Part 2 :

Step closer

xxx

"Hhaaahh..."

Itu sudah yang ketiga kali, atau mungkin lima kali? Entahlah, tapi yang pasti Chanyeol bisa tahu seberapa lelah Jongin hari ini. Bahkan sekarang, anak itu menempelkan kepalanya keatas meja dengan lesu tanpa tenaga.

Chanyeol juga ikut mendesah lelah. Hari ini, kegiatan belajar mengajar sudah dimulai walau hanya sampai setengah hari. Sisa setengah harinya akan mereka pakai untuk melanjutkan masa orientasi mereka.

Gila, kegiatan belajar mengajar saat masa orientasi? Apalagi, mereka belum membiasakan diri dengan pelajaran-pelajaran yang sudah pasti akan jauh berbeda saat mereka SMP.

Ditambah, mereka baru saja belajar matematika. Sempurna.

Bagi Chanyeol, sebenarnya itu bukan masalah besar. Dirinya cukup menyukai pelajaran menghitung itu. Tapi tetap saja, dilihat dari raut teman-teman sekelasnya, mereka tampak sangat kelelahan.

"Teman-teman!!" Suara derapan kaki heboh terdengar diikuti suara nafas tersengal milik Seulgi. Setelahnya, muncul lah Joohyun dengan nafas tersengalnya juga. "Tim kedisplinan menyuruh kita untuk berkumpul di aula sekarang juga. Cepat ganti baju kalian atau kita akan mati!"

Mendengar seruan Seulgi, sontak semua orang buru-buru mengambil kaos masa orientasinya dan berlari menuju kamar mandi. Bahkan, ada yang tidak peduli dan memilih mengganti pakaiannya di pojok kelas.

Chanyeol menghela nafasnya. "Aku punya perasaan tidak enak."

xxx

"Kalian ini manusia atau siput? Lihat sekarang jam berapa? Kalian ingin menentangku, ya?!" Seruan sang ketua tim kedisplinan kali ini tidak main-main. Sambil terus berjalan mengitari seluruh barisan, jarinya terus menunjuk-nunjuk marah keseluruh wajah siswa kelas satu.

Chanyeol diam-diam memejamkan matanya, tuh 'kan firasatnya benar.

"061, apa suaraku terdengar seperti lullaby bagimu?!" Chanyeol sedikit tersentak kaget saat mendengar seruan yang terasa begitu dekat itu. Tau-tau, Baekhyun sudah ada beberapa langkah dari tempat berdirinya.

"Tidak senior," Jawab Chanyeol.

"Lalu apa suaraku terdengar sumbang hingga kau enggan untuk mendengarnya?!" Balas Baekhyun lagi, berjalan mendekati Chanyeol.

"Tidak senior," Jawaban Chanyeol masih tetap sama, lagipula ia tidak memiliki pilihan lain.

"Squat jump lima puluh kali, yang lain hitung lompatannya!" Perintah Baekhyun mutlak. Beberapa anggota kesiswaan meringis mendengarnya.

Chanyeol diam-diam menghujat Baekhyun. Demi apa karena hanya dirinya memejamkan mata ia harus melompat sebanyak lima puluh kali?

Selagi Chanyeol melompat dan yang lain menghitung, Baekhyun kembali ke atas panggung. Dimana anggota kedisplinan lainnya berdiri berjejer.

"Jadi, sudah menyiapkan pertanyaan nya?" Bisik Sehun.

"Sudah, selagi mereka sibuk ayo rundingkan." Sehun dan Baekhyun langsung mengkode seluruh temannya untuk mendekat. Para tim kedisplinan membuat lingkaran, meletakkan tangannya di bahu masing-masing teman dan mulai berdiskusi.

Para siswa kelas satu melihatnya walau mulutnya masih sibuk menghitung. Diam-diam merasa cemas dengan apa yang para seniornya itu bicarakan.

Para anggota tim kedisplinan kembali ke posisinya saat mendengar hitungan sudah selesai. Mereka menatap lekat para siswa kelas satu sebelum para tim kedisplinan turun dari panggung.

"Hari ini adalah hari kedua masa orientasi. Jadi, kami masih sedikit baik hati untuk tidak menghukum atas keterlambatan kalian." Para siswa kelas satu langsung mendesah lega begitu mendengar ucapan dari wakil ketua tim kedisplinan itu.

"Tapi!" Seruan Kris membuat siswa kelas satu tersentak, "Hanya jika kalian berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami berikan ini. Jika kalian bisa menjawabnya, maka kalian bebas dari hukuman dan di persilahkan pulang. Tapi jika tidak, kalian bisa menerima hukuman yang lebih berat dari sebelumnya," Lanjut Kris dengan seringai di wajahnya.

"Tentukan pilihan kalian. Menjalani hukuman yang ada atau mencoba peruntungan dengan menjawab pertanyaan yang kami berikan dengan dua konsekuensi. Benar dan pulang, salah dan hukuman bertambah." Setelah mengatakannya, Kyungsoo tersenyum. Tipe senyuman yang membuat seluruh siswa kelas satu menunduk takut dan menahan tangis.

"Aku rasa lebih baik kita menjalankan hukuman yang seharusnya saja," Bisik Chanyeol kepada Jongin. Tapi, lelaki tan itu langsung menggeleng, menolak.

"Aku ingin mencobanya. Siapa tahu, kita bisa benar 'kan?!" Jongin berujar antusias.

"Iya jika benar, dan jika tidak?" Baru saja Jongin ingin membalas ucapan Chanyeol, seluruh murid kelas satu sudah berseru ramai-ramai akan memilih menjawab pertanyaaan yang diberikan. Membuat Chanyeol dan Jongin tidak punya pilihan lain.

Baekhyun menepuk tangannya, isyarat agar semuanya diam. Ketika ruangan sudah kembali menjadi senyap, ia mengeluarkan sebuah senyuman super lebar.

Membuat Chanyeol semakin was-was. Baekhyun dan senyuman lebarnya benar-benar terlihat seperti pembunuh bayaran psikopat kelas atas.

