Eyeshield21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

I don't own the characters

...

Us or ME?

Warning : OOC (?)


-Dua hari pasca pertandingan- 5.30 am

Seorang murid dari SMA Deimon tengah berjalan dengan penuh semangat. Dengan plester di hidung, pisang yang selalu dibawa, dan kata-kata seperti 'mukya, mukya' yang dia katakan sepanjang jalan. sudah bisa dipastikan kalau laki-laki ini bernama Monta.

Hari ini Monta pergi ke sekolah pagi-pagi sekali. Pelajaran dimulai pukul delapan tepat. Karena itu dia akan menggunakan waktu sebelum belajar dengan latihan. Tapi tentu saja sebelum ke sekolah dia akan mengajak sahabatnya untuk berlatih bersama.

Apakah kalian tahu tentang keunikan Monta setiap kali dia mengajak Sena latihan? Setiap kali Monta sampai di depan pagar rumah Sena, dia tidak masuk dan lantas mengetuk pintu atau menekan bel seperti kebanyakan orang. Yang Monta lakukan adalah memanjat pagar, mengacungkan buah pisang kesayangannya, lalu mengambil nafas dalam-dalam dan-

"SENA, LATIHAAAAN PAGI MAX!"

Unik bukan?

.

.

"Hoaaaam… nee Monta, lain kali kamu langsung saja masuk ke rumah. Tidak usah teriak dari pagar begitu. Suaramu kenceng banget." Sena menguap cukup lama. Suara Monta barusan bukan hanya mengagetkannya, tetapi orang tuanya juga. Bahkan beberapa tetangga Sena sampai mengintip keluar.

"Hehe habis aku semangat sekali hari ini. Maaf MAX!"

Kedua sahabat itu sama-sama setengah berlari menuju sekolah tetapi kondisi mereka berbeda. Monta terlihat bersemangat sekali. Dan Sena? wajahnya masih terlihat mengantuk. Sesekali dia menguap, terkadang juga langkahnya melambat. Memang kalau dari segi semangat dan energi, Monta lebih layak disebut Ace daripada Sena- Si Eyeshield itu.

"Oh iya, hari ini kamu bekal apa? Kalau aku bekal ini nih!" Monta memamerkan pisang yang dia bawa itu dengan bangga.

"Huh? Um.. aku ngga tau."

"Ngga tau gimana maksudnya?!"

"Aku suka dikasih bento sama kak Mamori. Dia suka bawa dua bekal." kata Sena.

"APA! Curang MAX!" Monta merasa iri dan langsung saja menjitak kepala Sena. Yang dijitak hanya cengengesan maklum menghadapi sahabatnya itu. "ahaha…"

Tak lama kemudian keduanya pun telah sampai di sekolah dan bersiap untuk latihan pagi mereka.

.

.


-Ruang Klub Devil Bats- 15.10

Sena sedang mengamati foto pertandingan melawan Hakushu yang diadakan kemarin lusa. Ingatan-ingatan saat pertandingan kembali terbayang. Bagaimana Monta menghadapi Kisaragi, Kurita menghadapi Gaou, dan dirinya sendiri saat menggantikan Hiruma menjadi Quarterback.

Tiba-tiba Sena menyadari sesuatu.

'Oh iya… Hiruma-san belum terlihat sejak pertandingan itu. Kemarin juga dia tidak terlihat seharian. Kemana ya?'

SREKK

"Ah Sena, kamu disini."

Pintu klub terbuka, Mamori masuk sambil membuka blazernya. Gadis itu berjalan kearah apron yang tergantung untuk kemudian dipakainya. Setelah itu dia mengambil sapu.

"Kamu sedang apa? Monta-kun dan yang lainnya belum datang?"

"Geng Juumonji sedang jajan bersama Komusubi-kun dan Taki-san, kalau Monta mungkin masih ada dikelasnya."

"Ooh…" Mamori mengangguk dan mulai menyapu ruangan.

Sena terlalu fokus dengan kegiatannya itu hingga tidak menyadari bahwa raut wajah Mamori saat ini terlihat khawatir dan kebingungan. Gadis itu sepertinya menunggu sesuatu.

.

.

Suasana ruangan klub cukup hening saat ini. Yang terdengar hanya senandungan Mamori dengan lagu yang selalu dia nyanyikan "Futari no Imi".

"Kawaranai egao de* lalala…~". Sudah jadi kebiasaan Mamori melakukan kegiatan sambil bersenandung. Tidak peduli suaranya jelek atau mungkin sumbang. Yang jelas dengan bernyanyi, pekerjaan yang dilakukan terasa lebih ringan. Sena yang sedari tadi duduk, diam-diam menikmati lantunan 'kakaknya' itu tanpa menghentikan kegiatan melihat-lihat foto.

Pintu klub kembali terbuka, kali ini Monta yang memasuki ruangan. Hal pertama yang dia lihat adalah Mamori yang sedang menyapu. Seketika dia terpesona.

"Wah Mamori-san cantik seperti biasa, rajin sekali MAX~."

"Halo, Monta-kun… bagaimana kelasmu hari ini?" Mamori berbasa basi sambil tersenyum manis kepada Monta dan kembali menyapu sambil bersenandung, benar-benar pemandangan yang indah bagi Monta. Hampir saja dia mimisan.

Monta kemudian duduk di dekat Sena tanpa mengubah arah pandangnya ke Mamori. Lalu dia mengeluarkan kotak bekalnya. "lapar MAX."

Sena melihat bekal Monta, ternyata bekalnya nasi dan potongan pisang. Sena langsung sweatdrop. Walaupun berusaha menyangkal, tetap saja temannya ini memang seperti makhluk yang selalu bergelantungan di pohon. Tapi tentu saja Sena tidak akan menghina sahabatnya seperti yang lain. Dia memiliki perangai yang baik.

