Disclaimer : Aoyama Gosho-Sensei... (saya pinjam tokohnya ya, sensei... ^_^)
Terinspirasi sedikit dari komik.. dgn judul " It's becomes a habit"
Moga Suka ya...
Alert... Alert... Warning... OOC, Typo, GaJe (Bangeett), dan banyak kekurangan lainnya... mohon Review and Readnya... ^_^
.
.
.
.
5 Tahun Kemudian...
.
.
"Ai-senpai... kami mencintaimu... " teriak gerombolan laki-laki.
Ai tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan manis. Semua lelaki yang melihatnya akan langsung terpana. Wajah tirus yang menampilkan keanggunan, tubuh tinggi yang langsing layaknya seorang model. Kulit yang putih mulus tanpa cacat dan rambut pirang kecoklatan yang panjangnya sebahu. Ditambah lagi ia gadis jenius yang ber-IQ diatas 160. Hanya satu kata yang mewakili semuanya 'Perfect'. Ia juga gadis yang dikenal Playgirl karena suka mempermainkan laki-laki. Meski ia sangat dingin atau bisa dibilang 'cool' tetap saja rata-rata laki-laki di sekolahnya mengagumi dirinya. Teman-teman perempuan Ai pun berangan-angan menjadi seperti Ai yang sangat perfect di mata siapa pun, dengan mudahnya menolak cinta laki-laki, mendengus sebal karena selalu di kerumuni, ataupun bergaya seperti Ai yang layaknya putri dari langit.
"Ai- senpai... aku mencintaimu... akan kubelikan apapun yang kamu mau... Ai-senpai.." teriak murid laki-laki yang bergerombol di depan kelas Ai.
Ai hanya memutar bola matanya kesal. Matanya tak lepas dari buku mekanik yang sekarang ia pegang. Tapi, mendengar teriakan-teriakan ambigu seperti itu membuat dia kesal. Ia pun menoleh kearah gerombolan itu dengan senyum menawan bak malaikat.
"Aku juga mencintai kalian, jika kalian meninggalkanku sendiri!"kata Ai, dingin.
"Ya, senpai... ya... kami akan pergi... "kata mereka. Mereka pun berlalu.
Ai menghela nafasnya.
"Wah Ai-chan... kau cool seperti biasanya!" teriak Ayumi, sahabat dekat Ai.
Ai hanya bergumam kesal.
"Ai, makan yuk. Kita ke kantin sama-sama yuuuk.." pinta Ayumi manja. Ai mengangguk sebentar kemudian berjalan menuju kantin bersama Ayumi.
"Ai-senpai... Ai-senpai..."sapa setiap orang yang dilalui Ai. Baik perempuan maupun laki-laki.
"Apa sih, bagusnya Ai. Ia hanya bisa mengumbar kecantikannya. Ia benar-benar murahan, kan?"kata seorang anak perempuan yang merasa iri dengan Ai a.k.a Sonoko Suzuki. Anak pemilik perusahaan Suzuki Corp. Perusahaan yang sangat besar dan hebat dalam bidang perdagangan.
Ai yang mendengar itu tersenyum meremehkan. Ia berhenti dan menoleh ke arah Sonoko.
"Ya, itu kata-kata yang Hanya bisa dilemparkan oleh orang yang iri denganku. Apa kau bisa membeli laki-laki agar mengagumi kejelekanmu dengan uangmu? Hahaha... menggelikan. Kalau ada yang bilang kamu cantik atau mempesona, hum... mungkin itu hanya BULLSHIT mereka yang ingin diberi uang olehmu."kata Ai dengan nada sarkatis plus menusuk plus meremehkan. Sukses membuat Sonoko geram. Mengingat perusahaan Haibara Corp lebih unggul dari perusahaannya, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Ai melenggang pergi dengan gayanya yang kembali ke 'cool' mode.
Semenjak menamatkan sekolah dasar Ai menjadi pribadi yang seperti sekarang. Dingin, ketus, dan tak pernah tersenyum tulus.
.
Teeet... Teet...
.
Bel berbunyi dengan nyaring tanda pelajaran akan kembali dimulai. Semua masuk ke kelas masing-masing tak terkecuali Ai dan Ayumi.
Ai duduk anggun sambil kembali memegang buku tentang mekanik kesayangannya. Setelah teman-teman sekelas Ai duduk rapi, Pak Moto yang mengajar Matematika memasuki kelas tapi ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki berwajah tampan dan terlihat kesan angkuh di wajahnya.
"Anak-anak, hari ini kalian mendapat teman baru."kata Pak Moto.
"Wah, tampannya... keren..."kata seluruh murid perempuan minus Ai. Ia tampak tak peduli, tapi karena ia penasaran dengan teman barunya, ia mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa anak baru itu.
JLEB! Mata Ai membulat sempurna, jantung Ai terasa ditikam beribu belati. Kenangan buruk di masa lalunya kembali berputar di dalam kepalanya. Ia yakin, laki-laki yang sedang berdiri di depan teman-temannya sekarang adalah cinta pertamanya, Conan Edogawa. Wajahnya yang tampan dengan rahang kokoh menegaskan kalau ia laki-laki yang maskulin. Apalagi matanya yang tajam terkesan keren di mata para gadis minus Ai.