"Aku hanya memiliki lima pertanyaan. Bukan 'kah itu terdengar mudah?" Baekhyun turun dari panggung, berjalan menyusuri barisan dan berhenti tepat di satu orang. Baekhyun melirik namanya sebelum menyeringai.

"Nama dan ID," Perintah Baekhyun.

"K-Kang Seulgi, 096," Jawab perempuan itu dengan suara gemetar takut.

"Oke 096, berapa jumlah murid baru yang ada di sekolah ini?" Tanya Baekhyun. Tapi Seulgi hanya terdiam mematung. Membuat seringai Baekhyun luntur menjadi raut wajah marah.

"Kenapa tidak menjawab? Tidak tau cara bicara atau tidak tahu?!" Bentak Baekhyun tepat di wajah Seulgi. Membuat bahu gadis itu bergetar hebat.

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke siswa lainnya. "Yang lain? Apakah ada yang tau?"

Merasakan kesunyian yang ada membuat Baekhyun terkekeh.

"Serius, ini baru pertanyaan pertama dan kalian sudah tidak--"

"Siswa baru tahun ini ada sebanyak seratus dua puluh orang!" Suara itu membuat seluruh orang menoleh dan langsung menatap orang yang baru saja menjawab pertanyaan Baekhyun dengan lantang.

Tanpa bicara apa-apa, Baekhyun langsung melangkah menuju orang yang sudah merebut satu atensi itu.

"Lihat ada siapa disini. Hebat, kau benar. Tapi sayang, sepertinya kau belum memiliki sopan santun untuk tidak menyela ucapan orang yang sedang bicara ya?" Baekhyun menatap tajam ke arah si pria yang lebih tinggi darinya. Menatap sengit dan penuh kekesalan.

"Karena kau terlihat cukup percaya diri, bagaimana jika empat pertanyaan lainnya juga kau sendiri saja yang jawab?" Sontak, itu membuat mata Chanyeol melotot tidak terima. Begitupun seluruh siswa kelas satu lainnya. Mulai ada bising protesan yang tentu saja langsung ditatapi Baekhyun satu-satu.

"Diam semuanya!" Seru Kris membuat ruangan kembali senyap.

"Kalian protes? Memangnya jika bukan 061 yang menjawab, kalian bisa menjawabnya dengan otak dungu kalian? " Beberapa orang merasa tidak terima di hina dungu oleh Baekhyun, tapi mereka juga tidak bisa membalas. Karena apa yang Baekhyun katakan memang benar.

Jongin melakukan ritualnya seperti biasa. Berdoa kepada yang diatas, meminta agar Chanyeol dilindungi dan diberkahi. Amin.

"Jadi 061, berapa banyak siswa yang hari ini mengikuti kegiatan orientasi?"

"Seratus empat belas orang."

"Siapa saja yang tidak masuk?"

"Jung Jaehyun, Kim Hyungwon, Lee Chaerin, Park Jiwook, Minwoo, Ahn Taeri."

Baekhyun menatap Chanyeol takjub. Satu alisnya terangkat, serius anak ini? Ia pun menatap Sehun yang membawa kertas absen, memastikan apakah Chanyeol benar. Sehum sendiri dengan wajah yang tidak percaya mengangguk.

Baekhyun merutuk dalam hati. Sisa dua pertanyaan lagi dan dia tidak bisa membiarkan Chanyeol benar atau anak itu akan semakin berulah.

"Dan kenapa mereka?" Tanya Baekhyun lagi. Beberapa siswa kelas satu menatap Baekhyun tidak percaya. Pertanyaan Baekhyun benar-benar diluar nalar karena untuk apa juga mereka tahu?!

"Jiwook dan Chaerin ada urusan keluarga dan sisanya sakit," Jawab Chanyeol dengan percaya diri. Baekhyun melirik Sehun, yang lagi-lagi di balas oleh anggukan Sehun.

Satu pertanyaan lagi dan Baekhyun berpikir keras.

"Baik, jadi ada enam yang tidak hadir dan seratus empat belas yang hadir." Baekhyun mengangguk-ngangguk lugu. Chanyeol menghela nafas lega sesaat begitu juga dengan para siswa kelas satu. Sedangkan para anggota tim kedisplinan dan tim kesiswaan hanya bisa saling tatap.

Karena mereka tahu betul, jika semua pertanyaan sudah terjawab akan ada satu pertanyaan ultimatum yang Baekhyun miliki.

"Semuanya, balikkan kartu nama kalian!" Perintah Baekhyun membuat seluruh siswa kelas satu buru-buru melakukan apa yang disuruh. Saling tatap karena tidak mengerti dengan maksud Baekhyun.

"Pertanyaan terakhir dariku. Siapa saja nama seratus empat belas siswa kelas satu disini? Mulai dari pojok depan hingga pojok belakang tanpa terkecuali."

Ruangan menjadi senyap, para siswa kelas satu langsung menatap tidak percaya. Chanyeol sendiri mematung mendengarnya. Melirik siapa siswa yang duduk paling pojok dan tak lama mengumpat dalam hati.

Sialan, bahkan dari pertama saja Chanyeol sudah tidak mengetahui namanya.

Tidak punya pilihan lain, Chanyeol hanya menjawab pasrah. "Aku tidak tahu."

Jawaban itu sontak membuat beberapa anggota tim kedisplinan tersenyum puas. Begitu juga dengan Baekhyun.

"Kenapa tidak tahu? Bukan 'kah mereka temanmu?" Tanya Baekhyun mendekat satu langkah.

"Kami baru dua hari berada di sekolah ini dan ada seratus lebih anak yang ada di sini. Bagaimana bisa aku mengetahui nama mereka atau bahkan hafal dalam waktu kurang dari dua hari?" Chanyeol membalas perkataan Baekhyun dengan nada geram yang terselip di sana. Tapi Baekhyun tidak memperdulikannya. Malah mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Chanyeol.

