.
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya adakah aku di hatimu?*
(Simfoni Hitam - Sherina)
.
.
.
Illogically Loving
.
Disclaimer :
Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei ever after
Starring:Uzumaki Karin, Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
also Hyuuga Hinata, Namikaze Naruto
.
Warning: AU, Typos, SasuKarin Slight SasuSaku
.
Saya menerima kritikan sehat :D
.
Chapter 1.
.
—Hinata PoV—
Aku tersenyum menatap Karin yang sedang meremas – remas buku – buku jarinya di depan cermin. Aku ingin membiarkannya sedikit lebih lama berkubang dengan kegugupannya. Setengah sengaja sebenarnya. Maksudku, kapan lagi bisa melihat Karin yang angkuh, perfeksionis dan punya harga diri tinggi terlihat segugup ini. Hihi…. Aih, tapi lama – lama kasian juga melihatnya. Aku harus menenangkannya.
"Karin, kalau kau terus meremas – remas jemarimu, sarung tangannya bisa rusak. Lihat bahkan gaunmu sekarang jadi kusut,"
"APA? Mana?! Mana?!" ujarnya panik sambil berputar – putar mengecek gaunnya. Membuatku lagi – lagi tersenyum geli.
"Aku bercanda, Karin," Dengan sabar ku raih tangannya untuk ku genggam erat. "Kau sempurna. Pengantin paling cantik yang pernah kutemui. Sasuke pasti akan terpaksa meninggalkan wajah stoic-nya dan terpaku di altar saat melihatmu berjalan ke arahnya nanti,"
"Benarkah?"
Red Ruby itu berbinar. Tak pernah ku lihat Karin sebahagia ini sebelumnya. Auranya begitu hangat dan cerah.
Oh? Sudahkah aku bercerita? Sejak kecil aku mempunyai kemampuan unik bisa membaca aura yang terpancar dari seseorang. Semacam sixth sense, kalian tahu? Aku bisa melihat dan merasakan lebih dalam perasaan seseorang dari aura yang terpancar di sekitar diri mereka.
Dan Aura Karin hari ini begitu hangat dan cerah. Berbeda dari biasanya yang begitu tajam dan menusuk. Hari ini aura Karin tampak bercahaya. Cahaya cerah dan lembut yang bahkan bisa membuat orang disekitarnya ikut tertular kebahagian.
Ah, aku lupa, aura Karin memang selalu seperti ini jika menyangkut Sasuke.
Aku dan Karin sebenarnya tidak terlalu dekat. Iie, mungkin bisa dibilang aku teman yang paling dekat dengan Karin dibandingkan yang lain. Karena memang tidak ada yang benar – benar dekat dengannya, aku rasa.
Dia selalu memberikan kesan seperti Ruby. Expensive, bekelas, dan keras. Angkuh tinggi tak terjangkau. Meskipun aku tahu dia orang yang baik sebenarnya. Dia tetap berjalan dengan dagu terangkat meski satu sekolah tidak menyukainya. Satu hal yang aku kagumi dari seorang Izuki Karin yang mungkin tak akan pernah bisa dilakukan oleh orang kikuk dan mudah gugup seperti aku. Walaupun sebenarnya bukan itu hal yang paling aku kagumi dari pribadi seorang Karin—yeah, kecuali sikap kejamnya dalam mem-bully orang tentu saja.
Cinta butanya yang nyaris tak logis yang hanya tertuju kepada satu orang saja. Selalu dari dulu hanya Uchiha Sasuke. Itulah hal yang paling membuatku kagum terhadapnya.
Sekali lagi kupandangi Karin yang masih sibuk mematut dirinya di depan cermin sambil tersenyum cerah. Ku biarkan pikiranku mengembara ke beberapa tahun lalu. Saat kami masih SMA….
—Hinata PoV end—
.
.
—Flashback—
Byur…. Splash!
"Cewek udik sepertimu ternyata punya nyali juga untuk mendekati Sasuke-sama kita, heh?!" ujar Karin tersenyum sadis. Tanpa perasaan dia mengguyur kohai di depannya ini dengan seember air kotor.
