A/N : Yeaaah! Saya kembali untuk meng-update cerita ini! #tebarconfetti Buat yang nunggu Hetalia Awards, maaf, ya. Itu lagi under construction. Banyak banget yang harus dirubah. Hahaha. Sabar-sabar, yaa.

Disclaimer : Kepunyaan Hidekazu Himaruya

Warning : GORE dan pembunuhan. Hint sho-ai di chapter ini.


Antonio Carriedo berjalan menyusuri koridor markas besar kepolisian dengan seorang pemuda di sampingnya. Pemuda itu adalah pemuda yang akan menjadi partnernya, asistennya dalam setiap kasus. Berhubung Antonio saat ini sedang menangani masalah Commedia dell'Arte, maka mau tak mau si anak baru ini harus ikut terjun dalam berbagai kasus pelik dan pengejaran penuh intrik.

"Jadi, Rangga!" kata Antonio ceria, berusaha menghilangkan kebisuan di antara keduanya. "Apa yang mendorongmu ingin menjadi polisi?"

"Tidak ada." balas Rangga singkat, padat, dan jelas. Dihiraukannya ekspresi tertohok Antonio atas jawaban dinginnya itu.

"... He, hei! Sebelum kuperlihatkan ruangan kita, mari kuperkenalkan pada rekan-rekan kita yang lainnya!" ucap Antonio buru-buru sambil meraih pergelangan tangan Rangga dan menyeret sang pemuda ke sebuah meja. Jujur, ia sudah habis ide mau bicara apalagi dengan si pemuda Asia bertampang dingin ini.

"Hei, Antonio!" sapa Gilbert lantang dan melambaikan tangan. Sebuah cengiran lebar terpampang jelas di wajahnya. "Bagaimana pundakmu, eh? Sudah sembuh, kan? Kau ini benar-benar tidak awesome sampai bisa tertembak begitu."

Tawa renyah meluncur dari mulut Antonio, menanggapi komentar Gilbert. "Daripada kalian yang lari tunggang langgang hanya karena sebuah bom cahaya begitu. Kalian lebih tidak awesome dariku!" balasnya.

"Seenaknya saja kau bilang begitu! Begini-begini aku adalah penyelamat nyawamu, tau! Terima kasih sedikit, dong!" kata Gilbert kesal. Sang pemuda berambut putih ini secara tiba-tiba langsung memiting Antonio dan menjitak kepala sang detektif dengan gemas.

"Aduh, aduh, aduuuh!" rintih Antonio.

Sementara para polisi yang lainnya tertawa-tawa melihat tingkah antik Gilbert dan Antonio, Rangga hanya bisa terdiam dan mengamati. Mata abu-abunya menatap lekat wajah dan perawakan masing-masing polisi, seolah-olah mencoba mengingat semua detail dengan begitu cepat. Ia bahkan tak menyadari ketika sebuah lengan besar melingkar di pundaknya, merengkuhnya dengan lembut.

"Hei, manis. Kau pasti anak baru, ya? Kenalkan, namaku Willem van der Plast! Polisi paling hebat di divisi Narkotika dan Barang-Barang Ilegal!" kata Willem sambil tersenyum lebar. "Kalau aku boleh tahu, siapa namamu, manis?"

Seandainya pandangan mata bisa membunuh, Willem pasti sudah almarhum dari sekarang.

"Jangan sentuh-sentuh aku, dasar vampir bling-bling!"

Dan kalimat itu berhasil menancap dengan begitu dalam di hati Willem.

Tapi, malah menuai tawa histeris dari rekan-rekannya.

"'Vampir bling-bling'!" ulang Gilbert diantarai derai tawanya. "Baru kali ini aku mendengar orang mengejek Willem dengan sebutan itu!" Dan ia melanjutkan tawanya memukul-mukul meja kerjanya.

"Setelah kupikir-pikir, gayamu itu agak-agak mirip dengan si vampir itu, sih." gumam Francis sambil tersenyum jahil. Di belakangnya Antonio dan Gilbert masih tertawa-tawa riang mendengar julukan baru bagi Willem.

