pirang Naru ke arah samping dan mencium bahu di sisi yang terbuka.

"Hei.. Bisakah kalian jangan mengganggu dia? Sai menatap gadis berambut merah dengan wajah yang seakan tenang, namun sebenarnya ada seringai iblis di balik kekalemannya. ...Karena dia ini~ pacarku.."

Tangan Sai merambat ke samping dan mengangkat helaian surai Naru untuk menyesap aromanya. "Iya kan, Naru-chan... ?"

Penggemar Sai serentak jadi batu di tempat. "Ngga mungkin!"

"Naru, ayo kita masuk." Bersikap masa bodoh. Sai terus melangkahkan kakinya masuk ke studio tanpa mempedulikan kekecewaan berat dan teriakan penggemarnya, sedang Naru masih terpaku tak percaya.

.

.

"Memang ngga pa pa kamu bersikap seperti itu?"

Sedikit berlari, Naruto berusaha mengejar Sai yang sudah berada jauh di depannya.

"Entahlah... Tapi kata 'pacar' kurasa paling efektif~.."

"Tapi~.."

Sekarang Naruto sudah satu langkah dibelakang Sai.

Tiba-tiba Sai berhenti melangkah dan berbalik menghadap Naruto.

"Ngga pa pa kok. Kalau demi Naru, itu bukan masalah.."

Sai menatap intens mata saphire milik Naru. Dengan mimik muka serius Sai menempelkan telapak tangan kanannya ke pipi kiri Naru. Naruto terpana dengan obsidian milik Sai. Tubuhnya seolah mati rasa, tubuhnya serasa dikendalikan oleh pemuda dihadapannya. Tatapannya hanya terpaku pada Sai. Baru kali ini, ia menyadari betapa manisnya wajah Sai. Pipinya mulus. Lalu~ warna mata kelam yang sangat bertentangan dengannya seolah mampu menarik keberadaan dirinya ke dunia pribadi milik Sai. Sampai Naruto tidak menyadari wajah Sai sudah kembali ke asalnya. Seringai polos yang mesum, andalannya.

"Selain itu.. juga demi dada ini~!"

"Kyaaa..."

Seperti biasa secara tiba-tiba Sai menubruk dan mendekap erat Naru serta membenamkan wajahnya ke dada Naruto.

"Dasar bocah mesum.. Lepaskan!"

Naruto yang sudah mendapatkan kesadarannya kembali mencoba melepaskan diri. Namun apa daya, ia sudah terperangkap jurus rayuan mata milik Sai, dan membiarkan apa saja yang dilakukan pemuda itu pada tubuhnya.

Sai menangkup dada kiri Naru dengan kedua tangannya. Akibatnya, sesuatu yang berada di tengah dada itu menegang karenanya. Sai mulai menjulurkan lidahnya. Pelan, ia mengarahkan lidahnya tepat di puncak dada Naru.

"Hen-n... Ahh..."

Naruto tersentak dan mendongak ke atas. Wajahnya sudah merah, semerah terusan yang dikenakannya. Tak kuat menahan rasa yang bergejolak di dadanya, kedua matanya terpejam erat dan meremas helaian rambut Sai. Ia tidak sadar sejak kapan tangannya melingkar di leher pemuda itu. Sai menambah ritme remasan pada dada Naru dan sesekali menggigitnya gemas.

"A-aahh... S-saai..."

Seringai Sai makin melebar seiring dengan reaksi yang diberikan Naruto. Apalagi objek yang berada di indera perasanya sudah sangat menegang.

"Naru..? Kamu beneran ngga pakai bra ya?"

Tiba-tiba Sai melepas kulumannya namun tidak dengan remasan tangannya, dan terus menatap Naruto dengan wajah penasaran. Naruto hanya diam dan menolehkan wajah ke samping untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat merah. Seolah kediaman Naruto membenarkan semuanya, Sai melanjutkan aksi selanjutnya.

"Dan~ yang di sini juga?"

"Kyaaa~"

Sai mengangkat rok Naruto dan mengelus daerah kewanitaan Naru yang tanpa penghalang apapun itu. Cengiran polos Sai kini dihiasi rona merah samar.

