"Sa-Sakura-chan?".

wanita muda berambut hitam diikat ponytail itu menengok, ia memiringkan kepalanya heran pada gadis berambut merah muda itu, ya siapa yang tidak akan bingung jika tiba-tiba diteriaki seperti itu.

Haruno Sakura menyadari kesalahannya, sungguh memalukan itu yang ia pikirkan "Maaf Sensei, ini salahku," ia ber-ojigi singkat, wajahnya masih memerah lantaran malu. Setelah ber-ojigi ia bergegas meninggalkan tempat itu, ini pertamakalinya ia semalu ini, bibirnya tak berhenti koma-kamit memaki kesalahannya sendiri.

"Siapa?"

Dokter wanita itu menengok, "Haruno Sakura, kakak kelas sekaligus ketua OSISmu-" sebuah serigai nakal tersimpul dibibirnya "kenapa? kau tertarik Sasuke-kun?"

Pemuda yang dipanggil Sasuke itu menaikan alis "Tch! yang benar saja!" katanya sarkastik.

"Dia bukan gadis sembarangan loh." Mitarashi Anko menyerigai penuh arti.

.

.

.

.

.

My Beloved Senpai

Chapter 1

Apa yang membuatmu tetap tinggal disana, saat orang orang telah berada di sisi lainnya? ne, apa kau suka ada disana?


.

.

.

.

.

"Ne, ne Sakura—" Yamanaka Ino menatap antusius gadis yang duduk satu meja dengannya.

Setelah mendapat lirikan yang berarti gadis berkacamata itu sedang mendengarkannya, Ino kembali melanjutkan kata-katanya.

"Aku sudah mendapat lima pernyataan cinta pagi ini!" ujarnya dengan nada bangga, seolah baru memecahkan rekor nasional.

"Hum? Begitu," kini Sakura membenarkan letak kacamatanya, "Pagi ini—" gadis itu mengambil jeda, begitu caranya untuk memancing rasa penasaran temannya itu "—sudah ada sepuluh anak laki-laki yang aku hukum, Yamanaka!" ucapnya datar namun terdengar jelas nada angkuh disana.

Bel istirahat sudah berdentang keras 5 menit yang lalu, mengharuskan gadis merah muda itu menunda kegiatan MOSnya, ditambah lagi wajah murid-murid baru itu tampak amat bahagia setelah mendengar bel itu, ya apa boleh buat. Tadinya ia ingin mengisi jam istarahat pertama dengan mengadakan tour keliling sekolah, tapi sepertinya mustahil.

Ino menggembungkan pipinya setelah mendengarkan pernyataan Sakura barusan, "Apa yang perlu dibanggakan dengan itu!" Ino memasukan sepotong sandwich kedalam mulutnya. "—nuanti kaw tidwa akuan duwapuat puacar," celotehnya dengan mulut penuh roti sayur itu.

Sakura memutar bola matanya, meski celotehan kumur-kumur ino sulit dimengerti, tapi ia sudah paham betul apa yang gadis pirang itu katakan, pasalnya bukan kali ini saja Ino menceramahinya seperti itu.

"Aku tidak butuh itu!" tukasnya acuh, "Tch pacar? yang benar saja!" lanjutnya sinis.

Ino menggeleng-gelengkan kepala, mengingat mereka berdua sudah berteman lebih dari 2 tahun, sudah kelewat paham dengan dengan sifat gadis merah muda itu. ya ia kelewat paham bahwa ini bukan tempat dia untuk berkomentar lagi.

"Nanti aku main ketempatmu ya?" gadis pirang itu berniat untuk mengganti topik. kalau dipikir-pikir Ino yang notabenenya cerewet benar-benar bungkam kalau berbicara dengan Sakura mengenai hal 'Itu.' Ia mengerti betapa keras kepanyanya seorang Haruno Sakura itu.

"Hum!, bawakan aku makanan," respon gadis itu setelahnya, kemudian ia memasukan roti sosis kedalam mulutnya.

Suasana kelas mereka sepi saat itu karena hanya ada sedikit anak yang menghabiskan waktu istirahat di kelas. kebanyakan dari mereka memilih kantin, tapi tidak dengan kedua gadis itu, bisa dibilang Sakura memang tidak menyukai keramaian. Sedangkan Ino tak suka diganggu oleh fansnya, jangan heran gadis berambut pirang itu merupakan salah satu gadis popular di konoha gaoka.

"Sakura-chaan! Sakuraa-chan!—"

Sakura mendengus, ia melemparkan pandangan tajam kepada Ino, dia kenal suara berat itu, suara yang selalu mengusik pendengarannya.

