~ Are You, Shemale? ~

Pairing : SasuNaru slight ItaKyuu

Rate : M

Genre : Romance

Disclaimer : Masashi Kisimoto

Warning : YAOI, BOYxBOY, AU, typo's, tidak berpatok/? pada EYD, kata2 amburadul/?, dan masih bnyak lagi kesalahan2 saya dalam menulis ff hehe..
.

.

.
a/n: yoo, i'm backkkk *dadah2 gaje/plak oh ya ampun bnyak yang ngeraguin ff ini ya? hiksu SERIBU PERSEN ES/EN kok maapkan diriku yang err-mungkin buat kalian ragu dan jijik dengan karakter sasuke disini, tapi itu cuma di AWAL aja.. aku harap kalian mau bersabar buat kedepannya.. soalnya kan gak seru kalau langsung ke es/en hehehe.. oke deh, silahkan dilanjut aja membaca ffnya.. moodku jujur aja kurang baik, jadi sekali lagi maap kalau ffnya gajeboss bnget..
.

.

.
/Tidak Suka?/
/Jangan Dibaca/
.

.

.
/ SEKALI LAGI INI SASUNARU bukan NARUSASU, JADI MOHON BAGI YANG MUNGKIN SAJA SUDAH SALAH MASUK/? MENDING DI SETOP AJA, SEBAB GUA GAK MAU DIBILANG SEBAGAI AUTHOR PHP or PLIPLAN/

~ DrakKnightSong ~
.

.

.
~ Happy Reading ~
.

.

.
_ Universitas Konoha _

Itachi berjalan cepat menuju kantin sekolah untuk menemui kedua sahabat sejatinya. Semalam ia sudah menghubungi keduanya untuk bertemu dan membahas masalah sang adik secepatnya, lagipula yang membuat ide racikan itu kan mereka berdua, bukan Itachi. Jika saja ia tahu akan seperti ini akhirnya, lebih baik ia mungkin ia tidak akan membiarkan sang adik melakukan itu semua, dan daripada menggunakan sang adik, kenapa tidak sekalian menyewa wanita tulen saja? Karena Itachi merasa itu tidak terlalu merepotkan sang adik. Tapi seperti kata pribahasa 'Nasi sudah menjadi bubur' segalanya sudah terjadi, tidak ada gunanya terus-terusan menyesali itu semua dan yang saat ini harus ia lakukan adalah dengan segera membuat penawarnya. Lalu sang adik bisa kembali hidup normal.

Tap Tap Tap

Kedua kaki jenjangnya melangkah mantap, melewati berbagai macam pasang mata yang menatap penuh tanya pada kondisi wajah babak belurnya, ulah dari amukan sang adik kemarin. Dan jika boleh jujur, ia tidak terima dengan perlakuan sang adik yang terkesan pilih kasih itu, kenapa cuma dia yang mendapatkan pukulan, sedangkan kedua sepupunya yang lain, terutama Obito yang sudah memberikan perekat yang-entah-apa-itu pada rambut palsu sang adik. Dan Itachi sudah menyiapkan kekuatan penuh untuk memukul kedua sepupunya itu. Mungkin ini terkesan kejam, tapi Itachi tetap tidak terima jika hanya dirinya yang merasakan sakit pada wajah tampannya. sedangkan mereka tidak.

"Huh, enak saja" dengusnya, kesal. Manik onyxnya melihat kedua sepupunya yang sibuk dengan makanannya, seringaian jail dan penuh dendam ia ukirkan. Tanpa perduli suasana kantin yang ramai, Itachi mulai mengepalkan tinjunya, yang sesampainya didekat kedua sepupunya, ia dengan segera melayang pukulan tercepatnya kepada dua orang didepannya yang saat ini tengah terkapar diatas lantai. Bahkan dapat ia lihat kedua sepupu menatapnya syok.

"Itu salam rindu dari Sasuke untuk kalian" katanya kalem, orang-orang dikantin itu langsung menghentikan sejenak acara mereka ketika mendengar suara gaduh yang ternyata berasal dari para Uchiha.

Obito dan Shisui segera berdiri dari terjatuhnya, dan menatapnya nyalang , tidak terima.

"Kau ini apa-apaan sih Itachi? Gila ya? Ishh, emangnya enggak sakit apa" Obito mengusap gemas pipinya yang nyut-nyutan tingkat 'Z' (zuperr). Astaga pukulan yang dilayangkan sulung Fugaku itu benar-benar tidak main-main rasa sakitnya. Aduh, Obito sempat panik jika ada giginya yang patah, dan ia bernafas lega ketika tahu giginya masih utuh serta komplit. Dengan penuh rasa jengkel plus kesal, Obito segera berdiri dari terjatuhnya, efek dorongan dari pukulan Itachi yang bisa dikatakan 'cukup' cepat. Ia pikir tadi itu ada angin topan, lalu sebuah benda semacam kayu terbang kearahnya dan memukul tepat dipipinya. Tapi kenyataannya? Itu semua ulah Itachi. Brengsek!

Itachi yang mengetahui kemarahan Obito padanya, hanya bertindak kalem dan bersikap tenang, seolah-olah kejadian beberapa menit lalu itu hanyalah suatu kejutan yang terlalu 'waw' mengejutkan kedua sepupunya.

Beda Obito, beda juga dengan Shisui. Pemuda yang lebih tua beberapa bulan dari Itachi dan Obito itu hanya melayangkan deathglare terbaiknya saja, tanpa mendumel ataupun berspekulasi(?) apapun pada sulung Fugaku. Shisui sudah menyiapkan 'sambutan' yang akan Itachi berikan dipertemuannya ini, setelah kemarin malam pemuda berkuncir itu menghubunginya serta menceritakan mengenai bungsu Fugaku yang mengamuk pada Itachi. Membuat Shisui yang sudah mengetahui sifat Itachi itu, mempersiapkan mental/? jika secara tiba-tiba Itachi bertindak kejam padanya. Dan ternyata dugaannya benar, sulung Fugaku itu memang merasa kesal dan langsung memukul begitu saja tanpa permisi/? terlebih dahulu. Jika boleh jujur, yang tadi itu benar-benar tidak terduga sama sekali, ia bahkan tidak mengetahui kedatangan Itachi.

Masih mengusap sebelah pipinya yang tadi terkena pukulan 'amazing' dan 'suprise' banget, baik Obito maupun Shisui segera saja mengambil posisi duduk seperti beberapa saat yang lalu.

"Jadi, sampai tadi pagi pun, rambut serta suaranya Sasuke masih seperti dua hari yang lalu?" tanya Shisui dengan sesekali meringis kesakitan.

Tanpa perduli kondisi kedua pemuda didepannya, Itachi mengangguk kalem sebagai jawaban, "Bahkan sejak kemarin sampai tadi pagi, Sasuke masih ngambek padaku. Haishhh, lagi pula kenapa bisa jadi seperti itu? Dan kau Obito, lem apa yang kau gunakan pada rambut palsu itu, hah?" tanyanya geram, menunjuk-nunjuk wajah Obito dengan garpu mie milik Shisui.

Obito sedikit memundurkan wajahnya, takut jika garpu itu menggores wajah tampannya. Menyingkirkan gemas garpu yang Itachi todongkan didepan wajahnya, "Kata bibi Kotoko itu lem yang biasa dipakai untuk merekatkan lebig lama rambut palsu, err-aku lupa nama perekatnya apa. Tapi, bibi Kotoko bilang lem yang kemarin dipakai tidak sampai seminggu kok" jelasnya cepat-cepat, begitu melihat pemuda didepannya hendak memukulnya.

"Yakin hanya seminggu?" Obito hanya nyegir kaku sebagai pertanyaan ragu Itachi, "Astaga" desah sang sulung, memijat pangkal hidungnya.

Shisui menepuk prihatin pundak lebar Itachi, "Lebih baik sekarang, kita buat ramuan penawarnya agar suara Sasuke kembali. Aku lupa satu hal mengenai ramuan pengubah suara itu, seharusnya sesudah Sasuke meminum ramuan itu, dia langsung minum air dingin. Astaga, maafkan kecerobohanku, Itachi" tuturnya, benar-benar menyesal.

"Itu tidak sepenuhnya salahmu-" Itachi menggelengkan kepalanya, tidak setuju. "-yah, kau benar lebih baik kita buat ramuan penawarnya" lanjutnya. Pikirannya melayang kembali pada beberapa hari sebelum 'kasus' Sasuke menjadi perempuan. Waktu itu Itachi, Shisui dan Obito tengah melajukan mobil milik sulung Fugaku dijalanan dengan kecepatan diatas rata-rata, untung saja saat itu suasana jalan menuju kampus tidak ramai, sehingga memudahkan mereka untuk menyalip berbagai kendaraan yang menurut mereka sudah menghalangi jalan. Namun, tepat dipersimpangan jalan sekitar sepuluh meter menuju kampus, sebuah mobil sport keluaran terbaru yang tengah parkir disisi jalan tidak sengaja mereka 'cium'. Bukan, bukan karena mereka sengaja melakukan hal itu, akan tetapi seekor anjing milik anak kecil tiba-tiba berlari ketengah jalan untuk mengambil bola sang bocah yanh menggelinding itu. Mereka yang melihat itu, langsung membantingkan setir ke kanan, dan tanpa diduga disana tengah terparkir mobil mewah milik pemuda itu. Dan yeah, si pemilik mobil yang ternyata pemuda Namikaze itu menuntut ganti rugi pada mereka, hanya saja yang namanya anak kampus pastilah tidak akan mempunyai uang sebanyak itu untuk mengganti rugi mobil sang Namikaze yang tanpa sengaja mereka 'cium'. Karena ketidak sanggupan Itachi dkk dalam mengganti rugi, akhirnya sebagai gantinya, kartu ATM merekalah disita. Yang katanya sih akan dikembalikan jika mereka sudah melunasi.

Awalnya mereka tidak masalah dengan kartu ATM itu, dan dalam selang dua hari mereka sudah melunasinya berkat bantuan Fugaku yang dengan baik hati mau membantu mereka. Tapi entah kenapa kartu ATM mereka belum juga dikembalikan oleh pemuda Namikaze itu, sampai akhirnya mereka merasa jengkel, lalu dengan pikiran gila mereka memutuskan untuk mengambil 'paksa' kartu mereka. Dan yeah, selanjutnya kalian sudah mengetahui kisahnya.

Brak

Itachi dan Shisui yang saat itu tengah melamun langsung terperenjat kaget, begitu Obito tiba-tiba memukul meja kantin. Seketika kedua manusia yang merasa terganggu pun melayangkan tatapan tajam terbaik milik mereka, Obito nyengir kaku menanggapinya.

"Andai saja si rubah buluk itu tidak menahan ATM kita, aku jamin kejadian ini tidak akan terjadi" desah Obito, jengkel. Kedua tangannya mencengkram erat pinggir meja, "Aishh benar-benar deh rubah buluk itu"

"Siapa yang kau maksud Rubah buluk, Obito?"

DEGH!

Seketika ketiga pemuda itu merasa jantung mereka copot, mendengar suara tegas dan penuh aura menyeramkan memasuki indra pendengaran. Dengan perlahan mereka menatap kearah asal suara itu terdengar, dan saat itu juga mereka secara serempak menahan nafas bersamaan, ketika melihat sesosok pemuda yang beberapa detik lalu mereka bicarakan ada dihadapan mereka. Menatap mereka dengan begitu tajam.

"H-hallo S-sensei" seperti bukan Uchiha saja, ketiga pemuda tersebut menatap ngeri sosok pemuda lain dihadapan mereka.

"Bagus ya, berani menghina guru. Oh atau kalian sudah merasa nilai kalian sempurna?" pemuda Namikaze yang ternyata Dosen di kampus ketiga Uchiha itu, menatapnya dengan seringaian menyebalkan yang terpantri dikedua sudut bibirnya.

"Ah ya sepertinya kemarin ada yang bermain dengan dompetku. Hm~ dan ATM kalian hilang" Kyuubi menyerai kembali ketika melihat ketiga pemuda didepannya sudah berkeringat dingin. "Ah~ sebenarnya itu sudah beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang mengambilnya. So, aku tidak akan bertanggung jawab untuk hilangnya kartu itu" setelah mengatakan itu, Kyuubi pun melangkah meninggalkan ketiga pemuda yang masih termenung. Entah memikirkan apa.

"Oh ya-" seolah teringat sesuatu, Kyuubi membalikkan badannya untuk memandang Itachi dan kedua sepupunya yang juga tengah menatapnya. "-untukmu Itachi. Sepertinya sepulangmu kuliah nanti, aku menunggumu diruanganku. Hanya ingin membahas 'pencuri' kartu kalian" katanya, yang tanpa peduli apapun, pemuda yang berprofesi Dosen tapi mesum itu langsung pergi, meninggalkan Itachi dkk yang dirundung kepanikan.

"M-mungkinkah dia sudah tahu.." gumam ketiganya bersamaan, dan saling berpandangan satu sama lain begitu sadar tidak akan selamat dari guru killer tersebut.

GLEK

Secara serempak ketiganya menelan ludah, 'Matilah aku. Dia pasti menurunkan nilai kami' jerit mereka frustasi.

"Shisui bukankah seharusnya obat kemarin itu bisa menghapus beberapa memori dalam pikiran orang yang meminumnya? Tapi... K-kenapa Kyuubi-sensei bisa berkata demikian?" Obito mengerang panik setelahnya. Bagaimana ini? Mereka sudah membuat masalah dengan salah satu dosen yang sangat berpengaruh dalam nilai kelulusan mereka nantinya.

"Shisui disini kau yang membuat ramuan itu, dan apa yang dikatakan oleh Obito benar, bagaimana bisa Kyuubi sensei mengingat kejadian itu? Maksud ku dia bisa mencurigai kita?"

"Oh c'mon guys, kita saat itu melupakan beberapa hal penting" jelas Shisui tak kalah paniknya, Itachi dan Obito mengangkat halisnya bingung.