Sang Kohai hanya bisa menunduk dengan tubuh bergetar. Seragam sekolahnya sudah tak berbentuk. Warna birunya sudah menjadi kecoklatan dan berbau busuk bekas air bekas pel yang diguyur Karin tadi. Rambutnya kusut dan terpotong acak – acakan.
"Aarrrghh!" pekik sang kohai saat sebuah sebuah kaki menginjak telapak tangannya.
"Kau tidak pantas memberikan bentou murahan seperti itu pada Sasuke-sama, mengerti?!" ujar sang penginjak, Tayuya.
"A-a-aku…. Me-menge-ngerti, Se-senpai…. Hiks…." isak sang kohai dengan tubuh bergetar hebat.
"Baguslah kau mengerti. Tsk, sekarang pergi dari hadapan kami! Kau membuatku sakit mata!" bentak Tayuya.
Dengan tertatih dan hati remuk redam sang kohai itu berlalu menjauh. Harusnya dia tahu. Siapa saja yang mencoba mendekati Uchiha Sasuke harus berhadapan dengan Izuki Karin. Harus menerima segala siksa bully di gudang belakang sekolah adalah contoh kasus paling ringan. Tampaknya dia harus menyerah. Cintanya harus berakhir sebelum dimulai.
.
.
Bersenandung riang, Karin berjalan menyusuri koridor menuju gym klub basket. Ada handuk kecil dan minuman isotonic di tangannya siap untuk diberikan kepada sang pujaan hati. Namun sepertinya dia terlambat.
Cih, Karin mendecih pelan. Dia merutuki keterlambatannya gara – gara memberi pelajaran kepada salah satu kohai-nya yang kecentilan. Andai saja dia kesini lebih cepat.
Karin mematung melihat pemandangan di depannya Wajahnya datar tanpa ekspresi Meskipun tangannya meremas handuk kecil dan minuman isotonic terlampau kuat. Beberapa meter di depannya nampak Sasuke Uchiha sedang berbincang akrab dengan seorang gadis berhelaian sewarna bunga khas Jepang, Haruno Sakura.
Sasuke tampak khidmad menyimak cerita Sakura. Dia bahkan tersenyum menanggapi cerita – cerita itu.
Tersenyum! Orang sedingin Sasuke bisa tersenyum seperti itu kepada orang lain adalah hal yang sangat langka. Hal ini membuktikan bahwa orang di hadapan Sasuke saat ini adalah orang yang sangat penting baginya.
Tanpa membuat suara, Karin menaruh handuk dan minuman isotonic yang semula digenggamnya ke lantai dan berlalu pergi. Masih tetap tanpa disadari oleh kedua orang di depannya.
.
.
"Aku tersanjung. Sudah lama kau tidak meminta bertemu seperti ini lagi—" ujar Sakura melirik sekilas ke arah orang di sebelahnya,"—Karin,"
"Kheh, jangan besar kepala, Jalang! Aku juga sebenarnya sudah muak melihat wajahmu!"
Sakura menatap Karin dengan mata sendu.
Mereka berdua kini berada di lantai tiga sekolah yang sepi. Berdiri bersebelahan menatap halaman sekolah yang terhampar di bawah mereka. Murid – murid sudah sudah meninggalkan sekolah dari setengah jam yang lalu. Hanya ada beberapa gelintir siswa yang tinggal untuk kegiatan club mereka.
"Kau masih dengan peran Marry Sue yang baik hati untuk merayu Sasuke rupanya,"
"Aku tidak merayu, Sasuke-kun, Karin. Kami saling menyukai. Apakah itu salah?"
Karin tertawa nyaring mendengarnya. Lalu secepat kilat—
Sret!
—dia menjambak surai merah muda Sakura. Membuat Sakura terpekik kaget.
"Sasuke hanya milikku, Sakura. Hanya milikku," desis Karin tepat di depan telinga Sakura.
Sakura berusaha menahan erangan kesakitannya. Alih – alih gentar, dia menatap Karin nyalang.
