Tak Ada Yang Tahu Rencana Tuhan, Bahkan Tuhan Sekalipun

.

.

Arc I: Tak Ada Yang Tahu Rencana Tuhan, Bahkan Tuhan Sekalipun

Chapter I: Aku Hidup Kembali, Sialnya

.

Bagian 1

.

Aku terkadang berpikir, seberapa besar kadar kesialan dalam hidupku.

"Sumpah deh, demi apapun, bisakah kalian biarkan aku pergi?"

Di depan wajahku, ada empat orang dengan wajah menyeramkan yang menatapku dengan tatapan wajah yang kuyakini bisa langsung bikin anak kecil, seberani apapun dia, langsung lari ke rumah sambil nangis seharian. "aku bakalan pergi, dan pura-pura tidak melihat apapun. Jadi, kau aman, aku aman, kita semua senang... setuju?"

Hal terakhir yang kuingat sampai aku terjebak di antara manusia-manusia sangar dengan wajah mengerikan ini adalah karena sebuah insiden kecil yang berujung kesialan bagiku.

Aku sedang mengantarkan pizza pesanan pelanggan dari toko tempatku bekerja. Yang karena aku sempat berbuat ulah beberapa kali sebelumnya, bosku memberiku ultimatum kalau sampai terjadi masalah, sekecil apapun, sekali lagi dalam pengiriman hari ini, aku bakalan dipecat. Entah itu pesanan tidak sampai, salah kirim, hingga hal sepele seperti terlambat.

Aku jelas tak mau dipecat. Sebagai orang yang hidup sendiri di kota besar tanpa bantuan siapapun, dipecat jelas bukanlah hal yang ingin kudengar apapun yang terjadi. Apalagi, aku punya tanggungan seorang cewek yang numpang bersamaku dan kerjaannya cuma bikin emosiku naik.

Makanya, untuk menghindari segala macam hambatan yang bisa terjadi dalam perjalananku kali ini, aku benar-benar menyiapkan diri sebaik mungkin. Motor yang kaugunakan aku cek secara teliti, bensin kuisi satu tangki penuh, oli kiganti, rantai kukencangkan, ban kuisi angin, hingga kotak pizza kuteliti satu-satu untuk menghindari kesalahan.

Bahkan, karena saking khawatirnya, aku langsung siap berangkat menuju tempat pelanggan sedetik setelah pesanan diberikan padaku, tanpa banyak bicara. Pikiranku waktu itu, jika aku telat, urusannya takkan jadi mudah bagiku.

Aku mencari rute paling dekat dan paling sepi untuk menghindari flag yang mungkin bisa saja mengarah ke arah yang merepotkan. Apalagi, kupikir, dengan begitu, pizza ini akan lebih cepat sampai dengan cara itu. Dan semakin cepat pizza ini sampai, semakin senang pelanggan, dan itu jelas menguntungkan bagiku. Setidaknya, walau tak mungkin aku dipuji, bosku takkan marah-marah sambil mengeluarkan ludahnya apalagi sampai memecatku.

Tapi, sialnya, selalu saja, bagaimanapun aku menjalaninya, kesialan selalu datang kepadaku.

Setelah beberapa menit mencari di aplikasi Maps, aku berhasil menemukan jalan yang paling dekat, dan paling sepi. Bahkan estimasi waktu yang kutempuh jika menggunakan jalan tersebut lebih cepat sepuluh menit dibanding jika aku memakai jalan raya.

Dengan yakin aku menarik gas motor bebekku yang dibebani dengan kotak pizza sambil bersenandung ria. Jalan yang kulalui memang tak beraspal bahkan cenderung sempit, tapi cukup bagus untuk bisa dilalui sepedah motor dan lebih bagusnya, tak ada orang yang lewat. Bahkan aku sempat berpikir, kalau mungkin, inilah hari yang paling beruntung yang kupunya.

Tapi beberapa menit kemudian, kayaknya, mau tak mau aku harus mencabut ucapanku itu. Entah karena Tuhan yang mau aku melihatku senang sedikit saja, atau karena picuan ucapanku tentang 'hari yang paling beruntung', atau memang karena kesialan selalu berusaha menguntitku, aku harus terlibat insiden yang kayaknya bakalan bikin repot.

Gang sempit, apalagi sampai sepi, biasanya identik dengan kejahatan. Di cerita fiksi apapun, jika adegan tengah berseting di tempat semacam itu, adegan itu punya probabilitas tinggi adalah adegan kejahatan. Dan aku baru sadar akan hal itu di saat yang sungguh tidak tepat.

Saat aku sedang asik mengendarai motor sambil melepas kelegaan bahwa setidaknya hari ini aku takkan mungkin dipecat, di depanku berdiri empat orang cowok yang mengelilingi seorang cewek yang kelihatan sangat ketakutan. Aku sempat ingin berniat membalik arah, tapi gang yang kulalui terlalu sempit, dan agak susah untuk bisa cepat-cepat berbalik arah lalu kabur. Apalagi, salah satu dari mereka sudah melihatku, dan meneriakiku.

Makanya, di sinilah aku berakhir.

"Kau pikir kami bodoh hah?" jika kau bertanya apa yang kupikirkan, mungkin bagaimana caranya keluar dari situasi ini tanpa dapat masalah.

Sang cewek juga langsung lari ke belakang badanku, sambil terisak dan terus menggumam. "Tolong... selamatkan aku..." dengan tangan yang bergemetar, ia menarik ujung bajuku.

