Disclaimer:
Harvest Moon bukan punya saya
Tokoh-tokohnya bukan punya saya
Ceritanya punya saya
Warning:
Segala macam OOC, OOT, typo, alur kecepetan, bahasa gak baku, bahasa gak jelas, dan sebagainya
Cerita ini merupakan cerita lanjutan dari "Tiada Lagi Kesal di Matanya" dan "Spring's Confession". Kalo charanya bisa banyak, saya bakal bikin satu cerita berchapter-chapter (?) dan bukannya OS kaya gini =.=a yah, sudahlah~
Dan Rey minta maaf karena lama apdet m(T T)m
Enjoy!
Hadiah Musim Panas
A KaixPopuri story
by reynyah
Chapter II – Selamat Tinggal, Jack
Popuri POV
Jack?!
"Oh, Popuri, rupanya kau di sini?" tanyanya sambil menatapku tajam. Oh, tidak... "Cepat pulang, Rick dan ibumu sudah menunggu. Mereka sangat khawatir."
Aku menggeleng pelan. "A-aku mau membantu Kai dulu..."
Lagi-lagi Jack menatapku tajam. "Siapa yang lebih kau pilih? Kai atau keluargamu?"
Oh, sumpah aku membenci perbandingan macam ini.
Kai menghela napas. "Kurasa aku mengerti apa yang terjadi di sini," ucapnya pelan. Kemudian, ia menatapku. "Kau pergi tanpa bilang-bilang Rick atau ibumu, ya?"
Aku menunduk lalu mengangguk pelan.
"Popuri," ucap Kai pelan. "Pulanglah. Aku bisa mengurus toko ini sendiri, kok."
Aku menatap Kai ragu. "Benarkah? Kurasa tidak akan sebaik kalau aku yang mengurusnya, bukan?"
Kai tertawa. "Memang tidak," ucapnya. "Kau pulang, ya?"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi, Popuri," potong Jack sambil menggamit lenganku. "Kita pulang sekarang."
"J-Jack! Tunggu dulu! Kai bagaimana?"
Jack tidak menjawabku. Dia terus menarikku keluar dari toko Kai. Kai hanya memasang senyum kecil sambil melambaikan tangannya. Setelah itu, Kai menutup pintu tokonya. Sial. Kenapa dia tidak menarikku dari Jack? Menyebalkan.
Dan... Jack.
Tidak bisakah dia memahami perasaanku?
Ternyata Ann benar.
Jack kurang bisa memahami perasaan wanita.
Jack POV
Astaga, aku bisa mati berdiri kalau Popuri melakukannya lagi.
Mari kita jabarkan. Bagian pertama, Popuri hilang dari rumah. Oke, bagian itu juga sudah cukup membuatku panik dan kehilangan kesadaran untuk sementara. Tapi yah, aku tidak pingsan. Kehilangan kesadaran kan, bukan berarti pingsan... Oke, mungkin maksudku bukan kesadaran tapi akal sehat. Oh sudahlah, untuk apa pula kubahas?
Bagian kedua, aku tidak menemukan Popuri hampir di seluruh penjuru Mineral Town. Yah, bagian itulah yang paling menyebalkan. Pikiranku kan, jadi melayang ke mana-mana. Bagaimana kalau Popuri terjatuh ke kolam Harvest Goddess? Atau Popuri dimakan ikan hiu ketika sedang duduk santai di pantai? Atau Popuri terjatuh dari gunung?
Asal tahu saja, ketika aku panik, tidak ada satu pikiranpun yang bernilai positif.
Bagian ketiga dan yang paling menyebalkan, Popuri kutemukan di kedai Kai. Dan lebih parahnya lagi, Popuri bersama Kai. BERSAMA KAI. Astaga, tidak adakah hal yang lebih menyebalkan dari ini? Sebenarnya pada saat itu juga aku ingin menyumpal mulut Kai dan menarik Popuri jauh-jauh dari sana. Sayang, aku tidak bisa.
Karena aku tahu perasaan Popuri masih berpihak pada Kai.
Kalau aku benar-benar menyumpal mulut Kai tadi, apa yang akan terjadi?