"E... Enak saja!" kilah Willem dengan muka bersemu merah, malu. "Justru gayaku yang ditiru oleh si Cullen itu! Seenaknya saja dia menyamai warna rambut dan gaya rambutku! Maaf saja, ya! Aku lebih ganteng dan lebih macho daripada dia!"

Pembelaan Willem bukannya meredakan derai tawa teman-temannya malah membuat tiga orang itu semakin terbahak-bahak.

Kesal melihat tingkah laku tiga orang 'Bad Touch Trio' ini, sang pemuda Belanda tersebut kembali memfokuskan perhatian pada makhluk manis nan judes yang masih berdiri di sampingnya. Senyuman seduktif kembali ia lontarkan untuk membantu kelancaran pendekatannya. "Hmm... Berarti, kalau aku Edward, kau mau jadi Bella? Kita padu kasih yang jauh lebih keren dari mereka berdua."

Sebuah lirikan sinis dari mata abu-abu milik Rangga tertuju lurus ke arah Willem. Dan dengan penuh perasaan serta keyakinan teguh—tak lupa juga disertai kebencian yang amat sangat—sang pemuda Asia itu berkata:

"Mati saja kau."


Di sebuah gedung tua yang tak terpakai, seorang laki-laki duduk bersimpuh, memohon-mohon pada seorang pria lainnya yang berdiri dengan begitu angkuh di depannya. Di tengah ruangan yang remang, terlihat beberapa sosok manusia lainnya.

Terkapar di lantai kayu gedung.

Tak bergerak. Tatapan mata kosong dan kulit memutih, pucat.

Dengan darah berceceran, mengucur pelan dari sebuah lubang tepat di tengah kepala mereka.

"Kumohon... Ampuni saya..." pinta sang laki-laki yang bersimpuh, menangis. "Itu... Kami tak tahu kalau polisi bisa melacak tempat persembunyian kami!"

Pria yang berdiri di depannya masih terdiam dengan tatapan dingin. Topeng keramik berwarna hijau toska itu berkilauan tertimpa sinar bohlam tepat di atasnya. Tangannya terlipat di depan dada, angkuh.

"A... Ampuni saya... Kumohon..." Kembali ibaan meluncur dengan penuh gemetar dari mulut sang laki-laki. "Sa... Saya mengakui kesalahan saya. Seharusnya saya kembali dan mengambil barang-barang itu. Saya mohon, ampuni saya..."

Masih dalam diam, sang pria bertopeng mengambil pistol yang tersemat pada ikat pinggangnya.

Panik melihat pistol yang telah merenggut nyawa rekan-rekannya, laki-laki yang sedang bersimpuh itu merangkak mendekat dan memeluk kaki sang pria bertopeng. "Kumohon! Ampuni saya! Saya berjanji tidak akan merusak rencana lagi. Izinkan saya hidup..." pintanya sambil menangis.

"Sekali sampah tetap sampah." bisik sang pria bertopeng. Moncong pistol ia arahkan tepat ke kepala pria yang sedang berlutut, menyembah kakinya. "Perintah langsung dari Il Capitano untuk membunuhmu."

DOR!

Dan sang pemuda terkulai lemas di lantai, tak bernyawa dengan lubang menganga di kepalanya.

Sebuah siulan pelan terdengar dari salah satu sudut ruangan lalu disertai tepukan tangan.

"Tak kusangka Il Capitano memintamu untuk turun tangan langsung menyelesaikan ini."

Sang pemuda bertopeng hijau itu menoleh dengan pistol masih tergenggam erat di tangan kanannya. "Ya. Dan seharusnya kau berterimakasih karena Il Capitano tidak memintaku untuk membunuhmu juga, Arlecchino."

Arlecchino, yang identitasnya sudah diketahui sebagai Alfred Jones, tertawa renyah. "Yah... Harus kuakui pekerjaanku yang ini tidak berhasil dengan baik layaknya pekerjaanku lainnya yang begitu menakjubkan. Agak aneh juga ketika hero sepertiku bisa nyaris tertangkap seperti itu."