"Beneran 'deh, jika kalian membiarkanku pergi dari sini, aku akan langsung melupakan fakta kalau aku telah bertemu empat pria dan seorang wanita. Janji! Jika aku berbohong, kalian bisa datangi tempatku bekerja, dan carilah aku." sambil mengangkat tangan, aku menghela kecil. "tanyakan saja pada orang-orang di sana, cowok berambut pirang dan bermata biru yang namanya paling aneh, Uzumaki Naruto."

Saat aku selesai mengucapkan kata terakhir, bukannya percaya, empat pria ini malah semakin intens menatapku.

"Sekali lagi kutanya, apa kau pikir kami bodoh 'hah!?" dan salah satu dari mereka meraih kerah bajuku.

"Mana ada orang dengan nama belakang Uzumaki, dan nama depan bakso ikan." pria bermuka seram lainnya berteriak begitu.

Ah, iya deh, namaku memang aneh. Bahkan aku sering dapat masalah dari namaku, seperti tatapan curiga dari bosku saat tes wawancara, sering dibilang chuunibyou abadi, atau sekedar diejek pegawai lain.

"Yah, jika kalian ingin protes tentang namaku, protes pada orang tuaku." itupun dengan catatan kalau mereka masih hidup.

Bahkan aku juga harusnya sudah mati -aku bisa jelaskan itu nanti.

Si cewek yang berlindung di belakangku menjerit tertahan ketika ujung kerah bajuku ditarik paksa tadi. Tapi, tangannya masih memegang ujung belakang seragam kuning tempatku bekerja. Dan kepalanya masih bersandar di pundakku.

Dilihat dari manapun, oleh siapapun, dalam situasi seperti ini, ini jelas tindak pemerkosaan. Sekelompok pria dengan wajah yang tak bisa dibilang ramah tengah mengelilingi seorang wanita dengan wajah yang ketakutan setengah mati sampai meneteskan air mata. Apalagi yang bisa menjelaskannya kecuali apa yang kusebutkan tadi.

Dan jika aku menjadi nona yang ada di belakangku, aku juga bakalan ketakutan setengah mati. Bahkan, jika aku dulu bukan seorang shinobi -sekali lagi, ini juga akan dijelaskan nanti, yang biasa menghadapi orang-orang dengan wajah yang sama sekali tidak normal, aku juga mungkin bakalan langsung menangis sekarang.

Tempat ini sangat sepi, aku tak tahu mengapa, dan itu jelas menyusahkan nona ini. Dia tak bisa berteriak, yang artinya dia tak bisa meminta tolong pada siapapun. Walau dia membawa ponsel genggam, para preman ini jelas akan terlebih dahulu menyitanya, sama seperti yang mereka lakukan padaku, jadi tak mungkin ia bisa menelepon polisi.

Makanya, saat ia melihatku datang dengan membawa motor bebek dengan kotak pizza datang menghampirinya di tengah keputusasaan, ia mungkin merasa kalau aku ini selevel mesiah yang datang di akhir zaman. Saat aku diseret oleh preman-preman ini, ia langsung bersembunyi di belakang badanku sambil terus menggumamkan sebaris kalimat yang sama.

Sebenarnya, aku juga tak ingin menyakiti hati nona ini, tapi sialnya aku bukan pahlawan semacam itu.

Aku bukan tokoh protagonis dalam novel alay, yang rela menyelamatkan seorang wanita yang hampir diperkosa dengan gagahnya, mengesampingkan apapun konsekuensinya. Diriku yang busuk ini tak bisa, dan tak mau jadi seperti itu. Jika ditanya ingin jadi karakter macam apa, dengan yakin aku akan jawab, aku ingin jadi tokoh yang muncul di satu panel manga, dan hanya jadi gambar latar belakang tanpa digambar secara sempurna.

Yang kuinginkan sekarang hanyalah aku bisa pergi dari sini secepatnya, tanpa membuat masalah dengan pelanggan. Persetan soal pemerkosaan, selama tak ada hubungannya denganku, untuk apa aku peduli!

"Oke deh, sekarang mau kalian apa?"

Karena aku sudah mulai yakin kalau keadaan ini terus berlangsung, bisa-bisa aku kena masalah, makanya, aku mencoba untuk mengikuti keinginan mereka.

Tepat seperti apa yang kuduga, preman yang masih mencengkram erat kerahku menyeringai. Wajahnya yang ngeri itu agak membuatku ingin menghajarnya. "Heh..." ia lalu menatap empat tiga kawannya, dan kembali menatapku sambil mengangguk.

"Kalau begitu, bagaimana jika uangmu. Hitung-hitung kompensasi atas ganggunmu atas pesta kami."

Ah, begitu.

Aku tak tahu seberapa bodoh orang-orang ini, tapi kayaknya, mereka cuma sedikit lebih pintar dibanding tetanggaku yang setiap malam memainkan musik rock n' roll dengan volume penuh. Aku tak benci musik rock n' roll, cuma saja dia memainkan musik itu di jam sebelas malam, dan itu bikin cewek yang numpang bersamaku ngomel tak jelas padaku. Itu yang kubenci.

Maksudku, jika mereka memintaiku uang, untuk membebaskanku, bukankah itu sama saja memberiku alasan yang lebih untuk menelepon polisi. Jika mereka membiarkanku pergi tanpa syarat saja aku sudah punya alasan yang cukup kuat untuk menelepon polisi, dengan bilang kalau mereka sedang melakukan tindakkan pelecehan seksual pada seorang wanita. Sebodoh apa sih otak mereka?

Tentu saja, meski aku bilang apa saja, tapi untuk masalah uang, itu hal lain. Karena yah, kau tahu, "Aku tak punya uang."

