JUST HINATA

By

Betelgeuse Bellatrix

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warn: AU, OOC, Typos, Bahasa tidak baku, rate M for theme, gaje, newbie

XXXXXX

Hanabi Hyuga: 20 y.o

Hinata and other (rookie 9): 25 y.o

Minato: 40 y.o

Hiashi, Mikoto, and other: 42 y.o

Chapter 1

"Ayolah paman, susah mencari rusa ini tahu!" Seorang gadis manis terlihat sedang menawar dengan penjual daging yang terlihat sangat menyeramkan.

"Tidak bisa, terima atau tidak?" Penjual daging tersebut nampaknya sudah kehilangan kesabarannya.

"Paman, bukankah kau tahu betapa sulitnya mencari rusa ini? Aku harus melewati para penjaga sialan itu lalu menaiki pagar kawat berduri dengan tegangan tinggi. Belum lagi aku harus membuat anak panah, mencari ranting, menyerutnya hingga tajam, menghitung proporsinya. Aku juga harus seharian disana agar mendapat rusa yang sudah jarang , kau tidak lihat tangan dan kakiku yang digigit nyamuk? Dan kau menghargainya semurah ini?" Gadis itu mengucapkan keluhannya dengan panjang lebar dan ekspresi sedih andalannya.

"Ck, aku tahu sangat susah, tapi menjualnya juga susah. Siapa yang mau membeli daging ditengah kemiskinan ini! Sudah sana! Wajah sedihmu tak akan berguna kali ini!" Tukang daging tersebut bicara dengan ketus dan menggunakan sapu untuk mengusir gadis tersebut.

"Iya, iya, aku pergi, kau pikir aku kucing?" Gadis tersebut merengut sebal pada tukang daging karena dipaksa keluar.

BLAMM

Gadis tersebut berjengit kaget karena pintu yang ditutup di depan wajahnya. Wajahnya kembali muram, bahu yang tadinya tegak menjadi melemas, matanya mulai berkaca-kaca. Namun seketika gadis itu menghapus air mata yang hendak keluar dengan punggung tangannya.

"K-kau tahu? Aku harus membeli obat untuk ayahku tahu! Kalau tak mau membelinya ya sudah, tak perlu menggunakan sapu kan? A-aku bukan kucing menjijikan!" Gadis itu bicara didepan toko daging dengan suara kecilnya. Namun sedetik kemudian kepalanya kembali tegak, bahunya kembali tegap, sorot matanya juga terlihat kuat.

"Aku akan memasaknya menjadi rusa panggang! Aku akan makan enak hari ini! Aku tak akan roti sisa hari ini! Terima Kasih..." Ia berteriak kencang dan kemudian berlari sekuat tenaga menuju rumahnya.


"Aku pulang"

"Ah, kakak sudah pulang, selamat datang" Seorang gadis berambut panjang berwarna coklat menyambutnya.

"Iya Hanabi, tadi ada sedikit gangguan" Perempuan berambut indigo menyahut.

"Rusa ya?" Gadis yang dipanggil Hanabi tadi mencoba mengintip sesuatu dibalik punggung sang kakak.

"E-eh, iya, maaf, belum bisa membelikan roti untuk makan ayah" Ia menunjukan hasil buruan yang tak jadi ditukarkannya tadi.

"Tidak apa-apa, kita akan makan daging rusa hari ini. Kita makan enak" sahut Hanabi dengan senyum tulusnya.

"Terima kasih" Sang kakak juga memberikan senyum indahnya pada Hanabi.

"Temuilah ayah, ia sangat khawatir padamu"

"Ah, baiklah, ini rusanya" Hanabi kaget ketika rusa yang cukup besar tersebut terlempar dan mengarah kearahnya. Beruntung Hanabi punya refleks yang bagus sehingga sang rusa tak menyentuh lantai. Hanabi menatap kakaknya yang berlari menuju sebuah kamar sambil meneriakan 'Ayah, Hinata pulang' sekencang mungkin. Yah, Hanabi hanya geleng-geleng melihatnya dan beranjak menuju dapur.


"Ayah, Hinata pulang" Hinata memelankan suaranya ketika ia mengintip dari pintu tua bercat coklat tersebut.

"Masuklah" Terdengar suara berat dan dalam khas pria dewasa dari dalam.

"Ayah..." Hinata berlari mendekati seorang pria di kursi roda dan memeluknya.

