ZILONG POV

Aku menatap pria yang sekarang sedang tidur di kasur sementaraku. Wajahnya masih sedikit memerah dan berkeringat, tetapi tidak separah sebelumnya.

Aku menyentuh dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Bagus, sudah mulai turun demamnya. Tapi, serius, aku tidak mengerti. Kenapa setelah melawan demon itu dia malah jadi demam?

Aku mengeluarkan secarik kertas yang kusimpan di kantong kecil di tasku. Kertas dari Raja Estes tentang ciri-ciri pria bernama Alucard.

-Rambut pirang pasir.

-Berkulit putih.

-Hidung mancung.

-Bibir tipis.

-Mata biru.

Eh? Mata biru? Warna mata pria ini kan merah, berarti dia bukan Alucard… aku sedikit kecewa. Tidak, sebenarnya aku sangat kecewa. Ntah kenapa menjadi seorang hero bersama pria ini pasti rasanya sangat menyenangkan.

Sebenarnya siapa pria ini?


ETHEREAL

Fanfic tentang perjuangan para hero mengembalikan cahaya di Land of Dawn.

Main pairing: Zilong x Alucard.


Ch 2


ZILONG POV

Matahari pun mulai menampakkan dirinya, menandakan bahwa malam sudah berakhir dan pagi telah datang. Burung-burung kecil mulai berkicau merdu. Kicauan merekalah yang membangunkanku.

Aku pun pergi ke sungai untuk membasuh wajahku. Aku sengaja mendirikan tenda di dekat sungai agar aku bisa mendapatkan air dengan cepat, dan juga ikan tentunya.

Aku masih merasa mengantuk. Aku pun langsung menenggelamkan wajahku ke dalam air sungai, berharap kesegaran dari air yang dingin dapat membangunkanku sepenuhnya.

Hmm, kok aku merasa aku melupakan sesuatu yang penting ya? Aku berpikir sejenak. Ah! Pria itu! Aku lupa mengeceknya! Aku langsung berlari kembali ke tendaku. Berharap pria itu masih ada di sana.

Aku langsung menyibak kain yang menjadi pintu masuk tendaku. Mataku langsung jatuh padanya, pria yang masih tertidur pulas di tumpukan kain yang kujadikan kasur.

Aku segera menghampirinya dan duduk di sampingnya. Aku mengulurkan tanganku untuk meraih dahinya. Memeriksa suhu tubuhnya seperti yang telah kulakukan berkali-kali kemarin malam. Tetapi dia tiba-tiba membuka matanya. Dan apa yang kulihat seakan menghipnotisku.

Dua mata biru yang cerah menatapku.

"Alucard?" tanyaku.

"D-dimana ini?" tanya pria itu bingung. Kurasa dia masih setengah sadar, dan kondisi ini harus kumamfaatkan sebaik mungkin.

"Kau Alucard kan?" aku bertanya lagi.

"Eh? Bagaimana kau tau namaku? Siapa kau?" tanyanya bingung. Matanya tertutup lagi, rasa kantuk menyerangnya.

"Aku Zilong. Salah satu hero," jawabku santai. Mendengar jawabanku, Alucard langsung bangun dan menatapku kaget. Kedua matanya terbuka lebar.

"H-hero?" tanyanya sedikit panik.

"Kau Alucard kan?" tanyaku lagi.

"B-bukan! Siapa Alucard? Ah… A-aku harus pergi. Sampai jumpa lagi!" seru Alu sambil segera bangkit dari tidurnya. Sumpah, dia tidak pandai berbohong sama sekali! Tapi usahanya untuk berbohong membuatnya terlihat sangat manis, seperti anak kecil saja. Aku segera menahan tangannya agar dia tidak kemana-mana.

"Raja Estes mengutusku untuk menjemputmu," mendengar itu, Alucard langsung menghentakan tangannya agar genggamanku padanya terlepas.

"Kalian belum menyerah juga untuk merekrutku?! Bukannya sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak tertarik sama sekali?!" dia mengerutkan alisnya.

"Aku tidak mengerti kenapa kau menolak tawaran menjadi hero. Tidak semua orang bisa menjadi hero, harusnya kau bangga, kau termasuk dari yang terpilih."

