tittle :: Waiting For You

Main Cast :; HaeHyuk (cameonya di chap ini Zhoury. tapi Mochi cuma numpang nama doang.. :D)

Disclaimer :: ff ini murni kisah nyata yang terinspirasi karena teman Mi. Mian, Mi asal ganti judul.

tapi Mi ngerasaain feel ff ini pas dengerin lagunya Yesung yang Waiting To You.

yang kemarin minta dipanjangin, ini udah Mi panjangin. semoga berkesan.. ^^

CHAPTER 2

"Nado bogoshipo, chagi." Jawab Zhoumi oppa. Kulepaskan pelukanku padanya dan menatapnya kesal.

"Ya! Oppa, jangan memanggilku begitu. Apa oppa mau Henry noona mengamuk gara-gara ucapan oppa tadi?"

"Benar, hyung. Kau mau Henry noona membrutal gara-gara penyakit playboy-mu masih belum sembuh? Kau kan mantan playboy." Donghae ikut mengejek Zhoumi oppa.

Zhoumi oppa mendelik, "Kau menghina ku, ikan jelek? Dan kau makin cerewet saja, Hyukkie." Zhoumi oppa mengacak rambutku gemas. Aku sudah hampir mengeluarkan protesku, tapi Donghae sudah memprotes Zhoumi oppa duluan.

"Ya! Hyung, jangan seenaknya mengacak rambut, Hyukkie. Dia itu paling tidak suka rambutnya diacak-acak. Makanya jangan disentuh." Donghae mengomel panjang lebar. Aku tertegun mendengarnya. Yang benar saja, apa maksud ucapannya barusan itu? Apa dia tidak tahu, jantungku rasanya hampir copot gara-gara ucapannya itu. Kau payah, Donghae.

"Kalau begitu kau juga jangan seenaknya mengacak rambutku. Kau sama menyebalkannya, Hae." Protesku.

"Kau protektif sekali, Hae. Bagaimana kalau Hyukkie ku pinjam sebentar?" Zhoumi oppa merangkul pundakku. Senyum playboy khas Zhoumi oppa terpampang di wajahnya.

"Aku bukan barang oppa."

"Terserah kau saja, hyung. Kenapa tanya padaku." Jawab Donghae. Apa-apaan jawabannya itu. Baru saja dia membuat jantungku seperti lari marathon gara-gara protesnya saat Zhoumi oppa menyentuh rambutku, sekarang dengan entengnya dia mengatakan hal itu. Dasar ikan cucut menyebalkan.

"Ya sudah kalau begitu." Zhoumi oppa menggiringku menuju taman belakang rumah Donghae dan mengajakku duduk di pinggir kolam ikan. Rasanya aku ingin marah pada Donghae karena ucapannya. Tapi aku siapanya, dan dia siapaku. Walau aku menyukai Donghae, tapi aku bukan kekasihnya. Tapi sikapnya tadi benar-benar membuatku kesal.

Aku duduk di pinggir kolam,dan Zhoumi oppa duduk di sampingku sambil menatap langit di hadapannya. Kurasa Zhoumi oppa tak akan segera bicara, jadi aku memetik sehelai daun dari tanaman hias yang ada di sampingku. Kusobek-sobek daun itu lalu ku buang potongan daun tadi ke dalam kolam yang ada di belakangku. Tanganku kembali terulur untuk mengambil daun kedua. Setelah aku memetik daun kedua, daun itu tak langsung aku hancurkan seperti yang pertama, tapi ku taruh dipangkuanku dulu. Saat aku akan kembali menyobek-nyobek daun itu, suara Zhoumi oppa menginterupsiku.

"Sudah, jangan kau kotori kolam itu. Kebiasaan kalau sedang kesal." Ternyata Zhoumi oppa masih ingat kebiasaanku kalau sedang kesal. Padahal sudah lima tahun kami tidak bertemu. Daun tadi tak jadi kusobek-sobek. Tapi sebagai gantinya, daun itu ku remas-remas sampai lecek. *oppa, kau seperti orang frustasi #Mi dilempar Unyuk ke planet pluto*

"Oppa mau bicara apa? Oppa tak mungkin mengajakku kemari hanya untuk melihat oppa mengamati langit." Aku tetap meremas-remas daun malang itu.

