"Kyaaa... Sasuke-kun!"

"Sasuke -senpai!"

Seperti biasa teriakan para wanita menggema di seluruh halaman kampus. Melihat permainan basket sang pangeran es di lapangan tengah.

Mungkin ini sudah menjadi kegiatan rutin Sasuke setiap harinya, bermain basket ditengah teriknya matahari, apalagi sekarang tengah memasuki musim panas, bisa kalian bayangkan bukan? betapa teriknya sinar matahari di musim panas, ya, lebih terik dibanding musim lainnya.

Namun sepertinya Sasuke dan para fans wanitanya tak peduli, seberapa panas terik matahari menyinari tubuh mereka, justru inilah yang ditunggu-tunggu mahasisiwi setiap harinya jika mereka datang ke kampus. Ya, untuk menyaksikan permainan basket Uchiha Sasuke, sang pangeran es.

"Haaa~"

Helaan nafas yang sudah kesekian kalinya dilakukan oleh seorang gadis bertubuh gemuk dengan helaian merah mudanya, Ia sejak tadi juga memperhatikan Sasuke di salah satu gedung kesenian lantai dua.

Tangannya terulur ke depan, emeraldnya membidik pemuda raven yang tengah meneguk air minum di pinggir lapangan. Seakan-akan ia ingin menggapai pemuda raven itu dengan tangannya.

"Jauh...!" Lirihnya,"padahal kau sedekat ini Sasuke-kun, kenapa aku tak bisa menggapaimu? Di satu tempat yang sama namun seakan-akan kau berada di dunia yang berbeda denganku" lanjutnya.

"Jika kau tidak mencoba untuk mendekat, sampai kapanpun ia tak akan bisa kau gapai!"

Sebuah suara baritone menginterupsi kegiatannya. Sakura menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang pemuda raven sebatas punggung dikuncir satu itu tersenyum kearahnya.

"Ehhh? Kauuu?" Sakura memekik kaget, karena ia mengenali siapa pemuda itu. "Kau pemuda yang kemarin menolongku dari bola basket kan?" Tanyanya seraya menunjuk pemuda itu dengan jari telunjuknya.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Author : Hani Yuya

Judul : My Obsession

Rate : M(for save)

Pairing : ItaSaku slight SasuSaku.

Gendere : Au,Ooc,Romance,Hurt/Confort.

Chap 2- Bantuan

.

.

.

Pemuda raven sebatas punggung itu menatap lembut manik emerald miliknya. Perlahan melangkah mendekatinya, tangannya terulur membelai helaian merah muda gadis musim semi yang memiliki tubuh penuh akan gumpalan lemak itu.

Bluushhh

Wajah Sakura memerah bak kepiting rebus, jantungnya berdetak lebih kencang daripada biasanya. Baru kali ini ia ditatap lembut oleh seorang pemuda, ditambah lagi ia sangat tampan, tak kalah tampan dengan pangeran es yang menjadi pujaan hatinya.

Manik Onyxnya yang sama namun berbeda, jika Sasuke mempunyai Onyx hitam pekat sekelam malam, namun pemuda ini memiliki Onyx hitam bak teduh secerah mentari pagi.

Rambut ravennya yang panjang melebihi Sasuke menambah pesona pada diri pemuda itu, ah~ satu lagi... terdapat garis tegas di wajahnya membuat dirinya tampak lebih dewasa dan tampan.

Itu semua yang terlintas di dalam benak Sakura saat ini.

"Kau harus lebih percaya diri, kau hanya perlu berusaha sedikit lebih keras untuk mencairkan hati pangeran es."

"Ehh? Apa maksudmu?"

Sakura memiringkan kepalanya ke samping, ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda itu.

Tingkahnya yang polos membuat pemuda itu terkekeh pelan,"Kau menyukainyakan? Mau kubantu untuk mencairkan hatinya? Aku akan mengubahmu menjadi kupu-kupu yang cantik."