"Aku cuma ingin setiap pertanyaan yang kuberikan dibalas oleh sebuah jawaban. Bukan oleh sebuah alasan." Baekhyun menatap tajam Chanyeol, menoyor jidat Chanyeol pelan sebelum berjalan kedepan barisan.

"Apa kalian ingat yang ku katakan tentang berjiwa sosial? Kalian satu sekolah bahkan mungkin ada yang satu kelas. Tapi tidak tahu nama dari teman sendiri? Teman adalah bagian dari keluarga besar. Betapa memalukannya tidak mengetahui nama keluarga kalian sendiri. Apa kalian tidak malu dengan tanah yang sama-sama kalian pijak ini?!" Suara Baekhyun menggema ke seluruh ruangan. Ketua tim kedisplinan itu tampak menghentak-hentakkan kakinya keras. Tidak ada satupun yang berani membantah sekalipun Chanyeol yang masih berdiri, menatap punggung Baekhyun dengan tatapan tajamnya.

"Baik, dengan begini kalian semua harus menerima hukumannya. Lari tiga puluh putaran mengelilingi aula ini, squat jump lima belas kali setelahnya dan sit up sebanyak sepuluh kali!" Perintah Baekhyun dengan nada yang ditekan. Raut wajah anak kelas satu langsung berubah lemas. Bahkan ada yang terang-terangan mengerang atau bahkan mengumpati Baekhyun. Joohyun bahkan terlihat sudah seperti akan menangis.

Jongin baru saja ingin menanyakan keadaan Chanyeol, tapi pria yang ingin ditanyakan malah lebih dulu membuka suara lantang membuat seluruh atensi kembali kepadanya.

"Hukum aku sendiri saja! Aku yang salah menjawab pertanyaan harusnya aku yang menanggungnya sendiri!" Seru Chanyeol.

Para siswa kelas satu menatap Chanyeol bak malaikat penolong. Beberapa anggota tim kesiswaan dan tim kedisplinan tidak menyangka anak itu memiliki nyali begitu besar.

Sehun terkekeh di tempatnya, berbisik kepada Kris yang ada di sebelahnya. "Anak itu boleh juga."

"Dia sangat handal dalam urusan menyulut amarah Baekhyun," Ujar Kris mengangguk setuju. Mereka langsung berhenti terkekeh saat Kyungsoo menyikut perut mereka, menunjuk Baekhyun dengan dagunya.

"Bersiaplah, ketua kita akan segera meledak. Dia paling tidak suka dengan sikap sok pahlawan."

Dan benar saja, tepuk tangan Baekhyun menggema dan pemuda itu tertawa terbahak begitu kerasnya. Seakan-akan dia baru saja selesai menstalking situs hiburan terkenal di internet. Berjalan santai ke arah Chanyeol sebelum tawanya luntur.

"Benar-benar tukang cari perhatian. Sok pahlawan pula. Tapi sayangnya, teman-temanmu tetap harus di hukum karena mereka terlambat." Baekhyun membuat raut wajahmya menjadi sedih, seakan ia adalah anak anjing yang kehilangan majikannya. Sebelum berubah menjadi senyuman semanis gula. "Tapi karena kau sebegitu inginnya menjadi pahlawan, bagaimana jika teman-temanmu hanya harus squat jump sebanyak lima belas kali dan sebagai gantinya kau berlari seratus empat belas putaran mengelilingi lapangan mewakilkan jumlah teman-temanmu?"

Chanyeol balas menatap Baekhyun, dirinya tidak gentar. Malah maju selangkah dan mencondongkan tubuhnya ke arah yang lebih tua.

"Dengan senang hati," Desis Chanyeol.

"Kalau begitu, cepat lakukan," Balas Baekhyun diakhiri geraman.

xxx

"Chanyeol, berhenti!" Merasa dirinya dipanggil, Chanyeol menghentikkan derap larinya. Berjalan menghampiri seniornya yang merupakan wakil dari tim kedisplinan.

"Duduk dan minum, kau terlihat akan mati dalam waktu dekat," Ujar Kris sambil menyodorkan botol air minum dan menggeser duduknya.

"Tapi aku baru lari sebanyak sembilan putaran," Ujar Chanyeol dengan nafas terengah. Tapi Kris malah menariknya hingga ia terduduk dan menyodorkan kembali botol air minumnya.

"Kau serius ingin melakukannya? Baekhyun tidak akan sekeji itu. Dia memang sedikit temperamen jadi jangan anggap serius." Chanyeol hanya mengangguk mendengar perkataan Kris, mulai meminum air botolnya dengan beberapa tegukan dan langsung habis.

"Tapi aku merasa tidak adil. Aku cuma lari sebanyak sembilan putaran dan teman-temanku yang lain harus squat jump sebanyak lima belas kali." Ucapan Chanyeol membuat Kris terkekeh sebelum menepuk bahu Chanyeol.

"Memangnya kau tidak menyadari seberapa luas lapangan kita? squat jump sebanyak lima belas kali adalah hal kecil. Dan anggap saja sebagai hadiah dari keberanianmu membalas ucapan Baekhyun." Setelah puas terkekeh, Kris pamit dan beranjak dari sana. Meninggalkan Chanyeol yang masih menetralkan nafasnya dan suhu tubuhnya.

"Suruh siapa berhenti berlari?"

Chanyeol entah kenapa telah hafal suara tidak bersahabat itu. Jadi ia memilih tetap memejamkan matanya dan menjawab dengan nafas putus-putus.

"Senior Kris, wakil tim kedisplinan." Setelahnya, Chanyeol tidak merasakan balasan apa-apa. Namun ketika ia akan membuka matanya, sebuah tendangan mendarat di tulang kakinya.

"AKH APA-APAAN!" Jerit Chanyeol Spontan lalu memeluk kakinya yang berdenyut sakit dan ia bisa melihat punggung Baekhyun yang sudah berjalan menjauh dari tempatnya. Benar-benar, ada masalah apa sih ketua tim kedisplinan satu itu?

Tapi saat menoleh, dia sebelah kursinya ada sebuah onigiri berserta sekaleng minuman bervitamin rasa jeruk. Chanyeol bisa melihat ada post-it yang tertempel disitu.

ini mahal, kau berhutang padaku.

