"Jadi, keputusan Naruto tetap ingin meninggalkan Suna?" tanya seorang lelaki kepada pria paruh baya yang duduk tepat di depan meja kerjanya.
Si pria mengangguk pelan, "Hm, kurasa besok." Dia mengangkat pandang pada lelaki yang ia kenal sebagai kakak dari mendiang suami puterinya. "Apa kau tidak ingin menemuinya?" lanjutnya.
Lelaki berkulit putih itu terlihat sedang berpikir, entah itu suatu tindakan yang baik atau tidak, namun tak lama kemudian dia hanya sanggup mendesah pelan sebagai jawaban atas kebimbangannya sesaat lalu.
.
.
.
.
Disclaimer : Naruto and all characters belong to Masashi Kishimoto
it's Fem!Naru
"Summer Desire"
Suara derap langkah terdengar menggema disepanjang lorong bangunan bercat putih. Kaki jenjang yang nampak terawat perlahan memasuki ruangan berpintu swing dari kayu dengan sentuhan warna abu-abu muda, tanpa mengetuk sebelumnya.
"Seperti biasa datang tanpa ketukan, Nona?"
Sindiran. Ya, dia hafal betul kebiasaan nona muda yang datang tanpa mengetuk sebelumnya, meskipun mereka telah melakukan janji temu.
Wanita yang dipanggil Nona hanya meringis. "Maaf, Fuu. Kau seperti tak tahu aku saja."
Wanita yang akrab disapa Fuu tersebut hanya menggeleng, "Baiklah ... duduklah Naruto."
Naruto mengangguk sekilas dan menarik kursi yang telah tersedia didepan meja Fuu, melirik wanita yang sedang memunggunginya, masih berkutat dengan beberapa berkas laporan medis pasiennya. Ya, wanita itulah yang membantunya selama ini. Dengan sabar mendengarkan keluh kesah Naruto yang selalu cerewet tentang bagaimana ia harus mengontrol kondisinya.
Setelah selesai dengan berkasnya, Fuu berbalik kemudian tersenyum melihat nona mudanya. Snelli yang semula dipakai, ia lepas dan menyampirkannya pada sandaran kursi.
"Kudengar kau akan pindah ke Konoha, benarkah Naruto?" raut senyumnya kini berubah sedih. Mengingat bahwa Naruto adalah pasien kesayangannya, juga istri dari seorang pemimpin hebat di desa. Dia memang kecewa akan keputusan Naruto, bukan hanya kecewa, tapi Fuu juga cemas dengan kondisinya.
Naruto tersenyum pahit, "Aku tidak bisa tinggal Fuu ... kau paham itu," Hanya itu yang bisa Naruto lontarkan. Dia ingin menemui dokternya yang merangkap sebagai sahabatnya sejak dulu. Salam perpisahan mungkin?
Fuu menghela napas pelan, "Kau sudah menemukan dokter kandungan di Konoha?"
Mendengar pertanyaan itu, Naruto menggeleng. Fuu memejamkan mata dan membuang napas kasar. Dia mungkin terlihat frustasi, pikirannya akan berputar-putar memikirkan si pirang ini. Sangat wajar jika dia merasa cemas.
"Ingat Naruto, kau harus tetap stabil. Jangan terlalu lelah, jangan terlalu stress, jangan terlalu gelisah, jangan ga-"
"Santailah Fuu," potong Naruto cepat. Merasa bosan sendiri kalau-kalau ia harus mendengar nasihat Fuu yang entah kapan akan berakhir.
"Ya ya, aku akan santai. Tapi ingat pesanku Naruto! Aku tidak sedang main-main. Ini demi kesehatanmu."
Baiklah, Naruto menurut saja apa yang dokter manis itu katakan, hanya itu satu-satunya cara agar Fuu berhenti berwasiat. "Aku akan berangkat ke Konoha besok." Naruto menggenggam tangan kanan Fuu dengan erat, diwajahnya terpatri rasa bersalah yang mendalam. Bukan keinginan hatinya untuk pergi, namun jika ia tetap tinggal, rasa-rasanya ia tengah membunuh dirinya secara perlahan.