Ino menggeleng geleng sembari menggoyang-goyangkan kedua tanganya di depan dada, "Bukan aku! bukan aku," ujarnya berpura-pura tak tahu.

'Srek' pemuda berambut pirang itu mengambil tempat diantara Sakura dan Ino, ia memandang Sakura dengan cengiran tiga jari khasnya. wajahnya berseri-seri, tak menyadari dahi orang yang ditatapnya sudah berkendut kesal.

Haruno Sakura menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar, benar-benar tak habis pikir dengan pemuda yang satu ini, "Kenapa kau?" tanyanya tajam.

Pemuda itu menyengir bahagia, "Aku merindukanmu, Sakura-chan."

'Ck, kolot sekali!' begitu yang dipikirkan Sakura, pasalnya sudah sering ia membentak, mengomeli, bahkan mencaci pemuda itu, tapi seolah semua perlakuan kejam itu tak ada artinya, pemuda itu tak pernah menyerah untuk mendekatinya. Kedua emeraldnya melirik Ino tajam, "Kau apakan sepupumu hingga begini Yamanaka?" tanyanya heran.

ino menggeleng-gelengkan kepala kemudian mengangkat kedua bahunya bersamaan, mulutnya tersenyum lebar, tapi setelah mendapatkan kode, 'Usir dia dari sini!' dari wajah marah teman merah mudanya itu, gadis itu mengagguk-angguk setengah hati.

"Em Naruto!"

Pemuda pirang itu menengok wajahnya masih keliatan berseri-seri sekali, hal ini membuat Yamanaka Ino menelan ludah, tidak tega rasanya, ia menggeleng-geleng tak sanggup pada Sakura.

"Apa?" desis Sakura sangat pelan, sampai ino tak dapat mendengarnya, namun gerak bibirnya terbaca sangat jelas oleh gadis pirang itu.

Sakura memandang Ino sebal, ekor matanya melirik Naruto yang masih berseri-seri. ya wajar saja Ino tak tega, siapapun mungkin tak tega dengan wajah polos berseri-seri itu, apa lagi mengingat keduanya dibesarkan bersama, pasti Ino sudah sangat menyayangi pemuda itu seperti saudara kandungnya sendiri.

Sayangnya Sakura tidak memiliki perasaan seperti itu, ia sudah kelewat sebal rupanya. entah apa yang membuat ia begitu tidak menyukai pemuda polos itu. Ia bangkit dari kursinya dengan kasar kemudian segera melenggang pergi dari tempat itu, tak memperdulikan namanya berulang kali diserukan oleh Naruto.

Ino yang menjadi saksi kejadian itu bergeming, tak bohong ia ingin memaki teman—sahabat—nya itu, tapi ia tahu betul kenapa Sakura jadi seperti sekarang, dia tahu masa-masa pahit gadis itu.

"Sepertinya dia benar-benar membembenciku Ino," Naruto menjatuhkan kepalanya dimeja, kedua sapphire terlihat sangat kecewa dengan kenyataan itu.

"Dia tak benar-benar membencimu, Sakura tak benar-benar membenci orang-orang Naruto," sergah Ino wajahnya memandang prihatin pemuda itu.

"Hu'um aku tahu, hanya saja kali ini dia berbeda Ino," lanjut pemuda itu, tangannya merabah meja kayu itu, merasakan setiap ukiran dan teksturnya.

"Biar aku luruskan, kau sepertinya sudah tidak ada harapan pada Sakura, menyerah saja kau!" kata ino dengan sedikit meninggi.

Pemuda itu menggeleng, ia kembali meneggakan kepalanya, "Aku tidak bisa," tukasnya tegas "Sakura-chan dia—" Naruto mengambil jeda untuk memilih kata yang cocok mewakili perasaanya sekarang, "—dia adalah penyelamatku." lanjutnya sembari menerawang mengingat-ngingat sesuatu.

Aquamarine ino membulat semputna, gadis pirang itu bangkit dari kursinya,"Aku tak tahu harus apa lagi, terserahmu Naruto!" sinisnya kemudian itu berjalan menjauh dari tempat duduknya.

"Aku bisa menyerah Ino!" teriak Naruto, hingga Ino memberhentikan langkahnya.

Ia tersenyum tipis, ya mau bagaimana lagi, ia punya seorang sepupu yang keras kepala, juga seorang sahabat yang sama keras kepalanya, "Kalau begitu, semoga kau berhasil!" ucapnya pelan, ada keganjalan di suaranya, terdengar seperti keraguan.


