Disclaimer : I do not own Naruto and any other characters.

Warning : OOC. Gaje. Bahasa tidak baku, semi formal, suka-suka tergantung sikon. Humor garing.

Attention : Rate M for safe! Di sini Sasuke asdfghjkl syekali, yang gak kuat silahkan mundur teratur. I warned you XD

Tidak bermaksud untuk menyinggung pihak mana pun.


LOVE BITE

oleh VikaKyura.

Dari dulu Sasuke heran sekali, mengapa gadis manis yang sedang didekapnya itu tidak tertarik pada dirinya yang tampan, ceklis, keren, ceklis, atletis, ceklis, jantan... cek— apa perlu dia buktikan kejantanannya sekarang?!


Tahun 27XX.

Dunia telah berubah dan banyak mengalami kemajuan. Sejalan dengan perubahan alam, manusia pun ikut berevolusi. Munculnya vampir seribu tahun lalu adalah salah satu bentuk dari evolusi tersebut.

Tidak berhenti sampai sana, kemajuan zaman dan populasi bumi menyebabkan jumlah vampir berdarah murni semakin berkurang. Oleh sebabnya, beberapa ratus tahun lalu diciptakan sebuah sub-produk dari 'the vampire science' melalui kontrak pertukaran darah, yakni Yamanaka family. Satu-satunya klan yang telah turun-temurun melayani keluarga vampir berdarah murni, dan satu-satunya keluarga manusia yang memiliki darah Uchiha dalam gen mereka, membuat Yamanaka bebas dihisap darahnya tanpa melanggar Hukum Vampir. Melalui kontrak tersebut, darah keturunan Yamanaka tidak akan pernah habis meski dihisap sampai tiga kali sehari.

Uchiha Sasuke adalah putera bungsu keluarga Uchiha, yakni keluarga vampir berdarah murni yang langka dan tersohor akan kehormatannya. Sementara gadis yang menganggap dirinya sebagai 'pelayan' pemuda itu, Yamanaka Ino, adalah bagian dari keluarga Yamanaka tingkat teratas. Para leluhurnya telah melayani royal family Uchiha selama hampir lima abad.

Sebenarnya, jika Sasuke ingin, dia bisa saja menyangkal status hubungan 'Tuan dan Pelayan' atau 'Tuan dan Makanan' yang terjalin di antara dirinya dan gadis itu dengan mudah.

Hubungan mereka adalah pengecualian, dan jelas lebih dari sebatas itu.

Jadi, begini ceritanya.

Sejak kecil, Sasuke sebal dan benci menghisap darah.

Tidak seperti vampir normal lain, dia malah merasa jijik dan mual-mual tiap kali melihat dan mencicipi rasa darah. Apalagi kalau ingat dari mana asal darah-darah itu dikumpulkan, jika bukan dari transfusi darah milik om-om dan tante-tante Yamanaka yang sudah disterilkan.

Sasuke yang sedari kecil sangat jenius, kelewat kreatif dan terlampau imajinatif, memang sering berhipotesis dan bereksperimen sendiri, untuk meneliti seputar siklus hidup klannya. Dan itu sukses mempengaruhi pola pikir bocah vampir yang sedang beranjak dewasa itu. Salah satu efek yang paling jelas adalah, membuat Sasuke menjadi selektif dalam memilih makanan.

Jadi dia sering mikir, bagaimana kalau darah om dan tante, atau mas dan mbak Yamanaka, yang dia minum tidak cocok di badannya? Bagaimana kalau nanti dia sampai alergi? Atau yang paling ekstrim, bagaimana kalau darah-darah itu ternyata mengandung semacam kotoran, bakteri atau sejenis virus, rabies misalnya? Kan jijik.

Yakali, rabies ditularin lewat darah? Mas Sas kelewat cerdas. Ini adalah pemikiran bocah vampir umur lima tahun, pemirsa.

Padahal Papa dan Mamanya sudah sering meyakinkan bahwa minum darah adalah hal lumrah bagi bangsa mereka dan vampir kebal dari virus semacam itu. Tapi Sasuke tetap pada pendiriannya. Kebal bukan berarti virus itu tak pernah ada, kan?

