Updatenya lama yaaa? Maaf ya, aku masih mikir lanjutan ceritanya. Wkwkw maklum masih newbie. Sebelumnya makasih sudah di read&review ya minna~ maaf kalau ada typo dan teman-temannya
Happy Reading \^-^/
Chapter 2.
Syuuts- dengan cepat Kurenai pergi karena dia sudah terlambat. Mirai yang melihatnya tentu saja langsung menangis.
"Huwaaaaa… Mama! Mama! Jangan pergiiiii! Huwaaaa!" belum pernah Naruto mendengar tangisan anak kecil sekencang ini.
"Sssst! Hey! Diam! Jangan menangis terus !" Bagaimana Naruto tidak membentaknya, dia sangat kesal akan tangisan berisik itu.
"Jangan bentak dia, Naruto-kun! Dia itu masih kecil dan sensitif! Bentak Hinata. Ini kedua kalinya Hinata menasehati Naruto setelah perang ninja.
"Oh maaf, Hinata."
"Cup… cup.. jangan nangis sayang, ayo kita masuk ke dalam…" Hinata mengelus-elus punggung Mirai supaya ia berhenti menangis
Mirai yang menangis berhenti setelah melihat Hinata yang menggendongnya. Dia tidak sadar bahwa Hinatalah yang menggendongnya dari tadi. Dia sudah mengenal Hinata karena setiap tim Kurenai latihan, Kurenai selalu mengajaknya.
"Kyaaa~ Hina nee-chan! Ayo kita maiiinnn!" Ajak Mirai.
"Eh, kenapa dia mengenalmu, Hinata?" Naruto heran.
"Tentu saja, karena kalau Kurenai-sensei membawanya latihan, aku sering mengasuhnya dan mengajaknya main, karena itu dia sudah akrab denganku."
"Oooh.. itu sebabnya Kurenai-sensei mengandalkanmu untuk mengasuhnya."
"hehe, begitulah, Mirai-chan juga akrab dengan Kiba dan Akamaru, kok"
"Bagaimana dengan Shino? Apa dia akrab dengannya?" Naruto heran kenapa Mirai hanya akrab dengan Hinata, Kiba dan Akamaru padahal selama ini mereka selalu bersama-sama
"Ngg… Shino-kun tidak pernah ikut main dengan kami, lagi pula, wajahnya selalu ditutup-tutupi jadi dia tidak mengenal Shino-kun…"
"Pantas saja. Sudah kuduga dia pasti seperti itu."
"Haha, Shino-kun memang seperti itu.."
Tidak terasa mereka sudah sampai ke depan pintu apartemen Kurenai.
"Mirai-chan main sama Naruto-kun dulu ya, aku mau melihat catatan2 dari mamamu."
Hinata langsung menurunkan gendongannya dan bergegas ke dapur untuk melihat catatan2 itu.
"Hai Mirai-chan, Namaku Naruto Uzumaki. Aku adalah kandidat hokage no.1 di Konoha!"
Naruto melakukan ritual pengenalan dengan Mirai. Wajar saja, mereka baru dua kali bertemu dengannya, pertama dengan Shikamaru saat ia masih diperut, dan kedua saat ini, saat dia sudah agak besar.
"Na..Naoto" jawabnya. Dia memang masih cadel. Jadi tidak bisa mengucapkan Naruto dengan jelas.
"Bukan Naoto, tapi Naruto!"
"Na..Nato"
"Ya, ya sedikit lagi! Ayo ucapkan Naruto!" naruto greget melihat Mirai yang masih cadel. Jarang-jarang dia melihat anak kecil yang lucu.
"Nauto"
"Ya, terus, kau pasti bisa, ayo ucapkan Naruto! Na-ru-to!"
"Na.. Naoto"
"Kok Naruto lagi? Kau mengejekku ya? Naruto mulai kesal karena Mirai tidak bisa mengucapkan 'Naruto' dengan benar.
"Na-Naruto" setelah bersusah payah, akhirnya dia bisa juga mengucapkan 'Naruto' dengan benar.
"Waah! Kau hebat! Akhirnya kau bisa juga mengucapkan 'Naruto'! hehe"
Naruto mengangkat Mirai tinggi-tinggi lalu Naruto berputar-putar dengannya karena senang akhirnya Mirai bisa mengucapkan namanya.
"Kyaaa… Kyaaa… Hahaha" Mirai sepertinya senang bermain dengan Naruto. Begitupun Naruto. Dia belum pernah bermain dengan anak kecil sebelumnya.
