.

.

Intoxicating — Senior?

.

.

bultaereunae[cr] 2018

[ GgukTae ]

Fem!Gguk, tapi dia juga mendominasi .-. YKWIM yea?

Romance—Drama

Boy x Boy Love Story ( click back button now if u homophobic )

.

Disclaimer :

BTS — Naungan Bighit Entertainment

Member(s) — Themselves, Orang Tua mereka yang saya hormati, And should I write Army's/?

Story / Alur / Plot : Saya Sendiri, jika ada kesamaan dengan cerita lain itu hanya kebetulan semata.

.

( banyak undang undang kepemilikan yang dapat mengikat cerita ini, don't u dare copy my story )

.

Warning : RATE M | FEMDOM!

.

WARNING WARNING : Cerita ini mungkin jauh dari kata ekspektasi anda. Diluar nalar (walau menurutku masih nalar diluaran)

.

WARNING WARNING WARNING : bener deh, yang ngga mau baca ngga usah cape report. Tinggal click back button aja.

.

.

.

Sebulan ;

Sebulan sejak Taehyung tak pernah muncul di depan lokernya sendiri. Dia tak pernah menjamah loker ataupun tempat sekitar loker miliknya lagi.

Bahkan untuk melihat eksistensi teman Taehyung—diketahui bernama Park Jimin—Jungkook tidak melihatnya. Mengapa? Gampang saja. Orang kata ; Ada si Park pasti ada si Kim.

Mulanya Jungkook mengira ia terlalu berani. Melecehkan adik tingkat dan mengajaknya berhubungan seksual

dan gilanya, Jungkooklah yang mendominasi.

Tapi yang si Jeon ketahui, si Kim tak pernah angkat bicara atau istilahnya ngoar-ngoar tentang kejadian tersebut. Tak perlu dipikir—karena bahkan jika Taehyung ketakutan dan menjadi stress karena ulahnya ;

Jungkook tak peduli.

Jujur sedari awal, Jungkook hanya benar-benar 'jatuh' dan dibuat penasaran.

Wajah dengan pahatan sempurna si Kim—

Bagaimana jika dalam keadaan sayu dan memohon mendesau dibawah kungkungannya?

Tubuh ramping adik tingkatnya—

Bagaimana jika tubuh tersebut tersentak dan melemah?

Lalu—

Mari akui hal ini juga.

Jujur, Jungkook ingin mengecap rasa sperma milik Taehyung. Yang mana Jungkook pernah merasakan milik lelaki lain dan ia mual, hal beda untuk cairan telur wanitanya. Walau secara mengingat rasa tak beda jauh. Sebenarnya satu. Jungkook memang tak menyukai mengecap penis—terlalu kering, kawan. Tapi yang didalam pemikirannya jika ia hanya bisa mengingat kebejatan akal tentang Taehyung yang ia rasa—manis?

Memegang lembut bibirnya, hal ini lah yang tak dapat dipercaya.

Ecap bibir yang lebih muda, pun dengan kelenjar saliva yang ia telan menuju kedalam kerongkongannya waktu itu—damn? Rasanya sangat-sangat candu.

Harus Jungkook akui pula, rasa bibir para wanitanya tak pernah semanis dan semabukan itu. Jungkook pening, limbung—bagai sang Vampir yang tak mendapat jatah darah dalam satu bulan.

Satu bulan.

Jadi—kemana Taehyung-nya? Si darah dengan rasa baru yang menjadi kesukaan Vampir Jeon.

"Kim Taehyung."

Sang pemilik nama tersentak. Kedua netranya melebar nyalang dengan jari yang mengerat di buku pelukannya. Mulutnya yang sedikit membuka itu mengatup—kala si marga Jeon dengan tak sopannya menatap bilah ranum milik Kim semenjak detik pertama bertatapan.

"S-sunbae." Kembali gagu. Taehyung-nya masih sama. Bahkan ia mundur dari langkahnya beberapa saat Jungkook maju.

"Taetae! Ayo pulang."

Jungkook melihat jelas, pancaran obsidian Taehyung berubah drastis saat seorang meneriaki namanya lalu merangkul bahunya saat mendekat. Sisi bibir itu ditarik paksa, ia menoleh menghadap sahabat karibnya—teman perempuan Taehyung yang dekat sejak kecil.

"Ini siapa?" Jimin menunjuk Jungkook, dahinya mengeryit melihat penampilan urakan Jungkook. Celana jeans ripped, dengan atasan ketat kecil tanpa lengan. Juga, satu tas gendong kecil yang tak berisi buku dilengserkan pada lantai, digeret saat dibawa, "Oh—seorang senior, yea?"

