"Perintah dari Bos. Kasino akan disegel selama Ramadhan." Akutagawa mendatangi salah satu kasino, menunjukkan selembar kertas yang ditanda tangani Mori di bagian bawahnya.

Pemilik kasino itu mengangguk paham. Tidak ada hal bagus yang akan terjadi dengan menentang Port Mafia. Jadi dia tanpa banyak protes segera menyanggupi untuk menutup tempat itu.

Di tempat lain, Hirotsu sedang menatap papan nama sebuah bar. Lelaki tua itu sudah berurusan dengan Dazai sejak bocah itu belum bergabung dengan Port Mafia, dan masih berhubungan bahkan setelah statusnya berubah jadi pengkhianat. Salah satu hal yang tidak diketahui kebanyakan mafia adalah bahwa bar di hadapannya ini memiliki sejarah tersendiri. Saksi dari kisah persahabatan antara Dazai dengan Oda Sakunosuke dan Sakaguchi Ango.

"Aku gak tahu ada bar di tempat ini," komentar Tachihara. "Gimana denganmu, Gin?" Yang ditanya mengangkat bahunya dengan enggan. Seolah mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu dan tidak mau peduli.

"Kalian lanjut saja ke selatan sana, ada satu lagi tempat yang harus dikunjungi. Yang di sini biar kubereskan sendiri." Hirotsu selaku ketua grup kecil itu mengeluarkan perintah. Tachihara mengeluh ringan, tapi dia segera mengikuti Gin yang membalikkan badan tanpa repot-repot bicara.

Menghela napas panjang, Hirotsu melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar. Di ruangan yang tidak terlalu besar itu duduk seorang pelanggan. "Wah, ternyata Hirotsu-san." Kata orang itu tanpa repot-repot menoleh.

"Dazai-kun." Hirotsu melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam bar. "Apa yang Anda lakukan di sini?"

"Minum."

"Tapi lusa sudah Ramadhan, Dazai-kun. Aku tidak menyarankan Anda untuk malah minum-minum di saat seperti ini." Hirotsu berbicara dengan nada menasehati yang sopan.

"Tapi aku cuma minum energen, Hirotsu-san." Dazai menunjukkan isi gelasnya dengan polos. Lalu tertawa renyah seperti anak kecil yang berhasil menjahili orang tuanya.

"Jadi begini, Hirotsu-san, aku sudah bicara dengan pemilik di sini tentang kebijakan Port Mafia menutup semua bar dan kasino seluruh Yokohama. Kemudian aku menawarkan padanya untuk tidak menjual minuman keras selama Ramadhan, sebagai gantinya dia hanya akan menyediakan minuman halal." Dazai menjelaskan.

Hirotsu berdehem. "Baiklah, kalau demikian tidak ada masalah. Saya akan menyampaikannya kepada Bos."

"Dazai, ada pekerjaan untukmu." Paginya, Kunikida memberikan sehelai kertas berisi alamat pada rekannya yang datang terlambat itu.

"Eeh? Besok kan sudah Ramadhan," Dazai berusaha mengelak dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.

"Tapi hari ini belum. Dan tidak pernah ada pembahasan bahwa pekerjaan berkurang selama Ramadhan!" bentak Kunikida, masih menyodorkan kertas tadi yang belum juga diambil oleh Dazai.

"Huh, memangnya apa permintaannya?" Tidak bisa menolak lagi, Dazai akhirnya menerima tugasnya dengan setengah hati.

"Tidak tahu pastinya. Klien cuma bilang bahwa dia butuh seseorang yang bisa bernegosiasi dan itu kan keahlianmu." Kunikida memberikan gambaran umum.

"... Entah kenapa aku punya firasat tidak baik." Dazai sepenuhnya mengabaikan. "Atsushi-kun!" panggilnya pada anggota agensi yang paling mudah dia manipulasi.

"Atsushi sedang menyusun dokumen! Jangan minta bantuannya! Cepat pergi dan selesaikan pekerjaanmu!" Kunikida terang saja makin terbakar emosinya.

"Tapi, Kunikida-kun,"

"SEKARANG!!!"

Jadi di sinilah Dazai, toko kecil yang memproduksi bir murahan. Dia mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari dalam. Ketika Dazai berseru keras-keras bahwa dia adalah agen detektif yang dipanggil, seseorang berteriak dari dalam untuk menunggu di luar selama lima menit.

Detektif itu menyandar di pintu dengan putus asa, menghitung detik ke 180 ketika sebuah sepeda motor berhenti tepat di hadapannya. Pengendaranya bukanlah orang yang dia harapkan untuk bertatap muka.

"Dazai, ngapain kau di sini?" Turun dari motornya, eksekutif Port Mafia itu bertanya dengan nada tidak senang.

"Chuuya sendiri ngapain di sini?" Dazai tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya berdiri. "Lihat, aku jadi kehilangan hitungan. Mungkin sekarang sudah detik ke 190 atau 200."