"Kau senang, ya? Waaah lucunya~~… kalau begitu kita lakukan lagi."
Naruto dan Mirai pun jadi akrab dalam waktu yang singkat
"Sepertinya kalian sudah akrab ya, hihi"
Melihat Naruto dan Mirai yang sedang bermain, rasanya Hinata seperti melihat seorang ayah dan anaknya.
"Aah, Hinata, sudah selesai melihat catatan... aaah! Jangan memencet-mencet hidungku, Mirai-chan!"
"Kyahahaha! Naruto nii-chan lucu~" Mirai yang baru akrab dengan Naruto terlihat bahagia bermain dengannya.
"Wah, bahkan dia sudah tahu namamu. Aku saja hanya dipanggilnya 'Hina'."
"aaah Hina-nee chan! Ayo main dengan Naruto nii-chan!" Miraii yang menyadari kedatangan Hinata langsung berlari ke arahnya dan mengajaknya main.
"Sebentar, Mirai-chan, aku harus menyiapkan makan untukmu, untukku, dan untuk Naruto-kun.. kau main saja dulu dengan Naruto-kun, nanti aku menyusul.." Hinata membungkukkan badannya agar mudah bicara dengan Mirai yang kecil.
Mirai pun berjalan ke arah Naruto dengan wajah penuh kecewa sambil membungkukkan kepala mungilnya itu.
"Kenapa kau sedih, Mirai-chan?" Naruto kasihan melihat wajah lucu Mirai berubah menjadi sedih.
"Hina nee-chan tidak mau bermain denganku…."
"Bukan begitu, dia sedang membuatkan makanan untuk kita."
"Jadi Hina nee-chan mau main?"
"Ya, tapi kita harus makan dulu"
"Aku tidak mau makan!"
"Eeeh, Kenapa?"
"Aku mau main!"
"Dasar anak kecil. Yang ada dipikirannya hanya bermain. Tapi kan kau harus makan. Kalau tidak makan nanti tidak boleh main looohh~~" Naruto rupanya senang menggoda anak kecil.
"Makanannya sudah siaaap~~!" Hinata yang datang dari dapur membawakan 2 porsi bento ddan seporsi makanan untuk mirai yang kelihatannya enak. Sedangkan Mirai masih saja asyik dengan balok-balok mainannya
"Waaah… Hinata.. ini semua kau yang buat?" Naruto terkesan melihat bento berbentuk dirinya yang kelihatannya enak
"Ya, tentu saja, ano.. aku tidak tau harus membuat apa, jadi aku buat saja bento sederhana ini."
"Kau bilang ini sederhana? Bento ini seperti masakan yang dijual di restoran mahal, tahu!" Naruto terkejut mendengar Hinata menyebut masakan seperti ini masakan sederhana.
"Ahaha, menurutku sih sederhana, karena aku sudah biasa membuat yang seperti ini." Jawabnya ringan.
"Berarti, kau bisa memasak masakan yang lebih sulit dari ini, dong?"
"Ya begitulah, aku sudah bisa memasak banyak masakan kok, lagipula, aku memang suka memasak, hehe"
"Oohh.. Beruntung sekali ya, orang yang akan jadi suaminya Hinata, sudah cantik, baik, pintar memasak, perhatian, pengertian, pintar masak pula…" Puji Naruto sambil mengeluarkan senyum khasnya.
Hinata speechless sejenak. Wajahnya benar-benar memerah. Belum pernah ada yang memujinya seperti ini. Apalagi saat ini orang yang memujinya adalah orang yang sangat dicintainya. Hinata benar-benar sangat senang dan tidak tau harus berkata apa.
"Naruto-kun…."
"Ya, Hinata?"
"A-aku… aku akan melakukan yang terbaik untukmu… " tidak seperti dulu, sekarang Hinata sudah berani mengatakan yang ingin ia katakan.
"Hinata, kau ingat, dulu sekali saat kita masih genin, kau membuatkan onigiri berbentuk wajahku?" Naruto bertanya dengan tatapan intens. Membuat wajah Hinata semakin memerah.
"Ya, aku ingat. Memangnya kenapa?"
"Waktu itu aku mengatakan, kau akan jadi istri yang baik" "dan sepertinya aku sudah melihatnya dari sekarang. Melihat bahwa kau memang istri yang baik." Jawabnya sambil tersenyum lebar khasnya.
"Arigatou,Hinata"Greb! Naruto memeluk Hinata secara refleks, Hinata hanya tersenym kecil dan membalas pelukan Naruto.
