Tittle : Boy In Luv
Author : Mr_KHC and AL
Genre : Romance, Drama, Action, Hurt, Crispy Lay's, YAOI, Slice Of Life, etc.
Main Cast :
-Kim Jongin
-Byun Baekhyun
-Park Chanyeol
Other Cast : U will find inside there
Pair : ChanKai, ChanBaek, KaiBaek, HunKai
Rate : T semi M
Disclaimer : Ide cerita adalah hasil pemikiran otak saya dan sahabat saya, no plagiarism, bila ada kesamaan tempat, jalan cerita, dll, mohon dimaafkan, karena otak manusia tak dapat ditebak. Semua cast hanya milik Tuhan, dan saya hanya meminjam...
Enjoy it!
Warning : typo menyebar dan tercecer, bagi yang tak Suka YAOI silahkan hengkang.. :D
P.S : SILAHKAN DIBACA ULANG, KARENA ADA PERBAIKAN DI CHAPTER INI..THANKS
Anyyeong... /lambai-lambai
Kekeke...kali ini saya dateng bawa FF baru lagi, tapi ini kolab bareng temen saya, sebut saja AL entah apa yang ada di otak kami, tiba-tiba tercetus untuk membuat fanfict semacem ini.
Happy read all..love u all..
SUMMARY..? no summary just read... xD
.===========KHC-N-AL============
.
.
.
.
.
/Prev
"Awas saja jika kau melapor kepada si vampir berdarah dingin itu.."
"Kekeke..tenang saja tuan muda, rahasia anda terjaga aman"
"Apanya yang vampir berdarah dingin hm..?" tanya seseorang yang telah berdiri di samping Jongin, namun Jongin tak menyadarinya, Jongin menolehkan pandangannya kearah orang yang berbicara pada mereka.
"WAAAAA... !"
.
.
.
.
.========Boy In Luv=====
"Yha, apa itu hobimu, membuatku hampir serangan jantung..?!" omel Jongin sembari mengusap dadanya karena kaget.
"Mungkin" balasnya dingin kemudian berjalan pergi memasuki rumah.
"Aish, orang itu benar-benar! Kembali kau vampir bunglon!" teriak Jongin sembari mengikuti dari belakang
"Wae..? tak bisakah kau memanggilku dengan nama atau sebutan yang bagus..?"protes Sehun, orang yang di juluki vampir bunglon oleh Jongin
"Itu sudah yang paling bagus.. ah apa kau sudah makan malam?"
"Not yet.."
"Mau makan bersamaku..? tadi Cho Ahjussi memberiku ramen" tawar Jongin
"Semangkuk berdua maksudmu..?" tanya Sehun yang dibalas anggukan oleh Jongin.
"Baiklah.."
...
Next Day
Hari minggu, tentu hari minggu pun Jongin akan tetap berangkat ke sekolah. Jadwal latihan clubnya adalah hari sabtu dan minggu. Kemarin Jongin telah mengkoordinir seluruh anggota untuk datang pukul 9 pagi. Latihan sekaligus pertandingan senior melawan junior sekali lagi. Hal ini dilakukan oleh para senior untuk menyeleksi anggota yang akan maju ke pertandingan musim gugur mendatang serta pemilihan ketua club baru. Bagaimanapun juga, Jongin telah berada di kelas 3 dan tentu saja ia akan disibukan dengan kegiatan-kegiatan menjelang ujian akhir maupun ujian masuk universitas. Jongin sendiri sebenarnya malas melakoni kegiatan yang memeras otak meski ia juga pandai. Ia lebih senang melakukan hal-hal fisik seperti basket, dan hal menantang seperti balap mobil. Oops... balap mobil ya? Ngg... Jongin adalah seorang driver handal. Pengemudi jalanan yang tak bisa diremehkan. Siapa sangka anak yang di cap kalem dan lembut ini ternyata adalah seorang pembalap liar yang bahkan pernah dikejar polisi? Untung saja ia tak tertangkap. Siapa yang akan menyangka bahwa pemuda bermarga kim ini pernah bergabung dengan organisasi pembalap liar. Sebuah aksi dimana ia menemukan seseorang berharga untuknya. Ya... Jongin tak akan pernah lupa satu kejadian di sirkuit pinggiran kota waktu itu. Mengingatnya membuat Jongin tersenyum sendiri.
Jongin melangkah menyusuri lorong sekolah menuju lapangan basket indoor favoritenya. kedua tangan yang ia masukkan di saku hoodienya dengan ekspresi wajah yang terus tersenyum. Entah... kali ini ia tersenyum bukan karna moment balapan liar yang kembali melintas dibenaknya, melainkan kejadian semalam yang membuatnya seperti orang gila.
[Flashback]
"Aasshhh..haah..haaah..sshh.."
"Aigoo...shh..that's hot.."
"Ini bisa membuatku gila..shhh...haaah.."
stop! Apa yang sedang mereka lakukan..? apa yang kalian pikirkan..? apa mereka sedang melakukan sesuatu..?
tentu saja.., mari kita lihat..apa yang sedang mereka lakukan..
"Aasshhh..haah..haaah..sshh.."
"Aigoo...shh..that's hot.."
"Ini bisa membuatku gila..shhh...haaah.."
"Haah..ini gara-gara kau yang memasukkan cabe-nya terlalu banyak pabbo..sshh" omel Jongin seraya mengambil air mineral dari dalam kulkas, lalu meminumnya sekali teguk
"Hei, tapi ini enak.."ucap Sehun yang masih memakan ramen pemberian Cho ahjussi, pemilik kedai ramen yang mana Jongin biasa menitipkan sepeda angin miliknya disana. Dan mengapa Sehun mau memakan-makanan pinggiran seperti ini..? itu karena Jongin yang telah meracuninya dengan makanan yang ia bawa entah dari mana asalnya dan selalu menyuruh Sehun memakan makanan itu bersamanya, beruntung sistem pencernaan Sehun sangat baik dan tak ada gangguan disana.
"Awas saja jika besok kau diare, aku tak mau mengurusmu.."
"Entah..sepertinya perutku mulai berejolak.." goda Sehun
"Aku serius tak akan mengurusmu, jika kau benar-benar diare!" ancam Jongin
"Ahh...aku jadi teringat akan desahanmu yang seksi itu...ahhss..Sehun faster..faster..aahhh erotis.." Sehun semakin gencar menggoda Jongin
"Sialan kau! Berhenti mengucapkan itu!" bentak Jongin dengan bibir mengerucut dan pipi merona, lalu melempar botol air mineral kearah Sehun. Dengan gesit Sehun langsung menangkap botol tersebut.