'Dueeng!' (maaf, bunyinya aneh XD)

"Maaf~"

Sai jatuh berlutut sambil memegang kepalanya yang baru saja dipukul oleh Naruto.

"Aku kan cuma menuruti permintaanmu yang katanya harus seperti ini?"

Sai mengangkat wajahnya, dan menyeringai senang sambil merapikan jas yang dikenakannya. "Masak sih, kamu berpikiran untuk menepati janji yang seperti itu...?"

"!"

'Aku benar-benar bodoh!'

Naruto menutup wajah dengan kedua tangannya. Wajahnya kian memerah dan memanas. Di saat Naruto salah tingkah sendiri Sai tersenyum puas dengan mata terpejam yang misterius. Kemudian, Sai mengayunkan tangan ke helaian pirang Naruto. Melingkarkan kedua lengannya di balik leher Naru, membawa tengkuk gadis itu menunduk dan mensejajarkan wajah Naruto dengan wajahnya. Tangan kanan Sai makin memperdalam remasan di tengkuk Naruto. Kemudian tangan kiri Sai merambat naik, merambat di helaian pirang Naru. Berakhir, ia tempelkan ibu jarinya di bibir bawah Naru yang sedikit terbuka. Ia dekatkan bibirnya ke telinga Naruto.

"Naru, itu manis ya?" Mata Naruto membulat mendengar pujian yang baru saja diterimanya. Rona merah makin tertahan di wajahnya.

"Ah... ternyata ada disini! Sai! Pemotretannya akan segera dimulai" wanita paruh baya yang mempunyai warna rambut yang sama dengan Naruto itu sudah bernafas lega, mengetahui bintang asuhannya telah ia temukan.

Naruto yang mengetahui suara itu segera mendorong tubuh Sai menjauh. Ia palingkan wajahnya, menghindari tatapan terkejut Sai.

"Cepat!" Nampaknya kini Tsunade sudah bersikap seperti biasa- tidak sabaran.

"Iya.. balas Sai lemas. ...Naru-chan juga boleh melihatnya.."

"I-iya.." ucap Naruto masih menunduk malu.

Sai berlari kecil menuju tempat Tsunade berdiri, menengok sekilas ke belakang menatap Naruto yang masih tertunduk kemudian berjalan santai setelah berada tepat di belakang Tsunade.

'Kenapa dari tadi aku terus berdebar-debar? Dia kan masih 13 tahun. Masih anak-anak.'

Naruto masih tidak beranjak sedikitpun meski Sai sudah melangkah agak jauh. Sadar akan hal itu, Sai berhenti kemudian membalikkan badannya dan menatap Naru serta mengembangkan senyum tercerah yang pernah dimilikinya.

"Ayo, cepat kemari.. Naru..."

Dengan gerakan pelan Naruto mulai mengangkat wajahnya. Ia berlari sambil tetap menatap wajah Sai dengan tulus dan binar bahagia. Bukan perasaan gelisah ketika pertama kali Sai tinggal bersamanya. Lebih pada rasa tenang dan memabukkan. Terakhir mengulurkan tangannya kemudian menautkannya pada tangan hangat Sai.

.

##^miya##

.

Naruto membawa tumpukan pakaian kering yang baru saja ia cuci pagi tadi, bermaksud membawa pakaian-pakaian bersih itu untuk diseterika. Ia berhenti melangkah ketika ia baru saja melewati Sai yang tengah duduk santai di depan layar televisi.

"Sai..~ cepat mandi sana.."

"Baik..."

Sai langsung meloncat dari sofa empuk yang baru didudukinya dan berlari menuju Naruto. Seperti biasa, ia langsung mendekap erat Naru, menempelkan wajahnya di dada empuk milik gadis itu dan menggeseknya pelan.

