THE IMPOSSIBLE LOVE

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Romance, Hurt, Humor, Slice of Life.

Pair : Naruto, Sakura dan Chara lainnya di Naruto

CHAPTER 2

NARUTO POV

'BRAAAKKKK...!'

Aku membanting pintu apartemenku yang tak berdosa dengan segenap kekuatan yang aku punya. Kepalaku benar-benar kacau sehingga aku tak dapat mengontrol dengan benar tenagaku. Pasti para tetangga tengah mencemooh apa yang baru saja aku lakukan. Tapi aku tak memperdulikannya karena saat ini aku kembali teringat apa yang membautku seperti ini. Padahal aku belum sempat berkedip saat Kiba duduk dan menembus Sakura. Tapi seluruh tubuhku tanpa komando langsung membawaku kabur begitu saja. Benar-benar konyol sekali hari ini. Aku menyeret kedua kakiku yang masih gemetar kedalam apartemen yang cukup sempit hanya berukuran 6 tatami dengan dapur dan kamar mandi. Walau dengan kedua lututku yang gemetar, aku memberanikan diri membuka pintu yang menghubungkan dapur dengan kamarku. Dengan seluruh keberanian yang ada akhirnya aku berhasil membuka pintu, hari sudah lumayan sore tapi masih cukup terang untuk menyinari setiap sudut ruangan. Mataku terus bergerak liar kekiri dan kanan mengawasi setiap sudut ruangan yang aku tinggali ini. Sejujurnya aku masih takut tentang hal yang tadi.

Aku pun melemparkan tasku kesembarang tempat dan merebahkan diri diatas lantai tanpa alas apapun. Pikiranku masih melayang tak tentu arah. Sebagian sisi diriku masih tak mempercayai dengan apa yang terjadi tadi. Tapi, karena aku langsung lari begitu saja keraguan itu membuatku tidak bisa melupakannya dan terus berputar didalam kepalaku.

'BRAKK!'

Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari arah dapur. Pikiranku yang tengah memikirkan kejadian tadi siang membuatku berkhayal akan sesuatu yang tidak bagus. Bagaimana bila hantu bernama Sakura itu menemukan tempat tinggalku dan akhirnya menghantuiku selamanya. Memikirkannya saja membuatku ingin segera keluar dari apartemenku walau harus lompat dari jendela. Tapi tunggu, kalau aku melakukan hal itu mungkin aku yang akan menjadi hantu beneran, toh apartemenku ada dilantai 4.

'Tap...Tap...Tap...!'

Aku dapat mendengar langkah kaki yang mengema didapur yang menghubungkan antara pintu masuk dengan kamarku ini. Aku pun langsung bangun dan terus memandangi pintu didepanku ini. Lalu beberapa detik kemudian pintu didepanku terbuka lebar dan tanpa pikir panjang aku langsung menerjang lalu memeluk kedua kaki sosok makhluk yang ada dibalik pintu.

"Aku mohon! Tolong janngan hantui aku. Aku hanyalah bujangan yang gak laku-la..."

"Hei, kau ini bicara apa sih? Cepat lepaskan Naruto-nii!"

Makhluk misterius itu memotong perkataanku dan dari suaranya ini rasanya aku kenal dengan jelas siapa makhluk ini. Jangan sampai benar-benar dia, aku sedang tidak ingin diomeli olehnya. Aku perlahan melepaskan pelukanku pada kakinya yang mulus dan lembut lalu mendongkak. Dan benar saja, segunduk rambut merah dengan empat mata yang menatap tajam kearahku. Aku hanya bisa senyum-senyum gaje mendapat deathglare seperti itu.

"Ka-karin-chan ada perlu apa kau kesini?" tanyaku seraya berdiri.

Dia masih menatapku dari atas sampai bawah. Oh, kami-sama mengapa kau kirimkan orang seperti ini pada saat ini pula. Karin Uzumaki, adik perempuanku yang mempunyai sifat hampir mirip dengan ibu. Pasti dia datang untuk mengomeliku lagi sampai kering. Dia lebih menyeramkan dari hantu yang bernama Sakura yang baru kutemui beberapa saat lalu. Kalau aku boleh memilih aku ingin Karin digantikan saja sama hantu tadi.