Tapi Jimin tau. Ingatannya tak mungkin salah menyangka. Wanita di hadapannya ini adalah seorang kakak tingkat. Tak susah, pacarnya adalah seorang senior omong-omong. Dan kemungkinan, pacarnya—Yoongi—dan seorang yang dikira senior ini satu fakultas. Jimin sering melihatnya saat Jimin menjemput kekasihnya.

Yang lebih tua setahun itu mengangguk, alisnya berjengit satu di kanan saat memandang Jimin penuh 'murka'. Pasalnya lengan wanita tersebut masih terkait di pundak kecil Taehyung dan mendekapnya akrab.

Jimin memiliki rambut sebahu dengan warna blonde, dibiarkan terurai tanpa ikat. Tingginya yang sedikit lebih pendek dari Taehyung membuatnya sedikit menjijit untuk merangkul sahabatnya.

"Ada perlu, sunbae?" si Jeon menarik napasnya, pandangannya menurun setelah menggeritkan gigi kecil. Jungkook tersenyum, lalu menggeleng, "Oke, kalau begitu kami pulang. Bolehkan?"

Senior Jeon terkekeh kecil, "Sure, hati-hati." Bibir bawah dalamnya digigit, kini matanya jatuh kembali pada Taehyung yang melihatnya was-was, "Jaga Taehyung baik-baik. Dan katakan kalau aku menunggunya di loker miliknya yang didepan ruang kesehatan."

Merasa lucu, disaat Jungkook berkata seolah tak ada Taehyung bersama mereka. Jimin hanya menanggapi singkat, dengan kikikan kecil dan lingkaran dari ibu jari dan telunjuk yang disatukan ujungnya. Disaat Jungkook membelok di lorong, Jimin baru kembali membuka mulutnya setelah melepas rangkulan dan beralih mengusap bahu sahabatnya.

"Jadi, dia?"

Dan Taehyung mengangguk.

Menjadi seorang yang didominasi. Sebenarnya tak pernah ada kata buruk untuk hal itu. Taehyung memang yang didominasi itu benar. Juga—untuk didominasi bahkan oleh lawan gender. Itu bukan hal baru bagi Taehyung. Tidak, maksudnya bukan hal asing di pendengaran dan penglihatan Taehyung.

Park Jimin, sahabat wanitanya dari kecil itu misalnya. Ia seorang dominan. Dimana yang didominasi adalah seorang pria—Min Yoongi sang kakak tingkat.

Kebetulan yang menjijikan?

Tidak, kawan.

Justru kebetulan ini dapat membuatnya paham. Coba saja jika hal ini menimpa orang yang hanya didominasi oleh sesamanya, atau malah hanya ingin didominasi secara lurus saja? Mereka pasti akan shock dan sudah menjatuhkan gugatan untuk si Jeon.

Taehyung mengakui, kakak tingkat yang pernah melecehkannya itu benar-benar nekat. Menyerang tanpa rencana hanya karena nafsu, terlebih ia membebaskan tawanannya begitu saja hingga sebulan ini ia baru menampakan diri kembali—ah tidak tidak, Taehyung juga menghindar. Tapi jika Jungkook ketakutan, ia pasti akan mencari Taehyung satu hari setelah kejadian. Sedang Jungkook diam, seperti menunggu mangsanya tenang.

Menunggu hingga sang mangsa tenang—yang memang menjadi benar-benar tenang sekarang ini.

Untuk berbelok di lorong, melangkahkan kakinya menuju lokernya dengan si pemburu di samping lokernya menyender—kebiasaannya.

"Hai, baby."

Terlampau tenang—baik mangsa maupun pemburu. Air itu terlalu tenang. Hal ini menjadi menakutkan untuk beberapa hal bagi Taehyung. Dan menarik bagi Jungkook.

"Kau tak menjawab, 'Halo mistress' begitu misalnya?" Jungkook menyeringai, kini tubuhnya menyamping menghadap Taehyung yang masih tak bergeming, "Keadaanmu selalu baik? Aku kagum."

Batu kembar Taehyung memutar, napasnya ia embuskan kecil, "Katakan. Kalau kau memang ingin meminta maaf, lakukanlah cepat."

