Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: fic buatan orang awam,OOC

Pairing: Gahina,

Malam pertama

"Dear deary, malan ini adalah malam pertama dalam pernikahanku. Malam yang dinanti-nanti para pengantin baru. Malam yang didambakan para pemuda pemudi. Malam yang hanya akan dipersembahkan untuk suami tercinta. Malam dimana seorang wanita mempersembahkan seluruh jiwa,raga,cinta dan kebebasanya pada suaminya. Malam dimana seorang lelaki merasa telah memiliki istrinya seutuhnya. Begitulah yang terjadi pada malam yang dimiliki pasangan sempurna. Beda halnya dengan aku dan suamiku. Tak ada apapun yang dapat kupersembahkan untuk suamiku. Cinta dan kesucianku telah kupersembahkan untuk laki-laki lain yang saat ini telah menjadi iparku. Sungguh, aku ini adalah istri yang buruk, istri yang tidak didambakan oleh seluruh suami dimuka bumi ini, istri yang menjadi mimpi buruk bagi suamiku sendiri"

Hinata pov

Selama beberapa saat aku subuk berkutat dengan buku harianku. Merangkai seluruh keluh kesahku yang kutulis dalam tiap lembarnya. Ya,inilah kebiasaanku,sesuatu yang tidak akan pernah hilang dariku. Mungkin ini kekanak-kanakan,tapi hanya inilah yang dapat dilakukan oleh gadis lemah sepertiku. Mengadu pada sebuah benda mati,dan seenaknya mencoret-coreti benda itu sesuai apa yang dikatakan hatiku.

Karena terlalu asik mencoreti buku harianku aku sampai lupa kalau aku masih mengenakan baju pengantinku. Lalu kuputuskan untuk segera melucuti gaun pengantinku. Sembari menunggu suamiku yang masih mandi.

Sebelumnya, aku berjalan menuju kaca paling besar diruangan itu. Kaca yang dapat memantulkan seluruh bagian tubuhku. Aku sedikit mulai merasa betah disini, karna diluar dugaan, ternyata disini juga menyediakan kaca sebesar itu. Sama seperti yang ada di kamar pribadiku dulu. Aku sempat berfikir, kalau sudah menikah nanti aku akan kehilangan kebiasaanku ini.

Ya, kebiasaanku yang satu ini memang sedikit aneh. Aku suka memandangi pantulan diriku dari atas sampai bawah dalam keadaan tanpa busana. Sering aku bercermin ketika aku sedang ganti baju atau habis mandi.

Disini, didepan cermin ini aku melihat gambaran wajahku hampir sempurna kacau. Mataku sayu dengan kantung bawah mataku membengkak. Lalu, hidungku memerah, mungkin terlalu banyak menangis hingga make up ku terhapus karna air mataku. Dan satu hal lagi, tatanan rambutku benar-benar kacau.

Sebelum aku membuka rasleting gaunku, aku mendengarkan suara gemericik air dalam kamar mandi. Hanya sekedar untuk memastikan kalau suamiku belum selesai mandi. Karena kurasa gemericik airnya masih deras dan tidak ada tanda-tanda suamiku akan keluar, aku mengira bahwa suamiku belum selesai mandi.

Segera aku melucuti gaun pengantinku. Hingga menampakkan seluruh bagian tubuhku yang tadinya tertutupi. Kecuali yang masih tertutupi bra dan celana dalam.

Aku memandangi tubuhku dari depan cermin,melihat dari bawah sampai atas. Menampakkan kulit tubuhku yang pucat. Putih mulus tanpa noda namun tidak segar. Dengan wajah dan warna mataku yang juga pucat. Aku terlihat hampir seperti—mayat.

Cklek!

Deg.

Aku segera menoleh katika mendengar suara pintu dibuka. Aku langsung terpaku begitu melihat suamiku sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk dibagian bawahnya. Dan bagian atasnya tidak tertutupi sehelai benangpun. Sehingga menampakkan tubuhnya yang sis pack dengan lengan yang sedikit berotot.