Chanyeol menggeleng-geleng tidak percaya sambil mengambil onigiri itu dan mulai memakannya. Tapi sebuah tarikan senyuman tidak bisa ia tahan di sudut bibirnya.

"Dasar."

xxx

"Serius, kalian kesini untuk apa?" Tanya Chanyeol lelah.

"Untuk tteokbokki!" Sahut Jongin dan Jongdae bersamaan sebelum saling mentoskan cup tteokbokki instan milik mereka.

"Jangan tanya, aku di paksa dua idot Kim ini untuk kesini," Jawab Junmyeon menaikkan bahunya.

"Sebuah informasi, kau juga Kim," Ledek Jongdae.

"Tapi aku tidak idiot," Balas Junmyeon tidak mau kalah.

Chanyeol menatap malas para Kim yang sedang ribut di kamarnya ini. Melemparkan bantal agar mereka semua diam.

"Kalian semua Kim dan kalian semua idiot. Jadi, siapa yang ingin menemaniku mengambil buku tugas di kelas?" Tanya Chanyeol.

"Bukan aku," Jawab yang lain kompak. Membuat Chanyeol curiga jika sebenarnya memang ada ikatan persaudaraan diatara mereka bertiga.

"Ayolah, besok 'kan harus di kumpulkan." Chanyeol memelas dengan suara beratnya, membuat Jongdae bergeridik ngeri.

"Yang benar saja, di jam sebelas malam begini? Aku tidak mau," Tolak Jongdae tidak bisa di ganggu gugat. Membuat Chanyeol mengalihkan tatapan melasnya ke arah Jongin dan Junmyeon.

"Tidak, aku dengar sekolah kita berhantu!" Seru Jongin hiperbolis, yang mana mendapat decakan dari Junmyeon juga Chanyeol.

"Serius, kenapa di setiap sekolah yang aku kunjungi selalu ada cerita gedung mereka di hantui?" Mendengar itu, Chanyeol menatap JunmyeonJunmyeon antusias.

"Itu artinya kau mau ikut denganku 'kan?"

Junmyeon tersenyum. "Tentu saja tidak."

"Terimakasih, aku akan pergi sendiri. Aku membenci kalian."

"Kami juga membencimu, hati-hati di jalan!"

xxx

Chanyeol sudah mendapatkan bukunya, tidak ingin berlama-lama berada di gedung sekolahnya yang masih terasa asing juga gelap ini dia buru-buru menuruni tangga.

Hingga tiba-tiba suara derapan kaki terdengar keras dan tanpa aba-aba sesuatu menabrak punggungnya. Chanyeol pun berbalik, dan terkejut mendapati Baekhyun dengan wajah ketakutannya sedang mendongak padanya sebelum memeluk dirinya erat.

"A-aku kira, aku melihat hantu," Cicit Baekhyun sambil terus memeluk erat pinggang Chanyeol. Dirinya bisa mendengar suara ribut dari arah Baekhyun berlari. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter untuk melihat sumber keributan.

Sebuah mata hijau terang menyambutnya dari kegelapan. Chanyeol terkekeh begitu melihat seekor kucing yang sedang asik mengejar kecoak dalam kegelapan. Beralih menatap Baekhyun yang masih memeluknya.

Dari sini, Chanyeol bisa tahu betapa mungil juga hangatnya tubuh milik seniornya itu. Ia juga tertawa geli saat menyadari betapa menggemaskannya si ketua tim kedisplinan itu saat sedang ketakutan.

"Apakah hantunya sudah pergi?" Tanya Baekhyun pelan.

"Tidak ada hantu, itu cuma kucing. Jadi kau bisa melepaskan pelukannya atau ingin tetap begitu hingga pagi."

Chanyeol bisa merasakan tubuh Baekhyun menegang dan dengan cepat melepaskan pelukannya sebelum mundur menjauh dari tubuh Chanyeol. Dalam kegelapan sekalipun, Chanyeol bisa melihat ada semburat merah lucu di pipi milik Baekhyun.

"Aku tidak memelukmu, sebagai senior aku harus melindungimu dari bahaya," Ujar Baekhyun dengan suara gugup menahan malunya. Membuat Chanyeol rasanya ingin mencubiti wajah itu gemas.

"Terimakasih sudah melindungiku senior, " Ujar Chanyeol dengan senyuman geli. Yang mana membuat Baekhyun semakin malu.

Baekhyun dengan cepat mengontrol suaranya menjadi normal, bertanya tanpa menatap Chanyeol. "Sedang apa disini pada jam sebelas malam?"

"Mengambil buku yang tertinggal," Jawab Chanyeol.

"Ceroboh. Cepat kembali ke kamarmu, jam malam sudah hampir habis. Jangan sampai asrama sudah terkunci." Baekhyun langsung berjalan cepat mendahului Chanyeol setelah itu.

Ceroboh apanya, padahal sudah jelas-jelas Chanyeol juga melihat sebuah buku di tangan Baekhyun. Namun tanpa berkomentar apa-apa, ia mengekori Baekhyun dan berjalan bersama.

Setidaknya, ada hikmah dari bukunya yang tertinggal. Bukan begitu?

xxx

Masa orientasi hari ketiga tidak menjadi lebih baik. Hari ini, mereka memfokuskan kepada latihan fisik dan respek terhadap senior.

Latihan fisik dan respek terhadap senior? Benar-benat kombinasi menuju neraka.

Mereka benar-benar harus menuruti seluruh perintah seniornya tanpa terkecuali. Menguras tenaga seakan yang mereka lakukan adalah program latihan militer dan harus siap-siap dibentak oleh kata-kata tajam milik tim kedisplinan.

Para anggota kedisplinan yang tadinya tidak terlalu mencolok pun, sekarang terlihat bentuk aslinya. Menyeramkan, bermulut tajam, dan tidak kenal ampun. Walau keganasannya masih berada satu level di bawah Baekhyun.

