Terima kasih semua yang telah membaca chapter 1... narasaku20: nggak ada lemon kok! Cuma lime aja :D... Degrangefoy: namamu ada, lihat lagi deh :D. Thanks ilustrasinya... SpiritSky, Reverie Metherlence: M untuk kedewasaan karakter... Aleysa GDH: nggak bleh krg 'ngeh' gt dong! Baca lg! Hehe :D Rama Diggory Malfoy, Putri, Shine, Kim Raven: thanks reviewnya.


Disclaimer: J. K. Rowling

ROSE WEASLEY DAN IRIS ZABINI 2

CHAPTER 2

Rose's POV

Aku Rose Weasley 24 tahun, single, lulusan terbaik dalam pelatihan sebagai Pemunah Kutukan dua tahun yang lalu dan sekarang bekerja sebagai Pemunah Kutukan di Bank Sihir Selandia Baru, Rimutaka, juga bekerja sebagai penulis lepas untuk Daily Charm, surat kabar Selandia Baru. Sekarang tinggal bersama sahabatku, Iris Zabini di tingkat sepuluh Lyann Bay Apartement Center. Apartemen yang lumayan mewah dengan dua kamar satu kamar mandi, satu ruang tamu, dan satu ruang makan merangkap dapur.

Aku adalah cewek biasa-biasa saja berambut merah sepunggung, mata biru dan bintik-bintik di wajah (ini sangat menjengkelkan, sudah dicoba dengan lemon, tapi tidak membantu). Aku suka bangun pagi dan berlari-lari kecil di pantai sambil menghirup udara laut yang berbau garam di pagi hari. Jam sembilan pagi aku harus sudah berangkat ke Rimutaka dan melakukan pekerjaaku sebagai Pemunah Kutukan. Pekerjaanku ini adalah memunahkan kutukan yang terdapat pada peti-peti harta yang di temukan di kuburan-kuburan kuno atau dari kapal Muggle yang karam, mencari jejak-jejak sihir yang biasanya merupakan tempat persembunyian barang-barang berharga, juga memunahkan kutukan dari barang-barang antik simpanan penyihir.

Ya... itulah yang kulakukan setiap hari Senin sampai Jumat. Pekerjaan ini juga mengharuskanku untuk melakukan perjalanan-perjalanan jauh sampai ke Australia kalau kami menemukan jejak-jejak harta. Jadi selama di Selandia Baru ini, aku telah bepergian mengunjungi semua pulau di Samudra Pasifik. Di beberapa tempat kami menemukan kuburan-kuburan suku Mouri yang berharta. Kadang kami tidak mendapatkan apa-apa, selain memantrai Muggle yang telah melihat kami.

Saat memasuki hutan-hutan, kami kadang-kadang bertemu manusia serigala, yang membentuk komunitas sendiri di hutan yang belum terjamah. Kami menghindari mereka dan mereka tidak mengganggu kami. Ramuan Kutukan Manusia Serigala yang pernah dibuat Severus Snape memang sangat membantu dalam hal ini.

Aku menghirup udara pagi yang berbau garam dan menghembuskan lagi. Saat ini aku sedang duduk di pasir sambil menanti matahari terbit. Sudah lima tahun aku tidak pulang ke Inggris. Mom, Dad, Hugo, Lily selalu dua kali datang mengunjungiku. Grandma dan Grandpa Weasley, Uncle Harry, Aunt Ginny, James sekali mengunjungiku pada hari natal. Aku belum bertemu dengan keluargaku yang lain, tapi dari yang kudengar Dominique sudah menikah di Prancis, Molly sudah berangkat ke New York bersama suaminya. Lucy juga sudah menikah bersama kekasihnya dan tinggal di Manchester.

Aku merindukan mereka semua. Aku tahu mereka pasti marah karena aku tidak pernah pulang saat natal, tapi aku tetap ingin bertemu mereka. Segalanya mungkin sudah berubah. Semua sudah berubah dan semua sudah dewasa. Dari berita terakhir yang kudengar James dan Fred sudah bertunangan. James dengan temannya sesama pemain Chudley Cannons dan Fred dengan pacarnya yang berlesung pipit bernama, Agatha Flume. Aku sangat bahagia untuk mereka semua, dan aku sangat berharap bahwa Roxy baik-baik saja di Rumania.

Semburat merah muncul di langit. Matahari akan terbit dalam beberapa menit, aku memandang langit dan memikirkan Al. Aku tahu bahwa dua tahun lalu, Al dan Scorpius dikirim ke Kenya untuk membantu perang penyihir yang terjadi di sana. Aku belum mendapat berita lagi tentang mereka, tapi aku sangat berharap bahwa mereka juga baik-baik saja.

Setelah matahari benar-benar terbit aku berjalan kembali ke apartemenku. Aku menyajikan coklat hangat, beserta kue-kue, lalu berniat membangunkan Iris. Tetapi aku tidak menemukan siapa-siapa di kamar.

"Iris?" aku memanggil Iris, tapi tidak ada jawaban.

Aku berjalan keluar ke beranda dan menemukan Iris sedang duduk menatap sesuatu seperti surat.

"Iris?"

Iris mendongakkan kepala memandangku, wajahnya tanpa ekspresi, tapi sinar dimata abu-abunya yang cantik telah hilang berganti kabut. "Maafkan aku! Aku membuka surat pribadimu. Baru datang beberapa menit yang lalu diantar burung hantu."

"Apa? Surat apa?" tanyaku memandang surat bersampul pink, dan namaku tertulis dengan tinta emas.

Iris menyerahkan surat itu dengan tangan gemetar.

Ada apa ini? Ada sesuatu dalam surat ini yang membuat Iris begitu shock. Aku membuka sampul surat itu dan mengeluarkan sebuah undangan pernikahan.

Wedding Invitation

Dua jiwa, Dua hati... bergabung dalam satu persahabatan,

yang berubah menjadi cinta untuk selamanya

Dengan senang hati kami:

Albus Potter

Dan

Isabella Williams

Mengundang bapak, ibu dan saudara-saudara sekalian saat kami mengucapkan janji setia kami dalam pernikahan yang akan diadakan pada

Hari: Sabtu, 26 Desember

Pukul: 4 pm

Tempat: The Burrow, Ottery St. Catchpole, Devon

Aku terkejut memandang surat undangan ini. Al Menikah? Aku masih belum percaya. Aku membaca undangannya lagi dan memang nama Al-lah yang tercantum sebagai pengatin laki-laki di undangan tersebut. Tetapi siapa dia? Siapa Isabella Williams? Aku memandang Iris dan melihatnya sedang memandang matahari yang perlahan-lahan mulai melewati permukaan laut. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Iris, tapi aku tahu Iris sedih. Dia mungkin memang mengharapkan ini satu saat nanti, tapi aku yakin dia belum bisa mengatasinya.

"Kau akan kembali ke Inggris?" tanya Iris dengan suara bergetar, menahan perasaan.

"Iris..." bisikku, duduk disebelahnya dan memeluknya.

Iris terisak di bahuku. "Rose... Rose, aku tidak bisa... hatiku benar-benar sakit..."

"Aku mengerti," kataku, memeluknya dengan erat.

Iris terisak semakin keras di bahuku dan menggumamkan kata-kata yang tidak kumengerti. Aku membelai punggungnya dan membiarkannya menangis. Kurasa menangis sangat bagus untuknya agar bisa melegakan perasaanya.