Suatu keajaiban, lain dengan hari biasanya, setelah kejadian tempo hari Naruto bersikap biasa dan membiarkan apa yang dilakukan Sai pada dirinya. Tanpa ba bi bu lagi, Sai langsung mengerjakan apa yang tadi diperintahkan Naru padanya tanpa mengurangi kegembiraan di wajah 'mesumnya'. Mengingat respon yang diberikan Naruto, Sai percaya bahwa Naruto sudah menerimanya 'dengan baik'.

"Udah bener-bener akrab ya, sekarang?" komentar Tsunade dari balik koran yang menutupi wajahnya sesaat setelah Sai menghilang ke balik pintu kamar mandi. ...awalnya~ waktu disentuh sedikit saja, kamu langsung berteriak."

"Iya... sih~.." ucap Naruto ragu-ragu.

"Jangan-jangan kamu jatuh cinta ya?"

'Bluush'

Naruto terperanjat. Rona merah tak terelakkan di wajahnya.

"Ha..hah? Sai kan baru 13 tahun? Hubungan cinta dengannya ngga mungkin bisa kan?"

Naruto melotot ke arah Tsunade dan menjelaskannya dengan berapi-api dan tangannya terkepal erat. Walau ia berkata seperti itu, sebenarnya di relung hatinya ia berkata lain. Terlihat jelas, semburat merah di wajahnya tidak memudar malah semakin menjadi-jadi.

"Ya, ngga perlu semarah itu dong..?"

Tsunade hanya mengernyit heran, melihat penjelasan Naruto yang terkesan dibuat-buat itu.

'Benar... Sai kan memang masih 13 tahun...' batin Naruto berusaha membenarkan ucapannya barusan.

'GREK'

"Naru~?"

'! Sai? Jangan-jangan dia dengar semuanya...?'

Sai menggeser pintu kamar mandi dan menampakkan dirinya yang bertelanjang dada dan hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya.

"Shamponya habis..." Sai menunjuk botol shampo kosong yang ada di tangannya.

'Ah.. syukurlaah~ ternyata dia tidak dengar.. Eh..? kenapa aku jadi lega begini sih?' terjadi perang batin dalam diri Naruto.

Naruto yang sudah merasa lega tidak menyadari perubahan warna muka Sai. Ada rasa tidak senang yang misterius dari wajah Sai.

.

##^miya##

.

"Selamat pagi Naru.. Aku pergi kerja dulu, ya?"

Naruto tengah menguap lebar saat Sai menyapa dirinya. Pemuda itu sudah mengenakan setelan rapi dan tas selempang ditopang bahu kanannya saat Naruto sedang menuruni tangga. Agak terkejut, Naruto langsung menurunkan dua tangannya yang bertaut untuk merenggangkan badan setelah tidur sepanjang malam. Naruto agak mengernyit dan nampak berpikir keras. Ia merasa ada yang kurang dengan pagi ini.

'Lho... Biasanya kan...?' batin Naruto mulai menyadari.

Ketika ia menyadari sesuatu itu, Sai sudah hilang dari hadapannya. Pemuda itu sudah beberapa langkah meninggalkannya menuju pintu utama rumah ini.

Ada satu hal yang tidak dimengerti Naruto. Tidak biasanya Sai bersikap begini. Biasanya sebelum berangkat kerja, Sai akan berpamitan dengan cara yang 'tidak biasa'. Sai akan mengucapkan salam dengan menggosokkan pipinya ke dada Naru dengan manja dan menyuruh Naru menunggunya pulang. Membuat tanda tanya makin besar dalam hati Naruto, karena Sai sudah hampir meraih gagang pintu.

"Em.. Sai, kamu baik-baik saja kan?"

Handle peintu sudah ada di genggaman Sai. Sai yang mendengar pertanyaan Naru segera memutar tubuhnya menghadap Naruto.

"Kenapa? Aku baik-baik aja kok." Ucap Sai dengan wajah ceria seperti biasanya.

"T-tidak apa-apa.. Hati-hati di jalan.." Naruto menjawab dengan tawa tiga jari yang cukup aneh.

Sepeninggal Sai, Naruto masih merenung dan berpikir keras layaknya peserta kuis sedang kesulitan menjawab pertanyaan terakhir penentu hadiah jutaan yen. Tak ingin berpikir berkepanjangan, akhirnya Naruto menyimpulkan menurut pemikirannya sendiri.