Entah kenapa, hari ini sang ketua tampak terlihat lebih tenang. Hanya bersidekap, memasang tampang angkuh dan memperhatikan dari jauh semua kegiatan.

Chanyeol menyeka keringat yang muncul di dahinya sambil menatap Baekhyun dari jauh. Ia bisa melihat, beberapa teman rekan setim kedisplinan Baekhyun menepuk-nepuk bahunya seakan memberi semangat tambahan. Yang mana hanya di balas oleh senyim lesu Baekhyun.

"061, ini nasi kotakmu." Chanyeol mendongak dan mendapati senior perempuannya, Seohyun menyodorkan nasi kotak untuknya. Sejauh ini di organisasi kesiswaan, Chanyeol memang paling dekat dengan Seohyun. Apalagi mengingat mereka dulu pernah bertetangga.

"Terimakasih senior," Ujar Chanyeol sambil tersenyum. Seohyun balas tersenyum dan beranjak pergi. Namun baru beberapa langkah, perempuan itu teringat sesuatu dan berbalik menuju Chanyeol.

"Hmm, Chanyeol? Besok malam ada waktu tidak?" Tanya Seohyun.

Chanyeol berpikir sebentar sebelum menganggukkan kepalanya. "Sepertinya ada. Memang kenapa senior?"

"Senior kita yang memiliki ID 061 mengundang para junior yang ber-ID sama untuk makan malam. Ia akan menikah dalam waktu dekat jadi membuat pesta kecil-kecilan. Calonnya yang juga dari sekolah ini akan mengundang para junior yang ber-ID 004. Yeah, semacam tradisi di sekolah. Datang ya?" Pinta Seohyun.

"Itu terdengar menarik. Oke aku akan datang." Seohyun tersenyum puas mendengar jawaban Chanyeol.

"Euhmm, dan cari anak seangkatanmu yang ber-ID 004 ya? Nanti kita akan pergi dengan mobilku. Oke?"

"Oke." Seohyun tersenyum dan setelahnya beranjak pergi kembali menuju tempatnya. Tak berselang lama, namanya di panggil oleh seseorang.

"Chanyeol, sini!" Panggil Jongin.

Chanyeol beranjak mendatangi Jongin, bergabung di lingkaran yang di bentuk teman-teman sekelasnya. Lalu membuka nasi kotak bersama-sama.

"Hari ini benar-benar parah," Dengus Joohyun sebelum menyuapkan makanannya.

"Tapi ketua terlihat lebih banyak diam hari ini," Komentar Jongdae mendapatkan anggukan dari yang lain.

"Entah, mungkin capek. Bayangkan saja dia harus marah-marah satu kali dua puluh empat jam," Canda Seulgi, padahal jelas-jelas bahunya sampai bergetar karena menjadi korban kemarahan Baekhyun tadi.

"Ngomong-ngomong, apa yang kau bicarakan dengan kak Seohyun tadi?" Tanya Jongin.

"Dia mengundangku ke pesta makan malam milik senior yang ber-ID 061, sama sepertiku. Jadi dia minta aku datang dan membawa seseorang yang ber-ID 004," Jelas Chanyeol.

"Huh, 004 ID-ku," Ujar Luhan yang mana langsung di sambut desahan lega oleh Chanyeol.

"Aku beruntung itu dirimu, aku kira harus mencarinya kemana-kemana dulu. Besok malam kita pergi naik mobilnya kak Seohyun, oke?" Chanyeol menutup kotak makannya yang belum sepenuhnya habis. Dirinya tidak terlalu bernafsu untuk makan hari ini.

"Eumm... oke. Tapi kenapa yang diundang hanya orang yang memiliki ID yang sama?" Tanya Luhan.

"SMA Jaeguk itu memiliki semacam trasdisi. ID yang kita miliki sekarang semacam tahta bergilir, makanya para siswa yang memiliki ID yang sama biasanya berteman dekat dan suka membuat perkumpul perangkatan yang memiliki ID sama," Jelas Junmyeon, mengetahui ini dari kakak tertuanya yang memang lulusan sini. Sedangkan teman-teman sekelas lainnya mengangguk.

"Tapi katanya, ID 061 dan 004 itu sangat melegenda. Sejak SMA Jaeguk menerapkan sistem ID, sudah ada empat pasangan ber-ID 061 dan 004 yang telah menikah." Jongdae menaik turunkan alisnya, menggoda Chanyeol dan Luhan secara bergantian. Tentu saja diikuti oleh sorakan cie teman-temannya.

"Bagaimana Luhan, mau menikah denganku?" Canda Chanyeol sebelum terbahak.

"Tidak terimakasih, kau sudah mempunyai senior Baekhyun. Ingat itu," Balas Luhan jenaka.

"Astaga aku hampir lupa Chanyeol pernah melamar senior Byun di hari pertama masa orientasi!" Tawa Joohyun.

"Bersyukurlah karena hal itu, Chanyeol jadi populer di sekolah." Chanyeol hanya tertawa mendengar ucapan Jongin.

"Maaf mengganggu waktu istirahat kalian, tapi kalian di minta alumni untuk pergi ke ruang aula sekarang juga." Perkataan salah satu anggota kesiswaan itu membuat tawa mereka terhenti dan menatap si anggota kesiswaan bingung.

Untuk apa alumni mereka memanggil?

xxx

Seluruh siswa kelas satu sudah berkumpul di aula dengan raut wajah bingung. Harusnya, masa orientasi mereka hari ini telah usai. Tapi kenapa mereka kembali di kumpul 'kan?

"Mereka tidak akan memberikan tugas militer lagi pada kita 'kan?" Tanya Jongin was-was yang hanya di balas Chanyeol dengan mengendikkan bahunya.

Lalu tak berselang lama, para anggota tim kedisplinan datang dengan raut wajah tegangnya. Tidak biasanya, kali ini ada raut khawatir di wajah masing-masing.

Fokus Chanyeol mengarah ke Baekhyun. Dia yang terlihat paling lusuh wajahnya. Mereka semua berbaris di atas panggung sebelum akhirnya istirahat di tempat.