'Ia masih seperti dulu.'Gumam Ai sambil menyeringai. Jujur, Ai masih tak bisa melupakan Conan atau bisa dibilang sampai detik ini pun ia masih menyukai si Angkuh yang menjadi teman sekaligus musuhnya di masa lalu.
"Ah! Conan-kun kau bisa duduk di samping Ai."kata Pak Moto.
Seringaian Ai semakin melebar. Apalagi ketika langkah-langkah kaki Conan mendekati tempat ia duduk.
"Hai.." Sapa Conan pada Ai. Tapi, nafasnya tiba-tiba tercekat ketika melihat mata biru yang sedang berhadapan dengannya serta rambut pirang kecoklatan yang kembali mengingatkannya dulu.
Ai tiba-tiba menarik kerah baju Conan dan mencium pipinya sekilas, kemudian mendekatkan bibir tipisnya ke telinga Conan.
"Kau tampan sekali kalau sudah menjadi remaja, bisa-bisa aku tambah menyukaimu."bisik Ai dengan pelan. Ia cium sekali lagi pipi kiri Conan. Setelah itu ia baru melepaskan genggamannya pada kerah baju Conan. Conan membeku di tempat. Suara Ai yang terdengar menggoda itu berkecamuk di telinga dan pikirannya. Ia benar-benar tidak konsentrasi selama pelajaran berlangsung.
.
Waktu Istirahat...
.
"Ai-senpai..." teriak gerombolan murid laki-laki yang sedang berdesakan di depan kelasnya.
Ia masih dengan 'cool' mode-nya. Pura-pura tidak dengar teriakan yang jelas-jelas mengganggu telinganya.
"Hei, kasihan fans-mu."kata Conan. Ai menoleh ke arah Conan, lalu tersenyum manis nan tulus. Para fans Ai yang berada diluar langsung mimisan (lebay) setelah melihat senyuman yang tak pernah dilihat sebelumnya.
"Kenapa aku harus menoleh ke arah mereka sedangkan di sampingku sudah ada malaikat yang berwujud manusia."kata Ai. Ia kembali tersenyum manis. Conan terbelalak, jantungnya berdetak dengan cepat setelah menerima penuturan dari bibir manis Ai.
"Tapi, tapi.. me..mereka kan sudah da..dari tadi menunggumu."kata Conan tiba-tiba image angkuhnya luntur.
Ai menyeringai. Tiba-tiba ia menarik tangan Conan dan mereka berdua sudah dalam posisi berhadapan. Ternyata hal yang tak pernah terlintas sedikit pun di pikiran Conan terjadi!
CUP!
Ai mencium bibirnya dengan intens, tangannya bertautan dengan Ai. Murid laki-laki yang awalnya berisik menjadi terdiam melihat pemandangan langka yang ada di hadapan mereka. Seorang Star of School, Ai Haibara mencium Conan Edogawa si murid baru yang betampang angkuh dengan lembut.
Conan tidak melawan, malah ia memejamkan matanya. Menikmati detik-detik itu.
"Ai-senpai... A..A..Ai-senpai... Huaaa.." mereka lari dengan meninggalkan genangan air mata.
Ai kembali duduk di kursinya. Sedangkan Conan? Tak usah ditanya! Wajahnya seperti terbakar oleh api.
"Kenapa diam saja, Conan-kun?"tanya Ai sambil tersenyum ke arah Conan yang membatu.
"Ka...ka..A..Ai.. Apa... ya..yang Ka..kau lakukan?"kata Conan dengan gugup setengah mati.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa? Kau mau lagi?"Ai balik bertanya.
Conan berblushing ria masih dengan kaki yang seakan-akan terpaku di lantai keramik kelas itu.
'Apakah Ai masih menyukaiku?' tanya Conan dalam hati. Ia tersenyum tipis sekali.
"Ah! Conan, kau masih dengan Ran?"tanya Ai membuyarkan lamunan Conan.
Conan menggeleng.
"Ran sudah putus denganku, ia memilih laki-laki blasteran inggris yang menjadi rivalku saat SMP, Saguru Hakuba."kata Conan. Ia menghela nafas sebentar kemudian kembali dikejutkan dengan ciuman lembut yang dilakukan oleh Ai.
"Ah, sayang sekali. Kalau begitu, apakah kau mau jika aku yang menggantikan Ran?"tanya Ai. Sukses membuat Conan cengo.
"Ya sudah, tidak apa-apa kalau kau tidak mau. Yang penting aku bisa bebas mendekatimu tanpa gangguan Ran."kata Ai sambil menyeringai. Conan kembali blushing.
Pertemuan kembali dengan Ai Haibara, rivalnya saat SD membuat ia merasakan debaran yang berbeda. Padahal baru beberapa jam saja mereka bertemu setelah 5 tahun terakhir.
.
.
.
TBC
Read
n
R
E
V
I
E
W
Please... ^_^
