Gambaran langit gelap dengan bintang tergambar jelas dari balik jendela suatu kamar tanpa pendar cahaya lampu. Perlahan mata sewarna senada malam itu terbuka. Kibum baru sadar, dirinya tertidur dalam keadaan duduk di bawah jendela dan memimpikan seorang peri.
Mata Kibum kembali menutup, mencoba mengais kepingan wajah yang dikaguminya dalam mimpi. Angin yang meniup lembut surai cokelat, bibir tanpa pewarna yang sedang tersenyum dan bulu mata lentik dari sepasang manik yang tertutup. Kibum bahkan yakin jika dia menyelami manik itu maka kesan kuat bahwa dirinya sungguh seorang peri lah yang tergambar.
Kibum berkedip, memberikan tanda bahwa dirinya sudah harus terbangun dari imajinasi yang mungkin sudah terlalu dilebih-lebihkannya. Melangkahkan kakinya keluar kamar, wajah sedingin es itu beranjak ke lemari es yang ada di dapur kecil apartemennya.
.
Membuka lemari es, Kibum mengambil beberapa kaleng beer dan memasukkannya ke keranjang belanjanya yang kosong. Dirinya kemudian beranjak mengantri ke kasir minimarket. Tak ada barang lain yang dibelinya. Bukan karena stok di apartemen kecilnya yang masih lengkap. Dirinya hanya sedang malas berbelanja, bahkan hanya untuk sekedar membeli ramyeon instan. Biarlah, jika tengah malam nanti dia kelaparan, cukup diganjal dengan sekaleng beer.
"kamsahamnida"
Sekedar ingin tau, Kibum melirikkan matanya pada seorang pembeli yang berada di depan barisan antrian. Hanya sebuah lirikan, hanya dalam satu kedipan mata dan hanya sekedar ingin tau adalah tujuan awal atensinya berubah pada sosok pembeli itu. Namun pada akhirnya, matanya bahkan tak mampu berkedip, fokusnya hanya pada satu titik dimana peri mimpinya itu berubah wujud menjadi nyata.
Rambut cokelat, bibir tanpa pewarna dan mata bulat nan jernih. Kibum meyakinkan hatinya, dirinya sedang tak bermimpi ataupun berimajinasi. Peri manis itu sungguh nyata dan sedang tersenyum pada kasir.
Butir kelereng milik Kibum berputar yang diikuti gerakan refleks kepalanya untuk terus menurut kemana fokusnya pergi. Matanya masih tak mampu berkedip bahkan hingga sosok indah itu berjalan keluar minimarket dan menghilang di tikungan trotoar.
Kibum baru mampu berkedip dan tersadar. Ini semua nyata dan matanya barusaja kehilangan atensi pada peri yang dianggapnya hanya bualan mimpi.
Melangkahkan kakinya masa bodoh, Kibum menyerobot barisan antrian. Meminta kasir untuk segera memproses transaksi jual belinya dan segera berlari keluar. Telinganya telah tuli untuk mendengarkan teriakan protes dari pembeli lain.
.
Berjalan dengan mengukur jarak sepuluh langkah dari sosok indah itu. Kibum merasa belum cukup mengumpulkan keberanian untuk mendekat.
Apakah dia mampu untuk berjalan mendekat dan mengucapkan salam perkenalan? Bagaimana jika bibirnya terlalu kelu di hadapan peri indah itu? Bagaimana jika justru dirinya salah berucap dan membuat sosok itu justru ketakutan dan kabur? Terlebih, bagaimana jika makhluk sempurna itu justru menghilang. Menjadi serpihan cahaya yang kemudian memudar, seperti dongeng yang pernah dibacanya di masa kecil.
Stop! Kibum merasa dirinya terlalu mendayu. Ini memang pertama kali untuknya merasakan rasa berdebar-debar. Tapi demi umur kepala tiga yang barusaja dia sandang, dia sudah bukan lagi anak sekolah yang malu-malu kucing menghadapi cinta monyetnya.
Lalu, bagaimana biasanya orang dewasa memulainya? Catat sekali lagi, Kibum baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Dia belum ada pengalaman. Apa sungguh tak masalah dia langsung to the point? Menarik tangan itu dan mengajaknya berkenalan? Bagaimana jika dia dianggap orang jahat? Tidak..tidak..cukup lakukan secara alami. Tak perlu acara menarik tangan, seperti adegan di hadapannya sekarang.
Menarik tangan secara kasar masuk ke dalam gang sempit.
Kibum membulatkan matanya.
Bahaya!
Tanpa berpikir, dibawanya langsung kakinya untuk berlari. Dirinya harus segera menyelamat perinya-
-sebelum terjadi sesuatu padanya.
.
Seseorang tergeletak tak sadarkan diri di gang sempit itu.