"Naruto-nii! Apa yang kau lakukan barusan? Apa kau berusaha melecehkan adik kandungmu sendiri?"

"A-Ah...Bu-Bukan begitu! Ta-Tadi aku bertemu dengan ha-han.." kata-kataku tertahan saat kedua mataku secara tak sengaja bertemu dengan kedua mata Karin dan akhirnya aku menundukan kepalaku "Ma'af!"

"Baiklah akan aku ma'afkan kali ini tapi untuk lain kali akan aku pastikan kau mendapat bayaran yang setimpal!"

Rasaya tubuhku melemas setelah mendengar ancaman yang meluncur dari bibir manis adikku ini. Setelah meluncurkan kalimat ancamannya, Karin mendudukan diri seraya meneliti setiap sudut ruangan apartemen seluas 6 tatami yang aku tinggali ini.

"Naruto-nii! Kau pasti sedang berpikir kedatanganku kesini pasti untuk menceramahimu kan?" tanya Karin seraya melihatku dari sudut matanya.

"Hmmm...! Ya, memang begitu pikiranku saat ini" tanggapku seraya mendudukan diri didekat jendela dan memandang kelangit yang mulai gelap. "Lalu kali ini apa yang ingin kau katakan paadaku? Tapi ingat! Aku sudah mengatakan ini dari dulukan? Aku tak akan pulang sampai ulang tahunku yang ke-25"

"Aku tahu, tapi kedatanganku kali ini bukan untuk membujukmu pulang tapi..." Karin menghentikan kata-katanya membuatku menoleh kearahnya "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa 2 hari yang lalu ayah jatuh sakit lagi. Ia ingin kau pulang dan menyerah saja. Tentunya kau tau tentang perjanjian itu?."

"A-Apa! Ayah jatuh sakit!?" aku merasa disambar petir setelah mendengar kabar yang dibawa Karin. "Ta-Tapi aku belum bisa kembali karena aku belum bisa memenuhi persyaratan yang diberikan kepadaku sebelum meninggalkan rumah. Bila aku kembali sekarang sama saja aku menyerah dan menerima perjodohan itu."

"Aku tahu. Aku bukannya ingin membebanimu dengan hal seperti ini. Hanya saja aku hanya ingin Naruto-nii mengetahui keadaan ayah dan tidak membuat masalah yang tidak perlu lagi"

"…!"

Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa meremas dan menjambak rambutku kuat-kuat. Pikiranku mulai melayang kemana-mana. Aku tak tahu kalau aku tak boleh membuat masalah lagi dengan keluargaku kerena akan membebani pikiran ayah dan membuat kesehatanya memburuk. Tapi aku masih tak terima dengan ketentuan yang disebut tradisi oleh para tetua dari keluarga Uzumaki. Aku tak ingin masa depanku ditentukan dengan cara ini. Lagi pula aku juga tak ingin mendapat pendamping hidup melalui perjodohan, apalagi orang yang dijodohkan denganku itu pacar temanku sendiri. Aku tak mau melukai temanku dengan cara seperti ini.

"Naruto…!"

Aku mendenar seseorang memanggilku saat aku masih asik menjambak rambutku sekuat mungkin untuk memberi ruang agar otakku dapat bekerja lebih baik untuk dapat mencerna situasi ini. Oh tidak, ayah sakit keras. Apa mungkin gara-gara aku keras kepala menolak untuk menerima perjodohan itu?.

"Narutooo…!"

"Ada apa lagi sih Ka…." lidahku serasa kaku saat aku melihat sosok didepanku yang bukan lagi sosok Karin, melainkan... "Huuuwaaaaaaa…Hantuuuuu…!"