"Gadis nakal! Kau mau ayah cepat mati apa?" Meski terkesan kasar, namun kekehan tetap terselip disana.

"Maaf ayah, tadi aku harus bertengkar dengan tukang daging dahulu" Hinata melepas pelukannya dari sang ayah dan memulai ceritanya yang berapi-api.

"Bayangkan! Ia mengusirku dengan sapu! Memangnya aku kucing jalanan apa! Dia belum pernah merasakan tendangan dari Hyuga Hinata sih" Ia mengepalkan tangannya dengan ekspresinya yang ia buat menakutkan, tetapi malah memunculkan kekehan kecil dari sang ayah.

"Kau memang kucing garang yang bau" Sang ayah mengacak-acak rambut indigo panjang milik putrinya.

"Oh, bau ya? Rasakan ini!" Si gadis indigo tak terima dipanggil bau segera mendaratkan ciuman-ciuman brutal pada wajah ayahnya.

Kamar yang tadinya sepi menjadi hidup. Raungan, tawa, kekehan, dan teriakan memenuhi kamar berukuran kecil tersebut. Tak ayal, membuat Hanabi mengangkat kurva bibirnya. Ia senang saat keadaan hangat seperti ini, meski salju masih terus turun. Mereka berdua satu-satunya yang tersisa, harta berharga milik Hanabi. Hanabi berjanji akan melakukan apapun untuk mereka, agar suasana ini tetap ada. Ia tersenyum dan berniat bergabung dalam kehangatan itu.

"Ho, kau tak membantuku Hinata? Kakak macam apa kau ini?" Hanabi berdiri bersender di kusen pintu.

"Oh, adikku yang satu ini minta ciuman juga ya?" Hinata menhampiri Hanabi dengan seringainya.

"Tidak mau, kau bau!" Hanabi mulai beranjak dan berlari menghindari sang kakak.

"Sini Hanabi, muach... ehehehehe" Hinata juga berlari mengejar sang adik. Yah, kamar tersebut selalu ramai pada sore hari seperti ini.


"Maaf, mungkin besok aku akan mencari kerja lagi" Hinata tertunduk lesu disela-sela makan malamnya.

"Tidak apa-apa, toko gandum itu bagkrut bukan kesalahanmu" Hanabi berusaha meringankan suasana dengan sedikit bercanda.

"Kau tidak lucu Hanabi" Hinata menimpalinya dengan nada malas.

"Maaf, tapi sungguh, tidak apa-apa. Lagipula rusa ini bisa bertahan setidaknya 3 hari disimpan di es" Kali ini Hanabi menanggapi dengan lebih serius, terbukti dari suaranya yang melembut.

"Ayah jadi merasa tak berguna..."

"Tidak!" Hinata memotong perkataan ayahnya dengan suara lantang.

"Ayah adalah satu-satunya yang kami miliki sekarang, jangan berkata hal aneh" Hanabi menyambung perkataan kakaknya.

"Hah, sudahlah, tidak bisakah kita berhenti membahas ini? Aku sedang bahagia karena bisa makan rusa panggang sekarang" Hinata menekuk wajahnya karena merasa nafsu makannya berkurang.

"Baiklah, putri ayah yang nakal. Segera dimakan dan dihabiskan, jangan ada yang tersisa" Sang ayah mengatakan dengan nada yang tegas.

"Baik kapten!" Sahut kedua perempuan yang tengah memperagakan seorang prajurit yang memberi hormat pada kaptennya.


"Untuk apa kedaerah miskin seperti itu, menjijikan ayah!"

"Kita akan melihat hutan yang penuh sumber daya Naruto" seseorang yang dipanggil ayah tadi menyahut dengan nada tenang sambil menyesap teh krisannya.

"Cih, bagus sekali, tambang diambil alih, sekarang hutannya" Laki-laki berambut kuning dengan tiga kumis yang menyerupai kumis kucing tersebut berkata acuh sembari mencoba membidik rusa yang berlarian. Ia melesatkan anak panahnya pada salah satu rusa yang terbilang cukup besar diantara kawanannya. Naruto menampilkan seringai khasnya ketika anak panahnya tepat mengenai jantung sang rusa.

"Disana kau bisa memuaskan hasrat berburumu yang liar" ucap pria berambut kuning dengan senyum menawannya setelah melihat rusa yang berhasil sang anak bidik.