Aku ini pekerja pengantar pizza yang hampir dipecat dan harus menghidupi seorang cewek sialan yang numpang di rumahku. Jika aku punya uang untuk diberikan ke mereka, itu adalah keajaiban yang sangat langka.

"Kaubaru saja bilang apa saja."

"Selain uang. Aku belum selesai bicara tadi." aku memutar mata. Pria itu membuat wajah yang lebih sangar, lalu tanpa aba-aba ia mengarahkan pandangannya ke motorku. "Dan pizza. Jika kalian mengambil itu, akan jadi masalah bagiku."

Ia mendecak.

Eh, beneran tahu! Jika kalian mengambil itu, aku akan dipecat. Yang parahnya, aku khawatir, bukan hanya itu, sebelum dipecat aku pasti akan dimarahi dan dihujani ludah habis-habisan oleh bosku.

"Lalu, apa yang bisa kulakukan!?" satu ludahnya mencipta ke kepalaku. Dan sekedar informasi, itu agak bikin jijik.

Apa yang bisa kulakukan? Ah, mari kita lihat. Dilihat dari kadar kesialanku, aku khawatir, bukannya bakalan membuat mereka senang, aku malahan bakalan bikin masalah untuk mereka. "Aku bisa diam saat seperti tak melihat apapun."

Aku ini tipe manusia apatis, jadi, mungkin hanya itu yang paling kukuasai.

"Jangan memutar-memutar pembicaraan!" kali ini ludah preman yang lain yang nyiprat ke mukaku

"Aku tak memutar-mutar pembicaraan." dengan tangan preman yang masih meraih kerah bajuku, aku mengangkat bahu. "memang hanya itu yang bisa kulakukan."

Mungkin, melihat tak adanya ketakutan di mataku, para preman itu mendecak secara bersamaan. Aku agaknya tahu apa yang mereka pikirkan berdasarkan pengamatanku.

Walau mereka tahu aku juga takkan membicarakan hal ini kepada siapapun, berdasarkan keteguhan bicaraku. Tapi membiarkan mangsa mereka kabur tanpa mendapat keuntungan apapun juga bukan hal yang mereka inginkan. Makanya, tadi mereka meminta uang, dan barang kubawa. Namun, karena aku menolak tanpa ragu, mereka bingung apa yang bisa mereka dapatkan dariku.

Mungkin mereka juga berpikir mereka telah ketiban sial karena mendapat mangsa orang miskin, dengan wajah nyolot, yang juga pelit sepertiku.

Ah, tenang saja, para preman..., yang sial bukan cuma kalian 'kok! Aku juga sial sudah bertemu kalian.

Tiba-tiba salah seorang dari mereka tersenyum sambil bilang aha. Dia lalu membisikkan pada manusia yang sedang menggenggam kerah bajuku. Si penggenggam kerah bajuku itu lalu tersenyum sadis. Dan dilihat dari sorot matanya yang agak ngeri, aku bisa paham kalau jelas apa yang dibisikkan padanya itu jelas bukan hal bagus.

"Kalau kau tidak bisa memberi apapun sebagai kompensasi dan jaminan kau takkan mengkhianati kata-katamu itu, bagaimana kalau..." dia mendekatkan wajahku ke wajahnya. "... kami buat jaminan kalau kau bakalan melupakan ini semua dengan tinju kami?"

Wah, ini mulai nggak bagus.

Aku sudah di sini selama sepuluh menit lalu. Dan itu artinya, tinggal beberapa menit lagi untuk pizza itu terlambat kuantar.

Aku mengambil jalan damai sejak tadi, tentu saja karena aku tak mau dapat masalah tambahan. Lagipula, jika sejak awal aku langsung mengajak mereka berkelahi untuk membebaskan diri, aku tak yakin aku bisa menang melawan mereka lebih cepat dari setengah jam. Dan pelangganku jelas tak mau menungguku selama itu.

"Ada yang bilang kalau kekerasan tak menghasilkan apapun." aku menghela, setidaknya sekarang aku mencoba memasang wajah memelas, alih-alih datar seperti yang dari tadi kulakukan. "jadi, bisakah, kita selesaikan dengan cara yang lebih mudah?"

Aku sempat berpikir kalau mereka mendengar permintaanku, masalahnya cowok yang ngomong selalu paket ludah di depanku ini tersenyum ramah. Tapi, kayaknya, itu hanya ia lakukan untuk basa-basi. Karena hal selanjutnya yang ia lakukan sungguh tak cocok dengan senyum di wajahnya.

"Sayangnya, hal yang paling mudah adalah dengan meninju kepalamu sampai otakmu berhenti bekerja." ia lalu mengarahkan tinjunya padaku.

Ah, iya deh.

Setidaknya aku punya alasan atas keterlambatanku kali ini.

Meski jelas itu tetap sia-sia.

.

Bagian 2

.

Kebetulan, saat ini aku punya dua kabar.

Yang pertama bagus, dan kedua lumayan tidak bagus.

Pertama, aku bertanya berhasil melawan para preman itu lebih cepat lima menit dibanding perkiraanku. Yah, aku menang dalam waktu 25 menit kurang sedikit. Dan tanpa meninggalkan bekas goresan sedikitpun di tubuhku. Si wanita yang awalnya tak berniat kuselamatkan juga akhirnya bisa bebas dari kemungkinan diperkosa empat cowok berbadan penuh otot dan punya wajah seram. Dengan kata lain, sebenarnya aksiku tadi cukup lumayan memuaskan.