"Aku tahu kau kesal pada Donghae. Yang sabar, ya. Dia memang tidak peka." Zhoumi oppa tersenyum hangat.

"Oppa sok tahu. Aku tidak sedang kesal pada Donghae." Aku mencoba berbohong pada Zhoumi oppa. Tapi rasanya tak mudah membohongi oppa-ku ini.

"Kalau kau tak kesal, kenapa kau siksa terus daun itu?" Zhoumi oppa menggeser duduknya lebih dekat denganku dan merebut daun yang sedari tadi ku mainkan. "Kau tak bisa membohongiku, Hyukkie. Katakan saja kau kesal padanya."

Aku menunduk. "Aku kesal, oppa. Dia menyebalkan. Beberapa bulan lalu dia mengatakan padaku kalau dia menyukai Kibum. Setelah itu, Donghae mulai mendekati Kibum, merangkulnya, menggandeng kibum saat jalan, mengenggam tangan Kibum, bahkan memanggil Kibum 'chagiya'. Dia menyebalkan, kan, oppa."

Zhoumi oppa menggeser duduknya lebih dekat denganku. Sekarang tak ada jarak diantara kami, lenganku saja bersentuhan dengan lengannya. Zhoumi oppa mulai bicara lagi. " Hmm.. aku tahu dia menyebalkan. Lalu apa lagi yang dia lakukan sampai membuatmu kesal?"

"Walau dia selalu mendekati Kibum. Tapi terkadang bila di sekolah, dia terkadang bersikap manis, manja, dan perhatian pada..." kugantungkan ceritaku.

"Pada?" ulang Zhoumi oppa.

"Padaku." Kurasakan wajahku memanas setelah mengatakan itu. Pasti wajahku merah sekali sekarang.

"Apakah seperti yang didalam tadi?"

"Ne, seperti tadi. Aku tidak mengerti, oppa. Kenapa dia terkadang berbuat hal seperti itu? Itu tidak baik bagi kesehatan jantungku, dia membuat jantungku berdetak lebih kencang. Dan aku jadi merasakan perasaan aneh. Disini." Kusentuh dadaku. "Saat Donghae berdekatan dengan Kibum, ada perasaan perih, sakit, sedih dan perasaan aneh yang menyesakkan. Dan saat Donghae perhatian padaku, yang kurasakan adalah perasaan senang yang sedikit menyakitkan. Perasaan aneh yang hanya kurasakan jika dekat dengan Donghae."

"Hyukkie, kau menyukainya, kan? Aku yakin kau mengetahuinya. Tapi, apa kau tahu, kalau sebenarnya Donghae juga menyukaimu. Dia hanya belum bisa mengakuinya saja. Dan dia salah mengartikannya. Dia kira, dia menyukai Kibum, padahal yang ia sukai itu kau."

Aku menatap Zhoumi oppa bingung. "Oppa, kau mengatakan itu bukan untuk menghiburku, kan? Atau jangan-jangan kau mengatakan hal itu dengan posisimu sebagai mantan playboy."

"Tentu saja tidak, pabbo! Aku mengatakan hal ini sebagai seorang kakak yang simpati pada kisah cinta adiknya yang begitu rumit."

"Oppa, saat kau mengatakan hal itu, kau seperti orang tua saja. Hahahaha... :D" aku tertawa mendengar ucapanku sendiri.

"Ya! Kau ini malah mengejekku. Kemari kau!" Zhoumi oppa menarikku ke arahnya. Kukira ia akan memukulku, ternyata dia malah memelukku. "Dia menyukaimu, Hyukkie. Percayalah." Bisiknya.

"Ne, oppa. Aku percaya. Tapi darimana oppa tahu semua itu?"