"Aku juga tidak mengerti kenapa kau mau menjadi hero. Buang-buang waktu saja. Bilang ke raja bodohmu itu untuk tidak menggangguku lagi!"

Mendengarnya menghina Raja cukup membuatku marah, tetapi aku lebih marah lagi saat dia bilang jika menjadi hero mmbuang-buang waktu saja.

Aku mendorong tubuhnya hingga dia terjatuh dan menahan kedua tangannya dengan tanganku. Menindih kakinya dengan tubuhku. Efektif untuk menghentikan semua gerakannya.

"Lepaskan! Lepaskan aku! Apa maumu?! Aku mau jadi hero atau tidak kan urusanku!" dia berusaha membebaskan diri dariku, tetapi sia-sia. Aku tau dia masih sedikit demam.

"Kau tinggal di hutan ini karena disini tempat tinggal banyak demon kan?" aku sudah mencari tau segala hal tentang hutan ini dari penduduk sekitar makanya aku mengetahui hal ini.

"Lalu kenapa?" tanyanya lagi. Dia belum menyerah dan masih berusaha membebaskan dirinya dariku.

"Kau sebenarnya ingin memusnahkan para demon juga kan?" dia tidak membalas perkataanku, jadi kuanggap saja kalau perkataanku benar, "kalau memang itu maumu, lebih baik kau menjadi hero saja. Kita bisa memusnahkan para iblis itu bersama-sama."

"Aku membunuh para demon itu hanya untuk menguji dan mengasah kekuatanku, ok?" dia memalingkan wajahnya. Dia harus berhenti berbohong, dia terlalu payah untuk itu.

"Mengasah kemampuan? Kau tinggal di sarang iblis! Ini lebih terdengar seperti bunuh diri daripada mengasah kemampuan, hm?"

"Mungkin bagimu ini bunuh diri, tapi tidak bagiku. Kau hanya terlalu lemah untuk tinggal di sini." Sahutnya arogan.

"Lemah? Kau kira kau masih akan hidup jika aku tidak membawamu kemari? Jika bukan karena aku, kau pasti sudah menjadi santapan para demon!"

"Bukan salahku, demon seperti itu menyerangku tiba-tiba! Tapi aku bisa mengatasinya sendiri! Aku mengalahkannya sendirian!" dia terdengar bangga.

"Itu tidak mengubah fakta bahwa aku sudah menyelamatkan nyawamu," ucapku. Kenapa pria ini tidak mengatakan yang sebenarnya saja? Bahwa sebenarnya dia memiliki tujuan yang sama dengan para hero. Mengembalikan cahaya di Land of Dawn.

"Lalu kau mau balasan apa dariku? Uang?"

"Jadilah hero bersamaku," aku membisikkannya di telinganya.

"Haah, kalian semua terlalu memaksa. Apa Rajamu tidak memberitahumu jika semua utusan yang dia kirim padaku selalu kembali dengan keadaan luka-luka?" tanyanya sambil menyeringai.

Aku menatapnya bingung. Dia berkata seakan-akan dengan kondisi tubuhnya yang sekarang ini dia bisa melukaiku. Tapi, dengan cepat kebingunganku musnah.

Matanya yang biru berubah merah.

Setelah matanya berubah warna, kekuatannya bertambah sangat besar! Dia meronta dengan sangat kuat dan bahkan dia bisa mendorongku mundur! Dengan cepat dia keluar dari tendaku, dan berlari memasuki hutan.

Melihatnya kabur, aku langsung mengejarnya. Tidak akan kubiarkan dia sampai lolos!


ALU POV

Ugh, kenapa sih mereka datang terus kesini? Bukannya sudah kubilang dari awal aku tidak mau menjadi hero?! Mereka itu tidak ada telinga atau apa sih? Kolot banget! Aku terus berlari. Aku tau orang yang bernama Zilong itu pasti akan mengejarku.

Mataku sudah kembali biru. Aku meng-nonactive skill khususku.

Aku tidak tau aku bisa lari sampai kapan. Aku bisa merasakan kekuatan perlahan hilang. Aku tau skill itu hanya boleh kugunakan maksimal sehari sekali, tapi aku benar-benar tidak tertarik menjadi hero.

