Length : twoshot
Cast : EXO Member
Genre : Romance. Hurt/Comfort.
Warning : Typo(s). BoyXBoy , OoC, AU, tidak sesuai EyD—(mungkin)
Author: Shinkyu
Baca chapter 1 dulu ya. Agar mengerti jalan ceritanya 😂
.
.
Langit Amerika bagaikan cat jinga, tergores oleh kuasaNya. Hiruk pikuk kota yang tak pernah lelap menjadi pemandangan biasa. Gedung pencakar bak menantang semesta. Berdiri kokoh berlapis kaca. Didalamnya seorang pria berkebangsaan Korea terduduk di meja kebesarannya. Kedua mata pria itu terpaku pada layar laptop. Berpedar menampilkan sosok sahabatnya yang terpaut jauh berbeda benua.
"Jongin-ah. Apa kau sudah mendapatkan undangannya?"
Kim Jongin bertopang dagu. Kedua matanya bagai kehilangan cahaya. Keheningan menyelimuti mereka. Hanya terdengar samar detikan jam mengisi kekosongan.
"Jongin?"
Sahabatnya memanggil lagi. Kekhawatiran tercetak jelas di mimik wajahnya.
"..ya." Suara Jongin begitu pelan terbawa angin dalam keheningan. "Sehun, aku baik-baik saja. Calm down. Buddy." tambahnya saat menyadari, air muka Sehun di layar laptopnya tampak begitu cemas.
"Apa kau akan datang?"
Sejenak Jongin mengalihkan pandangannya. Memilih menatap langit Amerika di sore hari. Angannya terbang entah kemana. Menyadari bahwa jalan hidupnya takkan pernah bahagia setelah undangan itu tiba.
"Tentu saja. Chanyeol adalah sepupuku. Aku harus datang dihari bahagia mereka"
"Ya sepupumu yang tak tahu diri. Mengambil orang yang kau cintai." wajah Sehun memerah emosi dapat Jongin lihat pundak Sehun tegang menahan amarah.
"Kita sudah membahas ini" desah Jongin jengah.
"Aku masih bertanya-tanya. Kenapa kau membiarkannya?! Kau tahu bahwa ini tak adil bukan?" Sehun adalah lelaki yang jarang bicara. Tetapi jika menyangkut orang yang ia anggap penting. Sehun akan berubah cerewet sepert saat ini. Karena ia peduli.
"Kau pikir apa yang harus ku lakukan?" helaian rambut Jongin menutupi mata tatkala ia menunduk menyembunyikan kesedihan pada air mukanya. "Kyungsoo bukan siapa-siapaku dulu. Aku tak berhak cemburu atau pun marah akan hubungan mereka dibelakangku"
"Tapi setidaknya Chanyeol harus tahu malu dengan tidak mengambil orang yang dicintai saudaranya sendiri." Sehun masih kekeh akan kebenciannya. Tak habis pikir akan betapa miris nasib percintaan sahabatnya sampai saat ini.
"Tenanglah Oh Sehun." kepala Jongin terangkat memandang layar laptopnya. Dimana wajah Sehun yang sedang Video call dengannya berada. Sorot mata Jongin tak terbaca.
"Aku akan mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milikku." Seringai mengambang sempurna di bibirnya. "..dengan caraku sendiri." Jongin yang baik hati sudah mati. Bersamaan dengan cintanya yang direngut oleh sepupunya sendiri.
«»
Love is Blind but You Must Say it SEQUEL
Kedua lengan itu begitu terampil mencetak bahan cookies hingga terbentuk kepala kelinci lucu. Peralatan memasak berserakan disekitarnya. Do Kyungsoo sibuk menghias cookies dengan coklat batang sebelum lengan kuat memeluk pinggangnya.
"Sedang apa?" Suara bass yang begitu Kyungsoo hafal membuahkan senyum pada bibir penuhnya.
"Membuat cemilan" cookies yang sudah matang di toples ia tunjukkan ke arah Chanyeol.
"Pasti enak" puji Chanyeol dalam, perlahan bibirnya bergerak menciumi leher putih Kyungsoo penuh hasrat. "Lebih enak yang membuat" lanjutnya sambil mengigit gemas telinga tunangannya itu.
Dalam dekapan Chanyeol, Kyungsoo merinding. Merintih risih. "C-chanhh" sekuat tenaga menggeliat agar terbebas dari pelukan namja jangkung itu. Entah bagaimana, tegadnya yang kuat berhasil melepaskan pelukan erat Chanyeol di perutnya. Tak sadar kedua tangan Kyungsoo yang bergerak random menyenggol toples kaca berisi cookies di meja. Suara nyaring terdengar begitu toples itu terpental ke ubin keras. Jatuh berserakan, Cookies didalamnya hancur. Sama seperti perasaan Chanyeol sekarang.