Alhasil, barangkali karena asumsi yang diciptakan otaknya itu, jika minum darah segar murni tanpa campuran jus tomat –dengan konsentrasi campuran 70 persen jus tomat banding 30 persen darah–, badannya akan selalu bentol-bentol, gatal-gatal dan dia berakhir muntah, percis seperti orang sedang alergi.

Sangat tidak wajar kan? Masa seorang vampir alergi pada darah? Aneh luar biasa.

Sasuke menjadi pencetak rekor deh, sebagai satu-satunya vampir yang alergi pada makanannya sendiri, sebab hal semacam itu tidak pernah terjadi selama lebih dari seribu tahun eksistensi klan Uchiha. Buruknya, kelainan tersebut membuat Sasuke kecil memiliki fisik lemah karena mengidap anemia berkepanjangan.

Kondisi menyedihkan ini membuat nyonya rumah, Uchiha Mikoto menjadi sangat uring-uringan. Dia tidak rela jika anak bungsunya yang imut dan tampan itu tidak tumbuh secara jantan, dan dicap sebagai produk gagal.

Akhirnya, sebuah ide –yang agak gila– terbersit di benaknya. Karena merasa tidak punya jalan lain, tiga belas tahun lalu dia terpaksa membawa Ino yang waktu itu masih berumur empat tahun, untuk bereksperimen. Jika meminum darah dari anak seumurannya, mungkin Sasuke akan mau, pikir Mikoto, kelewat nekat.

Meski sebenarnya cara ini agak beresiko, karena seorang Yamanaka biasanya baru dibolehkan untuk 'bertransfusi' setelah mencapai usia kematangannya. Namun mengingat kondisi yang diidap putra bungsunya cukup serius, Mikoto merasa tidak punya pilihan lain. Akhirnya dia berhasil meyakinkan semua orang untuk mengizinkannya mengadopsi Ino.

Ya, mengadopsi. Gadis itu sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga. Nyonya Mikoto yang memang tidak bisa melahirkan anak perempuan, menjadi sangat menyayangi gadis itu bak putrinya sendiri.

Meski demikian, alih-alih menganggap Sasuke sebagai 'saudara', seiring beranjak dewasa Ino malah bersikeras menempatkan dirinya sebagai pelayan, atau makanan, dan yang paling buruk adalah peliharaan. Barangkali karena insting ke-Yamanaka-annya? Entahlah.

Singkat cerita, eksperimen Mikoto tersebut berhasil, meski tidak sepenuhnya sempurna.

Sasuke memang sembuh perlahan dan sudah bisa meminum darah bak vampir normal. Tapi... satu-satunya darah yang bisa, dan ingin dia minum, hanya darah Ino saja.

Dia itu tipe cowok galau yang ngerepotin, kan? Ember.

Tapi setidaknya, setelah banyak minum darah gadis itu, minimal Sasuke jadi tahu bahwa spekulasinya tentang virus dalam darah jelas terbukti. Sebab apesnya, Sasuke sedang positif terjangkit virus-virus cinta sekarang, plak.

Benar, salahkan Ino tentang itu! Salahkan dia yang dari sejak dulu, memang selalu memanjakan Sasuke. Selalu memenuhi segala kebutuhannya, menemaninya kemana pun.

Membuat kepala Sasuke penuh dengan kenangan-kenangan indah mereka bersama. Suap-suapan lah, gigit-gigitan, hisap-hisapan, peluk-pelukan, bereksperimen bareng, tidur bareng, sampai mandi bareng, misalnya. Ah, muka Sasuke jadi panas, sampai ganti warna jadi semerah termos panci yang ngeluarin asap dari corongnya, ngebul, jika sudah membayangkan semua memori indah itu.

Entah disengaja atau tidak, si gadis telah sukses membuat pemuda itu ketergantungan, dan kecanduan padanya.

Candu yang letal.

Sebagai seorang pemilik darah Yamanaka, Ino adalah manusia yang istimewa. Fisiknya kuat dan inderanya tajam. Membuat gadis itu tampak cantik, berbahaya, sekaligus mengancam.

Sehingga Sasuke tidak kuasa untuk tidak jatuh cinta, terjerat oleh pesonanya. Itu alasannya mengapa si pemuda merasa tak perlu sungkan, untuk berkali-kali menyerangnya.