"Baiklah, aku akan bersiap-siap" Naruto meninggalkan sang ayah yang masih tersenyum menatap rusa hasil panahannya tadi.

Naruto berjalan menuju dalam istana, namun ia terhenti ketika seorang wanita berwajah cantik dengan rambut kuning yang terikat dua. Dengan segera ia membungkuk untuk menghormati sang wanita.

"Selamat sore nenek Tsunade" Naruto berkata dengan nada sopan sambil membungkukkan tubuhnya.

"Ya" Wanita tersebut tersenyum anggun dan kemudian mengusap kepala sang cucu. Setelahnya, wanita tersebut berjalan kembali ke tujuan awalnya. Naruto hanya menatap bosan neneknya yang sekarang sedang berjalan menghampiri ayahnya.


"Tepat lagi hm?"

"ah, ibu" Minato tersentak kaget mendengar suara anggun nan tajam yang menyapanya. Ia membungkuk singkat pada wanita yang telah melahirkannya.

Tsunade beranjak duduk dikursi kosong dihadapan Minato. Sang anak yang mengerti tata krama segera menuangkan teh krisan kesukaan sang ibu pada gelas porselen yang disediakan dan menyerahkannya pada sang ibu. Sebenarnya Minato cukup terkejut dengan kedatangan sang ibu suri ke kerajaan. Bukannya tak suka, ia hanya terkejut. Ibunya telah mengatakan bahwa ia ingin pensiun dari segala kegiatan kerajaan dan menetap di daerah asri didekat pegunungan. Jadi, apa yang membawanya datang kesini, tidak mungkin ia rindu pada Minato kan?

"Kau akan ke daerah pertambangan?" Tsunade bertanya pada Minato dengan nada khas bangsawannya.

"Iya"

"Aku punya firasat buruk" Tsunade memandang matahari yang terbenam dibelakang putranya. Minato tertegun menatap raut ibunya yang terlihat khawatir, datar memang, tetapi jika kau teliti, kau akan melihat wajah khawatir disana.

"Ibu sejauh ini hanya untuk memperingatkanku? Sejak kapan ibu kehilangan kerasionalisan ibu?" Minato menampilkan senyum khas miliknya.

"Firasat ini sama seperti saat kau akan memperkenalkan Kushina padaku" Suara tersebut terkesan dingin dan penuh emosi.

"Itu sudah lama, mari lupakan" Merasa topik ini mulai tak nyaman, Minato memutuskan untuk mengakhirinya.

"Rusa itu, sudah keberapa dalam satu bulan ini?" Tsunade masih dengan nada datar dan dinginnya.

"Ke-16" Minato menjawab dengan kekehan kecil.

"Menurutmu dia mirip siapa? Aku, kau, Kushina, atau ayahmu?" Untuk pertama kalinya Tsunade tertawa selama pembicaraannya sore ini.

"Aku harap tak seperti Kushina ataupun ayah" Berbeda dengan Tsunade, kali ini Minato lebih serius.

"Ya, harapan yang sama"

"Maaf yang mulia, keretanya sudah siap" Seorang laki-laki dengan topeng kucing berwarna putih menyela diantara pembicaraan tersebut. Tsunade yang pertama kali menoleh, karena laki-laki tersebut berada dibelakangnya.

"Ah, kau, apa kau ikut?" Tsunade bertanya dengan nada ramah.

"Tidak yang mulia, kali ini senior Kakashi yang mengantar, saya dilarang ikut diberbagai misi yang berhubungan dengan daerah pertambangan." Laki-laki tersebut menjawab dengan sopan.

"Ah, tentu saja, kau terlalu berharaga, hahahaha" Tsunade tergelak menanggapinya.

"Maaf, ibu, aku harus pergi" Minato bangkit dan merapikan bajunya.

"Ya, selamat bersenang-senang didaerah tanpa nama yang miskin dan terasingkan" Tsunade memberikan nada sinis ditiap katanya. Minato pun mencium tangan halus awet muda milik ibunya dan segera bersiap meninggalkan ibu kota.


Kesibukan Hanabi tak pernah selesai, kali ini ia sedang membersihkan rumah mungil milik mereka. Ketika ia melewati kamar Hinata, ia menoleh sedikit dan kembali melanjutkan langkahnya.