"A-ku... maaf"
Kedua lelaki itu sama-sama tercengang. Mulut Chanyeol menganga. Menatap Kyungsoo tak percaya. Sebegitu tak inginnya Kyungsoo disentuh olehnya? Kyungsoo masih saja menolaknya bahkan ketika mereka yang sebentar lagi akan menikah.
Setelah menguasai diri, Kyungsoo berdehem tak enak. "Aku akan memanggil maid untuk membereskan kekacauan ini." iris bulatnya melirik Chanyeol yang bengong menatapnya. Lagi-lagi perasaan bersalah menyelimuti diri Kyungsoo. "Sebaiknya aku ke kamar saja"
Sebelum Kyungsoo beranjak pergi. Chanyeol terlebih dahulu menahan lengannya.
"Kenapa?" tanya Chanyeol lirih. Kenapa setelah begitu lama mereka bersama, Kyungsoo masih membangun dinding tak kasat mata. Seakan ada tempat dalam diri Kyungsoo yang tak bisa Chanyeol masuki. Ini bahkan sudah bertahun-tahun lamanya mereka bersama namun mengapa Kyungsoo masih menutup dirinya seperti ini?
Apa kurangnya dia?
Segalanya yang Kyungsoo inginkan selalu Chanyeol turuti.
Kasih sayang selalu ia limpahkan bagaikan derasnya hujan.
Namun mengapa Kyungsoo selalu menghalaunya dengan payung?
Kepala Kyungsoo menunduk dalam, tak mau beradu pandang dengan Chanyeol. "Maafkan aku" katanya. Menepis tangan Chanyeol lalu melangkah meninggalkan lelaki itu sendiri di dapur.
«»
Kyungsoo terdiam dikamarnya. Hampir seharian ia mengurung diri merasa tak nyaman jika nanti kemungkinan bertatap muka dengan Chanyeol. Walau dalam hati merasa serbasalah karena kini ia tak dirumahnya sendiri. Tetapi, dirumah calon mertuanya. Kediaman Park untuk mengurus pesta pernikahan mereka.
Jam dinding berdetak dalam kesunyian. Kyungsoo membuka gorden kamar tamu. Tempat dia tidur untuk sementara. Setelah mendengar suara derum mobil memasuki garasi. Orangtua Chanyeol keluar dari dalam mobil membawa beberapa belanjaan. Segera ia bangun dan merapikan penampilannya.
"Dimana Kyungsoo?" mama Park memasuki rumah dan mendapati anak bungsunya menonton pertandingan basket sendirian. Dahi wanita paruh baya itu mengkerut begitu tak mendapati Kyungsoo di sekeliling anaknya. Biasanya mereka tak terpisahkan. "Apa kalian bertengkar?"
Chanyeol mendengus. Mengingat kembali akan perlakuan Kyungsoo sehingga dia sakit hati. "Dia di kamar" jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya pada tv yang berpedar.
"Aigoo..kalian akan menikah berhenti lah bertengkar" mama Park mengomel, memasuki rumah dengan belanjaan yang ia bawa. Dibelakangnya Tuan Park mengikuti dalam diam.
"Sudahlah yeobo" desah Tuan Park. Memperingatkan agar tidak ikut campur dalam urusan mereka.
"Mama dan ayah sudah datang" Kyungsoo menyapa sambil menuruni tangga menghampiri nyonya Park dan segera mengambil belanjaan ditangannya.
Nyonya Park tersenyum pada calon menantunya yang sopan dan manis itu. "Tolong letakan di dapur, biar maid yang membereskan, setelah itu kita ke ruang keluarga" titahnya lembut Kyungsoo langsung menurut.
«»
"Besok Jongin pulang."
Tiga kata sederhana yang mama Park ucapkan mampu mengguncang dua orang di sofa. Chanyeol tercengang sementara Kyungsoo disebelahnya tampak membisu. Sibuk dengan pikiran sendiri.
"Lalu apa urusannya dengan kami" Chanyeol berkata sinis setelah berhasil menguasai diri.
"Dia saudara mu! Tidak ada yang menjemput. Paman dan bibi masih dijepang. Mama minta kalian yang menjemputnya"
Jemari Kyungsoo saling meremas resah. Jongin pulang. Lelaki yang ia cintai saat remaja sudah kembali.
"Aku tidak bisa ma. Ada meeting dengan klien besok" Chanyeol beranjak dari sofa dengan emosi yang memenuhi kepalanya. Bagaikan ia bisa meledak kapan saja.