Setelah beberapa saat kami melepaskan diri. Iris menghapus airmatanya dan menatap pantai di kejauhan. Aku berdiri dan mengambil coklat hangat dan sepiring kecil kue dan biskuit.

"Minumlah Iris," kataku.

Iris menatap coklatnya, kemudian memandangku. "Bisakah aku mendapat minuman yang lebih keras, Rose?" tanya Iris, suaranya masih bergetar.

Aku mengacungkan tongkat sihirku dan memanggil dua botol Whisky Api kegemaranku. Aku memberikan satu pada Iris. Kami meneguk Whisky Api sambil memandang pantai.

"Bagaimana perasaamu?" tanyaku, memandang Iris.

"Sangat buruk!" jawab Iris, meneguk Whisky Api.

Ya, aku tahu! Aku bisa mengerti apa yang dirasakan Iris. Aku juga pernah merasakan patah hati yang begitu parah.

"Kau akan kembali ke Inggris?" tanya Iris, memandangku. Aku senang karena suaranya sudah tidak bergetar lagi.

"Ya, aku akan pulang... Al sahabat dan sepupu favoritku. Aku tidak mungkin tidak mengikuti uparaca pernikahannya."

"Aku tahu kau akan pulang..."

Aku memandang Iris sesaat. "Kau juga harus ikut bersamaku, Iris."

"Terima kasih, Rose! Tapi tidak... aku tidak akan muncul di pesta itu tanpa surat undangan."

"Kau hadir sebagai tamuku, Iris!"

"Tidak, Rose... aku tidak akan pergi."

"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di sini, Iris," kataku berkeras. Aku tidak akan tega meninggalkan Iris berkutat dengan kesedihannya sendiri di apartemen kosong, tanpa ada yang menemani.

"Aku bisa mengurus diriku sendiri, Rose. Aku tidak apa-apa."

"Iris, kumohon ikutlah bersamaku. Aku hanya perlu mengirim burung hantu ke The Burrow memberitahu bahwa kau akan pulang bersamaku."

"Aku tidak bisa, Rose. Aku tidak akan bisa melihat Albus menikah. Aku pasti hanya akan merusak acara pernikahan itu."

"Iris, Al juga adalah temanmu. Tidak bisakah kau..."

"Rose, dia tidak mengirimku undangan. Aku tidak bisa muncul begitu saja di The Burrow dan mengagetkannya."

"Aku akan memberitahu mereka bahwa kau datang bersamaku... Iris, kau tidak bisa begini selamanya. Kau harus mencoba untuk melihat kenyataan dan melupakan Al."

Aku tahu bahwa meskipun teman kencan Iris banyak, tapi dia masih sangat mencintai Al. Sama seperti tahun-tahun yang telah lalu, kencan-kencan Iris adalah pria-pria bermata mata hijau.

"Kau harus pergi dan menerima kenyataan ini. Kau harus melihat Al dan berbicara dengannya untuk terakhir kalinya dan cobalah untuk melupakannya."

"Jangan memaksaku, Rose, karena aku tidak akan ke mana-mana!"

"Iris! Aku benar-benar tidak bisa meninggalkanmu sendiri di apartemen ini. Kalau kau tidak ingin pergi ke pernikahan Al, kau tetap harus pulang ke Inggris bersamaku... kau juga sudah tidak pulang selama lima tahun, ibumu pasti menrindukanmu."

"Mother!" bisik Iris, tertahan. "Ya, saat ini aku sangat ingin bertemu ibuku."

Ya, aku tahu, kalau kau sedang sakit hati atau benar-benar merasa kesepian, pasti kau ingin bertemu keluargamu. Karena keluarga tidak akan kemana-mana, keluarga akan selalu ada untukmu.

Iris dan aku menyelesaikan pekerjaan kami di Rimutaka dalam beberapa hari terakhir dan mengatur Portkey ke Inggris sehari sebelum natal.


Aku tiba di rumah malam hari. Telingaku berdengung karena perubahan musim dari panas ke dingin. Sekarang memang musim dingin di Inggris. Salju ada di mana-mana dan mengaburkan penglihatanku ke arah rumah. Sambil menyeret koperku, aku berjalan menuju rumah sambil mencairkan salju dengan tongkat sihirku. Dari rumah terdengar lagu natal yang diputar Mom dari radio.

Aku mengetuk pintu dan terdengar langkah kaki dari dalam. Mom membuka pintu dan tertegun sesaat.

"Mom, aku pulang!" kataku, tersenyum.

"Merlin! ROSE! Rose!" Mom terpekik senang, lalu memelukku.

"RON, ROSE PULANG!" Dia berteriak ke arah tangga, setelah membawaku masuk ke dalam rumah.

Aku duduk di dapur dan memandang Mom, yang tersenyum memandangku. Dad turun dari tangga.

"ROSIE!" katanya saat aku berlari memeluknya.

"Mengapa kau tidak mengirim burung hantu pada kami, Rose?" tanya Mom, menyajikan coklat hangat dan biskuit coklat di piring kecil.

"Aku ingin mengejutkan kalian," jawabku senang.

"Ya, kami memang terkejut, Rosie," kata Dad.

"Pakaian apa yang kau kenakan, Rosie? Kau bisa terkena radang dingin," kata Mom, memperhatikan penampilanku.

Aku memang mengenakan gaun musim panas Muggle yang tipis. "Aku baru dari tempat yang ada mataharinya, Mom," jawabku.

"Kau harus segera memakai pakaian yang agak tebal, Rose," kata Mom.

"Aku akan segera melakukan... Mana Hugo?"

"Adikmu tinggal di London sekarang. Dia bekerja di St. Mungo," jawab Mom.

"Ceritakan pada kami tentang pekerjaanmu, Rosie!" kata Dad.

Aku menceritakan tentang pekerjaanku yang melelahkan sebagai seorang Pemunah Kutukan; perjalanan-perjalanan yang mengasyikkan juga bonus-bonus yang didapatkan dari perjalanan kami.

"Kau harus segera pindah ke Gringgots, Rosie, kami merindukanmu," kata Dad, menatapku.

"Mungkin aku akan segera melakukannya, tapi tidak dalam tahun ini, Dad," kataku sambil berpikir. Aku memang ingin kembali ke Inggris. Aku merindukan orangtuaku, Hugo, Lily, Al, dan keluarga yang lain. Aku juga merindukan musim semi Inggris yang indah.

"Bagaimana Al?" tanyaku memandang Mom dan Dad.

"Kau akan bertemu dengannya besok, Rose! Kita semua akan ke The Burrow besok," kata Mom.

Aku tahu kita semua memang harus berkumpul untuk merayakan hari besar ini. Al, aku benar-benar tidak menduga aku selalu berpikir bahwa kau mencintai Iris, tapi seperti yang sudah sangat aku ketahui, kita memang tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.

"Rose, naiklah ke atas... ganti pakaianmu dan kau bisa membantuku menyiapkan makan malam," kata Mom.

Aku mengangguk, berjalan naik ke atas menuju kamarku. Kamarku masih seperti yang dulu. Tempat tidur, lemari buku, juga lemari pakaian masih terletak di tempat yang sama. Meskipun aku merasa bahwa tempat ini kelihatan lebih kecil. Aku membuka lemari pakaianku, memandang pakaian masa remaja, juga lemari buku di sudut, buku-bukunya masih sama seperti yang dulu. Ruangan ini juga bersih, tak berdebu. Rupanya Mom selalu membersihkannya setiap hari. Aku memandang keliling ruangan dan teringat semua kenanganku di kamar ini. Aku pernah mengurung diri di sini karena sebal pada Dad, yang tidak membelikanku sapu baru. Aku juga pernah perang bantal dengan Hugo di tempat tidur, dan masih banyak kenangan lain yang menyebalkan dan menyenangkan. Di kamar inilah aku jatuh cinta... di sinilah aku menyadari bahwa aku jatuh cinta pada Scorpius Malfoy... di sini juga pertama kalinya dia menciumku. Ciuman yang akan selalu kuingat untuk selamanya. Aku memejamkan mata dan berusaha mengusir kenangan itu dari pikiranku.