"Tentu saja dari my sweety lovely bunny mochi-ku sayang *gege lebay deh*. Kau lupa kalau Henry itu noona-nya Kyuhyun?" ah, tentu saja, Kyuhyun kan namjachingu-nya Sungmin. Pasti Sungmin sering cerita padanya. Lalu Kyuhyun lapor pada Henry eonnie yang statusnya yeojyachingu-nya Zhoumi oppa. Padahal Zhoumi oppa itu kakaknya Donghae. Dasar Sungmin. Aku tertawa mengetahui kronologi hal konyol nan rumit ini. *Readers mudeng nggak? Nggak, ya? Ya udah deh, di mudeng-mudengin aja.. :D*

Kulingkarkan tanganku ke pinggang Zhoumi oppa untuk memeluknya. Kepalaku bersandar pada dada bidangnya. "Gomawo, oppa."

"Hyukkie, bersabarlah menghadapi ketidakpekaan Donghae."

"Ne, oppa. Aku mengerti." Aku tersenyum. Aku yakin suatu saat nanti, entah bagaimana caranya, Donghae pasti akan datang padaku.

Hyukjae Pov End

Donghae Pov

Dari dalam rumah, aku dapat melihat Hyukjae dan Zhoumi hyung sedang berbicara. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, aku penasaran dengan yang mereka bicarakan. Wajah Hyukjae terlihat kesal. Dimataku, ekspresi kesalnya itu terlihat manis. Apa wajahnya selalu terlihat manis ya kalau sedang kesal?

Lama-lama jadi penasaran juga, rasanya aku ingin jadi Zhoumi hyung, bisa duduk di pinngir kolam berdua dengan Hyukjae dan memeluk Hyukjae. Tunggu, apa tadi? Memeluk Hyukjae? Ommo! Dia tidak boleh begitu. Dia sudah punya Henry noona. Kenapa dia malah memeluk Hyukjae? Apa dia belum kapok menjadi playboy?

Hatiku rasanya jadi panas, ada perasaan aneh yang muncul ke dadaku. Perasaan kesal dan marah bercampur menjadi satu. Rasanya aku ingin memisahkan mereka. Aku terus memperhatikan mereka, sekarang Hyukjae malah melingkarkan tangannya di pinggang Zhoumi hyung dan menyandarkan kepalanya di dada Zhoumi hyung. Perasaan aneh itu semakin terasa nyata.

Apa ini yang namanya cemburu? Tapi kenapa aku harus cemburu dengan Hyukjae. Padahal, saat mendengar ada namja yang menyatakan perasaannya pada Kibum, aku tidak terlalu cemburu. Apa aku menyukai Hyukjae? Mwo? Ani, aku tidak mungkin menyukai Hyukjae. Aku dan Hyukjae teman sedari kecil, tidak mungkin semudah itu aku menyukai Hyukjae. Memang, terkadang aku protektif pada Hyukjae, tapi itu hanya untuk melindungi Hyukjae dari namja-namja yang menggodanya. Aish.. kenapa perasaan ini tidak hilang-hilang juga.

"Chagi, bisa kau panggilkan Zhoumi dan Hyukkie? Makan malam sudah siap." Ujar umma dari arah ruang makan.

"Ne, umma. Akan ku panggilkan." Jawabku. Ini kesempatanku mendatangi mereka. Kenapa aku jadi semangat ya? Ah, sudahlah, lupakan saja. Yang penting lakukan yang umma perintahkan.

Aku bangkit dari sofa yang sedari tadi kududuki. Aku berjalan ke pintu kaca yang membatasi ruang tengah dengan taman belakang lalu aku menggesernya. Aku berjalan di rumput taman tanpa alas kaki. Padahal ada sandal khusus yang disiapkan umma. Tapi aku lebih suka begini. Zhoumi hyung yang melihatku segera melepas pelukannya dari Hyukjae. Hyukjae menatapku dengan tatapan polosku yang entah bagaimana terlihat lucu dimataku. Aku sampai di depan mereka. Wajahku ku buat seceria mungkin, seolah tidak melihat apa yang mereka lakukan tadi.

