OWNED
Cast :
Do Kyungsoo
Kim Jongin aka Kai
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Exo member lainnya
Warning : boylovers/yaoi, mature, bdsm, criminal/mafia.
Chapter 1
"The bad things stay with you. They follow you. You can't escape them, as much as you want to. All you can do is be ready for the good. So when it comes. You invite it in. Because you need it. I need it."
Matahari bangun menyinari jendela-jendela kamar yang terbuka. Membuat setiap orang yang terkena cahayanya mau tidak mau harus bangun dari tidurnya. Namun berbeda dengan pria tampan dengan kulit cokelatnya yang terlihat semakin eksotis ketika terkena sinar matahari. Pria itu sudah rapi hanya dengan kaus putih dan celana jeans hitam yang sobek tetapi masih ada kesan sempurna ditubuhnya.
Langkah kaki panjangnya membawa dirinya turun dari lantai atas dan berjalan menuju seorang pria kecil dengan eyeliner yang sekarang sudah sangat berantakan tertidur di sofa dengan posisi yang juga berantakan.
"Bangun."
Pria itu —Kai—menampar pipi Baekhyun dengan kencang, itulah caranya untuk membangunkan sepupunya. Ya, Kai adalah sepupu Baekhyun dari keluarga ibunya. Baekhyun yang ditampar pun meringis sakit dan memegang pipi kanannya yang berkedut akibat tamparan yang tak terduga, membuat dirinya bangun dengan cara yang menyakitkan.
"Bisakah kau bangunkan aku dengan cara yang halus!" Teriak Baekhyun masih belum melihat sosok yang membangunkannya.
"Tsk." Kai berdecih dan melipat kedua tangannya di dadanya. Matanya terus melihat Baekhyun dengan tatapan yang tajam.
Baekhyun sendiri baru mendongakkan kepalanya untuk memarahi orang yang berani membangunkannya, namun nyalinya menciut saat melihat siapa yang ada dihadapannya.
Sialan.
Itulah kata yang tepat untuk Baekhyun. Bertemu dengan Kai benar-benar tidak ada di daftarnya dan tidak akan pernah ia tambahkan di daftarnya. Namun bagaikan terkena kutukan di pagi hari, ia harus bertatap muka dengan orang yang paling ingin ia hindari.
"Sudah sadar?" Ucap Kai dengan datar dan dingin yang hanya dibalas anggukan oleh Baekhyun.
"Kau tidak punya mulut?"
"Sudah." Baekhyun menjawab dengan pelan dan hati-hati. Ia tidak ingin menjadi korban Kai untuk kedua kalinya.
Kedua? Ya, karena pertama kalinya adalah saat Kai pertama kali datang kerumah ini dan Baekhyun yang tidak tau apa-apa tentangnya dan dirinya terus membuntuti Kai ke dalam kamarnya dan ketika melihat semua benda yang ada di dalam lemarinya membuat dirinya gemetar. Mungkin itu adalah maksud tujuan Kai membuka lemarinya dengan lebar dan sukarela, membiarkan Baekhyun melihat isinya dan itu berhasil membuat Baekhyun berhenti menganggunya.
"Aku akan pergi. Jangan menungguku."
Baekhyun menautkan alisnya, siapa yang mau menunggu dirinya pulang? Bahkan ia saja ingin menginap di rumah Kyungsoo untuk seterusnya. Tapi melihat Kai yang jarang keluar kamar membuat dirinya penasaran. Ia benar-benar tidak pernah melihat Kai keluar dari kamar setelah ia sampai disini. Bahkan untuk makan pun ia tidak akan turun ke bawah. Pelayan yang selalu membawakan makanan ke kamarnya.
"Tumben kau bangkit dari kuburanmu." Ucap Baekhyun dengan sarkastik. Setakutnya ia dengan Kai namun tidak menghentikan ke-sarkastikan dalam dirinya luntur.
"Bukan urusanmu." Baekhyun berdecih dan mengabaikan Kai yang berbalik dan pergi meninggalkan rumahnya. Namun di dalam hatinya, ia merasa sangat sedih karena melihat sepupunya seperti raga tanpa jiwa. Wajah yang tidak pernah menunjukkan senyuman tulus, hanya seringaian dan senyuman yang menyebalkan yang ia selalu tunjukkan.