Pemuda bertopeng hijau hanya mendengus dan menyarungkan pistolnya. "Hentikan omong kosong hero-mu, Arlecchino. Gara-gara tindakanmu yang gegabah itu sekarang polisi sudah mengetahui identitasmu. Bagaimana pertanggungjawabanmu pada organisasi?" Ia berjalan mendekat ke arah Arlecchino. "Il Capitano marah besar saat ia tahu kau meninggalkan uang dan kokainnya. Kau malah mengutamakan hamburger sialan itu." lanjutnya sambil mendelik pada Alfred.

"Hei! Aku lapar, tahu!" geram Alfred. Mata birunya berkilat kesal.

Kembali sang pria bertopeng hijau mendengus. "Sekali lagi kau melakukan kesalahan, tanpa ragu aku akan lubangi kepalamu itu, Arlecchino. Tingkahmu yang sembarangan itu mulai membuatku kesal."

Alfred tertawa lantang. "Kalau kau memang tak suka denganku, kenapa tak kau tembak saja aku sekarang, Brighella?" katanya menantang. Mata biru di balik kacamata itu berkilat penuh kebencian dan kekesalan.

Bibirnya tertarik membentuk cibiran sinis.

"Pengecut sepertimu bahkan tak pantas untuk mendapatkan kehormatan mati ditanganku."


Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya

Commedia dell'Arte © anonymous

Godfather © are. key. take. tour


"Jadi, ini ruangannya!"

Antonio menggiring Rangga, sang partner barunya dengan riang ke dalam ruang kerjanya. Ruangan itu tidak terlalu besar, namun tidak juga sempit. Begitu sederhana dengan partisi kaca pada dua sisinya dan sisanya merupakan batasan masif berupa tembok bercat putih. Tergantung di salah satu sisi tembok penghargaan-penghargaan yang diberikan atas sang empunya ruangan, sementara tembok lainnya terpasang potongan-potongan kliping dan penyidikan terbaru yang telah dilakukan. Jalinan benang merah, hijau, biru, putih, dan kuning tampak saling silang, menandai masing-masing potongan berita dengan warnanya yang atraktif. Tak jauh dari tembok itu, berdirilah sebuah meja kerja besar. Warna kayu yang gelap menampilkan kesan berwibawa dan serius, sementara sinar lembut berwarna kuning menguar dari lampu meja berbahan krom di atas meja. Dokumen-dokumen berserakan tak teratur.

Rangga menatap berkeliling ruangan tersebut. Sedikit berantakan, namun cukup terorganisir. Mungkin butuh tempat yang lebih besar untuk meletakan barang-barang ini.

Melihat Rangga yang masih terpaku di sampingnya membuat Antonio salah tingkah. Ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. "Maaf, kalau tempatnya berantakan. Aku hampir tak punya waktu untuk beberes." kata Antonio malu-malu.

"Ah, tidak apa-apa, kok." balas Rangga ramah, lalu diiringi sebuah senyum singkat. "Mengingat kegiatanmu yang super sibuk, ruangan seperti ini masih belum berantakan."

Mendengar perkataan Rangga membuat Antonio menjadi lega. Tadinya ia pikir pemuda Asia ini akan marah besar karena suasana ruang kerja yang tidak kondusif. Ketakutan itu cukup mendasar, mengingat sikap dingin dan sinis yang ditunjukan oleh Rangga sepanjang perjalanan dari kantor Inspektur Eldestein sampai kemari. Namun ternyata tanggapan yang penuh pengertian keluar dari mulutnya. Belum lagi sebuah senyum manis juga ditampilkan.

"Oh, iya. Mungkin kita harus membicarakan ini sebagai partner. Ada beberapa peraturan yang harus kukatakan disini."

Raut wajah Rangga langsung berubah menjadi tegang.

Melihat wajah tegang dan panik dari pemuda berdarah Indonesia itu malah membuat Antonio tertawa pelan dan memukul ringan pundak Rangga. "Tenanglah, Rangga. Ini bukan peraturan yang akan membuatmu terkena sanksi atau sebagainya, kok."

Hembusan napas lega terdengar dari sang rookie.

"Aturan yang pertama adalah dalam setiap penyelidikan, aku tidak membatasimu untuk menyelidiki sesuatu. Hanya saja, kau harus melaporkan semuanya padaku. Minta izin untuk menyelidiki TKP juga harus melaluiku. Kau mengerti?"

