A NARUTO FICT
BY YUDOKUNA AKAI HANA
YOUR DEATH IS MY HAPINESS
Disclaimer Character : Masashi Kishimoto
Character Utama : Hinata Hyuuga, Itachi Uchiha, Naruto Uzumaki
Genre: Romance, Hurt, Tragedy, Mystery, Crime,
Warning: seperti biasa alur cepat, OOC, gaje, typo(s), dan untuk fans Naruhina, saya sarankan untuk tidak melanjutkan membacanya.
DON'T LIKE DON'T READ
CHAPTER 1
PERKENALAN
"Ah Hinata!" terdengar suara desahan dari sebuah kamar kost wanita. Tempat kost dengan beberapa rak buku yang tersusun rapih dan sebuah laptop yang masih menyala. Tempat kost wanita dengan warna cat ungu muda. Di atas tempat tidur sedang terjadi pergumulan hebat antar dua insan yang berbeda. Suara-suara desahan nikmat terdengar jelas di seluruh ujung ruang. Mereka berdua sedang asik melakukan penyatuan dua tubuh. Hinata, wanita yang terdengar dalam desahan seorang pria tadi sedang berusaha keras untuk menahan nyeri sekaligus nikmat yang ia terima dari perbuatan tersebut.
"Ah Naruto, Hentikan!" pinta gadis itu pada kekasihnya, Naruto. Namun pemuda berambut pirang dengan model blonde itu tidak menggubrisnya. Ia terus memacu pergerakan pinggulnya agar penis miliknya bisa masuk lebih dalam pada miss "v" milik Hinata. Tubuh gadis itu ikut berguncang karena hentakan dari penis Naruto yang membuat dadanya bergerak naik turun. Tentu saja tangan Naruto tidak lekas diam dan ia meremas payudara itu dengan cukup kasar. Hinata menjerit namun terhenti ketika naruto kembali memberikan ciuman panas padanya. Sudah lima belas menit berlalu namun tak ada yang berubah juga. Dan pada akhirnya, Naruto lebih mempercepat gerakannya. Pemuda itu merasa penisnya berdentum ingin mengeluarkan suatu cairan miliknya. Dan croottt. . Naruto akhirnya mengeluarkan spermanya itu tepat saat Naruto menarik penisnya keluar dari vagina Hinata. Mereka berdua sama-sama sibuk memperebutkan oksigen dari ruang kost tersebut. Naruto lalu membantingkan tubuhnya di samping Hinata. Masih dengan nafas yang terengah-engah pemuda itu memeluk tubuh polos kekasihnya. Hinata yang masih terkaget dengan perbuatan yang barusan ia lakukan bersama Naruto tak memberikan respon apapun. Suara yang terdengar hanyalah tarikan nafasnya yang masih kacau. Selangkangannya terasa nyeri dan ngilu. Hinata melirik ke arah vaginanya. Ia melihat ceceran darah dan tentu saja sperma Naruto yang menggumpal menjadi satu. Gadis itu akhirnya menarik selimbut untuk menutupi tubuh polosnya. Tak terasa air mata mengalir begitu saja dari pemilik mata amesty itu.
"Arigatou, Hinata!" lirih pemuda itu sembari memeluk tubuh wanita miliknya lebih erat. Akhirnya, Naruto memiliki kekasihnya secara utuh walau mereka berdua belum menikah.
