JONGIN

Aku mencium bau sesuatu. Sesuatu yang lembut dan hangat, yang membuat aku nyaman. Kemudian tanpa aba-aba aku semakin mendekat pada benda lembut itu. Ah, ini benar-benar sangat menyenangkan. Dengan perlahan aku membuka mataku. Hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah gorden berwarna putih bersih. Kemudian meja kecil dengan banyak buku bertumpuk. Kemudian lemari berwarna hitam lace putih. Aku merasa asing dengan semua ini.

Dimana aku?

Dengan pertanyaan mendesak itu aku bangun. Duduk di atas tempat tidur dengan seprai berwana putih serta bed cover hitam. Aku memang tak mengenali tempat ini! Pikirku panik.

"Oh, kau sudah bangun?" suara seseorang mencapai gendang telingaku. Dengan cepat aku menoleh ke asal suara. Seorang laki-laki tinggi pucat baru saja masuk melalui pintu disana. Dia memakai pakaian rumahan yang santai, senyum tersungging di bibir tipisnya. Matanya menyipit akibat senyumannya yang kecil itu. Aku tidak yakin dia masih bisa melihatku sekarang. Tapi tunggu dulu, laki-laki ini siapa?

"Siapa kau?" tanyaku. Tapi selagi bertanya, otakku sudah memberikanku artikel lengkapnya. Oh Sehun, pemuda bersarung tangan yang ku temui semalam di café. Sehun baru saja akan menjawab pertanyaanku saat aku menyelanya. "Aku tahu kau Sehun, "

Sehun terkekeh pelan mendengar jawabanku. Kemudian, dengan langkah lebar tapi elegan, dia berjalan mendekat menuju spring bad tempatku duduk sekarang. Dengan santai dia duduk di pinggiran ranjang itu tanpa melepas tatapan matanya dariku.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya dengan kening berkerut seakan-akan dia memang peduli dengan keadaan mentalku sekarang ini. Aku, yang sadar bahwa telah membuka rahasia kelamku pada orang di hadapanku ini semalam, merasa agak malu dan jengah. Tak pernah dalam hidupku kelemahanku terekspos seperti itu. Tapi sepertinya Sehun tidak peduli. Sekarang dia bahkan hanya menatap bolak balik antara mata dan tanganku seakan dia sedang menahan godaan besar untuk tak menyentuh tanganku itu. Aku tahu aku memang nonsense. Tapi itu terlihat seakan-akan Sehun terobsesi dengan tanganku. "Ponselmu sedari tadi berdering." Lanjut Sehun akhirnya.

Dengan perkataan itu, aku menghembuskan nafas berat. Itu pasti keluargaku. Mereka pasti benar-benar khawatir kepadaku sekarang. Mengira bahwa mungkin saja aku sudah bunuh diri karena tidak tahan menanggung sakit hatiku. Bah!

"Kenapa?" Lagi-lagi Sehun penasaran. Matanya masih melirik tanganku dengan raut wajah yang jelas-jelas menampakkan rasa ingin tahu.

Aku rasa aku tidak bisa menyembunyikan hal ini dari Sehun. Tidak setelah aku dengan sadar membeberkan rahasiaku kepadanya semalam. Sehun terpaksa harus ikut campur dengan masalahku yang menyedihkan ini. Dengan meremas bed cover yang menelimuti kakiku, aku menjawab "Hari ini hari pernikahan temanku."

Sehun terlihat terkejut ketika mendengar jawabanku. Kemudian, tiba-tiba saja dia mengambil sebelah tanganku. Yang membuatku sedikit tersentak. Namun ternyata Sehun hanya menepuk-nepuknya. Ah, rupanya dia ingin menenangkanku. Aku tersenyum kepadanya sebagai ucapan terima kasihku karena dia sudah cukup baik untuk berusaha menenangkanku, yang juga dibalas senyuman olehnya.

"Mau ku temani untuk menghadiri upacara pernikahan temanmu?" tawar Sehun. Senyumannya masih disana. Aku menggeleng sedih. Ku rasa aku tidak akan sanggup untuk hadir disana.

"Aku...tidak yakin aku bisa." sahutku, tertekan. Alis Sehun tertaut makin dekat seakan dia meragukan jawabanku. Dia menghentikan tepukan tangannya di atas punggung tanganku, kemudian dengan pelan dia mendekatkan wajahnya. Cukup dekat bagiku untuk bisa merasakan hangat nafasnya. Entah kenapa, itu tidak membuatku terganggu.

"Tapi kau ingin datang." Ujar Sehun, mengatakannya seakan itu sebuah fakta. "Aku akan ikut bersamamu, kau tahu? Aku tidak cukup gila untuk membiarkanmu pergi kesana seorang diri."

Dan tawaran itu terdengar menggiurkan. Tawaran Sehun akan melepaskanku dari banyak masalah karena aku tidak akan menyesal karena tidak datang ke acara pernikahan teman baikku dan juga aku tidak perlu datang sendirian kesana karena jelas itu akan melukai harga diriku dengan membiarkan laki-laki kelebihan tinggi itu mengetahui bahwa aku sudah kalah telak.