"Hal penting?" beo Itachi dan Obito secara bersamaan yang ditanggapi kerlingan mata bosan oleh Shisui.

Mendengus jengkel Shisui menggelengkan kepalanya melihat sikap lambat kedua sepupunya itu, "Astaga, jadi begini lho sepupu sayangku-" Itachi serta Obito pura-pura muntah saat itu juga mendengar kalimat menggelikan Shisui, "-kalian lupa ya jika Kyuubi Sensei itu orang penting? Dan otomatis anak buahnya ada dimana-mana untuk terus menjaganya? Nah, menurutku sih jika memang benar Kyuubi Sensei itu akan membahas mengenai 'pelaku' pencurian kartu kita, aku yakin anak buahnya lah yang sudah memberitahukan mengenai pelakunya itu, apalagi ketika tahu Kyuubi sensei 'hilang ingatan'. Dalam artian Kyuubi sensei tidak ingat apapun mengenai Sasuke yang selama kurang lebih 2 jam sudah menemaninya" jelasnya sedikit kurang yakin dengan analisisnya sendiri.

Kerutan didahi berponinya terlihat dalam, Itachi membasahi bibir bawahnya yang terkesan kering itu. "Jadi dengan kata lain, ramuan itu akan percuma begitu saja jika ada sesuatu yang bisa mengembalikan ingatannya begitu?" Shisui menganggukkan kepalanya pelan, mulut mungilnya sibuk menguntah mie ramen pesanannya yang mulai mendingin.

"Kalau begitu ramuan buatanmu itu seperti halnya penyakit amnesia dong?" tanya Obito, mengembungkan pipi sebelah kirinya, berpikir sesuatu.

Lagi. Shisui hanya mampu menggerakan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Obito disaat mulutnya penuh mie, menelan mie didalam,mulutnya. Shisui pun berucap kembali, "Sekalipun kita sudah menggantikan kartu tersebut dengan yang palsu, tetap saja akan sulit untuk memanipulasi kebohongan pada ingatannya yang 'lupa ingatan', jika ada bukti otentik/? yang bisa mengembalikan ingatan itu. Dan sialnya lagi kita melupakan fakta penting, jika anak buah Namikaze selalu tersebar dengan membawa kamera. Oh god!" gumamnya, meremas frustasi rambut ravennya.

"Sial" decak Itachi jengkel, merasa bodoh dan sudah menjerumuskan sang adik kedalam masalah.

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Si rubah itu pasti sudah merencanakan sesuatu untuk balas dendam, yeah kalian tahu, bagaimana pun juga kita sudah membohonginya" Obito menghela nafas pelan, lalu menyeruput minuman jeruk miliknya. Ia sedikit mengernyit ketika rasa asam terasa dilidahnya.

"Kita berterus terang dan meminta maaf saja jika begitu"

"APA?" teriak Shisui dan Obito serempak disaat mendengar ucapan 'ngeri' dari sepasang bibir ranum Itachi itu. Lalu keduanya meringis sakit ketika dengan teganya Itachi memukul kepala mereka dengan sendok mie milik Obito. Seketika keduanya menatap sulung Fugaku dengan tatapan Apa-kau-sudah-gila dan apa-kau-tidak-salah-bicara?

Dengan yakin Itachi meng-iya-kan ucapannya barusan, bagaimana pun juga ia tidak ingin membuat sang adik berada dalam masalah. Apalagi saat ini ia sadar betul, dengan siapa mereka berurusan sekarang. Itachi sadar betul siapa itu sosok Kyuubi, sekalipun disini mereka tidak sepenuhnya bersalah, tetap saja ia yakin Rubah setan itu akan merasa sangat marah ketika dirinya dibodohi seperti itu. Dan lagi ketika mengingat saat itu seberapa nafsunya Kyuubi pada sang adik, membuatnya tambah yakin jika pemuda Namikaze itu tidak akan memaafkan begitu saja kepada orang yang sudah mempermainkan dirinya.

"Tapi Itachi-astaga! Aku bahkan sudah dapat membayangkan seberapa kejamnya guru itu akan menindas kita" seru Obito lebay, yang hanya ditanggapi kerlingan bosan oleh Shisui dan Itachi.

"Jangan berlebihan seperti itu" gumam Shisui, mendengus jengah menghadapi sikap panikan Obito, "Bagaimana pun juga disini kita tidak sepenuhnya bersalah, lalu aku malah berpikir rubah itu akan semakin mengamuk jika kita tidak melakukan apa yang Itachi katakan tadi"

Obito mendengus pelan melihat sifat plinplan Shisui, "Jadi yakin nih kita akan berterus terang mengenai kejadian itu? Lalu mengenai Sasuke bagaimana? Maksudnya orang yang udah menjebaknya, apa kita akan melibatkan Sasuke kembali?"

"Tidak. Aku tidak setuju jika lagi-lagi kita melibatkannya, sudah cukup aku membuatnya kerepotan" tolak Itachi cepat, kepalanya menggeleng tidak setuju.

Shisui menganggukkan kepala tanda setuju, "Lebih baik gini deh, kita lihat dulu hasil dari pertemuan antara Itachi dan Kyuubi sensei. Jika memang Kyuubi sensei sudah mengetahui kejadian sebenarnya, maka saat itu lebih baik kita berterus terang" terangnya, disambut senang oleh Itachi.

"Tapi tunggu! Bagaimana jika Kyuubi sensei mempermasalahkan 'wanita' yang ia temui? Yah, siapa tahu beliau ingin sedikit memberi pelajaran pada Sasuke?" Itachi dan Shisui tercenung memikirkannya.

"Benar juga, Obito. Bagaimana pun juga aku yakin Kyuubi sensei akan membahas mengenai itu disela pembicaraan mereka nanti" gumam Shisui, berpikir.

"Mengenai itu biar jadi urusanku. Percuma kita berspekulasi seperti ini, sedangkan kita sendiri belum mengetahui apa benar Kyuubi sensei sudah mengetahui kejadian itu atau belum?" tutur Itachi, menyandarkan punggung lelahnya, "Ah ya! Mengenai Sasuke, aku lupa belum menghubunginya" cepat-cepat Itachi merogoh saku celananya, dan meraih ponsel pintarnya. Lalu menghubungi sang adik.

Tutt Tutt Tutt-

" Otoutou!" pekiknya tanpa sadar, dan ia hanya bisa meringis ngeri disaat mendengar sang adik mendengus diluar sana.

[Berhenti terpekik layaknya gadis, Baka aniki] geram sang adik.

Itachi nyengir kaku mendengarnya, "Maaf maaf"

[Hn] Itachi menghela nafas lelah, disaat sang adik masih saja ngambek dan bersikap dingin padanya.

"Kau masih marah padaku, Otoutou? Aku dan kedua sepupumu sudah membuat kesepakatan untuk membuat ramuan penawarnya, jadi-"

[Jadi lebih baik katakan terus terang apa yang membuatmu menghubungiku. Kau tahu aku tidak bisa begitu saja sembarangan mengeluarkan emosi priaku?]

Lagi-lagi Itachi meringis ngeri menghadapi sikap dingin sang adik, "Oke, maafkan aku. Aku hanya ingin memberitahukan padamu-" menelan ludahnya susah payah, Itachi bersiap menghadapi kemurkaan sang adik. "-aku tidak jadi menjemputmu" cicitnya.

[Hah? Apa katamu?]

GLEK

Manik onyxnya melirik kedua sepupunya yang tengah terkikik pelan, menertawakan dirinya yang tengah ditindas/? sang adik.

"Err-aku tidak jadi menjemputmu. Karena tiba-tiba saja tadi Dosen killerku memberitahukan padaku, jika beliau ingin membahas suatu masalah"

[Ck, kau sudah berjanji akan menjemputku, Baka Aniki! Aku tidak mungkin hilir mudik/? didalam bus memakai pakaian wanita seperti ini. Lagipula itu semua sudah menjadi kesepakatan antara dirimu dan Kaasan!] sembur Sasuke, benar-benar marah.

"Iya aku tahu, tapi aku benar-benar tidak bisa mengabaikan begitu saja pada keinginan Dosenku, Otoutou. Ah atau kau mau bareng dengan Obito? Kebetulan dia bawa mobil" Ujar Itachi, menyeringai ke arah Duo Uchiha lainnya yang tengah menatapnya horror.

Sekandang dengan harimau yang sedang dalam mode ngamuk? God! Itu bukan ide yang bagus untuk keselamatan mereka. Apalagi jika mengingat kembali pada kondisi/? bungsu Fugaku saat ini, hasil dari ulah mereka, apa bisa menjamin kalau Sasuke akan diam saja?

Secara serempak mereka melirik kondisi wajah Itachi yang jauh dari kata 'baik'.

Oh my god!
Itachi saja yang berstatus kakak kandungnya bisa dihabisi begitu, apalagi mereka? mungkin 'menginap' dirumah sakit akan menjadi pilihan mereka nantinya/?

[Apa? Pulang bersama dengan sahabat idiotmu itu? Ck, ak- Tutt tutt tutt]

Hieeeee?
Kenapa sambungannya diputus tiba-tiba? Ck, masa iya pulsanya habis?
Pikirnya, segera mengecek sisa pulsa miliknya.

"Masih banyak, ah" gumamnya, menggaruk kepalanya, bingung.

"Kau gila Itachi? Kenapa kau malah menawarkan kami untuk menjemput bocah bermulut pedas itu? Aku tidak mau, dan belum siap untuk bertemu dengan macam ngamuk itu" sembur Obito kesal, yang dihadiahi jitakan 'cinta' dari Itachi.

Itachi mendengus sinis kearah Obito yang tengah meringis sakit, "Memangnya kenapa hah? Itu semua pantas kalian dapatkan. Memangnya mana yang lebih sakit dibanding seorang pria tulen terjebak dalam keadaan wanita/?, hah?" sengitnya tak kalah marah dan jengkel. Astaga, semenyebalkan bagaimana pun adiknya, ia tidak pernah menganggap sang adik semenakutkan itu, apalagi sampai menjauhinya. Tch, Itachi paling sebal jika ada orang yang menganggap Sasuke layaknya manusia yang patut dihindari begitu.

GREKK

"Eh? Kau mau kemana Itachi?" tanya Shisui kaget melihat sulung Uchiha itu beranjak dari duduknya.

"Ke perpus" sahut pemuda berkuncir itu ketus, seraya menjauhi meja yang tadi sempat ia singgahi/?.

BLETAK!

"Ittai~ astaga Shisui k-kau-Aishhh kalian ini senang sekali sih menjitak kepalaku, hah?" geram Obito mengelus kepalanya, yang lagi mendapatkan pukulan dari kedua sahabat kejamnya ini.

"Kau sadar tidak perbuatanmu barusan membuat Itachi badmood?" sinis Shisui, "Astaga, baka-Obi" gumamnya, menepuk jidatnya begitu pemuda disampingnya baru sadar akan kesalahannya.
.

.

.

_ Markas Kagebunshin _

Disebuah gedung tua pinggir kota Konoha, terdapat beberapa pemuda/pemudi tengah berkumpul dalam satu ruangan yang bisa dikatakan tidak cukup baik ditempati. Ruangan yang tidak terlalu besar tapi masih cukup untuk menampung sekitar lima belas orang itu, dipenuhi botol-botol minuman kosong, beberapa sofa yang sudah usang namun layak pakai, serta pencahayaan yang remang-remang ketika hanya sebuah lampu neon berukuran lima watt menjadi penerang ruangan.

CEKLEK

KREKK

Suara derit pintu yang terbuka, mengalihkan beberapa pasang mata dalam ruangan itu. Seorang pemuda berambut pirang terlihat baru memasuki ruangan minim cahaya tersebut, langkah lunglai mengiri setiap kaki jenjangnya dan menghampiri salah satu sofa kosong. Dengan segera sang pemuda menghempaskan tubuh lelahnya diatas sofa tersebut. Beberapa pasang mata yang sedari tadi memperhatikan sang pemuda sejak kedatangannya, mengangkat sebelah halisnya ketika sadar keadaan pemuda pirang itu jauh dari kata 'baik'.

Seorang pemuda berambut orange mulai menghampiri sosok terbaring tersebut, punggung tegapnya membungkuk ketika sudah berada disamping sang pemuda, jemari panjangnya mengelus surai pirang tersebut. Meminta perhatian.

"Ada apa, hn? Kenapa wajahmu babak belur, Naruto?" tanyanya, begitu pemuda pirang itu balik menatapnya.

Bangun dari acara rebahannya, punggung lelahnya ia sandarkan begitu saja, "Hanya masalah biasa, Pain" sahut Naruto, tampak tidak semangat. Ha'ahh entahlah ia sendiri bingung terhadap dirinya. Kenapa pertemuan tidak sengajanya dengan wanita itu membuatnya bisa sekacau ini? Ck.

"Masalah biasa? Hm~ apa Kimimaru beserta antek-anteknya menyerangmu lagi?" lanjut Pain, seraya mendudukkan diri disamping sang pemuda, "Dei, tolong ambilkan kotak P3K ya" katanya, kepada sosok kuning lainnya, ia sedikit meringis ketika pemuda bernama Deidara itu sibuk mengomel-ngomel tidak jelas disaat acara bersantainya diganggu.

Naruto hanya mendengus geli melihat salah satu seniornya menggerutu seraya menyerahkan benda yang diminta sang 'bos' tentunya secara kasar, "Jangan ganggu aku lagi, Pain! Kau tahu sendiri semalaman suntuk aku sibuk menghabisi bocah-bocah Kumo itu" dumelnya, berlalu begitu saja.

"Ya ya ya, tentu kau sendiri ingat Dei, tidak hanya kau saja yang saat itu datang. Tapi kami semua" seru seorang gadis berambut ungu mengoreksi ucapan Deidara.

"Tapi tetap saja aku lelah dan ingin istirahat" balas Deidara emosi, hidungnya terlihat kembang kempis seperti menahan pup/?.