Naruto dan Hinata terdaftar menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Jepang. Hinata masih tingkat dua dan Naruto sudah tingkat tiga. Mereka berdua dulunya adalah dua sahabat sejak masih kecil. Namun persahabatan itu terganti ketika Naruto diam-diam menaruh harap pada Hinata dan kemudian menyatakannya. Hinata sebenarnya tidak ada perasaan apapun pada Naruto. Namun, karena gadis itu tidak ingin membuat sahabatnya kecewa, Hinata memutuskan untuk menerima Naruto menjadi kekasihnya. Mereka menjalin cinta pada saat tahun pertama Hinata memasuki masa kuliahnya. Karena berkuliah di universitas yang sama, pertemuan mereka begitu teratur walaupun dengan jurusan yang berbeda. Naruto adalah mahasiswa jurusan Olahraga, dan Hinata adalah mahasiswa jurusan Psikologi. Orang-orang sering bilang bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi. Naruto dengan ketampanannya dan juga mata birunya yang mampu menghipnotis semua wanita yang melihatnya. Apalagi di tambah dengan Naruto yang terkenal karena dia adalah salah satu atlet karate yang selalu mewakili universitasnya dan selalu memenangi berbagai kejuaraan. Dan Hinata dengan mata amestynya yang lembut dan kulit putih mulus yang membuat semua pria terkagum jika melihat gadis itu lewat. Bukan karena fisik saja yang menjadikan Hinata di sukai, namun karena sifat ramah dan anggunnya membuat siapa saja senang berada di dekatnya. Hubungan yang cukup lama ternyata membuat Naruto semakin berani berbuat sesukanya pada Hinata. Dari mulai mencium pipi putih gadis itu dan sampai melakukan hubungan sex yang seharusnya tidak mereka lakukan.
"Kau tidak akan meninggalkanku kan Naruto?" tanya gadis itu sambil menatap kekasihnya. Naruto hanya memperlihatkan senyuman tipis dan menganggukan kepalanya dengan perlahan. Hinata lalu membalas pelukan kekasihnya. Ia sungguh merasa bersalah atas apa yang barusan ia lakukan. Hinata tidak melakukannya atas nama cinta. Ia merasa hampa dengan perbuatan nista tersebut. Sedangkan Naruto? Ia tentu saja melakukannya karena cinta, mungkin saja. Tapi tetap nafsu mengalahkan segalanya.
Begitulah awal dari perbuatan dosa dari pasangan tersebut. Dosa yang akan terus dan terus mereka lakukan atas nama cinta. Padahal sesungguhnya yang mereka berdua lakukan adalah nafsu belaka. Naruto lebih intens mengajak Hinata untuk bertemu dengannya dan melakukan perbuatan dosa tersebut. Hinata berkali-kali menghindar namun tetap saja ia kalah. Mereka selalu melakukannya di tempat kost milik Naruto, ataupun di tempat kost milik Hinata. Naruto menikmati kebiasaan barunya tersebut namun bagi Hinata itu adalah sebuah penghinaan karena jalinan cinta mereka belum benar-benar terikat. Fikiran Hinata tengah di sibukan dengan beberapa pilihan yang sulit. Ia ingin menghentikan semuanya dengan memutuskan untuk meninggalkan Naruto namun perkataan Naruto selalu mengusik hidupnya.
"Kalau kau berani pergi dariku, kau akan menyesal. Tidak akan ada yang mau dengan wanita yang sudah tidak perawan. Jadi, kau harus tetap menjadi milikku!" kata Naruto saat mereka berdua sedang bertengkar hebat karena suatu alasan, ada yang berani mendekati gadis tercintanya dan Naruto tidak terima. Bukannya marah pada lelaki tersebut namun Naruto lebih memilih marah pada kekasihnya karena Hinata menurutnya meladeni lelaki itu. Hinata menangis dan ia mulai merasa tertekan dengan dengan semua perbuatan Naruto. Ia juga mulai ketakutan akan ancaman yang Naruto berikan bila ia berani membangkang keinginan seorang Uzumaki. Ia muak dengan pemuda yang ada di hadapannya. Namun ia tak berdaya, seperti seekor burung yang terluka dan terkurung dalam sangkar yang terlalu sempit.
"Hinata, kau tida apa-apa kan? Kau terlihat muram." tanya salah seorang sahabat Hinata, Sakura. Gadis dengan rambut pendek sebahu dengan warna pink mendekatkan dirinya pada kursi Hinata. Mata emerald itu terus memandangi gadis berambut indigo dengan poni yang menutupi dahinya. Hinata mendongkak mendengar namanya di panggil Sakura lalu ia tersenyum simpul.
"A-ku tidak apa-apa Sakura. Sungguh!" jawab Hinata sebiasa mungkin. Namun ia sendiri menyadari bahwa perkataannya membuat Sakura semakin curiga. Sakura terus memperhatikan wajah sahabatnya itu. Ia melihat ada beberapa kissmark di leher Hinata. Hinata yang menyadari pandangan Sakura langsung menutupi lehernya dengan rambut panjang miliknya.