"hahaha.."
[flashback end]
...
.
"Kapten!" Lamunan Jongin seketika buyar mendengar pekikan nyaring dari seorang anggotanya ketika ia melangkah memasuki lapangan. Jongin memberikan tatapan bingung.
"Kau seperti orang gila tersenyum sendiri, sayang'' sahut Chanyeol seraya berjalan mendekat kearah Jongin. Kemudian dengan seenaknya merangkul bahu Jongin.
"Pasti kau sedang membayangkan betapa tampannya Park Chanyeol ini.." Ujarnya dengan senyum 5 jari. Membuat Jongin bergidik malas.
"Namaku bukan sayang" Desis Jongin berbahaya.
"Aku hanya bingung, kenapa? Apa yg kurang dengan diriku, hm?" Nada Chanyeol terdengar menuntut. "Ayahku bahkan seorang jenderal, Jongin. Dan aku, aku mewarisi keterampilannya dalam menggunakan pistol. Aku bisa melindungimu, sayang." Lanjutnya. Jongin tersenyum miring menanggapi ocehan Chanyeol. Memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan ayah Chanyeol. Jongin kenal, sangat kenal dengan sang jenderal, hanya saja Chanyeol tidak tahu menahu tentang itu.
"Ya, kau benar." Ungkap Jongin malas.
"Tapi aku lebih suka jabatan ketua geng daripada jendral." Kali ini Jongin tersenyum manis kemudian berlalu dari hadapan Chanyeol menghampiri sahabat karibnya yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi keduanya. Pria bermata sipit, Byun Baekhyun. Sedangkan Chanyeol hanya diam dengan dahi mengernyit. Mencoba memahami sesuatu pada mimik muka Jongin tadi.
"Hai, Baek! Kau datang?" Sapa Jongin semangat. Baekhyun tersenyum.
"Aku manager club, mana mungkin tidak datang. Hahaha." Ungkapnya diselingi tawa.
"Cepat ganti baju dan kita mulai latihan." Instruksi Baekhyun pada Jongin yang mulai melepas tas punggungnya.
"Oke!"
...
.
==Boy In Luv==
Terdengar decitan sepatu para pemain bergesekan dengan lantai lapangan indoor SOPA sudah berlangsung selama 30 menit dengan skor dipimpin oleh tim senior. Suara bola basket yang di drabble seolah ikut beradu dengan teriakan para penonton yang menggema diseluruh sudut lapangan. Mendukung beberapa nama yang menjadi idola mereka.
Dengan nama Jongin yang diteriakkan paling keras bahkan mengalahkan riuhnya pasar tradisional. Jongin sendiri tidak habis pikir, ada juga siswa dan siswi yang mau datang kesekolah hanya demi memberi dukungan pada pemain favorite di hari minggu. Hanya pertandingan senior junior saja sudah sebegini riuhnya, apalagi turnamen sungguhan. Hoah! Jongin tahu seperti apa karna dia pernahmengikuti turnamen bersama timnya. Dan itu benar-benar berisik.
Latihan berakhir dengan kedudukan seri. Sempat terjadi ketegangan ketika memasuki menit-menit terakhir. Dimana kelompok junior hampir saja memimpin keadaan. Sayang, tembakan tripoint terakhir Taehyung hanya membentur ring depan bersamaan dengan peluit tanda berakhirnya permainan yang ditiup sang manager club. Diiring sorak sorai lega serta kecewa. Lega karna kelompok senior tidak jadi terkalahkan, tentu para pendukung sangat senang bukan? Kecewa karena kedudukan seri. Dan Jongin sendiri tidak terlalu mempermasalahkan, ia justru tersenyum puas setidaknya ini lebih baik daripada sebelumnya. Berakhir seri tentu memunculkan statement dibenak Jongin bahwa para juniornya setidaknya dapat menyeimbangkan kekuatan. Begitu bukan? dan Jongin berharap mereka menjadi lebih kuat.
Jongin memberi perintah para senior untuk merundingkan pemilihan ketua club baru dan memberikan keputusan 3 hari lagi. Berkumpul setelah pulang sekolah di ruangan club. Dan untuk masalah manager baru juga, akan diserahkan kepada ketua baru.
Jongin, Baekhyun, dan Chanyeol berjalan beriringan menuju gerbang utama sekolah dengan Chanyeol yang berada ditengah. Latihan selesai. Keringat Jongin masih belum hilang sepenuhnya, rambutnya basah kuyup. Ini karena ulahnya tadi yang dengan sengaja mengguyurkan air mineral pada rambutnya sendiri. Membiarkan air mengalir dan menetes seiring gravitasi. Membuat ia menjadi pusat perhatian atas aksi yang di klaim seksi oleh para wanita. Tentu Chanyeol dengan susah payah menelan ludah melihat kelakuan seksi orang yang disukainya. Bagaimana air itu menetes. Mengalir diwajah tan yang seperti berkilau menuruni leher jenjangnya. Sungguh! Untung saja Chanyeol dapat menahan hastrat untuk tidak menyerangnya di depan banyak mata. Baekhyun yang menyadari hal itu segera bertindak melindungi Jongin dengan mengambil handuk dan mengeringkan rambut Jongin disertai omelan yang menurut Jongin tidak jelas. Baekhyun jadi jengkel sendiri. Disaat seperti itu, sifat polos Jongin muncul dengan pandangan mata berbinar bingung pada Baekhyun. Hahaha... sungguh diluar dugaan.
"Oh ya sayang, kau memilih siapa untuk ketua baru?" Tanya Chanyeol seraya merangkul Jongin tanpa mempedulikan siswa / siswi yang berlalu diselingi sapaan ramah pada Jongin.
"Kim Taehyung." Ujarnya singkat seraya melepaskan rangkulan Chanyeol. Melirik sekilas Baekhyun yamg berada disisi lain Chanyeol.
"Hm.. ya dia cukup handal" jawab Chanyeol memberi pendapat.
