Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Pairing : Sakura Haruno & Sai

Rating : M, untuk sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.

Warning : Dalam cerita ini Sasuke Uchiha meninggal setelah bertarung dengan Naruto.


.

.

SAI

.

.

Berlari melewati atap demi atap rumah warga dengan kecepatan tinggi, pemuda itu bergerak tenang. Ada semburat merah di pipi pucatnya, bukan karena marah, atau malu, melainkan rasa lelah yang cukup tinggi, yang mampu membuatnya sedikit terkena demam.

Dia melompat, kemudian turun dari atap, dan mendarat tenang tepat di depan sebuah rumah sederhana yang sudah lima belas tahun ini dia tempati.

"Tatsuya-kun, Konnichiwa.." Sapa wanita yang baru saja keluar dari rumahnya.

"Konnichiwa, Hinata-basan."

"Baru pulang misi? Aku sudah membersihkan kamarmu. Kau bisa langsung beristirahat, Tatsuya-kun." Ujarnya penuh kelembutan.

Sejak kematian Sakura-ibunya lima tahun lalu, Hinata sudah membantu Naruto menjaga ketiga anaknya. Bahkan Hinata sudah menganggap anak-anak Naruto seperti anaknya sendiri.

"Terimakasih." Ujarnya datar. Yang di lanjutkan dengan anggukan wanita itu.

"Ano, Hinata-basan."

Hinata berhenti. Berbalik, dia memandang Tatsuya yang terlihat gugup. Pemuda itu menggaruk rambut sebahunya asal.

"Iya Tatsuya-kun." Senyum Hinata, memberi kesempatan Tatsuya berbicara.

"Lebih baik Hinata-basan jangan kesini lagi. Kami sudah terlalu besar untuk obasan jaga. Akan lebih baik, jika Hinata-basan memikirkan diri basan sendiri." Ujar Tatsuya tersenyum. Kemudian membungkuk, dan berjalan menuju rumahnya.

Meninggalkan Hinata yang masih tertegun dengan ucapan dari pemuda itu barusan. "Apa dia tak menyukai kehadiranku?" ujarnya sedih.

Uzumaki Tatsuya, pemuda lima belas tahun, yang dikenal sebagai putra sulung hokage ketujuh itu membuka pintu rumahnya. Mengucapkan salam, kemudian berjalan menyusuri tangga rumahnya.

Tap tap tap bunyi langkahnya tenang. Melewati tangga, pemuda itu membuka pintu kamarnya yang berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar adik perempuannya, Sarada. Pemuda itu berjalan menuju tempat tidurnya, merebahkan diri, lalu menutup matanya, tanpa menganti pakaian terlebih dahulu. Mengabaikan tubuhnya yang perlu siraman air bersih, dan juga asupan gizi. Pemuda itu terlelap.

Sudah berapa hari ini pemuda itu tidak beristirahat. Misi yang di jalankan di Suna, mampu menguras tenaganya. Apalagi patner misi-nya kali ini mendapatkan luka yang cukup serius, yang menjadikan dirinya berkerja dua kali lipat dari biasanya. Tak masalah sebenarnya bagi putra sulung Hokage ini. Dengan keahlian yang tak diragukan lagi, Tatsuya mampu mengalahkan musuh sendiri.

Tidurnya gelisah, ada hal yang menggangunya. Masalah yang beberapa bulan belakangan ini sedikit membebaninya. Tentang kebenaran yang baru saja dia ketahui tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Mengejapkan mata, pemuda itu bergegas pergi ke kamar mandi. Membuka bajunya, yang memperlihatkan ototnya yang mempesona. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin, kembali lagi pikirannya teralihkan. Buku itu, jurnal peninggalan ibunya, yang terdiam apik di bawah mejanya, masih belum terbaca semua. Salah satu sumber penyebab kekalutan hatinya.

Masih di ingatnya awal pertama dia menemukan buku itu. Tepatnya saat dia sedang berada di gudang, meletakan barang-barang yang sudah tidak terpakai, tanpa sengaja dia menemukan buku itu, yang tergeletak di atas lantai. Awalnya dia mengabaikan buku itu, namun ketika dia sedikit membaca di bagian awal, Tatsuya merasa tertarik.