Sakura mengernyitkan dahinya. Ia merasa Hinata menyembunyikan sesuatu pada dirinya. Sakura sungguh ingin bertanya lebih jauh namun Sakura tentu saja tidak ada hak untuk mengusik kehidupan pribadi orang lain. Semenjak satu bulan kebelakangan ini, Sakura yang selalu memperhatikan Hinata merasa gadis berambut indigo dengan mata amesty itu mengalami perubahan sikap yang cukup drastis. Hinata sering terlihat gugup dan ia sama sekai tidak ingin dekat dengan lelaki. Ia sangat menjaga jarak dirinya dengan para kaum adam. Bahkan terhadap dosennya sendiri ia pun begitu. Sakura juga menyadari bahwa ia sudah jarang sekali sekedar berbelanja dengan Hinata, ataupun nongkrong di cafe favorit mereka. Hinata selalu beralasan ada janji dengan kekasihnya. Bahkan ketika Sakura ingin mengunjungi tempat kost hinata yang tidak terlalu jauh dengan tempat kost miliknya, Hinata mati-matian berkata bahwa ia akan pergi dan kembali ke tempat kostnya pada malam hari. Tentu saja Sakura semakin curiga tapi ia tak berani menduga-duga pada sahabat baiknya itu.
Saat Sakura masih sibuk dengan pikirannya, pintu kelas mereka terbuka. Ternyata semua mahasiswa yang ada di kelas tersebut sedang menunggu dosen mata kuliah mereka. Namun yang mereka lihat bukanlah sosok dosen yang seperti biasanya. Semua mata memandang kagum pada sosok yang mereka tidak kenal. Pria itu langsung masuk dengan membawa beberapa buku. Yang terdeskripsikan dalam pikiran Hinata saat itu, lelaki yang terlihat mungkin usianya tidak jauh dari Hinata memiliki mata onyx dengan rambut berwarna hitam yang membingkai wajahnya dan menggantung hingga ke dekat pipi. Dan sisa rambutnya di ikat kuda ke belakang. Mengingatkan Hinata pada salah seorang sahabat kekasihnya, Sasuke. Namun, jika di bandingkan dengan Sasuke, rambut pria itu terlihat kusam dan agak pudar. dan juga aliran rambut pria itu lebih halus, mungkin perbedaannya hanya goresan garis di bawah matanya yang membuat pria itu berbeda dengan Sasuke.
"I-Itachi Nii-san!" lirih Sakura yang melihat sosok pria itu. Hinata menoleh pada Sakura yang sepertinya sudah mengenali pria yang sedang berdiri mematung sambil terlihat mengedarkan pandangannya.
"Kau mengenalinya?" tanya Hinata. Lalu ia kembali mengalihkan pandangannya pada pria itu. Memakai kemeja putih dan celana katun. Mungkinkah ia adalah dosen pengganti? batin Hinata dalam hati.
"Dia kakak Sasuke, kekasihku. Tapi kenapa ia bisa di sini?" tanya Sakura entah pada siapa karena Hinata sendiri tidak tahu. Ah ya Hinata lupa, Sasuke memang kekasih sahabatnya ini. Mereka berdua baru jadian tiga bulan yang lalu. Tapi ternyata Sakura sudah masuk cukup dalam untuk mengenal keluarga kekasihnya itu.
Pria itu lalu berjalan dan ia kini telah berada di tengah kelas. Semua mata tertuju padanya termasuk Hinata.
"Selamat pagi!" sapa pria itu ramah. Ia memperlihatkan senyumannya. Ternyata praduga Hinata dan yang lainnya salah. Mereka mengira bahwa pria itu akan bersikap dingin sesuai dengan raut wajahnya yang seperti itu.
"Selamat pagi!" jawab mereka kompak.
"Perkenalkan, nama saya Itachi Uchiha. Saya akan menggantikan Kakashi-Danna yang sedang jatuh sakit. Saya akan menggantikannya sampai akhir semester ini. Saya juga mengajar mata kuliah Psikologi Sosial II jadi kalian akan bertemu kalian dua kali dalam seminggu. Mohon kerja samanya!" kata pria itu mengenalkan diri sembari ia membungkukan badannya. Semua mengangguk pertanda mengerti dan ada beberapa mahasiswa yang sepertinya sedang memikirkan yang aneh-aneh tentang dosen baru mereka. "Ada yang ingin di tanyakan?" lanjutnya sambil kembali mengedarkan pandangan.