Tapi, sialnya, hal yang bikin kabar bagus itu jadi lumayan tidak bagus adalah pizza yang harusnya jadi cemilan pelanggan toko tempatku bekerja, terlambat kuantar. Oke, jika setidaknya hanya terlambat, aku masih bisa mengantarkan pizza ini dan beralasan pada pelanggan kalau aku harus berhadapan dengan sekelompok preman yang hampir memerkosa seorang wanita makanya aku telat. Jika ia percaya atau masih punya hati, urusan selesai.

Tapi masalahnya, karena perkelahian tadi lumayan brutal, dan empat cowok muka sangar itu sempat mengeluarkan senjata tajam, aku harus bertarung habis-habisan. Dan ketika selesai, saat mereka sudah ambruk, aku baru sadar kalau motor bebekku sudah penuh goresan dan pizza berharga pelangganku sudah menyerupai lukisan abstrak yang dipajang di dinding museum.

Aku jelas tak bisa mengantarkan ini pada pelangganku, kecuali aku mau dituntut karena diduga memberikan makanan babi pada manusia.

Si wanita itu sempat berterimakasih padaku. Walau sebenarnya aku masih kesal padanya karena sedikit banyak ia berkonstribusi pada kesialanku hari ini, tapi mungkin akibat aku cukup kasihan sama wanita ini sebab baru saja dia hampir diperkosa..., akhirnya aku, dengan setengah hati, menawarkan tumpangan untuk mengantarkanya sampai rumah dan langsung dengan anggukan antusias ia terima.

Saat di jalan menuju rumahnya, tak ada pembicaraan. Ia cuma menjawab pertanyaanku tentang arah menuju rumahnya, untuk selain itu, aku tak mau repot-repot memulai pembicaraan. Ia pun hanya memegang ujung bajuku sambil gemetaran, dan aku bisa merasakan punggungku lumayan basah. Kayaknya ia mulai menangis.

Saat aku sampai di depan rumahnya yang lumayan gede, ia turun sambil membungkukkan badan dan mengucapkan terimakasih yang kuyakini berasal dari dalam hatinya langsung. Aku mengangkat bahu dan memutar balik motorku menuju toko.

Dalam hati, sambil menarik gas, aku menyiapkan mentalku untuk melakukan sesi pembicaraan penuh sensualitas bersama bosku. Ia jelas takkan membiarkanku dipecat semudah itu. Apalagi, bosku itu sama sekali bukan tipe pria penyabar yang akan memaafkan pegawainya yang bikin pelanggan kecewa. Malahan, ia adalah tipe yang dengan senang hati membuat siapapun yang bekerja di bawahnya sengsara.

Dan tebakanku benar.

Baru selangkah aku masuk toko, dan pria beranak tiga yang sekaligus bosku itu sudah berkacak pinggang dan menatapku penuh senyum. "Kerja bagus lagi hari ini, Uzumaki-kun."

Walau di wajahnya penuh dengan senyuman, tapi aura yang ia pancarkan langsung membuat nyaliku ciut. "Kuharap kaupunya alasan yang sangat bagus." jadi, yang bagus saja tidak cukup...

"Ah, begini Pak..." dengan reflek aku menggaruk belakang kepalaku. "tadi aku berantem dengan beberapa preman untuk menyelamatkan seorang wanita yang hampir diperkosa. Bahkan sampai aku mengantarkannya pulang."

"Dan di perjalanan menuju kemari kau tertabrak truk, lalu masuk ke peron kereta Shinjuku, kemudian terdampar di Okinawa, untuk akhirnya kembali ke Tokyo dengan pesawat barang milik Amazon. Oh, kasihan sekali dirimu!" ia menatapku dengan sinis sambil mengangkat bahu. Dan jika saja aku diberi kesempatan meninju wajahnya yang super super ngeselin itu sekali saja, aku takkan menyia-nyiakan hal itu.

Ia melanjutkan tanpa menarik napas. "Apa kau tahu, betapa susahnya menjawab pertanyaan pelanggan pizza itu yang setiap sedetik sekali menelepon? Aku bahkan sempat khawatir kebotakanku akan jadi permanen jika terus-terusan seperti itu."

"Untuk masalah keterlambatan terhadap pelanggan, aku minta maaf Pak. Tapi alasan itu, aku tidak bercanda Pak! Jika aku bohong, alasan apa lagi yang bisa menjelaskan baretan-baretan penuh seni di motor bebek yang kubawa itu?!" lagipula Pak, kuingatkan, rambutmu sudah botak permanen sebelum ini semua. Jadi tenang saja!

"Oh ya?" ia masih skeptis menatapku.

Aku paham kalau aku pasti bakalan dipecat ujung-ujungnya, tapi setidaknya aku ingin menjelaskan alasanku kali ini sejelas-jelasnya tanpa meninggalkan kesalahpahaman. "Tentu saja, benar! Memang aku pernah berbohong pada Bapak?"

"Jangan ungkit-ungkit masalah kebohongan deh, aku tak ingin semalaman di sini hanya untuk mendiktekan semua kebohonganmu dalam dua hari ini saja."

Walau sebenarnya hatiku agak sakit mendengarnya, dan ingin protes, tapi ia langsung menyelaku dengan cepat. "Tapi Pa...-"

"Baiklah, baiklah, mari berpikir jernih..." walau harusnya ia berkata itu dengan kalem, tapi aku masih takjub bagaimana ia bisa membuat wajahku penuh ludah. Ia menghela, dan menatapku dengan sedikit lebih kalem. "Pertama, tunjukkan bukti kalau ucapanmu benar."

"Tentu saja, motor yang penuh goresan benda tajam dan pizza yang berubah jadi makanan babi." aku bilang begitu sambil menunjukkan arah parkiran.