Popuri akan membenciku seumur hidupnya.
Itulah yang kutakutkan.
"Jack."
Aku menghela napas sambil berusaha tetap terlihat dingin. "Apa?"
"Kenapa kau begitu membenci Kai?" tanya Popuri. "Rick juga... kalian berdua sama saja, memangnya apa yang Kai lakukan sampai kalian begitu membencinya?"
"Dia tidak melakukan apa-apa pada kami," jawabku tegas.
"Lalu?"
Aku menghembuskan napas. "Popuri, tidak semua hal harus kau ketahui."
"Kali ini aku harus tahu," tukas Popuri. "Kau dan Rick sudah membunyikan terlalu banyak hal dariku."
"Tanya Rick saja."
"Dia tidak mau menjawab."
"Aku juga tidak, Popuri."
"Kalian laki-laki sama saja!" seru Popuri sebal. "Apa sulitnya memberi jawaban yang selalu aku tunggu?!"
Aku terdiam.
"Aku benci Jack..."
Aku menatapnya dengan terheran-heran. "Popuri...? Kau—"
"Aku benci Jack," ulangnya dengan suara bergetar. Hampir menangis? "Aku benci Rick, aku benci... aku benci kalian! Apa sih, susahnya membiarkankan aku bahagia?!"
Aku terdiam tidak bisa menjawab. "Bukan itu masalahnya..."
"Lalu apa?!"
Aku menghela napas. "Popuri, aku menyukaimu."
Popuri menggeleng. "Bohong, kalau memang benar, kau pasti membiarkanku bahagia."
"Tidak dengan bersama Kai."
"Memangnya kenapa?"
"Bukankah wajar kalau aku merasa cemburu?"
Popuri menatapku kesal. "Kau tahu, aku sebal mendengar kata itu. Sudahlah, jauh-jauh saja dariku," ujar Popuri dingin. "Mulai hari ini, anggap saja kita tidak ada apa-apa."
"Popuri...?"
Popuri menyentakkan tangannya. "Jangan cari aku."
Popuri berlari menjauhiku. Aku ingin mengejarnya, tapi begitu mengingat kalimat terakhirnya yang jelas-jelas ditujukan padaku, kakiku jadi tidak bisa bergerak. Aku berusaha, tapi tidak bisa. Akhirnya, aku hanya bisa membiarkannya hilang dari pandanganku.
Apa aku melakukan hal yang tepat?
"Kalau kau seperti itu pada wanita, selamanya kau tidak akan dapat."
Aku menoleh ke asal suara. Hah, rupanya.
Kai.
Kai POV
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Popuri berlari sambil menangis. Seumur hidup, aku tidak pernah melihatnya menangis. Apalagi menangis gara-gara laki-laki yang ada di depanku ini! Siapa namanya? Jack, kalau aku tidak salah ingat.
Menyebalkannya lagi, bukannya mengejar Popuri atau apa, Jack justru diam di tempat. Dia diam, seolah-olah Popuri bukan apa-apa baginya. Astaga, ada apa sih, dengan dunia? Ada apa sih, dengan laki-laki yang satu itu? Separah itukah dia pada wanita?
"Kalau kau seperti itu pada wanita, selamanya kau tidak akan dapat."
Dia menoleh dan menatapku tepat di mata. Aku berjalan santai menghampirinya. Dia memutar badannya. Kami berhadapan. Wajahnya tampak kesal. Padaku? Memangnya aku salah apa? Aku kan, baru saja tiba di sini.
"Untuk apa kau kemari?" tanyanya dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat. "Pergi saja, aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Tidak usah berpura-pura," balasku. "Aku tidak peduli kalau kau membenciku, aku hanya ingin tahu, apa yang kau lakukan sampai Popuri menangis?"
"Sudah berapa lama kau ada di sini?"
"Cukup lama untuk melihat Popuri berlari meninggalkanmu sambil menangis dan kau bahkan tidak mengejarnya," jawabku santai tanpa merasa bersalah. "Kau pikir, kau ini laki-laki macam apa? Harusnya kau kejar dia, bukan diam di sini!"