Ingin rasanya aku berlari dan menjangkau apapun yang dapat menutupi tubuhku. Meskipun saat ini aku adalah wanita yang sudah tidak memiliki kehormatanku sebagai wanita. Tapi aku masih punya malu, dan saat ini aku benar-benar malu. Bahkan bersama dia pun aku masih merasa canggung

Namun keinginanku untuk kabur benar-benar lenyap ketika melihat suamiku mulai berjalan menghampiriku dengan tatapan tanpa ekspresinya. Entah mengapa, aku takut dibuatnya. Tatapan itu seolah ingin membunuhku.

Normal pov

Gaara berjalan mendekati Hinata. Tatapannya tak henti-hentinya menelusuri tubuh yang hampir telanjang itu. Bukan tatapan nafsu tapi tatapan benci, benci karena tubuh indah itu pernah dimiliki laki-laki lain. Tubuh yang seharusnya ia miliki malam ini.

"Ternyata kau sudah mempersiapkannya"

"G-Gaara-kun su-sudah selasai—" belum sempat menyelesaikan kata-katanya Gaara sudah membawanya ke ranjang.

Gaara mendorong pelan tubuh Hinata hingga berbaring. Meskipun benci tapi sebagai laki-laki normal Gaara tetap terangsang melihat tubuh indah istrinya. Pelan-pelan ia raba paha mulus istrinya lalu dengan gerakan cepat ia lepas celana dalam Hinata.

Sementara Gaara membelai liang kewanitaan istrinya. Pikirannya berkecambuk antara harus memenuhi nafsunya dengan menyetubuhi istrinya atau berhenti sampai disini saja. Ia takut jika diteruskan Hinata akan menyamakannya dengan Sasori.

"G-Gaara-kun tu-tunggu a-apa lagi" desah Hinata pelan,namun terkesan tidak sabaran.

"Jadi sejauh ini kau masih menganggapku Gaara" jawab Gaara tanpa memelingkan pandangannya dari liang kewanitaan istrinya.

"Te-tentu,ka-karna Gaara-kun a-adalah su-suamiku"

"Kalau begitu jangan berhenti menyebut namaku"

Hinata semakin memerah ketika Gaara mendekatkan wajahnya. Ia kecup pelan bibir istrinya sembari menunggu reaksi Hinata. Hinata tersenyum diperlakukan lembut oleh suaminya. Melihat Hinata tersenyum Gaara langsung saja melumat bibir istrinya. Tangan kirinya membelai lembut rambut istrinya dan tangan kanannya mencoba untuk melepas bra istrinya.

Setelah puas dengan bibir istrinya. Ia turunkan wajahnya menuju leher istrinya,ia hirup dalam-dalam aroma Hinata, ingin sekali ia gigit leher itu, tapi nuraninya tak mengijinkan ia menyakiti gadis yang ada dipelukannya saat ini. Lalu ia kecup pelan leher istrinya sambil terus membelai lembut payudara istrinya.

Bibirnya menelusuri tubuh istrinya, dari leher,payudara,perut hingga kewanitaan istrinya. Ia amati sebentar liang itu lalu dikecup lembut.

"Kau siap"

"Lakukanlah G-Gaara-kun" tubuh Hinata sudah menggeliat menunggu perlakuan lebih suaminya.

Gaara membuka haduk yang dililitkannya di pinggangnya. Hingga menampakkan kejantanannya. Hinata tersentak melihat milik Gaara ternyata lebih besar dari pada milik Sasori. Muka Hinata semakin memerah membayangkan itu,membuat Gaara jadi geli.

"Mustahil kalau kau belum pernah melihat yang seperti ini"

"Bu-bukan b-begitu, ha-hanya mi-milik G-Gaara-kun le-lebih be-besar"

Gaara menyeringai mendengar itu. Sekilas ia merasa labih hebat dari kakak kembarnya. Kembali ia palingkan pandangannya ke liang istrinya. Karna milik Hinata sudah sudah basah langsung saja Gaara menacapkan miliknya hanya dalam satu hentakan.