Anggukan kepala.

"Aturan yang kedua, yaitu sikapmu di lapangan nanti. Ingat, aku memang partner seniormu, tapi di lapangan kau harus tahu siapa yang pegang kendali. Kadang, itu bisa aku. Kadang kala bisa juga dipegang oleh polisi lainnya. Dalam keadaan seperti, kau harus tunduk pada kebijakan yang ada, karena tiap orang mempunyai kebijakan yang berbeda."

Lagi, diikuti sebuah anggukan kepala.

"Dan aturan ketiga. Kau tahu tentang Commedia dell'Arte?" tanya Antonio dengan suara rendah.

Rangga bisa merasakan suasana ruangan mendadak menjadi kaku dan tegang ketika nama 'Commedia dell'Arte' disebut. Perlahan, pemuda berambut hitam ini mengangguk mengiyakan.

"Dan kau sudah tahu kalau aku adalah detektif yang khusus menyelidiki tentang mereka, kan?" Kembali Antonio bertanya.

"Ya. Inspektur Eldestein sudah memberitahuku kemarin." sahut Rangga pelan.

"Baguslah. Kalau begitu, aku tidak perlu panjang lebar lagi menjelaskan apa itu Commedia dell'Arte. Intinya, sebagai detektif yang menyelidiki khusus segala kasus yang berhubungan dengan Commedia dell'Arte, aku sering dipanggil oleh berbagai divisi kepolisian yang lainnya. Divisi pembunuhan, divisi anti huru-hara, dan—divisi kita sendiri—divisi narkotika dan perdagangan barang-barang ilegal." kata Antonio menjelaskan panjang lebar.

Rangga Wicaksono hanya bisa mengangguk pelan sambil memperhatikan apa yang dikatakan oleh Antonio.

"Jadi, suatu hari nanti kau pasti akan kubawa untuk menemaniku ke tempat kejadian pembunuhan. Dan harus kuberitahu kau sekarang kalau semua pembunuhan yang dilakukan kelompok itu selalu... Bagaimana membahasakannya?"

"... sadis?"

"Yah, bisa kau katakan seperti itu." Antonio mendongak, menatap lurus ke wajah Rangga. "Kau... Tidak apa-apa, kan?"

Sang rookie tertawa ringan. "Aku sudah tahu konsekuensinya menjadi rekanmu, Carriedo. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk hal ini."

Antonio bernapas lega. Awalnya ia sempat curiga kalau rekan barunya ini akan menanggapi berita ini dengan sikap negatif, bahkan penolakan. Karena sejauh pengalamannya, tak semua orang di luar divisi pembunuhan tahan berapa di tempat pembunuhan. Penuh darah dan bau amis menyengat, serta potongan tubuh dimana-mana. Jelas bukan tempat favorit yang ingin dikunjungi siapapun.

"Baguslah kalau begitu! Nah, tugas pertamamu sebagai rekanku yang baru adalah—"

Dan saat itulah pintu kantor diketuk. Seorang pria berambut pirang sebahu menyumbulkan kepala dari sela pintu.

"Hei, Antonio."panggil Francis dari ambang pintu. "Kau diminta Inspektur Eldestein untuk segera ke divisi pembunuhan. Inspektur Oxsentierna memanggilmu. Katanya ada kasus pembunuhan yang ia duga dilakukan oleh Commedia dell'Arte."


Mobil sedan berwarna perak itu berhenti tepat di depan gedung bertingkat lima yang sudah sangat usang. Banyak kaca jendela yang sudah pecah dan ditutupi oleh papan kayu yang juga sudah usang, lapuk dimakan usia. Dinding-dinding bata merah sudah banyak yang berlumut, bahkan rontok karena usia. Archway dengan kepala singa pada lintelnya tampak begitu rapuh dan nyaris runtuh. Masuk ke dalam ruangan juga tidak membuat suasana membaik. Bau apek dan lembabnya udara menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki ke dalam. Rolling door yang menjadi pintu masuk utama gedung akan berderit seiring dengan putaran pintu, menambahkan kesan horor dan tua.