"Untuk seluruh siswa kelas satu, kalian boleh duduk." Seorang laki-laki yang terlihat seperti mahasiswa masuk ke dalam aula dengan baju santainya. Para siswa kelas satu saling bertatapan, bertanya siapa dia dan apa mereka benar-benar boleh duduk. Tapi setelah melihat para anggota kesiswaan menyuruh mereka menurut, mereka pun duduk bersila di lantai.

"Selamat sore semuanya!!" Sapa si mahasiswa asing dengan wajah ramahnya.

"Sore!" Balas seluruh siswa kelas satu sama ramahnya.

"Mungkin kalian berpikir siapa aku? Sedang apa aku? Dan apa yang senior tim kedisplinan kalian lakukan di atas panggung itu? Pertama-tama, namaku Park Yunho, aku ketua tim kedisplinan tahun lalu." Suara gemuruh langsung memenuhi aula. Bahkan Jongin pun menoleh ke arah Chanyeol dengan tatapan tidak percaya.

"Gila, mungkin aku akan bersujud syukur jika ketua tim kedisplinan kita seramah ini," Jongin menggeleng-geleng takjub. Sedangkan Chanyeol tampak tidak tertarik, hanya memperhatikan seadanya.

"Nah sekarang, aku harap kalian tertib dan tenang karena aku harus melakukan tugasku," Ujar alumni bernama Yunho itu. Berjalan naik ke atas panggung dan berhenti tepat di depan Baekhyun yang matanya menatap fokus ke depan.

Siswa kelas satu diam, memperhatikan.

"SIAPA KALIAN?!" Seru Yunho tiba-tiba membuat beberapa siswa kelas satu tersentak kaget.

"SIAP, SATU, DUA, TIGA, KAMI TIM KEDISPLINAN SMA JAEGUK!" Balas para anggota tim kedisplinan.

"APA TUGAS KALIAN?!" Seru Yunho lagi, kini teriakannya naik satu oktaf.

"SIAP, MEMBIMBING DAN MENJAGA KEDISPLINAN SELURUH MURID DISINI!" Seruan mereka kembali bersahutan. Bahkan Chanyeol bisa lihat, urat di leher mereka sampai tercetak hanya karena berteriak.

"APA TUJUAN KALIAN?!" Yunho mulai berjalan mengitari para anggota tim kedisplinan.

"MENUMBUHKAN RASA TANGGUNG JAWAB, SOSIAL, SOLIDARITAS DAN RESPEK SESAMA!" Suara mereka makin keras, membuat para siswa kelas satu menatap ngeri adegan saling berseru ini.

"Kalian benar, tapi dari laporan yang aku lihat sepertinya kalian melakukan beberapa kesalahan. Siapa penanggung jawabnya?" Tanya Yunho, walau matanya sudah terfokus pada Baekhyun.

"Aku, Byun Baekhyun dari kelas 12-1!" Baekhyun mengangkat tangannya sebelum maju selangkah menuju Yunho.

"Selama masa orientasi, hukuman apa saja yang sudah kalian berikan?" Yunho mulai mengintrogasi, salah satu bagian dari acara ini.

Semacam masa orientasi untuk para tim kedisplinan.

"Siap, kami menghukum mereka dengan squat jump lima belas sampai tiga puluh kali, lari mengelilingi dari sepuluh putaran hingga seratus empat belas, dan latihan dasar kedisiplinan yang kali lipat hingga empat kali," Jawab Baekhyun lantang, tidak peduli dengan Yunho yang menatapnya tidak suka.

"Aku mendengar ada yang bahkan mencengkram kerah salah satu siswa kelas satu dan sekarang ada yang disuruh berlari sebanyak seratus empat belas putaran? Siapa yang menyuruhnya?"

"Siap, Itu diriku sendiri!" Seru Baekhyun menjawab.

"Kenapa melakukannya, sudah tau itu di larang 'kan? Memangnya kau tidak bisa mengendalikan emosi, huh?!" Bentak Yunho tepat di depan wajah Baekhyun. Namun yang di bentak mempertahankan wajah datarnya, membuat beberapa siswa kelas satu terpukau dengan ketegasan Baekhyun bahkan di saat seperti ini.

"Dia berkata tidak sepantasnya dan melawan perkataanku," Jelas Baekhyun tapi Yunho seperti tidak mau tahu.

Diam-diam Chanyeol menatap Baekhyun merasa bersalah.

"Lalu alasan hukuman lari mengelilingi lapangan sebanyak seratus empat belas putaran?"

"Dia menyela perkataanku dan tingkahnya selama masa orientasi benar-benar membuatku muak." Beberapa siswa kelas satu dan anggota kesiswaan menatap Chanyeol dengan berbagai macam tatapan. Sikap Chanyeol memang terkesan menantang dan berani tapi Baekhyun juga bersikap terlalu berlebihan. Jadi, yang lain tetap diam dan menonton ini.

"Jong, sebenarnya mereka ini sedang apa?" Bisik Chanyeol kedepannya, dimana Jongin duduk.

"Setiap hari ketiga masa orientasi, mantan ketua tim kedisplinan tahun lalu akan datang untuk menyeleksi kinerja tim kedisplinan tahun ini. Salah atau tidak, para alumni ini tetap akan menghukum tim kedisplinan yang baru untuk melihat seberapa kuat mental mereka. Hitungannya, mereka menjadi tim kedisplinan 'kan juga belum lama ini. Jadi kau tidak usah merasa bersalah." Jongin tau benar apa yang ada di kepala Chanyeol saat ini. Rasa bersalah dan tidak enak pasti sedang mengerubungi hati pria jangkung itu. Mungkin jika Jongin tidak berkata seperti ini, Chanyeol sudah berlari keatas panggung dan membela Baekhyun.

Wajah Yunho terlihat tidak puas dengan jawaban Baekhyun, ia mundur selangkah dan menatap seluruh tim kedisplinan yang ada.