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, Naruto. Berjanjilah kau akan bahagia disana dan hubungi aku sesering mungkin, ingat?"
"Siap dokter!"
Fuu tersenyum lega. Dan semoga kau menemukan kebahagiaanmu kembali Naruto, batinnya berharap.
.
.
.
Manusia berburu kebahagiaan hingga sampai ada program bahagia. Nyatanya kebahagiaan itu bukan sebab melainkan akibat, karena itu tidak bisa diprogram atau direncanakan. Yah, begitupula dengan kesedihan. Hanya saja manusia tak pernah memburu kesedihan, batin Naruto miris.
Naruto tengah mengemasi barang-barangnya. Tak terlalu banyak, tapi juga tidak bisa dibilang sedikit. Ia hanya akan membawa barang-barang yang dirasanya penting. Lagipula Konoha bukan desa terpencil kan? Ia bisa mencari sesuatu yang mungkin akan dibutuhkan ketika berada disana.
Naruto menata meja riasnya dengan teliti, dia memang bukan tipe wanita pesolek, mungkin, tapi satu hal yang tidak pernah ia lewatkan ketika mendiang suaminya tiba di rumah. Naruto menjatuhkan pandangannya pada gincu berwarna merah yang tergeletak di meja rias berjejeran dengan alat make up lain.
Gincu yang tak terpakai lagi setelah kematian suaminya, tetapi masih ia letakkan di atas meja riasnya. Saat tangannya menyentuh gincu tersebut, memorinya kembali menarik dirinya menyelami masa-masa lampau.
"Tadaima!"
"Okaerinasai ... Anata!" Naruto melompat kegirangan menyambut suami tercintanya kembali pulang.
"Wow, tenanglah sayang. Tubuhmu berat sekali."
Naruto mencebik kesal, "begitukah caramu memperlakukan istrimu? Apakah kau tidak menyayangiku lagi?" bibir Naruto mengerucut lucu layaknya anak kecil.
"Pikiran macam apa itu sayang?" lelaki itu menatap istrinya dengan geli. Istriku sangat manis, batinnya. Dia menatap bibir merah istrinya dengan pandangan tertarik.
"Apa kau tidak ada perona bibir lain selain warna merah? Hijau misalnya, atau ungu?" pertanyaan itu sukses membuat Naruto memukul lengan suaminya keras hingga terdengar bunyi rintihan kecil dari sang suami.
"Kenapa kau galak sekali pada suamimu?"
Naruto membuang muka. Melihat wajah kesal istrinya, tangannya kemudian terulur dan menarik wajah istri manisnya, mendekatkan wajahnya perlahan dan menciumnya mesra, "Aku sangat menyukai bibir merahmu," ucapnya setelah melepas ciuman mereka. Terlihat kentara sekali wajah Naruto yang memerah sementara suaminya tersenyum puas.
"Naruto?"
Ketukan pelan dari arah pintu kamar Naruto membuyarkan ingatan masa lalunya.
"Ya?" Naruto lekas berlari dan membuka pintu kamarnya. Beberapa detik kemudian, terlihat lelaki berambut merah dan berkulit putih menungguinya.
"Oniisan!" mata Naruto berkaca-kaca melihatnya. Jarang-jarang kakaknya datang ke rumah. Bisa saja Naruto melupakan wajah kakaknya jika saja mendiang suaminya tidak menyuruhnya untuk sesekali menjenguk.
Naruto lantas memeluk satu-satunya pria yang menjadi kakaknya setelah ia menikahi suaminya. Setelah pelukannya terlepas, Naruto memandangi wajah tampan dihadapannya dengan lekat.
"Apa aku mengganggumu?"
"Iie, oniisan." Naruto menggeleng. Dia kembali memandangi wajah putih kakaknya dan pandangannya berhenti di kedua mata kakaknya yang terlihat agak lelah. Lihat, lingkaran hitam di kedua mata kakaknya itu.