Aku reflek menjauh dari hantu yang berada didepanku. Namun aku tak bisa lebih jauh lagi karena aku tak punya tempat lain di dalam apartemen seluas 6 tatami ini. Sekarang aku hanya bisa duduk bersandar pada dinding dengan hantu wanita berambut pink yang sendari tadi menatapku tanpa berpaling sedikit pun. Oh, Kami-sama kau memang baik mengabulkan doaku tadi. Sekarang aku tak tahu apa yang harus aku lakukan dengan hantu didepanku ini. Tapi benerapa saat kemudian tersirat sebuah ide apa yang aku harus lakukan.

"Oh...! Hantu pohon Sakura yang baik, aku mohon jangan hantui diriku ini. Aku hanya bujangan miskin yang tak punya apa-apa selain nyawa ini" ujarku seraya bersujud didepannya.

"Bodoh! Aku ini bukan hantu pohon. Aku arwah manusia tahu!"

"Eh!? Arwah manusia? Bukannya sama saja dengan hantu?" aku hanya bisa memasang wajah tak berdosaku dihadapnnya .

"Eh? Masa, memangnya sama ya?" dia malah balik bertanya dengan wajah yang sama tak berdosanya sepertiku.

"Sama!"

"Oohh..! Gyaa! Kenapa malah OOT!? Aku kesini kan ingin meminta bantuanmu, Naruto!"

"APA! Mi-Minta bantuanku? I-Itu tidak mungkin!" aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Hantu meminta pertolonganku? Jangan-jangan aku dijadikaan tumbal olehnya.

"Ayolah, aku mohon! Karena hanya kau yang bisa melihatku dan mendengar suaraku"

"Mustahil...Mustahil...! Aku tak mau berurusan dengan hantu!"

"Hmph...! Kalau begitu kau harus bersiap aku gentayangi setiap hari!"

"Gyaaa...! Ba-Baiklah-baiklah apa mau mu!" akhirnya aku menyerah dengan satu ancaman yang meluncur dari bibir manis Sakura. Aku benar-benar tak ingin bila ia menghantuiku.

"Aku mau kau membantuku menemui seseorang yang pernah mengisi hidupku dan menyebakkan aku jadi seperti ini"

"I-Itu saja? Tapi setelah aku berhasil membantuku kau tak akan gentayangan didekatku lagi kan?"

"Hmm...Baiklah!"

Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Walau aku ketakutan setengah mati namun, disudut hati kecilku ingin membantunya dan penasaran dengan apa yang menimpa Sakura hingga ia gentayangan seperti ini. Hari tak terasa sudah sore dan perutku mulai keroncongan. Kerena tak ada apapun untuk makan malam, aku memutuskan untuk makan malam di kedai ramen Ichiraku. Tentunya Sakura ikut mengekor dibelakangku. Rasanya aku benar-benar telah dihantui.

Naruto pov OFF - Normal Pov ON

Sinar matahari mulai menyusup diantara cela-cela sebuah sebuah gordeng dan menyinari Naruto yang masih bergelut diatas futonnya. Akan tetapi tanpa disadari Naruto yang masih tertidur pulas, sosok makhluk dari dunia lain tengah berdiri disamping Naruto dengan tatapan yang menakutkan.

'GRAAAKKK...!'

"HEY! Pemalas cepat bangun!"

Teriak sosok yang tak lain adalah Sakura setelah membuka lebar gordeng sehingga sinar matahari menyinari Naruto seutuhnya.

"Uhmmm…" Naruto masih asik dengan dunianya sehingga apa yang dilakukan Sakura itu sia-sia belaka.

"Hei bangun dasar cowo malas!" teriak Sakura sekali lagi namun, respon Naruto tetap Nihil "Hayolah aku sudah berbaik hati membangunkanmu dan ini hasilnya?"

Sakura tak tahu harus bagaimana lagi untuk membangunkan Naruto. Akan tetapi tiba-tiba tersirat ide nista dikepala Sakura. Sambil berharap-harap cemas apakah dia bisa atau tidak untuk menyentuh suatu barang lain lagi seperti dia bisa menyentuh gordeng tadi. Dan ternyata dia bisa menyentuh sisi futon yang di tiduri Naruto. Dengan senyum iblisnya Sakura pun melaksanakan ide nistanya itu.