"Eeeenggghh G-Gaaraaaa"

"Kau kesakitan" ucap Gaara panik.

"Se-sedikit,ta-tapi la-lagi G-Gaara-kun"

Pelan-pelan Gaara memaju mundurkan miliknya. Ia terus saja memandangi reaksi istrinya karna takut menyakitinya lagi.

"Aaahhhhh….le-lebih c-cepat G-Gaara-kun"

Gaara semakin mempercepat temponya,sembari mengecup lembut leher dan bibir istrinya, sementara tangannya membelai lembut putting istrinya. Dan Hinata terus menyebut nama suaminya dalam desahannya.

.

.

.

.

.

"G-Gaara-kun a-aku mau ke-keluar"

"Aku juga….." erang Gaara terengah-engah.

Tanpa bisa dibendung lagi,airmatanya terus keluar,dan tangannya semakin ngeratkan pelukannya pada suaminya.

"Apa aku menyakitimu, apa kau menyesal melakukannya denganku,maafkan aku,harusnya aku tidak—" erang Gaara frustasi.

"Ti-tidak.. i-ini pertama kalinya a-aku diperlakukan lembut selama berhubungan, S-Sasori-kun tidak pernah berlaku selembut i-ini sebelumnya. A-aku me-merasa tidak pantas di-diperlakukan seperti i-ini oleh G-Gaara-kun."

"Si berengsek itu memang lebih suka memilih memenuhi nafsunya"

"T-terimakasih G-Gaara-kun. A-aku menyayangimu"

"Sayang?.. bukan cinta?"

"A-aku akan berusaha mencintai G-Gaara-kun"

Seorang lelaki berambut merah tengah mengetuk rumah kediaman Sabaku. Selama beberapa saat akhirnya perempuan berambut pirang membukakan pintu untuknya.

"Kau,kembali. Mau apa kau" wanita berambut pirang itu melemparkan pandangan benci pada laki-laki didepannya.

"Ku dengar mereka sudah menikah"

"Tentu, dan itu bukan urusanmu"

"Siapa bilang, gadis itu adalah milikku. Siapapun tak boleh memilikinya".

.

.

.

.

.

.

TBC

Haduhhh saya nggak tau nih capture masih kecepetan atau enggak. Saya udah berusaha untuk memperlambat alurnya. Tapi jika masih salah mohon maaf. Jika ad

a yang belum puas atau masih banyak kesalahan dalam penulisan saya . silahkan curahkan dalam review. Dan saya ucapkan terimakasih banyak bagi reader yang uda mau ngeriview fic saya yang penuh dengan kesalahan.

Bales review

Mamizu mei ni uda di update,datang lagi yaa

Arisachan terserah deh mau anggep itu proloug atau sendiri juga bngung. Datang lagi yaa

Dindahatake Gaara memang pernah pacaran sama sakura. nanti akan saya jelasin pas nyritain masalalunya.

Uchihyuu nagisa trimakasih uda mau mengoreksi fic saya. Sebenarnya saya tau sekali kesalahan yang saya lakukan. Tapi emang dasar author males. Ditambah lagi ngetiknya bagun tidur. Jadi terbentuknya fic ini dengan cara bangun tidur,ketik,langsung publish. Trimakasih udah mau datang.

Dalia ryuzaki. Trimakasih uda mau datang meriview. Maafkan saya atas kesalahan penulisan nama Gaara. Emang dasar saya orangnya gak teliti. Untuk alurnya gak tau lah ni masih kecepetan atau gak.

Zoroutecchi trimakasih sudah mau menunggu fic gak jelas saya ini. Datang lagi yaa..

Miaw chan insyaalah semuanya uda saya perbaiki. Selamat membaca

Botol pasir ketemu lagi nih. Datang lagi yaa

Vipris trimakasih sekali uda mau menunggu dengan cinta. Datang lagi yaa

datang lagi yaa. Disini pemainny emank uda gak perawan semua*dilirik ommasashi*

Yhuna kishi trimakasih udah mau baca dan menuggu fic aneh saya ini. Datang lagi yaaa