"Hae, kenapa kau tidak memakai sandal? Nanti kakimu dingin." Hyukjae melihat kakiku yang telanjang.

"Gwaenchana, Hyukkie. Begini lebih enak." Aku memainkan jari kakiku dan tersenyum. Hyukjae langsung melepas sandalnya. "Kenapa kau ikut tidak pakai sandal?"

Hyukjae menunjukkan gummy smile-nya, "Kata Hae begini lebih enak. Aku juga mau mencobanya, ternyata memang lebih enak." Dasar yeojya satu ini.

"Ah, Hae, ada apa kau kemari? Jangan-jangan kau cemburu melihatku berdua dengan Hyukkie?" seulas cengiran tersemat di wajah playboy Zhoumi hyung. Mendengar kata-katanya, aku malah jadi sedikit gugup. Akumemperhatikan Hyukjae yang memainkan kakinya diatas rumput dengan wajah senang. Melihat Hyukjae seperti itu aku jadi ingin tertawa, tingkahnya sangat polos, seperti anak umur lima tahun.

"Hei, ikan! Kenapa kau malah melamun, pakai acara senyum-senyum sendiri. Kau sudah mulai gila, ya?" Zhoumi hyung menendang kecil kakiku dengan kakinya yang panjang. Jadi tadi aku melamun?

"Ani, hyung. Tadi umma menyuruhku memanggil kalian. Katanya makan malam sudah siap." Jawabku. Mendengar kata makanan, Hyukjae langsung berdiri. Tangannya berada di bahuku dan wajah terlihat berbinar.

"Jjinja, Hae?" tanyanya sambil mengguncang pelan badanku. Aku mengangguk kecil. "Yeeeyy!" kini Hyukjae malan melompat-lompat kegirangan.

"Kajja, Hae!" Hyukjae menarik tanganku. Aku hanya menurut ditarik Hyukjae. Tiba-tiba Hyukjae berhenti dan membalik badannya. Aku menatap Hyukjae bingung, Hyukjae menggeser badanku sedikit ke samping. Tiba-tiba Hyukjae melempar sandal yang sedari tadi ia pegang ke arah Zhoumi hyung yang baru saja berdiri. Spontan, Zhoumi hyung langsung menghindar. Sandal itu akhirnya tercebur ke kolam, membuat air kolam terciprat kemana-mana dan membasahi kemeja merah Zhoumi hyung. Aku melongo melihat kejadian itu.

"Ya! Monkey, kenapa kau melempariku dengan sandal, hah? Lihat, kemeja ku jadi basah kena air, kan." Zhoumi hyung meledak-ledak.

Hyukjae cekikikan, "Mian, oppa. Niatnya mau ku lempar ke arah rumput. Tapi malah meleset dan kena oppa. Hehehe.. "

Aku jadi ikut tertawa. "Hyung, kau makin tampan kalau basah kuyup." Aku dan Hyukjae tertawa keras.

Zhoumi hyung melotot. "Ya! Ikan, apa katamu tadi? Kau mengejekku, hah?" Zhoumi hyung bersiap mengejar kami. Tapi aku lebih cekatan. Kugenggam tangan Hyukjae dan mengajaknya berlari. Hyukjae masih saja tertawa.

"Oppa, tolong kau bawakan sandalku, ya. Gomawo, oppa. Hahaha.. " jerit Hyukjae.

"APA!" Zhoumi hyung mulai ribut lagi. Aku dan Hyukjae semakin tertawa. Ada rasa hangat saat aku menggenggam tangan Hyukjae. Ah, kunikmati saja perasaan ini.

Donghae Pov End

Author Pov

"Oppa, tolong kau bawakan sandalku, ya. Gomawo, oppa. Hahaha.. " jerit Hyukjae sambil berlari.