"Anak itu" mama Park memperhatikan Chanyeol dengan sebal. "Ada apa dengan mereka? Dulu Chanyeol dan Jongin akrab sekali. Kenapa jadi begini" keluhnya tanpa menyadari air muka Kyungsoo mengeruh.
"Bagaimana dengan mu Kyungsoo?" perhatian ibu Chanyeol itu kita berpusat padanya.
"Apa?" Kyungsoo mengangkat wajah bingung.
"Kau besok tak sibuk kan?" Kyungsoo mengangguk. "Bagus jemput Jongin di bandara incheon ya."
"Tap-tapi aku.. aku.." dia tak bisa mengelak.
"Kenapa? Bukan kah kalian dulu sempat sekelas saat SMA?" tanya mama Park bingung.
Kyungsoo berkeringat gugup. Chanyeol pasti tidak menyukai ini. "Aku akan meminta ijin pada Chanyeol dulu."
"Berlebihan sekali, kau bukan perempuan" kata mama Park sedikit sinis. Ia sedari dulu menginginkan menantu wanita, namun anaknya malah jatuh cinta pada lelaki. Walau hubungan sesama jenis bukan lagi hal lumrah, tetap saja kadang ada perasaan sebal dan tak rela dalam benaknya.
"Jemput keponakanku, Jongin. Besok." pada dasarnya mama Park dia sangat menyayangi Jongin juga.
Kyungsoo terpaksa mengangguk. Tidak bisa membantah. Perintah calon mertuanya adalah mutlak.
"Tak usah beritahu Chanyeol. Apa kau mengerti? Anak itu akan menyusulmu nanti dan meninggalkan meetingnya" mama Park berucap dingin. Tahu betul tabiat putra bungsunya jika perihal Kyungsoo.
Kyungsoo menunduk. Bukan kah ini keinginannya, namun mengapa kebahagiaan tak singgah juga? Bersama Chanyeol hanya membebankan hidupnya.
Keluarga Park yang tak terlalu menerima keberadaannya dan perasaan Chanyeol yang terus memaksa.
Kyungsoo lelah.
«»
Bandara penuh dengan orang berlalulalang. Kyungsoo memutar pandangan mencari sosok Jongin. Dia memegang papan putih beruliskan nama Jongin. Jantungnya bertalu menunggu kehadiran cinta pertamanya. Sosok lelaki yang tak bisa ia lupakan hingga detik ini.
"Do Kyungsoo?"
Merasa dipanggil Kyungsoo menoleh dan mendapati sosok Jongin dengan balutan jas mahal. Begitu tampan dan rapi. Stye pembisnis muda yang hot.
"J-jongin.." Kyungsoo menurunkan papan yang ia pegang. Melemparkan tatapan matanya pada hal lain selain Jongin yang ia rindukan.
Jongin masih sama. Mampu membuatnya jatuh cinta dengan sekali pandang. Kyungsoo merasa jahat pada Chanyeol tidak seharusnya dia dimabuk asmara begini. Apa lagi mereka akan segera menikah.
"Sudah lama ya" Jongin berjalan bersamanya menuju mobil yang Kyungsoo bawa. Kyungsoo hanya tersenyum. Membantu Jongin memasukan koper kedalam bagasi tanpa berkata apapun.
"Kau jadi pendiam sekarang" gumam Jongin sambil memasang sabuk pengaman setelah mereka masuk kedalam mobil. Kyungsoo melakukan hal yang sama. Dia berusaha cuek tapi matanya sesekali melirik curi pandang. Bagaikan Jongin magnet kehidupannya.
Kyungsoo menghela nafas lagi begitu menyadari dirinya masih seperti saat disekolah dulu. Memiliki hobby mengangumi Jongin diam-diam.
"Apa kau bahagia bersamanya, Soo?"
Kyungsoo menoleh kaget.
Jongin tersenyum tipis. Tatapannya kosong dan hampa seperti begitu banyak beban masalah yang dipikulnya hingga dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Apa maksudmu?" Kyungsoo meremas jemarinya kebiasaan ketika dia gelisah. Jongin menyadari itu dan dia terkekeh. Meletakan telapak tangannya diatas tangan Kyungsoo. Meremas tangan kecil Kyungsoo lembut. Seakan memberikan isyarat bahwa Kyungsoo harus tenang.
Kyungsoo langsung menepis tangan Jongin dalam sepersekian detik.
"Jangan menyentuhku!"
"Kenapa?" raut wajah Jongin keruh jelas tersinggung. "Apa aku seperti bakteri untukmu?"
Kyungsoo tersentak kaget. Maksudnya bukan seperti itu. Dia tidak jijik pada Jongin. Tidak sama sekali.