Ia menghembuskan nafasnya dan menggeleng pelan, menghilangkan rasa sedih dan khawatirnya pada Kai. Untuk apa ia merasakan perasaan seperti itu jika yang dikhawatirkannya saja tidak peduli dan tidak menganggap dirinya ada.
Berbeda dengan Kai yang sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh setelah ia melewati pagar rumahnya. Mengendarai seperti tidak ada esok untuknya. Membuat setiap pengendara yang melihatnya berteriak sumpah serapah padanya. Bahkan lampu merah-pun ia tembus begitu saja.
Pria itu mengabaikan setiap klakson yang ditunjukkan padanya. Toh tidak ada untungnya membalas klakson orang-orang padanya. Dirinya juga terbiasa berurusan dengan polisi namun sampai sekarang tetap tidak ada yang berubah darinya. Ia tetap melanggar peraturan. Karena baginya peraturan ada untuk dilanggar. Tapi ia sendiri tidak suka untuk dilanggar. Aneh bukan?
Matanya menatap lurus ke jalanan namun pikirannya melayang kembali pada ingatan semalam, dimana ia bertemu dengan pria kecil dengan mata besar yang polos. Tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan sebuah senyum, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan seseorang selain sepupunya dan orang-orangnya setelah ia pindah ke Seoul.
Ia harus bertemu dengan pria kecil itu lagi.
Harus.
Bagaimana pun caranya.
Mobil hitamnya kini mulai menepi di sebuah rumah yang tidak begitu besar. Rumah yang jauh dari ramainya kota Seoul dan jauh dari ramainya manusia-manusia yang bekerja 24 jam tanpa henti. Mereka yang tidak pernah lelah mencari harta untuk dirinya atau keluarganya. Entah itu diambil dengan cara baik ataupun buruk.
Kai mulai masuk ke dalam rumah tersebut dan menemukan Pria tinggi dengan kulit yang sangat pucat yang ia panggil Sehun sedang duduk di sofa dengan menonton televisi tanpa ekspresi apapun.
"Ada apa?" Tanya Sehun yang masih melihat televisi.
"Dimana dia?"
Sehun menunjuk sebuah pintu yang berbeda dari pintu lainnya, Kai berjalan ke pintu tersebut dan menekan kata sandi dari pintu itu yang tidak berapa lama berhasil terbuka.
Di dalam sana, terlihat seorang pria yang terbaring dengan lemas dan tidak berdaya. Tangannya diikat dibelakang tubuhnya dan dengan kaki yang juga terikat. Tubuhnya pun dilumuri oleh darah-darah yang sudah mengering dan darah baru yang menyatu menjadi satu.
Pria yang terbaring lemah menatap Kai dengan tatapan sangat tajam dan tidak ada sedikit pun rasa takut yang terpancar di mata tersebut yang membuat Kai semakin benci dengan tatapan orang tersebut.
"Kau masih tidak mau berbicara?"
"Kau punya mulut?"
Hening, orang itu pun masih tidak berminat untuk membalas pertanyaan Kai.
"Aku bukanlah orang yang sabar, jadi dimana dia?"
"Tsk. Sampai mati pun aku tidak akan memberitahumu."
Kai tertawa dengan keras saat mendengar jawaban dari orang yang hampir mati di depannya, ia melihat pria itu dengan sinis dan dingin, "Kau sangat setia kepada pria bajingan seperti dirinya. Padahal bajingan itu bahkan tidak sedikit pun peduli padamu."
"Percuma berbicara dengan orang gagu seperti dirimu."
"Sehun."Panggil Kai yang berapa detik kemudian Sehun sudah berdiri di belakang dirinya.
"Urus dia. Aku tidak ingin mengotori tanganku."
Sehun yang mengerti dengan kata 'urus' pun langsung mengambil sebuah pistol yang berada di kantung celananya dan mengarahkannya pada pria yang sudah sangat lemah di bawah kakinya, bersiap untuk menembaknya setelah Kai memberi aba-aba padanya.
Sebelum Kai berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut. Pria itu dengan cepat memegang kaki Kai dengan cengkaraman yang kuat dan meludahinya dengan berani.
