[Pegunungan Ancestral, di dalam kota Glory.]


"Ughh.." Sambil mengerang aku mulai membuka mataku perlahan. Menyeka air mata yang mongering di tepi mataku, aku mulai mendapatkan penglihatan yang lebih jernih.

"Dimana aku?" Berbicara dengan diriku sendiri, aku mulai melihat sekeliling hanya untuk melihat sebuah ruangan yang cukup rapih dengan hanya lemari pakaian yang terdapat di sudut ruangan dengan tempat tidur yang sedang aku duduki sekarang.

Dilihat dari luas ruangan dan kamar tidur yang kutempati, jelas ini bukanlah rumahku!

"Sial, Dimana ak-" Sebelum menyelesaikan perkataanku, seakan terbentur sebuah pintu aku mulai mendapatkan ingatan yang membanjiri otakku dengan segera. Sebuah ingatan dari hari sebelumnya dan ingatan dari orang yang menempati tempat ini.

Mencoba untuk memproses apa yang terjadi, aku mulai memijat pelipisku dan mulai mencoba untuk mencari kesimpulan.

Setelah beberapa menit memilah-milah informasi atau ingatan yang kudapat, aku mulai menempatkan sebuah kesimpulan bahwa. Dihari sebelumnya, aku mencoba untuk menikmati hari liburku dengan menonton Tv sambil memakan buah yang bisa kuingat dengan jelas bahwa, saat itu aku tertawa dan tanpa sengaja menelan daging bersama bijih buah Rambutan yang membuatku tersedak sampai mati.

Setelah itu, aku berbicara dengan Dewa atau Tuhan tanpa wujud yang memberiku dua pilihan, antara aku memilih untuk masuk ke Surga, atau melakukan Reinkarnasi. Dan tentunya aku memilih untuk melakukan reinkarnasi. Setelah memilih alam yang kuinginkan, sang Dewa mulai memberiku tiga permintaan yang kujawab dengan sepenuh hati.

Dan sekarang aku disini, di dalam rumah kecil yang terdapat di kota Glory dengan ingatan asli pemilik tubuh yang kutempati sekarang.

"Huh… Sungguh kasihan." Aku mulai mendesah karena mengetahui fakta kenapa pemilik tubuh ini sebelumnya mati, dan sebelum aku menempati tubuhnya.

Dia adalah seorang anak yang bisa dikatakan riang dan juga berkeinginan tinggi. Lebih berkeinginan daripada Nie Li. Yah, sebelum kehancuran kota Glory dan kematian Ye Ziyun yang membangkitkan keinginan Nie Li untuk mencapai puncak tertinggi tentunya.

Empat hari yang lalu merupakan hari pendaftaran Holy Orchid Institute, dan tentunya dia lulus dan merasa senang karenanya. Fai Shinlin merasa sangan senang dan mulai berlari kerumahnya, tempat yang kutinggali sekarang, Untuk memberikan kejutan pada kedua orang tuanya yang masih berada di luar kota Glory, bahwa dia lulus untuk memasuki Holy Orchid Institute dan mulai belajar disana keesokan harinya. Sayangnya kesenangan itu sangat singkat.

Dia mulai menunggu dirumahnya berharap orang tuanya cepat pulang, sayangnya itu tidak terjadi. Setelah berjam-jam menunggu dia mulai merasa aneh dan mulai bergumam dengan dirinya sendiri 'Kenapa ayah dan ibu belum pulang? Biasanya tak akan sampai sesore ini.' Dan tak lama setelah termenung akan pemikirannya sendiri, sebuah suara ketokan yang tergesah-gesah terdengar dari pintu rumahnya.

"Tunggu Sebentar!" Dia merasa senang saat itu, berpikir bahwa orang tuanya sudah kembali dari luar kota Glory.

"Ayah, Ibu kenapa kalian lama!" Setelah membuka pintu, yang ditemukan Shilin bukanlah kedua orang tuanya, melainkan orang lain yang datang dengan ekspresi bersalah dan sedih.

"Shinlin, kuharap kau tenang… S-Sebelum kau mengatakan apapun, aku akan memberitahumu." Orang itu mulai mengambil nafas yang dalam dan mengeluarkannya lagi.