My Beloved Senpai


Sakura baru saja mendudukan dirinya di bawah pohon rindang, saat ini ia berada di kebun kecil sekolahnya. Hanya tempat ini yang jarang dikunjungi oleh penghuni sekolah lainnya, ia benar benar nyaman disini.

Tangannya mengambil buku kecil dari sakunya, kemudian mulai membaca buku itu, semilir angin menerbangkan anak-anak rambutnya. rumput-rumput bergoyang menggelitik kakinya.

'Srek'

Sakura menengok ke kanan dan kiri, tidak ada apa-apa, "Hanya angin," simpulnya.

'Srek,srek'

Gadis itu menengadahkan kepanyanya, ada seperti kain putih di ranting pohon itu, ia tak begitu jelas melihat apa—sesuatu yang putih itu—, pasalnya pohon itu terlalu lebat, mungkin ada sesuatu di balik daun-daun itu.

Gadis itu berdiri kemudian ia bejinjit untuk membuka beberapa dahan yang menghalangi penglihatannya.

'Tuing'

Emerald sakura membulat saat menatap sepasang mata onyx di hadapannya, belum lagi sensasi aneh di hidungnya yang barus saja bersentuhan dengan hidung orang itu.

Hidung? Ah iya hidung keduanya saling bersentuhan, bahkan mereka bisa merasakan bisa merasakan sensasi hembusan nafas masing-masing.

"Kau! apa yang kau lakukan disana?" gadis itu mundur beberapa langkah guna menjauhkan wajahnya dari pemuda itu. Terlihat wajahnya sedikit memerah sekarang.

'Hup,' pemuda dengan rambut raven itu meloncat turun.

"Tidur," katanya singkat sembari memasukan tangan kedalam kantong celananya.

Sakura memicingkan mata, sepertinya ia pernah bertemu dengan pemuda itu, 'Ah benar!' batinnya.

"Kau anak yang di UKS tadi, kan?" tanyanya memastikan.

Pemuda itu menaikan alis, ia terdiam sebentar seperti mengingat-ingat sesuatu, "Oh, kau yang tadi tiba-tiba marah itu?" simpul pemuda itu.

Kendutan muncul di dahi Sakura, "Kau sepertinya tidak sakit, jadi kenapa kau tidak ikut MOS?" tanya Sakura langsung to the point.

Pemuda itu mendudukan dirinya di rerumputan, "Itu merepotkan, kenapa aku harus ikut, eh?"

Sakura berkacak pinggang, alisnya terangkat satu, "Karena wajib, kau harus ikut!" jawab Sakura tak sabaran.

"Tidak mau."

kini Sakura benar-benar kesal, bukan hanya satu kendutan, tapi sudah ada tiga kenduta di dahinya, apa-apaan anak itu.

"Kalau begitu aku tak punya cara lain selain menghukummu,"

"Hukuman seperti apa? Mau berkencan denganku?" pemuda itu menyerigai jahil.

Sakura memandang pemuda itu, matanya memicing, "Tch!"

Sepasang onyx itu sedikit membulat, serigai itu perlahan menghilang.

"Aku tak tertarik dengan hal semacam itu, maaf saja!" kini pandangannya berubah menjadi tajam, "Kau ku hukum untuk memotong rumput di sini, hingga rapih oke! kalau kau tidak mengerjakannya hukumanmu ditambah!—" tegas gadis itu.

"—dan besok kau wajib ikut MOS," lanjutnya lagi.

"Bagaimana kalau aku tidak mau?" pemuda itu memandang lurus emerald gadis di hadapannya, seperti mencari-cari sesuatu di dalam mata cerah itu.

Sakura memasukan tangannya ke saku, "Mudah saja, aku akan menghukummu lagi." Gadis itu beranjak meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba ia berhenti lagi, "Dan satu hal lagi, aku membenci orang yang keras kepala, jadi sebaiknya kau lakukan!" katanya tajam. setelah itu ia benar-benar menjauh meninggalkan orang itu.

Onyx itu terus memandang kepala merah muda itu sampai benar-benar hilang dari jangkauannya, "Tch!".


My Beloved Senpai


"Terimakasih atas kerja kerasnya"

Pintu itu terbuka, dan beberapa kaki melangkah keluar dari balik pintu itu. saat itu langit mulai berwarna orange.

"Kaichou, terimakasih atas kerja kerasnya," gadis berambut merah muda itu menengok, mengalihkan pandangannya dari langit orange itu. "Ya, hati-hati dijalan."