"Rose?" terdengar suara Mom dari bawah.

"Aku turun sekarang, Mom," seruku. Cepat-cepat menggantikan gaun musim panasku dengan pakaian tebal dan sweater.


Al' POV

Aku akan menikah sebentar lagi. Besok adalah hari pernikahanku. Aku tidak tahu apakah sedih ataukah bahagia. Semua kejadian ini begitu cepat, aku bahkan tidak menyadari kejadian ini datang. Yang aku tahu adalah aku harus menikah secepat mungkin.

Aku memandang seluruh keluarga yang sedang menyapa Rose; memeluk dan menyalaminya. Grandma Molly mengeluarkan airmata dan menceramahi Rose tentang kebersamaan keluarga. Grandpa dan keluarga yang lain mencium dan menyapa Rose dengan hangat. Lily dan Roxy menuntut Rose untuk menemani mereka berbelanja sore ini. James menggendongnya, melemparkannya di sofa dan mulai menggelitiknya sebagai tanda kemarahan karena Rose tidak pernah pulang ke Inggris. Fred dan Louis bergabung dengan James.

Rose menjerit dan memandangku.

"AL! Tolong aku!" jeritnya, berusaha melepaskan diri dari James, Fred dan Louis.

Tingkah yang sangat kekanak-kanakan pikirku, berjalan mendatangi mereka dan mencoba untuk menyingkirkan James.

"Hentikan James," kataku.

"Si pengantin pria datang!" kata James, nyengir padaku.

Aku mendengus dan menarik Rose berdiri. Rose berterima kasih padaku dengan nafas terengah-engah.

"Harusnya kau membiarkan Rosie dihukum, Al," kata Louis, duduk di sofa.

"Hei! Aku kan sudah minta maaf," kata Rose, membela diri.

"Kau melewatkan banyak acara keluarga, Rosie," kata Fred, mendelik pada Rose. "Aku akan membunuhmu kalau kau tidak datang ke acara pernikahanku nanti."

"Aku sudah memutuskan untuk kembali ke Inggris. Oke! Aku sedang mencari kesempatan untuk bisa pindah ke Gringgots."

"Rose! Itu adalah kabar yang lebih baik dari kabar pernikahan Al," kata James memeluk Rose.

Aku mendelik pada James. Apa maksudmu, James?

Fred dan Louis juga mengucapkan rasa senang mereka dan berjanji akan mencarikan Rose cowok Inggris yang tampan sebagai teman kencan.

"Tidak!" jerit Rose. "Aku tidak mau..."

"Apa yang kau tidak mau, Rose?" tanya Lily, muncul di belakangku, bersama Roxanne.

"Fred ingin memperkenalkan Rose pada cowok Inggris yang tampan," jawabku.

"Fred, jangan mulai beritngkah aneh. Biarkan Rosie sendiri!" kata Roxanne mendelik pada Fred.

"Ayolah, Roxy! Pacarmu yang sekarang adalah cowok yang dikenalkan oleh Fred tahun lalu kan?" kata James, tersenyum licik.

"JAMES!" jerit Roxanne menghambur ke arah James dan mulai memukulnya. "Kau tahu aku tidak ingin hal itu dibicarakan."

"Ouch! Roxy! Maaf!" kata James, menghindar.

"Dan kau, Fred! Aku akan bersyukur kalau kau tidak menyebarkan ini pada orang lain," kata Roxanne menuding Fred dengan tajam.

Fred hanya mengedikkan kepala dan memandang Rose. "Nah, bagaimana, Rosie?" tanya Fred.

"Tidak, James! Terima kasih!"

"Aku akan tetap mengajak Alvin besok di pernikahan Al. Kau bisa berdansa satu atau dua lagu dengannya," kata Fred.

Rose mendengus.

Suara Grandma Molly yang keras dan membahana terdengar memanggil kami untuk membereskan kado-kado pernikahan yang bertumpuk di atas meja di ruang tamu.

"Lily, Roxy, kalian bisa membantu Ginny dan Hermione menyediakan makan siang. Fred, James, Louis, bungkuslah kado-kado pernikahan ini, jangan pakai sihir karena kalian akan membuatnya berantakan. Al, kau bisa bersantai. Rosie, pergilah mengatur kue-kue pernikahan di kamar atas! Aku yakin kau bisa mengerjakannya sendiri," kata Grandma Molly memberi perintah, dan memberikan senyuman hangat pada Rose.

"Mana Hugo?" tanya Grandma Molly ketika menyadari Hugo tidak bersama kami. "HUGO!" dia menjerit membuat Hugo yang sedang mendiskusikan ramuan-ramuan aneh bersama Uncle George terkejut. "Kau harus membantu membungkus kado dan jangan pakai sihir!"

Semua bergerak melakukan tugas masing-masing. Karena tidak ada yang harus aku lakukan, aku menyusul Rose di kamar atas. Kamar ini adalah kamar tidur yang dijadikan gudang untuk sementara. Di mana terdapat bergardus-gardus camilan, kue-kue serta biskuit kecil yang harus diatur oleh Rose.

"Bagaimana kabar dunia Perbankan?" tanyaku, duduk di lantai berlapis karpet hijau, disamping Rose.

"Lumayan maju, kalau kau menyukai emas," jawab Rose tersenyum. "Bagaimana kabar dunia kriminal?"

"Semua kriminal sedang tidur karena aku akan menikah," jawabku.

Rose tertawa.

"Apakah kau bahagia, Al?" tanya Rose setelah berhenti tertawa.

Pertanyaan yang bagus Rose. Dan aku tidak bisa menjawabnya dengan jujur.

"Ya... apa lagi yang diharapkan oleh seorang pengantin pria?"

Rose tertawa lagi. "Aku akan bahagia kalau kau bahagia, Al! Kami semua akan berbahagia untukmu."

Aku memandang kue, biskuit dan camilan lain yang diatur Rose dalam dus-dus kecil.

"Bagaimana kabar, Iris?" tanyaku. Aku sudah ingin mengajukan pertanyaan ini sejak aku ber-apparate ke The Burrow dan melihat Rose.

"Baik-baik saja... dia di Inggris sekarang," jawab Rose.

"Di Inggris?"

"Ya, di rumah orangtuanya."

"Oh!"

"Mengapa kau tidak mengundangnya, Al? Kupikir kalian berteman?"

"Eh... aku... kupikir dia tidak akan datang, jadi aku tidak mengirimnya undangan."

"Tentu saja dia mau datang, Al. Dia ingin melihat sahabatnya berbahagia."

"Eh... aku tidak ingin..."

"Kau tidak ingin dia merusak pernikahanmu? Tidak, Al! Kupikir kau mengenal, Iris! Iris tidak seperti itu... dia tidak akan merusak hari bahagia sahabatnya sendiri."

"Bukan itu! Aku hanya tidak ingin dia bersedih."

Rose menatapku. "Dia sudah dewasa dan cukup tegar sekarang, Al. Dia tidak akan menangis untuk hal-hal yang tidak penting lagi seperti dulu."