"Berdandan rupanya" Hanabi mengangguk-angguk. Kakaknya berdandan ternya, tunggu, Hinata berdandan? Berdandan? Setelahnya Hanabi berlari kembali kekamar kakaknya. Ia menaikkan sebelah alisnya sambil melipat tangannya didepan dada ketika sampai dipintu kamar sang kakak yang terbuka.

"Kau mau kemana?" Hanabi bertanya.

"Mencari kerja" Hinata menjawab singkat sembari menata rambutnya yang kunjung rapi.

"Kau mau bekerja di tempat Nyonya Kouki?"

CTIK

Pertanyaan polos Hanabi membuat gurat kekesalan muncul di jidat Hinata yang tertutupi oleh poni. Bagaimana ia tak kesal, ia disamakan dengan perempuan jalang disana yang menjual tubuhnya untuk dicicipi para lelaki hidung belang. Lebih baik Hinata mencuri daripada menjual diri, enak saja adikknya ini.

"Aku memilih mencuri daripada menjual diri. Hanabi" Hinata menjawab dengan ketus.

"Siapa tahu?" Hanabi menjawab acuh.

"Hahaha, lucu sekali" Meski Hinata tertawa, ia tertawa dengan nada datar.

"Kenapa harus berdandan cantik?"

"Kau ingatkan, saat aku melamar di toko gandum itu, aku menegnakan baju sederhana. Dan apa yang kudapat? Hanya pekerjaan memindahkan karung penuh debu. Siapa tahu dengan berdandan lebih baik, bisa membuatmu mendapatkan posisi yang lebih baik. Yah, setidaknya sebagai penjaga toko roti. Kan lumayan, jika ada sisa bisa dibawa pulang. Siapa tahu?" Hinata menyambar tas kecilnya dan segera beranjak keluar, tak lupa ia mencium pipi tembam adiknya.

"Jangan memaksakan diri"

Perkataan Hanabi menghentikan Hinata yang akan membuka pintu depan. Tanpa sadar, Hinata mengenggam erat gagang pintu dengan tangannya. Kemudian ia berbalik dan memberikan senyum termanisnya pada sang bungsu Hyuga.

"Harus Hanabi, harus."

CKLEK

Hanabi menatap datar pintu yang ditutup oleh kakaknya. Hinata adalah tipe pekerja keras yang berjuang untuk keluarganya. Sejak kejadian itu, Hinata menjadi kuat dengan sendirinya. Ia menjadi sosok kakak laki-laki maupun perempuan, bahkan ibu untuk Hanabi. Terkadang Hanabi berfikir, ia hanya gadis lemah dikeluarganya. Ia merasa kesal dengan dirinya yang tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan pekerjaannya pun tak sebanding dengan Hinata. Hanabi menghela napas panjang. Jika ada yang bisa Hanabi lakukan, ia akan melakukannya, bahkan jika itu menyiksanya.


"Kau benar tak mau ikut Naruto?" Minato bertanya pada putranya yang sedang merebahkan diri dikasur dibelakangnya.

"Tidak ayah, aku akan pergi sendiri besok" Naruto beranjak menuju ayahnya yang sedang memakai baju khas untuk para raja berpergian. Ia kemudian merapikan lengan baju ayahnya yang tergulung.

"Sebaiknya ayah mencari seorang wanita. Agar aku tak perlu melakukan ini"

"Yah, memang kau akan setuju? Akan sulit meminta persetujuanmu" Minato masih fokus dengan pakaiannya hanya menjawab acuh gurauan sang anak.

"Kau raja. Pendapatku tak penting"

BLAM

"Kau benar" Minato menatap datar pintu yang dibanting oleh Naruto.

0

"Ayah, Hanabi akan membantu tuan Matsumoto dengan kudanya. Sampai jumpa nanti" Hanabi berteriak dari pintu depan kepada ayahnya dan segera bergegas pergi.

Hari ini Hanabi akan membantu seorang pejabat di daerahnya. Sejak kecil, Hanabi memeng sangat suka bermain dengan hewan. Ia sangat dekat dan juga begitu mengenal para hewan. Tak jarang, Hanabi menangis tiap kali kakaknya membawa hewan untuk dimakan. Yah, mungkin itu adalah satu-satunya keahlian khusus Hanabi, dan Hanabi bersyukur atasnya.