Seekor tikus besar dan berbulu cokelat kasar melesat dengan begitu cepat, nyaris menabrak kaki bersepatu kulit hitam di depannya.

"Astaga... Tempat ini sudah tua sekali..." gumam Rangga jijik saat melihat tikus gemuk dan kotor itu nyaris menabrak sepatu kulitnya yang mahal. Ia bahkan merunduk dan menarik sapu tangannya dari saku untuk membersihkan sepatunya dari debu dan kotoran yang menempel.

"Kau harus mulai terbiasa dengan situasi seperti ini, Rangga." timpal Antonio santai. "Kebanyakan tempat persembunyian para penjahat macam Commedia dell'Arte adalah gedung-gedung tua tak terpakai seperti ini."

Tak butuh waktu lama bagi kedua detektif ini untuk sampai ke tempat pembunuhan terjadi. Sebuah ruangan yang cukup besar, terletak di lantai tiga gedung usang tersebut. Kaca-kaca mengelilingi tiap sisinya, menampilkan pemandangan sore kota sebagai latar belakangnya. Disana, polisi dari divisi pembunuhan sudah berkeliaran mengumpulkan bukti. Sinar-sinar blitz saling sahut menyahut, menerangi ruangan yang remang-remang dengan sinar putih cerah mereka.

Di saat itulah keduanya menyadari kondisi area pembunuhan.

Total mayat yang ada di ruangan itu ada lima orang, dengan kelimanya tersebar di beberapa sudut ruangan. Yang pertama terbaring dengan posisi terlentang di dekat pintu. Sepertinya langsung ditembak mati saat membuka pintu. Yang kedua mati dengan keadaan bersandar pada dinding. Mayat ketiga jatuh dengan keadaan menelungkup dan posisinya mendekati pintu keluar. Sepertinya ia mencoba untuk kabur. Yang keempat terkapar di lantai dalam posisi memegang pistol. Yang ini tampaknya ingin memberikan perlawanan pada pembunuhnya. Lalu yang terakhir, yang kelima, terkapar di tengah ruangan dalam keadaan berlutut. Kepalanya bertumpu pada lantai kayu sementara kedua tangannya berada di depan tubuh, seperti memeluk sesuatu. Kelima-limanya dibunuh dengan satu tembakan telak ke kepala, tepat di antara kedua bola mata.

Semuanya. Semua lubang peluru mempunyai letak yang sama.

"Carriedo." Terdengar sapaan dari suara berat yang sangat khas, membuat Antonio dan Rangga mengalihkan sebentar perhatian mereka dari kondisi TKP dan menoleh ke kiri mereka. Disanalah mereka melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap berambut kuning pendek. Kaca mata menggantung di batang hidungnya.

"Inspektur Oxsentierna." sapa Antonio penuh hormat disertai anggukan kepala.

Berwarld Oxsentierna, inspektur kepolisian divisi pembunuhan itu membalas anggukan kepala Antonio. Ia kemudian memperhatikan Rangga yang berdiri di samping Antonio dengan penuh pertanyaan.

"Ah, maaf lupa memperkenalkannya pada Anda. Dia adalah rekan saya yang baru, namanya Rangga Wicaksono." kata Antonio.

"Perkenalkan. Saya Rangga." ujar Rangga dengan begitu sopan. "Mohon bantuannya."

Berwald mengangguk, mengerti. "Kukira siapa. Baiklah, kita langsung masuk ke inti kasusnya saja. Ini." Sang inspektur menyerahkan kantung plastik transparan kepada Antonio. Di dalamnya terdapat secarik kertas lusuh dengan tulisan sambung yang begitu rapi.

Antonio mengambil plastik tersebut dengan hati-hati. Dibawanya mendekat barang bukti tersebut bahkan hingga ke bawah hidungnya. Dengan sangat teliti, ia membaca kalimat yang tertulis pada kertas tersebut.

"'Blessed by Il Capitano, I disposed these trashes.'—Brighella."

"Bagaimana?" tanya Berwald pada Antonio sambil menerima kembali kantung plastik tersebut. "Apa ini benar perbuatan Commedia dell'Arte? Ataukah ini hanya sebuah aksi dari para penirunya?"