"N…Naruto-kkun.." Tubuh Hinata sangat lemas. Nafasnya tidak beraturan. Dia benar-benar sudah tenggelam dalam pelukan hangat Naruto yang jarang sekali ia rasakan, namun sangat dinantinya.
Mereka berpelukan dalam waktu yang lama, lama sekali. Tidak ada salah satupun dari mereka yang ingin melepaskannya. Terlalu larut dalam kehangatan. Saat memeluknya, rasanya Naruto sudah tidak merasa kesepian lagi dalam hidupnya.
…dan entah kenapa makin lama Naruto merasa semakin berat memeluk Hinata
"Hinata… Hey..? apa kau…ah, rupanya dia tertidur."
Karena terlalu lama berpelukan dengan Naruto, Hinata tertidur dengan pulas. Sepertinya Hinata kecapekan.
Naruto yang melihatnya tertidur dengan pulas segera memindahkannya ke sofa terdekat. Diambilnya selimut dari kamar Kurenai-sensei untuk menutupi badan Hinata agar dia tidak masuk angin.
Imut sekali, pikirnya ketika melihat wajah Hinata yang sedang tertidur pulas
"Hinata ternyata imut banget kalau lagi tidur ya, hehe"
"Naruto nii-chaaan, aku lapar…" Mirai yang terlupakan menarik-narik baju Naruto karena kelaparan, ya bagaimana tidak kelaparan, daritadi dia di acuhkan oleh Naruto dan Hinata.
"Gawat! Aku lupa! Ayo kita makan, Mirai-chan, kenapa aku bisa lupa begini sih?"
Ditariknya tangan kecil Mirai menuju meja makan. Naruto belum pernah sama sekali menyuapi seorang anak kecil. Dia takut salah jika ada apa-apa, ingin minta bantuan Hinata, tapi dia sedang tertidur pulas. Naruto tidak tega membangunkannya saat melihat wajah imutnya yang sedang tidur itu.
"Ayo etto.. Mirai-chan, buka mulutmu, ya"
"aam"
"Bagaimana, enak tidak?"
"Enak!"
"Syukurlah, kalau begitu ayo buka mulutmu lagi"
Bukannya melahap suapan dari Naruto, Mirai malah berlarian, ya maklum, anak kecil memang tidak bisa diam.
"Oii, tunggu, Mirai-chan! Jangan lari! Huh, dasar bocah" Naruto mulai kesal, ternyata mengasuh anak kecil tak semudah yang ia bayangkan.
Suapan demi suapan sudah diberikan Naruto walaupun ia sambil berlari-lari mengejar Mirai. Walaupun capek, akhirnya makanan itu habis juga, pikirnya.
"Aah.. akhirnya habis juga, kau sudah kenyang kan, Mirai-chan?"
"Sudah"
"Huwaa, capeknya, padahal cuma menyuapi anak kecil saja, istirahat dulu aah.."
"Naruto nii-chan, ayoo kita maiin!" baru saja Naruto melemaskan otot-ototnya, Mirai sudah mengajaknya main.
"Apa kau tidak capek dari tadi berlarian terus? Aku saja sudah capek mengejar-ngejarmu yang tidak bisa diam!" Ya, kalau kita sedang capek memang suka emosi. Begitu juga Naruto.
"huwaaaa… Naruto nii-chan tidak mau bermain denganku! Huwaaa"
"Ssst!iya, iya, kita main, tapi kau jangan menangis! Nanti Hinata bangun!"
Terpaksa Naruto harus menemaninya bermain, daripada dia menangis.
"Huwaaah… Ngg.. jam berapa ini…?"
Hinata yang terbangun terkejut melihat jam yang ternyata menunjukkan pukul tiga sore. Ternyata dia sudah tertidur selama tiga jam. Khawatir dengan Mirai yang pikirnya belum makan, Gadis Hyuuga itu segera mencari Mirai di semua ruangan, dilihatnya mainan-mainan yang berantakan berceceran di ruang tengah, tentu saja mainan itu milik Mirai.
Tapi di ruang tengah tidak ada Mirai maupun Naruto, setelah dilihatnya kamar tidur, Hinata menemukan Naruto yang sedang melemaskan otot-ototnya dan.. Mirai yang sedang tertidur.
"Naruto-kun, kenapa Mirai-chan tertidur?"
"Sst.. pelan-pelan, Hinata, nanti dia terbangun"
"Ah, maafkan aku Naruto-kun, ano.. apakah Mirai-chan sudah makan?"