Terakhir kali aku memakai skill ini kemarin sore. Karena sekarang masih pagi berarti jeda penggunaan skill ini baru setengah hari. Efek sampingnya akan terasa sebentar lagi, aku harus mencari tempat untuk bersembunyi!

"Haah.. Haa," tidak! gawat… untuk berjalan saja, aku sudah tidak ada tenaga. Aku tidak bisa berhenti disini, demon akan menyerangku.

"Rrrr, bau manusia," suara muncul dari belakangku. Aku langsung menoleh ke sumber suara dan menemukan iblis yang berwujud anjing berkepala tiga. Aku tau semua demon yang bisa berbicara berbahaya.

"h… haha, ss-sayang se-sekali… haa hah, a-aku b-bukan… haa… manusia," jawabku terengah-engah. Nafasku terasa berat.

"Paling tidak mirip. Sudah lama aku tidak makan enak, hmm," aneh sekali rasanya, melihat anjing yang bisa berbicara layaknya manusia. Mengerikan.

Aku men-summon pedangku. Jika aku akan mati, paling tidak aku akan membawa iblis ini bersamaku!

Mataku kembali merah

Lifesteal 100%


ZILONG POV

Kemana dia? Aku kehilangan jejaknya. Dia berlari terlalu kencang. Aku masih memikirkan matanya yang bisa berubah warna. Tiap kali matanya berubah warna, sepertinya dia menjadi semakin kuat….

Tapi, apa jangan-jangan hal itu yang membuat dia pingsan dan demam kemarin? Kalau iya, aku harus mencari dia sekarang. Hutan ini berbahaya!

Setelah berkeliling sekitar 15 menit, aku mendengar bunyi pedang dan angin. Dia pasti sedang bertarung! Aku segera lari ke sumber suara.

"ARGH!" aku melihat Alu dibanting ke tanah oleh iblis anjing berkepala tiga. Demon level A! Aku harus segera menolongnya! Aku pun mengeluarkan tombakku dan berlari ke arah iblis itu.

Dengan cekatan aku membalik monster itu dengan tombakku dan melemparnya jauh ke sebuah pohon besar. Aku berlari menghampiri Alucard.

"Hei! Kau tidak apa-apa?" ini pertanyaan bodoh! Aku bisa melihat darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Kepalanya terbentur keras dan mengeluarkan banyak darah juga, ada luka dalam di tangannya.

Eh? Apa ini? Kenapa tangan kanannya seperti tangan iblis? Aku baru menyadari keanehan di tangan kanan Alucard. Ini bukan tangan manusia! Sebenarnya dia ini apa?

"RRRAAWR, sakit! Awas kau! Akan kubunuh kau!"

Belum sempat aku menemukan jawabnnya, iblis itu sudah bangkit lagi dan bersiap menyerang. Kenapa bisa ada banyak demon level A disini? Setauku, demon level ini jumlahnya sedikit, tapi aku sudah menemui dua hanya dalam dua hari!

Aku meletakkan Alucard di dekat pohon yang cukup besar dan kembali menghadapi iblis itu.

Aku segera berlari ke arah demon itu dan menusuknya dengan cepat berkali-kal. Darah demon itu memancar kemana-mana. Tapi, aku tau ini semua tidak cukup untuk mengalahkannya.

Tiba-tiba demon itu menghempasku dengan ekornya. Aku terlempar ke pohon dekat Alucard. Darah segar mengalir dari luka baru di kepalaku. Kepala memang mudah sekali berdarah.

Monster ini kuat, aku harus serius! Aku menggemgam tombakku erat dan berlari ke arah monster itu untuk serangan balasan.


ALU POV

Aku membuka perlahan mataku. Aku bisa mendengar bunyi pertarungan di dekatku. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum aku pingsan.

Ah! Demon tadi! K-kenapa aku masih hidup?

Aku mengarahkan mataku ke pertarungan yang berlangsung di depanku. Demon tadi terluka cukup parah. Kakinya terpotong satu dan darah hijau mewarnai tubuhnya. Selain itu, kepalanya juga hanya tersisa satu.

Aku memgedarkan pandanganku ke orang yang sedang melawan demon itu. Namanya Zilong kalau tidak salah? Dia datang menyelamatkanku lagi?