Kai dapat melihat kilatan dendam di mata yang ada di hadapannya yang hanya dibalas dengan senyuman sinis miliknya. Mulut pria itu terbuka dan berbicara dengan sangat pelan namun masih dapat didengar oleh Kai.
"Dia selalu memperhatikanmu."
"Kau tidak akan bisa lari darinya." Lanjutnya.
DOR!!
Sehun menembakkan pelurunya tepat di tengah-tengah kepala pria tersebut dengan wajah datarnya. Darahnya berhasil mengenai baju Kai, yang membuat sang empu menghembuskan nafasnya dan menatap Sehun dengan tatapan –kenapa-kau-mengotori-bajuku- dengan malas.
"Maaf." Ucap Sehun masih dengan nada datar.
Kai sempat menendang pria yang kini statusnya berubah menjadi mayat dengan keras sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut, "Tolong suruh yang lain untuk mengurus mayatnya. Aku tidak ingin lagi melihatnya."
"Sehun, kuserahkan semuanya padamu."
Setelah perintahnya pada Sehun, Kai segera pergi dari rumah tersebut dan kembali mengendarai mobilnya. Entah kemana ia akan pergi sekarang, yang pasti ia ingin menenangkan pikirannya dan emosinya saat ini.
Kai menautkan alisnya ketika melihat sepupunya sedang bergalayut manja di tangan pria yang juga kecil seperti dirinya. Pikiran tentang perkataan pria yang tadi pun buyar dan digantikan dengan sebuah senyuman ketika menyadari siapa yang berada di samping sepupunya tersebut.
Kyungsoo.
Pria berkulit cokelat nan eksotis itu mulai memperlambat laju mobilnya dan memperhatikan setiap gerak gerik Kyungsoo yang menurutnya sangat lucu. Dimana ketika ekspresi datarnya berubah menjadi kesal lalu berubah lagi menjadi terkejut saat bola matanya membulat seperti akan keluar dari matanya.
Ya, Kai sangat menyukai mata itu, mata yang terlihat innocent. Seperti mata yang belum mengalami kekejamnya dunia ini dan tatapan mata Kyungsoo itu seperti tatapan matanya ketika ia masih kecil dan belum merasakan penderitaan.
Tapi, ia juga tidak suka ketika Baekhyun dengan beraninya menyentuh Kyungsoo. Baik di tangan maupun di wajah. Kyungsoo miliknya, dan ia sangat tidak suka ketika sesuatu yang menjadi miliknya di pegang oleh orang lain. Bahkan jika itu sepupunya sendiri.
Panggil ia posesif atau apapun karena itulah yang diajarkan oleh ayah bajingannya untuk tidak memberikan barangnya pada orang lain. Dan ia setuju untuk hal yang satu itu.
Klakson mobil terus terdengar di belakangnya, sebagai tanda agar Kai mempercepat laju mobilnya. "Berisik." Merasa terganggu dengan suara yang keras tersebut. Kai akhirnya menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Jalan yang cepet dong! Macet nih!" Kai memutar matanya ketika mendengar seorang pengendara mobil dengan kepala botak berteriak padanya.
"Mati sana." Umpat Kai.
Melihat Baekhyun dan Kyungsoo yang mulai menjauh di seberang jalan, Kai memutuskan untuk turun dari mobil. Tidak lupa, ia juga mengambil jaket dengan tudung di kursi belakang dan memakainya sebelum turun dari mobil.
Persetan dengan maling yang berani mengambil mobilnya. Ia tidak peduli.
Kai mempercepat langkahnya untuk mengikuti dua pria kecil yang ternyata sangat cepat untuk ukuran pria pendek. Dan disinilah ia berada, di sebuah King Club.
"Club?" Tanya Kai pada dirinya sendiri.
Kai berdiri tidak jauh dari Club tersebut. Ia masih mempertanyakan apa yang dilakukan kedua orang tersebut di club pada siang hari. Namun ia memutuskan untuk menunggunya.
