Chapter 2

Bosan.

Itulah yang dirasakan Luhan saat ini. Ayah dan ibunya ikut tertular virus menyebalkan kakaknya. Huh!

Mereka –ayah dan ibunya- berpamitan untuk pergi ke Macau, mengurusi cabang perusahaan yang bergerak dibidang otomotif yang ada disana. Tak hanya satu atau dua hari, mereka pergi selama lima bulan. Mau tak mau, membuat Luhan sendiri dirumah besar itu. Kakaknya juga sibuk bersama teman se-grupnya. Untung saja, masih ada Bibi Jung. Jadi, ia tak begitu kesepian dan takut saat berada dirumah. Tapi, karena memang tugas Bibi Jung mengurus rumah, ia jadi tak bisa mengajaknya bermain atau sekedar mengobrol. Yah, ia maklum. Yang penting masih ada yang menemaninya dirumah.

Kakinya berjalan menyusuri trotoar yang penuh sesak dengan orang. Seoul sangat ramai dijam-jam seperti ini. Semakin malam semakin ramai, ya, itu benar. Luhan mengenakan pakaian simple layaknya gadis SMA lain. Celana jins putih dan kaos berwarna biru muda dengan motif rusa. Menggemaskan sekali.

Ia tak berpikir sebelumnya, akan kemana dirinya. Ia hanya mengikuti kemana kakinya akan membawanya. Ia lantas berhenti dikedai Buble Tea yang cukup ramai itu. Ia penasaran, apa yang membuat Sehun tertarik dengan minuman ini. Dengan santai, ia melangkah masuk dan memesan satu cup buble tea rasa choco. Sembari menunggu pesanannya jadi, ia duduk disalah satu kursi yang memang sudah disediakan disana. Memainkan permainan apapun itu yang ada di smartphonenya. "Permisi, apa aku boleh duduk disini?" suara itu membuatnya mau tak mau mendongak. Seorang pemuda dengan pakaian serba hitam dan topi, juga masker. Luhan melihat sekelilingnya, ramai. "Silahkan," ia memberikan senyum manisnya kendati ia merasa was-was.

"Tidak usah takut. Aku bukan penjahat," Luhan meringis, "Ah, tidak." Tapi, tunggu… ia merasa kenal dengan suara itu. Suara yang merdu tapi lembut. Suara yang akhir-akhir ini membuatnya terpesona. Suara yang akhir-akhir ini membuatnya merona. "Sehun oppa?"

Pemuda dihadapannya tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit. "Kau mengenaliku?" tanya nya sembari melepas maskernya. Membuat Luhan membelalakkan matanya dan lagi-lagi membuat ppinya merona. "Oppa, jangan dilepas. Bagaimana jika ada yang mengenalimu?" Sehun tergelak, "Tidak, mereka semua sibuk dengan urusan mereka sendiri." Luhan mengamati seluruh penjuru kedai. Ya, saat ini memang tengah banyak pengunjung berdatangan. Beruntungnya mereka berada di pojok ruangan dan Sehun membelakangi pintu masuk. Membuatnya aman, setidaknya untuk saat ini.

"Kau menyukai buble tea juga?" pertanyaan Sehun membuatnya kembali tersadar dari lamunannya. "Sebenarnya, aku baru akan mencobanya hari ini."

"Benarkah? Lalu, kau memesan yang rasa apa?" Luhan menunduk malu. Ia menjawab dengan lirih, "Choco" Sehun yang duduk didepannya membulatkan bibir. "Itu rasa kesukaanku," Ujar Sehun.

"Aku tahu." Perkataan Luhan membuat Sehun tersenyum, "Kau pasti sangat menyukaiku, ya?" tanya Sehun dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Pemuda itu kemudian terkikik kecil setelah melontarkan pertanyaan tadi. "Oppa pergi sendiri?" bukannya menjawab pertanyaan Sehun, Luhan malah balik bertanya. Well, sebenarnya itu hanya pengalih perhatian saja. Demi Tuhan, ia sangat gugup.