"Bukan aku—"
"Kh—"Jongin tertawa sinis. "Kau takut, Soo." Jongin membuka sabuk pengamannya. Memajukan tubuhnya hingga dada mereka hampir bersentuhan. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Kyungsoo yang memerah.
"Kau takut jatuh cinta lagi padaku."
Kyungsoo pucat pasi.
"Kau salah!" lelaki mungil itu mendorongnya hingga Jongin mundur paksa kembali ke bangkunya.
"Aku tidak akan jatuh cinta lagi padamu!" pekik Kyungsoo. Karena aku memang masih mencintaimu. Dia membatin sedih.
Jongin marah amat sangat marah. Rahang tegasnya terkatup. "Kita lihat saja nanti."
Kyungsoo menatapnya ngeri. Apa yang akan Jongin lakukan?
.
.
.
"Iya ma, aku sudah bersama Jongin" Kyungsoo meyahut sopan. Dia sedang menelpon calon mertuanya ketika lampu merah. "Kami akan segera tiba dalam dua puluh menit." dan telpon mereka berakhir.
Kyungsoo menghela nafas. Melirik melalui ekor matanya. Jongin sejak perbincangan mereka di parkiran bandara jadi pendiam dan hanya memperhatikan jalan. Sama sekali tak memandangnya. Kyungsoo menekan perasaan kesalnya dalam-dalam.
"Aku belum makan siang" ucap Jongin datar.
Kyungsoo menjalankan mobilnya karena lampu sudah berubah menjadi hijau. "Baiklah kau mau makan apa?" tawar Kyungsoo. Bagaimanapun Jongin merupakan tamu keluarga Park. Bisa jadi masalah jika Kyungsoo tidak bersikap baik padanya.
"Aku rindu masakanmu"
Kyungsoo seperti terkena serangan jantung. Dia melotot pada Jongin kemudian kembali fokus pada jalanan. Bagaimanapun dia sedang menyetir.
"Memang kau pernah makan masakanku?"
Jongin tersenyum sinis. "Aku masih ingat kau diam-diam membuatkanku bekal saat kita masih sekolah"
"Uhuk—kau t-tahu?"
"Aku pernah memergokimu, tapi aku diam saja. Nanti kau malu dan tak mau bicara lagi denganku."
Benar. Dulu Kyungsoo memang super duper pemalu dan hanya bisa berlidung dari Baekhyun.
"Uh oke, Kita ke kediaman Park. Aku akan memasakanmu sesuatu disana untukmu"
"Tidak!"
"Kenapa, Jongin?"
"Aku tidak leluasa jika Chanyeol pulang, kita ke apartemenku saja. Sebelumnya membeli bahan makanan dulu di supermarket"
"Kau punya apartemen?" Kyungsoo tercengang. Bukan kah Jongin sejak lulus sekolah langsung pindah ke Amerika? Kapan dia sempat membeli apartemennya?
"Ya, kau lupa sekarang aku sukses?"
Kenapa Jongin jadi sinis seperti ini sih?
Kyungsoo mendengus sebal. Cemberut parah. Mereka kemudian mencari supermarket terdekat untuk membeli bahan yang Jongin butuhkan sebelumnya Jongin menelpon mama Park lebih dulu agar tak khawatir jika mereka terlambat.
Troli Jongin dorong sementara Kyungsoo dengan lincah memasukan bahan yang mereka mau. Jongin ingin makan spageti dan ayam goreng katanya. Kyungsoo juga sekalian membeli susu, sayuran dan buah-buahan untuk Jongin.
Sambil mengomel si mungil terus memasukan semua bahan yang menurutnya penting kedalam troli, Jongin memperhatikan dengan senyuman. Kyungsoo sudah melupakan kecanggungan dan percakapan mereka sebelumnya.
Ketika Jongin sedang memilih beberapa kaleng bir Kyungsoo langsung menariknya menjauh dari minuman itu.
"Yah! Aku ingin beli itu!"
"Tidak, susu saja!"
"Aku bukan anak bayi, kenapa harus susu"
"Kalsium penting untuk tubuh" Kyungsoo tak mau kalah.
"Kau lebih butuh itu dari pada aku" Jongin menyeringai.
"Yah—"
"Nona.." seorang ahjuma menghampiri mereka. "Biarkan suamimu membelinya. Terkadang lelaki membutuhkan itu untuk menyenagkan hati mereka" lalu dia meleos pergi meninggalkan Kyungsoo dan Jongin yang masih memproses petuahnya.
"Aku bukan perempuan! Aku lelaki dan kau bukan suamiku!" Kyungsoo menghentakan kakinya kesal disampingnya Jongin menyemburkan tawa. Memegangi perutnya.