Seperti saat ini.

Jika gadis itu tak segera sadar akan perasaannya, maka Sasuke sendiri yang akan membuatnya sadar. Dia akan menjejalkan perasaannya pada gadis itu, secara bertubi-tubi dan tanpa ampun.

Sasuke ingin membuktikan pada orang-orang, bahwa dia adalah seorang pejantan tangguh yang pantang mundur! Bukan produk gagal, atau pria yang mengenaskan!

Malam ini, Sasuke akan memulai rencana eksperimen 'nganu'nya. Terniat.

. . .

—love bite—

Very young children often perform rudimentary experiments to learn about the world and how things work. (source : wikipedia)

Anak kecil sering kali melakukan eksperimen dasar untuk belajar tentang dunia dan bagaimana segala sesuatunya bekerja.

—love bite—

. . .

Sinar jingga-kemerahan yang dipancarkan sang rembulan telah membayangi angkasa malam.

Sasuke menunggu dengan sabar. Seperti biasa, Ino akan segera datang tepat waktu di jam makan malam. Tapi tetap saja, sekarang pemuda itu sedang berjalan mondar-mandir di tengah kamar hanya karena Ino telat dua menit.

Sesaat kemudian, barulah daun pintu mulai diketuk sebentar, lalu dibuka dari luar. Gadis itu melangkah masuk tanpa perlu izin, seperti biasa.

Sasuke segera bersikap tak acuh, seakan berpura-pura tidak peduli akan munculnya Ino di sana. Seolah-olah dia tidak sedang menunggu-nunggu kedatangan gadis itu. Sok jaim.

Dari ujung matanya, Sasuke bisa melihat Ino mengenakan sebuah capulet spanish shoulderless mini dress, atau gaun setelan simpel dengan pundak terbuka berwarna perpaduan antara indigo dan putih tulang. Barangkali dimaksudkan untuk memudahkan si pemuda menghisap darahnya. Rambut pirang panjangnya dikepang dua, dan sebuah kalung black lace choker melingkari leher jenjangnya.

Sasuke menelan ludah karena terpana. Ino selalu tampil fresh di setiap malam. Penampilannya yang sekarang membuat gadis itu tampak lugu, sederhana, feminim, manis, sekaligus seksi!

Dia tahu pasti siapa yang telah mendandani gadis itu tiap malam, sebelum nantinya disodorkan padanya.

Sang mama.

Mikoto memang hobi sekali mendandani Ino, dengan atau tanpa ada maksud menggodai anak bungsunya, mungkin. Dan Ino, memang sukanya menurut saja.

Tapi Sasuke sangat yakin, tak ada persekongkolan haqiqi antara sang bunda dengan gadis itu, untuk sengaja menggodanya, misalnya. Tengok saja sifat datar si gadis. Kalau memang ada niat menggoda, bisa ganjen dikit kek~

Ya, Sasuke tidak tahu apakah mamanya itu memang punya maksud terselubung atau tidak. Meski dia sudah pernah menduga, bahwa sang Nyonya Uchiha memang sudah tahu mengenai perasaan terpendamnya pada Ino. Insting dan feeling seorang ibu memang kuat, katanya, tapi selama ini Mikoto diam-diam saja, tuh. Bikin Sasuke jadi ngelunjak.

Ah, entahlah. Yang penting, untung buat Sasuke karena bisa menikmati penampilan cantik dan menyegarkan gadis itu –kreasi sang mama– di setiap malam, sebelum benar-benar mulai 'menyantap'nya.

Akhirnya Sasuke tidak kuat untuk melanjutkan sandiwara juteknya, kini pemuda itu benar-benar sedang mencurahkan seluruh atensinya untung memandang Ino. Gawd, cantik sekali dia, bodinya bagus pula.

Belum juga apa-apa, Sasuke sudah merasa lemah batinnya. Dia itu malaikat yang lagi nyasar ke bumi ya? Suara hati Sasuke yang mendayu-dayu, berbanding terbalik dengan muka datar yang dipasangnya.

Beneran tsundere, atau tegang doang, mas?

Sasuke baru berkedip ketika Ino sudah menghampirinya.