CTAK CTAK CTAK

Sebuah suara yang cukup familiar terdengar di telinga Hanabi. Mau tak mau membuat sepasang kaki mungil tersebut terhenti. Ia tertegun melihat kejadian didepan matanya. Dua ekor kuda yang terjebak dilumpur terus dicambuk oleh kusirnya. Kuda-kuda tersebut meringkik kesakitan. Ini sudah keterlaluan. Tanpa fikir panjang, Hanabi berdiri didepan kuda-kuda itu.

"Hentikan!"

Minato terkejut dengan kehadiran seorang gadis muda berambut coklat panjang disana. Ia berdiri diantara sang kusir dan kudanya. Awalnya Minato berniat menelusuri daerah pertambangan ini, namun keadaan tanah yang sangat buruk membuat kudanya terjebak. Namun, kejadian ini mengejutkannya. Gadis berani dari daerah pertambangan.

"Kau siapa? Minggir!" Sang kusir mendorong Hanabi agar menjauh dari kuda-kudanya. Namun, hal itu tak pernah menghentikan Hanabi. Jika dulu ia hanya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, kali ini ia akan bertindak.

"Mereka juga punya nyawa! Apa kau tak punya belas kasihan? Kusir macam apa kau? Mereka juga butuh diperlakukan baik!" Hanabi berteriak marah dan merebut cambuk dari sang kusir.

Minato yang melihatnya tersenyum tipis, gadis pemberani, fikirnya. Gadis itu cantik, matanya unik, putih tanpa pupil. Segaris senyum hadir diwajah Minato. Untuk pertama kalinya ia melihat wanita secantik ini. Ada perasaan aneh pada diri Minato. Raja yang berkuasa tersebut melangkahkan kakinya menuju sang gadis yang sedang beradu pandang dengan sang kusir.

"Buktikan Nona, buktikan."

Hanabi terkejut dengan suara yang menginterupsi adu tatap dengan kusir tadi. Ia berbalik untuk melihat sang pemilik suara. Hanabi juga sempat melihat sang kusir yang membungkuk pada pria berpakaian bagus ini. Hanabi yang tak mengerti maksud sang pria didepannya ini hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Buktikan kalau mereka juga bisa dibujuk dengan baik" Minato hampir tertawa dengan ekspresi Hanabi yang menurutnya lucu.

Hanabi yang mendengar bahwa pria didepannya ini menantangnya segera membuktikan ucapannya. Hanabi menghampiri kuda tersebut, ia tersenyum lembut dan mengucap kata penenang. Ia mengelus surai kuda-kuda itu dengan lembut, tak lupa mencium kepalanya. Kemudian ia mengeluarkan sedikit jerami dari kantungnya dan sedikit menjauhkannya dari kuda. Ia mengucapkan kata-kata berusaha pada kuda-kuda itu.

Perlahan-lahan kuda-kuda tersebut berjalan, masih dengan Hanabi yang tersenyum dan mengucapkan bisikan pada kuda tersubut. Di mata Minato, hal tersebut sang indah, begitu anggun, lembut, dan hangat. Tak lama kemudian, dua kuda tersebut berhasil keluar dari lumpur. Mereka meringkik senang dan mengusap-usap wajah Hanabi, yang dibalas dengan sentuhan hangat Hanabi.

"Apa yang bisa aku berikan?" Minato bertanya pada Hanabi.

"Untuk apa?" Hanabi menjawab acuh karena masih sibuk dengan para kuda.

"Imbalan nona, imbalan." Minato menampilkan senyum andalannya. Hanabi tertegun sejenak melihat senyum pria kuning didepannya. Minato pun terkekeh pelan, namun dengan seringai kecil menyertainya.

"Mari, ikut denganku Nona, ah, siapa nama mu?"

"Hanabi" Sang bungsu Hyuga menjawab pelan.

"Kembang api ya?" Minato berlutut dan mencium punggung tangan Hanabi. Sang gadis hanya merona, namun memunculkan seringai senang di bibir sang raja. Semua akan berubah, tak lagi sama.

To Be Continue...

XXXXXX

Hai...

Maafkan saya*bungkuk2* udah lama, cuma gini doang, berantakan lagi, huwaaaa...

Saya ga mau banyak alasanlah, maafkan saya, tapi Betel janji, chap 2 akan panjang. Okelah, mohon masukkan atau kritik saran ya, baik itu penulisan, alur, ataupun EYD.

See you,,,,,