Sebuah gelengan pelan menjadi jawaban. "Surat ini asli. Tanda tangan yang dibubuhkan juga sama. Ditulis dengan menggunakan tinta hijau yang selalu ia gunakan untuk membubuhkan tanda tangan di tiap surat yang ia tinggalkan di TKP."

"Tapi... Bagaimana kalau tinta dan tanda tangan itu dipalsukan?" tanya Rangga. Ada sedikit keraguan pada nada suaranya mengenai keabsahan surat tersebut. "Bisa saja, kan, orang memplagiat tanda tangan. Dengan kemampuan teknologi zaman sekarang, hal itu bisa menjadi mudah. Mencari tinta dengan warna hijau begini juga sudah bukan perkara sulit lagi."

Sang Spaniard tersenyum saat mendengar pendapat rekannya. "Kau benar, Rangga. Aku menghargai pendapatmu itu. Tapi, tanpa melihat surat itu juga aku sudah tahu kalau mereka dibalik ini semua. Hanya perlu melihat kondisi mayatnya saja."

"Eh?"

"Kemari." Antonio menggiring rekan barunya itu ke mayat terdekat. Seorang laki-laki yang mati dalam keadaan berlutut di lantai, seolah sedang memohon ampun pada sosok misterius di depannya. "Coba kau lihat luka pada kening mayat ini dan juga mayat-mayat yang lainnya."

Dengan dahi berkerenyit, Rangga mencoba untuk fokus pada lubang menganga di kepala korban-korban. Semuanya terletak di kepala, lebih tepatnya lagi di antara mata korban. "Ya. Memangnya kenapa?"

"Perhatikan posisinya."

"Eh... Ya? Lalu?"

"Semuanya sama, kan?"

"Eh... Ya. Benar juga. Semua letak lukanya sama."

"Nah. Itu dia yang membuatku langsung tahu siapa pelakunya." kata Antonio diiringi sebuah senyum singkat. "Brighella sudah terkenal dengan keahliannya menembak dengan sangat presisi, yaitu di antara kedua mata korban." Sang detektif berambut cokelat itu menjelaskan sambil menunjuk area yang sama di antara kedua matanya. "Dengan menembak tepat pada area ini, peluru akan langsung merangsek masuk dan merusak otak besar. Menembak seperti ini akan membuat lawan mati seketika, tepat saat peluru menghujam masuk ke otak. Dilihat dari caranya menembak, dia ini pasti orang yang paling benci berbasa-basi, mendengar rintihan korbannya."

Rangga hanya bisa mengangguk-angguk mengerti sambil terus memperhatikan mayat yang tergeletak di bawah kakinya. Tak ia duga Antonio sudah bisa menebak pelakunya bahkan ketika melihat sekilas kondisi mayat-mayat ini.

"Sekarang, coba kau selidiki yang lainnya. Tanyakan pada para tim forensik mengenai kondisi TKP." usul Antonio sambil mendorong pelan punggung Rangga. "Aku akan ke tempat Inspektur Oxsentierna."

Rangga mengangguk pelan, mengiyakan usul rekan seniornya. Ia kemudian mengambil sarung tangan karet yang terlipat rapi di dalam saku celana dan mengenakannya sebelum berjalan mencari bukti yang berserakan.

"Tak kusangka Roderich akan memberimu rekan." ucap Berwald. Sang pemuda Swedia bertubuh tinggi itu berjalan santai mendekati Antonio yang sekarang berlutut di samping mayat, memeriksa apakah ada kejanggalan. "Unik juga rekanmu itu."

"Entahlah. Aku sendiri juga bingung kenapa Inspektur Eldestein memberiku rekan. Padahal aku tidak pernah mengeluh kalau harus sendirian." kata Antonio sambil tertawa pelan. Ia masih sibuk meneliti mayat di depannya. "Hei, Inspektur. Siapa yang pertama kali menemukan mayat-mayat ini? Dilihat dari kekakuannya, sepertinya mayat sudah lumayan lama, ya?"