'Pasti karena Sai terlalu lelah~. Karena akhir-akhir ini jadwal pemotretannya agak padat.'

Naruto tersenyum meyakinkan gumamannya. Semoga saja memang karena hal itu.

.

.

##^miya##

.

.

Aku tetap tidak mengerti dengan Sai. Sudah tiga hari ini ia bersikap tidak biasa. Aneh, menurutku sikapnya ini terlalu tenang. Biasanya, kapanpun dan dimanapun dia selalu menempel padaku. Kenapa ya, bahkan sampai saat ini?

Bahkan, walau sekarang aku duduk di hadapannya, di meja yang sama, ia tidak mengalihkan pandangannya untukku sekalipun. Ya, kini aku sedang menemaninya mengerjakan PR musim seminya. Pandangan matanya hanya terfokus pada buku tugasnya di atas meja. Sesekali ia menyentuhkan ujung pensil ke bibirnya yang tipis dan mungil. Aku tak mengalihkan pandanganku pada bibir yang menurutku sangat sexy itu. Aku teringat saat-saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dan, dengan bibir itulah yang pertama kali mengecap kulit dadaku, dan memberikan rasa yang belum pernah kurasakan.

Eh...! Tunggu..Tunggu..!

Kenapa aku jadi malah berharap disentuh olehnya sih?

Tapi, tapi aku benar-benar tidak mengerti. Sai~... apa sih yang kamu pikirkan?

Entah sadar atau tidak perasaanku merasa hampa dan kehilangan. Tanpa kusuruh, ku gigit bibir bawahku dan terus menatap Sai dengan mata redup penuh kekosongan.

Sai...?

.

##^miya##

.

Langit biru cerah selalu identik dengan musim semi, begitu sebaliknya. Meski ini adalah pagi hari di penghujung musim semi, tapi hatiku bagaikan musim gugur prematur yang sudah lama kehilangan warna cinta di dalamnya. Ah, kenapa pagi ini sepi sekali sih? Apakah rumah ini juga tidak memahami perasaanku? Setidaknya, kalau Sai dan Nenek sudah tidak peduli padaku, kau juga tidak boleh begitu juga kan? Hanya kau perasaan berharga yang ditinggalkan oleh ayah dan ibu untukku...

'Yeah... Hanya dengan memikirkannya saja hatiku serasa penuh dengan cinta...

Baiklah Naruto.. Semangat! Kupaksakan senyum untuk menguatkan diriku sendiri.

Aku berdiri di depan pintu kamar Sai. Aku tidak yakin ia ada di dalam kamarnya. Selain matahari sudah meninggi, tak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di kamar itu. Kukepalkan tangan kananku dan kuketukkan pada lembar pintu didepanku sebanyak tiga kali.

"Sai? Kamu masih tidur, ya? Makan paginya nanti jadi dingin lhoh..."

Masih belum ada jawaban.

'Nenek juga sudah ngga ada di kamarnya. Apa mereka sudah berangkat?'

"Sai~ aku masuk ya?" Pelan, kuputar handle pintu searah jarum jam dan kubuka selebar pinggang. Ada sedikit keanehan ketika aku melangkah masuk kamar Sai.

'Eh? Kenapa barang-barang Sai sudah ngga ada?'

"Dia ada disini hanya selama liburan musim semi..."

Tiba-tiba kata-kata Tsunade Baa-chan terngiang di pikiranku. Aku ingat Nenek mengatakannya saat hari kepindahan Sai ke rumah ini.

"Ngga mungkin... Ngga mungkin Sai udah pergi, kan? Ngga... Ngga bisa dipercaya! Masa dia pergi tidak pamit dulu padaku...!"

Mana mungkin aku bisa menerimanya. Tapi, meski aku meluapkan emosiku sekarang, kurasa percuma. Sai sudah tidak disini lagi. Dan kami akan menjadi dulu lagi. Tidak saling mengenal, kembali menjadi orang asing. Dan hanya bisa melihat dirinya dari papan iklan di sisi jalan.