Keadaan Zilong juga tidak jauh berbeda dengan demon yang sedang ia hadapi. Tubuhnya dilumuri darah segar dan lebam dimana-mana. Aku harus membantunya.

Aku mencoba berdiri, tetapi tidak berhasil. Aku merasa sangat pusing dan tanganku sangat sakit. Saat kulihat ada luka yang cukup dalam di tangan kananku. Ugh, luka seperti ini bukan masalah kalau aku bisa mengaktifkan skill itu lagi. Tapi… efek sampingnya pasti akan sangat besar.

Iblis itu semakin menjadi-jadi. Kurasa dia merasa jika dia bisa saja kalah di pertarungan ini, iblis itu pun mulai menyerang membabi-buta. Dan sialnya serangan itu mengenai Zilong. Dia terjatuh ke tanah.

Zilong berusaha bangkit tetapi satu kepala yang masih tersisa menggigit bahunya. Darah merah segar mengalir dari gigitan itu. Zilong meringis kesakitan. Sepertinya untuk berteriak saja dia sudah tidak ada tenaga.

Aku harus membantunya. Aku meng-summon pedangku lagi. Aku berusaha berdiri. Aku sudah terlalu banyak memakai skill ini. Kurasa aku hanya akan bisa menggunakan beberapa detik saja. Tapi, mengingat keadaan iblis itu yang sudah sekarat, kurasa hanya dengan beberapa detik saja aku bisa mengalahkannya. Aku hanya perlu menebas kepalanya yang terakhir.

"HEI, IBLIS JELEK! BUKANNYA KAU BILANG KAU MAU MENYANTAPKU?" teriakku kencang untuk menarik perhatiannya.


ZILONG POV

Aku mendengar pria itu, Alucard berteriak ke demon itu. Apa yang dia lakukan? Dia sudah terluka parah!

Mendengar teriakan Alucard, iblis itu melepas gigitannya di bahuku. Kepalanya yang masih tersisa menoleh ke arahnya.

"Haha, kau masih hidup? Baguslah, aku lebih suka menyantap daging segar daripada yang sudah mati! Akan kumakan kau hidup-hidup, HAHAH," demon itu berlari ke arah Alucard sambil tertawa histeris. Aku harus membantu Alucard, tapi luka di bahuku sakit sekali.

Aku melihat mata Alucard berkilat merah lagi. Dengan cepat dia menghunuskan pedangnya dan menebas demon itu beberapa kali.

Apa? Aku bisa melihat luka-luka di tubuh Alucard perlahan sembuh. Dia seperti baru lagi. Bagaimana bisa?

Demon itu terkejutmelihat Alucard tiba-tiba menjadi sangat kuat. Demon itu berusaha mencakar Alucard, tetapi cakarannya dihalang dengan pedang Alu.

Dalam sekali tebasan yang cepat, Alucard memenggal kepala terakhir demon itu.

"Huff, makanya jangan besar kepala, dasar iblis bodoh," ucap Alucard sambil menendang kepala demon yang baru saja ditebasnya.

Alucard berjalan ke arahku dan tersenyum arogan, "Siapa yang menyelamatkan siapa sekarang, hm?"

"Hei, kalau dihitung, ini kedua kalinya aku menyelamatkanmu, oke?" sahutku kesal, ahh, dia menyebalkan!

"Mungkin iya… hei, kau masih bisa berjalan kan?" tanya Alucard lirih. Aku bisa mendengar nada khawatir di suaranya.

"Tentu, kurasa aku masih bisa. Aku pernah punya luja yang lebih parah dari ini, kau tau?" sahutku. Aku serius, mungkin luka di bahuku lumayan dalam, tapi ini masih belum seberapa dengan luka yang kudapat saat membantu peperangan di Timur. Lagipula, luka di bahuku ini tidak sesakit tadi.

"Apa kau bisa menggendongku juga?" tanya Alucard lagi.

Apa? Menggendong?

"Memangnya kau ke-" belum selesai aku berbicara, dia ambruk ke arahku. Dengan cekatan aku menangkap tubuhnya.

Panas! Tubuhnya panas sekali! Jauh lebih panas daripada suhu tubuhnya kemarin sore! Wajanya memerah dan nafasnya terengah-engah.