Jongin tahu sahabatnya ini sedang cemburu. Dalam hati Jongin menyampaikan kata maaf pada Baekhyun. Jongin tidak pernah meminta Chanyeol melakukan skinship dalam bentuk apapun. Dia tidak suka dipegang, dipeluk atau sejenisnya oleh orang lain. Ya... kecuali keluarga, anak kecil, Baekhyun, dan satu lagi manusia yang katanya baru saja pulang dari China menemui paman Jackie yang dalam masalah dengan polisi. Entah... di telephone tadi, orang itu hanya mengatakan paman Jackie tertangkap basah ketika menjalankan misi. Selebihnya, entahlah Jongin tak paham. Nanti Jongin akan bertanya. Selain itu Jongin berjanji akan menghajarnya karna tiba-tiba menghilang tengah malam ketika Jongin sedang terlelap. menjengkelkan!
"Oh ya, kelulusan nanti siapa yang akan datang menjadi walimu? Apa ayahmu akan datang?" Tanya Chanyeol lagi.
"Vampir Bunglon." Jawab Jongin asal. Sedangkan Baekhyun terkesiap. Bunglon? Apa Jongin tidak salah menyuruh orang itu? Gila anak ini!, pikir Baekhyun.
"Siapa vampir bunglon? aku tidak tahu kau punya kakak."
"Aku anak tunggal."
"Lalu? Pacarmu?" Chanyeol benar-benar ingin tahu sekarang. Tidak... tidak... Chanyeol memang selalu ingin tahu apapun tentang Jongin.
"Bukan." Lagi-lagi Jongin menjawab asal. Dan Baekhyun sendiri hanya mengangguk-angguk membenarkan bahwa bunglon memang bukan pacar Jongin. Faktanya, Jongin tak memiliki pacar.
"Lalu siapa?" Ketiganya berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
"Seseorang disana."Jongin menunjuk dengan pandangan tajam pada sebuah Lamborghini veneno berwarna putih yang terkenal dengan mobil paling mahal di dunia,terparkir diseberang jalan. Chanyeol dan Baekhyun mengikuti arah pandang Jongin. Memperhatikan sesosok namja bersurai hijau yang sedang bersandar di jok kemudi tengah menatap mereka. Chanyeol mengernyit. Siapa dia? Asing bagi Chanyeol. Sedangkan Baekhyun melongo tak percaya. Orang itu jarang-jarang menampakkan batang hidungnya diarea SOPA. Menjemput Jongin eoh? Perhatian juga pemuda itu.
"Aku sudah dijemput. Ayo, Baek." Ajak Jongin seraya menarik Baekhyun menuju mobil sport mahal itu yang kini sang pengemudi telah keluar. Menampilkan balutan pakaian yang sangat pas di tubuhnya, jeans hitam dan juga kemeja yang senada dengan warna celana jeans yang ia kenakan dengan lengan yang dilipat rapi hingga siku tangannya dan kemeja yang dimasukkan kedalam celana jeansnya. Tampan, rapi dan berkharisma. Chanyeol sampai takjub dan bertanya-tanya siapa orang itu?
Jongin sempat melambaikan tangan kepada Chanyeol tanpa berbalik sebagai perpisahan untuk hari ini dan kembali bertemu esok hari. Chanyeol tersenyum, setidaknya Jongin tak menjauhinya akibat pernyataan cinta Chanyeol berturut-turut. Namun senyum itu pudar ketika pemuda asing itu mengusak sayang surai kelam Jongin dan tampak akrab dengan Baekhyun. Bahkan pemuda itu membukakan pintu untuk Jongin. Siapa sebenarnya pemuda pale itu?
.===Boy In Luv===
Didalam mobil... terjadi keheningan sesaat. Jongin nampak melipat tangan disertai raut kesal pada pemuda yang fokus mengemudi disampingnya. Sedangkan Baekhyun yang duduk di belakang nampak mengerti mengapa Jongin jadi seperti ini. Namun, Baekhyun maupun pemuda yang Jongin panggil vampir bunglon ini menganggapnya imut. Yah.. siapa yang menyangka Jongin yang brandalan bahkan memiliki banyak sisi lain yang membuat orang lain takjub. Seperti sisi imut, sisi sosial pada anak kecil, dan sisi ramah. Keduanya kadang berpikir, apa yang ibu Jongin idamkan ketika mengandungnya dulu sehingga orang macam Jongin terlahir?
...
"Jadi, ini hadiah setelah pergi ke china diam-diam kemudian pulang dengan rambut hijau? Kau terlihat seperti lumut berjalan!" Cibir Jongin sambil melirik pemuda berambut hijau itu tajam. "Dan tidak tampan!" Lanjutnya.
"Terima kasih, aku anggap itu sebuah pujian." Jawab sang pemuda cuek.
"Kau setuju denganku, Baek? Dia terlihat aneh dan jelek?"Jongin menoleh kebelakang meminta dukungan. Baekhyun terkekeh pelan.
"Ya... kalau kau bilang begitu. Aku akan setuju. Hahaha." Pemuda bernama asli Sehun itu hanya mendesis sambil fokus mengemudi.
"Kompromi, heh?" Sahut Sehun tidak terima.
"Ganti warna rambutmu. dark brown, atau hitam saja seperti rambutku, em atau blonde, tidak buruk juga" Ucap Jongin dengan nada memerintah.
"Permintaan dimengerti, Jongin" Jawab Sehun menyetujui. Membuat Jongin tersenyum menang. Sedangkan Baekhyun hanya menggelengkan kepala melihat interaksi aneh kedua.
"Bagaimana Jongin disekolah, Baek?" Tanya Sehun dengan nada datar. Baekhyun menatapnya dari belakang.
"Pemuda Park itu masih gencar mencoba mendapatkan Jongin?" ia lanjut bertanya.
"Ya seperti yang kau tahu" jawab Baekhyun
"Dan seperti yang kutahu, kau selalu cemburu dengan kedekatan antara Jongin dengan Chanyeol bukan..?" ucap Sehun santai.
"ya..begitulah..hehe.." jawab Baekhyun malu-malu
"yha! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu..?! apa kau tak cemburu..?" omel Jongin
"kalau tidak.."
"apa alasannya..?"
"karena aku tahu, kau bisa menjaga hatimu hanya untukku.."
"percaya diri sekali, baiklah..aku akan mencari yang lain saja..."
"silahkan, atau kau tak akan bisa berjalan selama satu minggu.."
"YHAA!"