Kyungsoo tidak menghitung sudah berapa kali ia menghela nafasnya dengan malas sebagai tanda 'tidak ingin' untuk Baekhyun, namun pria itu terus saja memaksa dirinya. Sebelumnya ia akan terus menjawab tidak dan tidak, sampai Baekhyun menatap tepat kearah lehernya yang tertutup oleh hansaplast dan mulai menanyainya. Dari situlah ia akhirnya mengalihkan pertanyaan Baekhyun dan mengatakan 'iya' padanya.
Tangan kecilnya memegang luka yang ada di lehernya, ia berharap ia tidak akan pernah lagi bertatap muka dengan orang itu lagi, bahkan ia sendiri tidak memberitahu Baekhyun tentang semalam, padahal Baekhyun terlihat sangat khawatir.
Bagaimana tidak? Melihat sahabat sendiri yang berlari seperti kesetanan dengan keringat yang bercucuran. Tapi Baekhyun tidak ingin memaksa Kyungsoo cerita padanya, ia tau bahwa Kyungsoo belum siap memberitahukan apa-apa padanya. Meskipun sahabat, tidak baik bukan jika kita memaksakan kehendaknya?
Mereka menggelengkan kepalanya, Melupakan pikiran-pikiran yang melayang entah kemana. Dan disinilah Kyungsoo dan Baekhyun, di King Club untuk bertemu dengan teman kecilnya yang disukai oleh Baekhyun.
"Chanyeol!" Kyungsoo berteriak memanggil temannya yang berada di meja bartender dengan senyum lebar di wajahnya.
Pria yang bernama Chanyeol bisa terbilang sangat tampan. Dengan hidung mancung dan mata yang indah, membuatnya terlihat sangat sempurna. Yah walaupun kekurangannya adalah dibagian telinganya yang besar, namun tetap saja tampan dan Kyungsoo benci mengakui itu.
"Oh hei Kyungsoo dan...Baekhyun." Ucapnya dengan senyum di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Kyungsoo melihat Baekhyun yang masih dengan senyum bodohnya itu menyikut lengannya, "Ah..Aku hanya ingin meminta bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Baekhyun terus memintaku untuk menemaninya membelikan hadiah untuk sepupunya, tapi karena aku sedang sibuk aku tidak bisa, dan ia terus mengoceh seperti anak kucing yang kelaparan jadi bisakah kau menemaninya?" Ucap Kyungsoo panjang dan lebar.
Chanyeol terkekeh pelan dan mengangguk, "Aku akan melakukannya. Kebetulan sebentar lagi pekerjaanku sudah selesai."
"Kau bekerja sebagai bartender?" Tanya Baekhyun dengan antusias namun berusaha untuk terdengar biasa.
"Tidak. Aku pemilik Club ini, jadi aku hanya melihat-melihat apakah ada yang rusak atau hilang."
"Kenapa tidak menyuruh karyawanmu saja?" Chanyeol hanya mengangkat bahunya dan tersenyum manis.
"Ah Kyungsoo, ada apa dengan lehermu?" Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan memegang lehernya.
"Tidak, aku hanya tertusuk ranting pohon yang dekat dengan jendala kamarku."
Chanyeol kembali mengangguk dan melanjutkan tanya jawabnya dengan Baekhyun.
Kyungsoo berdecih pelan melihat kelakuan sahabatnya yang terus berbicara tanpa jedah dengan Chanyeol. Ia kagum pada Chanyeol yang mampu menjawab setiap pertanyaan dan perkataan Baekhyun padanya. Tapi bukankah sifat mereka berdua sama? Ah, Kenapa ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang suka mengoceh.
"Aku pergi dulu." Ucap Kyungsoo tanpa menunggu jawaban dari keduanya.
Kyungsoo berjalan keluar dari Club tersebut dan kaki kecilnya mulai melangkah ke jalan yang tadi ia lewati bersama Baekhyun. Ia akan kembali kerumahnya dan melanjutkan tidur indahnya.
Tidak ingin berlama-lama di jalan, Kyungsoo pun memutuskan untuk melewati jalan pintas, memang jalan itu selalu sepi dan sedikit menyeramkan. Tapi hei, hantu apa yang mau keluar disaat matahari sedang berada di puncak? Dan jika pun itu orang jahat siapa juga yang akan nongkrong disini di siang hari yang sangat panas?