"Sudah ko, aku yang menyuapinya. Bahkan dari tadi aku bermain dengannya, sampai kelelahan begini, Hehe"
"Benarkah? Maafkan aku, Naruto-kun, gara-gara aku tertidur, kau jadi kerepotan begini.."
"Sudahlah, tidak usah minta maaf."
"Lagipula Naruto-kun kan bisa membangunkanku"
"Aku tidak tega membangunkanmu, habis wajahmu imut sekali sih, lagipula sudah ku bilang, kan? Ini latihan untuk masa depan nanti. Aku tidak mau jadi suami yang tidak bisa apa-apa, Kalau aku tidak bisa diandalkan, Nanti Hinata akan kerepotan, kan? hehe"
Wajah Hinata memerah(lagi) bagaimana tidak memerah, Seorang Naruto Uzumaki yang sembrono itu, bisa jadi romantis begini? Apalagi ditambah senyuman hangat khasnya.
"Aah.. emm.. yo-yokatta, Naruto-kun"
"Ohya, kau belum makan kan, Hinata? Ayo kita makan, selago Mirai-chan sedang tidur, jadi kita bisa makan dengan tenang"
"Loh, memangnya, Naruto-kun belum makan? Tidak sekalian makan dengan Mirai-chan?"
"Aku sengaja menunggumu bangun supaya kita bisa makan bersama, lagipula, makan sendirian itu kan gak enak"
"Kau baik sekali, Naruto-kun.. Arigato…"
Di meja makan….
"Nah, Itadakimasu, Naruto-kun!"
Hinata langsung memakan masakannya sendiri dengan lahap saking laparnya. Tapi, Naruto hanya diam saja daritadi dan menatap Hinata yang sedang makan
"Naruto-kun kok, tidak makan? Tidak enak ya?"
"Enak sih, tapi lebih enak lagi kalau disuapin Hinata , suapin aku dong, Hinataa"
Belum pernah Hinata melihat Naruto semanja ini, memang Naruto selama ini selalu makan sendirian dirumahnya, kasihan juga dia, pikirnya.
"Ahaha, Naruto-kun ada-ada saja. Baiklah, Nih, ayo aaa"
"Aaam"
"Enak bangeett, lagi dong, Hinata, hehe"
"Fufufu.. kalau begitu ayo buka mulutmu lagi, ayo aaa"
"aaa"
Ternyata arah sendoknya berbalin, bukannya masuk ke mulut Naruto, Hinata malah memasukannya ke mulutnya sendiri.
"Aaah.. Hinata jahat! Padahal aku sudah membuka mulutku lebar-lebar!"
"Hihi, gomen Naruto-kun, aku kan lapar juga"
"Kalau begitu sekarang aku yang menyuapimu, ayo aaa"
"aaam"
"Sekarang Naruto-kun yang aaa"
"aaam"
Tidak terasa makanan mereka sudah habis. Kemesraan mereka rasanya benar-benar cepat berlalu
"Sudah habis ya, kalau begitu, aku ambilkan minum dulu ya, Naruto-kun"
"Baiklah"
Tidak sampai satu menit, Hinata sudah kembali membawakan 2 cangkir teh hangat.
"Nah, ini minumnya, Naruto-kun."
"Arigato Hina.. Ng, ah, kau ini! Pipimu banyak bekas saus tomat,tuh!"
Hinata segera mengelap pipinya, tapi sayangnya, dia salah mengelap, yang harusnya dilap pipi kanan malah pipi kiri yang dilapnya. Memang, Naruto kurang lengkap memberitahu letak bekas saus tomat itu.
"Bukan disebelah situ, Hinata, tapi disini.."
Naruto menempelkan tangan besarnya ke wajah Hinata, diusapnya bekas saus tomat itu dengan lembut olehnya. Naruto dan Hinata tidak menyadari bahwa saat ini jarak wajah mereka sangat dekat. Mata biru langit dan mata lavender mereka kini saling menatap lekat-lekat. Warna merah muda kini menghiasi wajah mereka.
"Hinata.…"
Naruto mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata, tangan besarnya masih menempel di wajahnya, Hinata yang sudah tahu apa yang akan dilakukan Naruto pun hanya diam dan memejamkan mata lavendernya yang tadinya menatap mata biru langit Naruto lekat-lekat.
Wajah mereka semakin dekat…
Semakin dekat…
Dekat….
-Bersambung-
Segini dulu ya minna-samaa nanti aku update lagi ya di review ya minna, tapi jangan pedes-pedes, aku masih newbie soalnya, hehe
Arigato sudah membaca ^-^b