"Ngomong2, kita mau kemana?" Tanya Baekhyun mengalihkan topik agar tak melihat pertengkaran kedua orang yang berada di depannya.
"Latihan membidik untuk Jongin." Jawab Sehun berseringai menang. Jongin mengerang kecil. Astaga! Orang ini selalu seenaknya! Rasanya ia ingin sekali mencekik orang yang ada di sampingnya ini.
"Dan untukmu juga, Baek."
"Apa?! Kenapa aku juga?!"Baekhyun mengerang protes.
"Tidak ada penolakan dalam bentuk apapun. Kalau ingin kabur, lompat saja." Ancam Sehun final. Mendapatkan erangan tak terima dari Jongin dan Baekhyun. Sehun gila heh! Melompat dari mobil yang melaju cepat?! Mau jadi apa tubuh mereka setelahnya? Ck! Kalaupun lari, mereka yakin dalam waktu 5 menit pasti akan tertangkap kembali. Percuma bukan?.
...
Jongin berdiri tegak diatas lapangan berumput dengan pakaian serba hitamnya. Celana jeans panjang, dan kaos tipis hitam berlengan pendek. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Kacamata berlensa orange bertengger manis membingkai wajahnya. Headphone hitam menutupi telinga. Bukan headphone untuk mendengarkan musik. melainkan headphone pangaman. Perlengkapan menembak sudah melekat pada tubuhnya. Pistol model baretta 92 berada di sisi paha kanannya. Jongin sudah siap. Siap menembakkan pelurunya pada beberapa target bergerak berbentuk lingkaran. Sorot mata Jongin berubah tajam ketika target-target itu mulai bergerak menyamping. Dan juga bergerak maju mundur.
'Set...'
Tangan kanannya menarik keluar sebuah pistol dengan sangat cepat. Tangannya berayun sambil memutar-mutar pistol itu ditelunjuknya.
'Dor.. dor...'
Memuntahkan dua tembakan pada dua target lurus didepannya. Kemudian berputar 180 derajat, langsung bertumpu pada satu lutut. Tangan kirinya terayun menumpu bagian bawah pistol. Matanya memicing tajam. Membuat kesan mata kelam itu nampak semakin kelam.
'Dor.. dor.. dor..'
Menembak satu target didepannya namun meleset dari titik tengah. Terayun kebawah pada target yang tidak bergerak tepat pada titik tengah. Dan berakhir pada satu target diagonal ke belakang melenceng 2cm dari titik tengah.
'Prok... prok.. prok...'
seseorang dibelakangnya dengan hoodie putih, topi terbalik, serta jeans pendek senada dengan hoodienya, memberikan tepuk tangan dari arah belakang. Jongin hanya melirik tanpa menoleh.
"Tidak buruk. Kemajuanmu pesat." Ucap pemuda itu santai mendekati Jongin diiringi Baekhyun disampingnya yang juga berpakaian seperti Jongin.
"Kau yang memaksaku!"Jongin mendesis berbahaya seraya berbalik. Melepas headphone Dan kacamatanya kemudian menyerahkannya pada pelayan yang ada di sampingnya. Pistolnya masih berada ditangan kanannya.
"Untuk kebaikanmu." Jawab Sehun enteng.
"Ya.. terima kasih" Jongin mendengus kesal. Sehun memang aneh dimata Jongin. Sehun semakin mendekat, memberikan gesture memeluk untuk melepas sabuk pistol yang melingkar. Sehun sengaja mendekatkan wajahnya, terkesan seperti tengah mencium leher Jongin.
"Persiapkan perjamuan. Kita akan kedatangan tamu dari Jendral kemiliteran dan FBI." Perintah Sehun mutlak seraya memberikan perlengkapan tembak yang sudah Sehun lepas dari tubuh Jongin.
"Baik, tuan." Pelayan itu mengangguk patuh, kemudian meninggalkan ketiga pemuda itu setelah diperintah dengan gerakan tangan dari Sehun.
'Sret...'
Dengan gerakan cepat, Jongin mundur satu langkah, menodongkan pistol tepat pada dahi Sehun. Tatapan menusuk tepat pada manik kelam Sehun yang bahkan tidak tersirat ketakutan. Sedangkan Baekhyun yang sedari tadi hanya mengamati, benar-benar dibuat kaget oleh tindakan Jongin yang sangat berani dan...gila. Baekhyun sampai menelan ludahnya susah.
"Don't move, sir!" Desis Jongin rendah berbahaya. Seolah mengancam jika Sehun bergerak seinchi saja, ia akan tewas di tangan Jongin.
'Clak..'
Dalam waktu sekian sekon. Entah bagaiamana, pistol ditangan Jongin sudah berpindah kepemilikan. Justru sekarang, pistol itu berbalik arah mengacung berani didepan wajah Jongin yang mimiknya sedikit berubah tegang. Sehun menyeringai setan. Memberikan tatapan membunuh pada lelaki 5 tahun lebih muda darinya itu. Mengisyaratkan sebuah kalimat "kau yang akan mati!"
Baekhyun rasanya ingin pingsan saja. Ia tidak sanggup melihat fakta didepannya. Dua lelaki yang sedang beseteru halus ini mengubah suasana menjadi mencekam. Fatalnya, Baekhyun mengenal baik keduanya. Jika diminta membela, Baekhyun tidak akan membela siapapun. Maka dari itu, Baekhyun lebih baik pingsan saja. Ya tuhan! Dimana para pelayan dirumah ini! Jangan sampai terjadi adu tembak! Baekhyun berkomat-kamit tak jelas seperti merapalkan doa yang ibunya ajarkan. Baekhyun tak pernah melihat keduanya terlihat ingin membunuh satu sama lain seperti ini.
'Set.. plak!'
Jongin memukul pergelangan tangan Sehun dengan tinjunya hinga pistol itu terlempar dari genggaman Sehun. Terlempar beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Jangan tanyakan bagaimana Baekhyun sekarang!
Jongin bergerak maju dengan cepat, melayangkan tinjunya kembali kearah uluh hati Sehun. Sayang, kecepatan Sehun menghindar cukup cepat sehingga tinju Jongin hanya mengenai udara. Sehun sudah berdiri dibelakang Jongin tanpa rasa takut. Jongin memutar tubuhnya 90 derajat, mengayunkan kakinya, menendang dengan gaya menyamping. Sekali lagi sayang, Sehun bergerak miring dan kaki jenjang itu hampir mengenai perut Sehun. Bisa Sehun tebak, tendangan Jongin penuh amarah. Jongin bergerak lagi, kaki yang tadinya menendang, kini menumpu dan tangannya kembali teranyun memukul.