Jari telunjuk Jungkook menunjuk dirinya sendiri, alisnya menaik keduanya dengan sunggingan semakin terpahat, "Aku? Kapan aku pernah berkata demikian?" lengan itu lepas dari rekatan loker. Beralih memilih maju, mengambil langkah lahan, menepuk lantai dengan tenang namun menimbulkan bunyi tegas karena heels mini di sepatunya.

Kagum? Benar. Karena tanpa disangka mangsanya yang mengambil satu langkah lebih lebar sehingga Jungkook berhentu dengan kedua mata terbelalak kecil.

Kesialan lagi—bau aneh yang menyenangkan kini kembali merangsak masuk ke pembaunya. Ingatkan Jungkook untuk mengoplos minyak wangi agar sama seperti milik Taehyung. Jungkook menyukainya, sangat.

Mulut Taehyung membuka, tak lebar. Tapi mampu membuang napas dengan cukup kuat dan memantul si permukaan wajah Jungkook.

Jungkook menyeringai, terlampau tau telengan kepala Taehyung dan embusan itu. Itu, adalah suatu pertanda, kalau—

"Kau tak pernah takut kepadaku." Kini si marga Kim yang menyeringai. Jungkook salah, tapi Jungkook benar, "Aku tarik ucapanku, kini aku benar-benar kagum kepadamu."

Tangan sedikit kasar milik Jungkook menaik, membelai pipi seseorang yang sedari pertama bertemu ia cap sebagai prianya (tentu hanya Jungkook yang mencapnya tanpa tanda tangan si pria di bawah capnya).

Dari pipi kiri lalu menuju ke pelipis sekilas dan turun dengan cepat menuju bibir.

Kedua pasang mata itu terikat. Sampul mati untuk memutuskannya sekarang ini. Nyatanya Taehyung tak gentar untuk menutup mata saat dibelai. Saat diperlakukan bagaikan pelecehan sebulan kemarin. Sangat berbanding terbalik. Jungkook agak tak menyukai ini. Ia butuh perlawanan.

"Tapi, kau menjadi tak asik. Aku selalu menyukai ketakutanmu kepada orang lain." Tangan yang membelai itu terlepas dari pekerjaan membelai, ia menuju tengkuk dan menariknya keatas sedikit. Untuk menjenggut rambut Taehyung, "Lawan aku Kim. Lawan aku, lawan mistress-mu ini."

Jungkook salah, tapi Jungkook benar.

Karena Taehyung telak berdebar cepat saat diperlakukan seperti ini. Beruntung, waktu telah menunjukan sejam dari jadwal kepulangan semua mahasiswa. Juga, daerah tempat loker ini memang sepi.

"Mistress? Cuih!"

Satu hinaan. Satu ludahan.

Pelipis kiri Jungkook menurunkan liur kental menuju pipi. Meniti ke dagu dan menetes. Jungkook menikmati hal hinaan itu terlebih dulu. Memutus simpul mati dengan tatap milik Taehyung sejenak untuk memejamkan mata dan merasakan pergerakan liur itu. Dibarengi dengan sunggingan milik Taehyung.

"Aku memang yang di dominasi. Kau benar. Tapi—itu bukan olehmu, Jung. Akui—kau juga tak pernah mendominasi lawan gender sebelumnya. ini yang pertama? Kau perlu ilmu, Jung."

Jungkook tak lagi mau menatap Taehyung. Hanya membuka mata dan mendengarkan dengan melihat kulit leher Taehyung yang terpampang. Pergerakan tegukan ludah membuat Jungkook turut meneguk ludah sendiri. Lalu turut diam—untuk merasakan gerakan tiba-tiba dari dekapan tangan besar milik Taehyung.

Jungkook terkejut. Tapi ia tak menunjukannya. Kepala Taehyung yang terjatuh lunglai di bahu kiri Jungkook itu miring. Tepat menuju indra pendengaran Jungkook.

Whisper.

Whisper.

Hanya dengusan. Napas. Lalu napas.

Lalu pada menit selanjutnya. Dimana tangan Taehyung berada di pinggul depannya. Mengait bajunya pada jarinya untuk dicengkram. Dengan tubuh Jungkook yang kian dirapatkan

"—Kau perlu pembelajaran." Pada jeda ini, Jungkook menarik napasnya saat Taehyung menempelkan bilah bibirnya pada cuping telinganya yang di piercing—

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Dan aku akan mengajarimu."

.

.

.

.

DOR! WKWKWKWK.

Dikit ya? Dikit? Dikit?

Hm, iya sih. Aku ngga mengelak.

Salam uwu—bultae.