A Wild Boy in my House is back! Gomennasai atas keterlambatannya. Tugas-tugas sekolah benar-benar menyita waktu serta meromusha diriku. Tapi akhirnya menyempatkan diri untuk nulis fic di liburan semester. Happy reading, minna! ^_^
.
.
Title : A Wild Boy in my House!
Desclaimer : Bleach adalah maha karya buatan Tite Kubo. Kalau Bleach punya saya, pasti bakal banyak evil.
Genre : Romance-Humor
Rated : T
Warning : OOC, AU, Gaje, MultiChap, DLDR…!
.
.
Chapter 2
"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! PENYUSUUUUUUP!" teriak Rukia mengguntur dari arah kamar mandi.
Suara emas itu menggempakan tanah seluas lima belas hektar milik keluarga Kuchiki. Sontak semua orang yang berada di dalam mansion maupun di luar mansion begidik ngeri sekaligus diliputi pertanyaan penuh keheranan. Ada apa gerangan?
Sreet. Rukia melilitkan handuk ke tubuhnya lalu segera menghajar si penyusup yang tertidur di bathub.
"Hey! Bangun! Pergi dari sini!" seru Rukia dengan amarah yang sudah gak ketolongan.
Sayangnya... si penyusup berambut oranye jabrik itu diam saja dan masih menikmati dirinya di pulau kapuk (a.k.a dalam mimpinya) dengan kucuran air liur yang mungkin volumenya sudah mencapai setengah liter.
"Huaaa! Pergi kamu dasar penyusuuuup!" Rukia menendang kepala lelaki berambut oranye itu dengan kasar.
Byuurr! Kepala itu masuk ke dalam air bathub yang berbusa, sampai-sampai membangunkan empunya yang sedang tertidur pulas.
"Hwaaaaww!" jerit pemuda yang masih berpakaian kulit macan itu. Ia melompat-lompat ala monyet panik ke setiap penjuru kamar mandi. Gara-gara tingkahnya itu, keran-keran di kamar mandi jadi mengucur air lagi. Merepotkan!
Rukia ternganga lebar saat menatap tingkah laku sinting dari si penyusup aneh itu. Ia berdecak kesal lalu berteriak, "PERGI DARI RUMAHKUUU!"
Pemuda berambut oranye jabrik itu tiba-tiba menghentikan aksinya saat melihat sosok siapa yang berteriak di hadapannya itu.
"Rukia, Rukia. Kamu kenapa?" tanya Hisana dengan nada khawatir.
"Kenapa berteriak?" tambah Byakuya yang sudah berada di samping Hisana.
BRAK! Byakuya membuka pintu kamar mandi dengan kasar, sontak sepasang mata keabuan itu membulat saat melihat siapa yang ada di dalam.
Pemuda jabrik berambut oranye itu diam membisu saat menatap gadis yang ada di hadapannya—Rukia Kuchiki.
Rukia melongo saat melihat tingkah laku pemuda liar itu yang tiba-tiba menghentikan aksi gilanya tadi. Terlebih, dia ketakutan sekarang karena pemuda itu menatapnya seperti orang kesurupan.
"Rrr-rrr-rrr." Entah apa artinya kata-kata yang dikatakan pemuda berambut oranye itu. Tapi yang pasti sekarang ia gemetar saat menatap Rukia.
"Kenapa ada makhluk seperti itu di kamar mandimu?" tanya Byakuya tegas.
"Mana kutahu. Tiba-tiba dia ada di sini," jawab Rukia. "Dan... dia pasti pelaku yang mengacak-acak kamarku!" sambungnya.
Sepasang mata Byakuya menyipit pertanda begitu marahnya ia pada sosok berambut oranye jabrik itu. Ia berjalan mendekati pemuda itu dengan melempar deathglarenya. Sontak pemuda itu makin ketakutan.
Baru saja Byakuya berdiri sejarak 2 meter dari pemuda itu, tiba-tiba si rambut oranye langsung berteriak heboh dan berlari ke arah Rukia. Dipeluknya Rukia sambil mengacungkan foto Rukia yang saat ini sedang dicari Byakuya.
"HUAAAAAAAAA!" Rukia berteriak histeris.
Jduagh! Segera ia menendang perut pemuda itu lalu dilanjutkan dengan tamparan mematikannya. Plak! Pemuda itu pun jatuh pingsan.
Rukia begidik ngeri dan memeluk kakaknya, Hisana.
.