"Baiklah..., lalu tepatnya, di manakah dirimu diserang?"

"Di gang sempit belakang warung ramen Takeda."

"Tempat itu memang banyak premannya sih..."

Owalah, jadi memang di sana banyak preman toh!

Aku memutar bola mata.

Toko ini memang tak terlalu ramai, di jam-jam seperti ini. Biasanya, para pelanggan lebih senang mengorder lewat layanan delivery, jadi, bangku yang terisi pelanggan hanya tiga atau empat biji. Dan itu kayaknya yang bikin Pak Bos bisa mengeluarkan seluruh sarkasmitas-nya kepadaku.

"Ketiga, dan terakhir, bisa sebutkan siapa nama perempuan yang kauselamatkan, dan alasan kenapa bajumu rapi seperti baru disetrika?" ia menyeringai kembali.

"Ah..., itu..." bicara soal nama perempuan itu, aku kelupaan menanyakannya! "untuk masalah baju, aku bisa jelaskan. Tapi, untuk nama, aku tak tahu."

"Benarkah?"

"Beneran Pak! Aku melawan preman-preman itu secara mudah, dan dengan sangat baik menghindari serangan mereka, jadi bajuku masih sangat rapi." aku menarik napas. "dan untuk nama si perempuan, dia terlalu shok untuk bahkan sekedar kuajak bicara, jadi, mana mungkin aku bertanya namanya."

"Tapi kaubisa menanyakan jalan menuju rumahnya?"

Aku terdiam.

Pertanyaan Pak Bos beneran bikin mati kutu!

"Lagipula, mana mungkin aku bisa percaya ada orang yang bisa mengalahkan empat preman yang bahkan bisa bikin motor penuh goresan tanpa berkerut sedikitpun bajunya."

Sudah kubilang Pak, apa yang kukatakan itu benar! Alasan kenapa bajuku tidak tergores sedikitpun adalah karena kemampuan keempat preman itu sama sekali tak membuatku kesusahan. Bukankah aku bilang tadi, kalau aku adalah shinobi? Yakinlah, jika kau adalah seorang yang biasa menghadapi orang-orang bisa bikin senegara hancur semacam Pain, maka menghadapi empat orang preman kampung yang berusaha memerkosa seorang wanita jelas bukan masalah besar.

Walaupun aku sudah tak punya chakra, tapi melawan mereka masih cukup mudah bagiku.

"Iya deh, Pak. Aku mengaku kalah." aku mengangkat tangan tanda menyerah.

Bicara dengan orang ini beneran sulit.

"Jadi, kapan bisa aku ambil surat pemecatanku?"

.

Bagian 3

.

Bisa kubilang, Kyuubi adalah mimpi buruk bagi setiap psikiater di dunia.

Cewek berambut jingga yang punya mata merah bikin ngeri itu bisa bikin setiap hari adalah kiamat hanya dengan tinggal serumah denganmu. Banyak kemampuannya yang kadang bikin aku takjub. Ia bisa bicara tanpa berhenti selama sejam, punya perubahan mood yang bikin Shinkansen tak lebih dibanding kursi roda bekas, kalau ia membuka mulut pasti hanya bikin hatiku sakit, dan tentu saja, yang paling parah dibanding itu semua, ia adalah wanita yang akan dengan senang hati membuat wajahmu merasakan hak sepatunya.

Yah, aku tahu itu, karena sudah delapan belas tahun lebih aku hidup bersamanya, bahkan dalam dua dunia sekaligus.

Di dunia pertama, tempat kelahiran dan tinggalku sampai beberapa bulan lalu, ia adalah Kyuubi no Yoko yang membunuh orang tuaku dan bikin hidupku selalu penuh kesialan. Meski akhirnya ia jadi lumayan jinak, dan mau sedikit bekerja sama denganku, tapi sikapnya memang selalu bisa membuatku naik darah setiap saat.

Bahkan, ketika aku sudah mati sekalipun, karena menyegel kekuatan Kaguya, Dewi Kelinci yang bikin onar di duniaku -inilah alasan kenapa aku bilang kalau aku sudah mati tadi..., Tuhan tetap membuatku harus terus mengurusi cewek tak tahu diri ini.

Aku sempat menolak, tentu saja.

Makhluk yang dikatakan sebagai penguasa tertinggi dunia itu terus-terusan bicara soal aku yang dikelilingi wanita dan kebahagiaan. Makanya, alasan kenapa Kyuubi harus bersamaku di dunia ini adalah karena wanita itu adalah harem pertamaku.

Yah, memang sih, dilihat dari manapun, Kyuubi mungkin satu-satunya wanita yang bisa membuat Tsunade-baba-dono merasa kalau ia sudah berumur lebih dari lima puluh tahun. Bahkan, jika saja di seluruh negara elementer -nama duniaku dulu, diadakan kontes kecantikan, Kyuubi pasti bakalan menang sejak babak penyisihan.

Ok, pasti ada yang bakalan mengira kalau apa yang kudeskripsikan tentang wanita itu sangat berlebihan. Tapi, jika kau jadi aku, mungkin kau malah bakalan merasa kalau apa yang kudeskripsikan itu belum sama sekali cukup untuk menjelaskan karunia Tuhan pada wanita ini.

Dia punya kulit yang seputih susu, dan rambut sehalus sutra. Dari rambutnya itu tercium aroma jeruk yang bisa merelaksasikan diriku, seberapapun capainya aku. Tubuhnya semampai, dan kakinya jenjang. Lehernya lebih menggoda dibanding es krim di musim panas. Dan jika ia tersenyum -yang meski sungguh sangat begitu benar-benar jarang sekali, mungkin makhluk yang bernama bidadari sekalipun akan langsung iri pada dirinya.