"Dia memintaku untuk tidak mengejarnya..."
"Ya ampun, itulah perempuan, berkata ini padahal dalam hatinya itu!" balasku gemas. "Sudahlah! Kau diam saja di sini, Jack. Biar aku yang pergi mencarinya. Kalau dia membencimu, artinya hanya aku yang bisa mengejarnya."
Aku berlari meninggalkan Jack di Rose Square. Biasanya kalau sedang sedih, Popuri akan diam semalaman di air terjun Goddess. Tapi... mengingat Jack pasti sudah tahu tentang itu, Popuri pasti menghindari tempat itu. Apa di gunung? Popuri juga suka ke sana walau tidak sering. Jack yang belum lama dekat dengan Popuri pasti tidak tahu itu.
Maka aku mempercepat langkahku menuju gunung itu.
Mencari Popuri.
Menjemputnya dan menyuruhnya pulang.
Mengatakan semuanya baik-baik saja.
Menyatakan perasaanku.
Ya, hal terakhir itu yang penting.
Popuri POV
Aku duduk di gunung, tempatku lari jika aku ingin benar-benar lari. Rick dan Jack sudah tahu kebiasaanku termenung di air terjun Goddess, maka aku harus pindah agar mereka tidak dapat melacakku. Dan satu-satunya tempat yang terpikir olehku hanya gunung ini.
Gunung ini panas pada siang hari. Aku mencari tempat berteduh, tapi tidak ada. Akhirnya, aku terpaksa memanggang kulitku. Sekali-kali, tidak apa-apa, deh.
"Popuri?"
Tubuhku menegang. Astaga! Siapa yang berhasil menemukanku di sini?!
"Jangan lari, aku bukan Rick atau Jack."
Lalu siapa? pikirku penasaran. Kalau dipikir-pikir, Rick dan Jack memang tidak akan mencariku sampai ke sini, sih. Mereka terlalu malas untuk melakukannya.
"Ini Kai."
KAI!
Syukurlah...
"Popuri?"
"Aku di sini," sahutku pelan.
"Baguslah, aku tidak salah kira," kata Kai begitu sudah ada di depanku. Dia duduk di sampingku lalu bertanya, "Kau baik-baik saja?"
Aku menggeleng.
"Siapa masalahnya kali ini?"
"A-aku hanya ingin mereka menjawab pertanyaanku," jawabku pelan. "Tapi mereka tidak pernah mau bilang."
"Oh ya?"
Aku mengangguk.
"Apa pertanyaanmu?"
Aku menghela napas. "Kenapa kalian membenci Kai?"
"Hah?"
"Mereka membencimu, Kai," jawabku jujur. "Aku tidak pernah tahu kenapa."
Mendengar jawabanku, Kai justru tersenyum. "Oh, ternyata itu."
"Kau...?"
"Aku sudah tahu tentang itu sejak lama, Popuri. Kakakmu memang sangat membenciku," jelas Kai. "Dia berkali-kali menyuruhku menjauhimu. Katanya, aku hanya bisa menyakiti hatimu. Oke, mungkin dia benar soal itu. Mungkin aku memang selalu membuatmu menangis saat aku hendak berkelana lagi. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Popuri."
Aku menatapnya terkejut. "Kau tahu soal—"
"Aku tahu semuanya, Rick selalu bilang," potong Kai. "Dia berkali-kali menyuruhku mejauhimu, Popuri. Semua alasan dia jabarkan. Mulai dari tangisanmu tiap malam, sikap-sikapmu, semuanya. Tentu saja itu membuatku merasa bersalah. Tapi... aku sudah mengatur semuanya. Ini adalah saat terakhir dan saat yang tepat."
"Terakhir dan tepat?"
Kai mengangguk. "Popuri, sejak dulu aku selalu menyayangimu. Aku tidak pernah menyayangi atau bahkan sekedar menyukai siapa-siapa lagi. Sejak dulu memang hanya kau. Aku tidak pernah bisa melihat siapa-siapa lagi."
Aku terdiam. Apa Kai serius?