Sakura terbelalak mendengar penuturan sang pemuda, mulutnya menganga seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Siiinggggg

Lama tak merespon, Sakura bagai sebuah patung saat ini. Diam tak bergerak sedikitpun, ini bagaikan sebuah mimpi baginya. Hey, ayolah siapa yang tak akan terkejut jika seorang pemuda tampan menawarkan diri untuk membantunya menjadi wanita yang cantik. Demi dewa jashinnya Hidan, Sakura tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya.

Lagi-lagi pemuda raven sebatas punggung itu terkekeh geli melihat respon sang gadis yang selalu berubah-ubah.

PUK

Ia menepuk pucuk kepala sang gadis pelan.

"Pikirkanlah, besok kutunggu jawabanmu disini" Pemuda itu berbalik dan mulai melangkah pergi meninggalkan Sakura tanpa menunggu respon darinya.

Sakura yang sudah sadar sepenuhnya menatap punggung pemuda raven yang kini semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Astaga, aku lupa menanyakan namanya, bodohnya diriku" Sakura menjambak rambutnya frustasi.

.

.

.

.

"Ehhh? Kau serius forehead?"

Terdengar suara cempreng seorang gadis dengan helaian blonde di layar handphone milik Sakura.

"Ya, dia pemuda yang baik pig"

Sakura kini berada di dalam kamarnya, merebahkan diri di kasur king size nya, sambil memegang handpone di depan wajahnya. Ya, kini ia sedang melakukan video call dengan sahabatnya Yamanaka Ino.

"Ck, jangan terlalu percaya pada pria forehead! Bahkan kau tidak tau siapa namanya kan? Bisa saja ia menipumu, melakukan semua ini hanya untuk mengisi waktu luangnya" Cerca Ino, sepertinya gadis blonde itu tak mempercayai pemuda yang ditemui oleh sahabat pink nya itu.

"Tapi sepertinya ia pemuda yang baik pig, aku yakin itu" Jawab Sakura dengan lantang penuh percaya diri.

"Tch, dasar polos... aku yakin ia merencanakan sesuatu di balik sikap baiknya terhadapmu Forehead" Ino mendesah pelan seraya memijit keningnya.

Ino tau jika Sakura tipe orang yang keras kepala, ia akan tetap teguh dengan pendapatnya dan tak peduli orang lain.

Karena prinsip yang dipegang oleh gadis musim semi itu adalah ia lebih percaya melihat dengan kedua matanya sendiri dibandingkan mendengar asumsi orang yang hanya bicara dengan pendapat pribadinya, karena semua itu belum tentu benar dengan kenyataan.

"Hehehe, kau tau aku pig" Sakura terkekeh pelan.

"Ya, ya... terserah kau saja, tapi ingat... segera jauhi dia jika ia menipumu!" Ujar Ino dengan ekspresi serius di depan layar handphone nya.

"Ya, arigatou pig"

"Ja, Mata ashita (sampai jumpa besok )" ujar Ino sebelum memutuskan sambungan video callnya.

Klik

Sakura memposisikan tubuhnya telentang menghadap langit-langit kamar. Menutup matanya perlahan, merenungkan sesuatu hal yang masih menganjal di benaknya.

"Aku harap ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya" bibirnya tertarik keatas menyunggingkan sebuah senyuman,"pemuda misterius" lanjutnya, perlahan membuka kelopak matanya. Manik emeraldnya membulat ketika mendapati wajah Sasori tepat di depan wajahnya.

"Siapa pemuda itu? He, Sakura!" Tanyanya menyipitkan mata curiga.

"Nii-chan! Sejak kapan kau disini?" Sakura beranjak dari posisinya dan duduk di tepi tempat tidur. Sasori pun ikut duduk di samping Sakura.

"Baru saja... ini" Sasori memberikan sebuah kotak makanan kepada Sakura, "makanlah, takoyaki kesukanmu" lanjutnya.

"Ah ~ arigatou nii -chan" senyum sumringah tercetak jelas di wajahnya.

