Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto tentunya...

Our real mission chapter 2

Sasuke kembali keluar dan mendapati halaman rumahnya yang tetap sepi. Seperti biasa. Namun dia tahu kalau ada yang mengawasinya.

" Sai, keluarlah," katanya setengah berbisik.

" Aku disini. Ga perlu keluar juga kali."

Sasuke melihat ke arah datangnya suara. Geezz, Sai sekarang sedang menyamar menjadi kakek tua. Yah, bisa dibilang membuat Sasuke tertipu dengan dandanannya itu. Gila, benar-benar berbeda. Hanya suaranya saja yang tidak berubah.

" Sai, ini beneran kamu?"

" Hus, sekarang aku adalah seorang kakek tua. Kau harus sopan kepadaku," kata Sai seraya berkacak pinggang di depan Sasuke. Sasuke hanya mendengus geli. ANBU memang jauh dari dugaannya. Dia berpikir bahwa ANBU itu sangatlah serius. Ternyata bisa konyol juga...

" Kenapa memanggilku?" tanya Sai.

" Enggak apa-apa. Cuma mengetes. Tadi malam kau juga disini kan?"

" Bagaimana kau bisa tahu?"

" Cuma mencoba saja. Ternyata benar."

" Kau mau berangkat ya?"

" Ya, kau tidak usah ikut."

" Siapa juga yang mau ikut. Aku juga ada kepentingan lain kok. Oh ya, sidangnya seminggu lagi kan?"

" Ya."

" Ganbatte neee... oh ya, ini aku kasih. Kalau ada apa-apa kau tinggal menekan tombol itu dan menungguku di tempat yang aman," kata Sai seraya memberikan sebuah benda berbentuk bulat sebesar uang koin kepada Sasuke. Di tengahnya ada tombol yang juga berwarna hitam. Sasuke menerimanya dan menelitinya dengan rasa penasaran.

" Ketika ditekan,benda itu akan langsung terhubung dengan milikku. aku akan segera menghubungimu. Jaa neeee."

Dan Sai berjalan meninggalkan Sasuke. Sasuke segera berangkat ke sekolah. Dia masih penasaran dengan benda itu. Namun untuk menghindari kecurigaan, Sasuke segera memasukkan benda itu ke saku celananya dan segera masuk ke dalam kelas.

Skip time...

" Jaa nee..."

" Jangan lupa makalahmu Sasuke."

" Besok masuk pagi ya... ada tugas kelompok. Jangan sampai kesiangan lho."

Sasuke hanya melambaikan tangan ke arah orang-orang yang berbicara dengannya. Dia segera bergegas pulang namun hasil kuliah singkat dari Sai tadi malam melalui telepon membuatnya berpikir dua kali apakah dia aman atau tidak.

'Pertama, kau lihat sekelilingmu namun jangan sampai mencurigakan. Jalanlah biasa dengan dingin namun liriklah apa yang ada di sekitarmu. Kalau kau merasa diikuti segera mencari keramaian dan hiruk pikuk. Usahakan kau membuat mereka kehilanganmu di area kerumunan orang. Lalu setelah menemukan tempat persembunyian, kau menghubungiku. Jika kau tidak menjawab, juga tidak apa-apa. Itu memberikan sinyal untukku kalau mereka dekat dengan tempat persembunyianmu. Arahkan alat komunikasi ke suara yang khas dengan tempat itu. Kalau bisa sih ke arah percakapan orang yang mau menangkapmu. Itu kalau bisa lho!'

Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak? Sai menjelaskannya dengan nada yang menunjukkan seolah olah itu adalah hal yang sangat mudah. Seperti menyuruh anak kecil untuk membeli semangka di pasar buah. Ya, bagi Sai itu adalah pasar buah. Sedangkan dia? Dia malah meras di suruh membeli donat di pasar buah.

Sasuke berusaha untuk berbaur dengan kerumunan orang. Diperhatikannya tiga orang yang menunjukkan perilaku yang mencurigakan. Ketika mata mereka berpapasan dengan mata Sasuke, ketiga orang itu segera mengejar Sasuke. Sasuke berlari dan untung saja di tempat itu ada band yang manggung dengan penonton yang cukup banyak hingga berdesak-desakan. Sasuke memanfaatkan kesempatan itu. Dia segera menyelinap dan berusaha untuk bersembunyi di kerumunan penonton.