"Squat jump lima puluh kali, lari mengelilingi lapangan sebanyak lima belas putaran di lanjut dengan sit-up sebanyak dua puluh lima kali." Pandangan Yunho beralih ke arah Baekhyun yang masih menatap lurus kedepan. "Dan untuk Byun Baekhyun, lari mengelilingi lapangan sebanyak seratus empat belas kali."

Para siswa kelas satu langsung terkejut heboh, begitu juga dengan para anggota kesiswaan. Bahkan raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah-wajah para anggota tim kedisplinan. Tapi Baekhyun dengan wajah datarnya tetap terlihat tenang. Mundur beberapa langkah guna menajajarkan barisannya dengan seluruh tim kedisplinan.

"KALIAN SIAP?!" Seru Baekhyun menggema.

"SIAP!" Balas seluruh tim kedisplinan.

"MULAI!"

Para siswa kelas satu menatap kasihan para seniornya ini. Rasa kesal sebelumnya digantikan rasa iba melihat betapa banyaknya keringat mereka yang keluar saat ini. Mereka semua terlihat capek tapi tidak ada tanda mereka akan menyerah. Membuat siswa kelas satu berdecak kagum dan memuji betapa kerennya mereka.

"Jujur, aku khawatir dengan ketua Byun," Ujar Jongin.

"Apalagi aku? Sembilan putaran saja rasanya sudah seperti mau mati. Bagaimana dengan seratus empat belas putaran?" Desah Chanyeol terlihat frustasi. Menatap wajah tak gentar Baekhyun di atas sana yang masih sibuk menjalankan perintah dari alumninya. Kini, mereka bersiap untuk berlari mengelilingi lapangan.

"Oh, untuk seluruh siswa kelas satu kalian boleh pulang sekarang. Maaf telah menahan kalian lebih lama," Ujar Yunho sambil tersenyum menyesal. Seakan dirinya orang yang berbeda dari orang yang menyiksa para anggota tim kedisplinan tadi.

Chanyeol mengerang, kali ini ia tidak menyukai bagian kalian boleh pulang sekarang.

xxx

Di luar hujan mengguyur, padahal saat masuk kamar mandi tadi baru gerimis kecil saja yang berjatuhan.

Chanyeol menatap kamar di sebrang asramanya. Milik Baekhyun dan keadaanya masih gelap. Dia belum pulang atau apa?

Chanyeol menyesap kopinya, membuka ponselnya setelah sekian lama memilih menggunakan laptopnya dari pada benda pipih yang mudah dibawa kemana saja itu.

Hebat, berapa lama ia tidak membuka ponselnya? Semua notifikasi media sosialnya seperti Instagram, Facebook dan Twitter sampai diangka limit. Juga aplikasi LINE nya yang sama jebolnya.

Ada anak kelas satu yang menantang Killer Byun! Bukankah itu gila?

Seorang pemberontak tampan, benar-benar tipeku.

Killer Byun di lamar oleh anak baru dan poin plusnya dia super keren!

Ada yang tau kelas atau media sosialnya?

Dia Park Chanyeol dari kelas 10-2

Jika Byun Baekhyun adalah malaikat pencabut nyawa nakamaka Park Chanyeol adalah malaikat penolong!

Chanyeol tidak menyangka dirinya menjadi topik sekolah akhir-akhir ini. Oke, ternyata dirinya cukup populer juga karena aksi nekatnya. Followers instagram dan twitternya menambah drastis. Pantas para para senior itu mendatangi dirinya untuk memberikan tanda tangan bukan sebaliknya. Benar-benar.

Chanyeol memilih membuka twitter lebih dulu, dan baru saja ia merefresh timline sebuah foto muncul dan sedang ramai di bicarakan.

Itu foto Baekhyun yang kini sedang berlari hujan-hujanan.

Chanyeol langsung menatap layar ponselnya tidak percaya dan mulai membaca apa yang sedang dibicarakan seluruh anak satu sekolahnya.

@aerakim Serius dia akan berlari sebanyak seratus empat belas putaran?

@choijun Hebat padahal sedang hujan lebat begini

@123sera Aku menontonnya dari jendela asramaku, sudah dari sore dia berlari. Mungkin sekarang sudah putaran ke tujuh puluh?

@Giiixx Seseorang cepat hentikan dia, ini namanya aksi bunuh diri. Dia kan tidak sekejam itu selama masa orientasi

@Daehyunjung Wah sekolah ini memang memiliki ketua tim kedisplinan yang hebat, aku salut

Chanyeol mematikan layar ponselnya. Rasa khawatir langsung menjalar keseluruh tubuhnya. Maka dari itu, ia langsung mengambil payung dan jaketnya lalu berlari kelapangan sekolah secepat yang ia bisa.

Untuk menghampiri sang ketua kedisplinannya itu.

xxx

Chanyeol berhenti di pinggir lapangan sekolahnya, tangan satunya menenteng payung sedangkan satunya lagi masuk kedalam saku celananya karena udara dingin yang menyengat. Matanya mengitar untuk mencari sosok Baekhyun hingga tak berapa lama kemudian sosok yang dicari berlari melewatinya.

"Senior Byun!" Panggil Chanyeol sambil menghampiri Baekhyun. Yang di panggil pun menghentikan langkahnya, terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya.

"061, apa yang kau lakukan?" Tanya Baekhyun terkejut di bawah guyuran hujan.

Tidak langsung menjawab, Chanyeol langsung memayungi Tubuh Baekhyun hingga bahu sebelahnya tertetesi air hujan. "Ayo kembali ke asrama, kau bisa sakit. Aku cuma berlari sebanyak sembilan putaran jadi senior sudah lebih dari cukup."

Baekhyun mendengus mendengarnya, mendorong payung Chanyeol untuk kembali berlari.

"Senior!" Panggil Chanyeol lagi, kini ikut berlari di sebelah Baekhyun.

"Junior sepertimu tidak usah ikut campur. Ini sudah tugasku dan aku cuma menjalankannya," Balas Baekhyun acuh, mencoba lari mendahului Chanyeol tapi lagi-lagi yang lebih muda berhasil menjejerkan langkah.