"Tuan?" panggil gadis itu, sukses membuat Sasuke terjun dari alam khayangan, kembali menapaki bumi.

"Hn." respon Sasuke, kini mengalihkan pandang dari bodi Ino ke wajah cantiknya. Berdebar-debar lagi deh hati dia.

"Panggil nama saja. sudah kubilang jangan bicara seformal itu padaku, kan?" ujar si pemuda untuk kesekian ribu kalinya. Dia selalu berusaha mencairkan kekakuan dalam hubungan mereka, meski selalu gagal. Minimal, kalau berdua, jangan seformal ini lah. Maunya Sasuke.

Si gadis hanya tersenyum tanpa dosa, membuat Sasuke berkeinginan kuat untuk segera merangkulnya, gemas. Tapi berusaha ditahan-tahan. Meski sudah terlanjur OOC, tapi dia tetap berlagak sok cool. Terutama di depan Ino.

"Saya siapkan napkinnya dulu," Ino malah menjawab lain. Lalu dia segera balik badan, hendak berjalan menuju ruang penyimpanan dan meninggalkan Sasuke begitu saja. Seperti biasa gadis itu selalu tidak menjawab, dan segera mengalihkan topik pembicaraan. Seolah sudah malas mendebatkan persoal caranya memanggil Sasuke dengan sebutan tuan.

Si pemuda Uchiha hanya meringis, sambil langsung ngurut dada. Yakali dia bocah, sampai makan aja harus selalu dipakein serbet segala! Gerutu yang tidak pernah dia suarakan. Tapi memang kenyataan sih, kalau dia tidak memakai benda itu, darah bisa-bisa berceceran lagi ke bajunya seperti tadi siang. Dan itu hanya akan menyusahkan Ino.

Hanya saja kali ini, Sasuke sedang tidak ingin mempersoalkan hal itu, alih-alih malah memiliki dorongan kuat untuk menjulurkan tangan dan meraih lengan si gadis.

Greb.

"Gak usah," tahan Sasuke, membuat Ino kembali menoleh. Masa dia kalah sama kain serbet doang.

Tepat setelah gadis itu membalik badan, Ino disambut dengan sesuatu yang lain dalam perangai sang tuan. Ino terdiam. Dilihatnya kini, sebuah tatapan dalam nan penuh arti sedang tersorot dari sepasang onyx Sasuke, dialamatkan untuknya. Si gadis sempat mengerutkan alis.

Misi Sasuke sedang berjalan, rupanya.

Rencana satu, menyetrum Ino.

Sambil tetap meremas erat dan mengelus jemari Ino dengan jari-jemarinya sendiri, Sasuke mulai memasang seringaian seratus ribu volt untuk menggodai gadis itu. Seringaian yang digadang bisa menyetrum dan menghancurkan hati seribu wanita. Sepasang onyxnya yang tajam menyipit untuk menambah efek rayuan maut tersebut.

Dalam hati Sasuke harap-harap, nunggu reaksi si gadis.

Tetapi untuk lima detik, Ino hanya melongo. "Ada apa, Tuan, kenapa mendadak mesem-mesem tidak jelas begitu?" Akhirnya si gadis menanggapi juga. "Taring Anda gatal?"

Glek. Potek kepala Sasuke.

Boro-boro kesetrum, kepengaruh aja gadis itu nggak!

Senyum sensual Sasuke lenyap seketika, digantikan oleh kedutan jengkel di sudut bibir.

Untuk informasi, gigi taring vampir –yang ukurannya normal– memang kadang suka terasa gatal jika lama tidak dicuatkan memakai sharingan. Kaya gigi bayi yang tiba-tiba gatal, dan bikin mereka gemas kunyahin jari mamanya, semacam itu lah. Dan Ino saat ini, sepertinya sedang salah mengira bahwa Sasuke sengaja menyeringai untuk menggeretakkan gigi-gigi gatalnya.

Rencana satu, gagal telak.

Ino, please, peka dikit kek!

Sigh. Sasuke buang napas. Apa hati gadis itu benar-benar tidak tergetar sedikit pun?

Sasuke tidak menjawab pertanyaan Ino, alih-alih menjatuhkan kepala dan menempelkan dahinya pada puncak kepala gadis itu.