Di ruang keluarga, Rukia menjelaskan tentang masalah di kamar mandi itu kepada kakak iparnya. Sedangkan Hisana ditemani dua orang maid sibuk mengobati luka memar di perut dan kepala pemuda yang dianggap penyusup rumah itu. Rupanya tendangan dan tamparan Rukia benar-benar maut. Lukanya sangat dalam dan pasti sakit sekali.
"Di-dia tertidur di bathub lalu aku menendang kepalanya karena kaget. Dia terbangun dan langsung lompat-lompat gak jelas," ujar Rukia dengan emosi di hadapan Byakuya.
"Jadi dia penyusup yang mengambil fotomu dan membuat badan helikopterku penyok," tambah Byakuya.
"Ya. Dan dia ngeberantakin kamarku nyampe kayak kapal pecah. Lihat Chappyku! Sampai menggenaskan begini?" kata Rukia sambil menunjukkan boneka kesayangannya dimana gabus boneka itu keluar dari tangannya.
"Tapi dari mana dia datang?" tanya Hisana.
"Pasti dari pulau itu," jawab Byakuya.
"Nii-sama bilang pulaunya tak berpenghuni," gerutu Rukia.
"Memang benar pulau itu tidak berpenghuni. Tapi lihat saja pemuda itu! Tubuh dan rambutnya yang tak terurus, tingkah lakunya yang primitif dan bahasanya yang tidak dimengerti. Adakah manusia seperti itu yang berkeliaran di kota?" kata Byakuya.
"Errr, ya juga sih." Rukia mengangguk setuju. "Tapi aku gak akan pernah memaafkannya karena dia sudah masuk ke kamar pribadiku!"
"Ughh." Pemuda jabrik itu akhirnya sadar juga dari pingsannya. Kedua matanya perlahan-lahan terbuka. Dan seketika ia menutup kedua matanya saat melihat terangnya lampu ruang keluarga.
"Dia bangun," kata Hisana memberitahu.
Byakuya menghampiri istrinya diikuti Rukia yang masih dikerumun amarah.
"Tak apa, ayo duduk!" kata Hisana lemah lembut untuk menenangkan pemuda yang rohnya baru setengah ngumpul itu untuk duduk.
Pemuda itu mengacak-acak rambutnya sehingga makin berantakan. Ia menguap lebar lalu menghempaskan diri dalam posisi duduknya di atas sofa. Parahnya ia duduk dengan posisi aneh—kakinya terbuka lebar dan salah satunya menggaruk dagunya. Benar-benar tingkah laku primitif.
"Dia itu Pithecantropus paleotokyonivus (?) ya?" tanya Rukia dengan mimik jijik saat menatap tingkah laku laki-laki tak dikenal itu.
Mendengar suara Rukia, sepasang iris mata dibalik kumpulan poni rambut sepanjang 15 cm itu melebar. "Hoh!" Dia menunjuk ke arah Rukia dengan mulut tergagap. Tiba-tiba saja ia berlari ke arah Rukia untuk memeluknya kedua kalinya.
Namun, Jduagh! Byakuya memukul kepala pemuda itu dengan pelan tapi pasti. Pukulan ringan itu sukses membuat pikiran sang penyusup berputar dikelilingi burung-burung kecil.
"Huaa! Ke-kenapa dia lari ke arahku terus sih?" teriak Rukia yang melompat ke belakang punggung Byakuya untuk berlindung.
Pemuda berpakaian compang camping itu kini mendapatkan keseimbangan lagi. Namun buru-buru ia ditarik Hisana untuk duduk. Pemuda itu berteriak histeris.
Karena tingkahnya yang benar-benar menyebalkan, Byakuya kembali memukul ubun-ubun pemuda itu sampai dibuat pusing tujuh keliling untuk kedua kalinya.
Byakuya menatap si rambut oranye dengan tatapan tajam yang tentu membuat orang yang ditatapinya merinding.
"Huawh-huaaawwhh!" Si cowok compang camping itu malah menangis di pangkuan Hisana dan tentu bikin api kemarahan Byakuya bangkit.
"Kita kembalikan dia ke pulau itu!" kata Byakuya tegas.
"Setuju!" tambah Rukia.
"Eeeh! Ta-tapi di sana dia hidup dengan siapa?" tanya Hisana dengan nada khawatir.
"Paling dengan penduduk asli pulau kayak monyet, gorila, badak, kuda, bahkan hewan buas seperti macan kumbang, harimau, buaya, singa—" belum Rukia menyebutkan nama-nama binatang karnivora itu, Hisana segera bertindak keras.