"APA!" Zhoumi menjerit ribut. Jeritannya hanya dibalas suara tawa Donghae dan Hyukjae. Tanpa Donghae dan Hyukjae sadari, sebuah senyum hangat menghiasi wajah Zhoumi. "Dasar pasangan aneh." Bisiknya lembut.

Zhoumi mengambil ponselnya di kantong saku celananya. Beruntung yang basah hanya kemejanya saja. Kalau celananya ikut basah, bisa dipastikan ia harus membawa ponselnya ke tukang service besok. Zhoumi menekan tombol panggilan cepat nomor satu yang langsung terhubung dengan seseorang diseberang sana.

"Yeoboseyo, Mochi?" sapa Zhoumi.

"..."

"Hehehe.. kau ada acara malam ini? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kau mau?"

"..."

"Entahlah, aku tidak punya tujuan. Hahaha.. bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling Seoul? Bukankah saat di China kau bilang kau merindukan Seoul."

"..."

"Arraseo, kujemput kau setelah makan malam. Saranghae, Mochi. Annyeong." Zhoumi memutus sambungan telponnya dengan perasaan senang. Zhoumi ingin langsung kembali kedalam, tapi ia teringat sandal yang tadi dilempar Hyukjae. Dengan enggan, ia mengambil sandal itu dan berjalan ke arah rumah.

"Awas kau, monkey. Tunggu pembalasan Zhoumi yang tampan ini." Oceh Zhoumi.

OoOoOoOoOoOo

Zhoumi sudah berganti pakaian. Semua sudah berkumpul di meja makan, acara makan malam yang awalnya tertunda kini bisa dimulai. Selama makan, sesekali terdengar suara ribut dari Donghae dan Hyukjae yang memperebutkan makanan buatan Heechul. Dan tentu saja berakhir dengan tawa kemenangan dari Hyukjae karena tentu dia dibela oleh Heechul dan Zhoumi.

"Hyung, bagaimana hubunganmu dengan Henry noona? Kapan kalian menikah?" tanya Donghae saat semua orang sudah selesai makan.

"UHUK! UHUK!" Zhoumi tersedak minumnya saat Donghae mengatakan itu. Donghae dan Hyukjae yang melihat Zhoumi gugup hanya cengar-cengir berdua, sementara Heechul dengan sigap memijit tengkuk anaknya. Zhoumi mengangguk tanda ia sudah lebih baik, Heechul melepas tangannya dari tengkuk Zhoumi.

"Ya! Apa maksud pertanyaanmu itu? Kau sendiri, kapan kau punya pacar?" sungut Zhoumi.

"Oho.. aku akan segera punya pacar." Donghae menjawab tak mau kalah.

"Siapa? Hyukkie?" tanya Zhoumi telak. Pertanyaannya sontak membuat Hyukjae membulatkan matanya. Dan donghae terlihat sedikit gugup. Seringai kemenangan tercetak di wajah Zhoumi. "Kenapa diam? Tebakanku benar, ya?"

"Tidak. Tebakanmu salah, hyung. Bukan Hyukkie orang yang kumaksud." Donghae berusaha terlihat biasa.

"Lalu siapa? Memangnya Hyukkie tidak manis? Dia manis, lho." Zhoumi terus menggoda Donghae. Gotcha, kena kau, batin Zhoumi.

"Hyukkie... dia.. manis." Donghae menjawab sedikit gugup. Seringai diwajah Zhoumi makin melebar. Heechul dan Hangeng yang memperhatikan jadi ikut senyum-senyum.

"kalau menurutmu Hyukkie manis, kenapa kau tidak pacaran saja dengannya?" pertanyaan Zhoumi benar-benar membuat Donghe gugup.

'Kenapa aku gugup, ya?' batin Donghae.

DUGH!

Hyukjae menendang kaki Zhoumi. Zhoumi meringis kesakitan. "Kau aneh, oppa. Kenapa menanyakan pertanyaan seperti itu? Sudahlah, Hae, jangan kau jawab pertanyaan koala playboy ini. Ah, ahjumma, ayo kita cuci piring."