"Kau memang seperti perempuan!" Jongin mengusap ujung matanya, sial tadi itu lucu sekali.
"Ish kau bukan suamiku lagian" Kyungsoo bersidekap membuang mukanya tetap tak mau kalah. Dia menunggu Jongin membalas perkataannya dengan candaan atau apapun juga tapi Jongin hanya diam.
Kyungsoo menoleh mendapati Jongin memandangnya sedih. Saat itu Juga Kyungsoo merasakan sakit pada organ dalamnya bagaikan diremat oleh tangan kasat mata.
"Ya, kau sebentar lagi akan menikah dengan orang lain. Aku tidak akan jadi suamimu, jadi tenanglah" Jongin berucap dengan senyuman tipis. Melangkahkan kakinya sambil mendorong troli mereka menuju kasir.
Kyungsoo merasakan sengatan panas pada matanya. Dia ingin menangisi semua fakta yang ada didepan mata. Bahwa kini jalan hidupnya tak akan ada Jongin lagi.
Ia menutup mata dan menguatkan hati. Inilah pilihannya. Kyungsoo kuat, dia mencintai Chanyeol. Jongin hanya masa lalu.
"Apa yang kau lakukan," Jongin memanggil didepan kasir. "Kemarilah istriku" ahjuma disamping Jongin yang menasehati mereka sebelumnya, menepuk bahu Jongin seakan memerintahkan untuk jangan menggoda Kyungsoo lagi.
Gadis berpakaian seragam menegah yang tengah memilih buah apel dibelakang Kyungsoo menepuk bahunya.
"Oppa! Kau dipanggil suamimu pergi sana" gadis itu mungkin terganggu karena Jongin yang tak berhenti berseru 'Istriku' disana.
Kyungsoo mengusap lehernya tersipu malu. Sedih dan juga ragu. Hati kecilnya berharap bahwa semua candaan ini akan menjadi nyata suatu saat nanti. Dia menghampiri Jongin lantas menepuk bahunya keras.
Mereka tiba di apartemen mewah Jongin pukul dua siang. Chanyeol menelpon Kyungsoo terus menerus seakan lelaki itu adalah sasaeng fansnya. Tanpa pikir panjang Kyungsoo segera mematikan ponselnya ketika Jongin menyadari Kyungsoo sibuk memainkan ponsel.
"Indah sekali" Kyungsoo dengan mulut menganga memasuki dapur milik Jongin yang bernuansa hitam putih.
"Kenapa warna ini?" Kyungsoo bertanya seraya mengusap meja yang mengkilap.
"Terinspirasi dari warna kulitku dan kulit seseorang."
Kyungsoo mengangkat alisnya heran namun enggan memperpanjang. Dia memasukan bahan makanan yang mereka beli kedalam kulkas lalu mulai memotongi sayur merebus spageti dan menyiapkan kimchi dengan cekatan.
Jongin memperhatikan. Menguatkan diri agar tidak memeluk Kyungsoo dari belakang. Walau Kyungsoo lelaki yang ia cintai. Jongin tetap menghargai bahwa kini lelaki itu tidak sendiri.
Jongin menopang dagunya sementara Kyungsoo mulai mengaduk saus yang ada di teflon. Mengoles sedikit dengan telunjuk lalu memasukan jari itu kedalan mulutnya yang lembab. Mendadak tengorokan Jongin terasa kering. Dia terbatuk dan beranjak menuju kulkas mengambil susu untuk menjernihkan otaknya yang kotor.
"Jongin, coba ini"
Kyungsoo mematikan kompor menunjuk saus buatannya. Dia mengambil saus merah itu sedikit dengan sendok kecil lalu menyodorkan pada Jongin.
Sorot mata Jongin gelap tampak menahan hasrat.
"Ku rasa ada yang kurang, tapi aku tak tahu apa" gumam Kyungsoo bingung memiringkan kepalanya. Memasang ekspresi imut tanpa dia sadari.
Jongin pun memasukan sendok ditangan Kyungsoo itu kedalam mulutnya mengemut benda itu lama dengan pandangan sepenuhnya terpusat pada Kyungsoo seorang. Pipi Kyungsoo terbakar dia mengedipkan mata malu. Pemandangan dihadapannya sangat sexy sekali.
jongin mengigit sedok itu lalu membuangnya ke lantai hingga terdengar bunyi nyaring. Dihadapannya Kyungsoo mengigil mengantisipasi perbuatan yang akan Jongin lakukan.
Lelaki berkulit tan itu dengan berani mengambil jemari mungil Kyungsoo dan langsung memasukan telunjuk Kyungsoo kedalam mulutnya. Telujuk bekas jilatan Kyungsoo sebelumnya. Seperti mencari jejak air liur Kyungsoo disana.