"Tidak bisa!" bantah Hisana. "Kalian tidak merasa kasihan ya? Dia hidup sendirian di hutan rimba. Kedinginan dan kepanasan. Siapa yang akan merawatnya? Dia harus mendapatkan pendidikan dan kasih sayang seperti anak-anak pada umumnya."
Suasana ruangan mendadak hening.
Sejak kapan Hisana yang lemah lembut bisa jadi setegas itu? Jangan-jangan karena faktor keibuan yang ia miliki mendorongnya untuk berkata seperti itu.
"Tapi gak bisa! Aku gak mau rumah kita berantakan gara-gara ada dia," bantah Rukia. "Ya kan, Nii-sama?" tanyanya pada Byakuya.
Siiing. Tak ada jawaban dari pria dermawan berambut hitam kelam itu.
Byakuya sepertinya sedang kebingungan. Ia menatap pemuda berpenampilan gak banget itu dengan datar, kemudian ia menatap istrinya yang sudah pasang puppy eyes—memohon kepada Byakuya untuk mengabulkan permintaannya.
"Fuuh, baiklah. Kita akan merawatnya," kata Byakuya.
Dhuaaar! Bagai ada gunung strato yang meledak di kepalanya, Rukia sakit hati saat Byakuya menyetujui kalau si penyusup tinggal di rumahnya. "APAAAAA?"
.
Di kamar besar yang rapi dan dipenuhi barang-barang unik, Rukia mengurung diri karena pundung dan kesal. Berkali-kali ia mengucapkan mantra Amitaba sambil memeluk Chappynya dengan maksud mengusir roh-roh jahat yang sudah mengepung rumahnya. Ia menganggap roh-roh jahat itu sudah merasuki kakaknya dan kakak iparnya sehingga mau menerima kehadiran pemuda tak dikenal yang berpenampilan seperti manusia purba.
"Huaaa! No no no! No waay!" seru Rukia sambil memukul bantalnya berkali-kali. "Nii-sama jahaat! Gak bisa dibiarkaaan!"
Rukia berdiri di atas kasurnya lalu berkata dengan antusias, "Pokoknya aku harus singkirkan cowok liar itu dari sini! Apapun caranya supaya hidupku damai."
Tiba-tiba, tok tok. Pintu kamar Rukia diketuk seseorang.
"Rukia, ayo kemari cepat!" kata Hisana.
Rukia menggembungkan pipinya lalu memalingkan pandangannya dari pintu. "Gak mau."
"Kakak punya kejutan. Kamu pasti kaget."
Rukia mengangkat alisnya. "Ke-kejutan?" Namun gara-gara takut dibohongi, ia kembali memalingkan wajah. "Enggak, makasih."
"Oke, kakak kasih kamu tiket gratis nonton konser Aqua Timez," rajuk Hisana.
Tak ada jawaban.
"Bagaimana kalo T.M Revolution, atau Hey Say Jump, KAT-TUN, Arashi, News, mmm... Yui?"
"Yui. Deal!" seru Rukia girang. Pintu kamar terbuka dan terlihatlah gadis bertubuh mungil itu memancarkan wajahnya yang gembira.
"Ayo!" Hisana menarik Rukia menuju ruang tengah.
Dan sesampainya mereka di ruang tengah, Rukia tidak melihat sedikitpun kotak hadiah atau hal-hal yang berbau kejutan.
"Kak, di mana kejutannya?" tanya Rukia.
Hisana menarik seseorang dari ruang sebelah, dan... JREENG! Seorang pemuda setinggi 174 cm dan berpenampilan keren datang. Pakaiannya yang simple, sepatu warior hitam yang mengkilap dan jam tangan yang tampak mahal terpasang di tangan kanannya. Matanya yang terang dan senyumannya yang tulus itu membuat Rukia mendadak jadi patung. Dan rambutnya yang berwarna oranye sewarna dengan jeruk itu... tu-tunggu! Oranye?
"Rhu-kiaawh!" seru pemuda itu dengan gembira sambil berlari ke arah Rukia.
Permata violet Rukia membulat. 'A-apa? Jadi dia adalah si penyusup itu?' batinnya tidak percaya.
Yang benar saja? Cowok bertampang liar bahkan rambutnya menyerupai surai singa itu sekarang bisa seganteng dan sekeren itu? Mustahil! Pasti salah orang!
"Ti-tidaaak!" Rukia menampar cowok liar itu hingga terpelanting ke sofa. Kemudian ia menatap tangan kanannya yang sudah menampar dengan jijik. Segera ia mengelap tangan kanannya itu ke bajunya.