Yah, mereka berhasil kehilangan Sasuke. Sasuke segera menyingkir di lorong dekat festival band itu. Dia segera menekan tombol benda itu.

Sementara itu di sebuah festival bazar tahunan...

" Nii-chan, aku mau yang itu..."

" Yang mana? "

" Yang nomor tiga ..."

Ctakkkk!

" Hore... Nii-chan hebat...! Arigatou..."

" Aku juga mau yang itu Nii-chan..."

" Iya... aku juga mau."

" Aku duluan!"

" Aku!"

" Aku!"

Seorang remaja berkulit pucat sedang berada di kerumunan anak kecil yang sibuk memperebutkan dirinya untuk menjentikkan sebuah koin hingga sampai ke tempat yang diinginkan. Jika mengenai spot tertentu maka akan dihadiahi boneka. Remaja itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat ulah para anak kecil yang berumuran lima hingga enam tahun yang masih sibuk memperebutkan dirinya.

" Eh... etto...jangan bertengkar..."

" Aku!"

" Aku!"

" Aku!"

.

.

.

.

.

Sai sweatdrop.

.

.

.

Hingga akhirnya...

" Wah, maaf ya. Nii-chan mau nemuin temen Nii-chan dulu. Jaa nee," kata Sai seraya meninggalkan kerumunan anak kecil disana. Dia meraih seseorang yang lebih tua secara random dan menarik tangannya ke kerumunan lain. Tiba-tiba seorang anak kecil di tempat itu bergumam.

.

.

.

" Temennya Nii-chan si om-om itu?"

.

.

.

" Wah, akhirnya bisa juga terbebas. Maaf ya aku tiba-tiba menarik tanganmu. Sekali lagi aku minta maaf," kata Sai seraya menghadap ke arah orang yang dimintai maaf. Namun yang terlihat benar-benar diluar dugaan. Di depannya berdiri seseorang lelaki paruh baya yang memegang senapan dengan wajah yang 'terbakar'. Sai sudah ciut.

" Kau telah membuatku kehilangan kupon dua botol sake dan dua mangkuk mie ramen!" kata orang itu seraya mencengkram kerah baju kemeja putih Sai. Sai hanya bisa mengangkat kedua tangannya dengan maksud menyerah.

" Bagaimana bisa? Apa hubungannya senapan dengan kupon?"

" Bakayaro! Aku sedang bermain dan tiba-tiba saja kau menarikku bocah!" kata orang itu seray menaikkan tubuh Sai yang kurus dengan mudah. Tentu saja, badannya saja begitu.

" Gom-gom-gommenasaaaaaiiiiii..."

" Kalau kau mau dimaafkan, kau harus mendapatkannya!" kata orang itu seraya mendorongnya dengan senapan yang tadi dipegangnya. Sai menerimanya dan meneliti senapan itu. " Dan pakai uangmu sendiri!"

Sai akhirnya digiring ke arena tembak. Beberapa orang yang sepertinya adalah teman dari paman itu hanya terkikik melihat seorang anak muda berkulit pucat yang akan melihat target tembak yang bergerak dengan lambat. Dia mulai memusatkan perhatian dan...

Dor!

Dor!

Dor!

" Nah, sekarang sudah selesai kan Paman? Sekarang Paman mau memaafkanku kan?" kata Sai seraya memberikan senapan yang dipegangnya ke orang yang telah meminjamkannya tadi. Sedangkan para penonton jawsdrop melihat kejadian tadi. Tiba-tiba...

Drrrttttt...ddrrrtttttt

Sai meraba sakunya yang ternyata alat komunikasinya bergetar.

" Sudah dulu ya Paman...jaaaaa...neeee..."

Sai segera mencari tempat yang aman lalu membuka alat komunikasinya. Dia menekan tombol dan mendekatkannya ke telingnya.

" Sai!"

" Iyaaa... aku tahu. Sekarang posisi?"

Tiba-tiba terdengar suara musik reggae di tempat Sasuke berada. Sasuke menjelaskan panjang lebar seolah-olah Sai adalah seorang turis yang tidak tahu jalan. Sai tetap mendengarkan Sasuke meskipun dia menoleh ke arah baliho yang sedang di gantung.