Terlihat ada beberapa mahasiswa yang mengancungkan tangan kanannya. Itachi lalu memilih seorang lelaki dengan penampilan ysang terkesan msiterius. Memakai jaket lengkap dengan tudungnya dan juga memakai kacamata hitam. Itachi mempersilahkannya.
"Apa sensei baru pertama kali mengajar? Karena saya tidak pernah melihat sensei sebelumnya!" tanya Shino tanpa memperlihatkan ekpresi apapun. Itachi masih dengan senyumannya dan langsung menjawab pertanyaan tersebut.
"Ya saya baru pertama kali mengajar. Saya baru selesai menamatkan S2 dan langsung di tawari untuk menjadi tenaga kerja di universitas ini. Ada lagi yang ingin bertanya?" kembali ia mengedarkan pandangannya. Kini jumlah penanya semakin sedikit. Itachi lalu mempersilahkan seorang mahasiswi dengan rambut merah menyala dan memakai kacamata.
"Apa sensei kakaknya Sasuke? Mahasiswa jurusan olahraga itu? Kalian mirip sekali!" tanya Karin yang di barengi dengan beberapa anggukan dari mahasiswi lainnya. Tentu saja siapa yang tidak mengenal Sasuke? Cowok keren yang tergabung dengan tim basket universitas mereka. Karin begitu tergila pada Sasuke namun ia merasa patah hati ketika temannya, Sakura malah yang mendapat cinta dari pemuda impiannya. Tapi, sepertinya Karin mendapat pujaan hatinya yang baru. Tak dapat adiknya, kakaknya pun jadi, batin Karin dalam hati.
Itachi hanya menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terasa gatal. Ia tidak menyangka bahwa adiknya begitu populer sampai-sampai mereka menduga bahwa ia adalah kakaknya Sasuke. Dan itu memang benar adanya.
"Ya aku memang kakaknya Sasuke, ada pertanyaan lainnya?" kini suasana menjadi hening. Ada beberapa mahasiswi yang sibuk berbisik-bisik dengan temannya sambil melirik sebentar pada Itachi. sedangkan Hinata, kembali sibuk untuk menuliskan beberapa cerita pendek yang ia tulis dalam bukunya. Itachi yang merasa sudah cukup untuk perkenalannya kembali memecah kesunyian.
"Baiklah jika tidak ada yang di tanyakan lagi, kita langsung ke materi!" katanya langsung berjalan kembali ke meja dosen. Dan ia mulai menjelaskan beberapa materi pada mahasiswa.
.
.
Akhirnya jam kuliah berakhir. Itachi mengakhiri penjelasannya dan membereskan beberapa bukunya. Mahasiswa yang sedari sudah tidak sabar ingin keluar, langsung bergegas untuk saling mendahului.
"Sebentar, mana yang namanya Hinata?" tanyanya sambil kembali mengedarkan pandangan. Semua yang mendengar terdiam lalu menunjuk seorang gadis yang masih sibuk dengan tulisannya. Sakura lalu menyikut tangan Hinata dan gadis itu menoleh pada Sakura seperti ingin mengatakan -ada apa Sakura?- namun sebelum ia menanyakan hal demikian Sakura langsung menyelanya.
"Itu sensei memanggilmu, baka!" uh Sakura sungguh kesal dengan sahabatnya itu. Sedari tadi sensei menjelaskan, Hinata sama sekali tidak memperhatikan dan ia malah sibuk menulis cerpennya. Hinata yang mengerti langsung mengangguk. Situasi kelas kembali ramai dan tak lama itu mendadak sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berada di dalam kelas termasuk Karin yang terlihat sebal saat Itachi malah memanggil nama Hinata, bukan dirinya. Hinata lalu berjalan menuju senseinya yang masih duduk di meja dosen. Hinata kini telah ada di hadapan Itachi dan seperti biasa, gadis itu menunduk tidak ingin menatap mata onyx milik Itachi.