"Sasuke bukan benda, Karin. Dia memiliki hati. Dan tak ada seseorang yang bisa memaksakan mata hatinya ingin menatap kemana. Tidak aku. Tidak juga dirimu."
Sakura dan Karin saling menatap lama. Seolah ada lebih makna yang tercurah melalui tatapan mata satu sama lain daripada sekedar bait – bait kata.
"Sakura!" panggil seseorang dari kejauhan. Ada nada kepanikan yang tersirat dalam suaranya.
Hyuuga Hinata nyaris berlari untuk mencapai tempat ini. Wajar saja. Pose Karin dan Sakura saat ini memang sangat akrab. Terlalu akrab untuk dibiarkan saja.
"Cih," Karin mendecih dan melepaskan jeratan tangannya pada helaian Sakura. Dia memilih beranjak pergi saat Hinata sampai di samping Sakura.
Aku tahu… Aku juga mengetahuinya, Sakura. Hanya saja….
"Kau akan benar – benar menyesal jika tak mengindahkan peringatanku, Haruno. Jauhi Sasuke." Ujar Karin tanpa menoleh lagi ke belakang.
.
.
—Hinata PoV—
Brak!
Aku dan Ino terlonjak ketika suara gebrakan meja menyambut kami yang masih berada di ambang pintu kelas usai pergi ke kantin. Kami saling bertukar pandang sesaat sebelum bergegas memasuki kelas.
"Heh, Haruno, dompetku tidak ada di tas. Kau lagi kan yang telah mengambilnya?!"
"Aku tidak mengambilnya,"
Kami segera mengampiri pusat sumber keributan itu dengan raut khawatir. Seperti kami duga. Sakura sedang dipojokkan oleh tiga teman sekelas kami. Kelas kami sebenarnya tidak sepi. Masih ada beberapa orang yang tinggal saat istirahat di kelas. Akan tetapi, sepertinya beberapa orang itu tidak berminat membantu meredakan perselisihan di dalam kelas mereka dan malah asyik menonton.
"Hey, apa – apaan ini? Beraninya main keroyokan!" Ino segera maju membela Sakura.
"Cih, antek – antekmu sudah datang rupanya." sinis Riko, salah satu dari tiga orang yang memojokan Sakura.
"Heh, kalau ngomong gak usah nyolot deh! Sebenarnya apa masalahmu!" desis Ino, mendorong bahu kanan Riko saking kesalnya.
"Tanyakan sama temenmu yang tidak tahu diri itu. Apakah dia sebegitu hopeless-nya hingga dia mencuri dompet teman – temannya. Dua hari berturut – turut lagi. Haha, dasar cewek miskin!"
"Kau—" umpatan marah Ino seketika terhenti. Aku dan Sakura menahan lengan Ino untuk tidak menerjang Riko. Sepertinya aku dan Sakura sepemikiran. Tidak ingin membuat masalah ini semakin runyam.
"Aku akan mengatakan untuk terakhir kalinya, Riko. Aku tidak pernah mengambil dompetmu atau dompet siapa pun," ucap Sakura tegas. Meski dari sudut mataku bisa kulihat tangannya yang mencengkeram lengan Ino sedikit bergetar.
"Kau hanya beruntung memiliki Uchiha dibelakangmu, Haruno. Kita lihat saja. sampai kapan keberuntunganmu itu mampu bertahan. Cih! Kita pergi saja teman – teman. Udara disini lama – lama membuatku muak," kata Riko. Tak lupa sengaja menabrak bahu kami bertiga saat berlalu.
"Ya,ya. Pergi saja sana. Kami juga muak melihatmu disini, bitch!" teriak Ino kesal, membuatku melotot kepadanya.
Astaga! Apa yang dipikirkannya? Mengumpat keras saat di sekolah! Bagaimana kalau ada guru lewat?!
"Aishh! Kenapa kalian menghentikanku tadi! Aku ingin mencakar wajahnya yang menyebalkan!"
"Sudahlah, Ino. Aku tidak ingin perhatian lebih mengarah kepadaku. Sudah cukup," ujar Sakura dengan ketegaran yang dipaksakan. Dan benar saja. Dia langsung menangis sesenggukan di bahuku saat aku merengkuhnya dalam pelukan.