" Festival band dengan bintang tamu band reggae huh?"

Di tempat Sasuke...

Sasuke segera menutup mulutnya melihat tiga orang tadi berjalan di sekitar tempatnya bersembunyi. Mengingat pesan dari Sai, dia tetap menyalakan alat komunikasinya. Namun saat itu juga mereka menyadari keberadaannya. Seketika itu juga Sasuke melarikan diri.

Namun dewi fortuna tidak memihak kepadanya. Dia terjebak di jalan buntu. Sasuke menyiapkan kuda-kudanya. Tapi mereka bertiga mengeluarkan pistol. Sasuke hanya bisa pasrah. Dia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa dia menyerah.

Dor!

Dor!

Dor!

Sasuke terperangah melihat ketiga orang didepannya rubuh dan saat itu juga dia mendapati Sai yang berdiri di belakang mereka. Sai tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

" Hai..."

Bletakkkk!

" Apa-apaan sih? Sudah diselamatkan malah menjitak!"

" Kau bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa!"

" Oh, beitu. Yang penting sekarang kita keluar dari sini. Sebelum yang lain datang."

Mereka segera meninggalkan daerah itu. Lalu mereka merasakan hal yang aneh. Seketika itu juga mereka berdua berlari setelah terdengar tembakan. Karena jalan yang licin mereka berdua terpeleset dan tembakan terus diarahkan kepada mereka. Sai melindungi Sasuke dengan tubuhnya dan sesekali menembakkan peluru ke arah orang-orang yang mengejar mereka.

Mereka terus berlari kearah keramaian (lagi) dan berusaha untuk terus berjalan karena dikhawatirkan ada penembak jitu.

" Yah, tak ada jalan lain."

" Kau mau apa Sai?" tanya Sasuke seraya melihat Sai yang menuju ke tempat yang agak sepi dan ke sebuah mobil yang terparkir. " Jangan bilang kau mau mencuri Sai! Aku tidak bisa menerima itu."

Sai masuk ke dalam dan mengutak-atik sesuatu yang mengakibatkan mobil itu menyala. Dia keluar dari dalam mobil.

" Bagaimana kalau kita sebut sebagai mengambil? Pasti mau diterima kan?" kata Sai. Tiba-tiba muncul orang-orang sambil menodongkan senjata.

" Sasuke, cepatlah masuk ke dalam mobil."

Dor!

" Sial! Cepat masuk Sasuke! Tidak ada pilihan lain!" kata Sai seraya mendorong Sasuke untuk masuk ke dalam mobil. Dia lalu duduk di belakang kemudi. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi melewati jalanan yang sempit bahkan pemukiman penduduk. Sasuke menoleh ke belakang dan mendapati sebuah mobil melaju mengejar mereka. Tiba-tiba Sai mendorong kepala Sasuke ke bawah.

" Menunduklah, mereka masih menembak Sasuke."

Mereka berdua telah sampai di daerah rel kereta api. Sasuke merasa agak panik melihat sebentar lagi kereta akan lewat di depan matanya. Sai menancap gas hingga kelajuan naik secara drastis. Sasuke hanya memejamkan matanya.

Daarrrrr!

Sasuke menoleh ke belakang dan melihat mobil yang mengejar mereka tertabrak kereta api. Sasuke menghela napas lega. Dia berharap agar bisa pulang dan merebahkan diri serta tidur tentunya. Sai masih menyetir mobil namun dengan kecepatan sedang tentunya. Mereka berhenti di jalanan yang sepi lalu Sai menyuruh Sasuke keluar.

" Untuk menghilangkan jejak," kata Sai. " Ayo kita berjalan ke arah yang berlawanan."

Dan Sasuke hanya menurut. Sai melepaskan jaketnya dan menyuruh Sasuke untuk memakainya. Karena bosan, Sasuke merogoh kantong jaket itu dan menemukan sesuatu disana. Sebuah foto.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

Maaf baru bisa update solanya Kasumi masih ikut MID semester di sekolah...

Kyaaa... Kasumi rasa action-nya kurang nih. Iya kan reader-sama?

Mohon review ya... :)