"Oh!" kataku. Hal yang tidak penting? Jadi pernikahanku tidak penting untuknya. Syukurlah! Kalau begitu dia dapat melupakan aku dan berbahagia di Selandia Baru. Aku merasakan tikaman tajam dijantungku.

"Siapa wanita itu?" tanya Rose, mengatur beberapa dus lagi.

"Siapa?"

"Isabella atau Isadora... atau apapun namanya."

"Isabella... dia rekan kerjaku."

"Apakah dia cantik?"

"Ya... cantik..." kataku, menghindar. Entah mengapa aku tidak ingin menceritakan tentang Isabella pada Rose.

"Kelihatannya kau tidak begitu antusias."

"Biasalah! Kegugupan pengantin sebelum menikah," kataku.

Rose memandangku dengan tajam.

"Kau akan melihatnya besok, Rose."

"Mengapa dia tidak datang untuk mempersiapkan pernikahan bersamamu."

"Dia sedang merayakan natal bersama orangtuanya dan langsung datang dari rumah orangtua besok."

"Kalian akan tinggal di mana nanti?"

"Kami akan tinggal di flat-nya untuk sementara sambil mencari rumah di Kenshington."

"Kalian akan berbulan madu ke mana?"

"Yunani... Isabella, suka melihat pemandangan pantai."

"Oh!" kata Rose. "Omong-omong, bagaimana keadaan Scorpius?"

Aku memandang Rose. Dia sedang menunduk mengatur kue. Aku tidak menangkap nada sedih atau apapun dalam suaranya. Dia hanya ingin tahu saja, dan tidak bermaksud apa-apa. Apakah dia sudah melupakan cintanya Scorpius?

"Baik-baik saja... sudah enam bulan ini dia berkencan dengan rekan sesama Auror, Janice Smith."

"Janice Smith? Cewek pirang Hufflepuff yang seangkatan dengan kita?"

"Ya!"

"Kuharap dia juga berbahagia," kata Rose tulus.

"Kau sudah melupakannya Rose."

"Ya... kita tidak boleh hidup dengan kenangan masa lalu, bukan? Aku ingin Scorpius bahagia."

"Ya, semua orang ingin bahagia," kataku, menghela nafas.

"Mengapa kau menghela nafas?" Rose memandangku tajam. "Al, kau bisa menceritakan padaku... apapun yang terjadi aku adalah sepupumu, keluargamu. Aku akan selalu ada untukmu."

"Rose, tidak ada yang perlu diceritakan."

"Kau tidak mencintainya?" tebak Rose seketika.

"Aku menyayanginya."

"Mengapa kau menikah dengannya?"

Rose dan aku saling bertatapan sesaat. Apakah ini saatnya untuk pengakuan?

"Rose, aku telah menyebabkan Bella terkena kutukan yang mematikan."

"Apa?"

"Kami sedang berada di Kenya ketika itu terjadi. Harusnya aku yang terkena kutukan itu, tapi dia melindungiku. Dia memberikan nyawanya untukku, Rose... aku tidak bisa meninggalkannya. Dan dia hanya punya waktu tiga tahun lagi untuk hidup. Aku ... aku sedang memenuhi keinginan terakhirnya. Dia ingin menikah dan punya anak sebelum dia meninggal."

"Al!" Rose langsung memelukku dan kami menangis bersama. Ya, aku menangis. Aku memang sudah ingin melakukannya berbulan-bulan yang lalu sejak aku mendengar Bella tidak akan bisa hidup lagi untuk selamanya.

"Maafkan aku, Al!" kata Rose, disela-sela tangisnya.

"Jangan ceritakan hal ini pada siapapun, Rose! Cukup Scrops, kau dan aku saja yang tahu."

Rose melepaskanku dan menghapus airmatanya.

"Al... Al, aku..."

"Tidak usah berkata apa-apa, Rose, aku mengerti... aku hanya ingin kau tersenyum ceria saat bertemu dengannya besok, berpura-puralah kau tidak tahu."

"Aku mengerti, Al!" kata Rose, tersenyum kecil.

Aku juga tersenyum.

Dari bawah terdengar suara panggilan makan siang. Rose menyapu bekas-bekas airmatanya dan bersamaku turun ke dapur yang ramai. Semua telah duduk di mengelilingi meja makan besar yang berisi berbagai makanan natal yang mewah. Di meja dapur tergeletak puding natal yang bertingkat-tingkat dengan hiasan burung phoniex pada puncaknya.

Aku mendapati diriku duduk di antara Rose dan Roxanne.

"Rose, apa yang akan kau lakukan sore nanti?" tanya Lily, yang duduk di sebelah Rose.

"Dia sudah berjanji menemani kita berbelanja, Lil," kata Roxanne.

"Bagus! Setelah itu kita akan mengajaknya ke Sky Night," kata Lily tersenyum senang, mengedip pada Roxanne.

"Sky Night?" tanya Rose.

"Tempat yang menyenangkan Rosie, dan kau tidak akan menyesal," kata Roxanne.

"Benar Roxy! Dia harus bersenang-senang sedikit!" kata Lily, mengedip pada Rose.

"Kalian bicara apa?" tanya Rose bingung.

Aku mendengus. Aku tahu Roxanne dan Lily hendak membuat Rose mabuk. Sebenarnya aku kuatir terjadi apa-apa karena Rose akan melakukan hal-hal aneh kalau lagi mabuk, tapi terserahlah, Rose memang perlu bersenang-senang.


Scorpius' POV

Janice dan aku memasuki Sky Night malam itu. Kami ingin minum-minum sedikit sebelum pergi ke flat Janice.

Janice adalah wanita cantik berambut pirang, bermata biru dan bertubuh seksi. Yang mengherankan adalah aku dapat bertahan dengannya, selama sudah hampir enam bulan. Dia cewek yang tidak terlalu banyak menuntut. Mungkin karena bidang kerja kami yang sama dan kesibukan kami yang sama, kami dapat saling mengerti. Janice juga sangat hebat di tempat tidur dan mampu menyenangkanku.

Tapi tidak ada apa-apa antara aku dengannya. Tidak ada getaran, debaran atau apapun yang menandakan cinta. Kami juga tidak banyak bicara. Kami hanya saling membutuhkan secara seksual saja. Kalau dikatakan secara sederhana, dia adalah teman tidurku dan aku adalah teman tidurnya.

"Malam ini kelihatannya lebih ramai dari biasanya," kata Janice, menarik sebuah kursi di bar.

Aku memperhatikan sekeliling dan memandang orang-orang yang tidak kukenal karena ruangan yang agak gelap dan lampu yang remang-remang.

"Sekarang kan hari natal, mungkin orang-orang ingin bersenang-senang sedikit," kataku, duduk disampingku.

Kami minum-minum dan bercerita tentang berbagai hal dalam waktu satu jam.

"Cobalah minuman hasil racikan terbaruku," kata bartender meletakan gelas sloki kecil di depan kami.

"Mengapa harus pakai gelas sloki, pakai gelas biasa saja!" kata Janice.

"Tidak, Nona! Minuman ini sangat keras... tanpa campuran," kata Bartender.

Janice mengambil gelas slokinya dan meminumnya.

"Bagaimana rasanya?" tanyaku mencium gelas slokiku.

"Lumayan," kata Janice, memberi isyarat pada bartender untuk memberikan minuman itu lagi padanya. "Gelas besar, tanpa campuran!"

"Beres, Nona!" kata Bartender menuangkan cairan emas dari dalam botol ke sebuah gelas.