"Ah, masalah itu. Orang yang menemukannya pertama kali adalah seorang gelandangan yang mencari tempat untuk tidur dan menghabiskan malam. Karena lantai-lantai bawah gedung ini kurang bukaannya, sehingga tidak ada cahaya masuk sama sekali, ia memutuskan untuk mencari ruangan ke lantai-lantai atas. Di saat itulah ia menemukan mayat-mayat ini dan langsung melaporkannya pada polisi lalu lintas yang ada di perempatan jalan sana." kata Berwald. Mata birunya bergerak-gerak mengikuti kalimat yang ia baca pada buku catatannya.

"Hmm..." Antonio masih saja sibuk menyelidiki mayat di depannya. Ia kemudian menghembuskan napas panjang, kecewa. "Tidak ada apa-apa. Brighella tidak meninggalkan apapun disini." Ia kemudian berdiri dari posisinya yang semula dan berputar menghadap pada Berwald. "Apa anak buahmu menemukan sesuatu yang menarik?"

Berwald menggeleng. "Selain surat yang tadi kutunjukan, kami belum menemukan apa-apa."

"Tak ada sidik jari?"

"Tak ada."

"Jejak kaki?"

"..."

"Jejak kaki?" ulang Antonio penasaran dengan kebisuan yang ia dapat. "Dia meninggalkan jejak kaki?"

"Aku... Masih belum yakin. Tapi, dari jumlah jejak kaki yang kami temukan di dalam ruangan ini semuanya berjumlah enam pasang." jawab Berwald pelan. "Padahal, mayat yang ada disini hanya berjumlah..."

"Lima." sambung Antonio. "Brighella hanya membunuh lima dari enam orang yang ada di ruangan ini. Ia menyisakan satu untuk tetap hidup."

"Kenapa? Bukankah ia terkenal sebagai orang berhati dingin dan tak kenal kasihan? Ia selalu menghabisi targetnya, berapapun banyaknya."

"Itu dia. Kecuali..."

"Kecuali?"

"Kecuali orang itu melarikan diri. Atau ia memang sengaja dilepaskan oleh Brighella karena Il Capitano tidak memintanya untuk membunuh orang itu."

"Siapa?" tanya Berwald. "Sepanjang kasus pembunuhan yang dilakukan Brighella atas nama Il Capitano, semua korbannya tewas. Tak ada yang selamat. Kenapa kali ini..."

Bagaikan disambar petir, Antonio menyadari jawaban dari pertanyaannya. "Ada tiga kemungkinan kenapa ia tak dibunuh. Pertama, ia memang tidak bersalah. Kedua, ia datang kemari bersamaan dengan Brighella dan hanya bertugas untuk mengawasi. Ketiga, ia termasuk dalam deretan orang yang bersalah, namun karena pangkat dan jabatannya yang cukup tinggi, organisasi masih mempertahankannya."

"Mana menurutmu yang benar?"

"Poin satu rasanya tidak mungkin. Kalaupun ia tak bersalah, ia sudah menyaksikan pembunuhan. Brighella tanpa segan-segan akan membunuhnya juga, meskipun ia tidak bersalah. Poin kedua cukup masuk akal, tapi sepanjang kasus yang kuselidiki, Brighella tidak pernah bekerja berdua. Ia selalu sendirian. Lagipula, dengan kemampuan setingkat Brighella, ia tak membutuhkan rekan untuk mendampinginya. Dengan demikian ini menyisakan poin ketiga. Poin yang menyatakan bahwa Il Capitano memaafkan kesalahan orang ini dan mengampuninya. Memberikannya kesempatan kedua untuk menebus kegagalannya."

Berwald hanya bisa terdiam dan mendengarkan dengan teliti analisa yang diutarakan oleh detektif nomer satu kepolisian.

"Arlecchino. Kasus kali ini berhubungan dengan kasus beberapa hari yang lalu."

"Tunggu, tunggu." kata Berwald Oxsentierna terburu-buru, menghentikan analisa selanjutnya yang sudah siap untuk dilontarkan oleh Antonio. "Kenapa kau langsung berkesimpulan bahwa mayat-mayat yang ada di ruangan ini awalnya adalah komplotan Commedia dell'Arte? Bisa saja kan, kalau mereka ini adalah saingan mereka? Seperti kasus yang menimpa Wang Lee, si pengusaha kaya Hong Kong itu?"