Aku bahkan sempat berpikir kalau seluruh analogi wanita sempurna mengacu pada dirinya.

Tapi, yah, dia akan jadi sesempurna itu jika saja ia tak terlalu berbakat mengacaukan segala hal.

"Kutebak, kau dipecat untuk yang kesekian kalinya lagi."

Makanya, meskipun Tuhan bilang kalau ia adalah harem pertamaku..., jika ada orang yang menawarkan 100.000 Yen untuk ditukar dengan cewek ini, dengan senang hati akan kuterima. Tapi tanpa garansi uang kembali jika ia kemudian jadi gila akibat setres menghadapi kelakuan gadis itu.

"Kaubisa menghilangkan lima kata terakhir, kau tahu." aku baru saja pulang dari tempat kerja dan menemukan wanita berambut jingga itu sedang asyik menonton televisi bersama sebotol soda di tangannya. "bisa nggak sih, sambutanmu padaku lebih menyenangkan sedikit?"

Walau aku tahu ia takkan bisa mencapai level 'menyenangkan', tapi siapa yang tidak kesal coba, saat kau sedang depresi dan ada orang yang bilang kata-kata itu tadi dengan entengnya, bahkan dengan ekspresi wajah yang bisa dibilang sarkas. Dia menatapku dengan acuh. "Iya deh..." tangannya membuka botol soda, dan menenggaknya.

Rumah kontrakan yang kutempuh bersama cewek itu adalah kontrakan biasa dengan bentuk biasa yang ada di tengah-tengah kota Tokyo. Ada di lantai dua, dan punya tetangga yang lumayan eksentrik. Salah satunya, seperti yang sempat kubicarakan, suka memainkan musik rock n' roll di tengah malam.

Yang satu lagi sering dipukul dengan panci oleh Kyuubi gara-gara sering bertamu malam-malam dengan keadaan mabok alkohol sambil mengigau kalau Kyuubi adalah istrinya yang dulu sudah meninggal. Sementara yang lainnya adalah seorang penganut aliran agama antah berantah yang sering memakai aksesoru norak berlambangkan logo tak telas sambil memyatroni seluruh rumah kontrakan sambil bilang: "Wahai manusia durjana, hidup di dunia ini hanya sekali, sembahlah Yang Mulia Jedi, maka hidupmu akan bahagia!" dengan tangannya yang mengacungkan pedang cahaya. Dan beberapa tetangga norak yang kadangan lumayan bikin kesel.

Tak ada yang spesial dari kontrakanku ini. Ada satu kamar, sebuah dapur sederhana, kamar kecil, dan balkon yang biasa buat gantung jemuran. Peralatan rumah tangga yang kupunya juga seadanya. Tak ada yang muluk-muluk.

Aku menghela kecil sambil kakiku melangkah menuju kamar mandi.

Otakku lumayan panas malam ini.

Kata orang-orang, mandi sehabis seharian bekerja adalah pilihan yang bijak. Saat dirimu dipenuhi dengan beban, dan merasa kalau sayur brokoli bukanlah hal yang paling mengerikan, maka membiarkan dirimu terendam di dalam air sambil melemaskan syaraf-syaraf otakmu jelas bukan hal buruk. Apalagi, jika kau adalah tokoh utama cerita harem, biasanya akan ada wanita yang hanya memakai handuk salah masuk, lalu dengan muka yang semerah sambal habanero, ia menawarkan untuk menggosok punggungmu.

Memikirkan iru, entah bagaimana, tanpa kusadari, aku malah berakhir menatap Kyuubi penuh harap. Yang mungkin karena ia tak nyaman kupandangi, ia balas menatapku tajam. "Apa?!"

"Tidak," aku mengalihkan pandangan. "cuma mau mandi."

Yah, itu jelas tak mungkin terjadi padaku 'sih.

Karena selanjutnya, bukannya ia melepas baju dan mengikutiku, ia malah dengan seenakudelnya bilang padaku. "Jangan mandi dulu!"

"Eh, kenapa?"

"Aku baru mandi setengah jam lalu. Meskipun air sudah kukuras, tapi bau tubuhku masih tertinggal di kamar mandi." matanya menatapku jijik. "aku tak mau bau tubuhku yang suci itu dijadikan fantasi mesum makhluk menjijikan sepertimu."

Sebenarnya, jika saja tubuhku tak sedang lelah seperti ini, mungkin aku akan membalas ejekkan itu dengan senang hati. Bahkan, jika mungkin, sampai ia menangis sambil menyembah minta maaf padaku. Tapi, kejadian-kejadian hari ini lumayan menguras tenagaku. Jadi, dengan terpaksa, aku hanya bisa mengiyakan ucapannya sambil duduk di samping cewek berambut panjang itu. Menahan keinginanku untuk segera berendam.

"Jangan dekat-dekat, kaubau keringat!"

Aku menepuk jidat, dan menahan hasrat dalam diriku untuk mencekik leher cewek sialan itu. "Memang siapa yang menyuruhku untuk tidak mandi?"

"Aku tidak menyuruhmu melakukan itu, aku hanya menahanmu sampai kamar mandi benar-benar steril. Jika kau jadi aku, percaya deh, kau juga takkan mau jika kamar mandi yang masih menyimpan bau tubuhku digunakan oleh murid petapa paling mesum yang pernah lahir dalam sejarah manusia sepertimu."