Aku meminumnya dan merasakan panas sekujur tubuhku. Minuman ini langsung membuatku melayang dalam sekali teguk.

"Bagaimana anda, Tuan... mau yang seperti nona ini?"

Aku mengangguk dan si bartender menyajikan cairan emas dalam gelas besar di hadapanku. Aku langsung meneguk minumanku meniru Janice.

Beberapa menit kemudian sebuah cahaya perak cemerlang berbentuk anjing besar muncul di depan Janice dan suara Mr. Battle terdengar.

"Kami memerlukan kehadiranmu di Markas. Segera, Miss Smith!"

"Sial! Sepertinya ada beberapa laporan yang belum aku kumpulkan," keluh Janice. "Aku harus pergi... sampai besok, Scorps!"

Dia memberikanku kecupan singkat dipipi dan berjalan keluar.

Aku memnghabiskan minuman digelasku kemudian meminta minuman tambahan pada bartender. Si bartender tersenyum senang. Bahagia karena minumannya diminati.

Aku merasa sangat mabuk. Aku tidak yakin apakah aku mampu ber-apparate kembali ke apartemen atau tidak.

"LILY! LEPASKAN!" terdengar teriakan keras di tengah suara musik.

Aku terkejut dan merasakan sensasi menyenangkan yang sudah lama berada dalam diriku. Suara ini, suara yang selalu kukenang diantara mimpi dan sadarku. Apakah apa sudah benar-benar mabuk sampai menyangka bahwa suara orang lain adalah suaranya?

"LILY... ROXY! LEPASKAN AKU!"

Aku cukup yakin aku tidak bermimpi. Aku berbalik, menyusup diantara kerumunan orang yang sedang berdisko di lantai disko, dan menemukan wanita cantik berambut merah dan, yang pasti meskipun remang-remang, matanya biru seperti lautan luas yang tidak bisa dijangkau kedalamannya. Rose yang tampaknya cukup mabuk, sedang berusaha melepaskan diri dari Lily dan Roxanne (yang benar-benar mabuk), yang berusaha menyeretnya ke lantai disko.

Mungkin karena aku sudah benar-benar mabuk atau karena aku memang ingin melakukannya. Aku berjalan mendekati Rose, dan melepaskannya dari Lily dan Roxanne.

"Malfoy! Mengingkirlah!" kata Roxanne.

"Scorps, apa yang kau lakukan? Rose harus bersenang-senang," kata Lily.

Rose berbalik memandangku dan terkejut.

"Scorpius!"

"Rose!"

"Bawa aku pergi!" kata Rose.

Entah mengapa bagiku kata-kata ini seperti ajakan untuk untuk tidur bersama. Seperti bawalah aku kemanapun kau mau dan lakukan padaku apapun yang kau inginkan. Sial! Aku memang sudah benar-benar mabuk dan harus menyingkir dari sini sebelum melakukan hal-hal yang akan kusesali kemudian.

"Kemarilah!" kataku membawa Rose ke bar. Lily dan Roxanne berteriak mengumpat di belakangku. Aku tidak peduli. Kami semua sedang mabuk, orang mabuk biasanya tidak menyadari apa yang mereka lakukan.

"Mengapa kau bisa ada di sini?" tanyaku. Aku tidak ingin Rose minum-minum dan berkelauan seperti Janice. Tidur dengan setiap laki-laki yang mendekatinya yang penting laki-laki itu tampan.

"Ini hukuman," jawabnya.

"Hukuman?"

"Karena aku tidak pulang ke Inggris selama lima tahun," kata Rose, melambai pada bartender dan meminta minuman. Bartender dengan gembira memberikan minuman racikannya dalam gelas besar.

"Mereka menyuruhku untuk berdisko sepanjang malam," kata Rose lagi, meneguk minumannya.

"Oh!" kataku, memandang Rose dengan teliti.

Rose sudah banyak berubah. Dia sudah menjadi seorang wanita cantik. Aku bertanya-tanya apakah dia punya pacar di Selandia Baru? Atau dia tinggal dengan seorang laki-laki. Aku langsung mengutuk laki-laki itu dalam hati.

"Al akan menikah besok," kata Rose, terhuyung sedikit ke arahku. Ya, minuman ini memang benar-benar memabukkan.

Aku menahannya agar tidak terjatuh di lantai, "Ya... aku tahu... aku adalah pendamping pengantin laki-laki."

"Selamat! Kau sudah mempersiapkan pidatomu?" tanya Rose, meneguk minumamnya lagi.

Aku memesan minuman lagi bartender. Aku ingin minum-minum bersamanya malam ini. Seperti saat malam tak terlupakan di menara Astronomy.

"Sudah... kau mau mendengarkannya?" tanyaku, menyambar minuman yang diletakkan bartender dan meminumnya.

"Tidak!" kata Rose cepat. "Biar aku dengarnya besok aja. Aku ingin minum-minum dulu sekarang."

Aku tersenyum dan mulai menanyakan tentang pekerjaanya di Selandia Baru. Dia menceritakan kisah-kisah perjalanannya yang mengasyikkan dan segala kekonyolan teman-teman setimnya.

"Ceritakan tentang pekerjaamu!"

"Pekerjaanku sangat membosankan dan mengerikan. Kau pasti tidak ingin mendengarkannya?"

"Seberapa mengerikan? Aku ini anak perempuan seorang Auror, Malfoy, aku tahu apa yang kalian lakukan."

Aku lansung merasa jengkel ketika mendengarnya memanggilku 'Malfoy'.

"Mengapa kau memanggilku, Malfoy?"

"Aku sedang bertanya tentang pekerjaanmu!"

"Mengapa kau memanggilku Scorpius, lalu memanggiku Malfoy?"

"Mengapa? Itukan namamu..."

"Aku lebih suka kalau kau memanggilku dengan nama depan."

"Oke! Scorpius... Scorpius... Scorpius..."

"Hei! Hentikan!"

Rose tertawa. "Ceritakan tentang kehidupan pribadimu! Punya pacar?"

"Ya," jawabku teringat Janice. "Kau sendiri bagaimana?"

"Tidak ada!"

"Benarkah?" tanyaku, tidak percaya. Apakah pria-pria Selandia Baru semua goblok? Mengapa mereka biarkan wanita cantik seperti Rose dibiarkan berlalu begitu saja?

"Benar," kata Rose, meneguk minumannya. "Apakah dia cantik?"

"Janice? Ya, begitulah."

"Kau pasti sangat mencintainya?" tanya Rose, menatap gelasnya.

"Aku..."

"Kau tidak perlu mengatakannya. Sebenarnya aku tidak begitu ingin tahu," kata Rose, lalu tertawa dengan suara tawa yang aneh. Meneguk minuman dan tersedak.

Aku menepuk punggungnya. Rose meletakkan kelapanya di meja, menyembunyikan wajahnya. Sesaat tak ada yang bicara. Aku meletakkan tanganku di kepala Rose dan membelai rambutnya. Rose mengangkat kepalanya dan bergerak menghindari tanganku.

"Aku harus pergi," katanya berdiri tapi terhuyung.

Aku berdiri merangkulnya dalam tanganku, meskipun aku merasakan bahwa kakiku tidak mampu menahan tubuhku.

"Lepaskan aku... aku harus pulang... biarkan aku pulang," kata Rose, nada suaranya terdengar aneh.

Aku memeluknya lebih erat, membaui harum mawar di rambutnya. Rose, aku memang ingin memelukmu seperti ini.