"Sudahlah Dei, kau ini kekanakan sekali. Pain kan hanya memintamu mengambilkan kotak itu, bukan merawatnya" ucap pemuda berambut merah menjitak surai kuning kekasihnya.

Deidara terpekik kaget, kedua matanya menatap nyalang sang pelaku pemukulan, "Tch, sakit tahu, Danna!" teriaknya, manyun.

Tanpa perduli, Sasori menghampiri Naruto yang sibuk memperhatikan kekasihnya, "Aku dengar dari Sai, kau memutuskannya?" tanyanya, langsung ditanggapi kerlingan mata oleh Naruto.

"HIEEE! K-kau putus dengan Sai? Kenapa? Apa karena hiu itu?" pekik Deidara menghampiri Naruto, kedua matanya berbinar penuh ingin tahu. Jari mungilnya mencolek-colek bahu berotot namun tidak terlalu besar itu untuk meminta perhatian.

Helaan nafas lelah keluar dari kedua bibir ranumnya, dalam hati Naruto mengumpati mulut Sai yang begitu ember, "Aku hanya tidak mau terus-terusan berurusan dengan bocah hiu itu. Dan lagi untuk apa aku pertahankan hubungan yang jelas-jelas sejak awal aku sendiri tidak memiliki perasaan padanya" jelasnya acuh, kedua bahunya bergidik tidak peduli.

Deidara tertawa terpingkal mendengarnya, semua orang ditempat itu menatapnya aneh, "Bagus, Nar! Bagus! Pffft a-aku setuju kau putuskan dia, memang sejak awal aku tidak menyukai sikap jalangnya. Ha'ahh sudah kuduga kau tidak menyukainya" pekiknya, senang. Sebuah seringaian puas terpantri indah dikedua sudut bibir itu.

Sasori beserta yang lainnya hanya menggelengkan kepala melihat betapa puasnya pemuda cantik itu menertawakan nasib pemuda pucat diseberang/? sana.

"Tapi Naruto aku dengar juga kau memutuskan semua Uke-mu, bahkan Gaara pun kau putuskan. Apa ini ada kaitannya dengan Kaasanmu?" sambung Konan bertanya, yang langsung mendapatkan tatapan tidak percaya dari semua pasang mata disana, sedangkan orang yang dibicarakan hanya membaringkan kembali tubuh letihnya, bahkan paha Pain ia jadikan sandaran kepalanya.

"Naruto kau serius? Tumben kau mau menuruti perintah Kaasanmu?" Deidara langsung meringis ketika sang kekasih beserta yang lainnya menatap tajam dirinya, "Aku kan ingin tahu" gumamnya, mengembungkan pipinya sebal.

Sasori yang tidak tega melihat sang pujaan ngambek, langsung memeluk tubuh ramping itu dari belakang, "Jangan bertanya seperti itu, kau tahu sendiri sesentive apa dia jika itu berkaitan dengan Kaasannya" bisiknya, mengecup gemas pipi gembil pemuda didepannya.

"Ne, aku minta maaf" guman Deidara, seraya memperhatikan Naruto yang tidak kunjung membuka suara, sebelah tangannya malah menutupi kedua matanya.

"Ya sudah jika kau tidak ingin bercerita pada kami, lebih baik kamu istirahat saja dikamar, Naruto" ucap Konan menepuk sayang surai pirang sang pemuda.

"Ne" gumam Naruto, beranjak dari acara rebahannya dan berlalu menuju salah satu kamar digedung itu, meninggalkan beberapa manusia yang menatapnya sendu.

"Aku harap ia mau sedikit mengerti dengan semua yang telah Bibi Kushina lakukan dulu" sebuah suara mengintrupsi keheningan yang sempat terjadi, dengan santai pemuda berambut merah jabrik itu menghampiri keempat temannya.

"Pizza?" katanya menujukkan bungkusan yang dibawanya, lalu meletakkan begitu saja diatas meja.

"Dari mana saja kau Nagato?" tanya Pain begitu pemuda tersebut mendudukkan diri ditempat yang tadi sempat ditempati Naruto.

"Biasa, menemui Menma" sahutnya nyengir, sebelah tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Wahh sepertinya hubungan kalian semakin hari, semakin membaik ya" lanjut Pain, siku kirinya menyikut pinggang pemuda Uzumaki itu, usil.

Samar-samar semburat merah muncul diwajah tampannya, menimbulkan tawa bagi semua pasang mata yang melihatnya. Nagato dalam hati sedikit mendumel, tidak suka jika ia dijadikan bahan olokan teman-temannya.

"Tch, diamlah" ketusnya, walau begitu, ada perasaan senang dihatinya karena hubungan yang dulu sangat mustahil bagi mereka, mengingat sifat tsundere akut milik sang pujaan, membuatnya sempat berpikir untuk menyerah saja. Tapi siapa sangka jika ternyata berkat tingkah konyol sepupu kuningnya -Naruto, akhirnya ia dan sang pujaan bisa jadian.

"Ish, wajahmu jadi terlihat seperti pedophil jika terus tersenyum begitu" ucap Deidara bergidik ngeri, membuat Pain dan kedua orang lainnya tertawa geli, disaat Nagato menatap sinis Deidara, dan meminta kembali pizza yang telah dimakan itu.

"No! Kau sudah menawarkannya pada kami, jadi kau tidak bisa mengambilnya lagi!" seru Deidara. melahap habis sisa pizza ditangannya, hingga pipi gembilnya semakin mengembung.

Nagato tertawa puas disaat Deidara terbatuk-batuk karena tersedak, "Rasakan" gumamnya, dihadiahi jitakan 'cinta' oleh Sasori.
.

.

.
Tubuh tan yang terbaring diatas tempat tidur double size, berbantalkan kedua tangan yang disimpan dibelakang kepala, serta kedua manik Shappirenya menatap menerawang kelangit-langit. Tidak perduli suara canda dan tawa yang terdengar dari ruang tengah, niat hati yang ingin tidur buyar disaat bayangan wanita itu menghantui pikirannya.

Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada sosok tersebut?
Tapi bukankah ia seorang gay?
Bahkan seluruh teman serta keluarganya tahu mengenai kelainan seksualnya ini.
Perlu ia akui, daya pesona sosok itu tidak diragukan lagi, walau postur tubuh serta perawakannya 'sedikit' mengganggu wajah cantiknya. Tapi pesona tersebut begitu kuat. Seolah kecantikannya itu mampu membuat kaum gay tingkat akut/? seperti dirinya berbalik memuja hanya dengan sekali lirikan tajam manik Onyxnya.

"Aishh, sepertinya aku sudah gila! Bagaimana mungkin wanita ketus, jutek, serta sok misterius itu bisa dengan mudah membuatku berbalik 360 derajat menjadi Straight? Dan lagi, bagaimana mungkin wanita itu begitu pandai berkelahi? Lalu, kenapa juga aku harus terpesona hanya karena melihatnya pandai bertarung? Aishhh, ini benar-benar gila dan tidak masuk akal" gumamnya, meremas surai kuningnya gemas.

_ FlashBack On _

Waktu jam pulang saat itu masih tersisa satu jam lagi, namun Naruto yang memang paling malas belajar dan mendengarkan tetek bengek/? pelajaran sejarah, membuatnya sangat bosan. Ingin segera pulang ah atau lebih tepatnya kembali ketempat tongkrongannya dipinggir kota. Sebenarnya ini pertama kali baginya menghadiri belajar mengajar, yah walau cuma duduk dan mencorat coret buku tulisnya, tetap saja ini rekor terbaik untuknya. Selama ini ia paling malas mendudukkan bokongnya lama-lama dikursi belajarnya, tapi entah kenapa semenjak memergoki perempuan aneh yang sedang dibully tadi pagi, niatnya yang ingin membolos menguap entah kemana. Sampai akhirnya langkah kakinya membawanya pada kelas, lalu menghabiskan waktu berjam-jam ditempat paling membosankan-baginya-itu. Tidak ada guru yang berani mengusiknya selama ia tidur dikelas, disaat semua guru tahu tabiat dirinya seperti apa.

Memang selama ini Naruto tidak pernah mengikuti belajar mengajar, tapi bukan berarti ia suka berbuat ulah dengan sok jagoan dikelas atau disekolah, ia hanya 'sedikit' bersikap melanggar peraturan saja. Yah, misalnya saja bolos, tidak memakai pakaian benar, sering mengikuti perkelahian dengan sekolah lain, dan memakai anting-anting. Untuk mengganggu ketenangan siswa lain ia tidak pernah melakukan itu, kecuali jika ada orang yang berani 'sedikit' saja mengusiknya, maka saat itu juga jangan berharap dimaafkan. Yaeh, bukan hanya itu saja, posisinya yang sebagai donatur nomor satu disekolah sekaligus cucu dari pemilik sekolah bertaraf internasional itu, membuatnya semakin disenggani oleh orang-orang disekolahnya. Hal itulah yang membuatnya bisa bertindak sesuka hati, toh guru-guru itu juga tidak akan bingung memberinya nilai, karena jika itu berkaitan dengan nilai ia bisa dikatakan jenius. So? seperti yang diberitahu tadi, Naruto hanya 'sedikit' liar saja, tapi masih mampu membedakan hal apa saja yang harus ia lakukan dan tidak dalam lingkungan sekolah.

Tap Tap Tap

Suara langkah kaki mengiri setiap langkahnya, hari ini Naruto tidak membawa motor sport kesayangan dikarenakan saat ia berangkat tadi sang kakak mengajaknya untuk pergi bersama, ditambah lagi sebenarnya jika bukan karena omongan cerewet kakaknya itu, mungkin saat ini ia tengah tertidur nyenyak dikasurnya. Sekalian memulihkan tubuhnya yang terasa remuk akibat pertarungannya semalam. Walau luka diwajahnya sedikit bahkan nyaris tidak ada, tetap saja otot lengan serta badanya terasa ngilu, dan ia saat ini sangat butuh istirahat total.

"Khehehe lihatlah ada siapa disini"

"Huh?" dengan cepat Naruto mengangkat wajahnya untuk menatap kelima pemuda didepannya, desahan malas keluar dari bibir cheery nya disaat tahu siapa yang sedang menghadang jalannya. Manik Shappirenya menatap kesekitar tempatnya berada. Oh astaga! Tidak bisakah hari ini ia mendapati ketenangan? Tubuhnya sangat butuh istirahat saat ini.

Ish, kenapa juga ia bisa melamun sambil berjalan, jadi begini kan akhirnya? pikirnya meruntuki sikapnya yang melamun.

"Namikaze Naruto, suatu kehormatan bisa bertemu denganmu kembali. Hm~ sudah berapa lama ya kita tidak bertemu? Sebulan? Dua bulan? Ah, aku baru ingat satu tahun kita tidak bertemu. Sungguh suatu kebetulan yang menyenangkan, bukan?" lanjut pemuda itu, terkekeh.

"Satosi" sapa Naruto, santai. "Setahun berada disel tahanan bagaimana kabarmu?" lanjutnya bertanya, sebuah seringaian muncul disudut bibirnya ketika melihat pemuda didepannya mengepalkan kepalan tangannya. Terlihat sekali menahan emosinya.

"Yah, cukup membosankan juga, kawan" sahut Satosi dengan penekanan pada akhir kalimatnya. "Seandainya ada kau disana mungkin akan lebih menyenangkan" lanjutnya, menyeringai.

Naruto menampakan gestur terkejut dibuat-buat, " Ah, aku cukup tersanjung mendengarnya" kekehnya, "Tapi bukankah itu sangat tidak mungkin? Karena saat itu para polisi sayangnya tidak menemukan bukti kuat untuk membuatku menemanimu disel besi itu kan?" katanya, kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celana sekolahnya. Manik shappirenya menatap sekitar, ingin memastikan tidak ada polisi. Sejujurnya bertarung siang hari ditambah jalanan sempit dan hanya beberapa meter dari jalan raya berada, sangat riskan baginya untuk mudah tertangkap polisi. Bukan karena kondisi tubuhnya yang tidak fit dan takut tertangkap polisi saja yang membuatnya malas berkelahi, tapi janjinya pada kedua orangtuanya untuk tidak berurusan dengan kantor polisi membuatnya semakin malas bertarung. Jika saja saat ini malam hari serta ditempat yang tepat(sepi), mungkin ia tanpa segan sudah menghabisinya.

"Ada apa Naruto? Apa kau tengah mencari bala bantuan?" tanya Satosi menyebalkan, melalui isyarat matanya ia meminta bantuan temannya memanggil semua sisa anak buahnya agar segera mengepung pemuda Namikaze itu.

Sebuah seringaian kembali tercetak manis dibibir tipisnya, "Sepertinya kalimat itu sangat cocok untukmu, Satosi-kun~" ejek Naruto, begitu ia melihat rombongan pemuda yang tidak lain anak buah Satosi sudah mengelilinginya. Dalam hati ia meringis ngeri harus menghadapi dua puluh lima orang disaat kondisi tubuhnya sangat buruk.

"Bagaimana untuk merayakan keluarnya diriku, kita 'berpesta' Naruto?" ajak Satosi, membuka lebar-lebar kedua tangannya, seringaian puas terpantri dibibir tebalnya. Semua anak buahnya sontak berteriak gembira untuk menyambut 'hidangan pesta' yang sang bos berikan.

"Ow tidak kusangka kau mau repot-repot mengundangku untuk ikut berpesta denganmu" timpal Naruto sangat santai, membuat Satosi berdecih melihat sikap sok santai pemuda kuning tersebut. Sejujurnya dalam hati ia mengumpati dirinya yang tidak membawa motor. Bukan, bukan karena ia pengecut lantas tidak ingin menghadapi mereka semua. Seperti yang tadi dikatakan, Naruto hanya sedang tidak mood bertarung.