"HOY! COWOK PEMALAS CEPAT BANGUN! SAMPAI KAPAN KAU MAU TIDUR!" teriak super toanya Sakura seraya menarik paksa futon yang ditiduri Naruto sehingga membuat Naruto terguling dilantai hingga ia menabrak dinding.

"Gyaaa...! Sakit...!" raung Naruto yang memegangi keningnya yang benjol akibat terbentur kedinding "Hoy! Apa yang kau lakukan?"

"Yeah, habisnya kau susah sekali untuk aku bangunkan!"

"Lalu, apa tujuanu membangunkanku?" tanya Naruto dengan nada menyelidik.

"Yeah, aku hanya ingin memastikan apa benar kau mau membantuku?"

"Oh! Itu, akan aku lakukan bila aku punya waktu luang!" jawab Naruto seraya membereskan futon yang berantakan dan memasukannya kedalam lemari.

"Apa? Jadi, maksudmu kau tak akan membantuku sekarang?"

"Yeah, asal kau tahu. Aku juga memiliki kehidupan jadi aku akan mengutamakan kehidupanku terlebih dahulu." Naruto meraih tas selempanya yang berada di sudut ruangan dan mengeluarkan ponselnya untuk melihat waktu. "Ah, gawat! Matkul siang ini itu Geografi!"

"Ta-Tapi...Apa kau ta..."

Kata-kata Sakura terhenti saat melihat kesibukan Naruto yang tengah bersiap untuk berangkat kekampusnya. Dia memilih untuk diam dan mendudukan diri disudut ruangan itu. Naruto sendiri tak tahu harus memulai dari mana karena apa yang terjadi kemarin dan sekarang itu serasa hanya akan ada dalam mimpi. Namun rasa sakit di keningnya memang nyata jadi semua itu memang kenyataan. Disisi lain ia juga memiliki kehidupan dan masalahnya sendiri. Ia tak tahu cara untuk membantu Sakura yang bukanlah manusia yang berwujud nyata dan hanya ia saja yang bisa melihatnya.

Sakura sebenarnya tak mau mengganggu kehidupan pribadi Naruto. Tapi dia tak tahu harus bagaimana lagi. Setelah tiba-tiba tersadar dalam bentuk arwah sementara tubuhnya masih terbaring lemah di rumah sakit. Bahkan kedua orang tuanya tak mampu melihat maupun mendengar suaranya. Lalu, orang terpenting dihatinya pun tak mampu melihatnya. Setelah terlunta-lunta tak tentu arah akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang bisa melihat dan mendengar suaranya. Sakura merasa menemukan secercah cahaya didalam kegelapan yang menyelimutinya.

"Ah, sorry! Sekaranh aku harus berangkat kuliah dulu."

Suara Naruto menyadarkan Sakura dari lamunannya. Nampak Naruto sudah berada diambang pintu bersiap berangkat menuju kekampusnya. Sakura tak bisa berkata apapun dan hanya bisa melihat Naruto menghilang dibalik pintun yang tertutup. Sekarang ia hanya memeluk kedua kakinya dan memhenamkan wajahnya diantara kedua pahanya.

"Oh, Iya! Nanti siang tunggu aku di taman tempat kita pertamakali bertemu."

Sakura cepat mendongkak, namun ia hanya mendapati pintu yang sudah tertutup kembali. Sekarang Sakura merasa secercah cahaya itu bersinar lebih terang dan terasa hangat. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya menunggu dan berharap Naruto benar-benar akan membantunya. Sedangkan Naruto hanya sebatas itu yang ia bisa lakukan untuk Sakura sekarang. Untuk saat ini ia harus segera sampai di kampus tepat waktu karena ia tak mau sampai bermasalah dengan Dosen yang mengajar matkul hari ini.

To be Continue