"Gaara-nii sedang sakit? kantung matamu terlihat semakin nampak." Tidak, Naruto tidak sedang mengejek. Dia serius, mata panda kakaknya semakin terlihat jelas. Mungkin karena kakaknya terlalu sibuk menggantikan posisi mendiang suaminya. Hati Naruto kembali pilu, dia menundukkan wajahnya lesu.
Lelaki yang disebut Gaara itu mengerti ketika mimik Naruto berubah, lantas dia menepuk bahu adiknya pelan, "Omong-omong, boleh aku masuk?"
Ah!
Naruto baru sadar itu. Astaga … Kenapa Naruto tidak mempersilahkan kakaknya masuk sedari tadi dan malah membiarkannya berdiri di ambang pintu, dasar bodoh, batin Naruto kesal sembari memukul kepalanya sendiri.
"Maaf Gaara-nii ... aku terlalu banyak melamun." Naruto nyengir. Gaara tersenyum melihatnya, cepat sekali ekspresinya berubah.
Gaara melangkah masuk dan melihat-lihat isi kamar Naruto. Matanya menangkap satu koper besar dan masih ada beberapa baju yang sepertinya akan Naruto bawa. Kembali iris jadenya bergulir ke sisi pojok ruangan dan menemukan beberapa foto yang tergantung di dinding. Dia mendekati potret itu, diliriknya sekilas Naruto yang tengah sibuk membenahi barang-barangnya.
"Lucu sekali ...," gumaman Gaara berhasil membuat Naruto menghentikan aktifitas packingnya. Dia kemudian menatap kakaknya yang berdiri didekat foto keluarganya.
"Apa yang lucu Gaara-nii?" Naruto memasang wajah aneh. Matanya seolah meminta penjelasan dari gumaman kakaknya barusan.
"Lihat! Ayah dan Ibumu memiliki rambut kuning dan merah," Gaara menoleh pada Naruto, "kau dan suamimu juga memiliki rambut kuning dan merah. Lucu sekali bukan?"
Naruto mengangkat sebelah alisnya, dia memasang pose berpikir sejenak dan kemudian tersenyum geli. Benar juga yang dikatakan kakaknya. Naruto bahkan tidak memikirkan sampai sejauh itu. Mungkin itu yang sering orang sebut dengan takdir?
"Takdir ya …" Suaranya rendah seolah berbisik pada angin. Naruto menatap kakaknya yang masih memandangi foto-foto disitu.
"Nee, Gaara-nii ... Apa kau akan sering mengunjungiku ke Konoha?" Pertanyaan yang diberikan Naruto tampaknya membuat Gaara sedikit menautkan alis.
"Aku akan mengusahakannya, Naruto ...," Dia melangkah menuju ke tempat sang adik berada, duduk di sisi ranjang dan mengusap rambut adiknya.
Naruto bersyukur, dia masih mempunyai kakak yang sangat menyayanginya setelah mendiang suaminya. Jika dilihat-lihat, mereka memang mirip, Gaara dan mendiang suaminya, perlakuan mereka pada Naruto juga sama, sama-sama hangat dan penuh kasih sayang.
Naruto memejamkan matanya dan bersandar pada bahu tegap kakaknya.
"Aku bersyukur masih memilikimu Gaara-nii ..."
Mendengar itu, Gaara mengulas sebuah senyuman. Dan aku menyayangimu, batin Gaara.
.
.
.
.
to be continued.
untuk reviewer dari k : iya, ini ganti penname dan didelete untuk remake cerita, tetep di publish di FFn ko:)
Chapter ini pendek ya? hehe
Maaf … tapi demi mengobati kerinduanku untuk menulis meski hanya copy paste dan perbaiki kalimat yang kurang, haha. Ide ini udah mengendap lama banget di outline, pernah aku publish di FFn tapi aku delete untuk perbaikan.
Ada yang suka gak?
Follow and Review ya … :)
19 Agustus 2018
rossidania