Dengan kata lain, kau menganggap aku semesum orang yang pernah ditinju Tsunade-baba-dono gara-gara bilang kalau dadanya rata itu? Iya deh, aku tak menyangkal itu, sedikit banyak memang kuakui aku itu mesum. Tapi untuk kasusmu, jikapun kau adalah wanita terakhir yang ada di bumi, dan aku harus menikahinya untuk mempertahankan eksistensi manusia..., maka aku lebih memilih kepunahan manusia, dibanding harus jadi suamimu!

"Terserah, jika aku meladenimu, aku pasti bakalan tambah pusing." kembali aku mengangkat bahu dan berjalan ke arah sofa.

Ruangan yang biasa digunakan Kyuubi untuk malas-malasan seharian ini hanya berisi sebuah sofa, televisi, blue-ray player, dan beberapa kaset anime serta sebuah futon dan selimut. Karena kamar di kontrakan ini cuma satu, jadi aku terpaksa harus tidur di ruangan ini dan membiarkan Kyuubi sepenuhnya menguasai kamar tidur berpenghangat dan punya kasur seempuk dada Hinata -yah, bukan berarti aku pernah menyentuhnya..., hanya saja berdasarkan perkiraanku dan shisou, Hinata punya dada yang jauh lebih empuk dibanding Tsunade-baba-dono sekalipun.

Tentu saja, aku pernah protes atas pembagian wilayah tidur yang sama sekali tak adil ini. Seolah, Kyuubi cuma kebagian yang baik-baik dan aku hanya diberi sisaan. Tapi ia terus berdalih 'perempuan harus diutamakan', dan bahkan saat aku mencoba memaksakan diri tidur di kamar..., ia kemudian memukul tengkuk bagian belakangku hingga pingsan dan menyeretku kembali ke ruangan ini. Makanya, aku sudah menyerah, dan membiarkannya menguasai kamar.

Tapi, biarlah, toh, di dunia shinobi sekalipun, kesepakatan kami juga tak jauh beda.

Sejak ia bisa dengan sesuka hati keluar dari perutku, ia tak mau masuk lagi ke dalam perutku kecuali ada misi SS yang membuatku harus bertarung mati-matian. Itupun hanya pada keadaan di mana aku harus mengubah diri ke mode jinchuuriki. Makanya, aku juga didepak selalu didepak keluar dari kamar juga.

Apalagi, sekarang, ia adalah individu yang berbeda denganku, jadi ia tak punya kewajiban untuk hidup di dalam perutku.

"Ngomong-ngomong, Kyuubi, boleh aku bertanya, dari mana kau tahu kalau aku baru saja dipecat?"

Aku bilang begitu ketika sudah duduk di sofa yang berada di belakang punggungnya. Ia sedang duduk di lantai dengan beralaskan futon, dan serius menikmati rekaman anime yang ia simpan. "Tentu saja dari suara motor yang tidak bersamamu hari ini. Bukannya sebagai pengantar pizza kau diberikan kendaraan dinas?"

Ia tak menatapku sama sekali ketika bilang itu. Rambutnya memang masih basah dan menguarkan aroma shampoo yang lumayan kuat. "Yah, baiklah..." kupikir ia punya indra keenam atau apa.

"Jadi, ada yang terluka?" aku yang agak tidak menangkap apa maksud yang ingin ia sampaikan hanya bisa bilang huh. Ia yang mengetahui ketidakpahamanku segera melengkapi kalimatnya. "Yah, karena kutebak alasan kenapa kau dipecat jelas tidak normal, seperti biasa, makanya aku tanya apa bosmu kali ini melakukan tindakan kekerasan fisik padamu?"

Oh begitu. Dan tunggu, apaan maksud tidak normal seperti biasa itu? Aku ini selalu berusaha menjaga keprofesionalanku ketika bertugas, hanya saja kesialan tampaknya masih selalu ingin membelaiku terus, jadi beginilah hasilnya.

"Jangan buat kabar pemecatanku jadi lelucon deh."

"Iya deh, maaf. Tapi beneran kan, kau memang selalu dipecat untuk alasan yang tidak masuk akal?"

Jika dia bertanya begitu, aku juga jadi terpacu untuk mengingat setiap alasan kenapa aku dipecat. Di pekerjaan pertamaku sebagai penjaga tempat rekreasi bawah air, saat para pengunjung sedang melihat kolam penuh hiu dari dalam tabung kaca secara langsung, aku tak sengaja memencet tombol pembuka tabung kaca itu, yang membuat paket liburan bertambah, dari hanya melihat jadi berenang bebas dengan para hiu.

Atau, di pekerjaanku saat menjadi petugas museum, aku tak sengaja memicu ledakan sebuah meriam yang mengarah tepat ke fosil dinosaurus setinggi tiga meter yang langsung jadi sepaket makanan tulang ringan untuk anjing peliharaan. Dan sebelum aku dipecat aku harus berurusan dengan seember penuh lem dan potongan kecil tulang-tulang itu untuk kurangkai kembali.

Dan mungkin, ketika aku jadi satpam perusahaan, aku tak sengaja tiga tulang anak direktur utama perusahaan itu patah dan salah tempat karena salah mengira dia sebagai penggerak kurang kerjaan yang mencoba melecehkan resepsionis. Apalagi, saat kusuruh ia memilih tempat lain jika ingin melecehkan wanita, ia malah berniat untuk menghajarku.

Lalu mungkin juga... Ah, memang setiap pemecatanku selalu terjadi kesalahpahaman yang sungguh sialan!

"Kurasa, untuk kali ini aku harus setuju denganmu."