Dia sengaja membiarkan si gadis merasa penasaran. Tapi Ino sama sekali tidak tampak peduli, tuh. Rupanya dia sudah terbiasa menghadapi penyakit gaje dan randomnya Sasuke, yang kadang-kadang memang suka kambuh.

Sasuke kembali meringis dalam hati. Setelah meneguhkan diri, dia melanjutkan lagi eksperimennya.

Rencana dua, memastikan perasaan Ino padanya, dengan membuat gadis itu kegeeran.

Tetap menyandarkan puncak keningnya di dahi Ino, tiba-tiba Sasuke merangkum kedua belah pipi gadis itu secara posesif dengan dua tangan besarnya. Dilihatnya Ino balik menatapnya heran. Tanpa kata, mereka hanya terus bertukar pandang.

Siing.

Beberapa puluh detik terlewat.

Menelan ludah, Sasuke mulai dag dig dug der lagi, tapi gak tahu gadis itu. Lah, kok malah dia yang grogi?

Normalnya, seorang gadis akan merasa gugup dan kegeeran jika dipandang intens dan mesra dari jarak sedekat itu kan? Apalagi, uap napas mereka seakan sedang saling membelai sekarang.

Semenit tak berefek, Sasuke terus menyerang Ino dengan tatapan dua ratus ribu voltnya, masih mencoba menyetrum gadis itu. Membuatnya hangus karena terbakar cinta sekalian, kalau bisa.

Tapi setelah tiga menit terlewat, Ino hanya berkedip-kedip polos tanpa ada perubahan berarti dalam raut wajahnya. Seolah dia hanya sedang penasaran, dari tadi menunggu Sasuke mengatakan sesuatu, yang ternyata tidak ada. Membuatnya gagal paham.

Barulah gadis itu menelengkan kepala. "Ada apa Tuan?" Ino heran. "Apa mata saya sedang belekan?"

PLAK. Sasuke kejengkang.

Mana ada barbie belekan! Bayangin gadis itu kelilipan aja, dia gak mampu! Lagian, unfaedah sekali bayanginnya.

Duh. Lelah hati Sasuke. Kepalanya makin tertunduk lunglai, meluncur dari puncak kepala Ino sampai berlabuh di pundak terbuka gadis itu. Si pemuda menghela napas dalam. Lengannya pun ikut turun sampai satu tangan menetap di tengkuk Ino dan tangannya yang lain melingkar erat di pinggang si gadis.

Merengut, jemarinya memainkan choker di leher Ino.

Apa benar kau tidak merasakan apa pun padaku, Ino? tanyanya dalam hati. Sasuke berusaha menyangkal fakta ini. Dia merasa berantakan. Setelah diam sebentar, dia bergumam. "Ino, tahu enggak apa yang sedang kurasakan sekarang?"

Disadari Sasuke, gadis itu mengangguk. Tangan-tangan mungil si gadis mengelus-elus lembut rambut hitamnya. Tapi caranya ngelus, seperti sedang ngelus bulu kucing saja.

"Ya," sahut Ino, sempat membuat Sasuke melambung. "Anda sedang merasa lapar, kan?" tebak gadis itu.

Duh. Sasuke terhempas lagi.

Leher si pemuda kembali lemas bak agar-agar. Seharusnya dia tidak usah nanya.

Dari dulu Sasuke heran sekali, mengapa gadis manis yang sedang didekapnya itu tidak tertarik pada dirinya yang tampan, ceklis, keren, ceklis, atletis, ceklis, jantan... cek— apa perlu dia buktikan kejantanannya sekarang?!

Hanya pada Ino saja pesonanya seolah tidak ngefek.

Fuuhh.

Merasa gagal dan tak ada bakat sebagai seorang pria penggoda, akhirnya Sasuke hanya merespon dengan mulai mengecupi pundak Ino. Seolah menunjukkan bahwa dia memang lapar, padahal cuma lagi napsu saja.