"E-eeh, kamu gak kenapa-napa?" Hisana segera menghampiri pemuda itu. Namun rupanyaa...
"Hurraaayy!" seru pemuda berambut jeruk itu saat menemukan buah stroberi yang terkumpul dalam ranjang buah. Nampaknya dia senang sekali. Sampai-sampai dia menghamburkan stroberi itu seperti manik-manik di pesta.
"Apa-apaan sih diaaa?" geram Rukia yang mulai memanas.
"Nampaknya dia sangat suka stroberi," kata Hisana.
"Baiklah kenapa kita ngasih nama dia 'stroberi'," kata Rukia kesal.
"Ichigo."
"Ichigoooo~~" seru pemuda itu seperti teriakan tarzan saat naik dahan pepohonan.
"Lihat, dia senang dengan nama itu. Baiklah kita beri nama dia Ichigo."
Rukia memutar bola matanya pertanda pasrah juga kurang senang.
.
Jam istirahat sekolah...
"Rukia kenapa ya? Dia tampak lemas hari ini," kata sahabat Rukia, Nel yang duduk di depan Rukia.
"Aku juga tidak tahu," kata Tatsuki menggelengkan kepalanya.
Rukia mendesah dan bersedih meratapi nasibnya hari ini dan untuk seterusnya. Entah sudah berapa kali ia menjerit di rumah. Dan entah sudah berapa ton beban yang ia tumpu, rasanya lebih baik ia mati hari ini atau tidak sama sekali.
Kedamaian yang ingin ia capai di tempat berteduhnya, di surga idamannya—kamar pribadi—kini hancur lebur karena kedatangan cowok liar tak dikenal yang diberi nama Ichigo. Barang-barangnya dirusak sehingga ia harus menggali terowongan rahasia untuk harta berharganya itu. Dan yang paling mengerikan... kenapa cowok liar itu harus tidur di rumah pohon yang letaknya berhadapan dengan balkon kamarnya?
Tadi pagi, alarm jam wekernya yang bernada Yui – Rolling Star dirusak oleh Ichigo karena dianggapnya monster pengganggu tidur Rukia. Tapi... GAK GITU JUGA KALEE! Itu kan alarm untuk membangunkannya supaya bisa pergi ke sekolah pagi-pagi. Rukia masih bisa memaafkan Ichigo yang masih polos dan belum bisa beradaptasi terhadap lingkungan barunya.
Dan yang menyebalkannya lagi, saat sarapan pagi. Kenapa cowok itu tega menghabiskan sarapan kesukaannya—Chicken Curry. Dan ia terpaksa memakan dua lembar roti tawar dengan selai stroberi yang sangat ia benci.
"Huaaa, gak adiiiil!" teriak Rukia tiba-tiba dan membuat suasana kelas mendadak hening.
Krik. Krik. Hanya terdengar suara jangkrik Ikkaku dari dalam tasnya.
"Kuchiki-san, ada apa?" tanya Orihime yang duduk di samping Rukia.
"A-ano, i-tu..."
"Jangan bilang kamu ketiduran dan mimpi buruk!" tebak Szayel.
"Aku enggak tidur!" gerutu Rukia.
"Terus kenapa?" tanya Grimmjow si wakil ketua kelas.
Sebenarnya Rukia ingin menerangkan tentang masalahnya kepada teman-teman sekelasnya yang sudah menjadi sahabat dekatnya. Namun, wajah mereka semua menatap ke arah Rukia dengan tatapan serius dan penasaran sehingga membuat gadis bermata violet itu enggan untuk bercerita.
"I-itu..." Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Rukia. Dag-dig-dug menyendat pembuluh darah otaknya. "Aku—" baru saja Rukia hendak menjelaskan, tiba-tiba ia dikejutkan sesuatu.
Tok. Tok. Seseorang dari luar kelas mengetuk kaca jendela sambil tersenyum gembira. Dan dia adalah... ICHIGO.
"HUAAAAAAAAA!" teriak Rukia yang menggemparkan kelas.
Satu kelas menatap ke arah sumber yang membuat Rukia berteriak. Dan mereka terbengong-bengong berjamaah karena melihat jendela yang tidak ada siapapun di sana.
"Kamu lihat apa sih, Rukia?" tanya Tatsuki heran.
Rukia dibuat kesal. Ia menghampiri jendela itu dan membukanya. "Ichi—" belum selesai ia memanggil nama orang yang membuatnya naik darah seharian ini, tiba-tiba Ichigo muncul di hadapan Rukia dengan posisi terbalik. "Rukhiaaa!" serunya dengan wajah riang.
