3 months later...,

Bau kue almond dan seduhan tehh jasmine menguar dari arah dapur utama disamping sebuah taman bergaya Inggris yang asri. Seorang gadis bermata biru tengah duduk di sebuah bangku taman disamping danau buatan dimana Sekeluarga angsa putih tengah asyik berenang.

Mata gadis itu menatap mengikuti gerak 4 ekor anak angsa yang berusaha berenang mengikuti sang induk. Terlihat lucu dan cukup menghibur hatinya yang gundah.

Ya, danau buatan yang jernih ditengah taman bunga mawar itu adalah satu-satunya oase yang mampu menenangkan baginya.

Gadis itu-Naruto, membungkukkan tubuhnya mendekat kearah permukaan air yang tenang. Membasahi tangannya kemudian mengambil kelopak mawar berwarna pink yang mengapung disana.

Kelopak yang malang, gugur tertepa angin dan terapung di tengah danau asing yang tak pernah tersentuh. Sejujurnya, itu adalah lukisan perasaan dirinya sendiri saat ini.

Berada disebuah tempat asing yang belum kau kenal dan harus tinggal bersama orang-orang yang bahkan baru pertama kau jumpai. Tentu itu sangat berat bukan. Dan Naruto harus menjalani itu.

Menghabiskan seumur hidupnya disini. Tinggal disebuah rumah yang mengejutkan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Begitu besar luas dan dingin.

Sesaat kemudian, seorang pria berjenggot rapi dengan setelan jasnya yang elegan melangkah mendekat.

Ini sudah pukul 1 siang, dan Naruto yakin sudah waktunya Asuma-san datang menghampirinya.

"Makan siang sudah siap nona. Apakah anda ingin makan ditaman seperti biasa?",

"Ya, bisakah", tukas naruto. Iris birunya menatap pria berwajah bijaksana yang ia kenali sebagai sang kepala rumah tangga."Dan tolong jangan panggil aku Nona, Asuma-san. aku tak suka itu", tambahnya.

Asuma mengangguk paham, kemudian melambaikan tangannya sebagai tanda agar para pelayan lainnya segera membawa makan siang sang gadis kesana.

"Asuma-san", suara sang gadis kembali terdengar. "Bisakah kau tetap tinggal menemani ku makan?", tanya nya penuh harap

"Maafkan saya, Naruto-sama", Asuma-san menunduk . Ia mengepalkan tangannya disamping, menunjukkan rasa penyesalan yang dalam. "Masih banyak yang harus saya kerjakan. Para pelayan akan menemani anda selagi makan, saya undur diri",

Naruto memaksakan tersenyum, tak ingin sang kepala rumah tangga itu merasa bersalah padanya. Semenjak tinggal disini, Asuma-san lah yang telah banyak membantunya. Mengurus segala keperluannya dan mengajarinya banyak hal.

Naruto mengambil sebuah ponsel butut dari dalam sakunya. Mengecek untuk kesekian kalinya, namun masih juga tak ada email maupun panggilan masuk dari kakeknya. Sudah seminggu ini semenjak terakhir kali kakeknya itu menelpon.

Ia merasa sedikit khawatir mengenai kondisi kesahatan kakeknya yang mulai menurun. Naruto ingin sekali menemui satu-satunya keluarga miliknya yang tersisa itu. Memastikan dengan matanya sendiri jika kakeknya baik-baik saja. Ia benar-benar tak ingin kehilangan lagi.

Naruto menyesap tehnya perlahan, mencoba merilekskan pikirannya. Ia menutup matanya sejenak. Pening dikepala yang ia derita semenjak hidupnya berubah semakin menjadi saja.

Ya, siapa yang menyangka akan seperti ini. Seorang gadis yatim piatu yang diasuh oleh seorang pemilik kedai ramen sederhana dipinggir stasiun adalah cucu dari pewaris Namikaze corps yang kaya raya.

Tak ada yang menyangka, bahkan sampai sekarang Naruto masih sulit memahaminya. Almarhum ayahnya ternyata adalah anak tunggal dari Hashirama Senju, CEO dari Namikaze corps.

Jatuh cinta pada gadis biasa kemudian memutuskan untuk meninggalkan seluruh kemewahannya untuk menikahi sang pujaan hati. Setidaknya itu adalah cerita yang baru Naruto dengar dari penuturan pengacara pribadi kakeknya.