Oh ayolah, ia sangat merindukan empuknya tempat tidur, hangatnya selimut, serta wanginya bantal kesayangannya. Jika saja ia tidak mengikuti omongan bawel sang kakak dan tetap tertidur dikasur empuknya, jika saja ia membawa motor sport kesayangannya sehingga ia tidak perlu terjebak dengan musuh menyebalkannya ini, dan jika saja ia tidak melupakan tanggal terkutuk ini, tanggal yang sudah dipastikan keluarnya musuh bubuyutan dirinya ini. Ck, tapi sepertinya percuma saja mau mundur juga, lebih baik ia hadapi terlebih dahulu semampunya. Err-mungkin untuk kali ini ia akan sedikit mengalah -dalam kamus Namikaze Naruto tidak ada istilah menyerah.

"Ayo kita mulai 'pesta' nya, Naruto" dan selesainya kalimat itu, secara bersamaan semua anak buah Satosi langsung menyerang Naruto yang hanya mendesah pasrah.

"Apa boleh buat" desahnya, melemaskan otot-ototnya, lalu dengan tenang Naruto mulai menangkis pukulan lawan disamping kanan kirinya, badannya sedikit menunduk disaat sebuah kaki hampir mengenai kepalanya, dan dengan cepat Naruto melayangkan pukulan tepat pada ulu hati orang tersebut.

BRUKK

Satu orang tumbang, masih ada dua puluh empat lagi. Naruto menangkap sebuah tangan yang terkepal kearahnya menggunakan tangan kiri, yang lalu ia pelintir hingga berbunyi suara tulang yang patah. Tanpa perduli teriakkan pemuda itu, Naruto langsung menendang wajah penuh goresan itu cepat, hingga tubuh itu terpental dan menghantam dinding dengan bunyi nyaring.

"Uww, sakit kah?" gumamnya, sedikit meringis. Dengan cepat kedua tangannya menahan pukulan yang berasal dari arah kanan kirinya, dicengkramnya erat kepalan tangan dalam genggamannya, seakan berniat meremukkan tulang tersebut. Suara jeritan terdengar dari kedua orang itu, lalu diputarnya kedua tangan itu seraya memberikan pukulan beruntun dimulai dari depan lalu sisi kanan kirinya, yang disusul menendang secara bertubi pada penyerang dibelakangnya cepat, dengan kedua orang disampingnya yang menjadi penopang dirinya.

BUK BUK BUK

DUAGH!

BRUK BRUK BRUK

Peluh mulai membasahi kening serta baju seragamnya sehingga memperlihatkan lekuk otot tubuhnya yang mulai terbentuk, hasil dari latihan nge-gym nya beberapa waktu belakangan ini, deru nafas memburu terdengar seiring rasa lelah mulai mengusai dirinya.

"Hosh hosh hosh"

Satosi yang sedari tadi duduk termangu, menikmati pemandangan menarik didepannya, dimana sosok pemuda yang sudah berhasil menjebloskan dirinya kedalam sel tahanan mulai terlihat kepayahan menghadapi anak buahnya. Yah, walau setiap serangan anak buahnya berhasil ditangkis dan ditumbangkan dalam sekali pukulannya, tapi dengan kondisi tubuh sang Namikaze yang sedang tidak fit, akibat penyerangannya pada anak Kumo, Satosi sangat yakin akan sangat mudah baginya untuk melakukan balas dendam. Ia sangat tidak terima, gara-gara ulah Naruto, ia harus mendekam dibalik jeruji besi selama satu tahun, sampai-sampai kedua orangtuanya mengasingkan dirinya seperti ini.

DUAGH!

BRUKK

"Uhuk uhuk uhuk" darah segar keluar dari mulut Naruto ketika sebuah pukulan berhasil mengenai ulu hatinya, tubuh letihnya menabrak dinding dibelakangnya keras. Lalu menimpa tubuh seseorang dibawahnya, musuh yang tadi sudah ia pukul dan tumbangkan.

Sial, tubuhnya benar-benar sudah pada batasnya. Naruto mendesis kesakitan, seraya berusaha bangun dari terjatuhnya. Manik Shappirenya berkilat benci, dan menatap sisa musuhnya yang masih bisa berdiri. Hanya tersisa tujuh orang itupun sudah babak belur, dihajar habis olehnya.

PLOK PLOK PLOK

"Ada apa, Naruto? Pestanya masih berlangsung lho dan kamu sudah menyerah?" intrupsi Satosi berdiri dari duduknya, berniat menghampiri tubuh rapuh dipojokan itu.

"Tch" decihnya, meludah darah, tatapan matanya menatap meremehkan sosok didepannya, seraya mencari cara agar bisa mundur. Sejujurnya ia paling anti kabur jika sedang bertarung seperti ini, bagaimana pun juga jati dirinya yang sebagai pria sejati sangat tidak mengijinkan untuk bertindak pengecut. Tapi untuk saat ini Naruto sadar betul kondisi fisiknya, jika dilanjut juga ia malah akan berakhir mati ditangan orang-orang ini. Biarlah mereka menertawakan dirinya, yang jelas ia masih ingin menikmati hidupnya untuk beberapa waktu kedepan.

" Kenapa Naruto? Apa kau sudah lelah? Oh, ya ampun. Tidak kusangka, tidak bertemu dan bertarung denganmu selama setahun lamanya, jangan katakan jika jiwa petarung dalam dirimu sudah menghilang? Oh ayolah, kawan. Ini sangat tidak menyenangkan.. Bahkan aku saja belum ikut bergabung dalam pesta ini" sambung Satosi, semakin melebarkan seringaiannya. Melihat betapa menyedihkannya kondisi putra pengusaha sukses Minato itu.

Bangun dari acara terjatuhnya, Naruto mendengus meremehkan, "Maaf mengecewakanmu, sobat" sahutnya, seraya menangkis serangan tiba-tiba dari arah samping kanannya, pukulan bertubi segera ia berikan pada orang tersebut hingga terpental jauh beberapa meter. "Kondisiku hanya sedang tidak fit" lanjutnya, kalem.

Dan setelah mengatakan itu, dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, Naruto berlari ke arah Satosi, kepalan tangannya sudah siap ia layangkan. Sesampainya disana Naruto tidak memukulnya, melainkan menekan pundak Satosi agar membungkuk, bahkan nyaris membentur lantai, dan sebuah tendangan ia berikan disaat melihat salah satu anak buah Satosi akan menghadangnya.

DUAGH!

-BRUK!

"Sial! APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH? CEPAT KEJAR BOCAH ITU!" teriaknya murka, tidak terima dibodohi begitu saja oleh Naruto. Sial, ia pikir bocah kuning itu ingin menyerangnya dan melakukan duel, nyatanya hanya melakukan tipuan agar bisa lolos dari kepungannya.

Mendengar teriakan sang bos, secara serentak mereka semua yang merasa sudah baikkan dan memulihkan tenaganya, segera berlari mengejar sosok kuning yang sudah berlari menjauhi tempat itu.
.

.

.
Drap Drap Drap

Naruto berlari sekuat tenaga seraya beberapa kali menyempatkan diri melihat kebelakang, memastikan jika orang-orang itu tidak mengejarnya.

"Sial" decihnya, ketika jarak antara ia dan anak buah Satosi hanya berjarak sepuluh meter darinya.

Merasa percuma berlari ditempat sepi dan lurus seperti ini, yang dapat memudahkan mereka mengejar dirinya. Naruto lantas mengambil jalur persimpangan yang langsung menghubungkan dengan jalan raya. Ia sadar betul apa yang ia lakukan ini bisa membuatnya kembali tertangkap oleh polisi, hanya saja Naruto tidak memiliki pilihan lain. Setidaknya jika ia berlari ditengah keramaian, Satosi beserta anak buahnya akan kesulitan mencarinya.

SRETT

Naruto langsung menghentikan laju larinya disaat ia hampir saja bertabrakan dengan sosok 'gadis' yang ia temui disekolahannya tadi.

"E-emm err-" Oh god! Apa yang ia lakukan? Kenapa juga ia malah diam dan tidak melanjutkan acara berlarinya? Naruto sedikit meruntuki sikap anehnya ini. Sejujurnya ia sedikit salah tingkah ketika sosok 'gadis' didepannya menatapnya intens seraya mengangkat sebelah halisnya.

"Hn" Sasuke hanya mengerlingkan matanya, disaat pemuda kuning itu menatapnya gugup. Sedikit berdecih dan mencemooh sosok kuning yang berpenampilan kacau tersebut, Sasuke melewati begitu saja Naruto yang masih dengan sifat idiotnya. Melamun tidak jelas.

"Dasar idiot" gumam Sasuke, berjalan menuju jalan sempit yang tadi sempat dilewati Naruto. Dengan tenang dan tanpa peduli pada segerombolan pemuda yang sedang berlari berlawanan arah dengannya, Sasuke terus melanjutkan acara jalannya.

Sekali lihat dari penampilan pemuda kuning tadi, serta orang-orang dihadapannya ini, Sasuke sudah dapat menyimpulkan jika orang-orang tersebut terlibat perkelahian. Dan sepertinya pemuda kuning itu tengah melarikan diri.

Dalam hati ia tertawa mencemooh pada sifat pengecut Naruto yang lebih memilih menurunkan harga dirinya sebagai pria, daripada menghabisi para berandal tersebut.

" Hai, bos ada cewek cantik nih"

"Bos, bagaimana jika kita bermain sebentar dengan gadis itu? Masalah bocah kuning itu, lebih baik dilanjut lain kali saja"

"Yah, aku setuju denganmu, Kiriya"

Samar-samar Sasuke mendengar percakapan dari orang-orang dihadapannya. Sebuah dengusan meremehkan ia keluarkan disaat lagi-lagi ada orang yang mengatakan dirinya 'cantik'. Hell yeah! Dia ini pria, kenapa juga harus dikatai cantik? Ck, ingin sekali ia melakbani mulut-mulut menyebalkan dan tidak sopan itu, ketika kata-kata tidak senonoh yang ditujukan untuknya terdengar samar dalam percakapan para pria mesum itu.

"Hai, manis. Sendirian saja nih? Mau main sebentar dengan kami?" Sasuke langsung menggeretakkan giginya disaat para berandal tersebut mulai mengepung dirinya.

Tatapan tajam segera ia layangkan untuk orang-orang disekitarnya, "Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku" desisnya, ketika sebuah tangan yang ia duga dari bos berandal itu menyentuh tubuhnya.

Bukannya menuruti perintah sang gadis, Satosi malah semakin jadi meremas lengan mulus namun berotot tersebut, "Oh ayolah, jangan jual mahal seperti itu, ma-AKHHHH" seketika baik Satosi maupun anak buahnya, langsung tercengang, begitu dengan mudahnya sang gadis mematahkan tangan kanannya. Jeritan kesakitan keluar dari kedua belah bibir tebalnya, dan ia semakin menjerit disaat sang gadis memelintir tangan patahnya dan menendang kuat tubuhnya hingga terpental beberapa meter kebelakang, bahkan sampai menabrak keras dinding tersebut.

BRUKK

"B-bos!" pekik kaget plus horror para anak buahnya, tidak menyangka sama sekali oleh mereka, dibalik wajah cantik gadis tersebut tersimpan sebuah kekuatan yang sangat mustahil dimiliki seorang gadis.

"Saya sudah memperingatkanmu tadi, dan itulah resikonya jika kau tidak mengikuti perkataanku" desis Sasuke, menatap datar dan dingin pemuda berambut cepak tersebut.

"Sial! Habisi gadis itu" titah Satosi, tidak terima perlakuan kurang ajar sang gadis.

Dengan patuh dan ragu para bawahannya mulai melayangkan pukulan pada sang gadis. Oh my god! Ini merupakan tindakan paling pengecut bagi mereka. Memukuli seorang gadis? Beramai-ramai pula. Apa yang akan dikatakan para berandal lainnya jika kelompok mereka melakukan hal seperti ini? Walau tidak dipungkiri gadis tersebut cukup 'menarik' sebab bisa dengan mudah menumbangkan sang bos, tetap saja memukuli secara beramai-ramai sangat tidak jantan bagi pria sejati seperti mereka.

GREP

KRETEK

"ARGHHHHHH"

DUAG

BRUK

Sebuah lolongan kesakitan yang disusul suara debaman keras, terdengar kembali dari salah satu anak buahnya. Satosi beserta Naruto -yang tengah berdiri mematung diujung jalan, menatap tidak percaya pada sosok 'gadis' yang dengan mudah dan kejamnya mengalahkan anak buahnya begitu saja.

DUAGHH

BRUKK

Dengan sekali tendangan dari sepatu kets miliknya, Sasuke berhasil mengalahkan ke dua puluh lima anak buah Satosi -yang memang sudah babak belur dan kelelahan karena pertarungannya dengan Naruto- dengan mudah dan cepat.

"Lain kali ikuti perkataan orang lain, masih untung saat ini jiwa baikku masih ada, jika tidak.. Sudah kupastikan kalian hanya tinggal nama saja" desis Sasuke sangat datar dan dingin. Setelah mengucapkan kalimat tersebut dengan perasaan sedikit tenang dan ringan, Sasuke kembali melanjutkan acara berjalannya menuju kerumah.

Yeah, walau cukup menguras tenaganya, tapi Sasuke merasa senang karena beban jengkel dan marahnya sudah terlepaskan begitu saja. Berbagai kejadian yang terjadi hari ini, cukup membuatnya berada dalam mood terendah, hingga membuat kepalanya terasa akan meledak saking menahan emosinya. Ia sama sekali tidak menyangka, jika niatnya yang ingin sekedar cari udara segar/? sepanjang pulang sekolah, sekalian menenangkan diri dari berbagai emosi yang berkecamuk didalam dirinya. Dengan sendirinya 'umpan' yang memang sedang Sasuke cari untuk pelampiasan hasrat amarahnya datang menghampiri.

"Yah, cukup menyenangkan juga perkelahian tadi. Segala amarahku benar-benar terlepas sudah" kekehnya, mengerikan. Seketika bulu kuduk orang-orang disitu, tidak terkecuali Satosi serta Naruto, meremang mendengarnya.