Kruyuk~

"Hahaha Sena kamu belum makan? Perutmu manggil tuh hahaha!"

Wajah Sena langsung memerah. Sebenarnya, dia belum makan dari pagi. Monta membuatnya terburu-buru hingga lupa sarapan. Dia sudah mulai lapar saat masuk ruangan klub. Tapi sepertinya Mamori lupa memberikan bekalnya. 'Mungkin saja hari ini kak Mamori tidak membuat bekal' pikirnya. Rasanya tidak pantas jika Sena menagih bekal pada Mamori. Akhirnya dia memilih untuk diam.

Untungnya suara keroncongan itu cukup keras, setidaknya cukup keras hingga sampai ke telinga Mamori. Dan sebagai kakak yang overprotective, gadis itu jadi merasa bersalah dan menghentikan kegiatannya.

"Ya ampun! Maaf ya aku lupa sampai kamu keroncongan gitu..."

Mamori menyimpan sapu disudut ruangan, dan mengambil tasnya. Lalu dengan cepat mengeluarkan kotak makannya. Dan saat itu juga wajah puas Monta langsung berganti menjadi wajah BeTe.

.

"Nah… ini bekalmu!"

Sena malu-malu menerima bekal itu "Ehehe… terima kasih Mamori-neechan."

Mamori kembali melanjutkan kegiatannya bersih-bersihnya, karena menyapu sudah beres. Kali ini dia bermaksud mencuci piring. Mamori pun melipat seragam putihnya dan mulai membasahi sponge.

.

.

'I find breaktrough ashita e mukae ni…'

Ponsel yang ada dalam tas Mamori tiba-tiba berbunyi. Karena tangannya basah dengan air dan sabun, dia menyuruh Sena mengambilkan hpnya.

"Sena, siapa yang menelpon?" Tanya gadis itu.

"Tidak ada nama kontaknya hanya nomer saja. Bagaimana ini Mamori-neechan?"

'Siapa ya?' Pikir Mamori.

Tanpa pikir panjang Mamori menyuruh Sena mengangkat telponnya.

"Tolong loudspeaker saja Sena, tanganku masih basah." Tambahnya.

Sena menurut, dan menekan tombol Loudspeaker. Diletakkannya hp Mamori di atas pantry tepat disamping Mamori.

'TUT'

"Halo, disini Anezaki Mamori." Mamori sedikit mengeraskan suaranya karena jarak ponselnya cukup jauh.

"…"

Tidak ada jawaban.

Karena takut suara ponselnya tidak terdengar Mamori. Sena dan Monta tidak berbicara apapun, bahkan Monta menghentikan adegan mengunyah makanannya. Mereka berdua benar-benar mematung karena ikut penasaran.

"Halo? Dengan siapa ini?" Mamori mengulangi pertanyaannya. Tetapi masih tidak ada jawaban. Mamori mengelap piring yang barusan dicucinya sambil mendekat ke arah ponsel. "Halo?" Sekali lagi Mamori bertanya.

"Kenapa tidak dijawab? Ini siapa" Mamori mulai kesal.

"….."

Baiklah, Mamori sudah mengira kalau penelponnya ini adalah orang jahil. Dia meraih ponsel dan akan menekan tombol 'End call'. Tapi tiba-tiba-

"Kuso Mane."

PRANG!

Piring yang dipegang Mamori tak sengaja terlepas dan jatuh ke lantai hingga pecah. Mata Mamori membulat sempurna. Suara itu, panggilan khas itu benar-benar tidak asing lagi. Seseorang yang benar-benar ditunggu kabarnya sejak pertandingan beberapa hari lalu.

Hiruma Youichi

'!'

Reflek Mamori mematikan tombol loudspeaker. Tak peduli tangannya masih basah, dia menyambar ponsel merahnya dan langsung berlari menjauh dari ruang klub meninggalkan Sena dan Monta yang terpaku di tempat.

"Oy, Sena… Kau mendengarnya? Itu Hiruma-san kan?"

"I-iya terdengar cukup jelas… Kenapa Mamori-neechan terlihat panik seperti itu?"

Mereka masih memandang keluar, ke arah Mamori berlari barusan. Entah mengapa kini keduanya menjadi tegang. Sena jadi kembali teringat sesuatu.

"Sebenarnya barusan ketika melihat-lihat foto. Aku sempat berpikir tentang Hiruma-san… Sejak pertandingan melawan Hakushu kemarin, Hiruma-san benar-benar tidak ada kabar…"

"…Saat itu Mamori-san bilang Hiruma dan Doburoku-sensei pergi duluan karena ada urusan mendadak." Sambung Monta.

'Urusan mendadak?'

Monta berhenti dari acara makannya, keningnya mengkerut, Monta memikirkan apa saja yang mungkin sedang terjadi pada kaptennya saat ini. Kenapa seolah-olah ada yang Mamori sembunyikan dari mereka? Kenapa mereka tidak boleh tahu?

Sena menoleh pecahan piring yang tidak sengaja Mamori jatuhkan. Sama seperti Monta, kini berbagai macam pikiran muncul dikepalanya. Dan apapun itu, Sena yakin kalau itu bukanlah sesuatu yang baik.

'Sebenarnya apa yang terjadi?'

.

.

.

To Be Continue


Catatan :

*untuk lagu Futari no Imi yang dinyanyikan Mamori barusan, itu emang character songnya Mamori Anezaki sendiri ya :) . Bagi yang belum denger.. pokoknya musti denger deh.. habis suaranya Mamori (Hirano Aya) bagus banget disitu X"D.