"Tapi acaranya dimulai jam setengah 10 pagi ini." elakku. Yang mana bukan merupakan sebuah pengelakan bodoh. Aku tidak ingin datang kesana terlambat dan menganggu kelancaran upacara pernikahan itu.

Sehun melepas sebelah tangannya dari tanganku untuk mengecek arlojinya. Aku masih menatapnya penasaran. Sehun masih menggenggam tanganku dengan erat dengan sebelah tangannya yang lain seakan dia tidak ingin melepaskan tangan itu. Aku samar-samar juga mengingat bahwa semalam pun Sehun tak pernah mau melepas tanganku dari genggamanya.

"Baru jam 8 lewat 19. Kita masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap kesana."

"Dan aku tidak punya setelan resmi untuk dipakai kesana karena aku malas pulang ke rumah." Elakku sekali lagi. Aku tahu aku terdengar menjengkelkan. Tapi aku benar-benar tidak yakin akan hal ini. Walau, benar kata Sehun, aku ingin menghadiri upacara pernikahan itu. Demi Kyungsoo.

Sehun bangkit dari ranjang ketika dia mendengar jawabanku. Aku memandang ingin tahu kepadanya. Ingin tahu kali ini bagaimana dia akan menyelesaiakan permasalahanku. Dia memandangiku dengan intens, sebelum kemudian bibirnya membentuk seringaian puas.

"Ku rasa postur tubuh kita tak jauh berbeda. Kau hanya sedikit lebih pendek dariku. Kau bisa menggunakan setelah resmiku tanpa menimbulkan banyak masalah." Ucapnya puas. "Sekarang bangun dari sana, dan ayo kita memilih setelan yang pas untukmu."

***

SEHUN

Kami sudah sampai di parkiran gereja tempat pernikahan teman Kai berlangsung sejak 10 menit yang lalu. Tak kami masih belum bisa keluar dari sini karena Kai masih sibuk duduk gemetaran di kursi penumpang di sebelahku. Tidak peduli apa yang aku ucapkan padanya, dia sepertinya tidak mau mendengar sepatah katapun.

Wajahnya tampak begitu bermasalah. Keningnya berkerut dan dia masih menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal erat seakan dia berniat ingin menghancurkan tangannya sendiri. Melihatnya seperti ini benar-benar membuatku frustasi ingin menyentuh kulitnya. Merasakan emosinya. Apakah dia gugup? Apakah dia marah? Apakah dia ketakutan? Emosi mana yang lebih menguasainya? Dan, ah, apakah emosi menyenangkan itu masih ada di sana ketika keadaannya seperti ini?

Kemudian, ketika akhirnya aku tidak sanggup. Aku melarikan tanganku ke kepalanya. Menyusurkan jemariku ke sepanjang kulit kepalanya. Untuk sekali ini aku sengaja tak menggunakan sarung tangan. Ini adalah kali pertamaku keluar rumah tanpa sarung tangan. Aku ingin tahu bagaimana pun perubahan suasana hati Kai ketika kami menghadiri upacara pernikahan ini agar aku bisa segera membawanya pergi dari sana begitu aku tahu bahwa Kai sudah tidak sanggup lagi.

Kai terkejut dengan sentuhanku. Dia mengangkat wajahnya dengan cepat dan segera bertemu mata denganku. Aku tersenyum menenangkan. Sekarang setelah aku menyentuh kulitnya, aku tahu bahwa dia hanya sedang gugup.

"Ayo kita keluar. 15 menit lagi acaranya dimulai." ajakku dengan suara yang ku usahakan agar terdengar gentle.

"Kau harus ada di sampingku, mengerti?" suara Kai terdengar mendesis ketika dia mengucapkan kalimat itu, hampir seakan dia sedang mengancamku. Ketika aku mendengarnya, aku merasakan sesuatu seperti kasih sayang menjelajari kulit kemariku dan di hantarkan dengan kecepatan yang lumayan mengagetkan. Aku hampir saja mengerang karena perasaan nikmat itu. Aku mendadak lapar. Lapar. Lapar sekali.

"Your wish is my command." Selorohku sembari buru-buru melepas tanganku dari kepala Kai sebelum aku lepas kendali.

***

Sepanjang upacara itu Kai duduk di sebelahku dengan tenang walaupun tangannya mengenggam erat tanganku. Aku sama sekali tidak mengeluh. Dan akhirnya aku bertemu dengan dua manusia yang membuat Kai hancur lebur seperti sekarang ini. Seorang laki-laki tinggi dengan telinga lebar dan senyuman yang sepertinya tak pernah lekang oleh waktu, dan juga seorang laki-laki pendek dengan mata bulat dan bibir yang tebal. Laki-laki pendek ini, harus aku akui, imut.

Kedua laki-laki itu juga lah yang pada akhirnya menghampiri kami dengan senyuman bersalah. Kai masih berdiri di sampingku dengan tenang. Wajahnya tak menampilkan riak emosi apapun. Tapi, lewat ganggaman tangannya pada tanganku, aku tahu bahwa Kai gugup. Amat sangat gugup dan juga sakit hati.