"Benar-benar gadis mengerikan" gumam mereka, bergidik ngeri.

_ FlashBack Off _

Naruto sedikit terkekeh ketika mengingat ia sempat merasa ketakutan dengan kekuatan gadis itu, yeah, bagaimana pun juga seumur hidup ia baru melihat seorang gadis sangat hebat dan begitu kejam dalam bertarung. Konan saja ketika sedang berkelahi, se-emosi apapun, gadis itu tidak cukup kuat untuk mematahkan tulang sang musuh.

" Benar-benar gadis yang menarik" gumamnya, tanpa sadar menjilat bibir bawahnya disaat bayangan wajah ketus itu menghampiri pikirannya.
.

.

.
_ Universitas Konoha _

Tuk Tuk Tuk

Jari-jari kurus dan panjang itu mengetuk meja kerja miliknya, ketika satu tangan lainnya ia jadikan sandaran untuk kepala merahnya menjadi penopang kepalanya. Manik Rubbynya menatap datar pada selembar amplop cokelat diatas meja kerjanya, lalu menatap menerawang lurus kedepan.

Ruangan yang tidak terlalu besar namun bersih dan rapi, serta terdapat beberapa lemari buku berjajar tersusun rapih. Merupakan ruangan pribadi milik sang pemuda.

"Ha'ahh" helaan nafas lelah keluar dari sepasang bibir itu, kerutan pada dahinya terlihat dalam ketika pikiran sang pemuda tengah terkunci pada satu kejadian beberapa hari yang lalu.

_ FlashBack On _

"Engh~" erangan tertahan meluncur mulus dari sesosok pemuda yang tengah terbaring diatas sofa ruang hotel, kedua matanya mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan keadaan lampu diruangan itu. Kepala merahnya digerakkan kekanan kiri guna menghilangkan rasa pusing dikepala, setelah merasa lebih baik Kyuubi menatap kesekitar ruangan, kedua halisnya bertaut tajam disaat ia bingung dimana ia berada?

"Wine?" gumamnya mengangkat sebelah halisnya, manik Rubbynya menatap meja dihadapannya yang begitu berantakan. Beberapa botol minuman keras kosong teronggok begitu saja, begitu pun kulit kacang.

Astaga, apa tadi siang ia baru saja mengadakan pesta dihotel ini? Seingatnya tadi ia tengah berada ditaman bermain, lalu kenapa ia berada disini? Oh ya ampun, jangan katakan hanya karena terlalu banyak masalah dirumah dan dikantor ia berakhir disini?

"Ck, benar-benar deh" desahnya memijit pangkal hidungnya. Merasa lebih baik Kyuubi beranjak berdiri, lalu melangkah pergi menuju kamar mandi. Bersiap untuk pulang.

Setengah jam kemudian, Kyuubi sudah selesai berpakaian -terpaksa memakai bajunya yang tadi ia pakai, dan terlihat lebih fresh. Tangan kanannya meraih ponsel pintar beserta dompetnya yang teronggok diatas meja, mengecek sebentar ponsel miliknya, dan halisnya mengangkat bingung ketika melihat pesan yang dikirim oleh salah satu anak buahnya yang begitu ia percayai, mengirimkan sebuah kalimat yang membuatnya bingung, tidak mengerti.

Menghilangkan rasa bingung yang menyerang dirinya, segera saja Kyuubi menghubungi nomor sang pengirim.

"Apa maksud pesanmu, Ritsu?" katanya disaat orang diseberang sana mengangkat sambungan telponnya.

[Maafkan saya yang sudah lancang menganggu kesenangan anda, Kyuubi-sama. Tapi Minato-sama meminta saya untuk segera menghubungi anda dan memberitahu jika satu jam lagi akan diadakan meeting dengan perusahaan asing] Kyuubi mendesah lelah mendengarnya.

"Kesenangan?" desisnya tersinggung, seraya menatap suasana kamar hotelnya yang lebih terkesan seperti tempat sampah. "Kau menyinggungku?" lanjutnya, membuat sosok diseberang sana bergidik ngeri.

[M-maaf Kyuubi-sama. Bukan itu maksud saya-]

"Ck, sudahlah, aku akan segera ke perusahaan Ayah. Ah Ritsu aku ingin kau menyiapkan pakaian kantorku"

[Baik Kyuubi-sama]

Selesainya percakapan itu, Kyuubi menggaruk belakang kepalanya sedikit kesal, lalu berjalan meninggalkan kamar hotel itu menuju parkiran basement. Namun langkahnya terhenti didepan pintu, dan menatap sekitar, mencari kunci mobilnya yang ternyata berada diatas meja makan. Halisnya lagi-lagi mengernyit ketika hidungnya mencium aroma masakan secara samar-samar yang menggelitik penciumannya.

Tapi Kyuubi yang memang sedang terburu-buru hanya menggidikkan bahunya saja, tidak perduli. Lalu bergegas meninggalkan kamar hotel menuju basement.

TING

Kyuubi tersenyum senang ketika sesampainya didepan pintu lift, pintu tersebut terbuka. Segera saja ia masuk kedalam, dan menekan salah satu tombol untuk mengantarnya ketempat yang ia tuju.
.

.

.
_ Namikaze Corp _

"Kyuubi-sama" sapa Ritsu membungkukkan badannya 90 derajat begitu melihat bosnya keluar dari mobil sport miliknya.

"Pakaianku sudah siap kan?" tanya Kyuubi berlalu melewati pemuda yang lebih muda darinya dua tahun, dan melangkah mantap menuju lift yang menghubungkannya dengan ruangan pribadinya.

"Sesuai dengan yang anda minta. Pakaian anda saya simpan diatas sofa ruangan anda, Kyuubi- sama" sahut Ritsu, mengantar hingga kedepan pintu masuk lift. Seulas senyum terpantri dikedua sudut bibirnya, memandang sosok jangkung sang bos yang terlihat sangat lelah.

Kyuubi yang merasa diperhatikan menatap bingung pemuda disampingnya, "Apa ada yang salah dengan wajah dan pakaianku?" tanyanya, sedikit ketus.

Mendengar nada suara sang bos, Ritsu segera saja menggelengkan kepalanya, lalu membungkuk meminta maaf.

"M-maafkan kelancangan saya, Kyuubi-sama" sesalnya, dalam hati Ritsu meruntuki diri nya yang sudah bersikap kurang ajar.

"Hn" gumam Kyuubi, menggelengkan kepala melihat kelakuan aneh sekertarisnya itu.

"A-ano Kyuubi-sama" panggil Ritsu bergerak gelisah, "Sekali lagi maafkan saya yang sudah menganggu anda. Andai Minato-sama menginjinkan saya untuk mengantikan anda dimeeting kali ini, saya pasti tidak akan menganggu acara anda" tuturnya, menundukkan kepalanya.

SRET SRET

Diacaknya surai cokelat pemuda disampingnya, Kyuubi terkekeh geli melihat sikap sungkan sang sekertaris.

" Sudahlah jangan bersikap seperti ini. Bukankah ini sudah menjadi kewajibanku sebagai pewaris utama perusahaan Tousan? Yeah walau kegiatan ini, serta kegiatan mengajarku cukup menyita waktu istirahatku. Tapi itu tidak masalah" katanya, menatap meremehkan sang sekertaris.

Semburat merah menghiasi pipi gembilnya, "T-tapi wanita anda pasti kesepian menunggu anda"

"Wanita?"

"E-emm-err y-yah.. Wanita anda yang bersurai raven panjang itu"

Kyuubi mengernyitkan kedua halisnya, serta memincing tajam, menatap aneh dan bingung sosok dihadapannya.

"Apa maksudmu? Aku tidak menghabiskan hariku dengan wanita, melainkan beberapa buah botol minuman serta kacang dikamar hotel" dengusnya, mengambil ancang-ancang untuk masuk kedalam lift disaat pintu lift terbuka.

"E-eh, tapi-"

"Sudahlah, sepertinya menumpuknya tugas kantor membuatmu sedikit 'pusing'. Aku sarankan sepulangnya dari kantor, kau langsunglah bergegas pulang dan istirahat yang cukup. Ah, sebagai bonus dariku, kau ku ijinkan cuti dua hari mulai besok dan lusa. Setelahnya dari cuti aku harap kau sudah kembali fresh" tutur Kyuubi panjang lebar, masuk kedalam lift tanpa perduli sang sekertaris yang tengah mengintrupsinya. Sebelum pintu lift sepenuhnya tutup, ia menyempatkan diri melambai genit pada sang sekertaris. Kyuubi langsung terkekeh geli ketika ia sempat melihat wajah sang sekertaris memerah merona.
.

.

.
~ Tiga jam kemudian ~

"Ha'ahh lelahnya" gumam Kyuubi menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kebanggaannya. Akhirnya meeting yang baginya sangat menyebalkan itu selesai juga. Ia sama sekali tidak menyangka jika perwakilan perusahaan negara asing itu begitu sulit membuat kesepakatan bekerja dengan perusahaannya, dan ia hampir saja menerjang orang bule itu ketika dengan keukeuhnya ingin menghapuskan beberapa persyaratan yang sudah sang Tousan berikan begitu saja.

Ha'ahh, andai saat itu Iruka tidak menahannya, mungkin saja suasana meeting kali ini akan berakhir dirumah sakit, tentunya dengan keadaan orang bule itu yang babak belur di tangannya.

TEK

"Silahkan diminum, Kyuubi-sama" suara sang sekertaris segera menyadarkan Kyuubi dari lamunan emosinya kekejadian beberapa saat yang lalu. "Bagaimana meetingnya, Kyuubi-sama? Apa lancar?" tanya Ritsu sekedar basa basi untuk menyadarkan sang bos dari acara lamunannya.

Dengusan sebal Kyuubi berikan sebagai jawaban atas pertanyaan Ritsu, "Ya, tapi meeting kali ini cukup untuk membuatku hampir mengamuk ditempat tadi. Aishh, kenapa juga Tousan harus menerima begitu saja perusahaan asing tidak tahu diri itu? Benar-benar menguras emosi saja" dumelnya sebal, yang ditanggapi dengusan geli sang sekertaris.

"Memang apa yang sudah dilakukan perusahaan itu pada anda, Kyuubi-sama?"

"Ya, orang itu ingin menyetujui kontrak kerja dengan syarat menghapus beberapa persyaratan yang ada. Bukankah itu menyebalkan?"

"Ah~ begitu ya. Lalu apa akhir dari kesepakatan rapat kali ini?"

"Menurutmu?"

"Menurut saya? Hm, jika melihat dari ekspresi Kyuubi-sama yang seperti ini sih, sudah saya duga jika akhir kesepakatan itu ditolak oleh anda? Apa saya benar?" tanya Ritsu agak ragu melihat sang bos mendengus sebal.

"Tentu saja aku tolak. Aku tidak ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan yang ingin enaknya sendiri" Ritsu menganggukkan kepalanya mengerti.

"Jika begitu saya mohon pamit undur, Kyuubi-sama" katanya, seraya membungkuk hormat dan mulai mengambil ancang-ancang pergi disaat sang bos memanggil namanya.

"Ya, Kyuubi-sama?"

"Maksud dari ucapanmu tadi dikoridor apa ya?" tanya Kyuubi yang sejujurnya sedikit penasaran juga sih dengan sikap aneh dan keukeuh sang sekertaris yang begitu minta maaf karena sudah menganggu acaranya dengan seorang wanita.

"E-eh?"

Kyuubi mendecakkan lidah disaat pemuda didepannya malah menatapnya bingung, "Itu lho ucapanmu tadi yang minta maaf padaku karena sudah menganggu acaraku dengan seorang wanita" ketusnya, sedikit kesal melihat sifat lola sang sekertaris.

"A-ah itu ya. emm-maaf Kyuubi sama. Saya hanya mengetahui perihal itu dari salah satu anak buah Minato-sama, Guren. Katanya anda pagi tadi sekitar pukul 10 sedang melakukan err-cek in dengan seorang gadis di Hotel Central Konoha, ketika saya bertanya mengenai anda yang sulit dihubungi tiga jam sebelum meeting dimulai Pukul 5 tadi." jelas Ritsu, ragu.

"Cek in? Dengan seorang wanita?" Ritsu menganggukkan kepalanya disaat sang bos bertanya, ia sedikit bingung ketika Kyuubi malah mengerutkan halisnya, seperti tengah mengingat sesuatu.

"Sebelum saya menghubungi Guren, saya sempat menghubungi anda satu jam setelah anda melakukan cek in- sekitar pukul 11 dan anda bilang pukul 1 anda akan kekantor untuk menyiapkan berkas dan sedikit membahas mengenai pertemuan kali ini dengan beberapa Dewan perusahaan internal sebelum meeting diadakan dengan perusahaan asing. Tapi sampai satu jam berlalu pun anda tidak datang, dan saya memutuskan untuk menghubungi anda, namun anda tidak menjawab panggilan saya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk bertanya mengenai keberadaan anda. Lalu Guren yang saat itu sedang mendapat tugas untuk memantau anda, mengatakan jika anda sedang cek in dengan seorang gadis, serta memberitahukan kepada saya untuk tidak menganggu anda" tutur Ritsu menjelaskan, begitu merasa Kyuubi membutuhkan penjelasan yang sangat detail darinya. Dalam hati Ritsu berdo'a pada sang pencipta agar Kyuubi mau memaafkan dirinya yang sudah menganggu acara bersenang-senang pemuda itu.

Setelah cukup lama berpikir dan mencoba mengingat-ngingat kembali kejadian yang diterangkan sang sekertaris, Kyuubi pun meminta Ritsu untuk memanggilkan Guren serta membawakan kamera yang dipakainya. Ingin melihat wanita mana yang kali ini ia tiduri. Aishh, ia sama sekali tidak mengingat apapun mengenai apa yang dikatakan sang sekertaris barusan. Apa pengaruh alkohol yang diminumnya tadi, membuatnya sedikit linglung dan pikun?