"ck, kau menghancurkan makan malamku" sosok yang dianggap Kibum indah itu sedang membersihkan debu di celananya. Matanya menatap melas beberapa bungkus ramyeon instan yang sudah remuk karena digunakan sebagai senjata pelindung diri.
Setelah melihat tak ada belanjaan yang bisa diselamatkan, dirinya berbalik, hendak meninggalkan preman itu. Matanya kemudian menatap Kibum yang hanya diam (terbengong) berdiri beberapa meter dihadapannya. Merasa dalam ancaman, dirinya kembali memasang kuda-kuda dan selanjutnya-
-semuanya berubah gelap bagi Kibum.
.
.
Confession Chapter 1:
'First Impression is the worst'
.
.
Kibum meringis, memegang pipinya yang mulai berubah warna karena lebam. Menyandarkankan punggungnya untuk lebih nyaman bersandar pada dinding, Kibum memperbaiki posisi duduknya di lantai.
Setelah bangun dari pingsan, disinilah sekarang dirinya terdampar –di suatu tempat yang tidak begitu asing baginya. Ini karena denah ruang yang mirip dengan apartemennya. Namun dengan tumpukan kardus yang berjejer tak rapi di sekeliling ruangan, dia jelas tau dia sedang tidak ada di apartemennya.
"aku sungguh-sungguh minta maaf" Kibum menatap orang yang sedang bersujud di hadapannya. Matanya kemudian beralih pada sebuah kartu identitas yang ada di tangannya. Pemberian orang itu sebagai bentuk rasa tanggung jawab.
Cho Kyuhyun-
Itu adalah nama orang yang seharian ini menjadi buah pikirannya.
-Dan dia namja.
NG
Menghembuskan nafas berat lewat mulutnya adalah tanda penyesalan Kibum. Bagaimana bisa dirinya mengagumi dan mengembangkan bayangan seorang namja di dalam otaknya. Haruskah Kibum menanyakan kenormalan dirinya sendiri? Apakah mungkin setelah tak menemukan yeoja yang cocok setelah tiga puluh tahun masa hidupnya, Kibum akhirnya merubah kodratnya?
Kibum berdiri. Dia harus segera pergi darisini atau pikirannya akan semakin menggila.
"kau mau kemana?" namja manis bernama Kyuhyun itu mengikuti Kibum yang sedang berjalan menuju pintu apartemen.
"pulang" apa Kibum barusaja menjawab pertanyaan tak penting itu? Ini bukan Kibum sekali.
"apa kau sungguh tidak apa-apa?" Kyuhyun masih terus mengikuti Kibum yang sedang membuka pintu apartemennya. Dia khawatir, itu jelas. Orang di hadapannnya barusaja sadar dari pingsannya. Pingsan yang diakibatkan olehnya. Aish, bagaimana bisa aku menghajar orang sembarangan. Kyuhyun pabbo.
Kibum tak menanggapi pertanyaan itu. Lebih memilih untuk terus melangkahkan kakinya untuk segera jauh-jauh dari tempat ini. Dia sungguh tak ingin lebih dekat dangan peri jadi-jadian itu, tak ingin otaknya semakin kongslet melihat wajah manis-
Manis? Kibum menggelengkan kepalanya menampik pikiran kotor itu.
"apa kau merasa pusing? Apa tidak lebih baik kau tidur disini malam ini?" Kyuhyun menatap sekilas apartemennya dan merutuki ucapannya. Bagaimana dia bisa meminta seseorang menginap di tempat barunya yang bahkan masih sangat berantakan. Kyuhyun menyusul langkah tamunya yang sudah lebih dulu keluar pintu. "aku akan mengantarmu pulang"
Tepat setelah sampai di depan pintu, Kyuhyun terbengong melihat namja yang sudah menjadi korban tendangannya itu sedang mencoba membuka pintu di samping apartemennya -menggunakan Kunci-. "tetangga?"
.
.
Tbc
.
.
Hancur? Iya, maaf. Aku ngga bisa nulis, terlebih dengan genre seperti ini. Jadi mohon masukannya. Dan meski draft kasar ff ini sudah selesai sampai chapter terakhir, mungkin aku tidak akan meng-up-nya sampai akhir. Jujur, aku sangat tidak percaya diri dengan tema ff seperti ini.
Tentang GS/BL sebenarnya sudah ditentukan dari awal pembuatan. Aku bertanya untuk melihat ketertarikan kalian tentang romance KiHyun. Maaf jika tidak sesuai harapan.
*tanjoubi omedetou, my precious Ryeonggu~ kangen kamu banget. Kalau kamu ngga pandai memasak, mungkin kamu akan jadi bias ku (?). Besok juga ulang tahunnya uri leader. Apa yang kalian pikirkan untuk diucapkan di hari spesial untuk orang sespesial teuk?