"Sekarang ini, aku hanya ingin menyerahkan ini." Kai menunjukkan sebuah bulu berwarna biru di depan mataku. YA AMPUN. "Kau mau, kan?"
Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. "Kai...?"
"Oke, aku tahu saat ini kakakmu pasti akan sangat tidak setuju," ujar Kai. Hmm... ada benarnya juga, sih. "Kalau begitu, sekarang kau harus pulang. Aku akan mengantarmu pulang dan menjelaskan semuanya pada kakakmu. Kuharap dia bisa mengerti."
"Kai... kau—"
"Sudahlah, Popuri. Aku serius."
"Bu-bukan itu..." ucapku sambil menggigit bibir. "Kau... akan pergi lagi?"
Kai menghela napas. "Kau benar-benar ingin tahu?"
Aku mengangguk walau aku tahu jawabannya akan selalu iya. Dia akan pergi lagi, aku akan sendiri lagi, untuk apa aku menikah dengannya kalau pada akhirnya aku akan sendiri lagi seperti biasa? Untuk apa?
"Aku... sudah berhenti."
Aku menatapnya tidak percaya. "Apa?"
"Aku tidak akan pergi lagi," jelas Kai. "Pelayaran kemarin adalah pelayaran terakhirku."
"Jadi...?"
"Aku akan tetap di sini bersamamu."
"Kai?"
"Aku serius, Popuri," ulang Kai. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang, lalu menceritakan semuanya pada kakakmu."
SKIP TIME. DUA MINGGU KEMUDIAN~~
Hai, aku di sini, di gereja, menunggu.
Menunggu Kai, lebih tepatnya.
Bingung?
Singkat cerita, Kai menjelaskan semuanya pada Rick. Lucu sekali, mendadak Rick menyukai Kai. Ternyata, selama ini, yang Rick benci dari Kai hanya sikapnya yang seenaknya pergi meninggalkanku. Bahkan selamat tinggal pun tidak, katanya. Tapi setelah mengetahui kalau Kai akan tetap tinggal di sini, dia berbalik menyetujui hubunganku dengan Kai. Bahkan, dia sudah menjelaskan semuanya pada Jack.
Jack...
Entah bagaimana dengannya. Rick sudah menjelaskan semuanya, tapi aku tidak tahu bagaimana reaksinya waktu itu. Aku tidak melihatnya. Kuharap dia baik-baik saja. Kuharap dia tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh karena sedih. Kuharap, dia tetap bersikap biasa.
"Popuri?"
Aku membalikkan badan dan menemukan Kai di sana. Aku tersenyum. "Hai."
"Sudah siap?"
Aku mengangguk.
"Baiklah." Kai tersenyum. "Jack bagaimana?"
Aku terdiam.
"Soal Jack, serahkan saja padaku," kata Kai. "Dia akan baik-baik saja, kok."
Aku tersenyum. Semoga saja...
Jack POV
Aku menyadari betapa malangnya nasibku.
Aku sudah tiga kali menghadiri pernikahan yang berbeda; Cliff dengan Ann, Tim dengan Elli, dan ini yang ketiga... Kai dengan Popuri.
Kenapa hidupku begini menyedihkan, sih?
Ehem. Aku adalah Jack yang kuat. Hanya melihat mereka menikah, hanya itu. Harusnya aku bahagia. Ya, mereka bahagia. Bukankah seharusnya aku bahagia melihat mereka bahagia? Lagipula, perempuan di dunia ini bukan hanya mereka. Aku pasti akan menemukan seseorang yang cocok untukku.
"Maaf, kau menghalangi jalanku."
Aku mendongak. Seorang gadis dengan rambut kuning panjang. Bajunya santai sekali, sama sekali bukan baju formal untuk menghadiri pesta pernikahan. Apa dia tidak salah tempat?
"Maaf," balasku sambil menggeser badanku. "Kau mau duduk di sini?"
Dia tidak menjawab. Tiba-tiba saja dia sudah duduk di sampingku lalu mengulurkan tangannya padaku. "Karen."
Aku tersenyum lalu menjabat tangannya. "Jack."
FIN