"Permisi, ini pesanan anda. Dua cup choco buble tea." Mereka sama-sama mendongak, mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang sudah mengantarkan pesanan mereka. "Ahh, sudah lama sekali aku tidak meminum ini." Kening Luhan berkerut. "Memangnya kenapa, Oppa?"

Sehun mendesah dengan sedikit keras, "Yah, aku terlalu sibuk beberapa minggu belakangan ini. Jadi, aku baru bisa datang hari ini." Ucap Sehun.

"Tapi, kenapa oppa pergi sendiri?" Sehun menatap Luhan, membuat gadis itu malu lalu mengalihkan pandangan. "Aku ingin saja,"

"Uhm, kalau begitu aku pergi dulu, oppa." Luhan beranjak dari duduknya. Berniat pergi dari kedai itu dan melanjutkan acara jalan-jalan malamnya. Meskipun, tak bisa ia pungkiri jika ia masih ingin bersama Sehun. Tapi, sekali lagi ia tak bisa mengontrol detak jantungnya. Ia bahkan takut Sehun bisa mendengarnya. "Kau mau kemana?" Luhan terlihat kikuk, "Oh, eumm… aku akan berjalan-jalan disekitar sini, oppa." Yang tak bisa Luhan sangka adalah saat Sehun ikut beranjak, "Aku ikut." Dan Luhan hanya bisa pasrah ketika Sehun, idolanya itu, menariknya pelan untuk berjalan meninggalkan kedai Buble Tea itu.

Mereka berjalan dengan pelan. Sesekali memasuki toko-toko yang ada disekitar jalan. Tak jarang juga, mereka mampir ke stand-stand makanan. Menyenangkan, pikir mereka berdua. "Hey, kenapa kau juga sendiri? kau tak bersama teman-temanmu atau keluargamu?" tanya Sehun ketika mereka tengah duduk dibangku taman yang saat itu tengah sepi. Beberapa pasangan pasti memilih menghabiskan waktu mereka untuk berkencan di mall, bioskop, dan tempat-tempat lain. "Aku kesepian dirumah. Woo Hyun oppa sibuk bersama grupnya. Ayah dan ibu sedang berada diluar negeri, Kyungsoo juga pasti sedang mengikuti bimbingan belajar." Ia mengerucutkan bibir pinknya yang mungil. "Bagaimana dengan kekasihmu?" Sehun mengerutkan keningnya saat ia melihat ekspresi kesal Luhan. "Aku tak punya kekasih, oppa."

Sehun terkikik, oh, gadis ini lucu sekali.

"Baiklah, aku rasa kau benar-benar kesepian." Ujar Sehun mencoba menggoda gadis mungil disampingnya itu.

Wajah Luhan langsung tertekuk. Ia menghela napas berat. "Ayah dan ibu memang selalu begitu. Mereka hanya pulang saat hari-hari penting saja." Lirih Luhan. Sehun yang ada disampingnya pun menatap Luhan prihatin. Ah, ia jadi merindukan keluarganya.

Tangan Sehun terangkat untuk mengusap bahu Luhan, membuat gadis cantik itu menatap Sehun. "Kenapa, oppa?" pertanyaan polos itu membuat Sehun tersenyum simpul. "Tidak," kata Sehun sambil tangannya beralih untuk mengusak rambut halus Luhan.

"Sudah semakin larut. Kau tak ingin pulang?"

Luhan memandang jam yang ada dipergelangan tangannya, kemudian mengangguk singkat. "Hmm. Lagipula besok aku masih harus sekolah,"

"Aku antar." Gerakan Luhan yang akan beranjak dari bangku terhenti. Sehun? Akan mengantarnya?

"Tidak perlu, oppa. Aku tahu oppa pasti lelah dan ingin segera istirahat," meski terkejut, Luhan tetap membalas ucapan Sehun. "Gwenchana, ayo!"