Heechul melirik suaminya sekilas, "Hmm.. baiklah. Ayo, Hyukkie." Hyukjae dan Heechul meninggalkan ruang makan dengan setumpuk piring kotor ditangan mereka.

"Bilang saja kau malu, Hyukkie." Ujar Zhoumi ke arah dapur.

"Terserah apa katamu, oppa." Sahut Hyukjae dari dapur. Tawa ringan Zhoumi mengalun merdu dari bibirnya.

"sudahlah, jangan kau goda terus Hyukkie, Zhou." Ingat Hangeng.

"Ne, appa." Jawab Zhoumi.

"Ya sudah, appa duluan, ya." Hangeng beranjak dari ruang makan. Meninggalkan Donghae dan Zhoumi. Donghae memperhatikan Zhoumi yang sekarang sibuk berkutat dengan ponselnya.

"Hyung, malam ini kau ada acara?" tanya Donghae.

"Hmm.. ya, aku akan mengajak Mochi pergi malam ini. Wae? Kau mau titip sesuatu?" jawab Zhoumi.

"Ani, hyung. Aku hanya bertanya." Jawab Donghae.

"Kau bosan dirumah, Hae. Aku punya cara agar kau tidak bosan."

"Jjinja? Apa itu, hyung?" Donghae penasaran.

"Hmm.." Zhoumi menunjukkan wajah serius dengan kepala diangguk-anggukkan. Donghae mendengarkan dengan penuh perhatian. "Carilah seorang pacar." Zhoumi menjawab dengan wajah serius, jari telunjuknya ia acungkan ke atas. Donghae sweatdrop mendengar jawaban hyung-nya.

"Ya! Kenapa jawabanmu malah seperti itu, hyung? Dasar playboy cap koala pervert!" protes Donghae *author digatak Mimi*

"Ya! Ikan asin, aku kan hanya memberi saran yang sering berguna untuk ku. Kalau tidak suka ya jangan dipakai." Balas Zhoumi. "Ah, sudah, aku harus pergi. Aku ada janji dengan Mochi." Zhoumi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua.

Kini tinggal Donghae yang duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan Hyukjae yang tengah mencuci piring dengan umma-nya. Tak lama kemudia, Zhoumi kembali ke ruang makan dengan dandanan rapi.

"Wow, kau terlihat tampan, hyung." Puji Donghae.

"Hahaha.. tentu saja. Umma ada dimana?" tanya Zhoumi. Donghae menunjuk arah dapur dengan dagunya. Zhoumi mengerti dan langsung masuk ke dapur. Donghae kembali memperhatikan keadaan dapur. Zhoumi terlihat sedang berpamitan pada Heechul, dan kemudian menggoda Hyukjae. Zhoumi keluar dari dapur dengan wajah ceria.

"Hei,ikan. Aku serius dengan ucapanku. Segeralah cari pacar. Atau paling tidak, sadari perasaanmu sendiri. Aku pergi dulu, annyeong." Zhoumi meninggalkan Donghae yang kebingungan sendiri.

OoOoOoOoOoOo

"Kau masih disini, Hae? Kukira kau ada dikamarmu." Hyukjae terkejut melihat Donghae masih di ruang makan. Donghae berdiri dan berjalan ke arah Hyukjae. Kini ia berada di samping Hyukjae. Hyukjae memutar badannya ke samping sehingga berhadapan dengan Donghae.

"Kau sudah selesai?" tanya Donghae. Hyukjae mengangguk. "Mau pulang sekarang?"

"Ne, ini sudah jam setengah delapan. Sudah malam. Aku mau pulang sekarang." Jawab Hyukjae.

"Ayo aku antar." Tawar Donghae.

"Gwaenchana, Donghae. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula rumahku hanya di seberang jalan." Tolah Hyukjae halus sambil tersenyum.

"Sudahlah, ayo ku antar. Ini sudah malam." Paksa Donghae.