"Mengapa kau memelukku?" tanya Rose, setelah aku melepaskannya.

"Karena aku ingin memelukmu," jawabku.

"Oke... baiklah! Aku harus ber-apparate ke rumahku... mana tongkat sihirku?" Rose mencari-cari tongkat sihir di gaun hitam yang dikenakannya.

Aku menahan tangannya. "Aku tidak ingin kau pergi," kataku.

"Apa? Tapi aku harus pulang..."

"Pulanglah bersamaku!" kataku, mendekatkan wajahku ke wajahnya dan menciumnya dengan lembut dibibir.

Rose membalas ciumanku dengan kelembutan yang sama, meletakkan tangannya dileher. Aku menariknya mendekat dan merapat ke tubuhku. Rose... Rose, satu ciuman saja kau sudah membuatku luluh dipelukanmu. Tahukah kau bahwa aku sangat menginginkanmu? Ingin bangun dipelukanmu setiap pagi. Ingin selalu bersamamu dan tidak pernah melepaskanmu?

Aku tidak tahu apa yang terjadi malam ini, mungkin pengaruh minuman hasil racikan bartender Sky Night, tapi Rose dan aku ber-apparate ke apartemenku.


Rose's POV

Aku merasakan kepalaku sangat sakit dan tubuhku terasa berat. Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Aku hanya tahu bahwa aku mabuk. Aku mengerakkan kakiku, tapi tidak bisa menggerakkannya, seperti ada sesuatu yang menindihnya. Tubuhku juga tidak bisa bergerak. Apakah aku sudah jadi lumpuh dalam semalam?

Aku membuka mataku dan menatap langit-langit ruangan yang tinggi berwarna putih. Aku berusaha mengerakkan tubuh dan kakiku lagi, masih tidak bisa. Aku mengedarkan pandanganku ke sekililingku dan menyadari bahwa aku tidak berada di kamarku. Langit-langit kamarku tidak setinggi ini. Aku tidak punya gambar hijau perak Slytherin di dindingku. Tornadoes? Ya, ada The Tornadoes di dinding. Aku tidak akan pernah menempelkan Tornadoes di dindingku karena aku sangat membenci Tornadoes. Lemari pakaian dan lemari bukuku tidak seperti ini. Kamarku juga tidak seluas ini. Aku berusaha bergerak lagi, detik berikutnya aku tahu bahwa aku tidak bisa bergerak karena aku sedang dipeluk oleh seseorang, dan kaki orang itu telah menindih kakiku sehingga kakiku tidak bisa bergerak.

Aku berusaha menjauhkan tangan dan kaki itu dari tubuhku dan bergerak turun dari tempat tidur dengan cepat, membuat tubuhku terhuyung karena masih pusing. Saat berdiri itu aku menyadari aku telanjang. Jenggot Merlin! Apa yang telah aku lakukan? Aku menyambar pakaianku yang tergeletak di lantai berkarpet hijau dan mengenakannya dengan tergesa-gesa. Ya, ampun, Rose, kau telah tidur dengan pria tak dikenal dan kau tidak tahu mengapa itu bisa terjadi. Aku ingin menangis. Ini pertama kalinya untukku. Harusnya jadi kenangan indah di malam pertama, bukan seperti ini. Aku mengutuk diriku sendiri yang lengah.

Aku memandang pria yang sedang tidur itu dengan lebih seksama. Pria itu berambut perak, sebagian wajahnya tertutup selimut. Aku mendekati tempat tidur dan menyibakkan selimut, dan mundur beberapa langkah setelah menyadari siapa dia. Merlin! Scorpius Malfoy! Tidak! Lebih bagus kalau orang tak dikenal sehingga aku bisa melupakannya dengan mudah. Bukan Scorpius Malfoy! Tidak! Tidak! Apa yang akan dikatakan Scorpius nanti? Aku tidak ingin tahu. Aku harus cepat-cepat kabur dari tempat ini. Aku mencari tongkat sihir dan sepatuku dan dengan gerakan cepat ber-apparate meninggalkan ruangan ini.

Aku tiba di kamarku dan langsung masuk ke kamar mandi. Aku menatap air yang mengalir memenuhi bak. Airmataku jatuh perlahan dipipiku. Tidak seperti ini! Aku benar-benar tidak ingin kejadian ini menimpaku. Aku memang mencintai Scopius, tapi bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku ingin saat pertamaku adalah kenangan yang indah yang harus kuingat selamanya, tapi ini, AKU TIDAK INGAT APA-APA! Apa yang akan dikatakan Scorpius kalau bertemu denganku beberapa jam lagi? Apa yang harus aku katakan padanya?


Scorpius' POV

Aku terbangun oleh perasaan kosong yang menyerang sanubariku. Rasanya sesuatu telah hilang dariku. Kepalaku sakit dan tubuhku berat. Aku sudah sering menderita hangover seperti ini, tapi kali ini berbeda. Aku tidak ingat apa-apa. Aku tidak ingat mengapa aku bisa berada di kamarku. Aku hanya ingat berbicara dengan Janice di Sky Night setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Aku yakin ini adalah pengaruh minuman aneh yang diberikan si bartender.

Aku membaui harum mawar di bantal dan selimutku. Rose? Tidak mungkin? Apakah aku sudah gila? Rose tidak mungkin datang ke kamar ini. Ya, aku pasti sedang berkhayal, meskipun sepertinya harum mawar ini sangat nyata. Aku menyibakkan selimut dan menyadari keadaanku yang telanjang. Lho? Siapa yang melepaskan pakaianku? Aku memutuskan bahwa aku mungkin melakukannya sendiri dan tidak ingat kapan aku melakukannya.

Aku menuju kamar mandi meminum ramuan untuk hangover dan mempersiapkan diriku untuk ke The Burrow aku tidak ingin terlambat di pernikahan Al.


Iris' POV

Pagi tanggal 26 Desember aku duduk merenung memandang taman bunga yang bersalju. Perasaan dejavu menyerangku, aku selalu melakukan hal seperti ini dulu, sudah lama sekali. Kenangan suram yang ingin aku lupakan. Dulu kalau aku ditinggalkan sendiri di rumah atau kalau aku sedang sedih tentang sesuatu, aku selalu duduk memandang taman dan aku akan merasa senang lagi dan melupakan semua kesedihan. Saat ini aku memandang taman dan kesedihan itu tidak hilang, airmataku jatuh lagi dipipiku. Aku terus menangis sejak aku kembali dari Selandia Baru, sejak aku tahu Albus akan menikah. Aku tidak menangis di depan orangtuaku, tentu saja mereka tidak boleh tahu apa yang terjadi. Yang mereka boleh tahu hanya bahwa anak perempuan mereka berbahagia di Selandia Baru.

Hari ini Albus menikah. Aku tahu tanggal ini akan menghantuiku selamanya. Aku tahu aku akan sangat membenci tanggal 26 Desember selamanya. Aku menyeka airmataku dan mencoba untuk tidak menyesali diri. Kau tidak punya hak untuk menyesal, Iris. Ya, ini adalah pilihanku. Aku harus mencoba untuk bersikap bijak dan menerima semuanya dengan hati terbuka.

"Miss Iris ditunggu burung hantu di bawah," terdengar suara Trincer di sebelahku.

Aku memandang Trincer yang sudah semakin tua dan keriput, kemudian tersenyum kecil.

"Mother dan Father di mana?" tanyaku, berjalan ke ruang tengah bersama Trincer.

"Tuan dan Nyonya sudah berangkat ke kantor dari tadi, Miss," jawab Trincer.

