Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Kuroko Tetsuya x Reader/OC

Romance/Drama

Don't Like Don't Read! xD


Ya Tuhan.

Dia harus tahu kepayahanku mencapai titik ini. Dia harus tahu penyebab mengapa saat ini kakiku bisa mati rasa hingga rasanya seperti tak bertulang. Dia harus tahu sudah puluhan–bahkan mungkin ratusan kali uap putih tercipta dari pertemuan napasku dengan dinginnya udara demi memaksakan diri berjalan mencarinya. Dia harus tahu bagaimana jantungku beberapa kali nyaris melompat dari tenggorokanku karena gelisah yang luar biasa melanda batin ini.

Dia harus tahu. Bagaimanapun caranya. Pokoknya aku tidak mau tahu. Makhluk sok inosen yang merepotkan ini.

"Ah, doumo," ucapnya kelewat santai sembari menoleh, menyadari keberadaanku.

Ya Tuhan. Ya Tuhan. Ya Tuhan. Kuatkan aku untuk tidak melayangkan sepatu botku di atas wajah imut manusia yang satu ini.

"Kuroko … -kun …" aku masih tersengal–memegangi dada untuk setidaknya meredakan gelisah barang sedikit saja. "Kau habis darimana saja? Kau tahu, aku sangat khawatir!"

Pemuda bermanik biru langit itu sekilas melengkungkan bibir–membuat wajahku sedikit bersemu merah. Ia memperbaiki posisi duduknya sejenak (dan inilah yang membuatku tidak habis pikir sedari tadi, apa dia tidak merasa kedinginan duduk di atas tumpukan salju tanpa alas apapun seperti itu?) kemudian menunjuk langit. "Aku hanya sedang ingin bersantai disini. Maaf."

–Kesimpulan yang sekarang kupelajari: Kuroko Tetsuya itu makhluk tidak tahu diri. Dia sadar akan hawa keberadaannya yang minim, tapi tetap saja hobi menghilang secara sengaja dan membuatku ingin bunuh diri setiap kali itu terjadi.

Dan ini sudah helaan napasku yang ke sekian. Sejak tadi, aku hanya bisa melakukan itu, sambil sedikit demi sedikit berjalan mendekati si surai biru jernih yang sedang asyik menengadah itu dengan langkah yang terseok. Padahal aku sudah selelah dan segerah ini demi mencarinya di tengah suhu ekstrem gunung bersalju, namun lelaki berparas manis ini sepertinya punya suatu mantra ampuh yang membuatku sama sekali tidak bisa meluapkan amarah padanya.

"Kuroko-kun, ini sudah sore. Ayo pulang!" tawarku, mengulurkan tangan di depan wajahnya.

–Dan uluran tanganku hanya menjadi bahan observasi sepasang iris kristal air. Tak ada sambutan dari sang termohon, apalagi refleksi empati di kilatan matanya. Aku kesal, sungguh, ya Tuhan.

"Bisakah kau biarkan aku sedikit lebih lama disini?"

"Untuk apa?" ujarku mulai kehabisan kesabaran. Perjuangan menemukan dirinya serta kekhawatiranku padanya ternyata tidak lebih berharga daripada hujan salju ini.

Aku tak mendapat jawaban untuk selang sepuluh detik ke depan. Kuroko tak lagi menatapku, melainkan menyongsong jauh ke atas mega. Menyugesti pikiran alam bawah sadarku dengan pribadinya yang memantulkan keheningan dan wibawa. Kedua tangannya terbuka lebar, dan sekonyong butir-butir putih bersih tertarik gravitasi. Seolah dewa-dewi langit mendengar permohonan Kuroko dan menghadiahinya dengan limpahan salju yang terasa hangat mendekap kami berdua.

"Aku ingin menikmati langit bersalju ini sebentar lagi. Pulanglah duluan dan beristirahatlah."

Ia kembali menatapku. Dengan senyuman–tipis–sehangat mentari. Poin plusnya, ia sudah merubah posisinya. Setidaknya tidak lagi duduk, ia sudah berdiri. Namun, memperlihatkan gestur hendak melangkah menjauh dariku.

"Mau kemana, Kuroko-kun?" Aku memekik refleks sembari menahan lengannya, membuatnya terpaksa berhenti melangkah. "Aku tidak ingin kehilangan kau lagi!"

"… Sekalian mencari Nigou. Tadi Nigou lepas dari pengawasanku," ujarnya pelan. Bola matanya bergulir ke segala arah sementara tangannya yang bebas ia gunakan untuk menepuk-nepuk puncak kepalaku.

Duh, ya Tuhan. Dadaku mendadak perih lagi. Aku merasa kekhawatiranku–bukan hanya saat ini, namun juga di kejadian-kejadian tempo hari–pada Kuroko Tetsuya seolah tak berbalas. Tak pernah ada rasa bersalah di wajah stoic sang aquamarine tiap kali melihatku berlari-lari menghampirinya dengan kondisi yang tidak baik lagi, pun niat menekan perasaan khawatirku yang besar ketika ia lagi-lagi menghilang dari sisiku.

Padahal permintaanku hanya satu: aku hanya ingin Kuroko Tetsuya berhenti meninggalkanku. Tak bisakah ia mengabulkan permintaan sesederhana itu …?

Dan bening airmata mengembun tiap aku mengingat hal itu, siap jatuh menapaki salju dan menghilang bersamaan dengan sosok Kuroko Tetsuya.

"Aku percaya padamu."

Eh?

–Terdongak kaget, mendapati wajah pria yang kucintai itu berseberangan denganku, hanya terbatasi oleh ujung hidung kami yang saling bertemu.

"Aku percaya. Kemanapun aku pergi, kemanapun aku menghilang, sebesar apapun kekhawatiranmu, aku percaya hanya kau yang mampu menemukanku. Jadi, teruslah berusaha dan aku akan kembali padamu. Aku janji."

Ia mengecup dahiku cukup lama. Menjalarkan ketulusan kata-katanya ke setiap sendi tubuhku melalui kecap hangat bibir ranumnya. Dan aku hanya bisa terdiam menikmati sentuhannya. Berusaha menghapus keraguan ketika ia melepas pagutannya, dan berlari menjauh–meninggalkanku lagi.

Aku menarik sudut bibirku sendu menatap kepergiannya.

Ah, sudahlah. Tak apa. Aku akan menemukannya lagi. Dan aku percaya, Kuroko akan kembali padaku lagi–seperti apa yang sudah ia buktikan selama ini.

.

Owari~

.


[A/N]

Untuk chapter ini, megaReeto yang bikin :D Kenapa coba fic ini ada versi Kuroko-nya? Karena saya gemes sama si mini di chapter sebelumnya /maksudnya?

Terimakasih sudah mampir dan membaca! Kritik dan saran, sudikah?