'Bet... bugh!'
Tinju Jongin tepat mengenai pipi kiri Sehun. Membuat wajah Sehun menengok kuat kesamping. Sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah segar.
"Hentikan!" Baekhyun memekik.
"Cukup! Ada apa dengan kalian! Tak bisakah kalian menyelesaikan masalah kalian secara baik-baik?!" Suara Baekhyun meninggi. Yang tentu diabaikan oleh kedua lelaki yang tengah berseteru. Sedang Sehun menyeringai, tanpa berniat menghapus darah disudut bibirnya.
Jongin berdiri menantang dihadapan Sehun dengan nafas sedikit tersengal. sorot matanya tak berubah, masih sama seperti tadi, tajam dan menusuk. Seperti ingin mengirim Sehun menemui tuhan.
"Ya... pukulanmu cukup sakit. Lain kali cobalah sekali pukul membuatku bergerak atau terjembab." Kritik Sehun mengenai pukulan Jongin. "Kau, perlu mengembangkan latihan lagi. Dan maafkan aku untuk kejadian semalam" lanjutnya
"menyebalkan! Jika kau melakukan hal itu lagi, aku jamin kau tak akan selamat" Sahut Jongin.
"Baiklah, cukup latihan hari ini." Titah Sehun.
"Baek, kemajuan menembakmu lumayan."Sehun melirik Baekhyun sekilas. Sedangkan yang dilirik malah memasang wajah bodohnya. Oke! Baekhyun benar-benar tidak mengerti sekarang.
"Dan kau! Kau harus bertanggung jawab atas ini!" Sehun kembali menatap tajam Jongin seraya menunjuk lukanya sendiri. Jongin haya mengedikkan bahunya acuh sebagai jawaban.
"Ya ya ya baiklah, dasar vampir bunglon."Jongin bergerak, mengalungkan tangannya pada tengkuk Sehun. Matanya menatap luka disudut bibir Sehun dengan sorot mata yang berpendar lembut. Memajukan wajahnya, mengecup sudut bibir Sehun yang berdarah itu kemudian menjilatnya perlahan. Hingga darah itu menghilang. Sehun hanya diam menerima perlakuan Jongin, menatap mata malam Jongin intens dengan tatapan yang sulit diartikan. membuat Jongin mundur perlahan dan melemparkan senyum manis pada Sehun dengan mata yang menyipit membentuk bulan sabit. Wajah tanpa dosa yang entah muncul darimana. Jongin seperti memiliki kepribadian ganda. Kemana Jongin yang bringas tadi?! Baekhyun ingin menyumpahi mereka sekarang! Apa-apaan ini hah!
"Berbalik!"Jongin bersuara memerintah Sehun. Sehun mengernyit bingung.
"Sudah, turuti saja!" Rengek Jongin menuntut. Dan entah.. Sehun menurutinya. Memunggungi Jongin.
"Jongkok!" Perintah selanjutnya. Dan Sehun jongkok seperti keinginan Jongin. Tanpa aba-aba, Jongin sengaja menjatuhkan badannya pada punggung Sehun. Membuat lelaki itu hampir saja terjungkal jika saja pertahanannya kurang bagus. Jongin memeluk lehernya dari belakang. Menumpukan dagunya pada salah satu bahu tegap Sehun, kemudian tersenyum.
"Ayo jalan, Hunnie." Pintanya.
"Kau mau aku menggendongmu? Ck!"
"Ya begitulah. Aku lelah bertanding, dan kau tiba-tiba muncul menyuruhku latihan. Kupikir, kau benar-benar menyebalkan."Jongin lebih terdengar menggerutu.
"Ya.. ya.. ya..maafkan aku" meski awalnya tidak terima, toh akhirnya Sehun memenuhi keinginan Jongin juga. ia mengangkat tubuh Jongin dipunggungnya kemudian melangkah tenang memasuki rumah mewah berlambang burung legendaris phoenix itu. Sebenarnya, Sehun tidak bisa menolak keinginan Jongin meski aneh sekalipun.
Mari lihat ekspresi Baekhyun sekarang.
Bodoh. Ekspresi bodoh, tercengang, dan tidak percaya.
"Ya Tuhan! Kalian benar-benar gila!" Membuat Baekhyun mengumpat keras kearah mereka berdua.
"Oi Baek, kau menginap saja ya. Aku akan menghubungi ibumu setelah ini." Teriak Jongin.
"Kau ingin terus disana dengan tampang bodohmu?" Kali ini Sehun yang menyahut.
"Hei kalian! Kalian berhutang satu penjelasan!"Baekhyun berteriak kesal seraya berlari kecil mengekori kedua lelaki yang Baekhyun anggap gila itu. Baekhyun tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengenal 2 manusia kurang ajar itu -ini pandangan Baekhyun- terutama Sehun. Baekhyun tak meyangka, orang yang mempunyai kedudukan seperti Sehun dapat melakukan hal konyol permitaan Jongin seperti saat ini. Tapi, ya sudahlah. Biarkan saja. Toh mereka damai-damai saja bukan? Baekhyun sudah cukup lega. Setidaknya tidak akan terjadi perang dunia ke tiga.
======Boy In Luv=====
"selamat datang Jendral Park dan Agen K, Tuan Oh telah menunggu anda berdua, silahkan ikuti saya.." ucap sopan seorang pelayan saat menyambut kedatangan dua tamu penting majikannya. Dan mengantar mereka menuju tempat perjamuan yang mana disana terdapat sebuah meja panjang dengan banyak kursi, seperti meja makan, mungkin multifungsi bisa digunakan untuk rapat, dan disana pula telah ada Sehun dengan balutan kemeja hitam, dengan celana jeans hitam dan sepatu sneaker hitam, selebihnya serba hitam.
"selamat datang.." sapa sehun, lalu berjabat tangan Jendral Park dan juga Agen K salah satu Agen FBI
"Terima kasih karena bersedia mengundang kami tuan Oh.."
"Ah, ada yang sedikit berbeda.. bagaimana tanda lebam itu bisa berada di sudut bibirmu Tuan Oh..?" tanya Agen K
"Jongin yang memukulku.."