Dan pernikahan yang sudah diatur ini pun adalah salah satu bentuk tradisi keluarga yang berusaha dihindari oleh almarhum ayahnya dulu. Dan Naruto tak dapat mengelak kali ini. Melihat wajah kecewa sang kakek atas penolakannya, ya Tuhan Naruto tak sanggup membayangkannya. Ia masih amat terlalu bersyukur masih memiliki keluarga, dan Ia tak ingin membuatnya kecewa.

Naruto melangkah menuju kamar mandi, melepaskan pakaiannya saat masuk lalu menyalakan shower. Ia membiarkan pancuran air yang deras mengalir membasahi setiap jengkal tubuh tan-nya yang terasa lengket dan penat.

Guyuran air yang dingin seakan memijat punggungnya, membuatnya lebih rileks dan melenyapkan seluruh ketegangannya. Dan kalau mau jujur, juga kepedihannya.

Tangan tan-nya meraba-raba mencari handuk. Namun sepertinya, para pelayan lupa untuk menyiapkan handuk kering di kloset. Tanpa banyak berpikir, Naruto melangkah keluar; tak ambil pusing dengan keadaannya yang setengah telanjang karena hanya handuk kecil yang menutupi area V-nya.

"Ku dengar kau sedang sakit kepala", sapaan suara baritone yang khas mengagetkan gadis bersurai blonde itu. "Apakah mandi bisa menyembuhkannya? Aku baru tau",

Bulu mata Naruto terasa lengket oleh air, namun entah bagaimana ia berhasil membuka mata lalu mendongak menatap pria bersurai raven yang kini tengah duduk di kursi malas itu dengan marah bercampur syok.

"Apa yang kau lakukan disini", cicitnya terengah, melangkah mundur berusaha menggapai apapun yang bisa menutupi seluruh tubuhnya. Juga berusaha menjaga agar wajahnya tidak bersemu merah, namun gagal total.

Sang Uchiha muda mendekatinya, bibir tipis itu melengkung. "Memangnya salah jika aku berada dirumah ku sendiri", tukasnya tajam.

sang gadis menelan ludah gugup karena pemuda itu kian mendekat dan ia tak kunjung jua menemukan sesuatu untuk menutupi tubuhnya.

Ya tuhan ini sangat memalukan, teriaknya dalam hati.

Onix itu berkilat tajam. Memberikan tatapan gelap yang Menguliti setiap inchi tubuh tan-nya penuh penilaian.

"Ka..kapan kau kembali bukankah kau harusnya ada di Amerika", naruto bergerak kikuk, mencoba menutupi gundukan kecil payudaranya dengan lengan.

"Hn",

"Bi..bisakah kau keluar, aku mohon",

Jantung Naruto berdegup kencang, mungkin sekarang wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Tubuhnya bergetar perlahan.

Sasuke menyeringai tipis. Ia mendekat, mengeliminasi jarak diantara mereka. Seakan tak memperdulikan ketakutan yang terpancar dari mata sang gadis.

Ia bisa mencium aroma citrus bercampur orange yang sangat nyaman di indra penciumannya. Menghirupnya perlahan seakan tak pernah mencium wangi seeksotis itu.

Ia mengecup singkat pundak kecoklatan yang masih terlihat segar oleh air itu lalu mendapati getaran hebat dari dalam dirinya. Sebuah Gejolak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Kau terlihat kurang baik, beristirahatlah ",

Sasuke melepaskan jasnya lalu menyampirkannya ke pundak polos berkulit tan itu. Dan tanpa menoleh lagi ia pergi begitu saja meninggalkan gadis musim panasnya yang tengah syok dalam diam.

Dan begitu, pintu mahoni itu tertutup. Sang blonde merosot lemas kelantai. Jantungnya berdegup cepat, badannya bergetar penuh penolakkan. Ia menyentuh bahunya yang terasa panas oleh kecupan sang raven. Ini pelecehan, desisnya gemetar.

Matanya mulai berair namun sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak menangis.

Ya, jika Uchiha brengsek itu tau aku menangis ia pasti akan tertawa penuh kemenangan dan itu tak boleh terjadi, pikir naruto geram.

Ia mengepalkan tangannya penuh amarah dan bersumpah demi dirinya sendiri bahwa sampai kapan pun ia tak akan pernah menyerahkan dirinya kepada UCHIHA SASUKE. Never !

TBC