"Bodo amat sama hitunganmu yang gak jelas itu. Aku di sini untuk misi."

"Aku juga di sini untuk pekerjaan."

Pintu tiba-tiba dibuka. Dazai untungnya sempat membalikkan tubuhnya sehingga tidak jatuh secara memalukan.

"Aku dari Port Mafia. Bos memerintahkan agar usahamu menjual miras oplosan dihentikan selama Ramadhan." Chuuya berkata seperti itu hafalan, otomatis diucapkan tanpa memperhatikan lebih dulu wajah orang yang diajaknya bicara.

"Chuuya?!" Pemilik toko kecil ilegal itu dengan kaget menunjuk-nunjuk wajah Chuuya yang selama beberapa detik menampilkan ekspresi bengong.

Dazai memperhatikan kliennya. Rambut putih dengan belahan di tengah ... Oh, dia ingat. "Kamu adalah salah satu anggota Sheep, ya?"

"Shirase?!" Sekarang Chuuya mengingat nama teman lamanya yang kini identik dengan pisau dan racun tikus. Anggota Sheep yang menusuknya dalam usaha melenyapkan eksistensi Chuuya dari muka bumi untuk selamanya. Ah, singkatnya Shirase mencoba membunuh Chuuya.

"Wah, wah, jadi begitu rupanya." Dazai tersenyum, merasakan situasi yang dihadapinya sekarang benar-benar lucu.

"Shirase-san, kamu mendengar rumor bahwa Port Mafia melakukan pembersihan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan minuman keras di Yokohama, dan tentu hanya masalah waktu sampai kamu didatangi juga. Jadi kamu membuat permintaan pada Agensi agar bernegosiasi dengan utusan Port Mafia itu supaya tokomu tidak ditutup."

Chuuya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Huh, sayangnya dia tidak memperkirakan bahwa anggota Port Mafia yang akan datang adalah seseorang yang berusaha dia bunuh 7 tahun lalu."

Shirase gemetaran. Dia tidak ingat pernah melihat tatapan Chuuya yang sekarang. Tatapan dari seseorang yang tidak bisa lagi dikendalikan, dikontrol dengan beberapa kalimat manis dan doktrin tidak adil.

Menoleh pada Dazai, Shirase berharap agen detektif yang dipanggilnya bisa sedikit membantu, tapi melihat senyum jenaka itu malah membuatnya semakin membatu. "Ka-kau, orang di game center waktu itu?!" Terbayang olehnya pemuda dengan tangan patah yang menelepon bos mafia ketika ditodong dengan pisau.

"Baiklah Shirase-san, atas nama agensi aku akan mulai bernegosiasi." Dazai bersikap seperti seorang profesional, yang membuat Chuuya ingin tertawa tapi ditahan.

"Port Mafia meminta agar toko ini tidak beroperasi selama Ramadhan, begitu?" Dazai memastikan persoalan dengan raut wajah kelewat serius.

"Ya, apa masalahnya dengan itu?" Chuuya mengikuti alur, mengirim kilat ancaman dari tatapan dingin kedua matanya.

"Itu sangat tidak adil, kan, Shirase-san?" Dazai menyeret masuk kliennya dalam pembicaraan.

"Be-benar sekali!" Spontan menyahut, Shirase sama sekali tidak kehilangan rasa gugup.

Chuuya mengetahui seberapa parahnya Dazai mempermainkan seseorang (mengingat dia adalah korbannya selama beberapa tahun). Jadi dia memutar matanya dengan malas. "Lalu apa kesepakatan yang kalian mau?"

Dazai menjawab lantang. "Tempat ini seharusnya tidak disegel selama Ramadhan, tapi selamanya!"

"Hah? Apa yang kau katakan?!" panik Shirase

"Setelah dipikir-pikir, itu ide bagus. Aku akan menyampaikannya pada Bos."

"Tunggu!!!"

Kadang-kadang, kedua orang mengerikan yang selalu saling umpat ketika bertemu itu bisa saja sependapat. Dihadapkan pada dua pasang tatapan membunuh, Shirase bertekuk lutut.

OMAKE

"Dazai, nih," Chuuya menyerahkan beberapa tas belanjaan pada Dazai sebelum mereka berpisah. "Ane-san menitipkan ini untuk Kyouka."

"Hee ~, untukku tidak ada?"

"Bos berniat memberimu semacam itu, tapi dia khawatir kau akan membakarnya."

(Ketika pertemuan antar Bos Port Mafia dengan Pimpinan Agensi Detektif Bersenjata, Mori sempat menanyakan apakah Dazai masih mengenakan mantel pemberiannya. Dazai menjawab bahwa tentu saja dia sudah membakarnya.)

"Oh," sahut Dazai pendek. Matanya menerawang, sibuk dengan pikirannya sendiri. "Ngomong-ngomong, Chuuya. Bagaimana nasib koleksi wine mu yang dari zaman pra aksara? Sudah dipecahkan semua?"

"... Itu bukan dari zaman pra aksara, bodoh."

End.