Kami tiba di ruang keluarga luas, dengan sofa-sofa berbantal nyaman berwarna putih, juga grand piano besar di sudut dekat jendela lebar. Aku menuju burung hantu abu-abu yang bertengger di dekat jendela dan melepaskan surat dari paruhnya. Setelah surat dilepaskan, burung hantu itu langsung terbang meninggalkanku. Aku tidak mengenal tulisan sampul surat itu. Aku mengeluarkan isi surat dan membaca.

Dear Iris,

Maafkan aku karena mengirimi surat ini. Aku sudah bertemu dengan Rose dan dia mengatakan bahwa kau ada di Inggris. Hari ini aku akan menikah dengan Al, tapi aku tidak bisa tenang. Aku harus bicara denganmu. Aku sangat ingin bicara denganmu.

Aku mohon temuilah aku di rumahku di Yew Cottage setelah kau membaca surat ini.

INI SANGAT PENTING!

Isabella.

Aku tertegun memandang surat ditanganku. Isabella? Isabella Williams? Calon Istri Albus, buat apa dia ingin bicara denganku? Tidakkah dia tahu bahwa aku mungkin sangat membencinya? Tapi...! Apakah ini lelucon Rose untuk mempermainkan aku? Tidak Rose tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu. Apa yang harus aku lakukan?

Aku berjalan ke kamar menggambil mantelku. Ya, aku akan pergi. Aku ingin tahu apa yang ingin dikatakan calon istri Albus padaku.

"Miss Iris mau ke mana?" tanya Trincer, saat aku hendak ber-apparate.

"Keluar sebentar," jawabku singkat. Aku tidak ingin Trincer menyampaikannya pada Mother.

"Ke mana? Apa yang harus Trincer katakan kalau Tuan dan Nyonya pulang?"

"Aku sudah akan kembali sebelum Mother pulang..."

"Baik, Miss!"

Aku ber-apparate menuju Yew Cottage. Aku muncul di jalan kecil bersalju yang menuju sebuah rumah dengan sebuah pohon Yew besar di sampingnya. Pantas saja rumah ini dinamakan Yew Cottage. Rumah itu adalah sebuah rumah besar dengan halaman depan yang luas, berdinding coklat, dengan jendela-jendela lebar terbuka, suara bising terdengar dari dalam rumah. Aku mengetuk pintu depan dan seorang wanita berumur membukakan pintu.

"Ya?" tanya wanita itu. "Kami sedang benar-benar sibuk. Anda siapa?"

"Eh... aku teman Isabella... dia... dia menyuruhku datang," kataku tergagap. Teman? Huh, tidak akan pernah! Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin melihat wajahnya.

"Anda Iris?"

"Ya, aku Iris... maaf kalau aku mengganggu... aku akan..."

"Oh, tidak, Bella memang menantikan kedatanganmu, masuklah!" dia membawaku masuk menyusuri ruang tamu yang penuh barang. "Aku Serena, ibunya... dan aku sangat senang kau datang. Bella, dia... yah, dia benar-benar stress. Entahlah, mungkin karena akan menikah beberapa jam lagi."

Kami melewati beberapa orang yang sedang sibuk di dapur, mereka sedang menggunting pita atau kain entah apa, aku tidak ingin tahu.

"Naiklah ke atas, Iris! Kamar pengantinnya di dekat tangga!"

Aku berjalan ke atas dan mengetuk sebuah pintu.

"Masuk!"

Aku masuk di sebuah kamar luas dengan pita-pita dan renda di mana-mana. Kamar pengantin? Pikirku menghela nafas. Seorang wanita cantik berambut pirang gelap sedang duduk di depan cermin. Dia menatap bayanganku yang terpantul dalam cermin.

"Iris!" jeritnya, berdiri dan memelukku sebentar. "Aku sangat gembira kau mau datang... duduklah!"

Dia membawaku duduk di kursi di sebelah tempat duduknya.

"Aku langsung mengenalmu! Rambut hitam, mata abu-abu yang indah. Kau cantik..."

Aku tidak tahu harus berkata apa.

"Al banyak bercerita tentangmu dan aku langsung mengenalmu."

Hah? Sebenarnya apa yang diinginkan wanita ini?

"Maafkan aku!" katanya menatapku dengan serius.

"Kau tidak bersalah apapun padaku."

"Tidak! Tidak, Iris... aku memang bersalah... aku..."

"Dengar! Kalau kau menginginkanku datang kemari hanya untuk mendengar keluh kesahmu, aku mau pulang," aku berdiri

"Jangan!" dia berseru sambil menarik tanganku, membuatku terduduk kembali.

Aku mendelik padanya.

"Aku... aku akan mati... tidak lama lagi..."

Apa? MATI? Mati, maksudnya meninggal, putus nafas?

"APA?"

"Ya," dia mengangkat lengan jubahnya dan memperlihatkan luka kecil, tapi dalam dan mengerikan di lengan atasnya.

"Bagaimana?" tanyaku menatap luka itu dengan jijik.

"Aku melindungi Al dan terkena kutukan di Kenya dulu. Mereka berhasil menahan kutukan itu dilenganku, tapi racunnya sudah menjalar ke seluruh tubuhku, dan aku hanya punya waktu tiga tahun untuk hidup, karena itu aku... aku meminta Al menikah denganku."

"APA?"

"Aku tahu... kau pasti berpikir aku adalah wanita jelek yang egois, tapi aku juga mencintainya... aku ingin hidup bersamanya disisa akhir hidupku."

"Mengapa kau memberitahuku ini? Aku tidak ingin tahu," aku berdiri, "aku mau pulang."

"Karena ini penting... Kumohon dengarkan aku!" dia menahan tanganku lagi. Dan aku terduduk kembali dikursi.

"Lalu kau mau apa melakukan apa? Kau ingin melihat aku menangis untuk kalian berdua."

"Tidak! Bukan begitu... aku ingin kau... kau bersama Al, sesudah aku meninggal, karena aku tahu dia sangat mencintaimu. Kau lah satu-satunya wanita yang dicintai Al," katanya, menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Dia tidak akan menikah denganmu kalau dia mencintaiku," kataku, berdiri lagi, dan berjalan keluar. Kali ini aku berhasil, dia tidak menahanku. Aku melewati dapur, dengan pandangan ingin tahu orang-orang termasuk Mrs. Williams, dan berjalan menuju kebun. Aku ber-apperate kembali ke kamarku.

Aku melemparkan diri ke tempat tidurku dan menangis. Aku maksud wanita itu melakukan ini. Apakah dia ingin menunjukkan bahwa dia lebih hebat dariku karena bisa mendapatkan Albus? Apakah dia ingin aku menangisi diriku sendiri karena Albus lebih memilih dia. Albus telah menentukan pilihan, ingin menikah dengannya berarti aku harus menghargai keputusan itu. Aku juga sudah menentukan pilihan, pergi jauh dan melupakan segalanya.


Rose POV

Aku duduk di tenda sihir dan memandang Al dan Bella mengucapkan janji setia, sehidup semati sampai maut memisahkan. Al mengenakan jas jubah putih terang dengan kuncup mawar kecil di atas dadanya dan Bella mengenakan gaun putih berenda yang panjang sampai ke mata kaki.

"Sangat indah!" bisik Aunt Ginny yang duduk di sampingku, meneteskan airmata.

Aku tidak berkata apa-apa menurutku ini sangat menyedihkan. Aku selalu teringat Iris, aku sangat berharap Iris tegar.