"Saya sudah menghubunginya, Kyuubi-sama. Dan Guren bilang sebentar lagi ia kesini" lapor Ritsu, dalam hatinya ia sedikit bertanya-tanya ada apa dengan bosnya ini? Kenapa bosnya terlihat linglung dan bingung begini?

"Ne terima kasih. Kau bisa kembali ketempatmu, Ritsu" titah Kyuubi seraya memijat pangkal hidung. Ya ampun, ia benar-benar tidak mengingat apapun soal kejadian tadi siang. Ada apa dengannya?

TOK TOK TOK

"Masuk" sahutnya, begitu mendengar ketukan pintu, dan muncullah sesosok wanita berpakaian serba hitam ketat memasuki ruangannya.

"Mana kameramu? Aku ingin melihatnya" sedikit bingung dengan permintaan pimpinannya, wanita tersebut pun menyerahkan kameranya untuk di cek Kyuubi.

"Silahkan Kyuubi-sama" katanya, yang langsung diterima oleh Kyuubi. Kedua halis sang wanita mengerut dalam disaat Kyuubi menatapnya tajam, menuntut penjelasan.

"Kau yakin ini aku? Lalu siapa gadis ini?

'Huh? Ada apa dengan bos nya ini? Kok malah bertanya padanya?' batin Guren bingung sendiri harus menjelaskan seperti apa pada Kyuubi yang mulai menatapnya tajam.

"Etto-Kyuubi-sama.. Saya sendiri tidak tahu siapa gadis itu. Seingat saya tadi pagi anda berbicara mesra dengan wanita itu. Maaf jika boleh saya tahu, apa ada hal yang tidak beres terjadi dengan wanita itu? M-maksud saya apa anda tidak mengingat gadis itu?"

"Kau yakin itu aku?"

"I-iya, Kyuubi-sama"

"Aishh, tapi serius aku tidak mengenal gadis ini" geram Kyuubi jengkel sendiri, Guren terhenyak mendengar penuturan tersebut. "Aku ingin hari ini juga kau datangi tempat-tempat yang tadi aku dan gadis ini temui. Lakukan apapun untuk mengorek informasi mengenai gadis ini. Aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Pasalnya aku sama sekali tidak mengingat apapun selain tadi aku berdiam santai di Kafe Blue taman bermain, dan sekarang kalian mengatakan suatu hal yang aku sendiri tidak merasa melakukan apapun" jelasnya, menggeretakkan giginya kesal. Merasa telah dipermainkan.

"M-maafkan kecerobohan saya, Kyuubi-sama. Andai saja saat itu saya tidak langsung meninggalkan lokasi, mungkin sedikitnya saya bisa mengetahui maksud dari niat gadis itu" sesal Guren, mengepalkan tangannya. Merasa bodoh mempercayakan begitu saja pada kondisi sang bos. Aishh, jika begini bisa dipastikan ia akan dipecat oleh Minato-sama jika sampai terjadi sesuatu pada sulung Namikaze ini.

"Pergi dari lokasi? Kau pergi setelah melihat aku cek in dengan gadis tidak jelas ini?" Guren terhenyak kaget, disaat Kyuubi menggebrakkan mejanya kesal.

"M-maafkan saya, Kyuubi-sama. Saat itu Takeshi meminta saya untuk menemaninya memantau keadaan Naruto-sama yang tengah terlibat perkelahian dengan anak Kirin"

BRAK!

"TIDAK ADA ALASAN APAPUN BAGIMU! BUKANKAH DIANTARA KALIAN MASING-MASING SUDAH MENDAPATKAN TUGAS YANG MENJADI TANGGUNG JAWAB KALIAN? Pokoknya, hari ini juga kau harus menemukan informasi mengenai gadis itu! Dan besok pagi informasi itu harus sudah ada dimeja kerjaku" desis Kyuubi benar-benar murka dan tidak terima dengan perlakuan gadis itu.

"B-baik Kyuubi-sama" setelah membungkuk hormat, Guren segera bergegas meninggalkan ruangan sang bos, dan mendapatkan tatapan bingung dari Ritsu yang baru saja akan memasuki ruangan Kyuubi.

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ritsu, menahan langkah kaki sang gadis.

Guren menghela nafas lelah, dan menganggukkan kepalanya lemas. "Seorang gadis yang kukira teman kencannya Kyuubi-sama ternyata telah melakukan sesuatu pada Kyuubi-sama hingga beliau tidak mengingat kejadian apapun selama kurang lebih tiga jam itu" jelasnya, membuat Ritsu mengerutkan halisnya bingung.

"Dan malam ini juga aku harus mencari informasi mengenai gadis itu. Oh tidak! Padahal jam sembilan nanti aku ada janji kencan dengan kekasihku, dan gara-gara ulah gadis itu aku harus membatalkannya" Ritsu hanya tertawa kikuk mendengar curahan hati sang mata-mata Minato itu, bingung harus menanggapinya seperti apa. Akhirnya dengan ragu ia menepuk bahu sempit sang gadis.

"Maaf aku tidak bisa membantumu, Guren" katanya, sedikit tidak enak.

Guren terkikik geli melihat ekspresi pemuda didepannya, "Ya ampun, Ritsu kau ini bicara apa, huh? Aku sudah terbiasa mendapatkan perintah seenaknya begini oleh Kyuubi-sama. Jadi, tidak usah minta bantuanmu pun, aku bisa" ucapnya, yang lalu segera berlalu meninggalkan Ritsu setelah menepuk pundak sempit sang pemuda.

"Ha'ahh Kyuubi-sama itu" gumam Ritsu segera masuk kedalam ruangan Kyuubi untuk memberikan beberapa laporan yang harus ditanda tangani oleh sang bos.

_ FlashBack Off _

Keesokkan harinya ketika informasi itu sudah ada dimeja kerjanya, tidak ada perasaan jengkel dan marah disaat mengetahui siapa dalang dari semua kejadian anehnya tempo hari. Dan Kyuubi sudah menyiapkan berbagai macam 'hukuman' yang akan diterima oleh ketiga pemuda beserta sang wanita itu karena sudah berani mempermainkan dirinya.

TOK TOK TOK

CEKLEK

" Permisi, Kyuubi-sama" sebuah kepala menyembul dibalik pintu terbuka itu, tanpa ia melihat pun, Kyuubi sudah tahu siapa yang datang keruangannya.

"Kupikir kau tidak akan datang, Uchiha" gumam Kyuubi yang tengah memunggungi Itachi, disaat kursi kerjanya menghadap ke jendela besar, menampilkan pemandangan indah yang disuguhkan oleh taman depan Universitas tempatnya mengajar.

Mendapati pernyataan itu, Itachi sedikitnya merasa kesal. Moodnya masih belum membaik sejak tadi pagi, dan sekarang mendengar sambutan seperti ini dari sang Dosen, semakin membuatnya jengkel plus kesal.

"Tentu saya akan datang. Sesuai permintaan anda" sahutnya sebisa mungkin menahan gejolak amarahnya.

Dibalik kursi yang membelakangi Itachi, Kyuubi tengah mendengus mendengar nada sok ramah murid nakalnya itu.

"Diatas mejaku ada sebuah amplop cokelat kan?" tanyanya tanpa membalikkan badan untuk menatap pemuda dibelakangnya.

Mendengar intruksi itu, manik onyx nya menatap menjelajah meja kerja sang guru yang terdapat bertumpuk-tumpuk lembaran tugas kuliah siswa-siswinya, sampai akhirnya pandangan matanya teralihkan oleh sebuah map cokelat berukuran sedang teronggok diantara tumpukan tugas siswa.

"Lalu?" tanya Itachi menatap surai merah yang mengintip dibalik kursi putar didepannya.

"Ambil dan buka"

GLEK

Itachi menelan ludahnya susah payah disaat suatu perasaan tidak enak mulai menggerogoti hatinya. Buka jangan ya? Bagaimana jika didalam amplop itu terdapat foto dirinya juga sang adik? Apa yang harus ia lakukan jika sang Dosen menuntut mereka?

"Kenapa melamun? Ayo buka" Kyuubi yang sudah tidak terduduk dikursi kerjanya, berjalan mendekati sang murid seraya melipat kedua tangannya, "Sudah, buka saja. Bukan bom kok isinya" kekehnya, menyebalkan.

"Y-ya" dengan tangan bergetar Itachi meraih amplop cokelat itu, dalam hati ia berdo'a semoga didalam foto itu bukan foto mereka.

Degh!

Degh!

Degh!

Srekk

Itachi langsung mengangakan mulutnya lebar-lebar disaat melihat isi dari amplop ditangannya. Dengan kaku ia menatap pemuda disampingnya, meminta penjelasan maksud dari isi amplop ini.

"I-i-ini..." Oh my god! Apa yang ia lihat sekarang ternyata lebih mengerikan daripada melihat foto mereka yang terpegoki tengah mengintip nenek mandi.

"Kenapa? Ada yang salah dengan itu?" seringaian bermain dikedua sudut bibirnya begitu melihat tatapan kaget plus tidak percaya Itachi, namun seringaian itu secara berangsur memudar tergantikan ekspresi bingung disaat sebuah darah segar mengalir dikedua lubang hidung tersebut. Entah kenapa ia merasakan firasat buruk mengenai itu.

"This is so sexy" gumam Itachi, menatap lapar sebuah foto naked Kyuubi.

"S-sexy?" gumam Kyuubi, semakin tidak enak perasaan. Dengan cepat direbut foto ditangan Itachi, dan saat itu juga ingin sekali Kyuubi terjun dari atas pohon toge/?, atau tidak menyembunyikan wajahnya didalam air. I-ini..

Seketika wajah seringainya tergantikan dengan wajah pucat dan syok.

"Saya tidak menyangka jika tubuh anda sangat sexy dan semenarik itu, Sensei" gumam sang murid, seraya menatap sayu Kyuubi yang bergidik ngeri melihatnya, dengan perlahan Itachi mulai menghampiri sang Dosen muda yang mulai melangkah mundur seraya menatap awas dirinya. "Sensei, bagaimana nih.."

"A-apa yang bagaimana, Bocah! T-tetap diam disitu-BRUK!-Oh shit" Kyuubi meruntuki adanya sofa tamu diruang gurunya, hingga membuatnya terduduk disana, dan sekarang ia makin panik disaat bocah mesum didepannya sudah berhasil memerangkapnya diantara kedua tangan panjang bocah keriput yang bersandar pada sandaran sofa.

"I-itachi berani k-kau-MPPHHH!" seketika manik rubbynya terbelalak kaget disaat sebuah bibir mendarat mulus pada bibir sexynya, kedua tangannya mencoba menahan dada bidang Itachi agar pagutan panas yang dilancarkan murid gilanya berhenti. Oh tidak! Bagaimana mungkin foto dirinya yang naked total ketika sedang mandi ada diamplop cokelat yang bahkan ia yakini merupakan benda bukti untuk memberi pelajaran pada ketiga murid nakalnya?

"Hngh~" Oh shit! Shit! Shit! Suara apa itu? Bagaimana mungkin ia mendesah erotis seperti tadi? Hell! Selama ini ia yang selalu mendominasi permainan lidah dengan para gadisnya, tapi kenapa sekarang bocah keriput itu bisa dengan mudah mengalahkannya dalam adu lidah? Hieee! T-tunggu dulu! Apa ia baru saja mengatakan 'adu lidah'? A-apa.. Adu.. l-lidah? ARGHHHH! Tolong seseorang ceburkan saja dirinya ke lautan! Astaga! Bagaimana mungkin tanpa ia sadari, lidahnya dengan kurang ajar membalas pagutan serta membiarkan dirinya didominasi oleh bocah keriput ini? Oh my god kehidupan macam apa yang tengah ia lakoni sekarang ini?

Itachi yang menyadari Kyuubi dalam pergolakan batinnya, hanya mampu menyeringai dan semakin memperdalam ciumannya. Oh ya ampun, ia sama sekali tidak ada niatan sedikit pun untuk tertarik pada dosen killernya ini. Tapi begitu mata sucinya melihat tubuh naked Kyuubi, entah kenapa Itachi jadi merasa ingin sekali menyentuh tubuh indah sang dosen.

CEKLEK

"Kyuubi-sensei ini lap-KYAAAAA"

BRAK

BRUK

"Aw~" ringis Itachi begitu dengan biadabnya Kyuubi menendang dirinya disaat ada seorang gadis masuk, lalu menjerit kaget dan disusul debaman pintu yang tertutup. Dalam hati Itachi sibuk mengumpati gadis tidak tahu diri itu, serta menyumpahinya hingga tujuh turunan. Sial, padahal ia belum puas merasakan rasa manis dari sepasang bibir cherry itu.

"Kau" desis Kyuubi murka, "KELUAR DARI RUANGANKUUUUUUUU" teriaknya didepan wajah Itachi, sukses membuat telinganya tuli sesaat.

"T-tapi urusan ki-GYAAA IYA IYA AKU KELUAR SENSEI" dengan pontang panting Itachi keluar dari ruangan sang dosen.

BRAK

Suara debaman pintu terdengar (lagi) ketika sosok keriput/? itu pergi dari ruangan Kyuubi yang tengah menggeram marah, layaknya seekor musang berekor sembilan tengah mengamuk.

Tapi beberapa saat kemudian, Kyuubi merasa dunianya berputar-putar, tubuhnya sedikit oleng, lalu dapat ia rasakan ada rasa mual yang menyelimuti lambungnya.

"Ugh, dasar keriput sialan" gumamnya, menjatuhkan lemas tubuh tegapnya.
.

.

.
_ Kediaman Uchiha _

Sasuke yang tengah sibuk menonton acara teve, ditemani beberapa buah tomat serta jus tomat, menolehkan kepalanya disaat melihat sang kakak berjalan terburu memasuki rumah.

BRUK

"Aku minta ya, Otoutou" ucap Itachi sesudahnya mendudukkan diri disamping Sasuke yang hanya mendengus jengkel menanggapinya.