Hyukjae berpikir sebentar, "Uhm.. baiklah. Kalau begitu aku berpamitan pada ahjumma dulu." Hyukjae melenggang masuk ke dapur dan kemudian keluar lagi.

"Sudah?" tanya Donghae. Hyukjae mengangguk. "Apa ada yang ketinggalan? Tas mu kau taruh mana?"

"Aku taruh di ruang tamu." Jawab Hyukjae.

"Kalau begitu kita ambil tasmu lalu ku antar kau pulang." Donghae mengandeng tangan Hyukjae.

OoOoOoOoOoOo

"Seharusnya kau tak perlu repot-repot mengantarku, Hae. Rumahku kan dekat." Hyukjae dan Donghae berdiri di depan pagar rumah Hyukjae.

"Gwaenchana. Ehm.. apa kau keberatan kalau ku ajak ke taman malam ini?" tanya Donghae.

"Sekarang? Tapi aku belum mandi." Jawab Hyukjae.

"Kalau begitu kau mandi saja dulu."

"ehm.. baiklah. Tunggu aku setengah jam lagi. Annyeong, Hae." Hyukjae masuk ke dalam rumahnya. Setelah memastikan hyukjae benar-benar sudah ada di dalam, Donghae melangkah kembali ke rumahnya. Donghae segera naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.

Donghae duduk di beranda kamarnya. Kari berandanya, Donghae dapat melihat lampu kamar Hyukjae sudah menyala, itu artinya Hyukjae sudah berada di kamarnya. Donghae terus memperhatikan kamr Hyukjae sampai-sampai ia tak menyadari, hampir tiga puluh menit ia duduk disana. Donghae bangkit dan mengambil jaketnya. Saat turun, Donghae berpapasan dengan Heechul.

"Mau kemana malam-malam begini, chagi?" tanya Heechul.

"Aku mau ke taman sebentar dengan Hyukkie, umma. Tidak akan sampai malam." Jawab Donghae.

"Arraseo, hati-hati dijalan, ne?"

"Jangan pulang terlalu malam, Hae." Pesan Hangeng.

"Ne, appa, umma. Aku pergi duli. Annyeong." Donghae segera melesat ke rumah Hyukjae. Ternyata Hyukjae sudah menunggunya di depan pagar. Donghae menghampiri Hyukjae.

"Mian aku lama. Kau sudah disini dari tadi?" kata Donghae.

Hyukjae menggeleng. "Gwaenchana, Hae. Aku juga baru keluar." Hyukjae menunjukkan gummy smilenya. Donghae membalas senyum Hyukjae dan menarik tangan Hyukjae pelan.

OoOoOoOoOoOo

"Kenapa kau mengajakku kemari, Hae?" tanya Hyukjae. Hyukjae dan Donghae duduk berdua dibangku taman yang berada di bawah pohon besar.

"Ada yang ingin kutanyakan padamu. Kalau kau tidak keberatan." Jawab Donghae.

"Kalau begitu tanyakan saja. Ada apa?"

Donghae menarik nafas sebentar. "Tadi kulihat kau berpelukan dengan Zhoumi hyung. Apa ada sesuatu diantara kalian?"

Hyukjae tertawa mendengar pertanyaan Donghae. Donghae menyerngitkan dahi bingung. "Kau kira aku menyukai Zhoumi oppa? Tentu saja tidak. Satu, dia buka tipe ku. *tapi tipe author ^^v #dihajar readers gara2 tiba2 muncul*. Dua, dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Tiga, aku masih waras sehingga tidak akan mengganggu hubungan Zhoumi oppa dengan Henry eonnie. Dan yang paling penting.." Hyukjae menatap Donghae lekat-lekat. "Sudah ada namja lain yang ku suka."

Donghae membelalakkan matanya."Benarkah? Nuguya?"

"Rahasia." Hyukjae mengedipkan matanya sambil tersenyum misterius.

"Aish.. Apa aku mengenalnya? Seperti apa orangnya?" Donghae semakin penasaran.