Setelah menjadi orang terakhir yang melewati pintu itu, Sakura bergegas menelusuri koridor, sekolah sudah terlihat sepi hanya ada beberapa siswa yang masih tinggal untuk mengikuti club disana.

Dari atas sana gadis merah muda itu dapat melihat dengan jelas anak-anak berseragam coklat sedang berjejer rapih. Gadis itu berhenti dan mendekatkan dirinya lebih ketepi agar dapat melihat sesuatu yang menarik perhariannya.

"Anak itu?!"

Sakura berjalan dengan cepat, sangat cepat bahkan bisa disebut setengah berlari, bibir ranumnya komat-kamit tak karuan, sepertinya ada sesuatu yang membangkitkan emosinya.

gadis itu mengitari gedung sekolah, untuk menuju bagain belakang gedung, tepatnya untuk menuju kebun sekolah itu.

kedua tanganya ia bentuk segitiga yang bertumpu pada pinggangnya.

"Apa-apaan ini!" ucapnya setengah berteriak.

"Ah, Haruno-san?"

"Ada apa Kaichou?"

Gadis-gadis yang kini sedang memotongi rumput di kebun sekolah memandang Sakura heran.

"Kalian! Apa yang kalian lakukan?" desak Sakura tak sabaran.

Ada sekitar 7 orang siswi perempuan disana, mereka saling bertukar pandangan, "Memotong rumput." Jawab salah satunya.

Sakura mendengus, hampir hilang kesabaran rupanya, "Iya, kenapa kalian potong rumput? apa itu club baru?" tanyanya dengan nada berusaha setenang mungkin.

"Ah bukan, kami hanya membantu Sasuke-kun."

'Ah, benarkan anak itu,' Sakura melipat kedua tangannya di depan dada, "Sekarang dimana dia?"

Ketujuhnya menunjuk pohon rindang yang berada tepat di tengah-tengah kebun itu, pohon tempatnya tadi duduk dan bertemu dangan pemuda itu.

Sakura menghampiri pohon itu, ia langsung menegadahkan kepala, dan benar saja pemuda itu sedang tertidur pulas di salah satu dahan pohon. Tanpa berfikir panjang gadis itu langsung mengambil beberapa krikil kecil di dekat rerumputan kemudian melemparnya kearah pemuda itu. Dan sukses sepasang onyx itu terbuka.

"Oy!" teriak Sakura dari bawah. Pemuda itu menggosok kedua matanya sembari memandang tak suka kearah Sakura.

"Kubilang ini hukumanmu! Kenapa mereka yang kerjakan?" Kata Sakura jengkel, jari kecilnya menunjuk kearah siswi-siswi yang memotongi rumput itu.

Sasuke-nama pemuda itu- mengikuti arah jemari kecil Sakura, "Kau tidak bilang aku tak boleh dibantu kan? Senpai," ujarnya kemudian memandang wajah bulat orang yang ia panggil senpai itu.

Kendutan, kendutan, dan kendutan kini muncul di dahi gadis itu, "Kalau begitu hukumanmu kutambah, besok bersihkan jendela osis."

"Hn? bukannya kau menyuruhku MOS besok?"

"Kau datang pagi-pagi, dan bersihkan," kata Sakura dengan nada mulai meninggi.

"Kalau begitu kau harus datang pagi-pagi juga, mana bisa aku masuk ruang OSIS sendirian."

'Anak ini, terlalu pintar mencari alasan!' Sakura menghela nafas kasar, bagaimana ini? kemungkinan datang pagi sangat tidak mungkin baginya, karena banyak yang harus ia kerjakan di pagi hari.

"Tch! kalau begitu hari minggu ini, kau harus datang pagi untuk membersihkan jendela OSIS, jelas!"

"Kau datang?" pemuda itu menaikan sebelah alisnya.

"Hum!" Sakura mengangguk singkat, sembari memutar badan ingin segera pergi dari tempat itu.

'Hup' Sasuke melompat turun dari pohon itu, "Kalau begitu kuantar pulang," katanya datar segera setelah kakinya menapaki tanah.

"Hm?" Sakura menaikan alisnya, "Tidak usah," tolak Sakura sambil berlalu pergi, tak lupa melambai-lambaikan tangannya tanpa menoleh.

Pemuda onyx itu kembali memandang kepala merah muda itu hingga kepala itu benar-benar hilang dari pandangannya, sudut bibirnya terangkat, ah menyerigai rupanya.

.

.

.

.

.

To be continued . . .

Terimakasih untuk beberapa review di chapter sebelumnya. Semoga kesalahannya terminimalisir di chapter ini. Stay tuned yaaa

THANKS FOR READING