Dia ingin mengenal ibunya. Mengenal sosok merah muda yang selalu hangat pada semua orang. Dia ingin mengenal ibunya, dan juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Mengenal masa lalu-nya dan juga mengenal semua yang pernah dilalui ibunya, hingga wanita itu meninggal.

Keputusan itu ternyata berakhir bencana. Ketika pemuda itu mulai mengenal sosok sang ibu. Tentang masa lalunya yang jatuh cinta setengah mati dengan pemuda klan Uchiha, kedekatannya dengan Kage dari Suna, sampai akhirnya menikah dengan ayahnya Naruto. Dan kenyataan bahwa dia bukan anak dari sang Hokage.

Menyakitkan.

Tetsuya menyeka rambut basahnya. Menatap cermin lekat-lekat, Tetsuya memandang pantulan bayangannya di cermin. Rambut merah mudanya membingkai wajah pucatnya yang tampan, obsidiannya menyipit tak suka, saat dilihat penampilannya berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya.

Tch, apa ini warisan darinya!

Tatsuya tak buta. Perbedaan itu jelas terlihat. Dari segi fisik, Tatsuya tak punya rambut pirang seperti adik-adiknya, tak punya mata biru maupun semangat yang di wariskan oleh ayahnya. Berbeda jauh dengan Sarada yang memiliki rambut, dan mata seperti ayahnya. Sasuke mendapatkan yang lebih istimewa, manik emerald ia dapatkan dari sang ibu. Sementara dia, rambut merah muda, dengan kulit sepucat bulan purnama, dan yang lebih menyedihkan dia mempunyai manik segelap malam, yang mustahil ayah, dan ibunya wariskan.

Membuang muka Tetsuya beranjak dari sana. Mengambil buku yang di simpannya. Pemuda itu menatap kosong buku itu. Takut, penasaran, saat kembali dia membuka lembaran demi lembaran kertas itu. Mulai membaca satu demi satu fakta kehidupan pribadi sang ibu.


Satu tahun setelah perang dunia shinobi berakhir.

Sudah lebih dari satu tahun peristiwa mengerikan itu terjadi. Peristiwa yang menjadi mimpi buruk ku selama ini, yang mampu membuatku terjaga hampir setiap malam. Memberi rasa bersalah, kesedihan, dan kehilangan yang sudah mencapai titik terdalam dihati.

Apa yang aku harapkan sekarang?

Hidup tenang, dan menutup mata, seperti orang-orang yang ada di sekelilingku?

Ku rasa tidak! Aku bukan mereka, dan aku bukan seperti mereka yang membutakan diri karena kehilangan dirinya.

Ingin rasanya menjerit, dan lenyap dari sini. Apalagi ketika mereka tak pernah mempertanyakan kematiannya di tanganku. Mereka tak menuntut, yang lebih menyakitkan lagi, mereka tak pernah menyinggung masalah ini di depanku. Seolah-olah dia yang tak mampu ku sebutkan namanya, tak pernah hidup dan di besarkan di tempat ini.

"Dia hanya penghianat."

"Pecundang sepertinya, bukankah layak untuk mati."

"Pahlawan perang? Dia hanya sampah yang tak berguna."

"Bagus jika dia mati. Paling tidak Konoha bersih dari darah penghianat sepertinya."

"Tch, Uchiha itu, benar-benar tak pantas hidup."

"Bagus dia tak mengotori tanah Konoha tercinta kita."

Lalu apa yang harus aku lakukan saat mendengar berbagai macam cacian yang di tujukan untuknya?

Seperti seorang kesetanan, ku percepat jalanku. Air mata ini tak bisa terbendung lagi.

Oh Kami Sama. Perlukah aku menjerit seperti orang gila, dan menjelaskan pada mereka. DIA bukan seorang penghianat, yang seperti tuduhan mereka. Perlukan aku menghajar mereka, agar mereka tahu, jika tak ada DIA, mungkin mereka sudah berada di neraka.


S.A.I


Musim semi.

Membuka mata kembali, ku alihkan pandangan mataku. Musim semi ini, lebih menyakitkan dari pada musim semi sebelumnya. Tak ada dia disampingku. Dulu aku masih bisa berharap bisa bersama kembali dengannya setelah perang berakhir, untuk mencicipi hari-hari indah disini. Membangun keluarga, dan hidup bahagia bersama anak, dan cucu kami.

Namun itu hanya sekedar impian.