"Rose, aku juga berharap kau segera menikah," kata Mom, yang duduk di sebelah Aunt Ginny.

Aku membuang muka dan memandang Scorpius yang kebetulan juga sedang memandangku. Kami bertatapan sesaat kemudian aku menunduk memandang sepatu. Merlin! Apa yang akan dikatakan Scorpius? Kami belum bicara sejak pagi aku kabur dari kamarnya. Apakah dia akan menganggap aku sebagai kencan semalam? Ya, sepertinya begitu soalnya dia punya pacar cantik bernama Janice. Aku mengangkat muka dan memandang Janice, yang duduk bersama teman-teman Auror-nya. Janice mengenakan gaun hijau yang sangat pas dengan bentuk tubuhnya yang sintal bagus. Tidak bisa dibandingkan dengan aku yang biasa-biasa saja.

Aku memandang ke depan lagi dan melihat Scorpius mengucapkan pidatonya sebagai pendamping pengantin pria. Aku tidak begitu mendengarnya karena aku sibuk mengagumi ketampanan wajahnya. Aku senang punya alasan untuk memandangnya. Scorpius sekarang sudah lebih tinggi, tubuhnya juga sudah berubah. Dia bukan remaja lagi, tapi sudah menjadi laki-laki dewasa yang benar-benar membuat wanita-wanita bertekuk lutut. Rambut peraknya agak sedikit panjang, tapi matanya masih sama seperti yang dulu. Mata yang selalu membuatku terpesona dan melupakan segalanya.

Aku terkejut ketika orang-orang bertepuk tangan. Scorpius telah turun panggung diganti oleh MC yang mengumumkan dansa pertama untuk Mr. dan Mrs. Potter yang baru. Al dan Bella berjalan ke lantai dansa dan mulai berdansa, sesaat kemudian orang-orang mulai ikut berdansa juga. Aku berdiri untuk mengambil penganan yang dibawakan pramusaji.

"Rose?" tanya sebuah suara di belakangku. Aku berbalik dan memandang seorang cowok berjubah coklat berambut hitam.

"Ya?"

"Aku Alvin, teman Fred... maukah kau berdansa denganku?"

Alvin? Ya, ampun! Freddy! Ternyata dia serius. Aku memandang mencari-cari Fred di tengah-tengah kerumunan dan melihatnya sedang berdansa bersama pacarnya, Agatha. Aku mendelik padanya, Fred melambai sambil tersenyum.

"Eh... Rose?"

"Oke... ayo kita berdansa!"

Dia membawaku ke lantai dansa dan kami berdansa selama beberapa saat. Dia bertanya tentang pekerjaanku dan aku menjawab dengan anggukan dan gelengan kepala yang mungkin membuatnya sebal dan akhirnya meninggalkanku. Aku bersyukur dan berjalan kembali ke tempat dudukku. Aku melihat Scorpius sedang berdansa dengan Janice. Aku memalingkan wajahku dan berjalan ke luar tenda. Memandang langit yang sudah mulai gelap.

"Rose!" seru Lily berjalan mendekatiku. "Mengapa kau membuat Alvin jengkel?"

"Aku sedang tak ingin berdansa, Lily, aku sedang tidak menikmati acara ini."

"Kau akan membuat Fred dan Al sedih."

"Lupakan mereka! Aku..."

"Rose!" seru suara lain yang sangat aku kenal dan harapkan.

"Scorpius!" kataku berbalik memandang Scorpius.

"Mana pacarmu?" tanya Lily.

"Sedang mengambil minuman!" jawab Scorpius kemudian memandangku. "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Rose, setelah bertahun-tahun... bagaimana kabar Selandia Baru?"

Aku melongo memandangnya. 'Senang bertemu denganmu lagi setelah bertahun-tahun'? BERTAHUN-TAHUN? Bukannya kami baru bertemu semalam, bahkan tidur bersama? Apakah ini pertanyaan untuk orang yang baru saja berbagi keintiman bersamamu semalam? Apakah Scorpius sedang membuat lelucon? Aku mengawasinya lebih teliti dan memang Scorpius sedang tidak mencoba melucu.

"Kau sinting, ya? Semalam kalian baru saja bertemu," kata Lily memandang Scorpius dengan tajam.

"Benarkah?" tanya Scorpius bingung.

"Berarti semalam mabukmu benar-benar parah sampai melupakan orang yang bertemu dengamu," kata Lily.

Melupakan orang yang bertemu denganmu, juga melupakan apa yang kau lakukan pada orang tersebut. Jadi Scorpius juga tidak ingat kalau dia tidur denganku semalam, aku tidak tahu apakah ini berita bahagia atau berita menyakitkan. Aku ingin tersenyum karena kupikir ini berita bahagia, tapi tidak bisa. Aku adalah kencan semalamnya dan kisah kami berakhir di sini.

"Rose!" Scorpius menatapku, "Maukah kau berdansa denganku... Janice sedang tidak ada."

Aku memandangnya dengan marah. Jadi kalau ada Janice dia tidak akan mau berdansa denganku? Apakah dia hanya mau bersenang-senang denganku tanpa sepengetahuan pacarnya? Ya, seperti semalam, semalam dia sendirian karena itu dia mendekati aku. Kalau pacarnya ada tidak mungkin dia mendekati aku. Mungkin saja dia berpura-pura tidak mengenalku.

"Mau tidak?" tanya Scorpius.

"Terima kasih, Scorpius, tapi aku tidak ingin berdansa," jawabku sopan dan dingin.

Scorpius memandangku heran.

"Dia sedang tidak ingin berdansa, Scorps," kata Lily, "Itu pacarmu datang."

Aku memandang Janice mendekati kami dengan membawa dua minuman.

"Ayo, Lil, kita harus berfoto bersama pengantin!" kataku, menyeret Lily pergi, sebelum Janice tiba di tempat kami.


Scorpius' POV

Aku memandang Rose dan Lily berjalan pergi meninggalkanku. Rose sudah benar-benar berubah dalam penampilan, tapi sikap kasarnya masih tetap sama.

"Siapa yang bersama Potter?" tanya Janice, memandang Rose.

"Rose Weasley? Kau ingat dia? Dia di Gryffindor... anak perempuan Mr. Weasley."

"Rose... Rose..." kata Janice sambil berpikir. "Jadi dia..."

"Jadi dia apa?"

"Wanita yang kau cintai tentu saja!" jawab Janice memandangku dengan heran, seolah aku orang bodoh yang tidak tahu bahwa Gringgots ada di Diagon Alley.

"Wanita yang aku... apa?"

"Scorps, jangan bertingkah seperti orang bodoh begitu! Aku tahu kau mencintainya."

"Bagaimana? Aku tidak menyimpan fotonya didompetku atau sesuatu yang seperti itu."

"Memang, tapi kau selalu menyebut namanya saat kau bercinta denganku. Kau selalu berpikir bahwa aku adalah Rose."

"Tidak! Aku tidak seperti itu!" kataku bergerak mundur selangkah. Tidak mungkin! Aku... aku TIDAK!

"Kau seperti itu, Scorps... harusnya kau bertanya pada wanita-wanita lain yang tidur denganmu."

"Aku..."

"Aku tidak apa-apa, karena aku tidak mencintaimu. Aku cukup nyaman bergaul denganmu seperti yang kita lakukan sekarang."

Dia memandangku sesaat.

"Nah, kalau kau mencintainya, pergilah, bilang padanya kalau kau mencintainya."

"Tidak semudah itu,"


Review Please!

Riwa Rambu.