"Memangnya junior sepertiku tidak boleh mengkhawatirkan seniornya?" Protes Chanyeol.

Baekhyun berhenti melangkah, menatap Chanyeol dengan kening berkerut. "Serius, apa masalahmu denganku, sih? Kenapa kau terus mengusikku?"

"Senior, wajahmu sudah pucat dan bibirmu membiru. Ayo kembali ke asrama!" Bukannya menjawab, Chanyeol malah menarik tangan Baekhyun untuk berhenti. Dengan cepat langsung dihempas oleh Baekhyun.

"Aku sudah sampai di putaran ke delapan puluh tiga, aku tidak akan berhenti sampai selesai," Ujar Baekhyun dengan gigi bergemelutuk kedinginan.

"Senior!" Baru berapa langkah Baekhyun beranjak, tubuhnya oleng dan hampir ambruk. Untung saja Chanyeol dengan sigap menopang tubuh Baekhyun hingga tak menyentuh tanah basah.

Baekhyun pingsan dengan suhu tubuhnya yang sangat rendah. Membuat Chanyeol bingung harus melakukan apa dan memilih membawa Baekhyun ke koridor untuk berteduh.

"Hah, apa kubilang. Kenapa keras kepala sekali, sih?" Chanyeol membuka jaketnya, mengenakkannya pada Baekhyun yang sekarang tampak lebih hangat.

"Baekhyun!" Seseorang memanggil nama Baekhyun membuat Chanyeol menoleh. Itu Sehun, senior tim kedisplinan sama seperti Baekhyun.

"Dia pingsan, kita harus apa?" Tanya Chanyeol khawatir.

Sehun terdiam sejenak menatap wajah Chanyeol, sebelum menempelkan tangannya di dahi Baekhyun. "Dia tidak kuat dengan suhu rendah. Pertama-tama, ayo bawa ke kamarnya terlebih dahulu."

xxx

"Morning sunshine!" Sapa Sehun tepat di depan wajah Baekhyun ketika si ketua tim kedisplinan itu membuka matanya.

"Apakah aku di surga?" Tanya Baekhyun sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Tentu saja, aku malaikat tertampan disini," Ujar Sehun serius sambil menyisir-nyisir rambutnya sok tampan.

"Oh kalau begitu aku ada di neraka," Dengus Baekhyun. Saat dirinya mencoba bangun, sebuah handuk basah yang telah dingin terjatuh ke pangkuannya. Kepalanya terasa berdenyut nyeri dan kakinya terasa kaku juga sakit. Bisa Baekhyun liat, ada beberapa koyo tertempel disana.

"Sudah merasa baikan?" Tanya Sehun mendekat, mengambil handuk basah dari pangkuan Baekhyun dan meletakkannya di baskon samping tempat tidurnya.

"Tidak juga, seluruh tubuhku rasanya sakit." Baekhyun meringis tertahan saat mencoba menggerakan pahanya, ototnya terasa kencang dan sakit.

"Dasar keras kepala, yang rugi tubuhmu sendiri 'kan?" Omel Sehun layaknya ibu-ibu.

"Jadi semalaman kau disini dan menjagaku ya? Aku merasa tersanjung, loh," Terka Baekhyun, tapi Sehun malah menggeleng lugu.

"Bukan tuh, aku baru datang. Yang semalaman menjagamu ya si 061. Hoho, dia tampak sangat mengkhawatirkanmu, loh. Semalaman dia menggenggam tanganmu, mengompres, dan menempelkan koyo di sepanjang kakimu. Bolak-balik mengecek suhu tubuhmu sampai tertidur di sisi ranjangmu. Pagi tadi dia baru keluar, harus sekolah tentu saja." Sehun memasang wajah menggodanya, menaik turunkan alisnya seraya menoel-noel bahu Baekhyun.

"Tidak bisa di percaya? Untuk apa coba?" Ujar Baekhyun entah kenapa merasa jengkel.

"Mungkin merasa bersalah karena hukumanmu? Atau mungkin sesuatu yang lain?" Nada bicara Sehun kembali menggoda, membuat siku-siku imajiner muncul di sudut kening Baekhyun dan dengan kecepatan cahaya sebuah bantal sudah mendarat di wajah Sehun.

"Dia itu aneh, pasti ada maunya," Gumam Baekhyun kesal. Tapi diam-diam merasa bersyukur kemarin ada Chanyeol di sisinya bahkan sampai merawatnya semalaman.

"Pokoknya hari ini kau harus istirahat. Biarkan masa orientasi hari ini anak-anak lain yang mengurus. Besok dirimu harus hadir untuk upacara penutupan dan memberikan name-tag," Tutur Sehun dengan nada penuh perintah.

"Tidak untuk hari ini, hun. Aku sudah janji akan datang ke acara makan malam senior kita yang ber-ID 004. Aku merasa tidak enak jika tidak datang."

"Tapi Baek, dirimu sedang dalam kondisi tidak fit--"

"Kumohon~" Baekhyun sudah mengeluarkan jurus andalannya. Puppy face disertai suara rengutan super imut. Membuat Sehun mendesah kasar dan menyerah.

"Baik, tapi tidak lebih dari satu jam."

"Siap, lagipula siapa tahu aku bertemu jodoku yang ber-ID 061 'kan?"

xxx

lagi semangat nulis ini huhu jadi daripada di tahan mending lanjutin ini aja deh.

btw kmrn adalah hari ultah terbaik w karena hari itu sehun ngucapin w ultah (itu vivi cuma dijadiin kamuflase doang, percaya) dan baekhyun ngebuat akun twitter!

ya walau jadi banyak akun cbhs and nsfw deactive huhu, tapi seneng juga banyak akun baekhyun protector gt. tau sendiri lah bagaimana kejamnya netijen dan antifan di twt

tpi yg aku kesel, np akun2 otp disuruh ditutup tp akun yang ngeship baekhyun x cewek enggak. pdhl bbh pernah bilang sendiri dia sensitif sama cewek. kzl :(

ysudahlah segitu dulu a/n ini

adios! chanpawpaw.