"Uh... Sai~...?"

Lututku gemetar. Aku terperosot jatuh dan terduduk di bawah lantai, mungkin kakiku sudah tidak mampu menopang berat tubuhku yang terus gemetar menahan sedih. Air mata mulai mengalir dari ujung dan pangkal mataku. Kemudian menjadi sesenggukan kecil, namun tak bisa kuhentikan.

'Sai... benar-benar sudah pulang. Aku ngga pernah terpikir akan jadi seperti ini. Meski dia agak kurang ajar, tapi sebenarnya... Secara tidak sadar aku sudah jatuh cinta sama anak-anak. Setidaknya...'

"Sai... aku suka padamu"

'Aku ingin sampaikan padanya...'

'GREP'

"Iya... aku juga suka padamu"

Aku masih membelalak tak percaya. Sai... dia sudah mendekapku dengan sebelah tangannya. Sedang yang satunya untuk memilin rambutku dan diciuminya. Sesenggukanku sudah berhenti karena keterjutanku. Aku mencoba berbalik ke belakang. Memastikan bahwa dia benar-benar didekatku. Benar. Aku tidak salah. Itu adalah wajah polos nan ceria milik Sai. Binar bahagia dan rona merah tak dapat kusembunyikan dari mata osidiannya.

"Kamu ini, bukannya udah pulang?" Bagaimana ini? Berarti, dia sudah mendengar pernyataan cintaku. Benar-benar memalukan. Tapi, meski aku menutupinya dengan panik-panik sendiri, kurasa itu percuma. Malah cengirannya makin lebar dan tenang-tenang saja.

"Ngga kok, tadi aku cuma ngeluarin barang-barangnya aja... Masa sih, aku pergi ngga pamitan sama kamu...?"

Bodohnya aku ini. Aku tidak bisa menahannya lagi. Kututupi wajah memerahku dengan telapak tanganku, menghindari tatapan matanya.

"...Kalo misalnya ditarik ngga bisa. Jadi aku coba ulur. Dan ternyata berhasil, ya?"

"?" Raut 'benar-benar tidak mengerti' terpampang jelas di wajahku.

"Akhir-akhir ini aku emang ngga pegang-pegang Naru... Kamu jadi merasa kesepian, kan?"

Sekarang wajahku benar-benar merah, semerah tomat. Tapi...

"Kamu memang udah merencanakan itu semua, ya?" muncul empat siku di dahiku.

"Habisnya.. waktu aku dengar kata-kata ngga mungkin menjalin hubungan cinta denganku. Jadi sedih banget. Waktu itu aku dengar semuanya. ...Aku suka sama Naru."
Sai menaupkan tangannya di kedua pipiku. Menatapku dengan kemesraan. Seolah meminta jawaban, walau niatnya hanya menggodaku. Dilihat pun sudah tau. Mana mungkin kan aku menolak dia. Uh...

Tidak mau menunggu kata-kata yang keluar dari mulutku, ia sudah menempelkan bibirnya ke bibirku penuh kelembutan. Awalnya hanya kecupan ringan. Kemudian, mengecup bibir bawah dan atasku secara bergantian.

"Mmmh... Mmmn..."

Ia menjilat bibirku, meminta akses lebih dalam. Tanpa pikir panjang, aku membuka sedikt mulutku.

"S-sahmmmp..."

Gerak cepat, Sai melesakkan lidahnya ke dalam mulutku. Mengabsen semua gigiku, kemudian mengajak bergulat lidah. Tangan kanannya menahan tengkukku, membuat ciuman kami lebih dalam dan tidak bermaksud menghentikannya. Sedang tangan kirinya menelusup ke balik punggungku mencari pengait bra yang berada di sana. Membalas pertarungan lidah dengannya benar-benar membuat dadaku dua kali lebih sesak dan kehabisan tenaga. Seakan mengerti, Sai menghentikan eksplorasinya di dalam mulutku. Namun aku tidak menduga, apa yang terjadi setelah ini. Sai menarik bajuku ke atas. Tanpa kusadari. Sejak kapan bra yang beberapa waktu lalu masih berada di tempat yang semestinya sudah berpindah di tangannya. Tanpa mengalihkan pandangan obsidiannya ke saphireku, ia mengangkat bra warna kuning milikku, membawanya hingga menutupi bibir dan hidungnya. Kemudian menyesap aromanya dalam.