Sehun tak berhenti tersenyum saat dirinya sudah sampai di dorm. Member lain yang melihat kelakuan Sehun hanya mengernyit bingung. Sehun seperti orang gila.

"Berhenti bertingkah seperti orang gila," Ujar Kai. Pemuda usil tersebut mendudukkan dirinya disamping Sehun yang sedang duduk di sofa depan tv. Tangannya meraih remote guna menyalakan tv tersebut.

"Hah, lebih baik aku menonton tv saja. Dari pada tertular 'gila'." Kai menekan kata gila, dan oh! Sehun menoleh kearahnya.

"Kenapa?" Kai bertanya dengan ketus. Dahi Sehun mengkerut bingung, "Oh, bukannya kau mengajakku bicara?"

"Tidak. Aku mengajak bicara hantu yang ada disebelahmu itu." Sehun mencibir kearah Kai, "Gila,"

Sementara Kai hanya mendengus kesal, "Bukankah kau sendiri yang gila," gumam Kai saat Sehun telah beranjak menuju kamarnya.


"Aisshhh…. Kenapa perasaanku jadi begini. Huaaa,,,, Ibu…." Luhan berteriak keras setelah dirinya menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Beruntungnya rumah sedang sepi, jadi Luhan bisa tenang.

Mata coklat gadis itu menerawang, menatap langit-langit kamarnya. "Huhh.."

Luhan memegangi dada bagian kirinya, dimana sebuah organ miliknya berdetak dengan kencang. "Aneh sekali, aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Sehun oppa memang berbeda,"

Gadis itu teringat sesuatu, kemudian ia segera mengambil ponselnya yang ada dinakas. Ibu jarinya mengotak-atik ponselnya, gotcha!

Bibir Luhan melengkung keatas dengan sempurna, ia bahkan hamper nyengir. "Ya, apa aku gadis paling beruntung didunia? Omo! Sehun oppa bahkan memberiku nomor ponselnya. Wuhuuuu!" gadis itu bersorak dengan gembira.

Luhan akan mimpi indah hari ini.


"Tidak panas," gumam Kyungsoo. Luhan menegrnyit bingung, "Apa? Aku memang tidak sedang demam,"

Kyungsoo menghela napas. Sahabatnya itu aneh sekali, dari tadi pagi sampai istirahat kedua saat ini masih saja tersenyum-senyum tidak jelas. Bahkan tadi, Luhan sempat terkena semprotan kekesalan Guru Lee.

"Kau aneh sekali tahu," desis Kyungsoo.

"Aneh? Aneh bagaimana?" Tanya Luhan. Sahabatnya yang tergila-gila dengan Kai itu menggeleng prihatin sambil kemudian berdecak.

"Hmm,, benar-benar aneh. Kau bahkan selalu tersenyum seperti orang gila seharian ini-"

Luhan tersipu, "—Nah loh, kau baru saja tersipu. Sebenarnya ada apa, huh?"

Gadis dengan rambut coklat panjang itu nyengir lebar. "Hehe, tidak apa-apa."

"Hehe, aku tidak percaya Nyonya muda Xi."

Luhan mendengus sebal, gadis yang merupakan sahabatnya itu memang sesekali berubah menjadi menyebalkan.

"Kau harus percaya, Nyonya muda Hwang." Luhan mencibir.

"Lagipula ini rahasia, Kyungie. Jangan mendesakku, oke?" tangan Luhan tertangkup didepan dada, meminta Kyungsoo untuk tidak bertanya apapun.

"Baiklah-baiklah. Kau menang dengan tatapan memelasmu itu," Luhan tersenyum. "Yeay! Oh, dan itu bukan tatapan melas. Itu adalah tatapan seorang putri cantik,"

Kyungsoo memasang mimik ingin muntah, pura-pura tak setuju dengan ucapan Luhan barusan.


TBC

cepet kan, ya? #kedip-kedip. semakin banyak yg review, semakin cepet update nya :) see you in the next chapter...