"Hei jangan dihabiskan, Aniki!" seru Sasuke sewot, melihat jus kesukaannya dihabiskan oleh sang kakak, dengan kesal Sasuke merebut paksa botol jus ditangan Itachi.

"Maaf maaf, aku haus Otoutou"

"Kalau haus langsung lari ke dapur saja, bukannya menghabiskan jusku" sembur Sasuke ketus, seraya menatap sengit pemuda disampingnya yang hanya meringis ngeri kearahnya.

Keheningan mulai terjadi diantara mereka, hanya suara teve serta sesekali suara garpu yang beradu dengan piring ketika bungsu Uchiha itu mengambil tomat. Sedangkan Itachi yang sudah merasa kelelahan hanya tiduran santai diatas sofa, sebelah tangannya menutupi kedua matanya.

"Aniki" panggil Sasuke memecahkan keheningan.

"Hm"

"Apa proyek pembuatan penawar suaranya sudah dimulai?"

Sejenak sang kakak terdiam cukup lama, malas membuka suara disaat rasa ngantuk mulai menguasainya.

"Belum. Tapi Shisui dan Obito sudah mulai menyiapkan bahan-bahannya" sahut Itachi dengan suara parau, menggeliatkan badannya yang lelah, Itachi pun memutuskan untuk beristirahat dikamarnya.

Mikoto mencegah kepergian putra sulungnya ketika berpapasan dengannya dipersimpangan anak tangga, "Baru pulang, Itachi?" gumamnya, menatap prihatin keadaan Itachi yang nampak begitu kelelahan.

"Ya Kaasan. Sekarang aku ingin tidur" tutur Itachi berjalan gontai melewati sang Ibu seraya sesekali menguap lebar, mengundang kekehan geli Mikoto.

"Ya sudah jika kau ingin tidur, tapi nanti kalau waktunya makan malam kau turun ya?" ucap Mikoto yang diangguki malas oleh Itachi yang sudah mencapai ujung tangga lantai 2.

"Ha'ahh anak itu" gumamnya, menggeleng prihatin melihat keadaan putra sulungnya. Pandangan matanya lalu mengarah pada sosok putra satunya lagi, yang tengah sibuk menonton acara komedi, Mikoto mengerutkan halisnya disaat melihat ekspresi putra bungsunya yang datar-datar saja layaknya triplek. Sedikitnya Ibu dari dua anak itu meringis ngeri dengan minim ekspresi Sasuke. Oh ayolah, saat ini Sasuke itu tengah menonton acara komedi bukannya acara berita yang menayangkan tentang teroris di Negara seribu/? budaya seberang sana. Kadang Mikoto bertanya-tanya dalam hati, ngidam apa ia selama mengandung putra bungsunya itu? Sampai-sampai Sasuke memiliki minim ekspresi melebihi nenek-kakek moyang Uchiha? Sekalinya berekspresi, yang diperlihatkan malah amarah dan sinis mulu.

"Ha'ahh" desah Mikoto memijat pangkal hidungnya. Pusing sendiri memikirkan sikap unik putra bungsunya.

"Kaasan? Sedang apa disitu?" Mikoto sedikit terperenjat kaget mendengar suara lembut mengalun indah menyapa indra pendengarnya.

Sasuke yang hanya memakai training cokelat tanggung, serta kaos oblong, dan rambutnya yang dikuncir satu itu, sedikitnya membuat Mikoto kecewa. Ia sangat ingin melihat putra bungsunya memakai pakaian santai wanita, yah walau ini hanya terjadi sebentar, tapi Mikoto ingin merasakan senangnya memiliki anak gadis.

"Kaasan?" Sasuke melambaikan sebelah tangannya disaat sang Ibu melamun.

Mikoto mengerjapkan kedua matanya sejenak, sadar jika sudah melamun. "A-ah. maaf Sasuke" ujarnya sedikit terbata.

"Kaasan memikirkan apa, hn? Kenapa bisa melamun begitu?" tanya Sasuke tersenyum kecil melihat sosok wanita didepannya yang tengah tertawa canggung kearahnya.

"Bukan apa-apa kok, Sasuke" sahut Mikoto, "Ah iya, apa kau sibuk sayang?"

"Tidak kok Kaasan. Ada apa?"

"Kaasan ingin minta tolong, bisa?"

"Tentu. Ingin minta bantuan apa?" Sasuke bertanya lembut, kedua mata kelamnya menatap lekat setiap ekspresi Ibu tercintanya.

Mikoto terpekik senang melihat sikap lucu putra bungsunya, langsung saja ia mencubit gemas pipi pucat sang anak, lalu memeluknya erat.

" Kau tahu Sasuke? Sudah sejak lama Kaasan ingin merasakan kehadiran anak gadis disekitar kediaman ini"

"Tapi kan setiap hari juga Mansion ini sudah banyak anak gadis(pelayan) yang hilir mudik?" sang Ibu memukul sebal bahu sang anak, bibir bawahnya sedikit dipajukan kedepan, merajuk. Sasuke yang melihat itu hanya terkekeh geli. Ibunya ini paling bisa membuatnya tertawa hanya dengan berekspresi seperti itu.

"Kau ini. Bukan itu maksud Kaasan! Tapi anak Kaasan sendiri. Bukan pelayan rumah" rajuk Mikoto, sebal.

Terkekeh pelan, Sasuke pun memeluk Ibunya erat. "Jangan manyun begitu, Kaasan. Nanti wajah cantiknya hilang lho" candanya, yang ditanggapi dengusan geli sang Ibu.

"Kau ini sekarang sudah mulai pintar menggombal ya?" Mikoto memukul main-main bahu putra bungsunya yang malah terkekeh, "Ne, Kaasan ingin meminta bantuanmu untuk membelikan bahan makanan di supermarket depan, bisa?"

"Tentu" Sasuke menganggukkan kepalanya, seraya menerima secarik kertas yang berisikan tulisan bahan apa saja yang harus dibelinya. Sasuke pun pamit undur diri untuk mengambil jaketnya dikamar, lalu segera bergegas keluar rumah untuk membeli apa yang diminta sang Kaasan.

Masih dengan celana training serta kaos oblongnya, hanya saja sebuah jaket putih ia kenakan untuk menutupi kaos oblong yang dipakainya. Rambut panjangnya ia kuncir satu dan kedua kaki jenjangnya, mulai melangkah menyusuri jalan menuju supermarket yang berada tepat didepan persimpangan jalan masuk perumahannya.

Sasuke saat ini tengah malas memakai motor sport kesayangannya. Dan lagi sangat disayangkan sekali jika cuaca cerah sore ini tidak ia gunakan untuk sekalian menghirup udara segar.

"Ha'ahh damai sekali" gumamnya, menatap sekitaran jalan yang nampak sangat lenggang. Manik onyxnya mengerling jengah disaat lagi-lagi ia mendapati tatapan memuja dari beberapa pasang mata yang dilewatinya. Baru saja akan melewati sebuah gang sempit yang berada tidak jauh dari supermarket, lagi-lagi ia harus bertemu dengan sesosok manusia pengecut -baginya.

Onyx dan Shappire bertemu.

Dalam sepersekian detik onyx milik Sasuke memutuskan kontak matanya, dan lebih memilih melanjutkan acara berjalannya disaat Naruto malah sibuk menatapnya seraya bersandar lemas disamping dinding dekatnya.

"Hosh hosh hosh" deru nafas memburu terdengar cepat dari sepasang bibir ranum itu, manik shappirenya terus memantau pergerakan sang 'gadis' yang mulai memasuki area supermarket.

"Sial" desis Naruto, menjatuhkan dirinya begitu saja keatas tanah hingga terduduk. Tidak ia peduli kan jika tindakannya ini akan menambah kotor pakaiannya, ataupun dipandang sebagai gembel/? oleh orang-orang yang melewatinya. Pemuda Namikaze itu sedikit meringis nyeri, meremas dadanya yang tadi sempat terkena tendangan oleh anak buah Kiri.

Sial!
Tidak bisakah sehari saja ia terbebas dari para musuhnya?
Dan tidakkah mereka tahu jika ia begitu sangat kelelahan?
Oh god!
Padahal ia hanya ingin pulang ke apartemennya setelah merasa baikkan berada dimarkas, tapi ketika ditengah jalan (lagi-lagi) ia harus kembali berhadapan dengan musuhnya.
God!
Sungguh hari ini, merupakan hari tersial dalam hidupnya.

"Hei" Naruto sedikit terperenjat kaget disaat seseorang memanggilnya. Ia pun menengadahkan wajahnya untuk melihat sesosok 'wanita', tengah berdiri menjulang didekatnya.

"Ini" tiba-tiba saja, Sasuke melemparkan sebuah botol minuman ion serta roti kearah pemuda kuning yang terlihat begitu menyedihkan baginya.

PLUK!

Dengan cekatan, Naruto menangkap minuman serta roti yang diberikan 'gadis' di sampingnya ini.

"E-eh?" Naruto bingung, kenapa gadis itu memberinya makanan?

Sasuke hanya mengerlingkan matanya melihat pemuda kuning itu menatapnya kebingungan, "Hn" gumamnya, segera berlalu meninggalkan tempat tersebut, namun langkahnya terhenti disaat sang pemuda memanggilnya.

"A-ano.. Terima kasih" ucap Naruto, memandang punggung tegap 'gadis' didepannya.

Tanpa membalikkan badannya, Sasuke berucap, "Habiskan makanan itu, lalu pulanglah. Kau benar-benar terlihat lebih buruk dari tadi siang" dan setelahnya Sasuke pun berlalu meninggalkan Naruto begitu saja. Tidak menyadari sosok pemuda tadi tersenyum senang atas perlakuannya.

"Setidaknya hari ini tidak terlalu sial" gumam Naruto, menyeringai. Sebelah tangannya yang memegang botol minuman pemberian Sasuke, ia genggam erat.
.

.

.
_ Keesokkan Harinya = Konoha High School _

Hari ini merupakan hari kedua bagi Sasuke menjadi murid Konoha, akan tetapi ia sudah merasa seperti telah lama berada disini. Seperti halnya saat ia masih di Konoha Junior School, ternyata baik ia berpenampilan pria maupun wanita, dirinya selalu diikuti dan disambut oleh banyak 'orang'. Tapi sejujurnya ia merasa kurang nyaman dengan sambutan para senior maupun seangkatannya yang terdiri dari sesama 'kaum'nya, sibuk menggerubuninya ketika ia baru saja turun dari mobil sang Kaasan (Ia masih belum berani bawa motor sendiri, karena ia merasa ini hanya sementara) seraya membawa-bawa sebuket bunga dan cokelat untuknya.

Tatapan dingin dan tajam ia arahkan pada kumpulan manusia menjijikan itu, Sasuke juga tidak memperdulikan tatapan iri dan jijik yang diperlihat secara terang-terangan oleh wanita-wanita disekolahnya. Kakinya terus melangkah maju menuju kelasnya disaat samping kanan-kirinya ada satpam yang mengamankan Sasuke dari terkaman/? para fansnya.

Oh ya ampun, ia baru saja kemarin menjadi murid Konoha versi/? wanitanya, tapi kenapa selalu saja menjadi pusat perhatian begini? Benar-benar deh orang-orang ini, menjijikan.

"Lihatlah gaya anak baru itu. Sok eksis sekali sih"

"Mentang-mentang keturunan Uchiha sampai sebegitu menyebalkannya sekali sikapnya"

"Apanya yang menarik dari gadis tomboy itu? Hanya bermodalkan putih saja"

"Dasar sampah"

"Bukan sampah, tapi jalang hahaha"

"Ck" Naruto yang berada tidak jauh dari perkumpulan gadis-gadis syirik itu, hanya mendengus meremehkan melihat tingkah kelima orang tidak tahu diri itu. Sudah sepuluh menit yang lalu ia sampai disekolahannya ini, namun Naruto yang merasa belum sarapan dari rumah, ia sempat mampir ke toko roti seberang sana, lalu memutuskan untuk makan sarapannya dibawah pohon Oak yang berada tidak jauh dari gerbang sekolah. Sesampainya Naruto disekolah pun merasa ada yang aneh ketika melihat sekumpulan pria, berkumpul didekat gerbang sekolah seraya membawa buket bunga ditangan mereka, tidak sedikit dari mereka juga mengeluarkan aura perang disekitarnya.

Awalnya Naruto tidak perduli dan lebih memilih menghabiskan sarapannya lalu pergi ke 'ruang pribadi'nya, akan tetapi disaat ia akan beranjak meninggalkan tempat itu, makanannya sudah habis, sebuah mobil ferrari hitam berhenti tepat disisi gerbang dan muncullah sosok 'gadis' yang sedikitnya sudah mencuri perhatiannya.

Naruto mendecakkan lidahnya kesal disaat ucapan-ucapan menyakitkan telinganya semakin jadi dari mulut gadis-gadis disampingnya. Kesal, Naruto pun memutuskan berdiri dari duduknya diatas rumput, bersandar pada pohon dibelakangnya, pemuda Namikaze itu pun berjalan dan berhenti didepan para gadis penggosip.

Hampir saja ia mengerlingkan matanya, melihat wajah gadis penggosip itu terkaget serta berblushing-ria melihatnya yang tiba-tiba berdiri didepan mereka.

"Nona-nona cantik saya memiliki saran yang baik untuk kalian. Mau tahu apa itu?" tanya Naruto diiringi senyum mautnya, dalam hatinya Naruto mendecih jijik melihat ekspresi para wanita itu.