Ia mengangkat bahu. Tangannya kembali membuka botol soda yang bertuliskan Coca-Cola lalu dengan tidak feminimnya menenggaknya sampai sisa setengah.

Sebentar kemudian, tak ada pembicaraan di antara kami. Hanya ada suara dari televisi yang tengah menayangkan aksi seorang wanita berambut merah muda yang dikucurkan dua menghadapi sekelompok makhluk yang takkan mau kau lihat dalam mimpi burukmu. Kata Kyuubi beberapa hari lalu, saat ia memutar rekaman yang sama, ia bilang padaku tayangan ini berjudul Puela Magi Madoka Magica atau semacam itu.

Tak buruk, cewek berambut merah muda itu lumayan manis...

Sampai tiba-tiba Kyuubi membuka mulut dan memulai pembicaraan. "Hei Naruto, kupikir aku punya saran untukmu." dengan wajah yang agak simpatik, ia mengalihkan pandangannya dari televisi menuju ke arahku.

"Apaan tuh?"

Sebenarnya, bagaimanapun juga, aku juga merasa sedikit tertekan saat ini. Aku baru saja dapat pekerjaan sebagai kurir pengantar pesanan makanan di toko itu empat hari lalu. Dan dalam empat hari saja, bosku yang suka mengumbar ludahnya itu sudah bisa memutuskan untuk menghentikanku. Walau ini bukan rekorku yang paling cepat dan juga bukan pula yang paling lambat, tapi tetap saja dikeluarkan dalam tempo sesingkat itu membuatku khawatir.

Ini jelas bukan hidup yang Tuhan janjikan padaku saat ia memberiku hidup untuk yang kedua. Apa mungkin aku sudah berbuat kesalahan?

"Sudah berapa kali kau dipecat bulan ini?"

"Lima atau enam kali, entahlah..."

"Tepatnya, delapan kali."

"Makasih udah ngingetin, ngebantu banget." kenapa dia bertanya kalau ia juga sudah tahu jawabannya?

"Bukan begitu, aku hanya ingin memberitahumu, mungkin sebanyak apapun kauberusaha masalahnya bukan di situ."

"Jadi maksudmu, semua usaha yang kukerahkan ini masih kurang?"

"Tidak, tak ada yang bilang begitu." sekedar informasi, baru saja kaubilang begitu. "yang bikin masalah adalah faktor lain yang menunjang keberhasilanmu. Seperti ucapanku, cara matamu memandang, atau bahkan wajahmu itu sendiri."

Ah, oke, mungkin ia ada benarnya. "Jadi apa saranmu?"

"Kupikir sebaiknya kau mencoba mempertimbangkan untuk ke Korea dan lakukanlah operasi agar wajahmu jadi mirip anggota Super Junior dan ganti namamu jadi bukan bakso ikan. Maksudku, bakso ikan, siapa orang bodoh yang menamai anaknya dengan nama bakso ikan?"

"Makasih sarannya, aku merasa tercerahkan."

Sambil bilang begitu aku yang sudah tak tahan dengannya hanya berdiri lalu menjitak kepalanya sekeras yang tanganku bisa dan berjalan menuju kamar mandi. Menghiraukan teriakan marahnya dan larangannya untuk masuk kamar mandi.

Dan, beginilah hidupku yang sama sekali tak tahu ke mana arahnya dimulai.

.

.

A/N: Jika ada yang bilang kalau ini adalah tulisan paling nggak jelas yang pernah dibuat manusia, saya bakalan jadi orang pertama yang setuju. Saya sama sekali nggak ada konsep buat cerita ini. Yang saya lakuin cuma nulis apa yang saya pikir cocok buat ditulis sambil mikirin Ospek yang saya yakin bakalan bikin saya sengsara. Makanya, jadinya nggak jelas begini.

Btw, saya bilang di awal kalau ini akan jadi fanfik aksi, tapi jadinya malah gini, saya juga bingung. Saya terinspirasi dari ff karya banyak penulis yang ada di fandom yang sama. Di mana Naruto yang bego dan nggak peka soal wanita. Tapi jadinya kok gini? Bukannya jadi Naruto yang bego-bego nyenengin dan keren, malah jadi Naruto yang bego-bego beneran bego dan berakhir ngeselin. Maksud saya, hei, siapa tokoh utama sebuah ceita yang tega nyerahin cewek buat diperkosa cuma gegara, pizza... kecuali Kazuma yang busuk luar dalam, dia adalah jelas cowok paling bego di dunia.

Ah, btw soal Tuhan kemarin, saya minta maaf kalau bikin Tuhan yang nggak sesuai sama yang biasa dibicarakan manusia. Saya juga bingung kok, Tuhan macam apa yang harus saya gambarkan. Makanya saya bilang kalau Tuhan punya kelogisan wajah yang nggak bisa diterima manusia. Daripada saya ngegambarin Tuhan yang berumbai-umbai dan punya dua buah bakso di badannya, yang pertama jelas pilihan yang lebih bijak.

Ilustrasi Kyuubi bisa dilihat di akun Tumblr saya. mogamogaluganda . tumblr . com (untuk menghindari efek spam cleaner ffn, silakan hapus spasi antara titik) atau facebook saya. Atau mungkin ada yang mau usul nama Kyuubi diganti Kurama?

Jika ada yang nggak sesuai sama tulisan ancur saya ini, silakan flamelah di kotak review di bawah ini. Saya nggak akan marah, saya juga sangat sadar kok, dibandingkan ff lain di fandom ini, tulisan-tulisan saya adalah yang paling buruk.

Makasih sudah mau baca!

.

.

.

.

Moga Untung Luganda, out.