"mwo..?" kaget sang Jendral Park
"tenang saja hanya pertengkaran biasa.."
Tak lama jongin keluar dari sebuah kamar dengan sebuah mantel jas milik Sehun di tangannya, berjalan menuruni anak tangga bersama Baekhyun di sampingnya.
"kau duluan saja Baek, aku akan segera menyusul.." ucap jongin
"Baiklah...permisi..." ucap Baekhyun sembari membungkuk sopan kearah tamu. Lalu pergi keluar.
"Kalian berdua mau kemana..?" Bisik Sehun saat Jongin hendak memakaikan mantelnya.
"Makan malam bersama anak-anak.." ucap Jongin
"Boleh kutanya siapa dia tuan Oh..?" Tanya sang Jendral Park, seketika membuat Jongin dan Sehun melihat kearah sang Jendral
"Dia sahabat Jongin, Byun Baekhyun putra dari pemilik Byun's Family Industries"
"Ah begitu..dia sangat manis.." pujinya.
"Dan dia juga menyukai putramu Tuan Park.." sahut Jongin sembari memakaikan mantel jas yang ia bawa tadi kepada Sehun.
"Mwo..? Dia menyukai Chanyeol...?" Kagetnya, dan dibalas anggukan oleh Jongin
"Sudah.." ucap jongin menepuk pelan pundak Sehun untuk menghilangkan debu disana.
"Terima kasih.."ucap Sehun membenarkan mantelnya, lalu mencium bibir Jongin sekilas.
"Baiklah, aku pergi dulu..Tuan-tuan aku permisi...senang bertemu dengan kalian.." ucap Jongin ramah dengan senyuman yang membuat semua orang melihatnya terpesona, lalu pergi menemui Baekhyun yang sedari tadi menunggu didalam mobil.
.
"Maaf membuatmu menunggu lama Baek.." ucap Jongin setelah ia memasuki mobil Baekhyun.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Rahasia.." jawab Jongin meletakkan telunjuknya di bibirnya.
"Aish..!"
"Baiklah...ayo kita berangkat..." ucap Jongin menyalakan mesin mobil dan melesat pergi
==== Boy In Luv===
.
Malam harinya.
"Selamat datang tuan muda..kemana Tuan Baekhyun..?" ucap seorang kepala pelayan saat Jongin memasuki rumah
"Baekhyun langsung pulang karena dia sedang ada urusan mendadak, dan tak jadi menginap disini.., ah..Sehun ada dirumah..?"
"Tuan Besar sedang berada di ruangannya, Tuan muda"
"Baiklah.. jika ia keluar dari ruangannya, suruh dia menemuku di kamar karena ada yang ingin ku bicarakan dengannya..." ucap Jongin
"Baik Tuan muda.."
"Terima kasih.." Jongin tersenyum lalu berjalan kearah kamarnya yang berada di lantai dua.
..
'CKLEK'
Jongin keluar dari kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya dengan mengenakan bathrobe sambil kedua tangannya mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Jongin berjalan kearah lemari pakaiannya, dan mulai memilih baju yang akan ia gunakan untuk tidur malam ini hingga sepasang lengan kekar melingkar di bagian perutnya membuat jongin berhenti melakukan aktifitasnya.
"apa yang ingin kau bicarakan denganku..?" ucap sang pelaku yang ternyata Sehun, sembari ia menghirup aroma tubuh Jongin.
"Appa menyuruhmu untuk menemuinya besok"
"ada apa..?"
"Entahlah, mungkin test drive.."
"Mwo..? apa kau bilang..? test drive.."
"Yha.. aku hanya bercanda..sudah, lepaskan pelukanmu, aku ingin ganti baju.." ucap Jongin seraya melepaskan tangan Sehun dari pinggangnya, namun nihil, tangan Sehun tetap berada disana, dengan Sehun yang sedari tadi menghirup aroma tubuh Jongin, dan memberi kecupan di bahu sempitnya.
"Kuperingatkan kau untuk tidak bermain kuda denganku! Aku ada latihan lagi besok!." Jongin mendesis. Membiarkan lengan kekar Sehun tetap melingkar erat di area perutnya.
"Hum... ya aku tidak berjanji." Sehun mengedikkan bahu acuh. sejurus kemudian, ia melayangkan beberapa kecupan pada leher jenjang Jongin. Menghembuskan napasnya perlahan, membuat jongin memejamkan mata merasakan getaran dalam tubuhnya. Rasanya, suhu tubuhnya tengah mencoba menanjak. Sehun tetap saja Sehun, wajah yang cool, tampan dan kharismatik selalu akan luluh bila disuguhi Jongin. Ingat! Hanya pada Jongin Sehun luluh.
****...
Jongin berdiri di depan cermin mematut diri, memastikan dirinya sudah tampan, dengan balutan seragam putih serta almamater kuning khas sekolahnya. rambut yang dibiarkan berantakan dengan bantuan gel rambut. Jongin diam-diam berdecak kagum pada pantulan dirinya di depan cermin. Puas memandangi wajahnya yang diakui tampan oleh para wanita dan laki-laki, pandangannya teralihkan pada beberapa bercak keunguan yang menghiasi lehernya. Jongin berdecak kesal. Orang itu! Jongin sudah memperingatkan dengan tegas untuk tidak bermain rodeo diatas ranjang, benar, hal itu memang tidak terjadi. malah berakhir dengan permainan foreplay yang berhasil membuat jongin membumbung dibawah kuasanya meski tidak sampai keinti. Tapi tetap saja!
Sepasang lengan kekar memeluk pinggangnya hangat. Menumpukan dagunya pada bahu sempit Jongin, kemudian memandang Jongin dari cermin. Dengan tatapan tak berdosa tentu saja, lalu mencium lama bahu Jongin menghirup aroma tubuh Jongin yang menenangkan untuknya.
"Sudah kubilang untuk tidak menandai leherku!" Jongin menggeram. Ingin rasanya ia memukul keras-keras kepala pemuda 5 tahun diatasnya ini. Sedangkan Sehun hanya melemparkan pandangan datar. Sehun melepas pelukannya perlahan. Kemudian melepas syal putih yang melingkar dilehernya, memindah tempatkan syal itu keleher Jongin.