"Aku suka.. suka~ semua yang ada padamu Naru."

"Kyaaa..."

Tanpa aba-aba, ia menurunkan kepalanya sebatas dadaku dan megecup puncak dadaku sekilas. Ia menatapku sekali lagi, dan menyeringai liar sambil mendekapku erat.

"Naru... kasih tau dong, bagian mana lagi yang mau disentuh."

"Dasar kau ini! Sampai mana juga tetap mesum, ya?"

Lucunya, ketika mendengar teriakan kerasku dan wajah menyeramkan andalanku ia segera memejamkan kedua matanya, raut ketakutan akan jitakanku tempo hari. Aku tersenyum senang, karena berhasil menggodanya.

"Aku mau semuanya." Ucapku cepat menghindari arah pandangnya. Karena wajahku sudah memberi respon yang seharusnya, memanas dan benar-benar merah. Lama sekali. Sai tidak merespon sama sekali. Akhirnya, kuberanikan menatapnya. A-apa? D-dia.. tidak kalah merahnya dengan wajahku. Benar-benar manis dan lucu.

"Kawaii.." kataku sangat terus terang.

"Memang, banyak yang bilang aku manis." Sai menangkupkan masing-masing tangannya di kedua dadaku. ...Tapi menurutku, Naru yang paling manis."

"Hyaaa..."

.

##^miya##

.

"A-ahhh... Ahhhhn..."

Sai menjilat seluruh permukaan dada Naruto kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya. Ikut andil, tangan Sai meremas dan menekan dada Naru yang sebelahnya. Kemudian mempertemukan bibirnya lagi untuk saling bertaut dan bertarung lidah.

"Ahhh...! S-sahmmp..."

Tangan Sai mulai merayap ke bawah , menyibak rok Naru ke atas dan mengelus paha Naru. Kemudian meremas pelan daerah kewanitaan Naruto di balik celana dalam yang sudah agak basah itu.

"Ehem..ehem..! Apakah aku mengganggu?" Ucap Tsunade menginterupsi yang saat ini tengah bersandar di samping pintu kamar dan bersedekap.

Sedang dua sosok tadi cepat-cepat melepaskan diri. Sebenarnya, bukan dua melainkan hanya satu. Karena si gadislah yang cepat-cepat mendorong si pria dan segera menurunkan bajunya. Sedang sang pemuda hanya menyeringai dan bersikap santai, walau awalnya agak tidak rela melepaskan moment yang berharga seperti tadi. Sadar bahwa si gadis masih menunduk malu, dan wajah merahnya belum kunjung pudar Sai berdiri meninggalkan gadis itu dan menemui Tsunade di luar.

.

.

.

"Ada surat untukmu" kata Tsunade langsung tanpa basa-basi ataupun menanyakan perihal kejadian barusan.

Sai menerima surat itu dengan agak malas. Karena kedatangan surat itulah yang telah menginterupsi kegiatannya. Dari tampak luar dan ukurannya bisa diperkirakan bahwa itu adalah surat resmi dan sangat penting. Namun, tak lama kemudian Sai langsung tercengang setelah membaca pengirim dan darimana surat itu berasal.

'Westminster School

Westminster Abbey, London'

TBC

Special Thanks to:

Missyuuhi, Nanaki Kaizuki, Yashina Uzumaki, Miyako Shirayuki Phantomhive, Nasumichan Uharu, Hanyou Dark, & para silent readers.

Yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca dan mereview fic ini, juga saran-saran dari para Senpai yang sangat membantu dan menambah nilai kelayakan fic ini.

Arigatou^^...

Maafkan Author karena baru sekarang meneruskan kelanjutan fic ini, karena tugas yang menyita banyak waktu Author.

Akhir kata... Mind to review?