"Aku tahu kalau mereka komplotan Commedia dell'Arte dari posisi mayat-mayat ini." jawab Antonio dengan entengnya.

"Posisi mayat?" ulang Berwald, ragu.

"Ya. Posisi mayat di depan pintu itu memang bukan indikasi yang tepat, tapi keadaan mayat yang lainnya sudah cukup untuk mengindikasikan koneksi mereka dengan Brighella dan Commedia dell'Arte."

"Bagaimana..."

"Ada dua poin. Pertama adalah kondisi ruangan yang tanpa perlawanan. Bila ini adalah kelompok musuh, sudah sepantasnya mereka balik melawan Brighella. Apalagi pembunuh mereka ini hanya seorang diri. Yang kedua adalah mayat itu." Antonio menunjuk satu mayat yang tergeletak tepat di bawah kakinya. "Dan yang terakhir adalah posisi mayat ini. Ia meninggal dalam posisi berlutut dan tangan terjulur ke depan tubuhnya, seolah-olah seperti meraih sesuatu. Aku yakin, ia mencoba untuk meyakinkan Brighella untuk tidak membunuhnya dan berlutut, menyembah Brighella seperti ini."

Tak bisa berkomentar apa-apa dengan analisa yang dibuat Antonio, sang inspektur hanya bisa terdiam.

"Yang jadi masalah," lanjut Antonio. "Adalah bagaimana kita membongkar identitas Brighella. Si brengsek itu selalu pergi tanpa meninggalkan petunjuk sedikitpun. Bahkan ia juga tak meninggalkan jejak kaki. Tapi," Ia mengepalkan tangannya dengan penuh kekesalan. Keteguhan dan tekad bulat berkobar di kedua lautan hijau matanya. "Akan kutangkap bedebah itu dan organisasinya dengan tanganku sendiri."

To Be Continued


A/N : Hyaaaa... Akhirnya kelar juga. Tau, gak, ini sebagian besar dibuat di dalem STUDIO! Hahaha! Gila, bukannya bikin maket, malah ngerjain beginian. Jangan tiru mahasiswa ini. Hahaha. Oh, iya. Mau bales review anon!

Nyasar-tan : Heeeii! Silakan ngakak sekenceng-kencengnya! Hahaha! Tadinya agak-agak aneh juga, kok hamburger. Tapi, karena si Alfred emang mau dibikin ketauan dari awal, jadi biarin aja, lah. Hahahah. Ah, iya! Saya juga pernah baca fun fact itu! Tenang, Alfred ketangkepnya masih lama, kok. Mungkin. Hohohoh. #plak Kenapa semua orang aneh ngeliat Oyabun jadi pinter? Dia pinter, lhoo. Selain pinter nanem tomat dan pinter merayu Romano. Hahaha! Indo... Sejauh ini masih belom merusak. Hahah. Iya, tungguin HA, ya. Justru ada Iggy nyanyi, jadi lama, nih. Mesti nyari-nyari lirik lagunya. Mana banyak yang gue gak tau, lagi... Makasih reviewnya, ya!

Minazuki Zwei : Hehehe. Makasih banget kalo suka. Semoga chapter ini juga memuaskan biarpun gak ada adegan tembak-tembakan. Hohoho. Makasih reviewnya!

Just MELLS : Heei! Biarpun dirimu gak anon, dibales disini aja, ya. Hehehe. Makasih banget reviewnya!

Eka Kuchiki : Dirimu juga gak anon, tapi bales disini aja, ya? Hehehe. #ketauanmalesOL #plak Yeah! GORE! Disini mulai dikeluarin dikit gore-nya. Masih bisa ditahan, kan? Semoga aksi Antonio disini juga keren, meskipun dia gak adu tembak. Hehehe. Oh, yeah! Gitu-gitu dia rela mempertaruhkan nyawa demi sepotong hamburger kesayangannya. Hahah! Makasih reviewnya, ya!

Sip! Semuanya udah dibales! Sekarang, saya mau kembali mencari lirik-lirik lagu buat update Hetalia Awards! CEMUNGUD!