"Ah!" Kyungsoo terkejut. Didalam mulut Jongin terasa hangat, basah dan lembut. Bulu kuduknya meremang. Kyungsoo bergerak gelisah. "A-apa yang kau lakukan" Kyungsoo berdebar-debar.
Jongin menghentikan kulumannya. Dia menarik pinggang ramping Kyungsoo yang dililit apron berwarna hijau. Hingga tubuh keduanya menempel tanpa jarak.
Mereka bertatapan beberapa detik sebelum Jongin menyatukan belahan bibir keduanya. Telapak tangannya menahan leher dan pipi Kyungsoo kuat mencegah pergerakan yang tak dia inginkan.
"Hmmp! Hh—" Kyungsoo terengah-engah meremat kerah kemeja Jongin melampiaskan hasratnya. Bibir mereka saling melumat tak mau kalah. Jongin merasakan rasa manis yang tak bisa dia deskripsikan begitu nikmat dan memabukan. Lidahnya keluar mencoba merasakan lebih dalam mengobrak-abrik mulut Kyungsoo yang terlihat kewalahan akan nafsunya.
Kerindukan, rasa frustasi, cinta yang tak bisa tersalurkan menjadi pelampiasan. Jongin mengigit bibir Kyungsoo marah akan kenyataan sosok dipelukannya tak bisa ia miliki.
Kyungsoo berdebar. Jongin dulu hanya sosok impian yang tak berani ia angankan., kini melecehkannya begitu dalam. Dulu Kyungsoo memang mendambakan ini tapi setelah statusnya yang sebentar lagi resmi dimiliki orang lain masih pantaskan dia untuk terbuai akan kenikmatan yang Jongin tawarkan? Tanpa sadar air mata mengalir dipipi menghentikan ciuman Jongin seketika.
"Kenapa kau melakukan ini?" bibir Kyungsoo bengkak. Wajahnya merah karena amarah dan hasrat.
"Kau mencintaiku bukan?" Jongin kembali menarik Kyungsoo ke dalam dekapannya. Mencegah Kyungsoo beranjak dari sisinya.
"Kau tahu?" Kyungsoo membenamkan wajahnya di dada Jongin yang bidang.
"Sedari dulu" Jongin mengecup kening Kyungsoo lembut. Menyalurkan perasaan hangat ke dalam dada keduanya. "Saatku ingin memintamu menjadi kekasihku. Kau berpacaran dengan sepupuku sendiri. Menurutmu bagaimana hancurnya aku?"
Kyungsoo menangis. "Kau menipuku, aku berkirim pesan dengan Chanyeol yang kupikir adalah kau Jongin!" telapak tangannya yang mungil memukuli dada Jongin.
"Kyungsoo aku tak tahu, aku tak merencanakannya!" sanggah Jongin menahan pukulan Kyungsoo pada tubuhnya. Dia mengecupi seluruh wajah Kyungsoo menenangkan lelaki itu.
"Mungkin ini takdir" Kyungsoo melepaskan pelukan Jongin, menjauhkan tubuh mereka. Menatap mata Jongin dengan terluka. Pasrah tak bisa berbuat apa-apa.
"Omongkosong" Jongin memutar bola matanya. Meraih lengan Kyungsoo agar kembali kedalam pelukannya. Tapi Kyungsoo menggeleng mengigit bibir bawahnya takut.
Jongin menggeram marah merasa ditolak, cukup sabar dia selama ini menyaksikan Kyungsoo bermesraan dengan Chanyeol. Kini dia harus mengambil sesuatu yang seharusnya memang jadi miliknya.
Jongin menggendong Kyungsoo dipundak, membawa lelaki mungil itu secara paksa ke kamar utama. Mengabaikan teriakan Kyungsoo yang ketakutan.
Kyungsoo dilemparkan ke atas ranjangnya hingga memantul beberapa kali.
"Kau milikku, Soo" ancam Jongin merangkak menaiki tubuh berisi Kyungsoo yang bergetar ketakutan.
"Jongin jangan! Sadar lah aku akan menikah dengan Chanyeol!" Kyungsoo mendorong tubuh besar Jongin namun sia-sia lelaki bermarga Kim itu sangat kuat.
"Aku tak perduli, Soo. Sekali saja apa kau tak memikirkanku? Bagaimana denganku?" Jongin menatap Kyungsoo terluka dengan kepedihan yang jelas. Kyungsoo terpaku dan tak bisa membantahnya. Dia membiarkan Jongin meraba tubuhnya yang terbalut jaket kuning cerah. Perhatian Kyungsoo sepenuhnya terfokus pada tatapan sedih Jongin.