Aku mengerti betapa sedihnya Sakura. Pem-bully-an terhadapnya akhir – akhir ini semakin gencar. Jika sebelumnya dia sudah sering menjadi sasaran empuk para fansgirl Sasuke karena menyandang sebagai satu – satunya gadis terdekat Sasuke. Kali ini serangan itu betambah kejam dan tak manusiawi.
Contohnya saja kemarin dia dipermalukan di depan umum karena dituduh mencuri dompet salah satu teman kami. Entah bagaimana dompet itu berada di tas Sakura saat pemeriksaan semakin memberatkan tuduhan terhadap Sakura. Untung saja Sasuke segera membungkam kasus itu agar tidak semakin mnyebar dan memaksanya menjadi kasus kesalahpahaman saja. Itu mudah bagi Sasuke mengingat dia adalah Uchiha, donator tertinggi di Yayasan Konoha Gakuen.
Namun percuma. Semua orang terlanjur menuduh dan memojokkan Sakura. Semua orang kecuali kami, sahabat – sahabatnya. Dia memang masuk sekolah ini melalui jalur beasiswa. Namun dia tidak mungin melakukan hal semacam itu.
Dari balik bahu bergetar Sakura, mataku menangkap sosok Karin yang sedang bersandar di ambang pintu. Memperhatikan kami dari kejahuan dengan ekspresi yang tak bisa kutebak.
"Aku yakin dia pasti dalang dari semua ini. Izuki Karin," ujar Ino pelan dengan mata memicing menatap Karin.
Sebelah alis Karin terangkat. Dia tersenyum sinis dan merendahkan sebelum berlalu pergi dengan angkuh.
"Entahlah." Bisikku pelan. Masih setia menatap punggung Karin yang menjauh.
.
.
Kami kira badai sudah berlalu. Kami salah. Fitnah – fitnah itu adalah awal bagi penderitaan Sakura. Aku tak mengerti bagaimana bisa mereka sampai sejahat itu.
Sakura tergugu di pelukanku dengan tubuh bergetar. Dia masih sangat shock dengan apa yang baru saja menimpanya. Hampir saja dia menjadi korban pemerkosaan di salah satu gang sempit yang memang harus dilewatinya saat pulang sekolah. Untung saja saat itu ada dua orang baik hati yang lewat dan menolong Sakura.
Aku dan Ino segera bergegas ke apartemen Sakura begitu mendapat panggilan Sakura—yang dilakukan Sakura dengan suara terisak. Sasuke yang datang beberapa menit setelah kami hanya berdiri kaku dengan rangang mengeras. Dia mendengarkan cerita Sakura dengan tangan terkepal dan mata berkilat marah. Dia tidak berucap sedikit patah kata pun melainkan langsung beranjak pergi.
Firasat buruk. Aura Sasuke benar – benar gelap dan dingin. Dia benar – benar marah. Meskipun aku bisa mengerti mengapa dia bisa semarah itu.
Pasalnya, berdasarkan cerita Sakura, preman – preman yang hampir memerkosa Sakura itu adalah suruhan dari seseorang.
Dan kami sepertinya tahu siapa seseorang yang bisa begitu tega melakukan hal ini kepada Sakura—
—atau kami kira kami tahu.
Setelah Sakura cukup tenang, kami bertiga setuju untuk menyusul Sasuke. Kami mengenalnya. Dan sungguh, Sasuke yang emosi bukan pertanda baik. Tak lupa aku mengirim pesan kepada Naruto-kun untuk menyusul kami. Tambahan personil untuk kemungkinan terburuk.
Kami yakin Sasuke sekarang ada disana untuk bertemu dengan dia.
.
.
SPLASH!
Aku terpaku di ambang pintu masuk caffe langganan kami ketika sebuah pemandangan mengejutkan mengampiri penglihatan kami.
Dengan dingin Sasuke mengguyurkan minumannya tepat ke kepala , Ino, Sakura, dan Naruto-kun segera menghampiri mereka.