Sakura langsung membuka dan memakan takoyaki pemberian Sasori. Namun kini tatapan mengintimidasi terpancar dari manik hazelnya.

"Nah, sekarang jelaskan siapa pemuda misterius itu, Sa-ku-ra!" Ucapnya penuh penekanan.

Sakura hampir tersedak dengan makanannya, tatapan Sasori membuat bulu kuduknya meremang, Ia tersenyum kaku.

"Ah, sepertinya sudah larut malam nii-chan, lihat sudah jam 12 malam sekarang, besok kau harus berangkat pagi kan, karena ada jadwal operasi... nah sebaiknya kau tidur~" Sakura mendorong tubuh Sasori keluar kamarnya.

"Oi, tunggu Sakura, kau harus menjelaskan siapa pria itu padaku!"

"Jaa, Oyasuminasai nii-chan"

Blammm, ceklek.

Setelah berhasil menyeret Sasori keluar dari kamarnya Sakura segera menutup pintunya lalu menguncinya dari dalam, tak peduli dengan ocehan Sasori yang masih menggedor pintunya dari luar.

"Baka imouto cepat buka pintunya, jelaskan padaku siapa dia! Aku harus tau siapa pria yang kau sebut misterius itu!"perempatan siku tercetak di wajah baby facenya.

TOK...TOK...TOK

Berulang kali Sasori mengetuk dan menurun naikkan gagang pintu kamar Sakura dengan keras, ia berusaha membuka daun pintu kamar adiknya yang sengaja dikunci dari dalam itu.

"SAKURAA...CEPAT BUKA PINTUNYA!" Teriak Sasori menggeram kesal karena Sakura tak menghiraukannya.

Sedangkan Sakura, ia mulai beranjak naik ke atas tempat tidurnya, menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya yang yang dipenuhi lemak mengambil sebuah bantal untuk menutup kupingnya.

"Ck, dasar sister complek" decaknya kesal. Lalu tak berapa lama kemudian ia menutup kelopak matanya, dan mulai memasuki alam mimpi.

Bagaimana dengan Sasori? Jangan ditanya apa yang dilakukannya saat ini, ia mengambil selimut dan bantal lalu meletakkannya di depan pintu kamar Sakura. Lalu merebahkan diri disana.

"Kau tak akan lolos dariku baka imouto!"

Sepertinya malam ini Sasori akan tidur di depan kamar adiknya. Menunggu sang adik membuka pintu kamarnya besok pagi.

#Sakura POV ON #

.

.

"Hoaaamm"

Kubuka mataku perlahan, silau. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela menyinari tempat tidurku. Aku mulai beranjak diri dan kulangkahkan kakiku mendekati jendela kamar.

Sreeettt

Kubuka gorden yang menutupi bingkai jendela, lalu kubuka jendela lebar-lebar. Kulihat banyak orang yang berlalu lalang di bawah sana, semua sudah beraktifitas seperti biasanya. Kualihkan pandanganku melihat jam yang tertempel di dinding.

"Jam 8?... astaga, aku telat. Jam pelajaran Orichimaru sensei kan jam 8, semoga dia blum datang"

Aku langsung lari ke kamar mandi lalu menyiapkan semua keperluan kuliah. Setelah siap ku buka pintu kamarku.

Kreeek

"Eh!Nii-chan?"

Aku mengerutkan alis heran ketika melihat kakakku masih terlelap tidur di depan kamar. Ini benar-benar lucu, aku terkekeh pelan. Duduk bersimpuh di depannya, kutatap wajah manisnya yang masih terlelap tidur itu.

"Nii-chan...Arigatou" ucapku pelan.

Kucondongkan wajahku mendekati wajahnya lalu mencium pipinya sekilas. Lalu berbisik di cupingnya.

"Aku menyayangimu nii-chan" bisikku.

Ah~ dia tersenyum. Ck, kau pasti pura-pura tidur kan nii-chan? Kau tak pintar berbohong! Eh, nii-chan.