"Maafkan aku, seharusnya dulu aku meminta penjelasanmu" Kyungsoo menunduk menyesali.
Jongin mengangkat dagu Kyungsoo, menempelkan bibirnya pada belahan berbentuk hati milik Kyungsoo. Mencium bibir Kyungsoo penuh perasaan berbeda dengan ciuman mereka sebelumnya di dapur.
"Jadilah milikku malam ini"
Kyungsoo menangkup pipi tirus Jongin ragu. "Bagaimana dengan Chanyeol?"
"Kita hadapi bersama" Dia mengambil jemari Kyungsoo dipipinya. Menciumi jemari Kyungsoo dengan lembut. "Aku tak akan meninggalkanmu. Aku bersumpah"
Senyum Kyungsoo mengembang. Cahaya matanya yang dulu redup tak bergairah kini mulai berkilauan. Dia bagaikan mendapatkan oase ditengah gurun pasir.
Jongin ikut tersenyum mencium pipi Kyungsoo dan langsung membuka jaket dan kaos Kyungsoo dengan sekali hentakan.
"Kau suka sekalu menciumiku" protes Kyungsoo membiarkan Jongin membuka celana dan boxernya. Kini dia telanjang bulat sedangkan Jongin masih berpakaian lengkap.
"Karena kau wangi, kau tidak tahu betapa aku begitu gila ketika harus berpisah denganmu"
Kyungsoo tersenyum merobek kemeja Jongin.
"Hei!" Jongin kaget akan perbuatan kasarnya.
"Hukuman untukmu karena tak pernah memberiku kepastian sejak dulu"
Jongin meringis membaringkannya ke ranjang sambil menjilati dadanya. Jemarinya yang besar menekan puting Kyungsoo gemas. Nafas Kyungsoo terengah-engah.
"Kau pernah melakukannya sebelumnya?" Jongin memasukan puting Kyungsoo yang lain ke dalam mulutnya yang panas. Kyungsoo merasakan bagian selatan bangun karena sensasi nikmat yang Jongin hantarkan.
"Hhh— tidak, aku selalu ahh.. M-menolak Ah! Jongin!" Kyungsoo kaget merasakan gigitan pada putingnya. "Sakit bodoh!"
"Aku gemas, Soo" Jongin menyeringai seraya mengusap paha putih Kyungsoo perlahan-lahan. Beringsut maju menuju selangkangannya yang berdiri. "Manisnya"
"Gagah kan?"
Jongin tertawa akan pertanyaan polos Kyungsoo.
"Seukuran saat ku masih sd" Jongin meremas milik Kyungsoo. Menaik turunkan tangannya gemas. Kyungsoo meringis mendesah keras. Jongin maju untuk menciumi ujung milik Kyungsoo sebelum memasukannya kedalam mulutnya.
"Jongin ahh! Andwe ahh uhhh"
"Enak?"—tanya Jongin dengan mulut yang masih terdapat milik Kyungsoo.
Rasanya Kyungsoo bisa gila, pikirannya blank. Kenikmatian tak bisa hilang. Dibawah sana Jongin terus memaju mundurkan kepalanya. Semuanya putih dan meledak lalu berangsur-angsur kewarasan Kyungsoo kembali. Dia menengok kebawah mendapati Jongin menjilati bibirnya terdapat cairan miliknya disekeliling wajah Jongin. Kyungsoo menutup wajahnya malu.
"Bahkan cairanmu terasa enak," puji Jongin sambil membuka celana dan dalamannya. Kini kebanggannya terlihat sudah. Kyungsoo menelan saliva gugup. Milik Jongin bahkan empat kali lipat darinya.
"Milikku membutuhkan sarangnya." Perkataan Jongin jorok sekali tapi malah membuat Kyungsoo makin bergairah dan miliknya bangun lagi.
"Waw kau bernafsu juga, Soo. Ingin ku bobol ya?"
"Hentikan!" Kyungsoo tidak suka jongin melakukan dirty talk karna hanya akan merangsangnya. Jongin terkekeh mengambil lube diatas meja nakas, mengoleskan pada jemarinya kemudian membelai pintu masuk Kyungsoo yang berkedut kuat. Memasukan telunjuknya secara pelahan diikuti jari tengahnya.
Kyungsoo memeluk leher Jongin mengigit telinga Jongin melampiaskan rasa takutnya. Bagaimana pun ini merupakan pertama baginya dimasuki seseorang.
Kyungsoo berjengit menyadari sesuatu mulai menerobos masuk. "Jongin ahh,,"
Jongin menderum menjawabnya terfokus pada kebanggannya yang terus mendorong menerobos.