"Masalah selesai." Sehun menyeringai menatap hasil karyanya, membalutkan syal pada leher Jongin. Jongin mengerang kesal. Yang benar saja! Memakai syal begini?! Ck! Syal bukan style Jongin, bisa-bisa banyak yang mencurigainya.
"Aku akan mengantarmu." Ucap sehun.
"Biar aku yang mengemudi." Ya kalau ada sehun, Jongin tak bisa menikmati perjalanan pagi hari menaiki bus umum. Jongin menyambar kunci mobilnya dan segera melesat keluar meninggalkan Sehun yg hanya terkekeh pelan melihat tingkah Jongin yang lucu dimata Sehun.
Diperjalan menuju mobilnya, beberapa pelayan menatap aneh pada Jongin. Tentu saja masalahnya adalah syal sialan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ini jalan satu-satunya.
"Wae?!" Ujar jongin ketus.
"Kurasa mengenakan syal di musim gugur bukan style anda, apa anda sakit, tuan muda?" Tanya seorang pelayan dengan dahi mengernyit.
"Tidak!" Jongin terdengar sewot. Pipinya menggembung lucu. Membuat beberapa pelayan lain terkekeh kecil. Tuan muda mereka lucu juga. Dan ini sudah sering melihat ekspresi merengek tak terima.
"Tanyakan pada tuan besar kurang ajar itu." Umpatnya ketika Sehun datang. Kembali berjalan acuh. Seolah tidak mengingat bagaimana reaksinya semalam. Menyanyikan lagu merdu -desahan- menanggapi ulah Sehun yang menggerayanginya.
"Dia hanya sedang kesal." Ucap sehun dengan sorot mata penuh arti menjawab pertanyaan orang yang menduduki jabatan kepala pelayan dirumah mewah ini.
"Sepertinya saya mengerti maksud anda Tuan besar." Kepala pelayan itu menyungginggkan senyum seraya membungkukkan badan memberi hormat pada sang tuan besar ketika ia kembali melangkah mengikuti Jongin.
"Berhati-hatilah di jalan tuan." Kepala pelayang tak habis pikir dengan tingkah dua pemuda itu. Lucu.. dan seolah hanya fiksi. Mengingat kedudukan Sehun yang sangat tingin yakni seorang ketua mafia 'Phoenix' yang terkenal dengan ahli penyamaran dan rekanan mereka dari pihak militer elit. Dan Jongin sendiri adalah pemuda brandalan manis yang tingkahnya sulit ditebak. Brandalan yang hobi berkelahi, bermain basket, dan balapan liar. Tiba-tiba menjadi tukang rengek yang manja dengan caranya seperti pagi ini. Sensasi tersendiri untuk bekerja menjadi pelayan mereka. Terikat peraturan memang, tapi mereka nyaman. Entah... mereka suka melayani keduanya, apalagi tuan muda Jongin mereka. Entah sejak kapan sehun menciptakan hukum Phoenix untuk membuat nyaman para pengikutnya. Ketua Phoenix tidak seburuk kelihatannya. Dan karena Jongin-lah, membuat kediaman megah ini menjadi lebih hidup, setelah bertahun-tahun yang lalu selalu terasa suram.
***...
Mobil mewah yang dikemudikan Jongin berjalan masuk ke area SOPA dengan gagahnya. Mengundang perhatian dari para siswa dan siswi. Membuat mereka berdecak kagum pada mobil mewah keluaran terbaru itu. Dan katanya, hanya ada beberapa didunia. Mobil itu adalah pemberian ayahnya sebagai kado ulang tahunnya yangke-17. Sebenarnya, tidak perlu menjadikannya kado. Apapun dan kapanpun Jongin meminta sesuatu, sang ayah akan segera memenuhi keinginan anak semata wayangnya. Tentu itu adalah bukti kasih sayang orang tua. NamunJongin sendiri jarang bahkan hampir tidak pernah meminta apapun pada sang ayah. Ia bilang, begini saja sudah cukup. Hanya melihat ayah dan ibu saja aku sudah senang. Tidak perlu repot, aku sudah merasa cukup. - ya seperti itu katanya. Dan sempat membuat haru kedua orang tuanya. Jongin tidak bohong atas ucapannya, meski ayah dan ibunya sibuk tapi Jongin bersyukur karena ia tetap mendapatkan kasih sayang. Ia sampai mendapat ijin balapan liar dengan janji dapat menjaga diri sendiri.
Jongin keluar dari mobil diikuti Sehun dari sisi lain. Menampilkan mode khas seorang Oh Sehun yang chic dan elegan dengan kemeja hitam yang dibalut mantel jas berwarna grey serta kacamata eksklusif yang membingkai wajahnya. Semua pasang mata tertuju padanya. Berdecak kagum betapa kerennya pemuda yang bersama Jongin itu. Serta memunculkan pertanyaan 'siapa orang ini?'. Bahkan Chanyeolpun terpana tanpa berkedip. Orang ini kalau tidak salah yang menjemput Jongin beberapa waktu lalu.
"AAAAAAA..TAMPANNYA!"
"Siapa dia..?"
"Siapa yang bersama Jongin itu..?"
"Siapa namanya.."
Ya, itulah suara teriakan dari para penghuni SOPA pagi ini, berniat menunggu Jongin, ternyata mendapatkan peristiwa yang langkah, yakni melihat Jongin membawa mobil sport dan mengendarainya, dan juga seseorang yang bersamanya, yang membuat seluruh sekolah heboh, karena penasaran, apakah itu kakaknya, sepupunya, kekasih Jongi, semua bertanya-tanya.
"Aku akan menjemputmu nanti. Ingat, hubungi aku dan jangan pulang sendiri." Sehun lebih terdengar memerintah. Ya.. memang seperti itulah sehun.
"Cerewet!" Jongin berlalu. Rupanya ia masih kesal gara-gara semalam. Dan sehun cuek-cuek saja dengan tingkah Jongin. Toh nanti akan membaik dengan caranya sendiri. Sehun-pun memasuki mobil, mengendarai mobil itu meninggalkan area SOPA.
"Sayang!" Panggil Chanyeol seraya menghampiri Jongin yang berjalan menuju kelasnya. Beberapa penggemarnya terlihat menyapanya gembira. Tak seperti suasanya hati Jongin saat ini.
"Kenapa cemberut begitu?" Tanya Chanyeol menyelidik. Jongin hanya diam. Enggan menjawab apapun.