Aku tersenyum kecut. Membayangkan kembali kenangan yang tak pernah mati, yang selalu berputar di otakku. Mengingatkan tentang dirinya. Tentang seseorang yang selalu aku puja, cinta pertamaku, yang mati di depan mataku.

Bergegas mengepak barang-barang, aku mulai turun dan berjalan menuju gedung hokage.

"Yo, Sakura-chan. Siap menjalankan misi?" Kakashi sensei atau lebih dikenal sebagai Hokage ke-enam menyapaku. Dia tersenyum, atau lebih terlihat menyeringai di balik masker hitamnya.

Apa yang direncanakan olehnya kali ini. Aku menyipitkan mata curiga.

"Selamat pagi, Hokage-sama. Aku siap menerima misi ini." jawabku sambil menarik sudut bibirku terpaksa.

Menyodorkan surat tugas, beserta dokumen lain, dia menahan tanganku. Tatapnya tajam ke arahku. "Ku harap kau akan baik-baik saja, Sakura-chan. Aku katakan ini bukan sebagai Hokage ataupun gurumu. Melainkan seorang ayah ke pada putrinya. Kau harus hidup bahagia, lupakan masa lalu yang menyakitkan hatimu."

Mendengar itu, ku lepas tanganya perlahan. Aku hanya bisa tersenyum, dan membiarkan hatiku menangis oleh ucapan Kakashi-sensei. "Aku tahu."

Menatap wajahku lekat, obsidiannya terlihat terluka melihat reaksiku yang terlihat hampa.

Maafkan aku sensei, aku tak tahu harus melakukan apalagi. Yang aku bisa, secepat mungkin pergi dari desa ini, dan menjalani hidup yang baru. Melupakan semua, yang mampu mengingatkan aku tentangnya.

"Kau akan bahagia Sakura-chan." Ucapnya yakin. Memperlihatkan senyum penuh kebapakan, yang mungkin akan aku rindukan setahun kedepan.

"Yo.."

Suara itu mengalihkan pandanganku dari Kakashi-sensei. Menoleh, ku lihat seseorang yang tak asing menyapa kami.

Kulit pucatnya bersinar di terpa mentari pagi.

Indah.

Senyumnya penuh kepalsuan.

Memuakkan.

Dia mendekat, melambaikan tangannya, dia menjulurkan kepalanya kedepan mendekat ke arahku.

"Selamat pagi, Sakura-san. Lama tak bertemu. Kau semakin jelek saja."Ujarnya, memperlihatkan seringai yang memuakkan.

Mengepalkan tangan, ku layangkan pukulan ke arah wajahnya. Sial, pemuda itu sungguh tahu bagaimana cara menghancurkan mood orang lain.

Tanganku menghantam udara. Secepat kilat dia sudah berada di belakangku. Menahan tubuhku yang sedikit oleng.

"Kau tak berubah Sakura-san, kasar seperti biasa. Apakah kau tak merindukanku?" ujarnya setengah berbisik di telingaku. Yang mampu membuatku sedikit memerah. Memalingkan wajah, ku abaikan dia yang mulai berkicau tak jelas dengan Kakashi-sensei.

Menghiraukannya, aku menatap tajam Kakashi-sensei, meminta penjelasan. Mengangkat tangannya tanda menyerah. Pria berambut silver itu meringis.

"Maaf Sakura-chan. Ku rasa kau perlu teman dalam misi kali ini. Dan Sai adalah orang yang tepat." Ujarnya tak bersalah.

Memandang ke dua laki-laki di depanku penuh geram. Aku melengos pergi. Tak menghiraukan panggilan Kakashi-sensei yang penuh dengan penyesalan. Menyisahkan pemuda pucat itu berjalan tenang di belakangku.

"Sakura-san." Panggilnya.

"Apa." Aku berbalik kearahnya.

"Ku harap kita bisa menjadi partner yang baik dalam misi kali ini." akhirnya sambil memperlihatkan senyum palsunya yang memuakkan.

Oh Kami sama, apa yang kau rencanakan sekarang.


"Sai?" Menutup buku, pemuda itu berguman. Tatapannya arah jendela, memandang langit sore yang mulai kekuningan. Terdiam, pemuda itu mulai memutar otaknya. Mengingat kembali nama yang tak terdengar asing di telinganya.

.

S.A.I

.

.

Bersambung...