"Apakah kau mencintaiku?—AKH"
Penuh dan sesak Kyungsoo meringis linu. Memperhatikan ekspresi kenikmatan yang terpancar dari wajah lelaki dihadapannya. Jongin terengah, cucuran keringat membasahi keningnya.
Saat pinggul Jongin ingin bergerak. Kyungsoo mendekapnya erat. "Katakan kau mencintaiku"
"Jika cinta kata yang cukup untuk mendeskripsikan perasaanku. Maka. Ya Kyungsoo Aku mencintaimu seluas tata surya. Aku sangat mencintaimu hingga ingin bunuh diri begitu mendapatkan undangan pernikahan."
Kyungsoo terisak lega tak menyangka sosok yang biasa ia lihat dari dulu menyimpan rasa yang sama. Jongin yang dia sayangi, ia damba ternyata mencintainya Juga. "Maafkan aku.. Andai saja aku meminta penjelasanmu" Kyungsoo menciumi wajah tampan Jongin mengabaikan bagian tubuh mereka yang masih bersatu. "Maafkan aku.. Maaf"
Jongin tersenyum menghapus pipi Kyungsoo lantas balas mencium keningnya yang lembab. "Boleh kah aku bergerak sekarang sayang?"
Wajah Kyungsoo merona mendengar Jongin memanggilnya mesra. Dia mengangguk malu kemudian pinggul mereka bergerak bersamaan mencari kenikmatan menuju surga dunia hingga malam menjelang. Melupakan mama Park dan juga calon suami Kyungsoo. Park Chanyeol yang kelimpungan mencari mereka berdua.
Keesokannya dalam dekapan Jongin, Kyungsoo terbangun lebih dulu. Tubuhnya sakit dan juga pegal. Mereka mencoba semua gaya bagaikan tak ada hari esok. .
Senyum terus mengembang mengingat sesi percakapan mereka. Kini mereka adalah sepasang kekasih bukan kah begitu? Kyungsoo merenyit. Ketika lengan Jongin meremas pantatnya dari dalam selimut.
"Kau sudah bagun?"
Jongin langsung mencari bibir Kyungsoo dengan mata yang masih terpejam. Ia menciumnya lalu tersenyum senang. "Selamat pagi, sayang" sapanya riang.
"Pagi" gumam Kyungsoo beringsut masuk kedalam ceruk leher Jongin yang wangi maskulin.
"Hei kenapa?"
"Aku malu"
Jongin tertawa. Dia bahkan tak ingat paginya bisa semenyenangkan ini. Telapak tangannya menepuki pantat Kyungsoo gemas.
"Jongin" panggil Kyungsoo manja.
"Hm?"
"Setelah ini, aku akan makin lengket padamu." Kyungsoo memainkan jemarinya di atas perut berotot milik lelaki yang ia peluk.
"Bukan masalah sayang. Aku juga tak akan melepaskanmu lagi"
"Aku akan menempeli mu sepanjang waktu, aku akan cemburuan lalu cemberut saat kau tak ada disekitarku. Mungkin aku akan ikut saat kau kembali ke Amerika" Kyungsoo mengeluh.
"Ah benarkah kau akan begitu?" Jongin mendekap tubuh mungil Kyungsoo makin erat sambil menciumi pipi gembilnya.
Kyungsoo mengangguk malu.
"Kau sangat menggemaskan!" Jongin mencium bibirnya kasar.
"Aduh!" Kyungsoo mendorong kepala Jongin. "Tapi bagaimana dengan Chanyeol?—"
Perkataan Kyungsoo terpotong oleh suara gedoran kasar dan tendangan di pintu depan.
"KIM JONGIN! BAJINGAN KEMBALIKAN KYUNGSOO!" teriakan Chanyeol menggelegar. Kyungsoo pucat pasi dia meringkuk berlindung dalam perlukan Jongin.
"Aku takut" Kyungsoo merintih mata bulatnya yang beberapa saat lalu bersinar kini berkaca-kaca oleh air mata.
Jongin mencium bibir Kyungsoo pelan menenangkan kekasihnya. "Aku sudah bersumpah, aku akan melindungimu. Kini saatnya aku membalaskan dendamku." kata Jongin tersenyum miring. Dia merogoh meja nakas mengeluarkan sebuah pistol.
TBC
AN:
Shinkyu is back yoo!
Ada yang masih ingat dengan ff ini?
Ff yang kubuat tahun 2013. Saat obrak-abrik file ternyata menemukan dialog singkat Jongin dan Kyungsoo aku pun langsung saja nembuat ff ini dalam waktu singkat. Tadinya mau dijadiin oneshoot tapi kepanjangan jadilah twoshoot
Semoga suka jangan lupa tinggalkan jejak!:)