Si laki-laki yang pendek menatap Kai dengan mata yang terlihat terluka. "Terima kasih karena sudah datang Kai, dan maaf."

Awalanya aku kira Kai tidak akan menjawab, tapi kemudian Kai melepaskan genggaman tangannya padaku dan memeluk laki-laki pendek itu. "Aku turut berbahagia untukmu, Soo." Ucapnya.

Si laki-laki pendek tampak sangat terharu. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca dengan parah. Dan kali ini giliran si laki-laki tinggi yang berbicara pada Kai. Matanya, untuk sesaat, melirik tangan Kai, yang kembali menggenggam tanganku dengan erat setelah memeluk temannya, dengan penasaran. "Terima kasih karena sudah datang, Kai. Itu sangat berarti bagi kami. Tapi… siapa?" tanya laki-laki itu sambil melirik ke arahku.

"Ah, dia……" Kai juga melirik ke arahku. Sementara aku tidak terlalu peduli karena aku masih sibuk memproses emosi yang Kai rasakan. Dia marah. Amat sangat marah. Sangat berbeda dengan apa yang Kai rasakan tadi saat dia berbicara dengan si laki-laki yang lebih pendek. "Sehun. Ini Sehun. Sehun, kenalkan ini Chanyeol dan Kyungsoo." Ujar Kai sembari menunjuk di laki-laki tinggi kemudian si laki-laki yang lebih pendek.

"Hai, Sehun." Ujar Chanyeol. "Kau… eh itu, siapanya Kai?"

Aku melirik Kai tak yakin. Memangnya aku harus menyebut diriku apanya Kai? Teman? Ketemu saja baru tadi malam.

Kai tersenyum sebelum menjawab, "Teman, dia temanku."

Kyungsoo menjijitkan alisnya penasaran. Barangkali dia heran kenapa dia tidak pernah mendengar namaku sebelumnya kalau memang kami berteman. Tapi Chanyeol, wajahnya jelas-jelas menunjukkan ketidak percayaannya.

"Hanya teman?" tanyanya. Matanya sekali lagi melirik genggaman tangan kami. Tiba-tiba saja emosi Kai berubah pesat. Dia….murka. Dengan masih memasang topeng tenang, aku berusaha menenangkan Kai dengan mengusap pelan punggung tangannya menggunakan jemariku.

"Ya, hanya teman." sahut Kai kaku. Aku sudah sangat yakin bahwa Kai akan membentak Chanyeom persis disana dan saat itu juga. Tapi untunglah, pada saat itu sepasang mempelai itu dipanggil oleh salah seorang tamu disana.

"Ah kami lupa, kami juga harus menyalami keluarga yang lain juga. Nikmati waktu kalian ya? Senang bertemu denganmu, Sehun." Kyungsoo mengucapkannya sembari menjabat tangan kananku. Untuk sentuhan singat itu, aku merasakan emosinya. Orang ini benar-benar sangat berbahagia.

"Senang bertemu dengamu juga, Sehun." Kali ini Chanyeol yang menjabat tangannya. Sama seperti Kyungsoo tadi, Chanyeol juga sangat-sangat berbahagia. Hanya saja….emosinya sedikit terkontaminasi dengan sedikit keraguan. Yang membuat alis senyum berjinjit penasaran.

Saat kedua orang itu sudah menghilang dari pandangan, Kai berbalik untuk menatapku. Senyumnya lebar sekali.

"Wow!" Serunya dengan pelan. Aku ikut tersenyum melihatnya seperti itu.

***

JONGIN

"Wow! Aku masih tidak percaya bahwa aku benar-benar melakukannya!" Ujarku keras-keras.

Sehun mengemudikan mobilnya dengan anteng. Dia hanya manggut-manggut saja ketika aku dengan menggebu-gebu membahas tentang keberanianku untuk datang ke upacara pernikahan Chanyeol dan Kyungsoo.

"Aku benar-benar tidak percaya bahwa kita baru bertemu tadi malam. Rasanya kita sudah sangat kompak, kan? Seperti kerja sama kita tadi. Sempurna! Wow!" Ucapku lagi, terlalu bersemangat. Sehun terkekeh geli mendengar ucapanku.

Tidak lama kemudian mobil itu menepi. Aku memang meminta Sehun untuk langsung mengantarkanku ke rumahku saja. Rasanya aku sudah kelamaan kabur dari rumah.

"Terima kasih untuk semuanya, Sehun." Ucapku sungguh-sungguh. Karena iya, memang Sehunlah yang membantuku agar aku bisa melakukan tindakan yang benar-benar berani hari ini.

"Sama-sama, Kai." jawab Sehun dengan senyum.

"Kalau begitu aku keluar, ya? Dan… oh ya, setelanmu akan aku antar ke rumahmu begitu aku selesai mencucinya." sambungku sembari membuka pintu mobil itu.

Kemudian ketika aku sudah berdiri di luar mobil itu, aku melambai kepada Sehun yang balas lambaian singkat darinya. Mobil itu meluncur menjauhiku. Aku masih berdiri disana sampai mobil itu benar-benar lenyap dari pandangan mataku. Aku menghembuskan nafas lega.

.

.

.

.

*To be Continued*