Oke mungkin ada, tapi Kyungsoo tidak peduli. Ia sering melewati jalan ini dan tidak ada apapun yang aneh.
Kyungsoo pun melanjutkan perjalanannya yang disertai dengan bersenandung kecil. Namun, perasaan yang awalnya tenang dan damai berubah ketika Kyungsoo mendengar langkah kaki seseorang di belakangnya. Suara langkah kaki yang seakan-akan membalas langkah kakinya.
Pria kecil itu pun berhenti sesaat untuk memastikan apakah telinganya salah atau tidak, dan suara langkah kakinya pun tidak terdengar lagi. Di dalam lubuk hatinya, ingin sekali ia melihat kebelakang, tapi perasaannya mengatakan 'jangan' padanya.
Ketika ia kembali melangkah pun langkah kaki di belakangnya juga kembali terdengar. Perasaan takut kembali menyelimuti dirinya. Belum juga kejadian semalam menghilang dari pikirannya, kini ditambah dengan seseorang yang mencurigakan berada di belakangnya.
Kyungsoo mempercepat langkahnya yang berubah menjadi berlari. Tanpa menoleh kebelakang sekalipun ia terus berdoa semoga ia masih diberi perlindungan. Mungkin keputusan untuk melewati jalan pintas adalah keputusan yang buruk, nyatanya orang jahat memang selalu ada dimanapun.
Jantungnya berdetak cepat saat langkah kaki di belakangnya ikut berlari, langkah yang terdengar sangat keras di telinganya. Membuat perasaannya menjadi kacau.
Harapan berada di depan matanya ketika ia melihat jalan raya di depannya. Ingin rasanya ia berteriak, namun apa daya saat nafasnya bahkan sudah tidak kuat untuk sekedar berbicara.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi Kyungsoo berhasil. Namun, harapan hanyalah sebuah harapan saat sebuah tangan besar menangkap lengannya dengan kuat yang membuat tubuh Kyungsoo tertarik ke belakang.
Dilemparnya tubuh mungilnya ke dinding dengan keras yang membuat punggungnya yang belum sembuh itu kembali sakit. Kyungsoo bersumpah tidak akan membiarkan siapapun membanting punggungnya lagi.
"Ya'know? Hope is a bitch."
"Pada akhirnya harapan untuk tidak bertemu denganku lagi, tidak menjadi kenyataan, bukan?"
Kyungsoo membulatkan matanya ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Suara yang menjadi mimpi buruknya. Suara yang membuat tidurnya tidak tenang setelah ia kembali ke rumah malam itu.
"Hi sweety."
Pria mungil itu menelan salivanya dengan sulit, jantungnya pun terus berdetak kencang yang ia takuti akan terdengar oleh orang yang mengaku bernama Kai tersebut.
Mata bulatnya melihat sosok pria tampan dengan mata yang memandangnya dengan sangat tajam. Kyungsoo tidak peduli dengan ketampanan orang di depannya, karena semua pesonanya dibutakan oleh ketakutan dalam dirinya.
Melihat keterkejutan di mata Kyungsoo membuat Kai semakin menyeringai lebar. Ia juga tidak pernah menyangka akan secepat ini bertemu lagi dengan peliharaan yang ia lepas. Bertemu secara tidak sengaja tentunya.
"Aku sudah mengatakannya bukan? Bahwa aku akan menemukanmu dan.." Kai mendekati wajahnya dengan telinga Kyungsoo yang berhasil membuat sang empu sedikit bergetar karena nafas Kai yang berada tepat di telinganya sebelum ia kembali berbisik,"Menghukummu."
Tbc
Haiii, aku baru upload lagi, dan aku rencananya mau upload cerita ini setiap hari rabu, pagi atau malem, karena cerita ini pertama kali publish hari rabu hehe. Jadi, Jika ada yang kurang memuaskan tolong beritahu ya, siapa tau aku bisa perbaiki:)
Buat yang nanya ini menjurus ke bdsm atau gak, jawabannya iya, makanya mature. Walaupun belum terlalu bisa bikin smut he-he. Dan ini soft bdsm kok, karena aku sendiri susah bikin smut jd gabisa bikin bdsm yang bener2 bdsm.
Satu lagi, aku mau bilang 'saranghae'