Aku beranjak diri, "Aku berangkat, nii-chan" lalu melangkah pergi menjauhinya, namun aku mendengar dia menyahut meski pelan.

"Hati-hati dijalan, Sakura"

Fufufu, itu semua membuatku terkekeh pelan. Senyumku mengembang, hanya dia satu-satunya yang kupunya saat ini, dan aku bersyukur karena dia sangat menyayangiku.

.

.

.

.

Tap... Tap... Tap...

Aku berlari ke arah gedung kesenian, kulihat jam yang kupakai di tangan kananku tanpa memperhatikan langkahku.

"Jam 9...? Sial! Aku sudah benar-benar telat!"

Bruukkkk

Ketika aku ingin memasuki gedung, aku bertabrakan dengan seseorang. Membuat tubuhku terjatuh tersungkur diatas lantai. Mungkin keadaannya pun sama denganku, dia juga terjatuh.

'Ha~ Ini kedua kalinya aku bertabrakan dengan orang ditempat yang sama' desahku dalam hati.

Baiklah Sakura, kau harus bersiap-siap dimarahi olehnya!

"Kau tak apa-apa?"

Sebuah suara bariton yang terdengar lembut, dan ada nada khawatir disana menyapaku. Membuat pandanganku teralihkan ke arah sumber suara.

"Kau!"

Aku memekik kaget, ternyata pemuda yang kutabrak tadi adalah pemuda yang kutemui kemarin. Ya, pemuda tampan yang memiliki garis tegas di sekitar wajahnya dan rambut ravennya yang panjang sebatas punggung yang diikat satu. Dan satu lagi manik Onyx yang serupa namun tak sama dengan Sasuke.

"Ma~"

"Biar kubantu berdiri"

"Eh?"

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia mengulurkan tangannya kearahku.

"Tidak perlu, aku bisa bangun sendi... eh!"

Tiba-tiba ia memegang kedua pergelangan tanganku, lalu menariknya.

Kyaaa... bruuukk.

Tenaganya kuat sekali, dengan sekali tarikan mampu membuat tubuhku beranjak berdiri, dengan sigapnya dia memelukku yang hampir terhuyung jatuh tadi.

"Kau tidak apa-apa kan? Apakah ada yang sakit?" Manik Onyxnya menatapku khawatir.

Deg... deg...

Kami -sama, kenapa jantungku berdetak kencang sekarang. Perlakuannya berbeda dengan Sasuke yang sebelumnya mengalami hal yang sama kemarin. Aku jadi teringat perkataannya yang kasar ketika aku ingin membantunya berdiri kemarin.

Liquid bening tiba-tiba saja lolos jatuh dari sudut mataku. Aku bersyukur masih ada pria yang menganggapku seperti seorang wanita pada umumnya. Dia sama sekali tidak menyinggung tentang tubuhku yang gemuk.

"Kenapa menangis?" Tanyanya bingung.

Aku hanya menggelengkan kepalaku, aku tersentak kaget ketika tangannya menyentuh pipiku dan menghapus Jejak-jejak air mataku disana.

"Boleh kupastikan sekali lagi tentang tawaranku yang kemarin?"

Onyxnya menatapku intens, tak ada keraguan disana. Aku mengangguk menerima tawarannya. Senyuman sumringah tercetak jelas di wajahnya.

Sreet

Sekali lagi ia memelukku, namun kini lebih erat daripada sebelumnya.

"Arigatou" ujarnya tepat di telingaku.

Hei, seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih padamu bukan?

Tak kusangka, masih ada seorang pria tampan penuh pesona yang memiliki hati yang hangat dan sangat bersahabat, rela meluangkan waktunya untuk membantuku.

Dia pria yang baik, bahkan sangat baik. Aku bersyukur bertemu dengannya.

TBC

Terimakasih untuk para reader yang sudah baca fic abalku. Fic lain lagi proses. Kebetulan aku lagi sibuk duta jd jrg banget update T^T.