"Huaaaa!" Untuk kedua kalinya, Rukia menjerit diikuti teman-teman sekelasnya.
"Si-siapa dia? Ke-kenapa dia bisa memanjat dinding sekolah?" tanya Yumichika ketakutan. Padahal kan kelasnya itu di lantai tiga.
"Hei, kepala sekolah bilang gak boleh manjat tau!" larang Renji.
"Rukhiaa!" Tapi Ichigo mengabaikan perkataan orang-orang di sekelilingnya dan menghampiri Rukia.
"Huaa! Lindungi aku!" pinta Rukia sambil bersembunyi di belakang Renji.
"Rukia, dia kenalanmu?" tanya Nel.
"Enak saja! Dia pernah menyusup ke rumahku," jawab Rukia.
"Menyusup?" tersentak satu kelas.
Tapi, Orihime menghampiri Ichigo sambil tersenyum manis. Ia menawarkan bekalnya pada pemuda polos itu.
Ichigo sebenarnya bingung dengan apa yang dilakukan Orihime. Tapi begitu melihat ada makanan di depannya, ia mengambil makanan yang bentuknya seperti fish taco lalu mengendusnya.
"Kawaii~~" kata Nel gemas.
Doeeng! Yang benar saja cowok kayak begitu disebut kawai? Rukia rasanya ingin muntah.
"Dia ganteng juga ya," jerit teman-teman cewek yang lain.
'Apa? Ganteng! Gantengan Taguchi Junnosuke kali daripada yang satu ini!' batin Rukia.
Tiba-tiba Ichigo melompat kesana kemari seolah menari. Ia memukul meja dan gambar-gambar yang terpasang di dinding, lalu melakukan gerakan akrobat lainnya. Jelas, dia sedang menari TARIAN RIMBA! Baginya, tarian itu wajib dilakukan ketika sedang merasa senang.
Satu kelas hanya bisa menatap sang penari dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa tingkah dia kayak manusia purba?" tanya Renji.
Tiba-tiba Ichigo berhenti sejenak di hadapan Renji. Ia menatap Renji dengan tatapan tajamnya yang membuat Renji bingung.
Dan, pluk! Rupanya Ichigo menaruh masakan Orihime di atas rambut Renji. Dan tampaknya dia sangat suka rambut merah Renji yang berstyle nanas itu. Pemuda berambut jeruk itu langsung memainkan rambut Renji, malah lebih tepatnya mengacak-acak rambutnya.
"Heei! Apa yang kamu lakukan?" amuk Renji.
Semua penghuni kelas tertawa.
Ikkaku yang tertawa paling keras kini mendapat giliran. Kepalanya yang botak licin dan mengkilap itu digosok-gosok seperti setrika oleh Ichigo.
"Hei, pergi kau dari kepalakuu!" amuk Ikkaku.
Rukia mulai mulek dengan segala tingkah laku Ichigo. Selain itu, ia juga merasa malu dan tidak enak. Habis, kenapa sih tuh cowok liar memanggil namanya di depan teman-temannya. Pasti segala tentang cowok itu akan ditanyakan kepadanya.
Dengan segera ia menarik lengan Ichigo secara paksa. Syuut! Rukia berlari secepat kilat sambil menyeret Ichigo keluar kelas.
"Hmm, apa mereka punya hubungan tertentu ya?" tanya Nel.
"APA? Rukia dengan cowok primitif begitu?" teriak Grimmjow. "Mustahil!"
"Hahahaha." Satu kelas tertawa heboh.
"Ayo kita intip mereka!" ajak Szayel dengan penuh semangat.
"AYOOO!" seru gerombolan kelas A menggelegar.
.
.
To Be Continued
.
.
Thanx for all who reads my amateur fiction. ^^ Hope you enjoy it!
And thanx for rock and pop music which accompanied me to finished this chapter when I was sleepy. And I'm very sorry that the language is very bad -_-
Dan sekedar info, dari sekarang nyampe akhir tahun 2012 gak akan berkecimpung di FFn dulu. Belajar, UN, SNMPTN, dan syalala lain sebagainya bakal jadi makanan sehari-hari. Jadi hontou ni gomennasai buat yang udah nunggu fic lainnya. Selain itu, Mel juga bakal sibuk sama hal lainnya kayak di bidang musik. Salam untuk semua aja ya ^^ (kayak ada yang kangen aja ==")
.
Ladies and gentleman, boys and girls
It's the last in 2012.
Mind to Review?