"Kau mengenalnya. Dia itu orang paling bodoh dan orang paling tidak peka yang pernah kutemui." Hyukjae semakin tersenyum lebar.

"Hah? Kau aneh. Kenapa kau menyukai orang seperti itu?" Donghae menatap aneh Hyukjae.

"Wae? Apanya yang aneh? Apa salah kalau aku menyukai orang seperti itu?"

"Tentu saja salah. Bagaimana bisa dia tahu kalau kau menyukainya, sedangkan dia sendiri bodoh dan tidak peka. Apa yang menarik dari orang seperti itu?"

"Justru karena dia bodoh dan tidak peka, makanya dia menarik." Hyukjae mengembangkan gummy smile-nya.

"Hyukkie.. jangan-jangan kau menyukai Yesung hyung." Donghae menatap Hyukjae horror.

PLETAK!

Hyukjae memukul kepala Donghae. Donghae meringis. "Yang benar saja! Mana mungkin aku menyukai manusia kura-kura macam Yesung oppa. Lagipula Yesung oppa itu namjachingu-nya Wookie. Kau lupa apa?" Hyukaje memberondong Donghae dengan ucapannya. Ia menatap horror Donghae.

"Ya! Monkey, aku kan hanya bercanda. Kenapa kau memukulku? Sakit, tau!"

"Bercandamu tidak lucu, ikan!" sembur Hyukjae.

"Kalau begitu beritahu aku siapa namja itu, monkey?" paksa Donghae.

"Aish.. kau ini. Kenapa kau begiru ingin tahu? Kalau mau tahu, cari tahu saja sendiri."

"Kau ini benar-benar pelit. Sudahlah, ayo kita pulang. Sudah malam, aku tidak mau kau masuk angin dan aku disalahkan olah umma-ku karena mengajak anak orang keluar malam-malam." Donghae berdiri dari duduknya.

Hyukjae ikut berdiri. "Biarkan saja. Biar kau dimarahi Heechul ahjumma. Siapa suruh mengajakku keluar malam-malam." Hyukjae protes sambil memanyunkan bibirnya. Donghae tersenyum melihat tingkah Hyukjae. Ekspresi kesal Hyukjae terlihat imut dimata Donghae.

"Sudah, jangan manyun begitu. Kau jelek kalau manyun. Bagaimana namja yang kausuka bisa menyukaimu kalau wajahmu jelek." Goda Donghae.

Hyukjae menjadi semakin kesal. "Ya! Ikan, apa maksudmu, hah? Biarpun aku jelek, dia tetap akan menyukaiku."

"Percaya diri sekali kau." Donghae mengacak-acak rambut Hyukjae gemas.

"Kyaaa! Kenapa kau suka sekali mengacak-acak rambutku, sih?" hyukjae kembali memanyunkan bibirnya. Donghae tertawa keras.

"Hahaha.. mian, mian. Ayo kita pulang." Donghae mengenggam tanga Hyukjae. Mereka berjalan berdua sambil bergandengan.

'Hei, Donghae. Apa kau benar-benar ingin tahu siapa namja yang kusukai. Kuberitahu petunjuknya, dia itu tampan, senyumnya menawan, wajahnya seperti ikan, dan dia sangat suka mengacak rambutku. Tapi, dia juga sangat bodoh dan tidak peka, bahkan sekarang dia sedang berjalan disampingku sambil menggenggam tanganku. Orang itu bernama Lee Donghae. Orang itu adalah kau, Donghae. Ah, semoga kau tidak terlalu lama menyadarinya.' Batin Hyukjae. Tanpa ia sadari, sebuah senyum manis terkembang di bibirnya.

TBC


RAEMI CURCOL AREA..

haah.. akhirnya Mi bisa update juga..

setelah menempuh perjalanan jauh nan melelahkan *lebay* akhirnya selesai juga chap 2.

buat yang kemarin review,, makasih sekali.. jeongmal khamsahamnida.. ^^v

review-nya selalu ditunggu chingu.. ^^