"A-ah saran m-mengenai apa y-ya, N-naruto-kun?" kelima gadis yang ternyata kakak kelasnya itu, tergugup malu sekaligus senang akhirnya mereka bisa bertegur sapa dengan adik kelasnya yang keren dan berkelas. Walau pakaian yang dikenakan pemuda didepannya terkesan urakan, dan berandal sekali, tetap saja tidak menutupi kharisma yang dimiliki pemuda itu sendiri. Malah gaya dan sikap cuek pemuda itulah menjadi nilai plus bagi para wanita disekolahnya. Entahlah, mereka pun tidak tahu kenapa mereka begitu mengidolakan pemuda ini. Padahal sudah bukan menjadi rahasia lagi jika pemuda itu gay, ah bukan gay saja, melainkan seorang playgay/? mengingat berapa banyak uke yang pemuda itu miliki. Tapi beberapa hari terakhir mereka mendengar gosip jika pemuda Namikaze ini sudah memutuskan para ukenya dan memilih menjadi straight kembali. Entah itu gosip atau tidak, tapi yang jelas mereka sempat melihat Naruto mengatakan bahwa ia sudah tidak peduli dengan Sai, salah satu ukenya, ketika dilorong kemarin. Sedikitnya membuat mereka berharap bisa menjadi salah satu dari semua wanita disekolah ini yang beruntung.

"Saya sarankan pada Nona-nona cantik ini, daripada sibuk mengurusi pribadi orang lain yang belum tentu benar itu, lebih baik intropeksi dulu. Lihat diri kalian sendiri, apa kalian sudah lebih baik dari gadis itu? Mengacalah bila perlu. Jika tidak memiliki kaca, gunakan pantat tepos salah satu dari kalian" ucapan vulgar dan menghina/? Naruto sedikitnya membuat kelima gadis itu bingung serta salah tingkah sendiri, "Oh tentu itu tidak bisa kan? Jadi berhentilah menjelekkan orang lain, karena belum tentu orang yang dibicarakan kalian itu buruk dimata orang lain" sebelum meninggalkan tempat itu, Naruto menatap kelima gadis didepannya dari bawah keatas, lalu dari atas kebawah dan sebuah decakan keluar dari mulut tersebut.

"Bahkan bagiku gadis baru itu LEBIH baik dari kalian" komentarnya, diiringi senyuman mencemooh yang terukir cantik dibibir plum itu. Tanpa peduli tatapan terluka dan patah hati dari kelima gadis itu, Naruto melangkah mantap memasuki sekolah, lebih tepatnya melewati, sebab ia sudah berniat tidur di 'ruang pribadi'nya.

_TBC_

.

.

.

_ Omake _

Tiga jam sebelum ItaKyuu bertemu..

Terlihat dua sosok pemuda yang tengah mengamati seseorang dibalik dinding, menatap serius/? kedepan, sampai akhirnya salah satu dari mereka yang tampak gusar pun buka suara.

"Kau yakin ini berhasil? Lalu kau mendapat foto itu dari siapa?" tanya Shisui, menatap sepupu gilanya. Gila? Ya gila. Bagaimana mungkin ada seorang muridnya yang akan mempermalukan guru dengan bertindak culas/? begini.

Obito menggelengkan kepala melihat sikap panik Shisui, "Tenang saja, Shisui. Aku yakin ini berhasil" ucapnya yakin.

"Jika kita melakukan ini, kita mana tahu apa yang akan dikatakan oleh dosen killer itu? Kau bodoh ya? Lagipula kita melakukan ini tanpa memberitahu Itachi, bisa tragis nasib tuh anak" lanjut Shisui, masih tidak setuju dengan ide gila pemuda disampingnya.

"Oh ayolah, aku sudah mengetahui informasi apa saja yang baru didapat oleh Kyuubi-sensei. Dia baru mengetahui jika kita dan seorang gadis telah mengerjainya hanya untuk tiga buah kartu ATM. Dan aku hanya ingin sedikit mengerjainya hahaha" tawa Obito, membayangkan betapa konyolnya nasib guru killer itu.

"Hah? Bagaimana bisa?" Shisui nampak benar-benar kagum/? dengan aksi cepat Obito, "Ah iya, bagaimana dengan Sasuke?"

"Hm~ entahlah, mudah-mudahan saja Kyuubi-sensei belum mengetahui siapa itu Sasuke" Obito menggidikkan bahu, lalu kedua mata berbinar senang disaat melihat sang guru mulai beranjak pergi.

"Ayo!" ajaknya penuh semangat. Niat banget ngerjain gurunya.

Ingin sekali Shisui menendang bokong Obito, ia hanya tidak ingin menambah hukuman dari Kyuubi. Dan lalu ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Itachi ketika mengetahui mereka telah memberikan lubang kubur/? untuknya. Saat ini Shisui hanya dapat berdo'a pada yang sang pencipta, semoga ini bukan hari terakhirnya melihat wajah Itachi.

"Ayo, Shisui" dan dengan terpaksa Shisui mengikuti aksi gila sepupu idiotnya. Shisui bingung sendiri dari mana Obito mendapatkan benda nista itu? Apa jangan-jangan selama ini...

"Jangan katakan selama ini kamu menyukai dosen killer itu, dan memotretnya diam-diam bahkan sampai beronani sambil melihat benda nista itu?"

DUAGH!

"Aww shit! Kau gila hah?!"

"Apa?" Obito melotot sadis, seraya berdecih mendengar penuturan idiot dan menjijikan Shisui, "Kau yang gila! Mana mungkin aku menyukai, bahkan sampai berbuat gila macam itu? Tch! Sudahlah kita cepat-cepat tukarkan benda ini" ketusnya, mulai memasuki ruangan pribadi Kyuubi dan mulai menukarkan benda nista itu dengan benda 'mirip' yang teronggok sempurna diatas meja kerja sang guru.

Setelahnya cepat-cepat mereka kabur dari tempat itu setelah memastikan tidak ada yang melihat aksi nekat mereka. Dam beruntungnya diruang nista itu tidak ada CCTV.

Hahh, aman!
.

.

.
"Ganbatte, Sobat!" ujar Obito disaat sulung Uchiha akan memasuki ruangan Kyuubi.

GLEK

Itachi menelan ludahnya susah payah, "Aku ada permintaan, dan mungkin ini yang terakhir kalinya-" katanya melankonis banget, "-jika aku mati/? kalian tolong sampaikan pada keluargaku jika aku menyayangi mereka"

"Tenang saja, pesanmu tersimpan rapih/? olehku" sahut Obito, seakan secara tidak langsung menyumpahi sulung Uchiha untuk segera mati.

Shisui yang jengah hanya mengerlingkan matanya, bosan. "Sudahlah masuk sana. Jika kau tidak ingin guru itu semakin mengamuk" Itachi sedikit menatap tajam Shisui.

Dengan jengkel Itachi pun memasuki ruang nista tersebut. Oh tidak hidup dan matinya dipertaruhkan dibalik pintu itu.
.

.

.
Sesaat setelah Itachi masuk, Obito pun sedikit membuka celah pintu masuk, dan mulai mengintip. Lagi-lagi Shisui mengerlingkan matanya melihat tingkah idiot Obito. Ia pun hanya bersandar bosan pada dinding yang berada tepat didepan pintu ruangan Kyuubi. Sampai akhirnya ia mendengar nada terpekik tertahan keluar dari Obito, kedua halisnya mengerut bingung.

"Ada apa, Obito?" tanya Shisui penasaran juga melihat wajah pucat tapi memerah/? yang menghiasi wajah Obito.

Dengan tiba-tiba Obito menarik tangan Shisui, lalu menunjuk-nunjuk celah pintu. Menunjukkan sesuatu yang ia lihat.

"Apa sih? Apa Itachi mulai mendapatkan sik-WHAT THE?" Shisui langsung membungkam mulutnya sendiri disaat mendapatkan tatapan tajam dari Obito. Sadar jika ia bisa saja ketahuan telah mengintip duo manusia yang tengah saling lumat dan tumpang tindih. Dengan menggunakan isyarat mata, Shisui meminta penjelasan pada Obito, bagaimana bisa sahabat sekaligus sepupunya berciuman dengan seorang pria, dan parahnya lagi pria itu guru mereka serta seorang kejam/?.

"Err-sepertinya Itachi mulai tertarik dengan Kyuubi-sensei setelah melihat foto nakednya" Obito sedikit meringis melihat betapa kasiannya Itachi harus suka pada orang killer macam Kyuubi.

"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tidak setuju jika Itachi menyukai dosen killer bin nista itu!" Obito cengo melihat sifat protektif Shisui, dan ia semakin cengo disaat Shisui mulai berjalan menuju seorang gadis yang tengah sibuk terduduk sambil membaca buku dilorong yang tidak jauh darinya.

GREP!

"Tolong!" ucap Shisui ambigu plus sinting. Tiba-tiba datang mencengkram tangan sang gadis dengan erat, lalu berkata tersebut.

"Hah?" sang gadis pun menatap heran pemuda tampan didepannya. Sang gadis berkacamata itu pun memandang gugup pergelangan tangannya yang dicengkram.

Hampir saja Shisui berteriak gila, disaat baru sadar apa yang akan ia lakukan dengan memegang tangan sang gadis? Otak pintarnya pun langsung berputar, mencari alasan yang masuk 'akal' agar sang gadis mau membantunya menghentikan pikiran konslet/? Itachi didalam ruangan sana.

Aha!
Seperti halnya dikartun-kartun ketika sedang mendapatkan ide, sebuah imajiner lampu bohlam lima watt tiba-tiba muncul disisi kepalanya.

'Aku punya ide!'
Katanya dalam hati, ngikutin gaya bahasa dari salah satu ketiga boyband/? yang memakai nama grupnya dari 'laut'.

Dengan segera ia mengeluarkan sebuah buku laporan tugas yang diberikan Kyuubi, belum sepenuhnya dikerjakan sih. Lalu dengan tidak tahu dirinya Shisui memberikan lembaran tugas itu sebagai alasan agar sang gadis cupu ini mau membantunya.

"Aku ada sedikit 'urusan' dikamar mandi. Bisakah aku meminta bantuanmu, cantik? Bisakah kamu berikan laporan ini pada Kyuubi-sensei? Please" katanya, menatap sang gadis dengan tatapan tampan ala Shisui, dan sukses membuat gadis didepannya berblushing-ria.

Dengan gugup sang gadis pun meng-iya-kan permintaannya.

"Terima kasih. Lain kali aku akan mengajakmu dinner" tambahnya, PHP. Idih siapa juga yang mau kencan berduaan dengan gadis cupu ini? Iyuhhh banget deh.

Namun sepertinya sang gadis yang memang sudah terpesona dengan ketampanan Shisui, hanya terpekik senang mendengar janji menggiurkan Shisui.

"T-terima kasih" kata sang gadis, segera berlalu meninggalkan Shisui, dan kedua halisnya sempat mengkerut bingung disaat berpapasan dengan Obito yang berjalan berlawanan arah dengannya. Tapi sang gadis tidak peduli, ia hanya peduli jika ia akan diajak dinner bareng oleh pemuda tampan itu. Dengan suka cita sang gadis pun mulai membuka pintu secara perlahan, lupa mengetuk pintu disaat perasaan senang mendominasi otaknya, hingga melupakan tata krama bertamu/? keruang guru.

" Permisi Kyuubi-sensei ini lap-KYAAAA" jeritan melingking sang gadis membuat kedua pemuda yang berdiri tidak jauh dari sana, tertawa puas. Membayangkan betapa syoknya kedua makhluk didalam sana yang terpegoki seorang gadis.

BRAK

Tanpa peduli tata krama sudah membanting pintu dosennya, sang gadis pun berlari menjauhi ruangan nista itu. Dan menatap horror kedua pemuda tampan yang tengah menertawakan ekspresi syoknya.

"Apa yang kau lihat disana, cantik?" tanya Shisui menahan tawa gelinya.

Tubuh ber getar sang gadis yang sepertinya syok berat/? sedikitnya membuat Obito tidak enak hati sudah mempermainkan sang gadis. Obito pun menyikut lengan Shisui, agar berhenti tertawa.

"Kemarikan laporanku. Maaf ya sudah membuatmu repot" lanjut Shisui yang ditanggapi acuh sang gadis, berlari menjauhi kedua manusia gila itu.

PLETAK

Obito menjitak keras kepala Shisui, "Ckckck, kau sungguh kejam sob!" katanya, menggelengkan kepala. Kasian melihat wajah polos tadi pucat melihat adegan nista itu.

"Hm~ terpenting bagiku otak konslet Itachi sembuh" sahutnya, sinting. Tidak perduli dengan kondisi gadis cupu tadi. Dan Obito pun hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tindakan sepupunya ini.

"Dasar sepupu protektif" gumamnya, memijat pangkal hidungnya.

_ End Omake _

Aku gak tahu ini sudah cukup panjang atau belum bagi kalian, maksudku apa chap ini lebih panjang dari kemarin?
Dan maafkan aku yang belum buat hint hot/? tentang SASUNARU disini!
dan oh minna aku ingin menjelaskan sekali lagi, jika ff ini itu SERATUS PERSEN SASUNARU, aku gak salah naro pair kok, karna aku cukup tahu apa itu SASUNARU atau narusasu..

Oke deh sekali lagi gua minta maaf jika SASUNARU disini muncul hintnya..
Sedikit BOCORAN, aku bakal ngasih kisah percintaannya/? itu berdasarkan hint canon mereka di anime, kalian sadar gak kalo disini ada beberapa kesamaan hint dianimenya?
aku kasih tau nih :
1) inget pertama kali sasunaru kecil di animenya itu cuek-cuekkan bahkan saling natap sinis ketika dipinggir sungai/? err-waktu pas sasuke chibi diem dipinggir sungai, lalu naruto lewat diatas bukitnya? nah disini juga ada kan cuma gua sedikit ubah situasi dan kondisinya, kaya sasunaru disini yang saling lirik terus saling natap sinis..
2) inget pas team 7 latihan/? ambil lonceng dengan kakashi? pas narutonya diiket terus sasuke ngasih bentonya? nah disini juga ada scane/? dimana sasuke ngasih makanankan ke naru?
nah bgitulah, makanya maaf aja kalau disini SASUNARUnya terkesan sedikit bahkan terkesan membosankan..
aku cuma mau sedikit membuat kisah mereka tidak terlalu mainstreem..
kan bosen juga kalu tiba-tiba sasunaru saling suka terus cinta2n deh hehehe