Aku harus membawanya ke healer! Aku ingat desa di dekat hutan ini memiliki healer yang cukup berbakat. Aku juga perlu menyembuhkan luka-lukaku.

Aku pun menaruh tanganku di bawah lutut dan punggungnya. Menggendong seperti pengantin. Cara menggendong ini mungkin sedikit riskan karena luka di bahuku, tetapi ini lebih efektif.

Aku berlari ke luar hutan menuju desa itu.

Sesampainya di desa, aku segara bertanya dengan penduduk di sana mengenai alamat healer itu. Para penduduk panik saat melihat darah yang melumuri tubuh kami dan dengan segera menuntun kami menuju healer.

Kami pun mencapai rumah healer itu dengan cepat. Healer itu bernama Rafaela. Melihat luka parah di tubuhku, dia segara merapalkan mantra dan dalam sekejap luka di tubuhku sembuh.

Rafaela healer yang hebat. Kenapa dia hanya tinggal di desa terpencil seperti ini?

"Hei, kau tidak menyembuhkannya?" tanyaku sambil menunjuk Alucard.

"Ini bukan sesuatu yang bisa disembuhkan, ok?" jawabnya ketus. Kenapa dia menjawabku dengan nada seperti itu?

"Arhh, aku sudah bilang kepadanya berkali-kali kalau skill itu tidak boleh digunakan sering-sering. Kenapa dia begitu gegabah?!" ujar Rafaela marah.

"Eh? Kau mengenalnya?" tanyaku kaget.

"Tentu saja, satu desa ini mengenalnya," jawab Rafaela. Dia tetap menjawabku dengan nada yang sama. Apa dia marah padaku? Tapi kenapa?

"Apa? Tapi saat aku bertanya ke penduduk desa seminggu yang lalu, mereka bilang tidak pernah mendengar nama Alucard," kataku bingung.

"Tentu saja mereka akan menjawab begitu," sahut Rafaela.

"Kenapa?" tanyaku.

"Karena kau akan membawanya pergi. Sudah banyak yang datang kemari untuk memintanya menjadi hero. Penduduk desa tidak mau Alucard pergi," jawab Rafaela.

"Kenapa mereka tidak mau?" tanyaku lagi.

"Alucard itu pahlawan di desa ini, kau tau? Semenjak hutan di dekat desa ini dijadikan tempat tinggal oleh para iblis, banyak penduduk yang dibunuh oleh para iblis hanya untuk dijadikan santapan. Penduduk di desa ini ketakutan tapi mereka tidak punya tempat tinggal lain. Desa ini satu-satunya rumah bagi mereka," ucap Rafaela sambil menaruh handuk basah di dahi Alucard.

Aku terdiam. Menunggu Rafaela melanjutkan ceritanya.

"Satu kali, para demon melakukan serangan ke desa ini. Banyak penduduk yang tewas. Para iblis menguasai desa ini dan menjadikan penduduk yang masih tersisa sebagai budak mereka. Kami berusaha menghubungi kalian, pasukan yang dipimpin oleh para elf untuk datang dan membantu kami, tapi kalian tidak pernah datang!" Rafaela terlihat marah.

"Kami mulai putus asa… tetapi setelah seminggu kami menjadi budak bagi para iblis, Alucard datang dan menyelamatkan kami. Dia melawan para iblis itu seorang diri. Aku masih ingat sekali hari itu," Rafaela mengganti kain di dahi Alucard dengan yang baru.

"Tidak peduli berapa banyak luka di tubuhnya, dia tetap berusaha melindungi kami. Aku ingat, ada satu demon yang menyerang seorang gadis kecil. Hanya beberapa centi lagi, cakar demon itu akan merobek tubuh gadis itu dan membunuhnya. Tetapi, Alucard melindungi gadis itu dengan tubuhnya," Rafaela bercerita dengan gestur tangannya.

"Dia terluka sangat parah, tapi dia tetap melawan semua demon itu. Melihat perjuangannya, kami pun bangkit dari keputusasaan kami dan ikut melawan para demon. Hingga akhirnya, kami berhasil mengusir mereka, " lanjut Rafaela.