"Shinlin, Ayah dan Ibumu… Mereka mati."

Waktu mulai terasa terhenti bagi Shinlin.

"J-Jika mereka mati, bukankah akan ada mayatnya, dimana mayatnya sekarang." Dia menguatkan dirinya, teringat akan perkataan yang selalu diingat dalam dirinya.


'Shinlin, jika suatu saat orang yang kau sayangi tiada, kuharap kau tidak akan selalu bersedih untuknya. Bisakah kau melakukan itu.'

Shinlin mulai merasa bingung saat itu.

'Seperti yang dikatakan Ibumu Shinlin, kau adalah putraku, dan aku ingin kau kuat. Jadi jika itu terjadi aku ingin kau untuk tidak selalu bersedih' timpal sang Ayah.'

'Baiklah Ayah, Ibu.' Walaupun Shinlin tak mengetahui apa maksud Ayah dan Ibunya saat itu, dia hanya mengangguk untuk membuat orang tuanya senang.


"Maafkan aku. Kedua mayat orang tuamu dimakan oleh Beast diluar kota Glory."

"Oh, begitu… Kalau begitu, terimakasih… Terimakasih telah memberitahuku" Dengan suara kecil dia mulai berbalik dan mulai menutup pintu rumah dan mulai menguncinya lagi.

"Beast sialan, saat aku mencapai puncak alam Legenda, aku bersumpah atas nama Ayah dan Ibuku aku akan memusnahkan kalian semua!" Dengan suara serak dia bersumpah dan mulai berjalan menuju kamarnya, mengunci diri selama sehari sebelum kelas Holy Orchid Institute dimulai.

"Huh… Benar-benar sial, pertama orang tuanya, dan disusul oleh anaknya sendiri." Shin yang menempati tubuh barunya tidak bisa berhenti mendesah karena nasib sial Fai Shinlin.

"Dia terlalu memaksakan dirinya, mempelajari teknik Kultivasi yang tidak cocok untuk tubuhnya, dan berakhir dengan Soul Realm-nya pecah (Dantian), Ini tidak jauh berbeda dengan Xiao Ning'er."

"Fai Shinlin, Aku atas nama Dewa yang telah mengirimku kesini bersumpah, bahwa aku akan mewujudkan mimpimu untuk membunuh Beast dan untuk mencapai puncak alam kultivasi!"

"Jika aku benar, ini akan menjadi hari ke tiga aku absen dari Holy Orchid Institute." Melihat keluar rumah Shinlin (Shin) melihat matahari masih berada diposisi puncak yang menunjukkan masih siang hari.

Shinlin mulai berpikir bahwa, daripada masuk ke kelas hari ini yang sudah jelas dia sudah telat. Dia mulai berpendapat bahwa sebaiknya dia mulai melakukan latihan untuk tubuhnya.

"Sistem" Dengan suara rendah dia bergumam.

Saat itu Text mulai terbentuk dengan warna merah yang mengambang tepat di depan penglihatannya. Tiga opsi mulai terbentuk yang menampilkan kata; Attack, Attack Speed dan Defense.

"Sempurna!" Dengan senyum yang melengkung, dia mulai keluar dari rumahnya untuk mendapat beberapa pelatihan untuk tubuhnya.


Dan selesai disini.

Yah, semoga kalian suka dan maaf karena ada beberapa Drama disana sini hehe~.

Oh ya omong-omong, mulai bab selanjutnya, Shin akan memanggil dirinya Fai Shinlin (Shinlin), jadi kuharap kalian tidak akan bingung.


Sedikit cuplikan untuk bab selanjutnya!

"Nie Li, kenapa kau tersenyum?" Tanya Lu Piao

"Aku hanya sangat bahagia Lu Piao, hahah!" Dengan segera, Nie Li mulai memeluk Lu Piao sambil sedikit bercanda dengannya.

"Oi, Nie Li! Lepaskan aku, kau homo?! Cepat, lepaskan aku!"


Nah stop disitu dulu. Bab selanjutnya; Holy Orchid Institute & Xiao Ning'er

Bye bye~.