"Ku harap air itu bisa mendinginkan kepalamu, Karin. Kau sangat menjijikkan,"
"Sa-sasuke," lirih Sakura tercekat.
Dengan tenang Karin mengambil sapu tangan dari dalam tasnya untuk mengelap wajah dan rambutnya yang basah. Masih dengan senyum angkuh yang terpasang di bibirnya.
"Kalian juga tak akan percaya jika aku katakan bukan aku dalang dari preman – preman dan fitnah – fitnah itu di sekolah. Aku lebih suka bekerja sendiri daripada menyuruh orang lain yang berkesempatan besar gagal. Yah, seperti preman – preman itu. Sayang sekali," jawab Karin.
Brak!
"Kau—Apakah kau tak punya nurani. Bukankah kau juga perempuan? Bisa – bisanya kau—Setidaknya mengakulah bersalah dan menyesal," ujar Ino emosi, menggebrak meja caffe.
"Be-benar, Karin. Sebagai sahabat baikmu aku tidak bisa melihatmu berkubang terus dalam dosa," ujar sebuah suara.
Aku baru sadar ternyata ada orang lain selain Sasuke dan Karin di meja ini sebelum kami datang. Tayuya. Yang kami tahu dia adalah sahabat Karin. Mereka selalu bersama – sama di sekolah. Dia duduk di sebelah Sasuke dan bersimbah air mata.
"Aku mengerti kebencianmu kepada Sakura, Karin. Aku mengerti. Cinta kadang memang membuat kita tak bisa berfikir logis. Aku tahu kau selalu ingin membuat Sakura dikeluarkan dari sekolah dan menderita karena merebut Sasuke-mu. Tapi ini salah Karin. Bukan seperti ini caraya," isak Tayuya.
Karin hanya menatap Tayuya datar.
"Semua bukti mengarah padamu, Karin. Tayuya sudah menceritakan semuanya padaku," ujar Sasuke.
Karin masih saja diam. Matanya menancap lurus manik Tayuya. Sebelum akhirnya dia tertawa. Benar – benar tertawa. Meski bisa kudengar nada ironi dalam tawanya.
Tidak. Ini salah. Bukan Karin. Aura Karin tidak menggambarkan perasaan marah atau takut atau apapun yang bisa menunjukan bahwa perbuatan jahatnya telah diketahui orang lain.
Memang aura Karin kali ini tampak kelam. Ada sedikit rasa marah. Namun lebih didominasi perasaan sakit dan—
—terkhianati.
"Well," Karin berdiri dan menatap lurus mata kami satu persatu. "Kalian boleh menganggap aku pelakunya jika kalian mau. Mungkin memang aku yang melakukannya," ujar Karin tersenyum miring sebelum berlalu pergi begitu saja.
Aku pasti sudah berlari untuk menyusul Karin jika Naruto tidak menahan lenganku.
"Kau mau kemana Hinata?" tanya Naruto.
"Tapi—"
"Sudahlah Hinata. Buat apa kau menyusul orang seperti dia! Dia benar – benar iblis!" sungut Ino.
Aku terdiam. Tak jadi menyusul Karin. Namun mataku masih setia menatap tempat Karin menghilang di balik pintu caffe.
Kalau aku tidak salah lihat, bibir Karin bergetar saat ia berlalu tadi. Dan setetes air mata lolos menuruni pipinya.
Karin….
—Hinata PoV end—
.
—Flashback end—
.
.
Alunan denting piano A Thousand Years mengiringi langkah Karin menuju altar. Gaun pernikahan merah muda percampuran antara gaun ala barat dan kimono khas Jepang begitu pas membalut tubuh berlekuk Karin. Lukisan kupu - kupu merah di gaun-kimono itu begitu berkelas menawan. Serasi dengan surai merah Karin yang tersanggul apik dengan sedikit juntaian curly membingkai wajah cantik Karin yang tanpa kaca mata.