"Pertarungan itu hanya berlangsung satu hari kau tau? Tapi, akibat dari pertarungan itu membuat Alucard tidak sadarkah diri selama satu minggu. Perlu tiga bulan baginya untuk sehat kembali," kata Rafaela.

"Selama tiga bulan itu, dia sangat kesakitan. Aku tidak mengerti kenapa. Tidak ada luka di tubuhnya, tetapi demamnya sangat tinggi. Lebih tinggi daripada demamnya yang sekarang. Dia bilang ini efek samping jika dia menggunakan kekuatannya berlebihan."

"Dia tau akibat dari menggunakan kekuatan secara berlebihan, tetapi dia tetap saja datang seorang diri untuk menyelamatkan kami. Dia pahlawan kami. Bahkan, setelah sembuh dia selalu pergi ke hutan itu untuk memusnahkan para iblis agar tidak menyerang kami." Lanjut Rafaela. Dia menggenggam tangan Alucard.

Aku tercengang. Aku tidak tau alasan Alucard tinggal di hutan adalah untuk melindungi desa ini. Dia jauh lebih hebat dari perkiraanku, tetapi aku tetap ingin dia menjadi hero.

"Kira-kira kapan dia akan bangun?" tanyaku.

"Ntahlah, tergantung. Berapa kali warna matanya berubah?" tanya Rafaela.

"Ehm, tiga… tiga kali dalam satu hari," jawabku.

"Haa,, dia benar-benar sembrono. Kurasa dia akan bangun dua-tiga hari lagi," jawab Rafaela.

"Oh… begitu,"

"Lebih baik kau instirahat. Walaupun aku sudah menyembuhkanmu kau pasti kelelahan kan? Gunakan saja kasur di kamar sebelah," nada bicara Rafaela melembut.

"Terima kasih," aku pun menuruti perkataan sang healer dan pergi istirahat.


Di kerajaan Alice, ratu dari para iblis penghisap darah.

"Ratu, saya mendapat informasi bahwa 2 demon level A terbunuh dalam dua hari ini di hutan Dern, " ucap goblin kecil berwarna hijau. Dern adalah nama hutan yang ditinggali Alucard.

"Haa, ini sudah ke berapa kalinya. Setiap hari selalu saja ada demon ku yang dibunuh di hutan itu. Siapa pelakunya?" tanya Alice sambil mengangkat gelas wine yang berisi darah segar dan menyesapnya.

"Sama seperti biasa, Ratu. Sang Pemburu Iblis, Alucard. Tetapi, kali ini dia dibantu satu hero yang bernama Zilong," jawab goblin kecil itu.

"Haa, aku tidak mengerti dengan Alucard ini. Bukannya dia setengah iblis? Kenapa dia malah melawan kaumnya sendiri. Aneh," Alice menjilat darah di bibirnya.

"Saya juga tidak mengerti, Ratu. Apa yang harus kita lakukan?" tanya goblin itu lagi.

"Aah~ aku sangat ingin Alucard bergabung menjadi budakku, tetapi dia terlalu sulit dikontrol. Mungkin ini sudah saatnya untuk menyingkirkannya, ya kan?" Alice berpikir sejenak, "Hmm, kirim 10 demon level A ke desa itu. Harusnya sudah cukup kan untuk mengalahkan mereka?"

"Baik, Ratu!" sahut goblin sambil mengangkat tangannya dan memberi hormat. Goblin itu segera pergi untuk melakukan perintah ratunya.

"Haa~ benar-benar deh. Jumlah demon level A ku kan tidak begitu banyak. Sayang sekali, aku benar-benar mau punya tangan kanan yang tampan bukan seekor goblin, sayang sekali~" Alice meminum darah nya sampai habis dalam satu tegak.


TO BE CONTINUED


:'D makasih ya guys reviewnya!

Tentang penjelasan skill Alucard bakal saya jelasin di chapter selanjutnya,, jadi…

STAY TUNED YAH

JANGAN LUPA REVIEW, FOLLOW, N FAVORIT

THANKS GUYS

Btw, baca fanfic saya yang satu lagi dong, wkwk 😁 😂

Susah bikin 2 fanfic yang bertolak belakang gaya bahasanya, tapi menantang sih…

Sampai jumpa di chapter 3 yaa