"Tolong bawakan semua bukuku!" perintah pria itu dingin sembari melangkah pergi. Mata Hinata membulat saat sensei barunya itu sudah menyuruhnya demikian. Dengan ogah, Hinata memungut tiga buku yang sangat tebal itu dan membawanya. Ia sedikit berlari agar tidak terlalu jauh dengan senseinya. Sepanjang ia melangkah, Hinata terus menggerutu. Pemikiran baiknya pada senseinya langsung terhapus ketika ia di perlakukan seperti ini. Mereka berdua telah berdiri di depan lift dosen. Ruang dosen Itachi ada di bawah berada tepat di samping ruang dosen Kakashi. Pintu lift dosen terbuka dan Itachi masuk mendahului Hinata. Hinata mengikuti senseinya dan pintu lifft itu kembali tertutup. Itachi menoleh pada Hinata. Gadis itu masih menunduk dan ia memberi jarak yang cukup jauh dengan Itachi. Setelah sampai di lantai paling bawah, Itachi berjalan kembali mendahului dan Hinata mengikuti sambil membawa buku-buku tersebut. Saking tebalnya, kini yang terlihat hanya kepala gadis itu. Dengan hati-hati, Hinata menuruni beberapa anak tangga dan akhirnya mereka sampai di ruang dosen Itachi. Pria itu membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Simpan buku itu di atas meja ini!" kata Itachi sambil menunjuk sebuah meja. Hinata lalu menyimpannya dan ia melihat Itachi meminum segelas air yang ia dapatkan dari sebuah dispenser. Hinata meneguk ludah. Ia sangat kehausan. Itachi lalu meletakan gelas itu dan ia duduk di kursi miliknya. Hinata memandangi ruangan tersebut. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu sempit. bercat warna cream seperti ruang dosen lainnya. Ada seperangkat komputer di meja tersebut dan beberapa buku tebal. Dan juga di ruang tersebut ada satu buah dispenser yang barusan Itachi sensei mengambil air minum. Hinata juga melihat ada beberapa foto senseinya yang sedang bercengkrama dengan sahabat kekasihnya yaitu Sasuke. Ternyata memang benar bahwa senseinya adalah kakak dari Sasuke.
"Kakashi-Danna merekomendasikan dirimu untuk menjadi asistenku. Menurutnya, kau cekatan dan pintar. Apa kau mau?" tanya Itachi sambil menatap tajam pada Hinata. Kedua tangannya di kepalkan di atas meja sehingga bibirnya tertutup. Tatapan itu membuat Hinata berkeringat. Entah kenapa rasa ketakutan itu kembali menghinggapinya.
Hinata lalu mengangguk pelan. Kesempatan menjadi seorang asisten dosen tidak mungkin ia tolak. tapi tetap Hinata harus menjaga jarak dengan senseinya itu.
Itachi tersenyum tapi masih terhalang dengan tangannya sendiri.
"Baiklah kalau begitu, aku telah melihat jadwal kelasmu. Besok kau ada kuliah jam 9 dan aku ada jadwal mengajar di jurusan olahraga jam 7 pagi. Kau harus ada di sini sebelum jam tujuh. Kau mengerti?" tanya Itachi kembali masih dengan menatap gadis itu. Hinata yang merasa risih ingin cepat keluar dari ruangan tersebut.
"Ya aku mengerti sensei, apa aku boleh keluar sekarang? Aku sudah lapar!" kata Hinata dengan polos. Namun Itachi hanya tertawa kecil. Hinata menoleh karena ia merasa tidak ada yang lucu dan tatapan mereka berdua bertemu. Hinata tak membiarkan itu terjadi terlalu lama dan ia segera menundukan kepalanya. Ada rasa yang berbeda saat ia benar-benar menatap mata onyx Itachi saat ini, dan Hinata langsung menghapus pikiran-pikiran anehnya yang berkecamuk di dalam otaknya.
Itachi menghela nafas dan ia memalingkan wajahnya. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Jantungnya terasa berdegup cepat tidak seperti biasa. Kakashi benar, gadis yang ada di depannya memang terasa berbeda.
"Baik, silahkan!" jawab Itachi singkat. Gadis itu langsung berjalan cepat keluar dari ruang tersebut. Itachi melirik sebentar sebelum tubuh gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