Karin berjalan dengan gugup setengah mati. Berharap – harap cemas dia tidak mempermalukan dirinya sendiri dengan tersandung ekor gaun semi kimononya yang menjuntai ke belakang. Baru sekarang Karin menyesalkan mata minusnya. Pandangannya sedikit kabur tanpa kacamata kesayangannya. Sebuah rematan di jemari kanannya membuatnya sedikit menoleh ke arah best man pengiringnya yang menggantikan tugas ayahnya untuk mengantarnya ke altar.
Sahabat merahnya itu tersenyum tipis menenangkan. Karin menghela nafas panjang mencoba untuk tenang. Namun tak bertahan lama karena sadar - sadar dia sudah berdiri di hadapan pengantin pria. Jantungnya kini malah bertalu – talu semakin keras. Bahkan dia tak bisa lagi mendengar alunan musik iringan pernikahan karena jantungnya bertalu menggila.
Sasuke mengulum senyum miring khasnya sebelum dengan lembut meraih tangan Karin. Karin terkesiap. Tanpa sadar menahan nafas.
"Bernafaslah," bisik Sasuke lembut di depan telinganya. Mengirim gelenyar aneh di perutnya saat nafas Sasuke mengenai pipinya.
Karin segera menunduk malu sambil merutuk dalam hati. Kebiasaan lamanya bila berada terlalu dekat dengan bungsu Uchiha satu itu belum juga hilang. Sasuke terkekeh geli. Menikmati rona merah yang menyebar di pipi dan telinga pengantin wanitanya.
Dari sudut matanya Karin mencuri pandang ke arah Sasuke. Sasuke sedang tersenyum. Wajahnya kini benar – benar terlihat bahagia. Kenyataan ini mau tak mau membuatnya tersenyum bahagia. Apakah impiannya kini benar – benar tercapai?
Apakah kini hatimu untukku—
—Sasuke?
.
Mencintaimu seumur hidupku
Selamanya setia menanti
Walau di hati saja
Seluruh hidupku
Selamanya kau tetap milikku…*
(Mencintaimu – KD)
.
bersambung...
.
A/N:
Saya mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah memberi saya semangat untuk melanjutkan fic saya yang masih banyak kekurangan ini.
Saya menerima kritik dan saran yang sehat yang dilayangkan dengan cara baik - baik :D demi kemajuan penulisan saya
Oleh karena itu beritahu saya jika kalian menemukan typo, hal - hal yang ganjal dan tak logis atau apapun itu, hehe...
Apakah chap ini agak monoton?
Sebenarnya tujuan chap 1 itu untuk menggambarkan hubungan awal mereka bertiga. Show time-nya memang saat mereka dewasa. yang sedikit kilasannya hadir di prolog.
Sebenarnya pingin langsung cap cus kesitu, tapi saya takut alurnya tidak alami dan maksa. Nah, mencoba pelan - pelan gini tapi malah terlalu bertele tele ya? -_-
Saya juga bingung~ hahhaa...
sutrahlah... maka dari itu saya butuh saran kalian kan? hehe
terimakasih yg kemarin sudah baca, follow, favorite, reviews, dan mendamprat saya krn mentag nama Sakura dan menuduh saya macam2 XD
saya berusaha adil untuk mereka bertiga kok. Tokoh utama ini memang mereka bertiga. Saya akan berusaha membagi perannya masing - masing 33,33 % namun bila sekiranya saya tidak bisa membagi porsinya dgn adil saya akan segera menghilangkan tag yang bersangkutan, hehe peace ^^V
meski begitu saya ttp saya kasih warning ttg pair biar kalian tidak merasa tertipu dan bisa pergi jika tidak suka :D
Oh ya, fic ini ber-rated M krn alasan tertentu. umpatan kasar, dan konflik adalah salah duanya. Doakan saja saya tidak khilaf dan membuat yang asem asem kedepannya. meski well, apapun bisa terjadi #ehhh hehe #plak
Last, Hope U enjoyed :D
cc. Nira Namikaze, zielavienaz96, Mell Hinaga Kuran, Laras4TI, sapriantoo, G, dan para Guest(s) yang baik hati :D
.
.
.
hikarishe
25.2.2016