"Jong!" Terdengar suara lain memanggil Jongin. Baekhyun berlari kecil dengan raut khawatir. Datang dan langsung menempelkan telapak tangannya pada kening jongin.
"Apa yg kau lakukan, baek!" Jongin menepis tangan baekhyun.
"Kau sakit?"
"Sedikit tidak enak badan saja." Tentu jongin berbohong.
"Benarkah? Bagaimana keadaanmu? Kenapa berangkat sekolah jika memang tak enak badan?'' Dan dua pemuda lain -Baekhyun dan Chanyeol- memberondongnya dengan pertanyaan khawatir.
"Sejak kapan kalian kompak begitu?" Jongin mengerang kesal.
Tidak... tidak... Baekhyun yakin Jongin tidak sakit. Tapi kenapa memakai syal padahal ini masih musim gugur tak terlalu dingin bukan? Atau... ada yang lain dibalik syal itu?
Chanyeol bergerak membenarkan syal putih dileher Jongin dengan perhatian. Tak sengaja matanya menangkap sebuah ukiran huruf hangeul diujung syal itu. Hangeul yang membentuk kata 'OH SEHUN'. Jadi, siapa Oh Sehun itu? Yang bisa sedekat ini pada Jongin-nya sampai meminjamkan syal untuknya.
...
Sehun melajukan mobilnya kearah kediaman keluarga besar Kim, karena semalam Jongin telah mengatakan kepadanya untuk menemui Ayah Jongin.
Sesampainya di kediaman keluarga Jongin, ia segera keluar dari dalam mobil. Dan berjalan kearah pintu masuk rumah Kim.
"Anda telah ditunggu oleh Tuan Besar Kim, Tuan Oh.., mari ikuti saya.." ucap seorang pelayan yang menyambut kedatangan Sehun. Dan berjalan mendahului Sehun, alih-alih mengantar Sehun kepada Tuan-nya.
"Silahkan.." sang pelayan mempersilahkan Sehun untuk memasuki ruang kerja Tuan Kim
"Terima kasih..." balas Sehun, kemudian memasuki ruangan tersebut, dan mendapati sosok ayah Jongin yang sedang menatap kearah luar jendela.
"kau sudah datang Sehun..?" ucap ayah Jongin tanpa membalikkan badannya menghadap Sehun
"Iya Tuan Kim.." balas Sehun
"sudah berapa kali ku bilang, jangan memanggilku dengan sebutan Tuan, Sehun.."
"Ne Appa, maaf.., apa yang membuatmu memanggilku, appa..?"
"Kudengar anak buahmu tertangkap, benar..?"
"Iya.."
"Apa sudah kau selesaikan..?"
"Ne..semua sudah kuatasi.."
"Ikut aku.." ayah jongin berjalan mendahului Sehun, dengan Sehun mengekorinya, hingga mereka berhenti di halaman belakang rumah yang luasnya ber hektar-hektar, seperti sirkuit balap mobil.
Ayah Jongin berhenti di depan dua buah mobil yang telah terparkir rapi di arena balap itu, sepertinya itu mobil baru, karena Sehun tak pernah melihat mobil jenis itu berada di pasaran, dan benar ucapan Jongin, -Test drive.
Ayah jongin melempar sebuah kunci mobil kepada Sehun, Sehun dengan cekatan, langsung menangkapnya
"Hadapi aku disini.., tak usah sungkan padaku, mengerti..?" ucap Ayah Jongin
"Baik.." Sehun segera berjalan kearah mobil yang terparkir disebelah mobil yang dimasuki Ayah Jongin, lalu memasukinya, dan mulai menyalakan mesin mobil tersebut, Sehun memperhatikan setiap detail interior mobil. Terasa nyaman, dan ini terasa sama seperti mobil milik Jongin, yang ia bawa tadi.
Ayah jongin menurunkan kaca mobilnya dan ada seorang pelayan yang membawa bendera, untuk memulai pertandingan antara Ayah Jongin dengan Sehun.
'Brmmmm!'
Bendera telah diangkat, kedua mesin mobil telah menderu
"GOO!"
Kedua mobil tersebut melaju di sirkuit balap dengan kecepatan diatas rata-rata, dengan mobil yang di tumpangi Sehun berada jauh didepan. Peraturannya kali ini adalah, memutari sirkuit ini sebanyak lima kali putaran.
Mereka saling menyusul disamping ambisi Ayah Jongin untuk mengalahkan sang jagoan jalanan Sehun, dan juga orang yang telah merebut Jongin anak semata wayangnya dari-nya.
Dengan Sehun yang juga berambisi untuk menang dari Ayah Jongin, karena sebelumnya sang ayah membisikkan ancaman di telinga Sehun
'Jika kau kalah, kau harus mengembalikan Jonhin kami!'
Dan Sehun merasa kalau itu bukan candaan Ayah Jongin.
Di putaran terakhir mobil yang dikendarai Ayah Jongin hampir mendahului Mobil yang di tumpangi Sehun, namun dengan cekatan Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dan ia berhasil memenangkan pertandingannya bersama Ayah Jongin.
Sehun memarkirkan mobilnya, lalu keluar, dan berjalan menemui ayah Jongin, lengkap dengan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.
"Ini yang paling tak kusukai darimu Sehun.., aku selalu kalah menantangmu hah?" protes sang ayah.
"Maafkan aku.." ucap Sehun tersenyum ramah kearah ayah Jongin sembari melepas kaca matanya.
"Tak bisakah sekali saja kau memberikan kemenangan untukku?!" Protesnya.
"Maaf Appa, aku tak akan membiakanmu menang dengan ancaman yang berikan tadi"
"Dan itulah yang membuatku khawatir jika kau bersama Jongin, dia anak semata wayangku.."
"Aku sudah berjanji padamu Appa, aku akan menjaganya dengan baik.."
"Itu memang harus, jika ada luka sedikit saja.. akan kucincang kau.."
"Hehe arraseo.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC/END?
Thanks to all... untuk yang telah meluangkan sedikit waktunya membaca FF abal-abal kami..xD
Dan juga memberikan sebuah komentar untuk kami...maaf karena tak bisa membalas satu-persatu pesan kalian. Dan sebisa mungkin kami akan mencoba membalas semua pesan kalian, untuk yang memiliki akun di ffn kami akan membalas lewat private message untuk kalian...
Khamsahamnida... love u all...
/bow
====KHC-AL====