Si pemuda sengaja menggeser mulutnya untuk mencumbu ceruk di antara tulang selangka gadis itu. Dirasakannya, Ino menghela napas setiap kali bibir Sasuke menyentuh kulitnya. Seluruh tubuh si gadis mulus dan hangat, Sasuke yakin dia tidak akan pernah bosan melakukan in—

Tapi Ino menghentikan. "Tunggu dulu, Tuan," selanya. Sepasang tangannya mendongakkan paksa wajah Sasuke.

Mereka kembali bertukar pandang. Sasuke hanya berharap wajahnya tidak sedang terlihat menyedihkan sekarang. Seperti dugaannya, Ino belum menunjukkan tanda-tanda kesalah-tingkahan. Sikapnya masih tertata, merona saja belum.

Sasuke merengut kecut.

"Malam ini Anda ingin makan di sini, di sofa, atau di meja makan?" Ino memberi penawaran, seperti biasa.

"Meja," jawab Sasuke asal. Padahal di mana pun dia 'menyantap' Ino, semuanya akan selalu terasa nikmat kok, jadi gak begitu ngaruh.

Tapi ditanggapi serius oleh Ino, tentu saja.

"Baik," gadis itu tersenyum. "Mari."

Ah, jangan tersenyum! Sasuke jerit-jerit dalam hati. Luntur sudah kejengkelannya sesaat tadi.

Ino meraih lengan pemuda itu dan segera menuntunnya menuju sudut lain kamar. Terletak di sana, ada sebuah meja berukuran sedang, tanpa kursi. Yang dimaksud Ino dengan meja makan bukanlah meja yang terletak di ruang makan tempat seluruh keluarga berkumpul untuk makan. Tapi sebuah tempat bagi sang tuan untuk meletakkan makanannya, yakni gadis itu.

Setelah membiarkan Sasuke bersandar malas pada meja, Ino bermaksud kembali melanjutkan niatnya untuk mengambil sebuah napkin dan menyiapkan keperluan makan malam lainnya. Gadis itu melenggang seenak jidat menuju ruangan lain di kamar besar sang tuan muda. Ruang penyimpanan.

Dilhat sang vampir, siluet gadis itu hilang di balik tembok. Sasuke cemberut. Padahal mereka sudah semesra tadi... Apa gadis itu benar-benar tidak merasakan getaran apa pun saat disentuh olehnya?

Sasuke ingin sekali membuat Ino merasa gusar oleh tatapannya, senyumannya, sentuhannya, gigitannya... Karenanya, dia belum mau menyerah begitu saja.

Si pemuda mulai meraih kerah kemejanya, dan melonggarkannya. Sambil menanggalkan pakaiannya itu, Sasuke mengepalkan tangan.

Misi harus terus dilanjutkan.

Rencana tiga, membangkitkan insting kewanitaan Ino.

Mau ngapain?!

-TBC-


Fanfic ini sangat terinspirasi dari cerita Suck Love Vamp komiknya Sugishippo dan anime Diabolik Lovers. Dan ya, anggaplah ini sebagai parodinya BlendXBond, kalau ingin yang lebih baku dan serius silakan baca fanfic itu XD

Thanks atas semua perhatiannya :)

Semoga bisa sedikit menghibur hati yang sedang galau.


-Kolom balas review reader yang tidak login-

Itakun : iya, yang ini lebih ringan, sasunya lebih asdfghjkl XD
xoxo : ku juga mauuu~~ aaaw makasiih ini udh lanjut
Koalasabo : hehe tiba-tiba greget pengen nulis vampir sesungguhnya (?) itu udah dijelasin yaa~ darah ino spesial jd ga bikin dia lemes~ wkwk ita punya bang dei (?)
Azzura yamanaka : sasunya terlampau OOC yak? Wkwk ku juga geli bayangin dia kek gitu XD okeey makasih juga~

yamanika-chan : halo salken juga :) aaww makasiih saiino ya? rikuesannya disimpen dulu yaa~ tapi kalo saiino kucoba pikirkan~
Guest : duuhh haturnuhun :) iyaa ini semacam selingannya BXB hehe iyaa diusahain gak hilap~~ maapin, ku ga bisa nulis shikaino... bagiku mereka adalah best friend forever... :(
Gong Li : yang ini emg sengaja dibikin gak baku :)
Makasih buat semua yg telah baca/review/fav/alert. See you in next chap~


Updated : 29.08.2017